• Tidak ada hasil yang ditemukan

ELSAMRudi Muhammad Rizki:

Dalam dokumen 2006 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 65-69)

Persoalan Masa Lalu Harus Diselesaikan

PRESIDEN telah tiga kali berganti, namun sejumlah persoalan masa lalu, terutama pelanggaran hak asasi manusia, belum juga terselesaikan. Penyelesaian masalah masa lalu amat diperlukan agar bangsa Indonesia tidak selalu berkutat dengan masa lalu. Rasa dendam juga tidak terus menghantui perjalanan bangsa Indonesia.

TIDAK tuntasnya penyelesaian masalah masa lalu ini, justru akan menimbulkan benih perselisihan dan konflik di masa mendatang. "Jadi, penyelesaian ini penting agar bangsa ini tidak lagi selalu berkutat dengan masa lalu, sehingga secara bersama-sama menatap masa depan tanpa dendam," papar Rudi Muhammad Rizki, pengajar di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung.

Di tengah hiruk-pikuknya orang berbicara tentang politik, Rudi-yang saat ini menjadi Hakim Ad Hoc di Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) Jakarta Pusat dan Wakil Ketua Paguyuban HAM Unpad-justru tidak terpengaruh dengan arus politik. Ia gencar melakukan edukasi tentang pemajuan dan perlindungan HAM di berbagai lembaga.

Berikut petikan wawancara Kompas dengan Rudi Rizki, Senin lalu, di Jakarta.

Bagaimana kita menyelesaikan persoalan di masa lalu?

Sekarang kan ada pengadilan HAM, dan akan ada Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Tetapi kita belum tahu KKR sampai di mana. Seharusnya pengadilan dan KKR bersamaan, apalagi kita melihat banyak kekurangan dari pengadilan HAM ini. Padahal, persoalan ini harus diselesaikan melalui pengadilan atau melalui KKR. Ini gejala yang umum terjadi di masa transisi. Kalau semuanya harus melalui pengadilan, itu dapat membahayakan proses demokratisasi yang masih dalam keadaan rapuh ini.

Kenapa membahayakan?

Kita lihat negara yang mengalami proses masa transisi dari pemerintahan otoriter ke demokratis, misalnya Argentina atau Korea. Mereka tidak sekaligus mengadili pelanggar HAM masa lalunya karena biar bagaimanapun (pelanggar HAM) masih berada di kekuasaan.

Mana yang harus lebih dulu, pengadilan atau KKR?

Dua-duanya harus sejalan. Ketika pengadilan tidak dimungkinkan maka penyelesaiannya lewat KKR, tapi dalam KKR juga ketika satu orang tidak memberikan pengakuan, tidak menyatakan permintaan maaf, namun terbukti dia ikut bersalah, pengadilan harus tetap berjalan. Jadi, semangat sekarang ini adalah semangat global menghapuskan segala bentuk impunity (kekebalan hukum pada orang tertentu).

Kalau dua-duanya berjalan, bagaimana?

Di sini nuansa politiknya banyak. Untuk menggelar pengadilan HAM masa lalu butuh persetujuan DPR. Pertimbangan politisnya banyak. Kalau begini, korban masa lalu tidak terpuaskan. Kalau tidak dibentuk pengadilan ad hoc tawarkan alternatif KKR, tapi RUU KKR masih dibahas.

KKR belum jelas, pengadilan tidak bisa diharapkan lalu sebenarnya bagaimana?

Idealnya, dua-duanya. Pengadilan dan KKR. UU No 26/2000 tentang Pengadilan HAM harus kita review. Di sana banyak kekurangan. Kita juga belum memiliki hukum acara tersendiri. Karena itu, KKR harus didorong segera terealisasi, karena kita sudah kelamaan. Timor Timur saja sudah mempunyai KKR, tetapi mungkin persoalan mereka tidak sekompleks kita.

kliping

ELSAM

kurang pemahaman yang sama. Kita harus memulai dengan legislasi, infrastruktur, termasuk budaya menghormati pengadilan. Kita memang tidak bisa membandingkan dengan pengadilan Yugoslavia atau Rwanda. Kenapa mereka bisa kelihatannya berjalan mulus, karena kalau mereka mengadili jauh dari tempat kejadiannya dan pelaku yang diadili sudah tidak ada atau dicabut dari kekuasaan.

