PENDIDIKAN DAN PEMBANGUNAN
B. ESENSI PENDIDIKAN NASIONAL
Pendidikan seutuhnya merupakan hal yang sangat vital. Ter-lebih bagi pembentukan karakter sebuah peradaban yang selalu mengiringnya. Tanpa adanya pendidikan, sebuah bangsa atau ma-syarakat tentu tidak akan pernah mendapatkan sebuah kema-juannya. Karena itu, suatu peradaban yang memberdayakan dari sebuah pola pendidikan dalam skala luas akan menghasilkan pen-didikan tepat guna dan efektif serta mampu menjawab tantangan zaman. Namun, melihat fenomena dalam pendidikan nasional kita, ternyata pendidikan yang tepat guna itu tidak berjalan dan bahkan
mungkin ada yang salah dalam menerapkannya.
Diantaranya, dengan banyaknya peristiwa kekerasan yang terjadi di negeri ini. Kebanyakan dari kita justru tidak peduli atau tidak mau tahu sedikit pun dengan kejadian-kejadian tersebut. Padahal jelas sekali bahwa peristiwa tersebut adalah sangat meri-saukan, baik pada tingkat kehidupan pribadi maupun kehidupan bernegara. Banyak contoh kekerasan yang mengatasnamakan agama atau ideologi tertentu yang berujung pada penyerangan, perusakan, pembakaran, penangkapan hingga intimidasi terhadap seseorang atau kelompok-kelompok tertentu.
Kejadian ini menjadi semakin meresahkan, ketika aparat keamanan yang mestinya menjaga ketertiban, justru membiarkan dan bahkan terkesan memberikan dukungan terhadap berbagai tindakan destruktif tersebut. Hal lain yang membuat miris hati kita adalah, peristiwa kekerasan seperti diatas cenderung semakin meningkat. Termasuk dalam praktik dunia pendidikan kita. Sea-kan menegasSea-kan bahwa pendidiSea-kan selama ini tidak ubahnya se-bagai pabrik intelektual an sich, namun dangkal dan kering akan perikemanusiaannya.
Mengidentifikasikan bahwa dunia pendidikan kita telah men-galami pergeseran dari nilai-nilai luhurnya. Digantikannya dengan produk-produk egoisme diri dan kebinatangan yang semakin se-rakah, tidak adil dan hampa akan nilai-nilai filosofis. Aksentua-sinya terletak pada pembentukan wawasan para intelektual yang hanya terjebak pada nilai-nilai kehidupan yang kering akan mora-litas dan etika dalam kehidupan bermasyarakat. Padahal tujuan pendidikan sebenarnya adalah melahirkan individu-individu yang merdeka, matang, bertanggungjawab dan peka terhadap permasa-lah sosial di lingkungan sekitarnya.
Buku “Pendidikan Multikultural (Konsep dan Aplikasi)” kar-ya Ngainum Naim dan Achmad Sauqi ini membahas dasar-dasar pendidikan pluralis-multikultural beserta segala aspek teori dan
kerangka operasionalnya. Dengan ulasan dan bahasan yang cukup sistematis dan kritis baik dalam ranah konsep maupun praktis atau aplikasinya, menjadikan buku ini berhasil menampilkan esensi (ruh) pendidikan sejati. Harapan yang ingin diwujudkan adalah sebuah kehidupan yang harmoni, damai, selaras dan ber-peradaban dengan selalu mengedepankan semangat saling kerja-sama dan gotong-royong.
Mengingat kecenderungan kehidupan kita dewasa ini yang kian tampak sangat ekslusif dan individualistis. Hanya selalu me-mentingkan diri atau kelompoknya sendiri tanpa memandang diri atau kelompok lain yang juga membutuhkan kehidupan berdasar-kan ideologi dan keyakinannya masing-masing dalam menjalani kehidupan ini. Sebuah hal yang ironi tentunya, karena hal itu bu-kan mustahil lagi abu-kan melahirbu-kan banyaknya penderitaan, per-musuhan dan persaingan yang tidak sehat yang dapat mengarah kepada destruktivisme dan barbaritas. Baik dalam diri individu maupun kelompok atas nama berbagai dimensi kepetingan kehi-dupan.
