Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau mengakui kekeliruan masa lalu, meminta maaf kepada rakyat atas kekeliruan itu, kemudian menjadikan pengalaman masa lalu untuk membangun sebuah masa depan. Penegakan keadilan pada masa depan harus juga dilandasi pemberian keadilan pada masa lalu.
Mengelola masa lalu, masa kini, dan masa depan bukan hanya sebuah perdebatan politis, tetapi juga filosofis. Komisioner untuk Hak atas Rasa Aman dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Enny Soeprapto (74) termasuk yang pada saat awal ikut bergulat dengan gagasan keadilan
transisional (transitional justice). Ia pun ikut mendorong terbentuknya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR).
Namun, realitas politik delapan tahun dengan tak kunjung terbentuknya KKR membuat Enny berubah pandangan. "KKR sudah kehilangan relevansinya, sudah kehilangan momentumnya," ujar Enny menegaskan pandangan pribadinya itu.
Namun, bagi Enny, anggota Komnas HAM (2002-2007), pelanggaran masa lalu tetaplah penting dan tidak bisa dilupakan begitu saja. Hanya bagaimana mengelola masa lalu menjadi sebuah pertanyaan yang tak mudah untuk memperoleh jawaban. Ia mendorong penyelesaian melalui Pengadilan HAM Ad Hoc, meskipun untuk itu dibutuhkan keputusan politik yang susah digapai.
Sejarawan Taufik Abdullah saat memberi pengantar dalam buku Bersaksi di Tengah Badai-Dari Catatan Wiranto menulis, masa lalu mungkin "adalah negeri asing". Siapa tahu "di sana, di negeri asing": itu terletak sumber dari ketidakberesan yang kini—ataukah "di sini", saya rasakan. Ia melanjutkan, kalau perjalanan ke masa lalu, seperti juga ke negeri asing, bisa dilakukan, bukankah sebaiknya unsur-unsur yang menyebabkan ketidakberesan itu diperbaiki "di sana", agar yang terjadi " di sini" baik-baik saja. "Masa lalu haruslah dijadikan pelajaran" ucap Enny dalam percakapan dengan Kompas di ruang rapat Komnas, Selasa lalu. Berikut petikan percakapan dengan Enny.
Bagaimana Anda melihat implementasi keadilan transisional di Indonesia?
Ini pendapat pribadi saya. Saya anggap pembentukan KKR sudah terlambat. Di Cile, enam minggu setelah Pinochet jatuh, KKR sudah terbentuk. Jadi, momentumnya masih ada. Saat MPR mengeluarkan Tap MPR V/MPR/2000 masih ada momentum. Tapi sekarang, momentum itu telah hilang. Kita tak lagi berada pada era transisi, tetapi sudah menuju stabilisasi. KKR sudah tidak ada gunanya. Pelanggaran HAM masa lalu diselesaikan dengan Pengadilan HAM Ad Hoc. Per definisi, penyelesaian KKR berarti penyelesaian ekstra pengadilan, yaitu pemberian keadilan pada era transisi. Apakah kita masih ada pada masa transisi? Kalau saya melihat kita sudah ke stabilisasi.
Transisi atau stabilisasi kan masih jadi perdebatan?
Bagaimana suatu negara dianggap transisi ketika pemilu demokratis sudah digelar dua kali, Pemilu 1999 dan Pemilu 2004. Daerah sudah otonomi, sejumlah aturan yang melindungi HAM telah dihasilkan. DPR telah total ganti. Anggota DPR yang tak dipilih sudah tidak ada. Apakah ini masih mau disebut transisi?
Tapi mengapa proses pembentukan KKR begitu lama?
Itu soal kemauan politik. Tap MPR keluar tahun 2000, UU KKR terbit baru 2004, tetapi sekarang belum juga terbentuk. Saya lihat ada keraguan besar dari pengambil keputusan.
kliping
ELSAM
Lalu bagaimana solusi legalnya karena KKR adalah amanat undang-undang?
Barangkali pendapat saya ekstrem. Urutannya kan perintah MPR, kemudian UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, dan UU No 27/2004 tentang KKR. Pemerintah harus berani nyatakan KKR tak lagi relevan dan memohon kepada MPR untuk membatalkan Tap MPR soal KKR dan meminta DPR untuk menyatakan pasal soal KKR tak berlaku lagi. Pelanggaran HAM sebelum tahun 2000 diselesaikan lewat pengadilan. Karena ekstra pengadilan itu bisa diterapkan pada masa transisi, kalau transisi sudah lewat kan kembali ke pengadilan normal.
Secara politik apakah memungkinkan penyelesaian kasus pelanggaran HAM melalui pengadilan yang mengharuskan adanya keputusan politik DPR.
DPR sudah berubah dengan Pemilu 2004. DPR 2004 itu bukan DPR transisional. Kalau enggak bisa DPR 2004, ya DPR mendatang. Tak ada pilihan lain kecuali menegakkan keadilan yang bukan transisional, tetapi keadilan yang langgeng sifatnya.
Tetapi berbagai kasus di pengadilan HAM semuanya bebas sehingga ada pendapat, pengadilan HAM juga tidak relevan?
Itu ranah di mana sangat menyesal Komnas HAM tak bisa masuk lagi. Kami tak bisa komentar. Buat kami, kasus itu diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. Kami berhenti. Tapi kami prihatin itu.
Dalam konstelasi politik seperti ini, apakah masih perlu pelanggaran HAM masa lalu diungkap? Jawabannya, ya. Walaupun terasa seperti jargon atau semboyan, keadilan pada masa datang harus dilandasi penegakan keadilan pada masa lalu. Sebab kalau tidak, akan tercatat dalam sejarah, ada pelanggengan impunitas.
