TEKANAN TERHADAP LINGKUNGAN
B. 3. Sanitasi lingkungan
Sanitasi lingkungan merupakan sebuah upaya/usaha dalam pengendalian semua faktor lingkungan fisik manusia, yang mungkin menimbulkan atau dapat menimbulkan hal-hal yang merugikan bagi perkembangan fisik, kesehatan dan daya tahan hidup manusia. Upaya yang dilakukan meliputi penyediaan air besih, pembuangan kotoran manusia, pengelolaan sampah dan pengelolaan air limbah.
Sanitasi lingkungan berkaitan erat pada perilaku menjaga kebersihan dan kesehatan pada lingkungan tempat kita berada. Sanitasi lingkungan
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul 66 bertujuan untuk mencegah diri sendiri maupun lingkungan untuk bersentuhan langsung dengan kotoran atau bahan buangan/limbah lainnya. Pemerintah Kabupaten Bantul dalam hal usaha meningkatkan sanitasi lingkungan telah membangun sejumlah sarana maupun prasarana kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal kepada masyarakat.
B.3.1. Air bersih
Kebutuhan akan air bersih untuk kehidupan sangatlah penting untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Untuk itu ketersedian air bersih harus dijaga salah satunya dengan cara menjaga hutan kita sehingga peresapan air hujan dapat maksimal. Salah satu kegunaan air bersih adalah sebagai air minum. Dimana air minum dibutuhkan tubuh kita agar tidak dehidrasi selama beraktifitas. Pemenuhan kebutuhan akan air minum sebagian besar penduduk kabupaten Bantul berasal dari ledeng, sumur dan mata air.
Penggunaan sumber air minum yang paling banyak berasal dari sumur dengan jumlah rumah tangga sebanyak 180.871 KK dan urutan kedua sebanyak 15.627 KK dengan sumber air minum berasal dari ledeng. Penggunaan sumur sebagai sumber air minum dari tahun ke tahun meningkat. Pada tahun 2010 sebanyak 169.226 KK menjadi 173.711 KK, begitu juga dengan yang berasal dari ledeng. Pada tahun 2010 sebanyak 15.379 KK naik menjadi 15.627 KK pada tahun 2011, sedangkan di tahun 2012 tidak mengalami peningkatan maupun penurunan. Pemenuhan kebutuhan air minum berasal dari sumur terbesar di kecamatan Banguntapan sebanyak 21.538 KK sedangkan terendah di kecamatan Dlingo sebanyak 2.454 KK. Dan yang berasal dari ledeng tertinggi di kecamatan Kasihan sebanyak 3.248 KK sedangkan terendah di kecamatan Kretek sebanyak 23 KK. Penggunaan mata air sebagai sumber air minum terbesar terdapat di kecamatan Piyungan sebanyak 1.483 KK, terendah di kecamatan Banguntapan dan Bambanglipuro sebanyak 1 KK.
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul 67 B. 3. 2. Limbah Rumah Tangga
Salah satu dari upaya sanitasi lingkungan adalah pengelolaan pembuangan limbah kotoran manusia. Limbah kotoran manusia merupakan hasil ekskresi manusia berupa tinja dan urine. Dan merupakan media kultur yang baik bagi pertumbuhan beberapa spesies mikroba baik yang patogen maupun non patogen. Oleh sebab itu penangan limbah tersebut harus dilaksanakan baik secara pribadi maupun kelompk.
Penangan limbah secara kelompok dilakukan dengan cara pembangunan IPAL komunal seperti di Pendowoharjo kecamatan Sewon. Meskipun IPAL tersebut tidak dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat yang disebabkan oleh faktor kemiringan tanah. Namun pemerintah kabupaten Bantul mengambil kebijakan bahwa setiap pengembang rumah yang lokasinya berdekatan dengan jaringan limbah harus menyalurkan limbahnya melalui jaringan terpusat (IPAL Sewon).
