• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEKANAN TERHADAP LINGKUNGAN

D.5. Emisi Gas Metan ( CH4) dan Karbondioksida (CO2)

Gas metan (CH4) dan karbondioksida (CO2) merupakan salah satu Gas Rumah Kaca (GRK). Salah satu sumber penghasil gas tersebut adalah kegiatan pertanian dan peternakan serta penggunaan pupuk urea. Pada kegiatan pertanian gas metan dilepaskan ke udara akibat pembusukkan bahan-bahan organik sedangkan pada pertanian merupakan produk samping dari pencernaan hewan-hewan tertentu, terutama sapi.

Gas metan yang dihasilkan dari kegiatan pertanian dihitung dengan menggunakan rumus luas lahan sawah (Ha) dikalikan lama penanaman (hari) dan dikalikan faktor emisi lahan sawah (1,3 ton/Ha). Dan untuk kegiatan perternakan di hitung dengan menggunakan rumus jumlah ternak maupun unggas dikalikan faktor emisi untuk masing-masing jenis ternak dan/atau unggas.

Berdasarkan hasil perhitungan (Tabel SP-6), besarnya emisi gas metan yang dihasilkan oleh kegiatan pertanian pada tahun 2012 adalah 2.558.573,32 ton/tahun. Kecamatan dengan penghasil gas metan terbesar adalah Sewon dengan jumlah emisi 222.263,50 ton/tahun. Dan dari kegiatan peternakan emisi yang dihasilkan sebesar 4.769.058 ton/tahun dengan rincian gas metan dari ternak sebesar 4.714.560 ton/tahun dan dari unggas sebesar 54.498 ton/tahun. Berdasarkan tabel SP-7, kecamatan penghasil gas metan paling banyak dari kegiatan peternakan adalah Dlingo sebesar 467.348 ton/tahun.

Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul 77 Gas karbondioksida yang dihasilkan oleh penggunaan pupuk urea dapat dihitung menggunakan rumus besarnya penggunaan pupuk (ton) dikalikan dengan faktor konversi sebesar 0,2 ton/ton urea. Berdasarkan perhitungan besarnya gas karbondioksida yang dihasilkan pada tahun 2012 sebesar 1.558 ton/tahun (Tabel SP-8). Dimana kecamatan Srandakan merupakan penghasil karbondioksida terbesar di kabupaten Bantul dengan nilai 114,6468 ton/tahun.

E.1. Perkembangan Sektor Industri.

Pemerintah Kabupaten Bantul berkomitmen untuk selalu mengembangkan industri kecil dan menengah diantaranya melalui pemberian kemudahan ijin usaha dan pembinaan kepada Industri Kecil dan Menengah (IKM), penyusunan kebijakan industri terkait dengan industri penunjang IKM, pelatihan dan bantuan permodalan, serta pengembangan sentra-sentra industri potensial.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, pada tahun 2012 jenis industri yang tumbuh di kabupaten Bantul bervariasi seperti jasa, pangan dan kerajinan. Kapasitas produksinya pun berbeda-beda tergantung jenis industri dan kemampuan. Untuk industri pangan, perusahaan Agrindo Suprafood mempunyai kapasitas industri sebesar 240 kg/tahun sedangkan prusahaan Sri Rahayu mempunyai kapasitas sebesar 1.040 kg/tahun. Sedangkan untuk jenis industri furniture/kerajinan, CV. Karya Wahana Sentosa mempunyai kapasitas produksi sebesar 2 kontainer/bulan dan UD. Iqbal Furniture sebesar 2400 pcs.

Untuk industri skala menengah dan besar yang ada di Kabupaten Bantul tidak banyak mengalami penurunan jumlahnya. Berrdasarkan tabel SE-12, ada lima industri skala menengah dan besar dengan kapasitas yang bervariasi. Industri gula pasir PG. Madukismo yang menggunakan bahan baku tebu mempunyai kapasitas senyatanya 9.945 ton/tahun sedangkan kapasitas terpasang mencapai 1.080.000 ton/tahun. Melalui proses sulfitasi E. INDUSTRI

Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul 78 alkalis dihasilkan produk gula pasir dengan berbagai jenis/tingkatan dan hasil samping tetes (Molase) sebagai bahan baku pembuatan Spiritus di PS. Madukismo yang mempunyai kapasitas terpasang 9.000.000 ton/tahun.

