BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bagan 2.1 Elemen Perubahan Kurikulum
Elemen perubahan pada keempat standar diatas, kemudian dijabarkan seperti dibawah ini:
1) Komponen Lulusan
Adanya peningkatan dan keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
2) Kedudukan Mata Pelajaran
Kompetensi yang semula diturunkan dari mata pelajaran berubah menjadi mata pelajaran yang dikembangkan dari kompetensi.
3) Pendekatan Isi
Pada jenjang SD kompetensi dikembangkan melalui Tematik Integratif dalam semua mata pelajaran.
Standar Kompetensi
Lulusan
Standar Proses
Standar Isi
Standar Penilaian
Elemen
4) Struktur Kurikulum
Pada jenjang sekolah dasar struktur kurikulum bersifat holistik dan integratif berfokus pada alam, sosial, dan budaya. Pembelajaran dilaksanakan dengan pendekatan sains. Jumlah mata pelajaran dari 10 menjadi 6. Jumlah jam bertambah 4 JP/ minggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran.
5) Proses Pembelajaran
Standar proses yang semula terfokus pada eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi dilengkapi dengan mengamati, menanya, mengolah, menalar, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah dan masyarakat. Guru bukan satu- satunya sumber belajar. Sikap tidak diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan teladan. Untuk tingkat Sekolah Dasar proses pembelajaran dilaksanakan secara tematik dan terpadu. 6) Penilaian Hasil Belajar
Pada semua jenjang pendidikan penilaiannya berbasis kompetensi. Pergeseran dari penilaian melalui tes menuju penilaian autentik. Penilaian tidak hanya pada level KD, tetapi juga kompetensi inti dan SKL. Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa sebagai instrumen.
7) Ekstrakurikuler
Pada jenjang sekolah dasar ekstrakurikuler yang diwajibkan adalah pramuka. Ekstrakurikuler lainnya yang dapat dilaksanakan seperti UKS, PMR, dan Bahasa Inggris.
c. Karakteristik Pembelajaran Kurikulum 2013
Adapun karakteristik dari Kurikulum 2013 yang diuraikan oleh Kunandar (2014: 26) adalah sebagai berikut:
1) Isi atau konten kurikulum adalah kompetensi yang dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) mata pelajaran dan dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasar (KD)
2) Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi yang harus dipelajari siswa untuk suatu jenjang sekolah, kelas, dan mata pelajaran.
3) Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang
dipelajari siswa untuk suatu mata pelajaran di kelas tertentu. 4) Penekanan kompetensi ranah kognitif, sikap, psikomotorik,
dan pengetahuan untuk suatu satuan pendidikan dan mata pelajaran ditandai oleh banyaknya KD suatu mata pelajaran. Untuk SD pengembangan sikap menjadi kepedulian utama kurikulum.
5) Kompetensi Inti (KI) menjadi unsur organisatoris kompetensi bukan konsep, generalisasi, topik atau sesuatu yang berasal
dari pendekatan “disciplinary-based curriculum” atau
“content-based curriculum”.
6) Kompetensi Dasar (KD) yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat dan memperkaya antar mata pelajaran.
7) Proses pembelajaran didasarkan pada upaya menguasai
kompetensi pada tingkat yang memuaskan dengan
memperhatikan karakteristik konten kompetensi dimana pengetahuan adalah konten yang bersifat tunas (mastery). Keterampilan psikomotorik adalah kemampuan penguasaan konten yang dapat dilatihkan. Sedangkan keterampilan sikap adalah kemampuan penguasaan konten yang lebih sulit dikembangkan dan memerlukan proses pendidikan yang tidak langsung.