Dengan menerapkan pendidikan multikultural sejatinya tidak lain adalah mengidealkan sebuah dunia yang penuh penghargaan akan hak-hak sesama manusia, termasuk dalam praktik dunia pendidikan kita. Dapat menerima segala perbedaan sebagai hal yang alamiah dan wajar. Bukan malah menjadikan alasan akan terjadinya tindakan-tindakan yang beraroma diskriminatif. Se-buah pola perilaku dan sikap hidup yang cenderung dikuasai oleh rasa iri hati, dengki dan buruk sangka.Untuk itulah, dengan mere-nungi setiap jejak langkah kehidupan tentu kita tetap bisa menga-rungi hakikat dunia pendidikan sejati. Bertindak seperti nilai-nilai pendidikan yang telah diajarkan selama ini dari akar budaya lele-hur bangsa ini. Bukan malah mengubah landasan filosofis pendidi-kan dengan nilai-nilai pragmatis dalam kehidupan nyata dan ham-pa belaka. Intinya adalah suatu pendidikan haruslah diarahkan
pada tujuan mulia, yakni menjadikan manusia yang cerdas, kreatif dan humanis.
Ruh pendidikan yang memang seharusnya tidak hanya men-gedepankan nilai-nilai humanis dan beradab namun juga mampu membaca kondisi riil masyarakat di dunia global saat ini serta berwawasan masa depan. Dengan kata lain, masa depan bangsa ini tergantung kepada kondisi pendidikan hari ini. Karena itu, paling tidak bangsa ini lebih berhasil memanusiakan insan pendidikan secara manusiawi dan juga berintelektual tinggi serta selalu bersi-kap demokratis, pluralis dan humanis secara simultan. Sebuah mimpi yang tentu tidak sekedar menjadi utopia belaka, namun dapat diwujudkan dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan ke-mampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar men-jadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Ma-ha Esa, berakhlak mulia, seMa-hat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungja-wab (UU RI No 20/2003).
Pembangunan pendidikan adalah proses perombakan struk-tural subsistem administratif yang berkenaan dengan pengelolaan pendidikan dan subsistem rasional yang berkenaan dengan penge-lolaan pendidikan dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar se-tiap satuan pendidikan agar tercapai tingkat partisipasi, efisiensi, efektivitas, dan relevansi pendidikan yang tinggi.
Pola dasar masalah pembangunan pendidikan nasional ada-lah sebagai berikut:
1. Masalah partisipasi pendidikan
Masalah ini berkaitan dengan rasio atau perbandingan antara masukan pendidikan atau jumlah penduduk yang tertampung dalam satuan-satuan pendidikan, baik di sekolah maupun di
luar sekolah, dengan jumlah penduduk yang secara potensial sudah siap memasuki satuan-satuan pendidikan. Masalah ini sekurang-kurangnya berkaitan dengan:
a. Kondisi sosial ekonomi keluarga
b. Kondisi fisik dan mental calon peserta didik
c. Kondisi tempat pendidikan yang tersedia) Tingkat aspirasi masyarakat tentang peranan dan pentingnya peranan pen-didikan bagi hidup
d. Daerah jangkauan satuan pendidikan 2. Masalah efisiensi pendidikan
Masalah ini berkenaan dengan proses pengubahan atau trans-formasi masukan produk (input) menjadi produk (out-put), cara menentukan mutu transormasi pendidikan adalah meng-hitung besar kecilnya penghamburan pendidikan atau educa-tional wastage, dalam arti menghitung besar kecilnya jumlah murid/siswa/mahasiswa/warga belajar yang:
a. Putus sekolah; meninggalkan sekolah sebelum menyelesai-kan keseluruhan masa belajar yang telah ditetapmenyelesai-kan oleh sekolah yang bersangkutan
b. Pengulang; mengulangi waktu belajar yang sama karena tidak naik kelas atau tingkatan
Masalah transformasi pendidikan berkenaan dengan masalah mutu:
a. tenaga kependidikan b. peserta didik
c. kurikulum atau program belajar mengajar d. sarana dan prasarana pendidikan
e. suasana sosial budaya yang tersedia dalam lingkungan pekerjaan
3. Masalah efektivitas pendidikan
Masalah ini berkenaan dengan rasio atnara hasil pendidikan (output) dengan tujuan pendidikan yaitu:
a. Kesesuaian jumlah kenyataan tamatan yang dapat dihasil-kan dengan jumlah tamatan yang diharapdihasil-kan dalam setiap satuan pendidikan.
b. Kesesuaian mutu tamatan yang dapat dihasilkan dengan mutu tamatan yang diharapkan dalam menguasai kemam-puan kognitif, afektif, dan psikomotorik.
