• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII A. Tujuan Pembelajaran Umum

4. Emulsi Definisi

1. Emulsi adalah suatu dispersi dimana fase terdispersinya terdiri dari bulatan-bulatan kecil zat cair yang terdistribusi ke seluruh pembawa yang tidak bercampur. (Ansel, Howard. 2005. Halaman 376 )

2. Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan lainnya dalam bentuk tetesan kecil. (Anonim b. 1995. Halaman 6 )

88

3. Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok. (Anonim a. 1979. Halaman 9 )

4. Emulsi adalah sediaan yang mengandung dua zat cair yang tidak tercampur, biasanya air dan minyak, cairan yang satu terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain ( sistem dispersi, formulasi suspensi dan emulsi Halaman 56 )

Dari beberapa definisi yang tertera dapat disimpulkan bahwa emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan pembawa yang membentuk butiran-butiran kecil dan distabilkan dengan zat pengemulsi/surfaktan yang cocok.

Macam-macam emulsi : 1. Oral

Umumnya emulsi tipe o/w, karena rasa dan bau minyak yang tidak enak dapat tertutupi, minyak bila dalam jumlah kecil dan terbagi dalam tetesan-tetesan kecil lebih mudah dicerna.

2. Topikal

Umumnya emulsi tipe o/w atau w/o tergantung banyak faktor misalnya sifat zatnya atau jenis efek terapi yang dikehendaki. Sediaan yang penggunaannya di kulit dengan tujuan menghasilkan efek lokal.

3. Injeksi

Sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan secara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir.

Contoh : Vit. A diserap cepat melalui jaringan, bila diinjeksi dalam bentuk emulsi.

(Syamsuni, A. 2006) Tipe-tipe emulsi

a. Tipe emulsi o/w (Oil in Water) atau m/a (Minyak dalam Air) :

Emulsi yang terdiri atas butiran minyak yang tersebar atau terdispersi ke dalam air. Minyak sebagai fase internal, air sebagai fase eksternal.

89

b. Tipe emulsi w/o (Water in Oil ) atau a/m (Air dalam Minyak) :

Emulsi yang terdiri atas butiran air yang tersebar atau terdispersi ke dalam minyak.

Air sebagai fase internal, minyak sebagai fase eksternal. (Syamsuni, A. 2006)

Emulsi yang tidak memenuhi persyaratan a. Creaming

Terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan, yaitu bagian mengandung fase dispersi lebih banyak dari pada lapisan yang lain.

Creaming bersifat reversibel artinya jika dikocok perlahan akan terdispersi kembali.

b. Koalesensi dan cracking (breaking)

Pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butiran minyak berkoalesensi/menyatu menjadi fase tunggal yang memisah.

Emulsi ini bersifat irreversible. Hal ini terjadi karena :

a. Peristiwa kimia : penambahan alkohol, perubahan pH b. Peristiwa fisika : pemanasan, pendinginan, penyaringan c. Peristiwa biologi : fermentasi bakteri, jamur, ragi

c. Inversi fase

Peristiwa berubahnya tipe emulsi o/w menjadi w/o secara tiba-tiba atau sebaliknya sifatnya irreversible.

Komponen emulsi A. Komponen dasar

yaitu bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat di dalam emulsi, terdiri atas :

1. Fase dispersi :

zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil di dalam zat cair lainnya. 2. Fase pendispersi :

zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (bahan pendukung ) emulsi tersebut.

90 3. Emulgator :

bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi. Contoh emulgator :

Gom Arab : Cara Pembuatan air 1,5 kali bobot GOM

Tragacanth : Cara Pembuatan air 20 kali bobot tragacanth Agar-agar : Cara Pembuatan 1-2% agar-agar yang digunakan Condrus : Cara Pembuatan 1-2% condrus yang digunakan CMC-Na : Cara Pembuatan 1-2% cmc-na yang dihunakan Emulgator alam

Kuning telur

Cara Pembuatan emulsi dengan kuning telur dalam mortir luas dan digerus dnegan stemper kuat-kuat, setelah itu dimasukkan minyaknya sedikit demi sedikit, lalu diencerkan dengan air dan disaring dengan kasa.

