• Tidak ada hasil yang ditemukan

Elemen–Elemen Diagram Hubungan Entitas

2.9 Alat Bantu Perancangan Sistem yang Digunakan .1 Flowchart

2.9.2 Data Flow Diagram (DFD)

2.9.3.2 Elemen–Elemen Diagram Hubungan Entitas

Elemen-elemen diagram hubungan entitas terdiri dari: (Ladjamudin, 2005)

a. Entity

Pada E-R diagram, entity digambarkan dengan sebuah bentuk persegi panjang. Entity adalah sesuatu apa saja yang ada di dalam sistem, nyata maupun abstrak dimana data tersimpan atau dimana terdapat data. Entitas

diberi nama dengan kata benda dan dapat dikelompokkan dalam empat jenis nama, yaitu orang, benda, lokasi, kejadian (terdapat unsur waktu di dalamnya).

b. Relationship

Pada E-R diagram, relationship dapat digambarkan dengan sebuah bentuk belah ketupat. Relationship adalah hubungan alamiah yang terjadi antara entitas. Pada umumnya penghubung (Relationship) diberi nama dengan kata dasar, sehingga memudahkan untuk melakukan pembacaan relasinya (bisa dengan kalimat aktif atau kalimat pasif). Penggambaran hubungan yang terjadi adalah sebuah bentuk belah ketupat dihubungkan dengan dua bentuk empat persegi panjang.

c. Derajat relasi (Relationship Degree)

Relationship degree atau derajat relationship adalah jumlah entitas yang berpartisipasi dalam satu relationship.

Derajat relasi yang sering dipakai di dalam ERD: 1) Unary Relationship

Unary relationship adalah model relasi yang terjadi di antara entity yang berasal dari entity set yang sama. Sering juga disebut sebagai recursive relationship atau reflective relationship. Contoh:

Gambar 2.4 Diagram Unary Relationship (Sumber: Ladjamudin, 2005)

Pada Gambar 2.4, relationship Menikah menunjukkan relationship satu-ke-satu antara instansi-instansi (instances) dari entitas Pegawai. 2) Binary Relationship

Binary relationship adalah model relasi antara instansi-instansi (instances) dari suatu tipe entitas (dua entity yang berasal dari entity yang sama). Relationship ini paling umum digunakan dalam pembuatan model data. Pada Gambar 2.5 menunjukkan bahwa relationship bekerja merupakan relationship banyak-ke-satu, artinya seorang pegawai hanya dapat bekerja untuk satu depertemen dan satu depertemen yang memiliki banyak pegawai.

Gambar 2.5 Diagram Binary Relationship (Sumber: Ladjamudin, 2005) 3) Ternary Relationship

Ternary relationship merupakan relationship antara instansi-instansi (istances) dari tiga tipe entitas secara sepihak. Masing-masing entitas mungkin berpartisipasi satu atau banyak dalam suatu relationship ternary.

d. Atribut

Secara umum atribut adalah sifat atau karakteristik dari tiap entitas maupun tiap relationship. Maksudnya, atribut adalah sesuatu yang menjelaskan apa sebenarnya yang dimaksud entitas maupun relationship,

sehingga sering dikatakan atribut adalah elemen dari setiap entitas dan relationship. Ada dua jenis atribut:

1) Identifier (key), digunakan untuk menentukan suatu entity secara unik (primary key).

2) Descriptor (nonkey attribute) digunakan untuk men-spesifikasikan karakteristik dari suatu entity yang tidak unik.

e. Kardinalitas (Cardinality)

Kardinalitas relasi menunjukkan jumlah maksimum tupel yang dapat berelasi dengan entitas pada entitas yang lain. Kardinalitas relasi merujuk kepada hubungan maksimum yang terjadi dari entitas yang satu ke entitas yang lain dan begitu juga sebaliknya.

Terdapat 3 macam kardinalitas relasi, yaitu: 1. One to One

Tingkat hubungan satu ke satu, dinyatakan dengan satu kejadian pada entitas pertama, hanya mempunyai satu hubungna dengan satu kejadian pada entitas yang kedua dan sebaliknya.

2. One to Many atau Many to One

Tingkat hubungan satu ke banyak adalah sama dengan banyak ke satu. Tergantung dari arah mana hubungan tersebut dilihat. Untuk satu kejadian pada entitas yang pertama dapat mempunyai banyak hubungan dengan kejadian pada entitas yang kedua. Sebaliknya pada entitas yang kedua hanya dapat mempunyai satu hubungan dengan satu kejadian pada entitas yang pertama.

