• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII A. Tujuan Pembelajaran Umum

2. Suspensi Definisi

1. Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa (Anief, Moh. 2004. Halaman 149 )

2. Suspensiones (suspensi) adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bendtuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan

76

pembawa. Zat yang terdispersi harus halus dan tidak boleh cepat mengendap.

Kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang. (Anonim a. 1979. Halaman 32 )

3. Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel tidak larut dalam bentuk halus yang terdispersi ke dalam fase cair. (Syamsuni, A. 2006. Halaman 135 )

Dari beberapa definisi yang tertera dapat disimpulkan bahwa suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut yang terdispersi ke dalam fase cair serta kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang.

Macam-Macam Suspensi :

1. Suspensi oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam fase cair dengan penambahan bahan pengaroma.

2. Suspensi topikal adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam fase cair, di tunjukan untuk pemakian di permukaan kulit.

3. Suspensi tetes telinga sediaan cair yang mengandung partikel dalam bentuk halus yang terdispersi dalam fase cair yang di teteskan pada telinga.

4. Suspensi oftalmik sediaan cair yang mengandung partikel sangat halus yang terdispersi dalam cair pembawa untuk pemakaian pada mata.

5. Suspensi ijeksi adalah sediaan padat dan kering dengan bahan pembawa yang sesuai persyaratan suspensi steril.

(Syamsuni, A. 2006)

Syarat-syarat Suspensi

 Zat terdispersi harus halus dan tidak boleh mengendap  Jika dikocok harus segera terdispersi kembali

 Dapat mengandung zat dan bahan menjamin stabilitas suspensi

 Kekentalan suspensi tidak bolah terlalu tinggi agar mudah dikocok atau sedia dituang

77 Bahan Tambahan

A. Suspending Agent

Macam-macam suspending agent Golongan GOM, meliputi : a. Akasia ( Pulvis Gummi Arabic = PGA )

Larut dalam air, tidak larut dalam alkohol, bersifat asam. Viskositas optimum mucilagonya dalam pH 5-9. Akasia digunakan dengan kadar 35% yang kira-kira memiliki kekentalan sama dengan gliserin. Akasia ini mudah dirusak oleh bakteri. Oleh karena itu dalam penggunaannya perlu ditambahkan pengawet.

Cara pembuatannya yaitu dimasukkan PGA dalam mortir, digerus dan ditambahkan air 1,5 kalinya dan diaduk sampai homogen.

b. Chondrus (Karagen)

Larut dalam air, tidak larut dalam alkohol dan bersifat basa. Karagen merupakan derivat dari sakarida. Chondrus ini mudah dirusak oleh bakteri.

Oleh karena itu dalam penggunaannya perlu ditambahkan pengawet. Cara pembuatannya yaitu chondrus dimasukkan dalam mortir,

ditambahkan air dan diaduk sampai homogen. c. Tragacantha

Sangat lambat mengalami hidrasi sehingga untuk mempercepat hidrasi biasanya dilakukan pemanasan. Mucilago tragacanth lebih kental dibanding PGA. Musilago tragacanth hanya baik sebagai statbilisator suspensi, tetapi bukan sebagai emulgator. Kadar yang digunakan sebagai suspending agent yaitu 2%.

Cara pembuatannya yaitu Tragacanth 2% dimasukkan dimortir dan digerus, ditambahkan air 20 kali lebih banyak sampai diperoleh suatu masa yang homogen dan kemudian mengencerkannya dengan sisa air. d. Solutio Gummi Arabic

Cara pembuatannya Gummi Arabicum 10% dibuat dengan jalan membuat dahulu Mucilago Gummi Arabici dari gom yang tersedia dan kemudian mengencerkannya.