Adeps lanae Emulgator mineral

Magnesium Aluminuin Silikat ( Veegum ) : Cara Pembuatan dipakai 1%

Bentonit

Cara Pembuatan 5% bentonit yang digunakan Emulgator buatan/sintesis

1. Tween

Ester dari sorbitan dengan asam lemak disamping mengandung ikatan eter dengan oksi etilen, berikut macam-macam jenis tween : a. Tween 20 : Polioksi etilen sorbitan monolaurat, cairan seperti

minyak.

b. Tween 40 : Polioksi etilen sorbitan monopalmitat, cairan seperti minyak.

c. Tween 60 : Polioksi etilen sorbitan monostearat, semi padat seperti minyak.

d. Tween 80 : Polioksi etilen sorbitan monooleat, cairan seperti minyak.

91 2. Span :

Ester dari sorbitan dengan asam lemak. Berikut jenis span : a. Span 20 : Sorbitan monobiurat, cairan

b. Span 40 : Sorbitan monopulmitat, padat seperti malam c. Span 60 : Sorbitan monooleat, cair seperti minyak

B. Komponen Tambahan

Yaitu bahan tambahan yang sering ditambahkan ke dalam emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Misalnya : pewarna, pengaroma, perasa, dan pengawet.

Metode Pembuatan Emulsi

1. Metode GOM kering 4:2:1

~ GOM dicampur minyak sampai homogen

~ Setelah homogen ditambahkan 2 bagian air, campur sampai homogen 2. Metode GOM basah

~ GOM dicampur dengan air sebagian

~ Ditambahkan minyak secara perlahan, sisa air ditambahkan lagi 3. Metode botol

~ GOM dimasukkan ke dalam botol + air, dikocok

~ Sedikit demi sedikit minyak ditambahkan sambil terus dikocok. (Ansel, Howard. 2005)

Stabilitas Emulsi

Jika didiamkan tidak membentuk agregat

Jika memisah antara minyak dan air jika dikocok akan membentuk emulsi lagi

Jika terbentuka gregat, jika dikocok akan homogen kembali.

Evaluasi Sediaan Emulsi 1. Organoleptis

Meliputi pewarnaan, bau, rasa dan dari seeiaan emulsi pada penyimpanan pada suhu endah 5oC dan tinggi 35oC pada penyimpanan masing-masing 12 jam.

92

2. Volume Terpindahkan (Anonim b. 1995. Halaman 1089)

Untuk penetapan volume terpindahkan, pilih tidak kurang dari 30 wadah, dan selanjutnya ikuti prosedur berikut untuk bentuk sediaan tersebut. Kocok isi dari 10 wadah satu persatu.

Prosedur:

Tuang isi perlahan-lahan dari tiap wadah ke dalam gelas ukur kering terpisah dengan kapasitas gelas ukur tidak lebih dari dua setengah kali volume yang diukur dan telah dikalibrasi, secara hati-hati untuk menghindarkan pembentukkan gelembung udaa pada waktu penuangan dan diamkan selama tidak lebih dari 30 menit.

Jika telah bebas dari gelembung udara, ukur volume dari tiap campuran: volume rata-rata larutan yang diperoleh dari 10 wadah tidak kurang dari 100 %, dan tidak satupun volume wadah yang kurang dari 95 % dari volume yang dinyatakan pada etiket. Jika A adalah volume rata-rata kurang dari 100 % dari yang tertera pada etiket akan tetapi tidak ada satu wadahpun volumenya kurang dari 95 % dari volume yang tertera pada etiket, atau B tidak lebih dari satu wadah volume kurang dari 95 %, tetapi tidak kurang dari 90 % dari volume yang tertera pada etiket, lakukan pengujian terdadap 20 wadah tambahan. Volume rata-rata larutan yang diperoleh dari 30 wadah tidak kurang dari 100 % dari volume yang tertera pada etiket, dan tidak lebih dari satu dari 30 wadah volume kurang dari 95 %, tetapi tidak kurang dari 90 % seperti yang tertera pada etiket.

3. Penentuan viskositas

Dilakukan terhadap emulsi, pengukuran viskositas dilakukan dengan viskometer brookfield pada 50 putaran permenit (Rpm).

4. Daya hantar listrik

Emulsi yang sudah dibuat dimasukkan dalam gelas piala kemudian dihubungkan dengan rangkaian arus listrik. Jika mampu menyala maka emulsi tipe minyak dalam air. Jika sistem tidak menghantarkan listrik maka emulsi tipe air dalam minyak.