8) Penilaian hasil belajar mencakup seluruh aspek kompetensi, bersifat formatif dan hasilnya segera diikuti dengan pembelajaran remidial untuk memastikaan penguasaan kompetensi pada tingkat memuaskan (Kriteria Ketuntasan Minimun/ KKM dapat dijadikan tingkat memuaskan).
d. Pendekatan saintifik
Implementasi Kurikulum 2013 dalam kegiatan
pembelajaran dilakukan dengan menggunakan pendekatan
dirancang sedemikian rupa agar siswa menjadi aktif mengkonstruksi konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan- tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan
hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik,
menganalisis data, menarik kesimpulan, dan mengkomunikasikan
konsep, hukum, dan prinsip yang “ditemukan”(Hosnan, 2014: 34).
Penerapan pendekatan saintifik dalam Kurikulum SD 2013 melibatkan keterampilan proses seperti mengamati, menanya, menalar, mencoba, mengkomunikasikan. Pembelajaran yang menggunakan pendekatan saintifik memiliki beberapa tujuan seperti yang dijabarkan oleh Hosnan (2014: 36-37) adalah sebagai berikut:
1) Meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.
2) Membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik.
3) Terciptanya kondisi pembelajaran dimana siswa merasa bahwa belajar itu merupakan suatu kebutuhan.
4) Diperolehnya hasil belajar yang tinggi.
5) Melatih siswa dalam mengkomunikasikan ide-ide khususnya dalam menulis artikel ilmiah.
e. Pendekatan Tematik Integratif
Pembelajaran tematik integratif merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individu maupun kelompok aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan autentik (Majid, 2014: 122). Pendapat yang serupa juga mengemukakan bahwa pendekatan tematik integratif adalah pembelajaran yang menggunakan tema dalam mengaitkan beberapa materi ajar sehingga dapat memberikan pengalaman yang bermakna (Ahmadi, 2014: 225).
Adapun beberapa prinsip pembelajaran tematik menurut Majid (2014: 125-126) adalah sebagai berikut:
1) Pembelajaran tematik integratif memiliki satu tema yang aktual, dekat dengan dunia siswa dan ada dalam kehidupan sehari-hari. Tema ini menjadi alat pemersatu materi yang beragam dari beberapa mata pelajaran.
2) Pembelajaran tematik integratif perlu memilih beberapa mata pelajaran yang mungkin saling berkaitan.
3) Pembelajaran tematik integratif tidak boleh bertentangan dengan tujuan kurikulum yang berlaku tetapi sebaliknya pembelajaran tematik integratif harus mendukung pencapaian tujuan utuh kegiatan pembelajaran yang termuat dalam kurikulum.
4) Materi pelajaranyang dapat dipadukan dalam satu tema selalu mempertimbangkan karakteristik siswa seperti minat, kemampuan kebutuhan, dan pengetahuan awal.
5) Materi pelajaran yang dipadukan tidak terlalu dipaksakan, artinya materi yang tidak mungkin dipadukan tidak perlu dipadukan.
Selain itu, pembelajaran tematik integratif juga memiliki beberapa karakteristik yang dijabarkan oleh Majid (2014: 126-127) adalah sebagai berikut:
1) Berpusat pada siswa
Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered). Hal ini sesuai dengan pendekatan pembelajaran modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar dan guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.
2) Memberikan pengalaman langsung
Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkrit) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak. 3) Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas
Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan
kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.
4) Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran
Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal itu diperlukan untuk membantu siswa dalam
memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam
kehidupan sehari-hari. 5) Bersifat fleksibel
Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel). Dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.
6) Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan
menyenangkan
Selama kegiatan belajar dijalankan, diharapkan siswa tidak merasa terbebani atau pun bosan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Untuk itu diharapkan kegiatan belajar di dalam atau pun diluar kelas dapat terlaksana dengan menyenangkan. Oleh karena itu, peran dari guru sangat diperlukan dalam menyusun perangkat pembelajaran.
