• Tidak ada hasil yang ditemukan

Empat Pilar Penerapan Manajemen Risiko BN

Dalam dokumen Bank Negara Indonesia Tbk 2013 (Halaman 131-134)

Sebagaimana dijelaskan dalam framework manajemen risiko, terdapat 4 (empat) pilar penerapan manajemen risiko yang menjadi dasar dan merupakan komponen penting dalam implementasi manajemen risiko. Empat pilar penerapan manajemen risiko tersebut meliputi:

1. Pengawasan Aktif Dewan Komisaris dan

Direksi

Pengawasan aktif Dewan Komisaris dilakukan melalui persetujuan dan evaluasi atas kebijakan manajemen risiko yang disusun oleh Direksi. Secara berkala Dewan Komisaris melakukan evaluasi pelaksanaan kebijakan manajemen risiko melalui forum Rapat Direksi dan Komisaris, dan dalam implementasinya dibantu oleh Komite Pemantau Risiko.

Pengawasan aktif Direksi antara lain dilaksanakan melalui penyusunan, penerapan serta evaluasi atas kebijakan dan prosedur manajemen risiko melalui forum Rapat Direksi, Rapat Komite Risiko & Kapital Bidang Manajemen Risiko dan Bidang Assets & Liabilities, serta Komite Kebijakan Perkreditan & Komite Prosedur Perkreditan.

2. Kecukupan Kebijakan, Prosedur, dan

Penetapan Limit

Kebijakan dan prosedur Manajemen Risiko yang komprehensif disusun untuk mendukung implementasi Manajemen Risiko yang efektif. Kebijakan Manajemen Risiko di BNI antara lain terdiri dari:

a. Pedoman Penerapan Manajemen Risiko secara Umum

b. Pedoman Penerapan Manajemen Risiko untuk 8 (delapan) jenis Risiko

c. Pedoman Penilaian Profil Risiko d. Pedoman Sistem Pengendalian Intern Dalam implementasinya Kebijakan Manajemen Risiko dijabarkan dalam Standard Operating Procedure (SOP).

3. Kecukupan Proses Identifikasi,

Pengukuran, Pemantauan, dan

Pengendalian Risiko, serta Sistem

Informasi Manajemen Risiko

Implementasi proses manajemen risiko BNI

Identifikasi risiko dilakukan dengan menganalisis seluruh sumber risiko yang melekat pada produk, aktivitas, maupun portofolio bank. Pengukuran dilakukan secara kuantitatif dan/atau kualitatif sesuai metode pengukuran yang telah ditetapkan Regulator atau dengan metode alternatif (metode internal). Pengukuran risiko BNI juga dilengkapi dengan stress testing untuk risiko kredit, risiko pasar dan risiko likuiditas. Untuk pemantauan Risiko dilakukan baik oleh risk owner unit dan risk control unit, dan hasilnya disajikan dalam laporan berkala antara lain Laporan Portofolio Pinjaman, Laporan Pemantauan Risiko Pasar, Laporan

Operational Risk Self Assessment, Internal Risk Report, dan Laporan Profil Risiko.

Untuk mendukung pelaksanaan proses manajemen risiko secara tepat waktu dan akurat, BNI telah membangun beberapa aplikasi manajemen risiko, antara lain Internal Rating System, Scoring System, Periskop, Market Risk Management Tools, dll. Sistem database dan risk engine sebagai bagian dari proses manajemen risiko juga telah dibangun.

4. Sistem Pengendalian Intern

Sistem pengendalian intern dikembangkan dan diimplementasikan dengan menggunakan model

Three Lines of Defense yang terdiri atas:

a. First Line of Defense: Risk Owner/Taking Unit

b. Second Line of Defense: Risk Control Unit

c. Third Line of Defense: Risk Assurance Unit Risk Taking Unit sebagai risk owner melakukan pengelolaan risiko yang melekat di bisnis dan fungsinya dengan melakukan kontrol dan pengelolaan risiko secara day to day.

