kliping
ELSAM
Kompas, Kamis 26 January 2006Rekonsiliasi Harus Tetap Diupayakan
Jakarta, Kompas - Bangsa ini tidak akan bisa lebih maju lagi jika masih saja dihambat oleh beban sejarahnya. Apalagi, semua komponen bangsa ini pernah mengalami luka, baik Islam, TNI, maupun kalangan nasionalis. Untuk itulah, upaya rekonsiliasi harus tetap diupayakan meskipun bukan merupakan pekerjaan yang mudah untuk dilakukan.
Hal ini disampaikan sejarawan Anhar Gonggong, mantan Wakil Ketua Komnas HAM Solahuddin Wahid, mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Kiki Syahnakri, serta Sulastomo dalam diskusi peluncuran buku Dibalik Tragedi 1965 karya Sulastomo di Jakarta, Rabu (25/1). ”Peristiwa 1965 memang tak mudah untuk dikatakan hitam atau putih karena banyak yang abu-abu,” ujar Sulastomo.
Namun, yang terpenting sekarang ini, menurut Sulastomo, apakah bangsa ini hanya akan memelihara luka dan membiarkannya menjadi borok atau akan berusaha untuk menyembuhkan luka itu. ”Bagaimana bangsa ini melihat masa depan jika luka itu tidak disembuhkan,” ujarnya.
kliping
ELSAM
Komisi Kebenaran
DPR Harus Berani Lakukan Terobosan Politik
Jakarta, Kompas - Kelambanan pemerintah yang tidak kunjung tuntas membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi atau KKR, walau sebanyak 42 nama telah dinyatakan lolos proses seleksi, terus menuai kecaman terutama dari kalangan lembaga swadaya masyarakat.
Dalam jumpa pers, Rabu (11/10), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) mendesak DPR berani melakukan terobosan dalam bentuk tekanan politis terhadap pemerintah, yang dinilai telah mengabaikan amanat sejumlah produk hukum dan perundang-undangan terkait pembentukan KKR tadi.
Menurut Amiruddin Al Raham dari Elsam, produk hukum dan UU yang telah diabaikan itu, antara lain Ketetapan MPR Nomor V Tahun 2000 tentang Pemantapan Persatuan dan Kesatuan Nasional, yang mewajibkan pembentukan KKR; UU Nomor 27 Tahun 2004 tentang KKR; dan UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang pengadilan HAM.
Selain itu, juga aturan UU terkait pembentukan KKR di tingkat daerah, seperti tercantum dalam UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua dan UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, yang mengamanatkan pembentukan KKR di tingkat pusat.
"Pembentukan KKR adalah platform nasional sehingga DPR harus bisa berinisiatif, entah dengan menggunakan yang namanya hak angket atau hak lain yang dimiliki untuk segera menyelesaikan persoalan itu," ujar Amiruddin.
kliping
ELSAM
Kompas, Jumat, 06 Januari 2006
Sebuah Masa Padat Agenda
Budiman Tanuredjo
Periode 1 Januari-31 Maret 2006 adalah sebuah era singkat dengan agenda yang padat. Periode itu berusia 90 hari kalender dengan 74 hari efektif, setelah dikurangi hari Minggu dan libur. Belum lagi jika dikurangi hari reses DPR, yang baru aktif 12 Januari 2006.
Tahun 2005 ditutup dengan sebuah pesan yang tegas dan jelas: terorisme masih merupakan ancaman; bencana alam akan masih mengintai; dan kejahatan konvensional yang tak boleh diremehkan. Rentetan perampokan bank bisa saja disebabkan beratnya kehidupan, tetapi harus juga dibaca tentang kemungkinan ada kaitannya dengan pendanaan terorisme.
Tujuh belas jam sebelum tahun 2005 berganti, tepatnya 31 Desember 2005 pukul 07.00, bom meledak di Pasar Maesa, Palu, Sulawesi Tengah. Dilaporkan tujuh orang tewas dan lebih dari 50 orang terluka. Terlepas dari perdebatan klasik—apakah aparat keamanan kecolongan atau tidak yang selalu menyertai diskursus pascapeledakan bom—Badan Intelijen Negara pernah melansir rencana aksi teroris menjelang Natal dan Tahun Baru 2006. Namun, modusnya berubah: dari aksi bom menjadi penculikan pejabat tinggi negara. Pengamanan Presiden dan Wakil Presiden diperketat. Perayaan Natal 2005 berlangsung aman.
Mencuri perhatian
Palu, ibu kota Sulawesi Tengah, mencuri perhatian. Ledakan bom terjadi di tengah konsentrasi aparat keamanan mengamankan pejabat tinggi negara. Sulawesi Tengah boleh jadi merupakan provinsi ”terpanas” di Tanah Air. Aksi terorisme terus terjadi, namun hukum tak mau mengatasi masalah di daerah tersebut.
Salah seorang ”senator” dari Sulawesi Tengah tampil di televisi dan meminta perhatian Jakarta. Ketidakstabilan politik di provinsi itu tentunya akan memengaruhi citra Indonesia di panggung dunia. Periode Januari-31 Maret 2006, Jakarta dituntut menyelesaikan permasalahan krusial di Aceh, pasca-nota kesepahaman Helsinki 15 Agustus 2005 dan masalah Papua pascapertemuan tokoh Papua dan Irian Jaya Barat dengan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla.
Sesuai dengan nota kesepahaman Helsinki, RUU Pemerintahan Aceh sudah selesai pada 31 Maret 2006 untuk dijadikan dasar pemilihan kepala pemerintahan Aceh pada 26 April 2006. Pemilihan kepala daerah (pilkada) rasanya berat digelar sesuai jadwal itu.
Masyarakat Aceh tidaklah satu. Kabupaten di bagian selatan Aceh membawa isu pemekaran. Isu ini memang tidak cukup banyak mendapat dukungan dari Banda Aceh dan Jakarta. Beberapa pasal lain, seperti keinginan menempatkan lembaga di Aceh, dapat menjadi anggota dari badan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau badan dunia lainnya—yang diusulkan dalam draf RUU Pemerintahan Aceh versi DPRD— merupakan usulan yang memancing kelompok ultranasionalis di Jakarta.
Hal lain yang juga akan memicu perdebatan adalah keinginan dari nota kesepahaman Helsinki untuk ”menidurkan” DPRD Provinsi Aceh hingga tahun 2009. Padahal, DPRD Aceh merupakan hasil Pemilu 2004.
kliping
ELSAM
Sementara KPU Papua telah mengagendakan pemilihan Gubernur Papua pada 16 Februari. Ini bisa memicu persoalan jika eksistensi Irian Jaya Barat belum selesai.Hubungan eksekutif-legislatif akan intens pada periode tiga bulan pertama di tahun 2006. Selain problem RUU Pemerintahan Aceh dan perpu untuk memayungi Papua, Presiden Yudhoyono juga akan mengajukan calon Panglima TNI kepada DPR. Sesuai dengan undang-undang, ada empat calon Panglima TNI yang memenuhi syarat, yakni mantan KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu (yang pernah diusulkan Presiden Megawati Soekarnoputri ke DPR, namun kemudian ditarik Presiden Yudhoyono), KSAD Jenderal Djoko Santoso, KSAU Marsekal Djoko Suyanto, dan KSAL Laksamana Slamet Subiyanto.
Penggantian Panglima TNI mengandung beban psikologis politis menyusul keputusan Presiden Yudhoyono menarik surat Presiden Megawati yang mengusulkan Jenderal Ryamizard sebagai Panglima TNI menggantikan Jenderal Endriartono. Isu penggantian Panglima TNI memang bisa memicu ”ketegangan” antara DPR dan Presiden.
Militer Indonesia berada dalam kontrol obyektif sipil dalam terminologi Samuel Huntington. Militer patuh dan tunduk pada otoritas sipil, seperti telah ditunjukkan militer di bawah Panglima TNI Jenderal Endriartono yang patuh dan mendukung nota kesepahaman RI-GAM. Kenyamanan militer juga bisa dipahami ketika Presiden Yudhoyono tidak banyak mengangkat isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Kesepakatan Presiden Yudhoyono dengan Presiden Timor Leste Xanana Gusmao dengan membentuk Komisi Kebenaran dan Persahabatan akan memasuki babak penting pada Januari-Juni 2006. Hubungan dengan parlemen akan berlangsung intens saat Presiden mengajukan 21 calon anggota Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Tarik-menarik kepentingan akan terjadi. Memang bisa saja Presiden tidak mengajukan 21 calon anggota KKR pada masa tersebut, namun Presiden akan dihadapkan pada tekanan pendapat umum yang amat kuat karena KKR seharusnya sudah terbentuk 6 Oktober 2005. Adapun MOU Helsinki memerintahkan KKR Indonesia membentuk KKR Aceh.
DPR dan pemerintah tentunya juga harus bekerja sama untuk mengisi anggota KPU yang habis masa jabatannya pada akhir Maret 2006.
Satu faktor krusial yang dihadapi pemerintah pada periode ini adalah dengan beban inflasi 2005 yang dihadapi masyarakat dan pengangguran yang jumlahnya meningkat. Pada sisi lain, pemerintah menyalurkan bantuan langsung tunai dan menaikkan gaji PNS pada akhir Januari 2006. Tapi masalahnya, apakah kenaikan gaji PNS sebesar 15 persen itu akan sebanding dengan melemahnya daya beli masyarakat. Bank Indonesia memperkirakan inflasi Januari bisa mencapai 1 hingga 1,1 persen. Pada kurun waktu itu, pemerintah diharuskan membayar pokok dan bunga utang luar negeri.
Politik tetap akan stabil pada periode ini meskipun tetap membutuhkan cara berkomunikasi dengan penuh empati. Cara komunikasi dengan memahami sepenuhnya beban berat yang diderita rakyat. Namun, stabilitas politik bisa saja berubah dengan cepat jika pemerintah mengambil kebijakan blunder, seperti menaikkan harga BBM, listrik, dan kebijakan yang makin mencekik rakyat.