5. Metode pengenceran

Emulsi yang sudah dibuat dimasukkan dalam gelas piala kemudian diencerkan dengan air. JIka dapat diencerkan maka emulsi tipe minyak dalam air dan sebaliknya.

93 6. Metode percobaan cincin

Jika satu tetes emulsi yang diuji diteteskan pada kertas saring maka emulsi minyak dalam air dalam waktu singkat membentuk cincin air disekeliling tetesan.

7. Metode warna

Beberapa tetes larutan bahan pewarna lain ( metilen ) dicampurkan ke dalam contoh emulsi.

Jika seluruh emulsi berwarna seragam maka emulsi yang diuji berjenis minyak dalam air, oleh karena air adalah fase luar. Sampel yang diuji bahan warna larut Sudan III dalam minyak pewarna homogen pada sampel berarti sampel tipe air dalam minyak karena pewarna pelarut lipoid mampu mewarnai fase luar.

D. Pertanyaan

- Jelaskan cara membedakan tipe emulsi o/w atau w/o !

- Jelaskan perbedaan suspense dengan tipe flokulasi dan deflokulasi ! - Sebutkan perbedaan yang mendasar antara larutan, suspense, sirup

kering dan emulsi ! E. Daftar Pustaka

- Anonim a. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia:Jakarta

- Anonim b. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia:Jakarta

- Handbook Of Pharmaceutical Exipient

- Syamsuni, A. 2006. Ilmu Resep. Penerbit Buku Kedokteran EGC:Jakarta.

- Anief, Moh. (2004). Ilmu Meracik Obat, Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

- Voigt, R. 1995. BukuPelajaran Teknologi Farmasi, Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

- Ansel, Howard. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi IV. Erlangga: Jakarta.

94

BAB XII A. Tujuan Pembelajaran Umum

Setelah mengikuti mata kuliah ini, mahasiswa akan dapat mengerti dan memahami bentuk sediaan farmasi semi-padat (semisolida).

B. Tujuan Pembelajaran Khusus

Setelah mengikuti mata kuliah ini mahasiswa diharapkan mampu memahami sediaan semipadat : - Salep - Krim - Gel C. Uraian Materi 1. Salep Definisi

Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obatnya harus larut atau terdispersi homogen dalam darsar salep yang cocok (F.I.ed.III). Salep adalah sedian setengan padat yang ditujukan untuk pemakaian topical kulit atau selaput lender salep tidak boleh berbau tengik kecuali dinyatakan lain, kadar bahan obat dalam salep mengandung obat keras narkotika adalah 10 % (FI IV).

Salep adalah gel dengan sifat deformasi plastis yang digunakan pada kulit atau selaput lendir. Sediaan ini dapat mengandung bahan obat tersuspensi, terlarut atau teremulasi. Menurut ansel Salep (unguents) adalah preparat setengah padat untuk pemakaian luar yang dimaksudkan untuk pemakaian pada mata dibuat khusus dan disebut salep mata. (R. VOIGT)

Salep dapat mengandung obat atau tidak mengandung obat, yang disebutkan terakhir bisanya dikatakan sebagai “dasar salep” (basis ointment) dan digunakan sebagai pembawa dalam penyimpan salep yang mengandung obat.

95

Dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok : Setiap salep obat menggunakan salah satu dasar salep tersebut.

a. Dasar salep hidrokarbon

Dasar salep ini dikenal sebagai dasar salep berlemak antar lain vaselin putih dan salep putiih. Hanya sejumlah kecil komponen berair dapat dicampurkan kedalamnya. Salep ini dimaksud untuk memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. Dasar salep hidrokarbon digunakan terutama sebagai emolien, dan sukar dicuci , tidak mengering dan tidak tmpak berubah dalam waktu lama. b. Dasar salep serap

Dasar salep serap ini dapat dibagi dalam 2 kelompok. Kelompok pertama terdiri atas dasar salep yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak (parafi hidrofilik dan lanolin anhidrat), dan kelompok ke 2 terdiri atas emulsi air dalam minyak yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan (lanolin). Dasar salep serap juga dapat bermanfaat sebagai emolien.