78 e. Benthonit

Digunakan sebagai suspending agent yaitu 0,5-5%. Benthonit berbentuk mineral, kristal, tidak berbau, pucat/krim keabu-abuan, bubuk halus dan partikel 50-150 mm.

f. Mucilago Saleb

Dugunakan sebagai suspending agent yaitu 1%. Cara pembuatannya yaitu dengan serbuk saleb 1% sebaiknya dengan serbuk yang telah dihilangkan petinya dengan pengayakan. Mula-mula botol ditara, dicuci dengan air mendidih masukkan air mendidih 20 kali sebanyak serbuk saleb. Kemudian dikocok hingga massa menempel pada dinding botol, sir 20 kali hanya perlu dikira-kira. Tambahakn sisa air didih dan kocok sampai diperoleh mucilago.

g. Solutio gummosa

Mengandung pulvis gummosus 2% dan dibuat dengan jalan menggerus dahulu pulvis gummosa dengan air 7 kali banyaknya sampai diperoleh suatu masa yang homogen dan mengencerkannya sedikit demi sedikit. h. Solutio Gummosa Tenuis

Mengandung pulvis gummosus 1% dan dibuat dengan jalan menggerus dahulu pulvis gummosa dengan air 7 kali banyaknya sampai diperoleh suatu masa yang homogen dan mengencerkannya sedikit demi sedikit. i. CMC-Na

Digunakan sebagai suspending agent yaitu 3-6%. B. Bahan Pengawet

a. Natrium Benzoat

Granul putih atau kristal, agak higroskopik, agak berbau benzoin, rasa manis dan asin yang kurang enak. Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol dan lebih mudah larut dalam etanol 90%.

Sebagai pengawet digunakan dalam dosis 0,02-0,5%. (Anonim b. 1995. Halaman 584 )

b. Propylis parabenum /Propil paraben /Nipasol

Serbuk putih atau hablur kecil, tidak berwarna. Sangat sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol dan dalam eter, sukar larut dalam air mendidih. Sebagai pengawet digunakan dalam dosis 0,05-0,25%.

79 c. Butyl paraben /Buthylis parabenum

Hablur halus tidak berwarna atau serbuk putih. Sangat sukar larut dalam air dan dalam gliserin, mudah larut dalam aseton, dalam etanol, dalam eter dan dalam propilen gilkol. Sebagai pengawet digunakan dalam dosis 0,1%.

(Anonim b. 1995. Halaman 158 ) d. Etil paraben/ Ethylis - paraben

Serbuk hablur putih kecil, tidak berwarna. Sukar larut dalam air dan dalam gliserin, mudah larut dalam aseton, dalam methanol, dalam eter dan dalam propilen gilkol.

C. Bahan Pewarna

a. Sunset yellow ( kuning ) b. Tartazin ( kuning ) c. Eritrosin ( merah ) d. Klorofil ( hijau ) e. Kurkumin ( kuning ) f. Antosianin ( orange/merah ) D. Bahan Pengaroma a. Oleum Citri

Nama lainnya yaitu minyak jeruk. Merupakan cairan kuning pucat/kuning kehijauan, bau khas, rasa pedas agak pahit. Larut dalam 12 volume ethanol 90% P, larutan agak beropalesensi, dapat bercampur dengan ethanol mutlak P. (Anonim a. 1979. Halaman 455 )

b. Oleum Annamomi

Nama lainnya yaitu minyak kayu manis. Merupakan suling segar berwarna kuning, bau dan rasa khas. JIka disimpan tidak menjadi coklat kemerahan. Dalam ethanol larutkan 1 ml dalam 8 ml ethanol 70% P, opalesensi yang terjadi tidak lebih kuat dari opalesensi larutan yang dibuat dengan menambahkan 0,5 ml perak nitrat 0,1 N ke dalam campuran 0,5 ml natrium klorida 0,02 N dan 50 ml air. (Anonim a. 1979. Halaman 454 )