Selain karakteristik yang telah disampaikan oleh Majid, berikut ini adalam karakteristik pembelajaran tematik menurut Hesty (dalam Majid, 2014: 127) adalah:
a) Holistik, suatu gejala atau peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran tematik diamati dan dikaji dari beberapa bidang studi, sekaligus tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak.
b) Bermakna, pengkajian suatu fenomena dari berbagai macam aspek, memungkinkan terbentuknya semacam jalinan antar skema yang dimiliki oleh siswa, yang gilirannya nanti, akan memberikan dampak kebermaknaan dari materi yang dipelajari.
c) Autentik, pembelajaran tematik memungkinkan siswa memahami secara langsung konsep dan prinsip yang ingin dipelajari.
d) Aktif, pembelajaran tematik dikembangkan dengan berdasarkan pendekatan diskoveri inkuiri dimana siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga proses evaluasi.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pendekatan tematik integratif adalah suatu sistem pembelajaran yang mengaitkan
memungkinkan siswa dapat aktif dalam menemukan konsep serta prinsip-prinsp secara holistik dan bermakna.
f. Penilaian Autentik
Setelah kegiatan pembelajaran selesai, bukan berarti tugas sebagai guru telah selesai. Selanjutnya tugas guru adalah menilai hasil belajar siswa. Kegiatan penilaian dimaksudkan untuk mengukur ketercapaian hasil belajar siswa. Penilaian adalah rangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis (Sunarti & Rahmawati, 2014: 7).
Istilah autentik merupakan sinonim dari asli, nyata, valid, atau reliabel. Jadi, penilaian autentik adalah proses pengumpulan informasi tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh siswa melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai (Sunarti & Rahmawati, 2014: 27). Pendapat lain megungkapkan penilaian autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output) pembelajaran, yang meliputi ranah pengetahuan, sikap, dan keterampilan (Kurinasih& Sani, 2014: 48).
Penilaian autentik adalah kegiatan menilai siswa yang menekankan pada apa yang seharusnya dinilai, baik proses maupun
hasil dengan berbagai instrumen penilaian yang disesuaikan dengan tuntutan kompetensi yang ada di Standar Kompetensi (SK) atau Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) (Kunandar, 2014: 35-36).
Dari pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa penilaian autentik adalah penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk mengetahui informasi terkait perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh siswa meliputi 3 ranah yaitu pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Penilaian autentik memiliki beberapa ciri-ciri seperti yang dijabarkan Kunandar (2014: 38-39) yaitu:
1) Harus mengukur semua aspek pembelajaran, yakni kinerja dan hasil atau produk. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap siswa harus mengukur aspek kinerja (performance) dan produk atau hasil yang dikerjakan oleh peserta didik. Dalam melakukan penilaian kinerja dan produk pastikan bahwa kinerja dan produk tersebut merupakan cerminan kompetensi dari siswa tersebut secara nyata dan objektif. 2) Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran
berlangsung. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap siswa, guru dituntut untuk melakukan proses penilaian terhadap kemampuan atau kompetensi proses (kemampuan atau kompetensi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran)
dan kemampuan atau kompetensi siswa setelah melakukan kegiatan pembelajaran.
3) Menggunakan berbagai cara dan sumber. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap siswa harus menggunakan berbagai teknik penilaian (disesuaikan dengan tuntutan kompetensi) dan menggunakan berbagai sumber atau data yang bisa digunakan sebagai informasi yang menggambarkan penguasaan kompetensi siswa.
4) Tes hanya salah satu pengumpul data penilaian. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap siswa pencapaian kompetensi tertentu harus secara komprehensif dan tidak hanya mengandalkan hasil tes semata. Informasi-informasi lain yang mendukung pencapaian kompetensi siswa dapat dijadikan bahan dalam melakukan penilaian.
5) Tugas-tugas yang diberikan kepada siswa harus mencerminkan bagian-bagian dalam kehidupan siswa yang nyata setiap hari, siswa harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang dilakukan setiap hari.
6) Penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian siswa, bukan keluasannya (kuantitas). Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap siswa pencapaian kompetensi harus mengukur kedalaman terhadap penguasaan kompetensi tertentu secara objektif.
g. Kelebihan dan Kelemahan Kurikulum 2013
Suatu kurikulum yang tengah diterapkan tentunya mempunyai kelebihan dan juga kekurangannya. Berikut ini ada kelebihan dan kekurangan kurikulum 2013 yang dijelaskan oleh Kurinasih dan Sani (2014: 40-42).
1) Kelebihan Kurikulum 2013
a) Siswa lebih dituntut untuk aktif, kreatif, dan inovatif dalam setiap pemecahan masalah yang mereka hadapi di sekolah.
b) Adanya penilaian dari semua aspek. Penentuan nilai bagi siswa bukan hanya didapat dari nilai ujian saja, tetapi juga di dapat dari nilai kesopanan, religi, praktek, sikap, dan lain-lain.
c) Munculnya pendidikan karakter dan pendidikan budi pekerti yang telah diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran.
d) Adanya kompetensi yang sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional.
e) Kompetensi yang dimaksud menggambarkan secara
holistik domain pengetahuan, sikap, dan keterampilan. f) Banyak sekali kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan
metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills
dan hard skills, kewirausahaan.
g) Kurikulum 2013 sangat tanggap terhadap fenomena dan perubahan sosial.
2) Kekurangan Kurikulum 2013
a) Guru banyak salah kaprah, karena beranggapan dengan kurikulum 2013 guru tidak perlu menjelaskan materi kepada siswa di kelas, padahal banyak mata pelajaran yang harus tetap ada penjelasan guru.
b) Banyak sekali guru-guru yang belum siap secara mental untuk menggunakan Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 menuntut guru untuk lebih kreatif, akan tetapi pada kenyataannya banyak guru belum kreatif. Untuk itu, diperlukan waktu untuk memberikan pelatihan kepada para guru agar dapat merubah paradigma guru dimana guru bukan lagi sebagai pemberi materiakan tetapi menjadi seorang yang dapat memotivasi siswa agar menjadi kreatif.
c) Kurangnya pemahaman guru dengan konsep pendekatan saintifik.
d) Kurangnya keterampilan guru dalam merancang RPP. e) Jumlah guru yang menguasi penilaian auntetik tergolong
f) Tugas menganalisa SKL, KI, KD, Buku Siswa, dan Buku Guru belum sepenuhnya dikerjakan oleh guru, dan banyak guru yang hanya menjadi plagiat.
g) Guru tidak pernah dilibatkan secara langsung dalam proses pengembangan 2013, karena pemerintah cenderung melihat guru dan siswa mempunyai kapasitas yang sama. h) Tidak adanya keseimbangan antara orientasi proses
pembelajaran dan hasil dalam kurikulum 2013 karena UN masih menjadi faktor penghambat.
i) Terlalu banyak materi yang harus dikuasi oleh siswa sehingga tidak setiap materi bisa tersampaikan dengan baik, belum lagi persoalan guru yang kurang berdedikasi terhadap mata pelajaran yang ia ampu.
j) Beban belajar siswa dan termasuk guru terlalu berat, sehingga waktu belajar di sekolah terlalu lama.
2. Pendekatan Saintifik
a. Pengertian Pendekatan Saintifik
Pendekatan saitifik berkaitan erat dengan metode saintifik. Metode saintifik (ilmiah) pada umumnya melibatkan kegiatan pengamatan atau observasi yang dibutuhkan untuk perumusan hipotesis atau mengumpulkan data (Sani, 2014:50). Pendekatan
scientific ialah pendekatan pembelajaran yang dilakukan melalui
mengkomunikasikan, dengan kegiatan ini dapat membentuk sikap, keterampilan, dan pengetahuan siswa secara maksimal (Fadlillah, 2014: 176). Dari pendapat kedua ahli di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan saintifik adalah suatu pendekatan yang memberikan pemahaman kepada siswa melalui proses mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan tentang materi yang dipelajari, serta dapat membentuk sikap, keterampilan dan pengetahuan siswa dengan lebih maksimal.