Partai politik yang pragmatis akan membuat eksekutif lebih leluasa dalam mengambil kebijakan. Elemen kritis mahasiswa kehilangan militansinya dan gagal mengonsolidasikan diri saat pemerintah menaikkan harga BBM hingga dua kali pada periode 2005. Militer merasa tak banyak terganggu ketika isu pelanggaran HAM tak banyak diutak-atik dan masyarakat dicekam ancaman terorisme.
kliping
ELSAM
Suara Pembaruan, 11 Februari 2006Wapres Tak Tahu Perkembangan Pembentukan KKR
JAKARTA - Wakil Presiden (Wapres) Muhammad Jusuf Kalla mengaku tidak
mengetahui perkembangan pembentukan Komisi Kebenaran Rekonsiliasi (KKR).
Rencana pembentukan KKR akan dicek ke Sekretariat Negara sebab sejumlah nama
sudah dimasukkan ke DPR, tetapi hingga kini proses selanjutnya tidak jelas.
"Soal KKR memang saya tidak tahu sudah sampai di mana. Nanti saya akan cek lagi
sudah sampai di mana. Saya yakin Presiden pasti menanggapi secara baik setiap hal
tersebut," kata Wapres kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Jumat (10/2).
Dikatakan, pembentukan KKR di Indonesia tidak bisa meniru begitu saja pembentukan
KKR di Afrika Selatan (Afsel). Ada perbedaan substansial antara situasi di Afsel dan
Indonesia.
Di sini, tidak tahu lagi mau rekonsiliasi dengan siapa. Sedangkan di Afsel, empat tahun
setelah praktek politik apartheid, sudah jelas pihak-pihak yang mau berekonsiliasi.
"Di Afrika Selatan yang memang pada saat pembentukan KKR empat tahun setelah
mereka itu selesai apartheid itu memang ada suatu kelompok yang katakanlah dari sudut
warna saja ada hitam putih yang harus disatukan. Saya tidak merasa di Indonesia ini ada
sesuatu yang betul-betul mempunyai sesuatu yang berlawanan mati-matian secara itu,"
jelasnya.
Dicontohkan, kalau mau rekonsiliasi dengan para korban gerakan tiga puluh September
(Gestapu), itu sudah 40 tahun silam.Sedangkan dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)
rekonsiliasi dilakukan melalui dan berdasarkan Memorandum of Understanding (MoU)
antara GAM dan RI yang ditandatangani 15 Agustus 2005 di Helsinki. "Masa Gestapu,
kan sudah 40 tahun, tidak tahu apakah masih ada yang bisa direkonsiliasikan. Kita tidak
tahu lagi, siapa yang musti ketemu," imbuhnya. (A-21)
kliping
ELSAM
Kompas, Kamis 16 Februari 2006Menanti Respons Istana soal KKR
Budiman Tanuredjo
Tanggal 28 Maret 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan keputusan pembentukan panitia seleksi calon anggota Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Sebanyak 1.193 orang melamar. Tanggal 3 Agustus 2005, panitia seleksi mengumumkan 42 nama calon anggota KKR dan disampaikan kepada Presiden.
Hingga saat ini belum jelas bagaimana respons Presiden Yudhoyono atas ke-42 nama calon anggota Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) yang telah diseleksi dan diusulkan panitia seleksi. Berkas itu paling tidak sudah enam bulan berada di Kantor Kepresidenan. Belum ada penjelasan resmi dari Kantor Kepresidenan soal ke-42 nama calon anggota KKR tersebut. Padahal, pembentukan KKR itu sudah sangat terlambat. UU No 27/2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi mengharuskan KKR terbentuk 5 April 2005.
Menanggapi desakan dari berbagai kalangan, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, dirinya tidak mengetahui sampai di mana proses pembentukan KKR yang 42 calon anggotanya telah diserahkan kepada Presiden Yudhoyono. Saya akan cek perkembangannya. Saya yakin Presiden pasti menanggapi dengan baik, kata Kalla (Kompas, 11/2/2006).
Kalla justru mempertanyakan rekonsiliasi yang mau dicapai dengan pembentukan KKR. Jangan Indonesia ini dipersamakan, katakanlah dengan Afrika Selatan yang pembentukan KKR-nya empat tahun setelah selesai masa politik apartheid, ujar Kalla yang kemudian mengelaborasi, kondisi serta latar belakang Indonesia dan Afrika Selatan berbeda. Di Afrika Selatan ada kelompok yang selain warna kulitnya berbeda, hitam dan putih, pandangannya juga berbeda.
Saya tidak merasa Indonesia ada sesuatu yang betul-betul berlawanan mati-matian seperti di Afrika Selatan. Kalau masalah Gestapu kan sudah 40 tahun lalu. Apakah ada yang direkonsiliasikan setelah kita tidak tahu lagi siapa yang mesti bertemu kata Kalla.
Anggota Komisi III DPR, Benny K Harman (Fraksi Partai Demokrat, Nusa Tenggara Timur I), balik mempertanyakan pernyataan Kalla. Undang-undang itu adalah cermin kehendak rakyat. Membandingkan dengan situasi Afrika Selatan tentunya tidak relevan, kata anggota DPR yang fraksinya dalam barisan pendukung pemerintah ini.
Ia tak memahami mengapa Presiden Yudhoyono begitu lamban dalam merespons usulan dari panitia seleksi yang dibentuknya untuk menyeleksi calon anggota KKR. Saya justru khawatir muncul persepsi Presiden melanggar undang-undang dan kalau itu terjadi argumentasi untuk membela posisi Presiden sulit, katanya.
Direktur Eksekutif Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) Ifdhal Kasim berpendapat, pemerintahan Yudhoyono-Jusuf Kalla memang tidak menjadikan KKR sebagai prioritas pemerintahannya. Apa yang dikatakan Wapres Jusuf Kalla hanya mengembalikan perdebatan soal KKR ke titik awal pada pemerintahan Gus Dur. Kalla sama sekali tidak aware dengan masalah itu, katanya.
kliping
ELSAM
Presiden tersandera
Ia menduga Presiden tersandera oleh berbagai kelompok kepentingan yang sangat berkepentingan dengan kelahiran KKR. Akibatnya, sikap politiknya tak jelas dan risikonya Presiden bisa dituduh melanggar undang-undang, kata calon anggota KKR yang telah lolos seleksi ini.
Adalah suatu kenyataan bahwa isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi pada era Orde Baru masih menjadi problem bagi bangsa ini, kendati sejumlah elite politik berupaya memengaruhi masyarakat untuk melupakan saja masa lalu guna menatap masa depan.
Kehadiran keluarga korban kasus Talangsari (Lampung) yang terjadi 16 tahun lalu, bersafari ke DPR, Komnas HAM, dan lembaga agama menunjukkan bahwa permasalahan itu belum selesai. Sederetan kasus pelanggaran HAM lain juga terjadi, tapi tanpa sebuah penyelesaian. Padahal, di sana ada problem kebenaran! Ada problem keadilan! Ada problem kemanusiaan!
Fenomena Komisi Kebenaran bukanlah hanya fenomena Afrika Selatan, meskipun apa yang terjadi di Afsel banyak menjadi rujukan, termasuk sejumlah pemimpin Indonesia berkunjung ke Afrika Selatan untuk mempelajari bagaimana Afsel menyelesaikan pelanggaran HAM masa lalunya.
Fenomena Komisi Kebenaran adalah kecenderungan global dari sebuah negara yang bertransisi dari otoriterianisme ke demokrasi. Pesan yang disampaikan Lawrence Whitehead dalam Consolidation of Fragile Democracy sangat jelas: kalau kejahatan besar tak diselidiki dan pelakunya tidak dihukum, tidak akan ada pertumbuhan keyakinan terhadap kejujuran secara nyata. Tidak akan ada penanaman norma demokrasi dalam masyarakat pada umumnya dan karenanya tak akan terjadi konsolidasi demokrasi. Untuk itu, selain mekanisme pengadilan yang ditempuh, Komisi Kebenaran menjadi sebuah pilihan. Argentina menyelesaikan problem masa lalunya dengan pembentukan Komisi Nasional untuk Orang Hilang yang dipimpin novelis Ernesto Sabato. Komisi ini dibentuk Presiden Raul Alfonsin. Hasil kerjanya dibukukan dalam buku berjudul Nunca Mas.
Cile juga membentuk Komisi Nasional untuk Kebenaran dan Rekonsiliasi. El Salvador, Uganda, Bolivia, dan Rwanda juga memilih jalur pengungkapan kebenaran untuk menyelesaikan masa lalu.
Rekonsiliasi memang sebuah tujuan akhir. Namun, selain untuk menciptakan rekonsiliasi kepentingan korban haruslah menjadi perhatian. Chierif Bassioni dalam International Crimes: Jus Corgen and Obligatio Erga Omnes menyebutkan adanya hak korban untuk mengetahui (right to know the truth), hak mendapat keadilan (right to justice), dan hak memperoleh reparasi (right to reparation). Sebaiknya, menurut Bassioni, menjadi kewajiban negara untuk mengingat (duty to remember), kewajiban untuk menghukum (duty to prosecute), dan kewajiban mereparasi (duty to reparation).
Kalla mempertanyakan bangsa Indonesia rekonsiliasi dengan siapa. Rekonsiliasi memang sebuah kondisi yang susah diukur. Apakah memang sudah terjadi rekonsiliasi antara pelanggar HAM dan para korban? Apakah sudah ada rekonsiliasi antara korban Tanjung Priok dan aparat militer?
