D.1. Udara Ambient
D.1.1 Hasil Pengukuran Kualitas Udara Ambient
Hasil pemantauan kualitas udara yang dilaksanakan pada tahun 2012 di 6 (enam) titik pemantauan (tabel SD-16) untuk masing-masing parameter adalah sebagai berikut :
a. Sulfur Dioksida (SO2)
Konsentrasi Sulfur Dioksida (SO2) di udara dapat menyebabkan hujan asam. Hujan asam terbentuk dari senyawa SO2 yang bereaksi dengan Oksigen (O2) membentuk SO3 yang merupakan senyawa yang reaktif. Senyawa SO3 akan bereaksi dengan uap air membentuk asam sulfit (H2SO3). Asam sulfit inilah jika hujan turun akan akan ikut terbawa air yang menyebabkan hujan asam.
Hujan asam sangat merugikan karena dapat merusak tanaman maupun kesuburan tanah, juga benda-benda yang terbuat dari logam akan mengalami peristiwa perkaratan (oksidasi). Adapun hasil pengukuran SO2 di udara dapat dilihat pada gambar 27.
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul 39
Gambar 27. Grafik konsentrasi Konsentrasi SO2
Berdasarkan pengukuran SO2 yang terlihat pada grafik tersebut diatas, besarnya konsentrasi di 6 (enam) lokasi titik pemantauan masih di bawah baku mutu udara ambient. Namun konsentrasi SO2 di udara relatif rendah tidak dapat diabaikan begitu saja, karena proses akumulasi akan tetap terjadi untuk emisi yang terus menerus. Kadar SO2 tertinggi mencapai 73,6 µg/Nm3 di titik pemantauan pertigaan pasar Piyungan, jalan Wonosari, sedangkan yang terendah berada di titik pemantauan perempatan klodran, jalan Bantul dengan konsentrasi 52,2 µg/Nm3. Tingginya konsentrasi SO2 di dua lokasi tersebut diindikasikan adanya kepadatan kendaraan bermotor, industri yang menggunakan bahan bakar batu bara dan limbah padat.
b. Nitogen Dioksida (NO2)
Gas Nitrogen Oksida (NOx) ada dua macam, yaitu gas Nitrogen Monooksida (NO) dan Nitrogen Dioksida (NO2), yang keduanya mempunyai sifat yang sangat berbeda serta sama-sama sangat berbahaya bagi kesehatan. Gas NO2 bila mencemari udara mudah di rasakan baunya yang sangat menyengat dan warnanya
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul 40 coklat kemerahan. Wilayah perkotaan yang padat penduduknya biasanya kadar NOx cenderung tinggi. Hal ini disebabkan oleh berbagai macam kegiatan/usaha yang menunjang kehidupan seperti transportasi, penggunaan generator pembangkit liatrik, pembuangan sampah dan sebagainya.
Nitrogen Dioksida (NO2) yang ada di udara ambient yang terhirup manusia, dapat menyebabkan kerusakan paru-paru. Setelah bereaksi dengan atmospher, zat ini membentuk partikel-partikel nitrat yang sangat halus yang dapat menembus bagian dalam paru-paru. Selain itu, zat ini jika bereaksi dengan asap bensin yang tidak terbakar dengan sempurna ataupun hidro karbon lain, akan membentuk Ozon rendah atau Smog kabut berwarna coklat kemerahan yang menyelimuti sebagian besar kota di dunia.
Hasil pengukuran NO2 di 6 (enam) titik pantau di beberapa wilayah di Kabupaten Bantul dapat dilihat pada gambar 28.
Gambar 28. Grafik Konsentrasi NO2
Berdasarkan gambar tersebut diatas dapat diketahui bahwa kandungan NO2 untuk semua titik pemantauan berada di bawah baku mutu. Konsentrasi tertinggi sebesar 18,700 µg/Nm3 di lokasi titik pantau pertigaan pasar Piyungan, Jalan Wonosari sedangkan konsentrasi terendah sebesar 3,44 µg/Nm3 di titik pantau
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul 41 perempatan Klodran, jalan Bantul. Tingginya konsentrasi NO2 di perempatan Klodran diindikasikan adanya pembakaran dari kendaraan bermotor, produksi energi dan pembuangan sampah.
d. Timbal (Pb)
Timbal (Pb) merupakan logam berat yang berwarna kebiru-biruan atau abu-abu keperakan dengan titik leleh 327,5 °C pada tekanan atmosphere. Sumber utama pencemaran udara dari Pb yaitu asap kendaraan bermotor, bahkan dapat mencemari makanan yang dijajakan di pinggir-pinggir jalan secara terbuka. Udara yang tercemar timbal berpotensi mengakibatkan gangguan kesehatan pada saluran pernafasan.