Pembangunan fasilitas tempat buang air besar merupakan sarana penting dalam menunjang kesehatan masyarakat dan mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. Fasilitas tersebut meliputi pembuatan jamban sendiri, bersama maupun umum seperti pada tabel SP-02. Berdasarkan tabel tersebut, jumlah rumah yang memiliki tempat buang air besar sendiri pada tahun 2012 mencapai 33.827 KK tertinggi berada di kecamatan Jetis sebesar 5.729 buah dan terendah di kecamatan Pundong sebanyak 225 KK. Sedangkan Jumlah tempat buang air besar untuk umum dan bersama tidak ada. Masyarakat yang tidak mempunyai tempat buang air besar mencapai 2.678 KK terbanyak di Kecamatan Jetis yang mencapai 641 KK dan terendah di Kecamatan Sanden yang mencapai 24 KK.
Disamping pembuatan jamban, bagi masyarakat yang pemukimannya tidak dilalui oleh IPAL komunal harus melengkapinya dengan Tangki Septik. Tangki septik berfungsi sebagai tempat penampungan sementara sehingga limbah tersebut tidak mencemari lingkungan. Namun ada sebagian masyarakat tidak membuat tempat pengolahan tersebut karena adanya beberapa faktor seperti masyarakat kurang mampu, lokasi dekat dengan sungai, ataupun adanya budaya yang belum bisa dihilangkan. Jumlah rumah tangga tanpa septic tank tahun 2012
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul 68 mencapai 33.827 KK (Tabel SP-3). Jumlah terbanyak rumah tangga tanpa tangki septik di kecamatan Kasihan yang mencapai 527 KK dan di kecamatan Pleret seluruhnya mempunyai septic tank. Apabila dibandingkan dengan tahun 2011, jumlah rumah tangga tanpa tangki septik mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pola hidup bersih dan sehat (PHBS) yang ditanamkan melalui berbagai sosialisasi, bantuan dan lain-lain.
B.3.3. Sampah
Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat menyebabkan sampah yang dihasilkan meningkat juga. Untuk itu upaya peningkatan pengelolan sampah terus dilakukan dari tahun ke tahun sehingga sampah yang dihasilkan penduduk tidak menjadi beban lingkungan yang menyebabkan penurunan kualitas lingkungan. Cara-cara pembuangan sampah yang dilakukan oleh masyarakat adalah diangkut, penimbunan, dibakar, dibuang ke kali atau lainnya.
Di kabupaten Bantul ada sebagian masyarakat yang telah mengelola sampah dengan prinsip 3R dan membentuk jejaring sampah mandiri yang terdiri dari beberapa kelompok pengelola sampah berbasis masyarakat dari beberapa wilayah Kecamatan. Dan berdasarkan data pada tabel SP-01 pembuangan sampah dilakukan dengan cara di angkut oleh Dinas Pekerjaan Umum. Jumlah sampah yang diangkut di 17 kecamatan sebesar 141,03 m3/hari. Jumlah terbesar sampah yang terangkut sebesar 27,59 m3/hari di kecamatan Banguntapan, sedangkan yang terendah sebesar 1,33 m3/hari.
Berdasarkan tabel SP-04 timbulan sampah yang terjadi di 17 kecamatan sebesar 2.526,67 m3/hari. Penghasil sampah terbesar ada di kecamatan Piyungan sebesar 285,11 m3/hari. Dan terendah sebesar 86,14 m3/hari terdapat di kecamatan Srandakan. Tingginya timbulan sampah disebabkan oleh beberapa faktor antara lain kepadatan penduduk yang tinggi dan peningkatan aktivitas serta belum semua pihak mempunyai kemampuan maupun kemauan dalam mengelola sampah dengan prinsip 3R. Berdasarkan data dari tahun 2010 hingga 2012 timbulan sampah yang
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul 69 terjadi tiap tahunnya meningkat dengan kenaikan rata-rata sebesar 2.286,39 m3/hari. Seperti yang terlihat pada grafik di bawah ini.
