• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan perlu adanya Peraturan Daerah tentang rumah kos agar semaksimal mungkin penataan ruang dapat berjalan dengan baik dan tidak carut marut, karena pelaku usaha rumah kos seringkali lebih mementingkan usaha/ bisnis semata yang tidak dibarengi kelayakan akan standar Kesehatan, keamanan, evakuasi dari kebakaran dan bencana alam. Perlu lebih diutamakan juga zonasi pemukiman dimana walau sampai hari ini Rencana Tata Ruang Wilayah yang belum kunjung ditetapkan akan tetapi dari Dinas Pertanahan dan Tata Ruang telah membuat zonasi kewilayahan dimana beberapa lokasi atau

58 daerah sesuai peruntukan, semisal zona peruntukan pergudangan tentunya tidak bisa menjadi satu dengan zona pariwisata karena tentunya akan sangat mengganggu pemandangan dan lalu-lintas barang, begitu juga zona perumahan dan zona pendidikan yang perlu diperhatikan agar tidak lama kelamaan di masa mendatang menjadi pemukiman kumuh seperti yang selama ini terjadi di kota-kota besar. Kulon Progo dalam masa mendatang akan menjadi kota Aerotropolis dimana pengertiannya adalah kota berbasis airport. Kota berbasis airport yang akan memberi dampak sangat besar bagi perkembangan perekonomian, kota yang diharapkan tumbuh dan berkembanag dengan memanfaatkan airport sebagai nadi denyut transportasi dimana akan tumbuh pusat bisnis yang tentunya memerlukan sarana adan prasana penunjang seperti hunian dan juga bagi pendatang sementara adalah rumah kos. Hadirnya rumah kos jelas akan membawa dampak positif dan negatif, seperti terjadi benturan budaya dimana masyarakat Kulon Progo pasti akan terjadi shock culture dimana para pendatang akan membawa tradisi, sifat, budaya asal yang disatu sisi jelas memperkaya khasanah tetapi disisi lain tentu akan menimbulkan masalah juga bila saling mempertahankan ego masing-masing. Masyarakat Kulon Progo harus siap hidup berdampingan dengan para pendatang dan mau tidak mau harus juga dapat beradaptasi dengan perkembanagan zaman. Di lain pihak para pendatang juga harus dapat menyesuaikan dengan keadaan dan kondisi Kabupaten Kulon Progo dengan aneka ragam budaya dan kemajemukan masyarakat. Mempersiapkan sebuah naskah akademik dan draft raperda Rumah Kos tidak hanya sekedar sebagai sebuah peraturan yang mempunyai rewards and punishment buat pelanggarnya, tetapi ada yang lebih menjadi keutamaan yaitu hadirnya pemerintah sebagai pengambil kebijakan dalam kancah keaneragaman masyarakat juga sebagai perencana Kawasan yang akan menentukan masa depan Kabupaten Kulon Progo di masa yang akan datang. Area pemukiman yang menjadi pokok bahasan dalam Naskah Akademik ini tentunya merupakan zonasi tersendiri

59 yang tidak dapat digabungkan dunia industri dimana faktor kesehatan dan kenyamanan masyarakat menjadi prioritas. Lalu menjadi sebuah pertanyaan apabila penyelenggaraan rumah kos ini sudah diperdakan akan tetapi Rencana tata Ruang Wilayah (RTRW) belum ditetapkan. Apakah tidak akan terjadi perubahan? Banyak pekerjaan rumah berkaitan rencana tata ruang yang memang harus diselesaikan. Oleh karena perlu adanya kesepakatan para pemangku kebijakan dlam merumuskan keinginan bersama ini dengan tetap berkomunikasi pada kebijakan pemerintah daerah tingkat satu, agar kesinambungan sebagai sebuah bagian dari Keistimewaan Yogyakarta juga terasa gemanya dalam Pemerintahan di Kabupaten Kulon Progo.