Priscilla B Hayner dalam buku Setelah Otorianisme Berlalu (2001) menyebutkan ada tiga pertanyaan yang harus dijawab untuk mengukur tingkat rekonsiliasi. Pertama, bagaimana penanganan masa lalu di ruang publik? Apakah masih ada perasaan sakit terhadap masa lalu? Pertanyaan seperti itu harus dijawab korban. Namun, dengan melihat gelombang unjuk rasa menuntut keadilan, rasa pedih dan sedih masih menghinggapi sanubari mereka.
kliping
ELSAM
Ketiga, apakah hanya ada satu versi kebenaran masa lalu? Menurut Hayner, rekonsiliasi bukan hanya membangun kembali hubungan persahabatan, tetapi juga menyelaraskan fakta-fakta atau cerita-cerita yang bertentangan satu sama lain. Rekonsiliasi juga membuat pernyataan atau fakta itu menjadi harmonis atau saling cocok bila mereka bertentangan satu sama lain.Pertanyaan kemudian adalah sudah adakah satu konstruksi cerita terhadap berbagai pelanggaran HAM masa lalu? Jawabnya: belum ada! Peristiwa 1965 telah melahirkan sejumlah teori, melahirkan sejumlah buku. Kasus Tanjung Priok melahirkan beragam cerita, kasus 27 Juli menimbulkan fakta yang saling berbantahan, kasus kerusuhan Mei masih menjadi perdebatan antara DPR, Kejaksaan Agung, dan Komisi Nasional. Kalau itu yang terjadi, apakah memang rekonsiliasi sudah dicapai?
kliping
ELSAM
Kompas, Jumat 24 Feb. 06KKR Perlu Dukungan
Presiden: Perlu Persiapan Satu Bulan ke Depan
Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih memerlukan waktu yang cukup untuk menyusun aturan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran Rekonsiliasi. Selain itu, Presiden juga butuh dukungan politik dari pimpinan lembaga tinggi negara, khususnya untuk mengatur tata cara dan mekanisme kerja KKR.
”Meski pembentukan KKR sudah terlambat berbulan-bulan, sebagaimana ditetapkan UU, yaitu paling lambat 5 April 2005, hingga kini Presiden Yudhoyono belum bisa menetapkan 21 nama untuk diajukan ke DPR dari 42 calon hasil seleksi Panitia Seleksi KKR,” ujar Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra seusai mendampingi Panitia Seleksi Pemilihan Calon Anggota KKR, Kamis (23/2) di Kantor Presiden, Kompleks Istana, Jakarta.
Ketua Panitia Seleksi Anggota KKR, yang juga Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Zulkarnain Yunus, didampingi Sekretaris Dirjen Peraturan Perundang-undangan Wicipto Setiadi serta sejumlah anggota lain, seperti Dirjen Perlindungan HAM Departemen Hukum dan HAM Hafid Abbas dan perwakilan dari masyarakat, yaitu Prof DR CFG Sunaryati Hartono dan Sulistjowati Sugondo, ikut hadir.
”Presiden menimbang-nimbang dan mencari waktu tepat untuk membentuk KKR. Tugas dan tanggung jawab lembaga ini sangat besar implikasinya bagi bangsa di masa datang. Sebab, penyelesaian masa lalu itu harus dilakukan secara damai, adil, dan bermartabat. Nah, itu yang dikhawatirkan jika kita tidak bekerja hati-hati, sasaran KKR tidak terwujud,” ujar Yusril.
Sambil menunggu penyusunan aturan pelaksanaan UU No 27 Tahun 2004 itu, ujar Yusril, Presiden Yudhoyono juga akan meminta Panitia Seleksi melakukan pendalaman kembali atas 42 nama yang diajukan, selain juga akan melakukan konsultasi dengan pimpinan lembaga tinggi negara, seperti MPR, DPR, Mahkamah Agung (MA), dan Mahkamah Konstitusi (MK).
”Dalam sebulan ini akan dilakukan persiapan penyusunan aturan pelaksana, seperti peraturan pemerintah (PP), Keputusan Presiden (Keppres) tentang Tata Cara dan Mekanisme Kerja, serta peraturan presiden (perpres) mengenai struktur dan organisasi KKR. Panitia Seleksi juga masih akan bertemu kembali dengan Presiden Yudhoyono sekali lagi untuk memberikan pertimbangan dan argumentasi untuk dipilih satu per satu, selain berkonsultasi,” lanjut Yusril.
Tetap harus dilaksanakan
Ditanya pers soal pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla beberapa waktu lalu bahwa KKR di Indonesia yang tidak bisa disamakan dengan KKR di Afrika Selatan sehingga menimbulkan spekulasi seolah-olah KKR tidak perlu ada, Yusril berpendapat lain.
”Karena sudah menjadi amanat UU, maka mau tidak mau KKR harus dibentuk dan dilaksanakan. Hanya memang waktunya dicari yang tepat, agar persiapan, serta sekaligus pemahaman di masyarakat dan lembaga tinggi lain cukup matang setelah KKR terbentuk,” ungkap Yusril.
kliping
ELSAM
Jakarta Post, February 24, 2006
Human rights a nonissue to elite
Tony Hotland, Jakarta
Doing the necessary work to address human rights issues has never held much appeal for any administration in Indonesia.
During the many decades that Sukarno and his successor Soeharto were in power, rights abuses of all types occurred.
Subsequent presidents -- B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid and Megawati Soekarnoputri -- had little time for such issues.
Indeed, human rights were never discussed when Susilo Bambang Yudhoyono and Megawati were campaigning for the presidency in 2004.
On the legislative side, it does not take a genius to determine the House of Representatives has never lived up to its billing as the representatives of the people, especially regarding rights issues.
While the future protection of human rights in the country remains an uncertainty, settling past atrocities seems to be even less likely.
Already frustrated by a lack of action over the 1998 Trisakti and Semanggi student shootings, families of the victims were dealt another blow last Thursday when the House decided to do nothing about a recommendation issued by lawmakers from the previous term.
Legally flawed, the recommendation says there were no elements of gross human rights violations in the shootings, although an investigation by the National Commission on Human Rights (Komnas HAM) found otherwise. The commission implicated the military in the shootings.
Unlike the commission, the House does not have the authority to make such a determination, and now this recommendation poses a hurdle to the Attorney General's Office as it tries to follow up on the case. House Commission III overseeing human rights issues promised last June to have the recommendation revoked, providing a glimmer of hope for the families of the victims.
But months passed with no news until Thursday's decision, which was reached in a leadership forum. House Deputy Speaker Zaenal Maarif quoted fellow Deputy Speaker Soetardjo Soerjogoeritno, who is said to be the person most familiar with the issue, as saying that revoking the recommendation would be unethical.
Speaker Agung Laksono says there is no precedent for revoking earlier House recommendations. It can be dangerous to make assumptions, but let's try these:
kliping
ELSAM
Fact No. 2: Agung is the vice chairman of the Golkar Party, an inseparable ally of the military during Soeharto's reign."Funny, even the Constitution and laws can be revised and revoked," said National Awakening Party legislator Nursjahbani Katjasungkana, who dealt with human rights cases before moving into politics. "The idea that a decision by a commission can be overruled by four people is ridiculous. The leadership forum is only a substitute for a House consultative meeting, which deals only with scheduling issues." Another avenue for probing past human rights cases, the Truth and Reconciliation Commission (KKR), is still a long way from being formed, almost a year since the April 2005 "deadline" for its creation passed. The KKR eventually will investigate alleged human rights abuses that occurred between 1945 and 2000, with its main tasks being to seek the truth behind alleged abuses, facilitate a reconciliation between perpetrators and victims, and provide compensation and amnesty for both parties.
Stuck with the President is a list of 42 names to be screened for possible inclusion on the commission, as he is too busy to arrange a meeting with the screening team.
Yet, the President has time to travel the world. He even plans to visit Myanmar to preach democracy in another country accused of gross human rights abuses, as well as to South Korea to help reconcile the two Koreas.
He can spare time to play golf with colleagues and even has time to meet with a group of librarians to discuss a private library at his residence.
It is again shaky to make assumptions, but who's to blame?
Fact No. 1: The President, infamous for his indecisiveness, is a retired military general.
Fact No. 2: Vice President and Golkar leader Jusuf Kalla has openly expressed his objection to the KKR, calling it unnecessary.
Still waiting for justice are hundreds of families and victims of the 1984 Tanjung Priok massacre, the 1989 Lampung incident, the 1997 forced disappearances of government critics, the May 1998 riots and others. This makes one wonder if the President's show of interest in the Commission of Truth and Friendship jointly formed with Timor Leste was only a result of international pressure.
Yet the House remains more interested in toying with political issues rather than questioning the President's commitment to the national truth commission that has eluded the country.
Usman Hamid of the Commission for Missing Persons and Victims of Violence said no one had the courage to hold people accountable for past abuses.
Ifdhal Kasim of the Institute for Policy Research and Advocacy agreed.
kliping
ELSAM
With all the human rights cases so far heard in court having ended with the acquittal of the accused perpetrators, the Truth and Reconciliation Commission looks to be the last chance for victims and families of atrocities to seek justice.kliping
ELSAM
Jakarta Post, February 24, 2006SBY still seeking political support for truth body
Tony Hotland, The Jakarta Post, Jakarta
The government continues to drag its feet on setting up the Truth and Reconciliation Commission (KKR), despite a law ordering its immediate establishment.
When questioned about the body, State Secretary Yusril Ihza Mahendra said Thursday President Susilo Bambang Yudhoyono wondered whether there was sufficient "public support" to establish the commission, which was supposed to have been up and running by April last year.
Under the law, the commission will be tasked with probing past human rights abuses that took place from 1945-2000. Many high level government officials and security chiefs from the New Order era are implicated in these abuses.
The KKR will also seek to draw up a truth-telling mechanism to deal with the perpetrators and compensate the victims of past human rights cases.
Yudhoyono met the KKR selection team on Thursday, more than six months after it screened and submitted 42 candidates to the President. Yudhoyono is supposed to pick 21 names for the commission, a list which will then be sent to the House of Representatives for approval.
However, Yusril said the President still planned to meet the selection team and senior officials one more time to canvas their political support for the commission. The government was also preparing auxiliary regulations to implement the much-debated law, he said.
"The President will try to meet and consult with heads of state institutions, such as the House of
Representatives, the Supreme Court and the Constitutional Court on the working mechanism. (He) needs (more) political backing," Yusril said.
He reiterated the President's commitment to establishing the commission.
"We are aware that the process is overdue ... (but) we are considering the social and political situation. Please understand this," he said.
Human rights observers have criticized the government for delaying the establishment of the commission. They particularly took issue with Kalla's comments on the affair last week.
Comparing the situation at home to that in South Africa, Kalla said there was no need for Indonesia to have such a commission because there were no longer any alleged human rights abuses that needed to be resolved.
Kalla also heads the Golkar Party, the home to many former Soeharto loyalists.