Kalau pelanggaran HAM masa lalu tak diungkap kan enggak ada problem juga?
Tergantung dari perspektif siapa. Korban berkepentingan, sejarah berkepentingan, generasi muda merasa perlu tahu apa yang terjadi. KKR kan bukan hanya transitional criminal justice, melainkan juga transitional historical justice.
Dalam konteks KKR, tampaknya semuanya diam ketika pemerintah lambat. DPR diam. Hanya LSM yang mendesak. Yang muncul adalah ajakan untuk melupakan saja masa lalu untuk membangun masa depan. Itu tampaknya arus besar pemikiran di Indonesia?
(Enny terdiam sejenak). Mungkin sebagian berpendapat begitu. Tapi bagaimana nasib korban, keluarga yang masih terkena imbas ketidakadilan masa lalu. Pelupaan peristiwa masa lalu menguntungkan satu pihak, tetapi merugikan pihak lain. Apakah bangsa diuntungkan secara keseluruhan? Patut dipertanyakan. Bangsa yang besar harus berani mengakui kesalahan pada masa lalu justru untuk membangun masa depan. Apa yang dilakukan Jerman adalah suatu contoh, dengan ksatria meminta maaf atas kesalahan orang pada masa Nazi, dan menjadi bangsa besar. Kalau kita melupakan, itu menyimpang dengan gagasan KKR. Semangat KKR itu forgive but not to forget. Kalau arahnya melupakan, keliru.
Bagaimana dengan orang Indonesia yang berada di luar negeri dan terhalang pulang karena paspornya dicabut?
Pertama itu pelanggaran hukum, tetapi apa yang tak melanggar hukum pada tahun 1965-an. Saya juga tak tahu apa yang dijadikan aturan waktu itu. Jadi, sebetulnya, menurut saya, koreksi saja kesalahan masa lalu. Berikan kewarganegaraan dan akui kembali sebagai warga negara Indonesia.
kliping
ELSAM
Cukup dengan koreksi saja?
Secara teknis itu. Kembalikan paspor dan warga negara nanti akan ada implikasinya. Bisa saja mereka menuntut perbaikan nama baik, rehabilitasi atau kompensasi.
Perlu minta maaf?
Ini saya memberi contoh Jerman. Ada atau tidak ada KKR, kalau toh tidak ada permintaan maaf, setidaknya harus ada penyataan tindakan rezim lalu adalah keliru.
Harus ada dalam momen khusus untuk minta maaf dan pengakuan kekeliruan atau cukup dengan respons spontan atas pertanyaan pers?
Ya, saya kira harus ada occasional khusus. Di Indonesia harus dicari, apakah di MPR, tetapi kapan
presiden dalam sidang MPR. Atau bisa saat DPR bersidang, pada saat itu langsung pemerintah menyatakan bahwa KKR sudah tidak relevan dan meminta MPR mencabut Tap dan DPR mengoreksi UU.
Pandangan Anda bukan karena Anda sebagai anggota Komnas HAM merasa disaingi jika KKR lahir? Enggak. Momentumnya sudah tak ada. Dasarnya, KKR adalah keadilan pada masa transisi, sekarang kita tidak lagi berada pada era transisi.
Hak asasi manusia
Boleh jadi, Enny menjadi anggota Komnas HAM yang sering bekerja di balik layar. Ia menyiapkan naskah akademis perubahan UU No 26/2000. Ia juga ikut mendorong perubahan Komnas HAM menjadi seperti saat ini, di mana setiap anggota menjadi komisioner khusus masing-masing hak. Sebagai komisioner untuk hak rasa aman, Enny juga meluncurkan komik Petualangan di Dunia 1012.
Komik itu berisi sosialisasi terhadap siswa sekolah dasar mengenai hak atas rasa aman. Ia juga gencar memberikan sosialisasi soal HAM, misalnya menyosialisasi Kovensi Anti-Penyiksaan 1984 yang diratifikasi tahun 1999. Namun, dalam praktiknya masih saja ada yang merendahkan martabat manusia. "Kan masih ada joki ketangkap yang digunduli. Itu kan merendahkan martabat manusia," ujarnya.
Bagaimana Anda melihat kondisi HAM pasca-Orde Baru?
Ya, sudah ada pemahaman meluas di kalangan aparatur pemerintah dan penegak hukum. Yang patut dicatat, tahun 2005 kita mengesahkan dua kovenan yakni Kovenan Hak Sipil dan Politik dan Kovenan Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya. Yang menjadi problem adalah penerapannya di lapangan. Terutama hak ekonomi, sosial, dan budaya karena itu membebani banyak hal kepada pemerintah. Meskipun kovenan itu menyatakan bisa dilaksanakan secara bertahap. Namun, bertahap itu tak berarti santai-santai saja. Di situ sesuai, dengan menggunakan semaksimal mungkin sumber daya yang ada.
Konstitusi telah mencantumkan soal HAM, kovenan diratifikasi, undang-undang dibuat, tetapi implementasi kedodoran?
Hak asasi manusia belum menjadi arus utama dalam penggarisan dan pelaksanaan kebijakan pemerintah. Misalnya, pembangunan belum mengarustamakan HAM, kebijakan politik belum mengarusutamakan HAM. Di situ masalahnya. Jadi, setiap langkah yang diambil pemerintah bisa berdampak pada HAM itu kurang disadari. Jadi, terbatas pada legal formal.