c. Dasar salep yang dapat dicuci dengan air

Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air antara lain salep hidrofilik dan lebih tepat disebut “krim” (lihat kremores). Dasar salep ini dinyatakan juga sebagai “dapat dicuci dengan air” karena mudah dicuci dikulit atau dilap basah, sehingga dapat diterima untuk dasar kosmetik.beberpa bahan obat dapat menjadi lebih efektif menggunakan dasar salep ini daripada dasar salep hidrokarbon. Keuntungan lain dari dasar salep ini adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan yang terjdi pada kelainan dermatologik.

d. Dasar salep larut dalam air

Kelompok ini disebut juga “dasar salep tak berlemak” dan terdiri dari konstituen larut air. Dasar salep jenis ini memberikan banyak keuntungan seperti dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan yang tak larut dalam air seperti parafin, lanolin anhidrat atau malam. Dasar salep ini lebih tepat disebut “gel”.

96 Macam – Macam Salep

Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. secara umum salep dapat dibedakan menjadi beberapa tipe yaitu:

1. Salep berlemak

Senyawa hidrokarbon dan malam juga diaggap termasuk lemak. Daya menyerap air dari basis adalah sebagai berikut:

100 bagian adeps lanae dapat menyerap air 200 bagian. 100 bagian lanolinum dapat menyerap air 120 bagian. 100 bagian vaselinum dapat menyerap air 10 bagian.

100 bagian vaselinum dengan 5% cera dapat menyerap air 40 bagian 100 bagian vaselinum dengan 5% adeps lanae dapat menyerap air 100 bagian.

100 bagian cetylicum dengan 5% adeps lanae dapat menyerap air 30 bagian.

2. Pasta berlemak

Pasta berlemak adalah suatu salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat (serbuk).sebagai bahan dasar salep digunakan vaselin, parafin cair. Bahan tidak berlemak seperti glycerinum, mucilago atau sabun dan digunakan sebagai antiseptik atau pelindung kulit.

3. Salep pendingin

Suatu salep yang mengadung tetes air yang relatif besar. Pada pemakaian pada kulit, tetes air akan menguap dan menyerap panas badan yang mengakibatkan rasa sejuk.

4. Krim (cremor)

Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kental mengandung tidak kurang dari 60% air, dimaksudkan untuk luar.

5. Mikstur gojog

Suatu bentuk suspensi dari zat padat dalam cairan, biasanya terdiri air, glycerinum dan alkohol. Mikstur gojog biasanya mengandung 60% cairan.wadah yang digunakan adalah botol mulut lebar, sebelum dipakai digojog dulu.sebagai pensuspensi digunakan bentonit.

97 6. Pasta kering

Suatu pasta bebas lemak mengandung + 60% zat padat (serbuk).Dalam pembuatan akan terjadi kesukaran bila dalam resep tertulis Ichthamolum atau Tumenol ammonium. Adanya zat tersebut akan menjadikan pasta menjadi encer.

7. Pasta pendingin

Merupakan campuran serbuk minyak lemak dan cairan berair, dikenal dengan Salep Tiga Dara.

Penggolongan Salep

Menurut konsistensinya salep dapat dibagi: 1. Unguenta

salep yang mempunyai konsistensi seperti mentega, tidak mencair pada suhu biasa, tetapi mudah dioleskan tanpa memakai tenaga

2. Cream (krim)

salep yang banyak mengandung air, mudah diserap kulit , suatu tipe yang dapat dicuci dengan air.

3. Pasta

salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat (serbuk), suatu salep tebal karena merupakan penutup atau pelindung bagian kulit yang diolesi.

4. Cerata:

salep berlemak yang mengandung persentase lilin (wax) yang tinggi sehingga konsistensinya lebih keras (ceratum labiale).

5. Gelones/ spumae/ jelly

salep yang lebih halus umumnya cair dan sedikit mengandung atau tanpa mukosa, sebagai pelicin atau basis, biasanya terdiri atas campuran sederhana dari minyakk dan lemak dengan titik lebur rendah.

Contohnya: starch jellieas (10% amilum dengan air mendidih).

Menurut sifat farmakologinya/terapeutik dan penetrasinya, salep dapat dibagi : 1. Salep epidermis (epidermic ointhment; salep penutup)

guna melindungi kuli dan menghasilkan efek lokal, tidak diabsorpsi, kadang-kadang ditambahkan antisseptik, astringensia untuk meredahkan rangsanagan

98

atau anestesi lokal. Dasar salep yang baik adalah dasar salep Senyawa hidrokarbon.