Maka pada kenyataannya Raperda ini diharapkan dapat diberlakukan kepada para pelaku usaha atau pihak yang berkepentingan.

Dengan demikian perlu pengkajian terhadap Peraturan Daerah ini melalui 3 pendekatan yaitu formils, substansi, dan praktis. Oleh karena itu untuk kedepannya penyedia jasa perlu juga memperoleh bantuan dari berbagai stakeholder seperti Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Dinas Pertanahan dan Tata Ruang, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan tentu saja para anggota Dewan Kabupaten Kulon Progo dalam mempersamakan perspektif, agar kedepannya pekerjaan ini dapat berjalan dengan hasil yang maksimal.

Dalam proses penyusunana naskah akademik ini, menggunakan dua jenis data yang umum ditemukan dalam proses penelitian, yakni data primer dan data sekunder. Data primer adalah adalah data yang diambil atau didapat dari sebuah penelitian denngan menggunakan instrument yang dilakukan pada saat tertentu dan hasil dari penelitian tersebut tidak dapat digeneralisasikan. Pengumpulan data secara primer biasa dilakukan menggunakan kuesioner, wawancara atau hasil pengamatan terhadap obyek tertentu. Kuesioner tersebut sifatnya lebih fleksibel. Data yang didapat dari pengumpulan data secara primer adalah data yang benar dan faktual terjadi

60 pada proses penelitian. Data-data yang diperoleh tidak dapat digeneralisasi, dengan arti bahwa hasil dari proses pengumpulan data tersebut hanya dapat dilihat pada saat kejadian sedang berlangsung. Oleh sebab itu keberadaan data primer tidak dapat disimpulkan lebih jauh seperti akankah dalam beberapa waktu yang akan datang data primer tersebut masih sama atau tidak.

Pengumpulan data secara primer dalam kaitannya dengan penyusunan Naskah Akademik dan Draft Raperda Rumah Kos diperoleh dari hasil wawancara dengan beberapa narasumber dan Focus Group Discussion (FGD), Rapat fasilitator, Kuesioner.

Data sekunder adalah data yang didapatkan dari sumber yang sudah ada yaitu data dari dalam suatu instansi atau kelembagaan maupun data dari luar instansi atau kelembagaan tersebut. Data yang berasal dari dalam dapat dikatakan sebagai data yang berupa dokumen-dokumen yang secara langsung dari instansi atau kelembagaan tersebut. Data yang berasal dari luar adalah data yang berupa dokumen-dokumen dari instansi atau kelembagaan yang diambil dari media internet, perpustakaan, dan lain sebagainya. Dalam kaitannya dengan penyusunan Naskah Akademik dan Draft Raperda Rumah Kos, pengumpulan data secara sekunder dilakukan terhadap instansi-instansi terkait yang menunjang proses pengumpulan data.

Merujuk pada data primer yang dilakukan dengan survei dan wawancara kepada kepada 25 penghuni kos dan 5 pemilik/penyelenggara rumah kos.

Didapatkan data sebagai berikut.

61 Diagram 1. Kepemilikan Rumah Kos

Dari 5 pemilik/ penyelenggara rumah kos yang ditemui dan diwawancara, 3 diantaranya merupaka pemilik langsung rumah kos, sementara 2 diantaranya adalah pihak ke-2 yang melakukan pengelolaan.

Diagram 2. Pengajuan Ijin Mendirikan Bangunan

Dari 5 pemilik/ penyelenggara rumah kos yang ditemui dan diwawancara semuanya mengajukan IMB atas pendirian rumah kos namun untuk ijin usaha penyelenggaraan kos belum ada yang mengajukan, hal ini disebabakn belum adanya peraturan mengenai diharuskannya pemilik usaha kost untuk mengajukan ijin terkait penyelenggaraan kos

PEMILIK 80%

PENGELOLA 20%

KEPEMILIKAN RUMAH KOS

Mengajukan IMB 100%

Tidak Mengajukan IMB

0%

62 Diagram 3. Kepemilikan Aturan Bersama dalam Kos

3 dari 5 pengelola kos mengaku sudah memiliki aturan bersama yang dibuat untuk ditaati oleh penghuni kos. Kepemilikan aturan bersama ada untuk mencoba mengatur pendtang dalam berperilaku serta menjaga ketertiban bersama. Dengan adanya aturan bersama, potensi potensi gesekan budaya yang akan terjadi dapat diminimalisir.