Pengadilan kita hanya sekadar dijalankan dan tidak memenuhi harapan?

Ini masih proses pembelajaran. Jadi, memang kita membutuhkan waktu pembelajaran buat semua. Pelan-pelan semuanya harus melalui proses, karena menghapuskan segala bentuk impunity tidak serta-merta dilakukan, banyak faktor yang menentukan. Jadi, tidak serta-serta-merta akan memenuhi rasa keadilan semua pihak karena pengadilan HAM adalah hal baru. Yang kita harapkan adalah mengadili secara layak. Tetapi untuk mengadili secara layak itu masih ada hambatannya.

Kita harus melihat dari mulai proses rekrutmen hakim, apakah sudah tepat orang yang memahami permasalahan seperti itu, apakah pelatihan yang diberikan kepada mereka juga sudah tepat? Pengadilan ini agak terburu-buru karena tekanan internasional sehingga persiapannya pun demikian. Karena itu, amandemen UU No 26/2000 mendesak dilakukan sambil kita mengegolkan KKR. Dan, ini harus sama-sama. Kalau ingin menjadi komplementer tidak bisa satu dulu yang berjalan.

Apa urgensi penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu bagi demokratisasi?

Supremasi hukum dan penghormatan HAM merupakan pilar dari demokrasi yang sedang kita bangun, dan penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu adalah dalam rangka menjunjung tinggi supremasi hukum dan HAM itu. Dalam situasi normal, penyelesaian yang memenuhi rasa keadilan adalah dengan mengadili orang yang bertanggung jawab atas pelanggaran HAM masa lalu, dan memberikan

kompensasi, restitusi, dan rehabilitasi kepada korban. Hal ini sejalan dengan prinsip tanggung jawab negara atas pelanggaran HAM berat. Penghukuman pelaku melalui proses pengadilan yang

independen, tidak memihak, diperlukan sebagai kewajiban terhadap umat manusia secara keseluruhan (erga omnes obligation).

Sejauh mana kaitan masa lalu, kini, dan akan datang?

Kalau masa lalu tidak diselesaikan, akan menjadi permasalahan di masa mendatang. Penyelesaian seperti dalam rangka KKR salah satunya adalah pengungkapan kebenaran, pelurusan sejarah. Itu kan sekaligus juga mencegah keberulangan. Mengadili dan menghukum pelaku atau pengungkapan kebenaran itu, salah satu fungsi preventifnya adalah untuk mencegah agar kejadian serupa tidak terulang lagi di masa yang akan datang. Itu kan pelajaran penting untuk kehidupan sekarang dan akan datang. Karena, kalau tidak dituntaskan maka masalah itu akan muncul terus, dan terus muncul ketidakpuasan dari anak cucu korban. Itu benih perselisihan konflik di masa depan, dan akhirnya bangsa kita akan terbelenggu dengan masa lalu. Jadi, penghukuman melalui pengungkapan fakta di depan pengadilan tentu penting untuk mencegah keberulangan di masa yang datang.

Pengadilan kita belum berjalan seperti yang diharapkan?

Itu tergantung lagi pada kepercayaan masyarakat pada sistem peradilan atau KKR. Tetapi tidak ada sistem pengadilan atau KKR di mana pun yang paling sempurna. Mungkin kita lihat Afrika Selatan, itu model terbagus, tapi enggak juga, kelemahannya juga ada kan? Sama saja dengan pengadilan,

pengadilan mana yang bisa kita lihat. Katakanlah Rwanda, apakah betul dengan jumlah sekitar satu juta orang dan hanya sekian puluh yang diadili sudah mencerminkan bahwa semua pelaku diadili. Tetapi ada yang menjadi pelajaran publik dari keputusan itu, yakni bahwa orang yang paling bertanggung jawab itu dicari. Orang yang dulunya tidak terjangkau oleh hukum karena kekuasaannya sekarang bisa dijangkau.

kliping

ELSAM

negara yang mengalami transisi, kemudian penyelesaian melalui KKR menjadi alternatif lain. KKR lebih berorientasi terhadap kepentingan korban, khususnya dalam mendapatkan kompensasi dan rehabilitasi, serta pemenuhan the right to know dari korban. Walaupun lebih dari 20 negara telah mempraktikkan KKR ini, tidak ada satu model yang baku yang dapat diterapkan oleh semua negara karena kompleksitas permasalahan setiap negara berbeda. Model Afrika Selatan belum tentu sesuai dengan situasi di Indonesia.