Gambar 39. Grafik timbulan sampah di kab. Bantul
Peningkatan volume sampah rumah tangga maupun industri tidak dapat dihindarkan lagi. Pemerintah Daerah melalui Dinas terkait menyediakan TPS sebanyak 115 dengan daya tampung sebesar 380 ton yang tersebar di berbagai tempat seperti komplek perkantoran, pemukiman, pasar, sekolah dan lain sebagainya untuk kemudian diangkut ke TPA Piyungan yang merupakan kerjasama dari pemerintah kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Bantul (Sekber Kertamantul). Upaya meningkatkan perilaku masyarakat agar terlibat dalam penanganan sampah dilakukan melalui bantuan sarana-prasarana penelolaan sampah seperti di sekolah, pemukiman, kelompok pengelola sampah, perkantoran dan tempat-tempat umum dan lain-lain untuk menurunka volume sampah yang dibuang di TPA (Tempat pemrosesan Akhir)
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul 70 C.1. Kondisi Kesehatan dan Sarana Pelayanan
Kesehatan merupakan investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Untuk itu diperlukan sarana pelayanan dan akses menuju tercapainya kondisi kesehatan yang memadai. Tidak hanya dibutuhkan sebuah tempat yang berfungsi sebagai tempat pemulihan kondisi fisik semata, tetapi juga informasi, pengetahuan dan pemahaman sebagai upaya perbaikan dan pembaharuan kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
Keberhasilan dalam menaikkan derajat kesehatan dapat dilihat dari Umur Harapan Hidup (UHH), Mortalitas (angka kematian), Morbiditas (angka kesakitan) dan status gizi masyarakat. Meskipun demikian, permasalahan kesehatan masih terus bermunculan seperti tingginya angka kematian ibu melahirkan dan bayi, gizi buruk, munculnya berbagai jenis penyakit dan lain-lain. Dari data jumlah pasangan usia subur berdasarkan golongan umur Ibu di Kabupaten Bantul tahun 2010, perempuan mencapai 34.633 jiwa, dan pada tahun 2011 menjadi 51.620 jiwa (usia 25-29 tahun). Sedangkan jumlah perempuan tertinggi mencapai 100.189 jiwa pada usai 30-34 tahun (Tabel DS-6).
Adapun jumlah anak lahir hidup tertinggi 1.297 jiwa pada usia 15-19 tahun dan terendah pada usia 25-29 tahun sebesar 644 jiwa. Dengan permasalahan kesehatan masyarakat yang terus berkembang, pemerintah berupaya mengoptimalkan perbaikan kondisi kesehatan masyarakat mulai dari pembangunan fisik, sarana kesehatan hingga pengembangan sumberdaya manusia untuk menurunkan angka kematian.
Persoalan kematian, terutama kematian ibu dan anak, mencerminkan kemampuan dari sistem pelayanan kesehatan. Jumlah kematian di Kabupaten Bantul berdasarkan golongan umur tahun 2011 untuk laki-laki terbesar pada usia 5-14 tahun mencapai 623 jiwa dan perempuan terbesar pada usia 5-14 yang mencapai 519 jiwa (Tabel DS-7).
C. KESEHATAN
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul 71 C.2 Kondisi Penyakit di Bantul
Berdasarkan data dari dinas kesehatan kabupaten Bantul (Tabel DS-8) pada tahun 2012 ada 50.638 jiwa yang menderita penyakit, menurun sebesar 151.724 jiwa dari tahun 2011. Penyakit yang dialami oleh masyarakat sebanyak 28 jenis penyakit. Lima terbesar penyakit yang diderita masyarakat adalah Hipertensi esensial, diare dan gastroenteritis, Nasofaringtis akut (common cold), Myalgia dan Asma.
Jumlah penderita dan prosentase terhadap total penderita untuk lima besar penyakit yang menyerang masyarakat adalah Hipertensi esensial sebesar 11.938 jiwa atau 22,26%, diare dan gastroenteritis 6.805 jiwa atau 12,69%, Nasofaringtis akut (common cold) 2,883 jiwa atau 10,97%, Myalgia sebesar 5.054 jiwa atau 9,42% dan Asma sebesar 3.371 jiwa atau 6,28%.