80 c. Oleum Menthae

Nama lainnya yaitu minyak permen. Cairan tidak berwarna atau kuning pucat, bau khas kuat menusuk, rasa pedas diikuti rasa dingin jika udara dihirup melalui mulut. (Anonim b. 1995. Halaman 629 )

E. Bahan Pembawa Aqua Destilata

Cairan jernih, tidak berwarna, tidak punya rasa. Contoh resep :

R/ Ichtyol 3

Sulf. Praccip 5 Pulv. Gumm. Arab 3

Camph 1 Aq. Calc Aq. Dest. Aa ad 100 s. u. e Aqua Calcis Contoh resep : R/ Ichtyol 3 Sulf. Praccip 5 Pulv. Gumm. Arab 3

Camph 1 Aq. Calcis Aq. Dest. Aa ad 100 s. u. e Aqua Foeniculi Contoh resep : R/ Magnesii Subcarbon 3 Sir. Rhei 45 Aq. Feeniculli ad 100 St. dd. cp. Pc

81 F. Pelarut Pembawa

a. Benzal Chloridum

Gel kental/potongan seperti gelatin, putih atau putih kekuningan, biasanya berbau aromatik lemah, larutan dalam air berasa pahit, jika dikocok sangat berbbusa dan biasanya sedikit alkali. Sangat mudah larut dalam air dan dalam ethanol bentol anhidrat mudah larut dalam benzena dan agak sukar larut dalam eter.

(Anonim b. 1995. Halaman 130 ) b. Polietilen Glikol (PEG)

Bentuk cair umumnya jernih berkabut, cairan kental, tidak berwarna/praktis tidak berwarna, agak higroskopik, bau khas lemah. Dapat larut dengan air, aseton, ethanol 95% kloroform, etilen glikol monoetil eter, etil asetat dan toluena. Tidak larut dalam eter dan dalam heksana. (Anonim b. 1995. Halaman 400 )

c. Glycerin

Cairan jernih seperti sirup, tidak berwarna, rasa manis, hanya boleh berbau khas lemah (tajam atau tidak enak), higroskopik, netral terhadap lakmus. Dapat bercampur dengan air dan etanol, tidak larut dalam kloroform, dalam eter, dalam minyak lemah dan dalam menguap. (Anonim b. 1995. Halaman 43 )

d. Propilen Glikol

Cairan kental, jernih, tidak berwarna, rasa khas, praktis tidak berbau, menyerap air pada udara lembab. Tidak bercampur dengan reagen pengoksidasi seperti kalium permanganate. Kadar 0%,15% dan 3%. (Anonim b. 1995. Halaman 712 )

e. Docusate Sodium

Putih, seperti lilin, rasa pahit, higroskoipis, plastik padat dengan karakteristik seperti bau alcohol. Kadar pengunaanya 0,01-1%. (Handbook Pharmaceutical Exipient Halaman 106 )

f. Poloxamer

82 Cara Pembuatan Suspensi

1. Metode Dispersi

Metode ini dilakukan dengan cara menambahkan serbuk bahan obat kedalam musilago yang telah terbentuk, kemudian baru di encerkan.

2. Metode Prestipitasi,

Metode ini dilakukan dengan cara zat yang hendak didispersikan di larutkan terlebih dulu kedalam pelarut organik yang hendak di campur dengan air. (Syamsuni, A. 2006)

Sistem Pembentukan Suspensi 1. Sistem defukolasi,

Partikel defukolasi mengendap perlahan akhirnya membentuk sedimen, akan terjadi agregasi, dan akhirnya terbentuk cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali.

2. Sistem flokulasi,

Partikel flokulasi terikat lemah, cepat mengendap dan pada penyimpanan tidak terjadi cake dan mudah tersuspensi kembali.

(Syamsuni, A. 2006) Evaluasi Suspensi : 1. Organoleptis

Digunakan untuk mengetahui karakteristik sediaan sus[ensi meliputi bau, warna, rasa, bentuk.