2. Salep endodermis

salep yang bahan obatnya menembus kedalam kulit, tetapi tidak melalui kulit, terabsorbsi sebagian, digunakan untuk melunakan kulit atau selaput lendir. Dasar salep yang baik adalah minyak lemak.

3. Salep diadermis

salep yang bahan obatnya menembus kedalam tubuh melalui kulit dan mencapai efek yang diinginkan, misalnya salep yang mengandung senyawa merkuri iodida, beladona.

Menurut dasar salep, salep dapat dibagi : 1. Salep hidrofobik

yaitu salep yang tidak suka air atau salep dengan dasar salep berlemak (greasy bases) tidak dapat dicuci dengan air

misalnya: campuran lemak-lemak, minyak lemak, malam. 2. Salep hidrofilik

yaitu salep yang suka air; biasanya dasar salep. Tipe M/A. Menurut formularium nasional (fornas)

1. Dasar salep 1 (dasar salep senyawa hidrokarbon) 2. Dasar salep 2 (dasar salep serap)

3. Dasar salep 3 (dasar salep yang dapat dicuci dengan air / dasar salep Emulsi M/A)

4. Dasar salep 4 (dasar salep yang dapat larut dalam air). Syarat Dan Kualitas Bahan Dasar Salep

1) Stabil,

selama masih dipakai mengobati. Maka salep harus bebas dari inkompatibilitas, stabil pada suhu kamar dan kelembaban yang ada dalam kamar.

99 2) Lunak,

Yaitu semua zat dalam keadaan halus dan seluruh produk menjadi lunak dan homogen. Sebab salep digunakan untuk kulit yang teriritasi,inflamasi dan ekskloriasi.

3) Mudah dipakai,

umumnya salep tipe emulsi adalah yang paling mudah dipakai dan dihilangkan dari kulit.

Dasar salep yang cocok yaitu dasar salep harus kompatibel secara fisika dan kimia dengan obat yang dikandungnya. Dasar salep tidak boleh merusak atau menghambat aksi terapi dari obat yang mampu melepas obatnya pada daerah yang diobati.

4) Terdistribusi merata,

obat harus terdistribusi merata melalui dasar salep padat atau cair pada pengobatan.

Peraturan dan Prosedur Pembuatan Salep Aturan umum ialah:

a) Zat yang dapat larut dalam dasar salep, dilarutkan bila perluh dengan pemanasan rendah.

b) Zat yang tidak cukup larut dalam dasar salep, lebi dahulu diserbuk dan diayak dengan derajat ayakan no.100.

c) Zat yang mudah larut dalam air dan stabil, serta dasar salep mampu mendukung atau menyerap air tersebut, dilarutkan dulu dalam air yang tersedia, setelah itu ditambahkan sebagian dasar saelep yang lain.

d) Bila dasar salep dibuat dengan peleburan, maka campuran tersebut harus diaduk sampai dingin.

Zat yang dapat dilarutkan dalam dasar salep

Umumnya kelarutan obat dalam minyak lemak lebih besar daripada dalam vaselin. Camphora, mentholum, phenolum,thymolum,dan guayacolum lebih mudah dilarutkan dengan cara digerus dalam mortir dengan minyak lemak.bila dasar saelp mengandung vaselin, maka zat-zat tersebut digerus halus dan tambahkan

100

sebagian(+ sama banyak) vaselin sampai homogen, baru ditambahkan sisa vaselin dan bagian dasar salep yaang lain.

Camphora dapat dihaluskan dengan tambahan spiritus fortior atau eter secukupnya sampai larut setelah itu ditambahkan ditambah dasar salep sedikit demi sedikit, diaduk sampai spiritus fortiornya menguap.(vanduin). Bila zat-zat tersebut bersama dalam salep, lebih mudah dicampur dan digerus dulu biar meleleh baru ditambahkan dasar salep sedikit demi sedikit.

a. Zat yang mudah larut dalam dasar salep

Bila masa salep mengandung air dan obatnya dapat dilarutkan dalm air yang tersedia maka obatnya dilarutkan dulu dalam air dan dicampurka dengan sebagian dasar salep yang dapat menyerap air, setelah seluruh obat dalam air terserap,baru ditambahkan bagian-bagian lain dasar salep, digerus dan diaduk hingga homogen.