Jadi, kalau ditanya model mana yang terbaik, pengadilan atau KKR, kita tidak dapat memilih salah satu karena keduanya harus saling melengkapi. Beberapa negara seperti bekas Yugoslavia, Sierra Leone, dan bahkan Timor Leste pun melakukan langkah seperti itu.

PEMILU legislatif yang baru saja berlangsung April lalu, menurut Rudi Rizki, sebenarnya ada pelajaran berharga yang bisa dipetik. Paling tidak, menurut lulusan University of Melbourne Australia ini, dalam pemilu lalu tidak terjadi kekacauan seperti yang dikhawatirkan sejumlah pihak. "Kenapa kok pemilu kemarin aman saja. Apakah karena masyarakat sudah lelah berkonflik atau karena kesadaran HAM sudah tinggi, atau karena pilihannya banyak sehingga potensi konfliknya sedikit?" ujar Rudi yang saat ini staf ahli di Habibie Center.

Suami dari Meli Noor Amalia dan juga ayah dari Farhat Muhammad, Aldea Muhammad, dan Fadel Muhammad ini justru menilai, dalam pemilu kali ini sebenarnya menunjukkan mulai adanya kesadaran dari rakyat untuk tidak berkonflik sekalipun berbeda pilihan.

Hasil pemilu bisa memberikan harapan untuk penyelesaian masa lalu?

Saya pernah melihat visi dan misi partai soal HAM, tetapi ternyata tidak banyak partai politik yang mempunyai program untuk itu. Kalau melihat visi mereka, ada yang bagus tetapi ada juga yang tampaknya kurang memedulikan. Misalnya, isu KKR ada yang baru saja tahu atau bahkan belum mengetahui. Kebanyakan wawasan HAM parpol masih belum terlihat.

Di kalangan elite partai, bagaimana penilaian Anda?

Saya belum ada kesempatan untuk melihat kepedulian mereka kesana, mungkin di antara mereka ada yang peduli terhadap pemajuan dan perlindungan HAM, tetapi saya belum melihat itu. Saya memang tidak mengamati semua kampanye, apa mungkin kebetulan luput dari perhatian saya. Akan tetapi, yang jelas saya tidak melihat isu tentang pemajuan dan perlindungan HAM menjadi dagangan mereka. Mungkin karena isu itu tidak seksi ya sehingga tidak ada partai yang jualan kampanye seperti itu.

Untuk pemajuan HAM, kendala apa yang kita hadapi?

Apa ya..? Negara kita ini kan kompleks. Misalnya, budaya penghormatan terhadap HAM, kita masih kurang. Apalagi, kalau hiruk-pikuk pemilu ini kan power oriented kelihatan sekali. Yang dicari kekuasaan, padahal kalau mereka menunjukkan kepedulian terhadap HAM, itu sebetulnya kekuatan juga bagi mereka.

Pola apa yang paling tepat?

Kita membangun kesadaran pemajuan perlindungan HAM. Itu ideal. Saya masih percaya dengan sistem pendidikan diseminasi untuk semua lapisan karena kalau tanpa itu, akan sulit. Jadi, untuk segala lapisan masyarakat sendiri, kalangan elite, parlemen, termasuk TNI misalnya.

Anda yakin proses pembelajaran akan berhasil?

Ya, tapi faktor yang memengaruhi bukan itu saja. Ada faktor ekonomi, bahkan stabilitas. Namun, dengan edukasi kita bisa mulai, misalnya untuk penanganan konflik ini katakanlah di satu tempat konflik, Aceh, sekarang kan kita melihat dalam operasi militer di sana, kalau tidak salah, sudah disertai

kliping

ELSAM

itu menuju ke arah perbaikan?