Also on Thursday, Yusril announced the President had selected three police experts and three public figures to join a commission tasked with supervising the police.
kliping
kliping
ELSAM
Kompas, Rabu, 15 Maret 2006
Pengadilan HAM Ad Hoc Gagal
Rekonsiliasi Jadi Alternatif
Jakarta, Kompas - Mantan anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Albert Hasibuan, mengatakan, Pengadilan HAM Ad hoc telah gagal menjalankan tugasnya memberi keadilan kepada korban kasus pelanggaran HAM masa lalu. Dalam konteks itu, ia mengajak seluruh aktivis HAM mencari alternatif untuk memberikan keadilan.
”Lupakan tuntutan untuk membentuk Pengadilan HAM Ad Hoc,” kata Albert yang juga mantan Ketua Komisi Penyelidik Pelanggaran HAM Timor Timur menanggapi putusan Mahkamah Agung (MA) terakhir yang hanya menghukum Eurico Guteres dengan hukuman 10 tahun penjara. Pada kesempatan lain, MA membebaskan seluruh pejabat sipil, Polri, dan militer.
Dalam percakapan dengan Kompas di Jakarta, Selasa (14/3), Albert mengingatkan dengan melihat pada dua Pengadilan HAM Ad Hoc yang pernah dibentuk, yaitu Pengadilan HAM Tanjung Priok dan Pengadilan HAM Timtim yang tak satu pun menghukum orang yang bertanggung jawab, kecuali Eurico Gutteres keinginan membentuk Pengadilan HAM Ad Hoc Trisakti dan Semanggi serta Pengadilan HAM Ad Hoc Talangsari sebaiknya dipikir ulang. ”Perlu dicari alternatif lain, termasuk meminta keadilan dunia internasional,” ujarnya.
Menurut catatan Kompas, Indonesia menempuh banyak cara untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM. Kasus 27 Juli 1996 diselesaikan oleh Pengadilan Koneksitas yang membuktikan terdakwa Jonathan Marpaung bersalah dan terbukti melempar batu ke Kantor DPP PDI. Ada mekanisme pengadilan HAM untuk kasus pelanggaran HAM Aberupa yang berujung pada bebasnya terdakwa. Yang terakhir adalah Pengadilan HAM Priok dan Timtim.
Politik impunitas
Direktur Eksekutif Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) Ifdhal Kasim juga mengatakan, pengadilan HAM terbukti justru mengukuhkan politik impunitas untuk melindungi pejabat Polri dan militer, namun gagal memberi perlindungan pada korban dan masyarakat.
Mantan anggota Komnas HAM dan juga mantan hakim agung Benjamin Mangkoedilaga yang kini Ketua Komisi Kebenaran dan Persahabatan Indonesia tak sependapat dengan Albert. ”Pengadilan HAM Ad hoc tidak gagal. Saya kenal mereka,” ujarnya mengomentari kolega para hakim.
Bagi Benjamin, problem rasa keadilan adalah sangat subyektif. Adil bagi terdakwa, tidak adil bagi korban. Adil bagi jaksa, tidak adil bagi pembela. ”Jadi, apa ukurannya,” kata dia yang sudah menduga putusan Pengadilan HAM Ad Hoc akan seperti itu.
Benjamin juga membela tudingan bahwa Pengadilan HAM Ad Hoc Indonesia tak memenuhi standar internasional. ”Standar internasional yang mana, tunjukkan,” ujarnya.
Ia juga coba mendekonstruksi pikiran bahwa setiap terdakwa yang dibawa ke pengadilan harus dihukum. ”Kalau memang itu ya buat panitia penghukuman. Kalau pengadilan ya sifatnya begitu, kalau salah dihukum, kalau benar ya dibebaskan,” katanya.
Bagi Benjamin, kecenderungan global adalah rekonsiliasi. Untuk itu ia mendorong agar Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang calon anggotanya sudah diseleksi panitia seleksi segera dipilih Presiden
kliping
ELSAM
mengingatkan, KKR bukanlah alternatif dari pengadilan karena KKR juga membutuhkan pengadilan. (bdm)Penyelesaian Kasus-kasus HAM
Terdakwa
Vonis
Kasus Tanjuing Priok
Mayjen (Purn) Rudolf Adolf Butar-Butar Bebas (08-Jun 2005)
Mayjen (Purn) Pranowo Bebas (10-Agustus-2004)
Mayjen Sriyanto Bebas (12-Agustus-2004)
Kapten Sutrisno Mascung Bebas (31-Maret 2005)
Asrori Bebas (31-Maret 2005)
Siswoyo Bebas (31-Maret 2005)
Abdul Halim Bebas (31-Maret 2005)
Zulfata Bebas (31-Maret 2005)
Sumitro Bebas (31-Maret 2005)
Sofyan Hadi Bebas (31-Maret 2005)
Prayogi Bebas (31-Maret 2005)
Winarko Bebas (31-Maret 2005)
Idrus Bebas (31-Maret 2005)
Muhson Bebas (31-Maret 2005)
Kasus Abepura
Brigjen Johni Wainal usman Bebas (08-September-2005)
AKBP Daud Sihombing Bebas (08-September-2005)
Kasus 27 Juli
Kolonel CZI (Purn) Budi Purnama Bebas (06-Januari 2004) Letnan Satu (Inf) Suharto Bebas (06-Januari 2004)
Mohammad Tanjung Bebas (06-Januari 2004)
Jonathan Marpaung Panahatan 2 bulan 10 hari (06-Januari-2004 Rahimmi Ilyas alias Buyung Nagari Bebas (06-Januari 2004) Djoni Moniaga alias Jojon (meninggal dunia 25-Apr-2003
Kasus Timor Timur
Abillio Jose Osorio Soares Bebas (04-Nopember-2004)
Adam Damiri Bebas (29-Juli-2004)
GM Timbul Silaen Bebas (12 -???- 2003)
Herman Sedyono Bebas (03-Maret-2004)
Leoneto Martins Bebas (19-Mei-2004)
M. Noer Muis Bebas (19-Juli-2004)
Tono Suratman Bebas (22-Mei-2003)
Letkol Asep Kuswani Bebas (19-Mei-2004)
Liliek Koeshadianto Bebas (03-Maret-2004)
Soedjarwo Bebas (29-Juli-2004)
Endar Priyanto Bebas (29-Nopember-2002)
Asep Kuswani Bebas (29-Nopember-2002)
Achmad Syamsuddin Bebas (03-Maret-2004)
Sugito Bebas (03-Maret-2004)
Yayat Sudrajat Bebas (30-Desember-2002)
Gatot Subiyaktoro Bebas (03-Maret-2004)
Hulman Goeltom Bebas (29-Juli-2004)
AKB Adios Salova Bebas (19-Mei-2004)
Eurico Guterres 10 tahun (13-Maret-2006)
kliping
ELSAM
Kompas, Senin 20 Maret 2006
Rekonsiliasi, Tugas Mendesak Gubernur Baru
Barnabas Suebu dipastikan menjadi Gubernur Papua periode 2006-2011. Di tangan Suebu masyarakat Papua menggantungkan harapan penuh, termasuk penyelesaian masalah Provinsi Irian Jaya Barat. Harus ada komitmen pejabat dan elite politik Irian Jaya Barat dan Papua untuk mengakhiri perseteruan itu jika tidak ingin menghabiskan waktu, dana, dan tenaga dalam jumlah besar.
Bambang Sugiono, dosen Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih Jayapura, di Jayapura,
mengemukakan, Suebu adalah seorang pemimpin besar Papua. Cerdas, berpengalaman, pernah lima tahun menjadi Gubernur Irian Jaya, pernah menjadi anggota DPRD Irian Jaya, Ketua KNPI Papua, duta besar luar biasa, dan memiliki pergaulan yang luas baik di tingkat nasional maupun internasional.
Sederetan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki Suebu itu diharapkan mampu mengatasi dan menyelesaikan sejumlah persoalan di Papua, terutama kemelut politik antara Papua dan Irian Jaya Barat (Irjabar). Meski dalam pidato politik menjelang pilkada, Suebu menolak pilkada Gubernur Irjabar, realitas politik telah mengantarkan seorang gubernur definitif di Irjabar dengan dukungan sekitar 61 persen dari 600.000 masyarakat Irjabar.
”Tugas paling mendesak dari Pak Bas (Barnabas Suebu) dan Pak Bram (Abraham Atururi— Gubernur Irjabar terpilih) dalam satu-dua bulan pertama adalah menyelesaikan masalah Irjabar. Tidak boleh ada agenda lain yang harus diselesaikan lebih awal kalau dua gubernur itu betul-betul ingin mencintai masyarakat dan ingin membangun suasana harmonis di Papua,” papar Sugiono.
Pemerintah pusat yang mendukung pelaksanaan pilkada di Irjabar diharapkan dapat memfasilitasi upaya penyelesaian masalah Irjabar. Pemerintah pusat tak boleh membiarkan persoalan Irjabar terus bergulir. Elite politik kedua daerah itu, seperti Majelis Rakyat Papua (MRP), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), dan DPRP harus memiliki niat baik untuk mengakhiri perseteruan di Papua.
Bahas otsus
Masih menurut Sugiono, para tokoh agama, tokoh adat, tokoh perempuan, dan tokoh pemuda dari kedua provinsi dapat dipertemukan bersama-sama, mencari jalan terbaik mengakhiri perseteruan politik antara kedua daerah yang berlangsung sejak 2003 hingga hari ini. Penyelesaian masalah Irjabar sangat mendesak dan kunci membangun Papua yang aman, damai, dan sejahtera pada lima tahun yang akan datang. Pertemuan itu untuk membahas bagaimana implementasi Undang-Undang Otonomi Khusus pascapilkada di kedua daerah, terutama Irjabar. Pembahasan itu harus transparan, transformatif, dan akuntabel. ”Bagaimanapun Papua harus menerima kenyataan bahwa Irjabar sudah definitif sebagai sebuah provinsi meskipun belum memiliki dasar hukum keberadaan secara jelas,” ujar Sugiono.
Visi dan misi yang disampaikan Barnabas Suebu di hadapan anggota DPRP dan selama kampanye politik di Papua cukup jelas, yakni mendukung keutuhan NKRI. ”Untuk apa merdeka dalam artian pemisahan wilayah secara geografis? Kalau merdeka dalam arti pembebasan dari kemiskinan, keterbelakangan, keterisolasian, dan kebodohan, kita perjuangkan bersama dalam kerangka NKRI,” ujar Suebu.