Cara pengujian :

Bentuk Warna Rasa* Bau Sediaan

NB: * Tidak untuk sediaan topikal 2. Homogenitas

Digunakan untuk mengetahui tingkat tercampurnya sediaan suspensi topikal secara merata ( menjadi satu ).

83 3. Uji daya sebar

Digunakan untuk mengetahui kemampuan menyebarnya suspensi topikal pada kulit.

Cara pengujian :

o Diambil sampel, letakkan sampel dipusat lempeng gelas. o Di atas lempeng gelas diberi beban 50 gram, amati. 4. Evaluasi laju sedimentasi

Digunakan untuk mengetahui kecepatan pengendapan dari partikel-partikel suspensi

Kecepatan sedimentasi berdasarkan hukum stokes dipengaruhi :

- Kerapatan fase terdispersi dan kerapatan fase pendispersi partikel ringan. Kerapatan pembawa mengambang menjadi sulit didistribusikan. - Diameter ukuran partikel semakin kecil ukuran maka kecepatan

jatuhnya lebih kecil.

- Viskositas medium pendispersi yaitu laju sedimentasi dapat berkurang dengan cara menaikkan viskositas medium dispersi.

5. Evaluasi volume terpindaahkan (Anonim b. 1995. Halaman 1089)

Untuk penetapan volume terpindahkan, pilih tidak kurang dari 30 wadah, dan selanjutnya ikuti prosedur berikut untuk bentuk sediaan tersebut. Kocok isi dari 10 wadah satu persatu.

Prosedur:

Tuang isi perlahan-lahan dari tiap wadah ke dalam gelas ukur kering terpisah dengan kapasitas gelas ukur tidak lebih dari dua setengah kali volume yang diukur dan telah dikalibrasi, secara hati-hati untuk menghindarkan pembentukkan gelembung udaa pada waktu penuangan dan diamkan selama tidak lebih dari 30 menit.

Jika telah bebas dari gelembung udara, ukur volume dari tiap campuran: volume rata-rata larutan yang diperoleh dari 10 wadah tidak kurang dari 100 %, dan tidak satupun volume wadah yang kurang dari 95 % dari volume yang dinyatakan pada etiket. Jika A adalah volume rata-rata kurang dari 100 % dari yang tertera pada etiket akan tetapi tidak ada satu wadahpun volumenya kurang dari 95 % dari volume yang tertera pada etiket, atau B tidak lebih dari satu wadah volume kurang dari 95 %, tetapi tidak kurang dari 90 % dari volume yang tertera pada etiket, lakukan

84

pengujian terdadap 20 wadah tambahan. Volume rata-rata larutan yang diperoleh dari 30 wadah tidak kurang dari 100 % dari volume yang tertera pada etiket, dan tidak lebih dari satu dari 30 wadah volume kurang dari 95 %, tetapi tidak kurang dari 90 % seperti yang tertera pada etiket.

6. Evaluasi volume sedimentasi

Digunakan untuk perbandingan dari volume endapan yang terjadi terhadap volume awal ari suspensi sebelum mengendap setelah suspensi didiamkan. (Anief,1993:31 )

Cara pengujian :

 Sediaan dimasukkan ke dalam tabung sedimen yang berkala  Volume yang diisikan merupakan volume awal.

 Setelah didiamkan beberapa waktu diamati volume akhir dengan terjadinya sedimentasi volume akhir terhadap volume yang diukur.

 Dihitung volume sedimentasi. 7. Evaluasi waktu redispersi

Digunakan untuk mencampurnya zat aktif dengan pelarut. Cara pengujian :

 Kocok sediaan

 Suspensi didiamkan hingga mengendap  Dikocok sampai homogen

 Dicatat waktunya. Waktu redispersi baik bila suspensi telah terdispersi sempurna dengan pengocokan dalam waktu maksiamal 30 detik.

85

Gambar 26. Perbedaan larutan, Suspensi dan Emulsi

Dokumen terkait