Pencemaran Pb akibat pembakaran bensin tidak sama antara satu tempat dengan tempat lainnya, karena tergantung pada kepadatan kendaraan bermotor. Hasil pengukuran Pb di 6 (enam) titik pantau di beberapa wilayah Kabupaten Bantul dapat dilihat pada gambar 29.
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul 42 Berdasarkan hasil pengukuran konsentrasi Pb di 6 (enam) titik pantau masih berada di bawah baku mutu yang dipersyaratkan. Konsentrasi Pb tertinggi sebesar 0,235 µg/Nm3 berada di titik pemantauan perempatan Jejeran, jalan imogiri timur, dan konsentrasi terendah sebesar < 0,046 µg/Nm3 di lokasi perempatan Ketandan, jalan Wonosari. Tingginya konsentrasi Timah (Pb) diindikasikan tingginya polutan yang berasal dari asap kendaraan bermotor di lokasi tersebut.
Polutan Pb memberikan dampak terhadap kesehatan manusia terutama pada gangguan pertumbuhan anak. Timbal (Pb) mempengaruhi fungsi kognitif, kemampuan belajar, penurunan fungsi pendengaran, mempengaruhi perilaku dan intelegensia, merusak fungsi organ ginjal, system syaraf dan reproduksi selain itu juga meningkatkan tekanan darah dan mempengaruhi perkembangan otak.
Selain itu, gangguan kesehatan adalah akibat bereaksinya Pb dengan gugus sulfidril dari protein yang menyebabkan pengendapan protein dan menghambat produksi haemoglobin. Gejala keracunan akut didapati bila tertelan dalam jumlah yang besar yang dapat menimbulkan sakit perut, muntah dan diare. Gejala keracunan kronis bisa menyebabkan hilangnya nafsu makan, kontipasi, lelah, sakit kepala, anemia. Pada ibu hamil, kelumpuhan anggota badan dan gangguan penglihatan.
e. Ozon (O3), PM 10 dan PM 2,5
Berdasarkan hasil pengukuran udara ambient untuk parameter-parameter Ozon, PM 10, dan PM 2,5 di seluruh titik pemantauan konsentrasinya masih dibawah baku mutu udara ambient. Konsentrasi tertinggi untuk parameter Ozon sebesar 19 µg/Nm3 di perempatan depan Brimob, jalan imogiri timur dan konsentrasi terendah di titik pantau perempatan Klodran jalan bantul sebesar 4,33 µg/Nm3.
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul 43 Sedangkan untuk parameter PM10, konsentrasi tertinggi di titik pantau perempatan Jejeran, jalan imogiri timur sebesar 30,1 µg/Nm3 dan terendah 14,6 µg/Nm3 di titik pantau pertigaan pasar piyungan jalan Wonosari. Konsentrasi tertinggi untuk parameter PM 2,5 sebesar 29,8 µg/Nm3 di titik pantau perempatan Jejeran jalan Imogiri timur dan terendah 15,1 µg/Nm3 di titik pantau perempatan madukismo, jalan ringroad selatan.
f. TSP (Partikel)
Partikel dapat berupa debu padat atau titik-titik cair, dapat bersifat primer atau sekunder. Sumber partikel selain dari proses alam juga oleh aktivitas manusia seperti peleburan, pembakaran tidak sempurna, transportasi dan kegiatan industri. Bergeraknya partikel di udara dipengaruhi oleh tenaga dari luar seperti angin, hujan, tenaga bertahan dan tenaga interaksi. Partikel-partikel yang dapat mempengaruhi kesehatan yaitu bahan organik dan bahan anorganik.
Hasil pengukuran konsentrasi partikel (TSP) di 6 (enam) titik pemantauan dapat dilihat pada gambar 30.
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul 44 Hasil pengukuran parameter partikel di 6 (enam) titik pantau, 2 (dua) titik konsentrasinya diatas baku mutu udara ambient (230 µg/Nm3), yaitu perempatan Jejeran dengan konsentrasi 514,8 µg/Nm3 merupakan konsentrasi tertinggi dan perempatan Madukismo dengan konsentrasi 315 µg/Nm3. Konsentrasi terendah TSP sebesar 117,8 µg/Nm3 di perempatan Klodran.