Pada second line of defense yang berperan sebagai Risk Control dilakukan oleh Divisi Manajemen Risiko Bank dan Divisi Tata Kelola Kebijakan yang bertanggung jawab kepada Direktur Risiko Perusahaan, serta Divisi Kepatuhan yang bertanggung jawab kepada Direktur Hukum & Kepatuhan.

Sebagai third line of defense atau Risk Assurance Unit, BNI memiliki Satuan Pengawasan Internal yang bertanggung jawab kepada Direktur Utama.

128

L T h BNI

Permodalan

Kebijakan dan strategi terkait permodalan BNI mencakup struktur dan komposisi permodalan sesuai dengan rencana strategis bank. Kecukupan Penyediaan Modal Minimum (KPMM) telah memperhitungkan 3 risiko utama yakni risiko kredit, pasar dan operasional serta kebijakan dan strategi penyediaan modal yang disesuaikan dengan kebijakan ekspansi dan tingkat risiko yang dihadapi.

Kebijakan dan strategi permodalan BNI dibagi menjadi:

1. BNI Secara Individual

Struktur permodalan BNI secara individu

didominasi oleh modal inti (94% dari total modal), terdiri dari modal disetor dan cadangan tambahan modal.

Realisasi modal BNI secara individu posisi Desember 2013 adalah Rp43,6 triliun, dengan rasio KPMM sebesar 15,1% telah memenuhi ketentuan minimal sesuai profil risiko. Untuk memastikan bahwa modal yang dimiliki telah memenuhi kecukupan modal untuk menyerap potensi risiko kredit, risiko pasar dan risiko operasional, BNI telah mengembangkan perhitungan kecukupan modal untuk ketiga risiko utama dimaksud, dengan mengacu kepada

ketentuan Bank Indonesia dan berkiblat pada Ketentuan Basel II.

Dalam rangka penetapan kecukupan modal untuk meng-cover risiko kredit, BNI telah menggunakan pendekatan standar (Standardized Approach Method) untuk perhitungan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) risiko kredit, serta menggunakan metode Internal Rating System

dalam proses pemberian kredit.

Dalam hal penetapan ATMR risiko pasar BNI juga menggunakan pendekatan standar, sedangkan untuk pengelolaan risiko internal bank untuk day to day activities serta penetapan limit risiko pasar digunakan pendekatan internal (Internal Model). Untuk perhitungan ATMR risiko operasional, BNI menggunakan pendekatan Indikator Dasar (Basic Indicator Approach). Namun demikian, pengembangan untuk perhitungan ATMR dengan pendekatan standar dan metode yang lebih

advance terus dilakukan.

Dengan memperhitungkan ATMR untuk ketiga risiko dimaksud dalam rasio KPMM, posisi permodalan BNI secara individu dikategorikan mampu mendukung pertumbuhan bisnis, dengan penjelasan sebagai berikut:

Manajemen Risiko

Rp miliar

Komponen Modal per 31 Desember 2013

Bank Konsolidasi

KOMPONEN MODAL

A Modal Inti 40.910 41.516

B Modal Pelengkap 2.653 3.394

C Faktor Pengurang Modal Inti dan Modal Pelengkap - -

D Modal Pelengkap Tambahan Yang Memenuhi Persyaratan (Tier 3) - -

E Modal Pelengkap Tambahan yang dialokasikan untuk mengantisipasi Risiko Pasar

- -

Total Modal Inti dan Modal Pelengkap (A+B+C) 43.563 44.910

Total Modal Inti, Modal Pelengkap, dan Modal Pelengkap Tambahan yang Dialokasikan untuk Mengantisipasi Risiko Pasar (A+B- C+D)

43.563 44.910

Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) untuk Risiko Kredit 251.142 259.723 Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) untuk Risiko Operasional 35.996 39.513 Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) untuk Risiko Pasar 1.479 1.705 Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum untuk Risiko Kredit,