Dalam kegiatan pembelajaran pendekatan scientific
menurut Fadlillah (2014:176) dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
Tabel 2.2. Kegiatan Pembelajaran Pendekatan Scientific.
Kegiatan Aktivitas Pembelajaran
Mengamati (observing)
Melihat, mengamati, membaca,
mendengar, menyimak (tanpa dan
dengan alat) Menanya
(questioning)
Mengajukan pertanyaan dari yang faktual sampai ke yang bersifat hipotesis.
Diawali dengan bimbingan guru sampai dengan mandiri (menjadi suatu kebiasaan)
Mencoba (experimenting)
Menentukan data yang diperlukan dari pertanyaan yang diajukan. Menentukan sumber data (benda,
dokumen, buku, eksperimen)
Mengumpulkan data
Menalar (associating) Menganalisis data dalam bentuk
membuat kategori, menentukan
hubungan data/kategori.
Menyimpulkan dari hasil analisis data.
Dimulai dari unstructured-uni
complicated structure. Mengkomunikasikan
(communicating)
Menyampaikan hasil
konseptualisasi
Dalam bentuk lisan, tulisan,
diagram, bagan, gambar, atau media lainnya.
Pendekatan saintifik mempunyai ciri-ciri penonjolan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi beberapa kriteria yang dikemukakan oleh Sudarwan (dalam Majid, 2014:96) sebagai berikut:
1) Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomenal yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
2) Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.
3) Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis, analisis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran.
4) Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotesis dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari substansi atau materi pembelajaran.
5) Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu
memahami, menerapkan dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau materi pembelajaran.
6) Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan.
7) Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya.
b. Karakteristik Pembelajaran Menggunakan Saintifik
Beberapa karakteristik pembelajaran saintifik yang dijabarkan oleh Hosnan (2014: 36) adalah sebagai berikut:
1) Berpusat pada siswa.
2) Melibatkan keterampilan proses sains dalam mengkonstruksi konsep, hukum atau prinsip.
3) Melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa.
4) Dapat mengembangkan karakter siswa.
Adapun beberapa prinsip pembelajaran siswa yang
1) Pembelajaran berpusat pada siswa
2) Pembelajaran membentuk students self concept. 3) Pembelajaran terhindar dari verbalisme.
4) Pembelajaran memberikan kesempatan pada siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi konsep, hukum, dan prinsip.
5) Pembelajaran mendorong terjadinya peningkatan kemampuan berpikir siswa.
6) Pembelajaran meningkatkan motivasi belajar siswa dan motivasi mengajar guru.
7) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih
kemampuan dalam komunikasi.
8) Adanya proses validasi terhadap konsep, hukum, dan prinsip yang dikonstruksi siswa dalam struktur kognitifnya.
c. Langkah-langkah Pendekatan Saintifik
Langkah-langkah pendekatan ilmiah dalam pendekatan saintifik menurut Daryanto (2014: 60-62)adalah sebagai berikut: 1) Mengamati (observasi)
Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan dalam proses pembelajaran (meaningfull learning). Dengan kegiatan observasi siswa menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang dilakukan. Observasi dapat dilakukan dengan kegiatan melihat,
menyimak, membaca dan mendengarkan, jadi guru dapat memfasilitasi siswa untuk dapat memperhatikan hal penting dari suatu obyek atau benda.
2) Menanya
Dalam kegiatan bertanya guru memberikan kesempatan yang seluasnya-luasnya kepada siswa untuk bertanya mengenai apa yang sudah di observasi sebelumnya. Kegiatan bertanya bertujuan untuk mengembangkan rasa ingin tahu siswa, kreativitas siswa, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.
3) Menalar
Kegiatan menalar adalah siswa diharapkan dapat
mengelompokkan beragam ide dan mengolah informasi yang telah didapat.