Opsi yang ditawarkan MRP ketika mengajukan hasil konsultasi publik di Irjabar kepada pemerintah pusat dapat dikaji kembali untuk menyelesaikan masalah Irjabar. Apabila pemerintah pusat tetap
kliping
ELSAM
Namun, opsi itu sampai pelaksanaan pilkada di Irjabar tidak mendapat tanggapan dari pemerintah pusat. Pusat sama sekali tidak memberi perhatian kepada hasil konsultasi publik yang dilakukan MRP, tetapi secara diam-diam mendorong pelaksanaan pilkada di Irjabar.Ketua MRP Agus Alue Alua menegaskan, jika pemerintah pusat tidak memerhatikan usulan dari MRP, MRP dan DPRP akan mengembalikan UU Otsus ke Jakarta. Tindakan itu sebagai realisasi dari penolakan dan pengembalian Otsus oleh masyarakat, Agustus 2005.
Ketika hampir 10.000 warga Papua di Jayapura melakukan aksi demo mengembalikan UU Otsus ke DPRP Papua, saat itu MRP belum terbentuk. MRP sebagai lembaga kultural bertugas mempertahankan dan memperjuangkan hak-hak dasar orang asli Papua.
Terkait pelaksanaan pilkada di Irjabar, MRP belum mengambil sikap. Konsentrasi MRP saat ini ke masalah PT Freeport Indonesia (PT FI). Aspirasi masyarakat yang beragam terkait keberadaan PT FI mendesak MRP segera mengambil sikap yang jelas terhadap perusahaan milik investor Amerika Serikat itu.
Namun, yang jelas MRP bersama DPRP akan mengembalikan UU Otsus sebagaimana disampaikan pimpinan MRP beberapa waktu lalu. Tindakan itu sebagai jalan terakhir mengakhiri segala konflik di Papua terkait dengan pelaksanaan UU Otsus. Papua kembali seperti masa sebelum Otsus.
Sugiono menyatakan, semua pihak perlu melakukan kajian bersama tentang untung-ruginya mengembalikan UU tersebut bagi masyarakat Papua.
Peran dua gubernur
Oleh karena itu, peran kedua gubernur baru sangat penting. Sebagai wakil pemerintah pusat di daerah, gubernur harus mampu merangkum seluruh lembaga dan mitra kerja di daerah. termasuk MRP, DPRP, bupati/wali kota, dan DPRD.
”Kedua gubernur itu telah memberi janji-janji politik kepada masyarakat di dua wilayah Papua dan Irjabar. Kesejahteraan menjadi topik utama janji mereka. Kesejahteraan itu terbangun kalau ada kesungguhan dari para pejabat dan elite politik untuk menyelesaikan masalah-masalah politik antara kedua daerah,” papar Sugiono.
Persoalan Irjabar mudah diatasi kalau semua komponen masyarakat sama-sama menyingkirkan kepentingan pribadi dan kelompok demi kesejahteraan masyarakat secara murni dan konsekuen. Irjabar harus masuk dalam sistem Otsus sehingga mudah ditata.
kliping
ELSAM
Jakarta post, March 20, 2006
Rights victims want truth law reviewed
JAKARTA: Victims of human rights abuses have called for a review of the 2004 Law on the Truth and Reconciliation Commission (KKR), which they say gives impunity to state officials implicated in a series of state crimes.
"Through the establishment of a KKR, we are worried that the government has just looked for justification over the past violence, while on the other hand, victims have to accept reconciliation with the state," said Mugiyanto, a human rights activist who provides legal advocacy for human rights victims grouped in the Association of Relatives of Missing Persons (Ikohi).
Ikohi said this was discussed during a three-day national congress that ended March 10 in Makassar, South Sulawesi.
kliping
ELSAM
LSM Minta Aturan Kerja Dibuat oleh KKR yang akan Terbentuk
Aturan Pelaksana UU KKR,Hukum online, [27/3/06]
http://www.hukumonline.com/detail.asp?id=14621&cl=Berita
Tim Advokasi akan mendaftarkan permohonan uji materiil UU KKR ke Mahkamah Konstitusi.
Tim Advokasi Kebenaran dan Keadilan (Tim Advokasi), Senin (27/3) meminta agar pemerintah memberikan kesempatan kepada Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang akan terbentuk untuk membuat sendiri tata cara dan mekanisme kerja mereka.
Permintaan Tim Advokasi yang terdiri dari LBH Jakarta, Kontras, Elsam, Solidaritas Nusa Bangsa, Imparsial dan Lembaga Pengabdian Hukum Yekti Angudi Piadekin Hukum Indonesia itu didasari atas pernyataan Yusril Ihza Mahendra, Menteri Sekretaris Negara tentang rencana pemerintah yang akan melakukan persiapan penyusunan aturan pelaksana UU 27/2004 tentang KKR. Aturan pelaksana itu meliputi; Keputusan Presiden tentang Tata Cara dan Mekanisme Kerja serta Peraturan Presiden mengenai Struktur dan Organisasi KKR.
Langkah pemerintah ini menurut Taufik Basari, Koordinator Tim Advokasi, sebagai suatu intervensi pemerintah yang melanggar prinsip-prinsip kemandirian KKR. Berdasarkan pasal 10 UU KKR, penyusunan kode etik Komisi serta tata tertib dan mekanisme kerja Komisi merupakan kewenangan sidang Komisi. Pemerintah hanya berwenang mendukung kerja Komisi melalui Sekretariat Komisi.
Selain itu, Tim Advokasi menganggap langkah pemerintah ini berpotensi membatasi kerja-kerja KKR yang sebenarnya sudah terperangkap oleh pembatasan dalam UU KKR. Misalnya dalam pasal 29 UU KKR, mengatur tentang mekanisme yang menggunakan pendekatan interpersonal, dimana penyelesaian suatu perkara dilakukan satu persatu dengan mempertemukan korban dan pelaku.
Mekanisme ini mempunyai tiga kemungkinan; Pertama, apabila pelaku dan korban saling memaafkan maka mereka diwajibkan membuat suatu perjanjian perdamaian. Selanjutnya, apabila rekomendasi amnesti untuk pelaku dipenuhi Presiden, barulah korban memperoleh kompensasi dan rehabilitasi.
Kedua, apabila korban tidak bersedia memaafkan, maka komisi akan memberikan rekomendasi secara mandiri dan obyektif. Ketiga, apabila pelaku tidak mengakui kesalahannya, maka ia akan dibawa ke Pengadilan HAM Ad Hoc, pengadilan yang menurut mereka pembentukannya tidak mudah.
Pembatasan berikutnya adalah soal sempitnya waktu Komisi untuk menyelesaikan suatu kasus. Pasal 24 UU KKR memberikan batas waktu yang menurut Tim Advokasi tidak masuk akal, yakni 90 hari terhitung korban datang ke Komisi.
Menurut Tim Advokasi, kalaupun Pemerintah tetap bermaksud membuat aturan pendukung Komisi, maka aturan tersebut harus dibuat dengan tujuan mendukung kerja-kerja Komisi. Tim Advokasi menambahkan, aturan pendukung ini harus memberikan jaminan bahwa Komisi dapat mengakses segala data dari berbagai instansi. Perlu diketahui, sampai saat ini Presiden belum memilih anggota KKR dari 42 nama yang keluar dari panitia seleksi anggota KKR.
kliping
ELSAM
Suara Pembaruan, Selasa, 28 Maret 2006
UU KKR Kandung Kelemahan Fundamental
JAKARTA - DPR dan pemerintah diminta untuk merevisi Undang-Undang (UU) Nomor 27 Tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), karena UU tersebut mengandung kelemahan
fundamental dan meniadakan hak-hak korban. Kecacatan UU tersebut amat berbahaya bagi kelangsungan sejarah bangsa Indonesia karena KKR bertugas mengungkapkan kebenaran dan hasilnya akan menjadi
official history.
Apabila bukan kebenaran yang terungkap melainkan semata-mata pengampunan belaka yang dihasilkan oleh KKR, maka rekonsiliasi tidak akan pernah tercapai dan bangsa Indonesia selamanya akan diliputi oleh manipulasi-manipulasi sejarah dan fakta.
Demikian dikatakan sejumlah aktivis dari beberapa LSM yang tergabung dalam Tim Advokasi Kebenaran dan Keadilan di Jakarta, Senin (27/3). Para aktivis itu antara lain, Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Usman Hamid, Kepala Operasional Kontras Indria Fernida, aktivis LBH Jakarta yang juga sebagai Koordinator Tim Advokasi Kebenaran dan Keadilan Taufik Basari dan aktivis Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) Wahyu Wagiman.
Mereka menyerukan seperti itu sebagai respons atas pernyataan pemerintah melalui Menteri Sekretaris Negara, Yusril Ihza Mahendra, beberapa hari lalu, yang mengatakan, pemerintah akan melakukan persiapan penyusunan aturan pelaksana, seperti peraturan pemerintah (PP), Keputusan Presiden (Keppres) tentang tata cara dan mekanisme kerja, serta peraturan presiden (Pepres) mengenai struktur dan organisasi KKR dalam waktu sebulan sejak akhir Februari 2006.
Para aktivis itu mengatakan, desakan untuk merevisi UU tersebut merupakan usaha jangka panjang mereka. Dan, usaha jangka pendek Tim Advokasi Kebenaran dan Keadilan adalah mengajukan permohonan uji materiil UU KKR tersebut ke Mahkamah Konstitusi (MK), Selasa (28/3).
"Selasa besok, kita akan mendaftarkan permohonan uji materiil atas UU KKR ke MK, dengan alasan seperti tersebut di atas" kata Taufik Basari. Menurut Basari, keberadaan KKR, sangat berpengaruh bagi kelangsungan penegakan dan penghormatan HAM di Indonesia. Namun, dengan UU KKR yang penuh kecacatan akan membuat komisi yang akan terbentuk ini tidak dapat bekerja dengan baik.
Para aktivis itu mendesak pemerintah untuk melakukan peninjauan kembali terhadap aturan-aturan dalam UU KKR yang membatasi kerja-kerja KKR. Mereka mendesak pemerintah agar tidak mengeluarkan aturan-aturan yang membatasi kerja KKR dan sebaliknya menjamin KKR dapat mengakses segala data untuk kepentingan pengungkapan kebenaran.