3. Many to Many

Tingkat hubungan banyak ke banyak terjadi jika tiap kejadian pada sebuah entitas akan mempunyai banyak hubungan dengan kejadian pada entitas lainnya. Baik dilihat dari sisi entitas yang pertama, maupun dilihat dari sisi yang kedua.

2.9.3.3 Normalisasi

Ada beberapa definisi normalisasi yaitu: (Ladjamudin, 2005)

a. Normalisasi adalah suatu proses memperbaiki/ membangun dengan model data relasional, secara umum lebih tepat dikoneksikan dengan model data logika.

b. Normalisasi adalah proses pengelompokan data ke dalam bentuk tabel atau relasi atau file untuk menyatakan entitas dan hubungan mereka sehingga terwujud satu bentuk database yang mudah untuk dimodifikasi.

c. Normalisasi dapat berguna dalam menjawab 2 pertanyaan mendasar yaitu: “Apa yang dimaksud dengan desaign database logical ?” dan “Apa yang dimaksud dengan database fisikal yang baik ? What is a Physical good logical dabase design?”.

d. Normalisasi adalah suatu proses untuk mengidentifikasi “tabel” kelompok atribut yang memiliki ketergantungan yang sangat tinggi antara satu atribut dengan atribut lainnya.

e. Normalisasi bisa disebut juga sebagai proses pengelompokkan atribut– atribut dari suatu relasi sehingga membentuk WELL STRUCTURED RELATION.

Ada beberapa langkah dalam pembentukan normalisasi, yaitu: (Ladjamudin, 2005)

a. Bentuk Tidak Normal (Unormalized Form)

Bentuk ini merupakan kumpulan data yang akan direkam, tidak ada keharusan mengikuti format tertentu, dapat saja data tidak lengkap atau terduplikasi. Data dikumpulkan apa adanya sesuai saat menginput.

b. Bentuk Normal kesatu (First Normal Form / 1NF)

Pada tahap ini dilakukan penghilangan beberapa grup elemen yang berulang agar menjadi satu harga tunggal yang berinteraksi diantara setiap baris pada suatu tabel, dan setiap atribut harus mempunyai nilai data yang atomic (bersifat atomic value). Atom adalah zat terkecil yang masih memiliki sifat induknya, bila ia dipecah lagi maka ia tidak memiliki sifat induknya.

Syarat normal kesatu (1-NF):

1. Setiap data dibentuk dalam flat file, data dibentuk dalam satu record demi satu record nilai dari field berupa “atomic value”.

2. Tidak ada set atribut yang berulang atau bernilai ganda. 3. Telah ditentukannya primary key untuk tabel/ relasi tersebut. 4. Tiap atribut hanya memiliki satu pengertian.

c. Bentuk Normal kedua (Second Normal Form / 2NF)

Bentuk normal kedua didasari konsep full functional dependency (ketergantungan fungsional sepenuhnya) yang dapat didefinisikan sebagi berikut:

Jika A dan B adalah atribut-atribut dari suatu relasi, B dikatakan full functional dependency (memiliki ketergantungan fungsional sepenuhnya) terhadap A, tetapi tidak secara tepat memiliki ketergantungan fungsional dari subset (himpunan bagian) dari A.

Syarat normal kedua (2-NF):

1. Bentuk data telah memenuhi kriteria bentuk normal kesatu.

2. Atribut bukan key (non-key) haruslah memiliki ketergantungan fungsional sepenuhnya (fully fungsional dependency) pada kunci utama/ primary key.

d. Bentuk Normal ketiga (Third Normal Form / 3NF)

Syarat normal ketiga (3-NF):

1. Bentuk data telah memenuhi kriteria bentuk normal kedua.

2. Atribut bukan kunci (non-key) haruslah tidak memiliki ketergantungan transitif, dengan kata lain suatu atribut bukan kunci (non-key) tidak boleh memiliki ketergantungan fungsional (fungsional dependency) terhadap atribut bukan kunci lainnya, seluruh atribut bukan kunci pada suatu relasi hanya memiliki ketergantungan fungsional terhadap primary key di relasi itu saja.

Dokumen terkait