4) Mencoba
Untuk memperoleh pengalaman yang menarik dan membekas bagi siswa, guru dapat meminta siswa untuk mencoba melakukan percobaan yang disesuaikan dengan tujuan dan materi pembelajaran.
5) Mengkomunikasikan
Pada kegiatan ini guru diharapkan dapat memberi kesempatan
mengkomunikasikan apa yang telah dipelajari. Dengan kegiatan ini diharapkan dapat mengembangkan kemampuan siswa seperti: kemampuan menulis dan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat, dengan singkat dan jelas, mengembangkan kemampuan berbahasa dengan baik dan benar.
3. Lembar Kerja Siswa
a. Pengertian Lembar Kerja Siswa
Lembar kerja siswa (student worksheet) adalah lembaran yang berisi pedoman bagi siswa untuk melakukan kegiatan yang sudah diprogramkan (Trianto, 2010:212). Selain itu pengertian lain
menyebutkan Depdikbud (dalam Trianto 2010:212) juga
menyampaikan lembar kerja yang digunakan sebagai alat untuk mengaktifkan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan dalam lembar kerja siswa dapat berupa pengamatan, eksperimen, dan pengajuan pertanyaan. Maka dari itu, dapat dikatakan lembar kerja siswa sangat erat kaitannya dengan model pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Pendapat lain menyebutkan bahwa lembar kerja siswa (student work sheet) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Dalam lembaran ini, dipaparkan mengenai tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh siswa (Majid, 2009: 176). Pendapat yang serupa juga mengatakan
lembar kerja siswa merupakan suatu bahan ajar cetak yang berupa lembaran-lembaran kertas yang berisi materi, ringkasan, dan petunjuk pelaksaaan tugas pembelajaran, sudah dikemas sedemikian rupa sehingga siswa dapat mempelajari materi tersebut secara mandiri. Di dalam LKS siswa akan mendapat materi secara ringkas yang kemudian dilengkapi dengan soal latihan yang berkaitan dengan materi yang telah diberikan (Belawati, 2003: 322).
Dari penjelesan diatas, dapat disimpulkan bahwa LKS adalah lembaran-lembaran yang berisi materi, ringkasan, dan petunjuk kegiatan yang harus dikerjakan oleh siswa.
b. Fungsi dan Manfaat Lembar Kerja Siswa
Beberapa fungsi penggunaan Lembar Kerja Siswa dalam kegiatan pembelajaran yaitu: Pertama, LKS digunakan sebagai upaya meminimalkan peran guru dalam kegiatan pembelajaran, tetapi lebih berusaha untuk mengaktifkan siswa. Kedua,
penggunaan LKS dimaksudkan untuk mempermudah siswa dalam memahami materi yang diberikan. Ketiga, dengan menggunakan LKS sebagai bahan ajar yang ringkas dan memberikan banyak soal latihan sehingga siswa akan kaya tugas untuk berlatih. Selanjutnya yang keempat, dengan penggunaan LKS memudahkan kegiatan pembelajaran kepada siswa. Selain fungsi diatas, manfaat penggunaan lembar kerja siswa adalah memancing siswa untuk
terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran (Prastowo, 2014: 270).
c. Karakteristik Lembar Kerja Siswa
Lembar kerja siswa dibagi dalam dua karakteristik yang dijabarkan oleh Trianto (2010:212) sebagai berikut:
1) Lembar kerja siswa berisi sarana untuk melatih,
mengembangkan keterampilan siswa dalam menemukan konsep dalam suatu tema, akan tetapi lembar kerja ini tidak terstruktur.
2) Lembar kerja siswa yang dirancang untuk membimbing siswa dalam suatu proses pembelajaran tanpa bimbingan guru dan lembar kerja siswa terstruktur.
Dalam menyusun lembar kerja siswa, beberapa kriteria yang harus dipenuhi menurut Trianto (2010:212) yaitu:
1) Mengacu pada kurikulum.
LKS yang dikembangkan harus disesuaikan dengan kurikulum