4. Masalah relevansi pendidikan
Masalah relevansi pendidikan adalah masalah kesesuaian tamatan yang dihasilkan pendidikan dengan kebutuhan ma-syarakat, baik sebagai tenaga kerjamaupun sebagai pribadi dan anggota masyarakat pada umumnya. Masalah ini sedikit ba-nyak berkenaan dengan:
a. Ketersediaan lapangan kerja dalam masyarakat
b. Perkembangan dan perubahan yang cepat dalam jenis dan tugas-tugas pekerjaan
c. Aspirasi dan tuntutan masyarakat yang terus meningkat dalam upaya mencapai mutu kehidupan
d. Mutu dan perolehan tamatan yang dihasilkan sekolah yang secara faktual tidak dapat memenuhi harapan dan kebu-tuhan dunia kerja.
5. Karakteristik
a. Pembangunan pendidikan adalah pembangunan manusia seutuhnya.
b. Pembangunan pendidikan berpusat pada pembangunan operasional dalam bentuk kegiatan belajar mengajar, yang ditunjang oleh pembangunan informasi pengelolaan pendi-dikan di tingkat pusat, wilayah dan sekolah yang memban-gun.
Komponen pendidikan antara lain berupa pembangunan:
Peraturan perundang–undangan kependidikan
Kurikulum pendidikan untuk semua jenis satuan pendidi-kan
Sarana dan prasarana pendidikan
Teknologi pendidikan
Dana pendidikan
Tenaga kependidikan
c. Pembangunan pendidikan adalah pembangunan pelayanan umum yang profesional, atau yang terdapat dan menye-nangkan dalam hal pengembangan keseluruhan kemam-puan secara optimal dan bermanfaat bagi hidup.
d. Pembangunan pendidikan merupakan pembangunan yang memerlukan waktu yang panjang berkesinambungan, pal-ing tidak satu generasi untuk dapat melihat hasil–hasil seca-ra utuh.
e. Pembangunan pendidikan menghasilkan orang–orang yang terdidik yang biasanya disebut mencapai kedewasaan.
Tanda kedewasaan:
1) Kedewasaan fisik yaitu orang yang mempunyai bentuk tubuh dalam proporsi yang relatif mantap dan setiap or-gannya telah siap menjalankan fungsi–fungsi secara normal
2) Kedewasaan intelektual yaitu orang yang berpikir secara obyektif, logis dan reflektif dalam memecahkan masalah 3) Kedewasaan sosial yaitu orang yang mampu
berpartisi-pasi dalam kehidupan bersama dan konstruktif.
4) Kedewasaan emosional yaitu orang yang mampu me-ngendalikan emosional dan menyatakan dalam bentuk yang beradab serta dapat menghargai orang lain.
5) Kedewasaan kerja yaitu orang yang berkemampuan un-tuk dapat menampilkan amal dan karya terbaik.
6) Pembangunan pendidikan memberikan hasil–hasil pen-didikan yang berupa orang-orang terdidik, yang diha-rapkan bermanfaat bagi pembangunan nasional.
Fungsi dan Peranan Hasil Pendidikan:
a. Fungsi pendidikan umumnya
1) Konversi atau pewarisan peradaban masa lampau
a) Pendidikan mewariskan peradaban masa lampau, kare-na melalui orang–orang yang terdidik, kehidupan masa lampau dipertahankan, sehingga peradaban masa lam-pau tidak disia-siakan atau digunakan. Orang-orang ter-didik menjadi bayangkara, penghubung, penangkap dan penyimpan sementara kekayaan peradaban masa lam-pau.
b) Pendidikan sebagai usaha sadar, membantu generasi muda mempergunakan kekayaan yang ada dalam pera-daban lama dalam bentuk ilmu, seni, dan cita–cita se-bagai isi bahan ajar yang disampaikan. Generasi muda berfungsi sebagai penyimpan khasanah peradaban lama, penggunaa peradaban lama dengan cara mengekspresi-kannya dalam bentuk perbuatan atau karya budaya. 2) Preservasi atau pemelihara peradaban masa lampau
Pendidikan melindungi masyarakat dengan cara menyum-bangkan kemampuan mengendalikan diri pada orang-orang yang menjadi anggota dan mengikat kesadaran me-reka de-ngan lembaga-lembaga sosial, hukum dan tata tertib. Orang terdidik adalah orang yang menghubungkan kesadaran diri terhadap nilai-nilai hidup, mencoba menggunakan dan menghidupkan kembali kebijakan-kebijakan lama.