Bagaimana dengan pemerintah, upaya untuk pemajuan HAM seperti apa?

Ya, memang kita keroyokan semua. Misalnya untuk daerah yang potensi konflik antar-etnis, kita melakukan sosialisasi ke sana disesuaikan dengan kebutuhan lokalnya. Sosialisasi tentang diskriminasi ras, tentang penghapusan segala bentuk intoleransi, baik dari perbedaan agama juga dilakukan. Tidak hanya instansi terkait yang melakukan, tetapi LSM juga. Mudah-mudahan DPR dan pemerintahan yang baru kelak mempunyai kepedulian untuk segera dapat merampungkan RUU KKR.

Di sejumlah instansi ada lembaga HAM, sejauh mana efektivitasnya?

Untuk efektivitas, paling sedikit untuk membangun kesadaran itu, lumayan. Memang ada duplikasi, tetapi setidak-tidaknya dalam membangun kesadaran ini ada. Walaupun memang kalau bicara dalam beberapa hal, kita pesimistis dengan performance pengadilan HAM. Tetapi yang saya rasakan memang untuk pembangunan kesadaran ada karena banyak yang melakukan itu. LSM melakukan tersendiri. Itu aset karena tugas sosialisasi HAM tidak bisa hanya dibebankan hanya kepada pemerintah atau Komnas HAM, tapi justru dari mereka-mereka. LSM itu aset, jasa mereka besar sekali. Kalau dulu LSM dianggap berseberangan dengan pemerintah, tetapi sekarang tidak lagi. Misalnya RUU KKR, yang pertama buat yakni Elsam. Jadi, mereka bukan sebagai lawan tapi sebagai mitra.

Langkah pemajuan HAM yang dilakukan pemerintah sudah maksimal?

Saya belum melihat itu, kita lihat saja Rencana Aksi Nasional HAM (RAN HAM), janjinya akan meratifikasi beberapa konvensi, kovenan tapi kok tidak. RAN HAM sudah harus keluar tahun 2003, tetapi sampai sekarang mana realisasinya? Kita juga melihat pemerintahan belum sungguh-sungguh. Saya tidak tahu kenapa hal ini tidak jadi prioritas. Seperti RUU KKR kenapa berlama-lama? Yang seperti itu kan menunjukkan ketidakpedulian, bukan hanya dari pemerintah tetapi parlemen juga.

Berapa lama untuk membangun kesadaran itu ?

Itulah saya bilang bahwa negara yang serupa dengan kita mengalami ini tidak ada yang seragam. Bahwa ini dapat dicapai lima atau sepuluh tahun, ini tergantung pemimpin negara. Kenapa sih Afrika Selatan dalam satu tahun bisa meratifikasi? Kita yang janjinya mau meratifikasi kok tidak. Sampai sekarang kita cuma punya empat konvensi: konvensi antipenyiksaan, penghapusan antidiskriminasi ras, konvensi penghapusan diskriminasi wanita dan konvensi anak. Itu pada pemerintahan transisi Habibie.

Kenapa demikian?

Persoalan ratifikasi adalah tugas pemerintah. Apakah tidak kepikiran atau tidak dianggap penting, enggak tahulah. Yang jelas, belum dianggap prioritas oleh mereka.

Kalau di mata internasional sendiri bagaimana?

Memang rapor HAM kita masih belum bagus juga, mulai dari kelambanan ratifikasi konvensi dan kovenan, sampai efektivitas implementasi konvensi yang sudah kita ratifikasi. Kemudian pengadilan HAM juga mereka lihat. Jadi, rapor kita juga masih kurang bagus, dulu ketika pengadilan HAM digelar banyak orang mengatakan, ini adalah evaluasi dari wajah hukum kita di luar negeri. Jadi, orang akan mengamati semua. Perhatian masyarakat internasional semua ke sana. Ketika ini berjalan bagus, negara luar mungkin menganggap sistem peradilan kita bagus, tetapi ketika pengadilan buruk mungkin memang begitulah adanya. (SONYA HELLEN SINOMBOR)

kliping

ELSAM

Dalam dokumen 2006 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 65-69)

Dokumen terkait