Risiko Operasional dan Risiko Pasar {III:(IV+V+VI)}

Sosial Perusahaan

Kecukupan permodalan BNI selama 5 tahun mengacu pada regulasi mengenai KPMM minimum modal inti sebesar 6% (akan diimplementasikan di 2014) dapat digambarkan sebagai berikut:

10,10% 13,78% 16,63% 15,88% 15,17% 18,63% 17,63% 16,67% 15,09% 14,92% 2009 2010 2011 2012 2013 Modal Inti CAR/KPMM Min. KPMM Modal Inti: 6%

2. BNI Secara Konsolidasi

Struktur permodalan BNI secara konsolidasi juga didominasi oleh modal inti (92,4% dari total modal BNI secara konsolidasi), yang terdiri dari modal disetor dan cadangan tambahan modal. Tingkat permodalan BNI secara individu dan konsolidasi relatif sama, karena besarnya penyertaan modal BNI pada perusahaan anak relatif tidak material sehingga tidak berpengaruh secara signifikan terhadap permodalan BNI secara konsolidasi. Realisasi permodalan BNI secara konsolidasi posisi Desember 2013 sebesar Rp 44,9 triliun dan rasio KPMM BNI secara konsolidasi adalah 14,9%. Hal ini menunjukkan posisi permodalan BNI secara konsolidasi mampu mendukung pertumbuhan bisnis BNI beserta perusahaan anak saat ini maupun pada masa yang akan datang.

Sesuai ketentuan Bank Indonesia mengenai penerapan manajemen risiko secara konsolidasi bagi Bank yang melakukan pengendalian

terhadap perusahaan asuransi dikecualikan dalam perhitungan ATMR.

Pengungkapan kuantitatif struktur permodalan bank secara individu dan konsolidasi selengkapnya dalam tabel 1.a.

3. ICAAP dan Stress Testing

Beberapa komponen yang merupakan bagian dari proses Internal Capital Adequacy Assessment Process (ICAAP) telah dilakukan oleh BNI, antara lain:

a. Penetapan Risk Appetite yang selaras dengan sasaran dan strategi bisnis.

b. Menetapkan tingkat kecukupan modal

c. Stress testing secara periodik, untuk

pengelolaan risiko pasar sekali dalam 6 bulan, sedangkan untuk pengelolaan risiko kredit

stress testing dilakukan paling kurang sekali dalam setahun atau dalam kondisi terjadi perubahan ekonomi makro. Pendekatan skenario stress testing yang komprehensif dilakukan untuk menilai kecukupan modal sesuai tuntutan regulator dan kondisi makro ekonomi.

Proses tersebut telah dituangkan dalam satu dokumen ICAAP.

4. Antisipasi Basel III

Ketentuan mengenai permodalan sesuai Basel III telah diakomodir dalam PBI No. 15/12/PBI/2013 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimun Bank Umum. Mulai tahun 2016, selain kewajiban penyediaan modal minimum sesuai profil risiko, bank diwajibkan untuk membentuk tambahan modal sebagai penyangga (buffer), yang meliputi

Capital Conservation Buffer, Countercyclical Buffer dan Capital Surcharge untuk Domestic Systematically Important Bank (D-SIB).

Dalam ketentuan tersebut juga diatur mengenai diperhitungkannya potensi keuntungan/kerugian yang berasal dari peningkatan/penurunan nilai wajar aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual (Available For Sale/ AFS).

Untuk mengantisipasi pemenuhan KPMM, beberapa alternatif yang dapat dilakukan oleh bank antara lain corporate action untuk menambah modal, membatasi eksposur surat berharga AFS, memperbaiki peringkat profil risiko, dan memantau pertumbuhan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko

130

L T h BNI

Penerapan Manajemen Risiko BNI

Dalam dokumen Bank Negara Indonesia Tbk 2013 (Halaman 131-134)