Dasar salep yang tidak menyerap air antar lain ialah adeps lanae, unguentum simplex, hidrophilic ointment, dan dasar salep yang sudah mengandung air antara lain lanoline (25%), unguentum lanies(25%), unguentum cetylicum hidrosum,(40%).

b. Zat yang kurang larut atau tidak larut dalam dasar salep

Zat-zat ini diserbukkan dulu dengan derajat halus serbuk pengayak no.100.setelah itu serbuk dicampur baik-baik dengan sama massa berat salep,atau dengan salah satu bahan dasar salep, bila perluh bahan dasar salep tersebut dilelehkan dulu, setelah itu sisa bahan-bahan yang ditambahkan sedikit demi sedikit sambi digerusdan diaduk hingga homogen. Utuk mencegah pengkristalan pada waktu pendinginan,seperti cera flava, cera alba, cetylalcoholum dan paraffinum solidum tidak tersisa dari dasar salep yang cair atau yang lunak. Pembuatan salep dengan asam borat tidak diizinkan dengan pemanasan.

Salep yang dibuat dengan peleburan

Pembuatan dasar salep ini dibuat dalam cawan porselin sebagai pengaduk digunakan batang gelas atau stapel kayu. Masa yang melekat pada dinding cawan dan stapel atau batang gelas selalu dilepas dengan kertas film. Bahan

101

salep yang mengandung air tidak ikut dilelehkan tetapi diambil bagian lemaknya, sedang air ditambahkan setelah masa salep diaduk sampai dingin. Peraturan pembuatan salep menurut F. Van Duin.

1. Peraturan salep pertama

Zat-zat yang dapat larut dalam campuran lemak, dilarutkan kedalamnya, jika perlu dengan pemanasan.

2. Peraturan salep kedua

Bahan-bahan yang larut dalam air, jika tidak ada peraturan lain, dilarutkan lebih dahulu dalam air, asalkan jumlah air yang dipergunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep dan jumlah air yang dipakai, dikurangi dari basia salepnya.

3. Peraturan salep ketiga

Bahan-bahan yang sukar atau sebagian dapat larut dalam lemak dan air harus diserbukkan lebih dahulu, kemudiaan diayak dengan pengayak NO. 60.

4. Peraturan salep keempat

“Salep-salep yang dibuat dengan jalan mencairkan, campurannya harus digerus sampai dingin”bahan-bahan yang ikut dilebur, penimbangannya haris dilebihkan 10-20% untuk mencegah kekurangan bobotnya.

Persyaratan

Salep dapat mengandung bahan konservansia yang cocok. salep harus memiliki sifat yang homogen. pada saat dioleskan dengan tangan, tidak diperbolehkan terasa adanya bagian padat. Salep tidak boleh berbau tengik. Jika tidak dinyatakan lain, digunakan salep alkohol malam domba sebagai basis salap.

Evaluasi Sediaan Salep 1. Uji bahan aktif

Pengujian bahan aktif meliputi, uji bobot jenis, uji rotasi optic, uji indeks bias, uji titik lebur, dan uji titik didih.

102 2. Homogenitas

Jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen.

3. Daya serap air

Daya serap air, diukur sebagai bilangan air, yang digunakan untuk mengkarakterisasi basis absorpsi. Bilanagn air dirumuskan sebagai jumlah air maksimal (g), yang mampu diikat oleh 100 g basis bebas air pada suhu tertentu (umumnya 15-20°) secara terus menerus atau dalam jangka waktu terbatas (umumnya 24 jam), dimana air tersebut digabungkan secara manual. Evaluasi kuantitatif dari jumlah air yang diserap dilakukan melalui perbedaan bobot penimbangan (system mengandung air – sitem bebas air ) atau dengan penentuan kandungan air yang akan diuraikan nanti. Daya serap air akan berubah, jika larutan turut digabungkan didalamnya. Dapat menurunkan bilangan airnya.

4. Kandungan air

Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk menentukan kandungan air dari salep. Penentuan kehilangan akibat pengeringan. Kandungan air digunakan ukuran kehilangan masa maksimal (%) yang dihitung pada saat pengeringan disuhu tertentu (umumnya 100 - 110°C) cara tersebut merupaka metode konvensional. Cara ini tidak dapat

Dokumen terkait