3) Pengembangan peradaban masa mendatang
Orang terdidik secara potensial bukan hanya dapat meng-ekspresikan peradaban yang ada, tetapi juga menciptakan unsur-unsur yang baru, ilmu, tetapi juga menciptakan un-sur-unsur yang baru, ilmu dan teknologi merupakan salah satu ciri peradaban yang mempunyai pengaruh sangat besar dalam membentuk pola kehidupan manusia modern.
b. Peranan pendidikan dalam pembangunan 1) Menghubungkan teknologi baru
Hasil pendidikan adalah orang terdidik yang mempunyai kemampuan melaksanakan penelitian dan pengembangan yang dapat menghasilkan teknologi baru.
2) Menjadi tenaga produktif dalam bidang konstruktif
Orang terdidik juga masuk dan aktif bekerja di bidang kon-struksi yang menghasilkan rancang bangun.
3) Menjadi tenaga produktif yang menghasilkan barang dan ja-sa
Orang terdidik memberi masukan dalam pabrik dan peru-sahaan dalam proses produksi barang–barang kebutuhan hidup dan jasa.
4) Pelaku generasi dan penciptaan budaya
Orang terdidik dapat melakukan perbaikan–perbaikan dan penciptaan–penciptaan unsur–unsur budaya baru berda-sarkan budaya lama yang telah dimiliki.
5) Konsumen barang dan jasa
Orang terdidik merupakan generasi baru yang mengkon-sumsi barang–barang dan jasa yang dihasilkan oleh pabrik– pabrik dan perusahaan–perusahaan.
c. Peranan Manusia dalam Pembangunan
1) Manusia sebagai produsen, yaitu orang-orang yang secara langsung atau tidak menggerakkan proses produksi dalam pabrik-pabrik, perusahaan, lembaga-lembaga sosial budaya yang bersifat keagamaan, keilmuan, pendidikan, kesenian sebagai produsen, mereka berperan sebagai:
a) Pencipta rancang bangun atau gagasan-gagasan, baik yang bersifat cita-cita maupun teknologi baru. Dengan demikian mereka berperan sebagai:
Peneliti gagasan-gagasan dan teknologi baru.
b) Pengelola operasi-operasi yang terjadi di pabrik-pabrik, perusahaan-perusahaan,lembaga sosial budaya, mereka berperan sebagai:
Tenaga kerja teknis administratif yang menjunjung peleksana operasi di pabrik-pabrik, perusahaan-pe-rusahaan, lembaga sosial dan sebagainya.
Tenaga kerja teknis operasional yang memproduksi barang-barang atau jasa-jasa di hasilkan di pabrik-pabrik, perusahaan-perusahaan, lembaga sosial dan sebagainya.
2) Manusia sebagai konsumen
Manusia dalam pembangunan dapat pula berperan sebagai konsumen dari hasil-hasil pembangunan. Mereka berperan sebagai:
a) Pengguna atau hasil-hasil pembangunan. b) Penilai mutu hasil pembangunan.
Dengan demikian pendidikan dan pembangunan merupakan proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi kematangan dan interaksi dangan lingkungannya. Dengan kata lain perkembangan merupakan perubahan fungsional yang dipengaruhi oleh pencapaian tingkat kematangan fisik. Penddikan dan pembangunan keseluruhan mengikuti yang teratur, yang dari masa pra-natal, masa bayi, masa anak sekolah, dewasa dan masa tua. Penahapan pendidikan dan pembangunan ini mengikuti tahap pendidikan dan pembangunan kemampuan fungsi fisik. Dengan adanya perubahan ataupun pendidikan dan pembangunan yang dialami seseorang, maka seseorang itu akan lebih baik dari yang sebelumnya.
Proses pembangunan nasional dan pendidikan nasional me-rupakan proses simbiotik yaitu hubungan yang saling menunjang di antara keduanya. Artinya, seseorang selalu berkaitan dengan proses belajar. Proses belajar itu sangat menentukan kemampuan
siswa dalam bersikap dan berperilaku sosial yang selaras dengan norma, moral yang berlaku dalam kehidupan masyarakat, yang pada gilirannya mengindikasikan suksesnya pembangunan manu-sia seutuhnya.