Menurut mereka rencana pemerintah sebagaimana dikatakan Yusril tersebut merupakan intervensi pemerintah yang terlalu jauh dan berpotensi semakin membatasi kerja KKR.
Pemerintah harus memberikan kesempatan kepada KKR yang akan terbentuk untuk membuat sendiri tata cara dan mekanisme kerja mereka (KKR). KKR sudah benar-benar terperangkap oleh pembatasan-pembatasan dalam UU Nomor 27 Tahun 2004, dan jangan diperparah lagi dengan pembatasan-pembatasan lebih jauh dari pemerintah.
Dikekang
kliping
ELSAM
Kemudian apabila pelaku dan korban saling memaafkan maka mereka diwajibkan membuat suatu perjanjian perdamaian.Selanjutnya apabila rekomendasi amnesti untuk pelaku dipenuhi oleh presiden maka barulah korban mendapatkan kompensasi dan rehabilitasi. Skenario lainnya dalam pasal 29 tersebut adalah apabila korban tidak bersedia memaafkan maka KKR akan memberikan rekomendasi amnesti secara mandiri dan objektif. Skenario ketiga, apabila pelaku tidak mau mengakui kesalahannya maka ia akan dibawa ke pengadilan HAM ad hoc. "Untuk skenario terakhir ini menyisakan suatu ketidakjelasan mengingat pengalaman selama ini membentuk pengadilan HAM ad hoc tidaklah mudah seperti kasus pengadilan HAm ad hoc pun menjadi tanda tanya," kata Basari.
Pembatasan berikutnya adalah sempitnya waktu KKR untuk menyelesaikan suatu kasus. Pasal 24 UU KKR memberikan batas yang tidak masuk di akal, yakni 90 hari terhitung sejak korban datang ke KKR, dilanjutkan dengan investigasi dan penelusuran data, mencari dan memanggil pelaku, dan merumuskan rekomendasi amnesti.
Dengan pembatasan waktu ini akan membuat KKR tergesa-gesa dalam bekerja sehingga dapat mengesampingkan tugas utamanya yakni mengungkapkan kebenaran yang senyatanya.
Usman Hamid mengatakan, keinginan pemerintah untuk membuat "aturan main" KKR merupakan pelanggaran terhadap UU KKR sendiri dan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip kemandirian KKR. Berdasarkan pasal 10 UU KKR, penyusunan kode etik KKR serta tata tertib dan mekanisme kerja KKR merupakan kewenangan sidang KKR.
Sedangkan pemerintah hanya berwenang mendukung kerja KKR melalui sekretariat KKR. Menurut pasal 14 dan 15, KKR dibantu oleh sekretariat KKR yang bertugas memberikan pelayanan administratif bagi pelaksanaan kegiatannya (KKR).
Selanjutnya sekretaris KKR diangkat dan diberhentikan dengan keputusan presiden, dan ketentuan mengenai kedudukan, susunan organisasi, tugas dan tanggung jawab sekretariat KKR diatur dengan peraturan presiden.
Kalaupun pemerintah tetap bermaksud untuk membuat aturan pendukung KKR, maka aturan tersebut semata-mata harus bertujuan untuk mendukung kerja-kerja KKR, dan bukan sebaliknya berisi pembatasan-pembatasan.
Aturan pendukung ini harus berisi jaminan, KKR komisi dapat mengakses segala data dari berbagai instansi, sanksi terhadap instansi yang tidak mau bekerja sama, dukungan aparat negara dan perlindungan terhadap anggota KKR. (E-8)
kliping
ELSAM
Suara Pembaruan, Rabu 29 Mar. 06
Korban Pelanggaran HAM Ajukan Permohonan Uji Materiil UU KKR
JAKARTA - Korban pelanggaran HAM di Indonesia bersama sejumlah aktivis dari delapan LSM yang tergabung dalam Tim Advokasi Kebenaran dan Keadilan mengajukan uji materiil atas UU Nomor 27 Tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) terhadap UUD 1945 ke Mahkamah Konstitusi (MK), Selasa (28/3). Menurut mereka ada sejumlah pasal UU KKR bertentangan dengan UUD 1945.
Korban pelanggaran HAM dan para aktivis dari delapan LSM itu adalah Asmara Nababan mewakili Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam), Ibrahim Zakir dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Esther Yusuf dari SNB, Rachland Nashidik dari Imparsial, Soenarno Tomo Hardjono dari Lembaga Penelitian Korban Peristiwa 65, Sumaun Utomo dari Lembaga Perjuangan Rehabilitasi Korban Rezim Orde Baru, Rahardjo Waluyo, Djati mewakili korban penculikan aktivis 1998, Tjasman Setyo Prawiro mewakili korban peristiwa 30 September 1965 dan Taufik Basari dari LBH Jakarta.
Menurut Ketua Tim Advokasi Kebenaran dan Keadilan, Taufik Basari, mereka mengajukan tiga pasal untuk diuji, yakni pasal 1 ayat (9), pasal 27 dan pasal 44. Pasal 27 yang berbunyi "Kompensasi dan
rehabilitasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 dapat diberikan apabila permohonan amnesti dikabulkan".
Menurut Taufik, pasal 27 itu merupakan pasal yang diskriminatif. Pasal itu juga dianggap melanggar prinsip HAM. Sebab, hak atas pemulihan adalah hak yang melekat pada korban dan tidak dapat digantungkan pada kondisi lain, termasuk amnesti.
Perumusan pasal 27 itu menempatkan korban dalam posisi yang tidak menguntungkan di mana korban sulit untuk memberikan keputusannya secara bebas.
Korban harus menghadapi ketiadaan pilihan yang bebas, yakni harus menerima apa pun pengakuan pelaku, kemudian meminta maaf dan berharap agar maafnya tersebut dapat membantu pelaku mendapatkan amnesti.
Hal ini terpaksa dilakukan korban agar mendapat kepastian mengenai haknya akan kompensasi dan rehabilitasi.
Keadaan ini akan semakin diperparah ketika korban merupakan orang yang tidak mampu atau begitu semakin menderita karena harus terpaksa memberikan persetujuannya mengenai proses pemaafan untuk amnesti ini tanpa didasari atas kesepakatan yang bebas.
Tidak Bertanggung Jawab
Keadaan lain yang terjadi adalah apabila pelaku tidak dapat ditemukan atau dinyatakan tidak bertanggungjawab, atau tidak mendapatkan amnesti, maka korban tidak akan mendapatkan haknya. Padahal pemenuhan hak korban atas pemulihan merupakan tanggung jawab negara.
Pasal 44 yang berbunyi "Pelanggaran HAM yang berat yang telah diungkapkan dan diselesaikan oleh
kliping
ELSAM
Selain itu keberatan pada pasal 1 ayat 9 yang berbunyi "Amnesti adalah pengampunan yang diberikanPresiden kepada pelaku pelanggaran HAM yang berat dengan memperhatikan pertimbangan DPR" terkait pada persoalan definisi pelanggaran HAM berat.
"Amnesti itu oke-oke saja. Tapi seharusnya tidak boleh diberikan kepada pelaku pelanggaran HAM
berat," kata Taufik.
Taufik mengatakan, selain mengajukan permohonan, mereka juga telah melampirkan sejumlah data bukti-bukti dan saksi.
Pihaknya juga telah mempersiapkan delapan saksi ahli dan tiga saksi korban yang siap untuk dihadirkan di persidangan. (E-8)
kliping
ELSAM
Pasal Amnesti dalam UU KKR Dianggap Melanggar HAM
Hukum Online, [29/3/06]http://www.hukumonline.com/detail.asp?id=14634&cl=Berita
Gaung Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi seolah hilang begitu saja. Inilah salah satu wajah Undang-Undang yang tidak berjalan efektif. Sejumlah kalangan menggugat konstitusionalitasnya.
Gugatan itu datang dari sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam Tim Advokasi Kebenaran dan Keadilan (TAKK). Gabungan sejumlah lembaga swadaya masyarakat ini, Selasa kemarin (28/3) mendatangi Mahkamah Konstitusi. Mereka mendaftarkan permohonan pengujian Undang-Undang No. 27 Tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR).
Sejak diundangkan 6 Oktober 2004, di masa pemerintahan Megawati, Undang-Undang KKR nyaris tak menunjukkan taringnya dalam menyelesaikan kejahatan masa lalu atau masalah-masalah hak asasi manusia. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang dibentuk atas perintah Undang-Undang ini pun seolah hilang tak tentu rimba. Bisa jadi, banyak orang yang sudah melupakannya.
Untunglah, kini TAKK mengingatkan kembali memori masyarakat tentang KKR. Walaupun dengan cara mengajukan judicial review terhadap tiga pasal dari Undang-Undang KKR.
Menurut Taufik Basari, koordinator koalisi, pihaknya mempersoalkan pasal 27, pasal 44, dan pasal 1 angka (9). Ketiga pasal itu dianggap diskriminatif dan melanggar HAM.
Pasal 27 misalnya mengatur kompensasi dan rehabilitasi dapat diberikan apabila permohonan amnesti dikabulkan. Dikatakan Taufik, ketentuan ini melanggar prinsip hukum yang diatur dalam Basic Principles
and Guidelines on the Right to a Remedy and Reparation for Victim of Gross Violations of International Human Rightss Law and Serious Violations of International Humanitarian Law. Juga bertentangan dengan Konvensi Menentang Penyiksaan, Konvensi Anti Diskrimasi Rasial, Konvensi Hak Anak, Kumpulan Prinsip untuk Melindungi dan Memajukan HAM Melalui Aksi Memerangi Impunity, serta Yurisprudensi Mahkamah Internasional.
Dalam pandangan TAKK, pasal 27 menempatkan korban dalam posisi yang tidak menguntungkan karena korban sulit memberikan keputusannya secara bebas. Mau tidak mau korban harus menerima apapun pengakuan pelaku, kemudian memberikan maaf dan berharap agar maafnya tersebut dapat membantu pelaku mendapatkan amnesti. Kewenangan memberikan amnesti itu, sesuai rumusan pasal 1 angka (9), ada di tangan Presiden, dengan memperhatikan pandangan DPR.