Diagram 4. Melaporkan Penghuni ke RT/RW

Salah satu dampak dari adanya aturan bersama dalam penyelenggaraan kos dalam rangka menjaga ketertiban umum adalah upaya melaporkan penghuni ke perangkat daerah setempat, melalui survei dan wawancara ditemukan bahwa

MEMILIKI PERATURAN KOS 60%

TIDAK MEMILIKI PERATURAN

40%

MELAPORKAN 80%

TIDAK MELAPORKAN 20%

MELAPORKAN TIDAK MELAPORKAN

63 3 dari 5 pengusaha kos yang memiliki peraturan mengharuskan penghuninya untuk melapor kepada pernagkat daerah setempat

Diagram 5. Interaksi Penghuni Kos dengan Warga Sekitar

Sebanyak 2 dari 5 pengelola menyatakan bahwa penghuni yag berada di rumah kosnya sering berinteraksi dengan warga sekitar melalui kegiatan ronda dan gotong royong, 2 dari 5 lainnya juga melakukan interaksi, namun tidak sesering yang lainnya. Nakun ada 1 dari 5 pengelola yang mengaku bahwa penghuni di tempatnya jarang melakukan interaksi karena kesibukan pribadi.

Selain kepada pengelola kos, survey dan wawancara juga dilakukan kepada penghuni kos yang ada di lokasi kos dan beberapa daerah lain yang dalam data sekunder terdata memiliki beberapa usaha kos.

Diagram 6. Penghuni Kos di Kulon Progo

Dari 25 responden yang dimintai pendapat melalui random sampling di lokasi yang memiliki rumah kos, 11 orang merupakan penduduk kulon progo yang

Sering Berinteraksi

Kadang Berinteraksi Jarang Berinteraksi

Dari Kulon Progo 44%

Dari luar Kulon Progo

56%

64 memilih kos karena jauhnya jarak rumah dengan sekolah/ kantor dan 14 orang lainnya adalah orang luar kulon progo yang memiliki pekerjaan/bersekolah di Kulon Progo

Diagram 7. Pekerjaan Penghuni Kos

8 dari 25 penghuni kos yang diberikan kuesioner mengaku mereka adalah mahasiswa yang menmpuh pendidikan di beberapa universitas yang tersebar di Kulon Progo. Sementara itu 17 dari 25 orang penghuni kos adalah meraka yang memiliki pekerjaan baik di bandara maupun di sekitarnya dan juga di beberapa sector pendukun lainnya

Diagram 8. Variasi Harga Kamar Kos per Bulan

Dari 25 penghuni kos yang dijadikan responden dalam penelitian umumnya tarif bulanan rumah kos berada di kisaran 250.000 – 500.000. keberadaan

Kuliah 32%

Bekerja 68%

< 250.000 8%

250.000 - 500.000 40%

500.000 - 1.000.000 28%

> 1.000.000 24%

65 kamar kos yang memiliki tariff 500.000- 1000.000 dan selebihnya menunjukkan bahwa sudah ada potensi kost eksklusif di Kulon Progo

Diagram 9. Keberadaan Induk Semang

10 dari 25 responden mengatakan rumah kos yang mereka tempati menjadi satu dengan rumah induk semang (pemilik/pengelola), 7 dari 25 responden mengatakan bahwa di rumah kos yang ditempati tidak ada yang mengawasi secara langsung. 8 dari 25 responden mengatakan bahwa tidak tahu menahu terkait keberadaan induk semang di rumah kos yang ditempati.

2.7. Implikasi Penerapan Rancangan Peraturan Daerah tentang