Ada dua industri kulit yaitu PT. ASA dan PT. BAS yang berlokasi di kawasan industri Piyungan menggunakan bahan baku kulit hewan melalui proses penyamakan menghasilkan lembaran kulit untuk bahan pembuatan industri kerajinan kulit seperti jaket, sepatu dan tas. PT. BAS mempunyai kapasitas terpasang sebesar 720 ton/tahun dengan kapasitas senyatanya sebesar 29,83 ton/tahun.

Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul 79 E.2. Pengelolaan Limbah Industri

Limbah industri merupakan produk samping dari hasil produksi yang tidak mempunyai nilai ekonomis dan sisa hasil dari kegiatan utilitas. Berdasarkan karakteristiknya limbah industri dibagi menjadi empat bagian, yaitu limbah cair, limbah padat, limbah gas dan limbah partikel. Dengan semakin banyak berdirinya industri maka limbah yang dihasilkan pun semakin banyak. Oleh karena itu untuk mengurangi beban lingkungan maka perlu dilakukan pengelolaan limbah baik industri skala kecil, menengah maupun besar. Adapun untuk mengetahui indikasi terjadinya pencemaran pada badan sungai dapat dilihat besarnya kandungan parameter seperti BOD, COD, TSS, Nitrit , logam berat dan Bakteri Coli.

Beban limbah cair beberapa industri skala menegah (tabel SP-9) tergantung dari jenis industri tersebut. Besarnya beban limbah cair untuk parameter BOD, terbesar adalah PT. Bintang Alam Semesta mencapai 10 ton/tahun dan terkecil PT. Samitex sebesar 3 ton/tahun. Sedangkan beban limbah cair untuk parameter COD, tertinggi tertinggi juga PT. Bintang Alam Semesta sebesar 25 ton/tahun. Sedangkan untuk parameter TSS terkecil sebesar 3 ton/tahun oleh PT. Bintang Alam Semesta dan PT. Samitex.

Berdasarkan data tahun 2011 beban emisi industri skala kecil dari beberapa parameter untuk industri peleburan logam berdasarkan pengujian kualitas udara dengan beberapa parameter seperti CO2 (Karbondioksida), NO2 (Nitrogendioksida), SO2 (Sulfur Dioksida) dan CO (Karbon Monooksida) dari ketiga industri tersebut menunjukan bahwa besarnya emisi hampir sama berkisar 0,3-0,5 ton/tahun.

Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul 80 F.1 Kegiatan Pertambangan

Golongan bahan tambang terbagi menjadi 3 jenis, yaitu golongan A yang merupakan barang yang penting bagi petahanan, keamanan dan strategis untuk menjamin perekonomian negara dan sebagian besar hanya diizinkan untuk dimiliki oleh pihak pemerintah. Golongan B (bahan vital) adalah bahan galian yang dapat menjamin hayat hidup orang banyak, seperti emas, perak, besi dan tembaga. Dan golongan C bahan yang tidak dianggap langsung mempengaruhi hayat hidup orang banyak. (UU No. 11 Tahun 1967)

Sumber daya alam di kabupaten Bantul khususnya bahan galian golongan C jumlahnya belimpah yang menyebar di beberapa wilayah kecamatan seperti seperti Kretek, Pundong, Sewon, Piyungan, Banguntapan, Sedayu dan lain-lain. Sebagian besar bahan galian gol C termasuk bahan galian industri seperti pasir, kerikil, batu, tanah urug. Kegiatan penambangan pada umumnya dilakukan oleh kelompok, perorangan, maupun pihak swasta. Peralatan yang digunakan adalah sederhana seperti perahu bambu, sekop, pacul dan lain-lain dengan teknik yang sederhana, namun ada yang menggunakan peralatan modern seperti Bego khususnya dari pihak swasta.