“Pasal itu kami pandang sebagai hal yang diskriminatif dan melanggar prinsip-prinsip HAM karena hak atas pemulihan kompensasi dan rehabilitasimerupakan hak yang melekat pada korban terlepas apakah pelakunya dapat amnesti atau tidak,” Taufik menjelaskan.
kliping
ELSAM
Komaps, Kamis 13 Apr. 06
Uji Materi
Undang-Undang KKR Diajukan ke MK
Jakarta, Kompas - Mahkamah Konstitusi mulai menggelar sidang uji materi Undang- Undang Nomor 27 Tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi dengan agenda materi pemeriksaan pendahuluan, Rabu (12/4). Uji materi UU KKR itu diajukan oleh Tim Advokasi Kebenaran dan Keadilan.
Sidang dipimpin oleh Hakim Konstitusi Natabaya dengan anggota majelis hakim Harjono dan Soedarsono. Dari pemohon, hadir tim kuasa hukum Tim Advokasi Kebenaran dan Keadilan, Taufik Basari. Tim itu merupakan gabungan dari beberapa lembaga, yaitu LBH Jakarta, Elsam, Kontras, Solidaritas Nusa Bangsa, Imparsial, dan LPH Yaphi.
Ada tiga pasal dalam UU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) yang diajukan untuk diuji materi, yaitu pasal 27, pasal 44, dan pasal 1 ayat 9. Ketiga pasal itu dianggap bertentangan dengan Pasal 27 Ayat 1, Pasal 28D Ayat 1, dan Pasal 28I Ayat 5 UUD 1945.
Pasal 27 menyebutkan, kompensasi dan rehabilitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 dapat diberikan apabila permohonan amnesti dikabulkan. Taufik mengatakan, hak yang melekat pada korban dan
kewajiban negara ini tidak dapat digantungkan pada kondisi lain, termasuk amnesti. "Bahkan, hak ini tetap menjadi hak korban, terlepas apakah pelakunya ditemukan atau tidak," katanya.
kliping
ELSAM
Kompas, Sabtu 22 April 2006Negara Hukum di Tengah Ancaman
Budiman Tanuredjo
Indonesia punya pengalaman dalam melanggar hak asasi manusia rakyatnya. Namun, Indonesia tak punya pengalaman menyelesaikan kasus pelanggaran hak asasi manusia ketika rezim otoritarian runtuh dan muncul pemerintahan demokratis. Ketika tanggung jawab dituntut, yang muncul adalah kegamangan. Hujan lebat mengguyur Jakarta ketika saya berbincang dengan Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Abdul Hakim Garuda Nusantara di kantor firma hukumnya di kawasan Gatot Subroto, Jakarta.
Terasa ada yang berubah dari cara Abdul Hakim mengutarakan gagasan dan pandangannya terhadap berbagai masalah dibandingkan dengan saat menjabat pimpinan Yayasan LBH Indonesia maupun Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam). Pernyataannya lebih berhati-hati, tidak selugas dan sekritis ketika dia menjadi aktivis LSM. Kesan itu tak dibantahnya. "Saya harus melihat realitas, tidak lagi hitam-putih. Mungkin juga karena faktor usia," dalihnya sambil tertawa.
Ia dikenal sebagai tokoh LSM yang kritis. Tapi dalam pencalonan menjadi anggota Komnas HAM ia justru dicalonkan PP Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia. "Tak ada dukungan dari YLBHI, Elsam, maupun Walhi," selorohnya.
Lima tahun jabatan anggota Komnas HAM akan berakhir tahun 2007. Ia belum memastikan apakah akan maju lagi untuk meneruskan jabatannya yang kedua. "Lihat saja nanti," ucapnya diplomatis. Berikut petikan percakapan di tengah hujan lebat sambil makan siang.
Komnas HAM menginjak 13 tahun, reformasi delapan tahun, bagaimana Anda lihat perkembangan HAM di Tanah Air?
Kondisi HAM setelah reformasi tidak bisa ditarik suatu gambar yang tunggal. Antara wilayah yang satu dengan wilayah lain tidak sama. Kebebasan berekspresi, kebebasan berorganisasi ini mungkin hampir sama di semua wilayah dalam gradasi berbeda. Tapi kalau kita bicara mengenai hak atas rasa aman itu berbeda. Orang di Poso atau orang di Aceh pada masa darurat militer tentu tak bisa menikmati hak atas rasa aman. Tapi secara keseluruhan kalau bicara hak sipil dan politik relatif lebih baik dibandingkan zaman Orde Baru. Di bidang hak ekonomi, sosial budaya ini memang masih bermasalah, terutama hak atas pekerjaan, pengangguran tinggi, lapangan kerja sulit. Hak atas pendidikan. Tidak hanya tak bisa sekolah, yang bersekolah pun dihadapkan pada tidak memadainya gedung. Hak atas due process of law (proses hukum yang fair dan adil) menyedihkan bagi masyarakat yang secara ekonomis kurang. Orang diambil tanahnya begitu saja.
Jadi, proses hukum yang fair jadi faktor terlemah?
Ya. Artinya tidak hanya dari sisi aparatnya yang melanggar, tapi juga kelompok non-negara juga melanggar. Tanggung jawab untuk memberikan proses hukum yang adil ada pada negara, yaitu aparat penegak hukum. Tapi dalam beberapa kasus, aparat negara tidak menunjukkan kesungguhannya. Itu yang diderita orang Ahmadiyah, misalnya. Kalau hal seperti ini terus terjadi, Indonesia bisa dikategorikan sebagai negara yang gagal melindungi warganya sendiri.
Kenapa otoritas negara tak bisa beri perlindungan?
kliping
ELSAM
Presiden dipilih langsung sehingga asumsinya punya mandat kuat. Kenapa menjadi gamang?Ini kan negara yang tadinya otoriter, mau diubah ke negara demokratis yang perilakunya harus sejalan dengan alam demokrasi. Ini membutuhkan kepemimpinan yang kuat untuk mengatasi maraknya
"penegakan hukum" oleh kelompok masyarakat. Kalau tak segera diatasi, akhirnya membawa Indonesia ke negara yang gagal. Padahal, dalam proses menuju negara demokratis kita butuh negara yang kuat
sebagaimana dikatakan Francis Fukuyama. Negara kuat dalam arti negara yang mampu menjalankan kedaulatan hukum yang disepakati aktor politik dalam demokrasi. Negara harus mampu menjalankan. Kalau tidak kita menjadi soft state. Jadi memang dibutuhkan suatu leadership tak hanya dalam penegakan hukum, tapi juga pembangunan hukum.
Apakah negara bisa menegakkan kedaulatan hukum dengan melihat kenyataan yang ada?
Rezim transisi ini sejak kelahirannya, 1998, sudah menetapkan kebijakan kompromi. Di bidang HAM, penyelesaian kasus pelanggaran HAM sebelum tahun 2000 dipertimbangkan dampak politiknya. Itu dibuktikan dengan adanya ketentuan dalam UU No 26/2000 tentang Pengadilan HAM untuk melibatkan DPR. DPR yang mempunyai kewenangan mengusulkan ke presiden perlu tidaknya Pengadilan HAM Ad Hoc. Itu kan politik. Ke depan, kedaulatan hukum harus dikedepankan.
Ada penilaian Pengadilan HAM Ad Hoc telah gagal?
Apakah itu pengadilan HAM atau penyelesaian BLBI itu merupakan kompromi politik. Diputuskan lewat proses politik yang melibatkan DPR dan pemerintah. Pihak yang berkompromi tentu sudah menghitung kekuatannya. Menjawab pertanyaan Anda, Pengadilan HAM Ad Hoc gagal, iya. Gagal memberi keadilan kepada korban. Tapi saya rasa, apakah berarti proses penuntasan kasus pelanggaran HAM itu secara benar dan tuntas juga gagal, ini belum. Kita tunggu kinerja komisi lain.
Jangan-jangan memang tak ada niatan?
Kita belum punya pengalaman. Kita punya pengalaman pelanggaran HAM, tapi bagaimana menyelesaikan ketika akan menuju negara demokratis, kita tak punya. Beberapa negara punya cara berbeda. Ada negara yang berhasil meminta tanggung jawab pemimpin otoriter yang melanggar HAM, tapi sampai di situ tak ada upaya lebih jauh untuk mengusut tuntas, misalnya Argentina. Korsel setelah presidennya dihukum, Thailand waktu peristiwa penembakan demonstran tahun 74 dan terakhir 90-an juga nggak diapa- apakan. Ada negara yang mengakui pelanggaran HAM, ada korbannya diakui, tapi tidak jelas menyebut siapa pelakunya.
Indonesia pola apa?
Setelah membaca pengalaman negara lain menimbang realitas yang dihadapi, Indonesia tak memilih A dan B. Kebijakan formil Indonesia menggunakan dua jalan: lewat proses pengadilan dan lewat KKR. Jadi, satu kasus pelanggaran HAM berat itu kalau mau diselesaikan lewat pengadilan DPR menggelar rapat untuk meminta kepada presiden. Ini keputusan politik. Tapi jika DPR berpendapat akan muncul problem, diselesaikan lewat KKR.
Negara hukum demokratis
Cita-cita LBH—tempat Abdul Hakim mengawali karier—adalah membentuk negara hukum yang demokratis. Cita-cita itu masih diusungnya saat menjadi Ketua Komnas HAM
kliping
ELSAM
Perannya beda. LSM itu mengadvokasi suatu kelompok yang menurut nilai LSM itu perlu dibela. Komnas HAM berada di tengah, mendengarkan pendapat LSM mengenai suatu masalah, tapi jugamempertimbangkan pihak yang ditentang LSM. Kalau Komnas HAM sama dengan LSM, akan timbul distrust dan ketidakpercayaan dari pihak lain yang akan diselidiki.
Bagaimana Anda melihat upaya menuju sebuah negara hukum demokratis?
Kalau dilihat dari produk kebijakan dan hukum, jalan yang diambil sudah benar di tengah berbagai kesulitan. Perubahan UUD 1945 memang banyak dikritik karena metodanya lewat MPR tidak melalui penentuan pendapat rakyat, tidak sistematis. Tapi menurut saya, konsep dan prinsip dasar menuju konstitusi ideal sudah diletakkan.
Bagaimana implementasinya?
Kalau kita bicara ideologi negara hukum sebagaimana yang kita pahami soal kesamaan di muka hukum, semua paham primordialisme, sektarianisme, eksploitasi sentimen kultural untuk meraih kekuasaan harus dikesampingkan. Itu kan belum terjadi. Itu krisis sumber daya hukum dalam arti daya politik, kultural, sosial yang mendukung bekerjanya sebuah sistem dan mekanisme hukum secara benar. Dalam situasi sumber daya hukum lemah, ketika dihadapkan pada kekuatan luar, senjata hukum jadi tak berdaya. Bagaimana dalam praktik pembangunan hukum di DPR?
Menurut saya tidak sejalan dengan apa yang sudah dicapai dalam konstitusi. Misalnya mana yang harus dianggap strategis, antara menyempurnakan UU Otonomi Daerah dalam rangka memperkuat peran pemda dalam memberi pelayanan publik dengan UU antidiskriminasi ras dan etnis yang dibuat DPR atau RUU Antipornografi dan Pornoaksi. Saya tak mengatakan pornografi bisa disepelekan, tapi sudah ada perangkat hukum yang mengaturnya sendiri.
Siapa yang harus ngawasi?
Itu butuh kepemimpinan. Sesuatu yang dituangkan dalam konstitusi berjalan kalau ada kepemimpinan yang mencakup pemerintah dan DPR. Negara yang berhasil mengawal perubahan menuju negara demokrasi membutuhkan kepemimpinan politik yang kuat untuk mengarahkan perubahan. Kita lihat Afrika Selatan, bukan persoalan Nelson Mandela, tapi African National Congress, pemuka agama memberikan arahan menuju pada satu visi yang disepakati. Di sini kan tidak?
Bukankah tujuan negara ada di konstitusi?
kliping
ELSAM
Kompas, Sabtu 22 April 2006UU KKR Setahun Terbengkalai
Kesungguhan Presiden Dipertanyakan
Jakarta, Kompas - Rancangan Undang-Undang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang diundangkan Presiden Megawati Soekarnoputri pada 6 Oktober 2004 terbengkalai implementasinya. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang seharusnya terbentuk pada 6 April 2005 belum juga bisa dibentuk.
Anggota Komisi III DPR Gayus Lumbuun (Fraksi PDI-P, Jawa Timur V) kepada pers di Jakarta, Jumat (21/4), mempertanyakan komitmen Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk merealisasikan KKR. "Ini sebenarnya menyangkut manajemen pemerintahan. Pemerintah seharusnya bisa menetapkan mana yang harus diprioritaskan, mana yang tidak," ucapnya.
Dalam perkembangan terakhir, Presiden Yudhoyono bertemu dengan panitia seleksi anggota KKR tanggal 23 Februari 2006. Pada saat itu, menurut Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra, Presiden mengatakan masih membutuhkan waktu yang cukup untuk menyusun peraturan pelaksanaan UU No 27/2004 (Kompas, 24/2).
UU No 27/2004 diundangkan 6 Oktober 2004. Dalam Pasal 45 Ayat 3 disebutkan, "Pembentukan Komisi sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) dilaksanakan dalam jangka waktu paling lambat enam bulan terhitung sejak tanggal undang-undang ini diundangkan".
Gayus mengatakan, dalam Rapat Kerja Komisi III DPR dengan Menteri Hukum dan HAM, masalah itu beberapa kali ditanya- kan anggota DPR. "Kita akan menanyakan lagi kepada pemerintah," ucapnya. Sementara praktisi hukum Bambang Widjojanto mengemukakan tiga hal yang perlu mendapat jawaban dari Presiden Yudhoyono. Pertama, secara politik apakah Presiden menganggap KKR diperlukan atau tidak karena KKR itu adalah perintah UU No 27/2004. "Kalau tak diperlukan, bagaimana menyelesaikan solusi hukumnya," kata Bambang yang ikut menyeleksi calon anggota KKR dan sudah menyerahkan 42 nama calon kepada Presiden.
Kedua, realitas sosiologis menunjukkan bahwa penyelesaian kasus pelanggaran hak asasi manusia berat melalui pengadilan tidak berhasil memberikan keadilan kepada korban. "KKR bisa menjadi solusi tapi mengapa terjadi buying time," katanya.
Ketiga, Bambang mengingatkan problem KKR bukan hanya personalia, melainkan juga aturan main di dalam KKR. Jika tak ada kepemimpinan yang kuat dalam KKR nanti, ia khawatir pembahasan aturan main bisa memakan waktu. Karena itu, ia menyarankan dan bisa mengerti kalau pemerintah ikut menyiapkan draf aturan main dari KKR.
Bambang tak berani menilai keterlambatan pembentukan KKR sebagai kelemahan manajemen pemerintahan. "Saya menanyakan kesungguhan presiden merealisasikannya," ucapnya.
kliping
ELSAM
Kompas, Senin, 19 June 2006Penundaan KKR Ciptakan Kondisi Dilematis
Jakarta, Kompas - Sikap pemerintah mengulur-ulur waktu pembentukan lembaga Komisi
Kebenaran dan Rekonsiliasi menciptakan suatu kondisi dilematis. Dilema itu dihadapi
calon anggota KKR yang namanya sudah di tangan Presiden.
Kondisi tersebut terungkap lewat perbincangan Kompas, pekan lalu, dengan dua calon
anggota Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), Ifdhal Kasim dan Fadjroel
Rachman.
Mereka menilai, penundaan yang terus terjadi dan berlarut-larut tanpa kejelasan akan
membuat masyarakat semakin apatis terhadap pentingnya keberadaan KKR. Semakin
lama pembentukan KKR tertunda, maka komisi itu akan semakin kehilangan
momentumnya.
"Bahkan ketika KKR pada akhirnya terbentuk, masyarakat sudah berada dalam posisi
yang apatis, meragukan, dan bahkan justru mempertanyakan kembali penting tidaknya
KKR dibentuk," ujar Ifdhal.
Tidak serius
Menurut Ifdhal, penundaan pembentukan KKR itu disebabkan beberapa faktor, seperti
kesengajaan pemerintah mengulur waktu, adanya ketidaksamaan pemikiran dan pendapat
di tubuh pemerintah sendiri, dan juga faktor latar belakang ekonomi terkait kesediaan
anggaran membiayai KKR.
"Pemerintah sengaja bermain dengan waktu. Bahkan mengundur pembentukan KKR,
bila perlu sampai masa pemerintahan berakhir untuk kemudian dibebankan ke
pemerintahan selanjutnya.," ujar Ifdhal.
Fadjroel meyakini penundaan memang sengaja dilakukan. Alasan Presiden Yudhoyono
yang menyatakan perlunya kehati-hatian dalam memilih 21 anggota KKR hanya sebatas
alasan.
"Padahal kalau mau serius, mereka punya instrumen lengkap seperti BIN (Badan
Intelijen Negara) atau bisa memerintahkan Menteri Hukum dan HAM, atau malah
memanggil kami untuk mengecek satu per satu," ujar Fadjroel. (dik)
Sumber:
kliping
ELSAM
Kompas, Selasa 20 June 2006
Hak Asasi Manusia
Pemerintah Khawatir Ungkap Kebenaran
Jakarta, Kompas - Makin mundurnya pembentukan lembaga Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi terjadi karena kelambatan Presiden untuk memilih 21 nama dari 42 kandidat yang telah diajukan panitia seleksi. "Kelambatan pemerintah membentuk KKR kemungkinan muncul karena kekhawatiran untuk
mengungkapkan kebenaran yang merupakan praktik baru yang diakomodasi dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2004 mengenai Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi," kata anggota DPR yang mantan Ketua Panitia Khusus RUU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Sidarto Danusubroto (Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Jawa Barat VII), Senin (19/6) siang.
Pembentukan KKR mestinya dilakukan paling lambat April 2005. Namun, upaya itu mandek setelah Presiden tidak kunjung menetapkan 21 anggotanya.
Sidarto menyebutkan, keengganan untuk mengungkap kebenaran karena selama ini hal itulah yang paling sulit dilakukan. Sejak awal memang terlihat keengganan itu, termasuk keinginan untuk mendorong upaya langsung pada rekonsiliasi tanpa lebih dulu mengungkapkan kebenaran.
Menurut Sidarto, kelambatan pembentukan KKR di tingkat pusat akan berpengaruh langsung terhadap pembentukan KKR di Aceh sebagaimana amanat RUU Pemerintahan Aceh yang kini mendekati tahap akhir pembahasan. "KKR harus dibentuk dulu. Kalau tiba-tiba di Aceh muncul, bagaimana?" katanya. Dalam rumusan RUU Pemerintahan Aceh inisiatif pemerintah disebutkan, KKR Indonesia membentuk KKR di Aceh dengan tugas merumuskan dan menentukan upaya rekonsiliasi.
Menurut anggota Panitia Khusus RUU Pemerintahan Aceh, Ahmad Farhan Hamid (Fraksi Partai Amanat Nasional, Aceh II), pembentukan KKR di Aceh oleh KKR Indonesia telah mengerucut
kliping
ELSAM
Suara Merdeka 20 Juni 2006Besok MK Gelar Uji Materil UU KKR
Jakarta, CyberNews. Mahkamah Konstitusi akan kembali menggelar sidang Uji Materil UU No. 27 tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), Rabu (20/6) besok.
Sidang Uji Materil kali ini telah memasuki agenda pemeriksaan saksi dan ahli. Sejumlah ahli akan dihadirkan pada sidang besok. Di antaranya, Dr Asvi Warman Adam (sejarawan LIPI), Dr. Thamrin Amal Tomagola (sosiolog UI), dan Marulah (saksi korban Tanjung Priok).
Sidang yang akan digelar di gedung Mahkamah Konstitusi ini akan dimulai pukul 10.00 WIB tepat. "Agenda sidang besok adalah mendengarkan keterangan saksi dan ahli," kata koordinator Tim Advokasi Kebenaran dan Keadilan Taufik Basari dalam siaran persnya kepada SM CyberNews, Selasa (20/6). Tim Advokasi Kebenaran dan Keadilan, terdiri dari LBH Jakarta, KontraS, Elsam, SNB, Imparsial, dan LPH Yaphi, mengajukan uji materil terh