SOSOK MANUSIA SEUTUHNYA
C. HAKIKAT MANUSIA DALAM PENDIDIKAN TRANSFORMA- TRANSFORMA-TIF
Manusia di abad manapun adalah struktur kehidupan yang dinamis dan kreatif melahirkan gagasan-gagasan dalam berbagai sektor kehidupan. Daya berfikir dan daya cipta makin berkem-bang untuk memformulasikan makna kehidupan dalam konteks yang nyata, yang mengakibatkan pergeseran tata nilai yang tiap saat berlangsung walaupun secara lamban, namun pasti.
Manusia telah ditinjau dengan cara yang berbeda oleh ber-macam aliran pemikiran berdasarkan titik berat yang diletakkan pada aspek alami dan kegiatan manusia. Menurut satu aliran, manusia hanyalah hewan ditengah kelompok hewan. Sementara bagi aliran lainnya, manusia adalah makhluk lebih dari sekedar hewan. Kemudian fungsinya telah di titik beratkan dengan cara yang bermacam-macam mulai dari sebagai hewan/makhluk so-sial, ekonomi, spiritual, yang dapat didik dan lain-lain.
Secara universal, atribut inti dari makhluk manusia adalah
Kepribadian. Yang mencakup pemilikan kesadaran diri,
kehen-dak dan intelek-kreatif. Dia lain daripada yang lain ditengah-te-ngah ciptaan yang hidup di bumi. Bahkan superioritasnya diakui oleh ciptaan-ciptaan suci penghuni surga seperti malaikat (QS. 2: 34). Dia berdiri dengan hubungan khusus di depan Allah dalam arti mempunyai kepribadian. Statusnya ditengah-tengah semua ciptaan Allah adalah Wakilnya (QS. 2: 30). Dia dibebani tanggung jawab yang tidak mampu dipikul oleh langit, bumi dan gunung-gunung (QS. 33: 72). Dia memiliki Allah dan hanya kepadaNya dia kembali (QS. 2: 156). Allahlah tempat nasib terakhir manusia (QS. 53: 13). Dengan demikian dia merupakan makhluk theosentris yang diturunkan kedua dalam rangka kegiatan terbatas (ruang dan waktu). Dan situasi wakil Allah berarti bahwa dia harus ber-fungsi sebagai makhluk yang terpadu, lengkap, selaras dan kreatif dalam semua dimensi kepribadiannya, baik secara spiritual, moral, intelektual dan etetika.
Menurut pandangan ilmu Psikolgi, pandangan manusia ter-hadap dirinya sangat mempengaruhi pendidikan. Kesalahpaham-an mKesalahpaham-anusia menempati bumi bisa jadi karena mKesalahpaham-anusia mengKesalahpaham-ang- mengang-gap dirinya sebagai wujud terhebat dan terbesar dialam semesta dengan bersikap egoisme, kecongkakan dan kesombongan serta sikap manusia yang paling congkak adalah ketika mengangkat dirinya dengan tujuan kekuasaan, kegagahan, kehebatan,
kezha-liman, keburukan dan ketiranian. Manusia adalah makhluk yang dapat didik. Dengan pendidikan manusia dengan sendirinya akan menemukan kesadaran untuk menjadi makhluk yang berbudaya. Paulo Freire menegaskan dalam konsep pendidikan itu sebagai alat perlawanan. Karena itu pendidikan bertujuan untuk mema-nusiakan manusia. Peranan pendidikan dalam mencerdaskan ke-hidupan manusia sangat signifikan, hal ini ditandai dengan ter-bebasnya manusia dari belenggu kebodohan.
Untuk membebaskan manusia dari kebodohan, keterping-giran dan keterbelakangan diperlukan upaya untuk menyadar-kan diri manusia. Penyadaran ini dimaksudkan untuk menyadar-kan manusia agar dapat mengenali lingkungan dan juga paham akan diri sendiri. Freire mengelompokkan tipologi kesadaran manusia menjadi empat bagian, yaitu 1) Kesadaran Magis (Magic Cons-ciousness), 2) Kesadaran Naif (Naival Consciousness), 3) Ke-sadaran Kritis (Critical Consciousness) dan 4) Kesadaran trans-formasi(Transformation Consciousness)(Freire, 1984). Kesadar-an trKesadar-ansformatif merupakKesadar-an kesadarKesadar-an yKesadar-ang paling tinggi dari tiga lainnya.
Apabila kesadaran magis bercirikan ketika manusia tidak mampu memahami realitas dan dirinya sendiri dan berkata, ” hi-dup adalah takdir“, bila memahami realitas kehidupan. Semen-tara, kesadaran naif apabila manusia baru sebatas memahamitapi tidak bisa menganalisis persoalan apalagi penyebabnya. Berada pada kesadaran naif belum dapat mengajukan solusi terhadap problem sosial di masyarakat. Maka kesadaran kritis lebih baik dari dua kesadaran diatas, karena kesadaran kritis memiliki ka-rakterdapat menganalisis tapi juga dapat memberikan solusi yang bersifat praktis. Lalu, kesadaran transformatif merupakan kesa-daran paripurna, karena kesakesa-daran transformatif adalah induk dari kesadaran(Master of Consciousness). Manusia dengan kesa-daran transformatif menyebabkanmanusia menjadi praktis ketika
memecahkan persoalan.Antara teoritis yang berupa ide, melaku-kan apa yang menjadi idenya dan memiliki semangat progrestif berada dalam keadaan setimbang.
Beberapa hal yang terkait dengan Hakekat manusia dalam psikologi pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerak-kan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. 2. Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab
atas tingkah laku intelektual dan sosial.
3. Mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.
4. Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya. 5. Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya
da-lam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati. 6. Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya
meru-pakanketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas. Makh-luk Tuhan yang berarti ia adalah makhMakh-luk yang mengan-dung kemungkinan baik dan jahat.
7. Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai de-ngan martabat kemanusaannya tanpa hidup di dalam lingkung-an sosial.
Hakekat manusia Indonesia seutuhnya, meliputi kajian di-mensi keindividuan, kesosialan, kesusilaan, dan keberagaman serta cara pengembangannya. Manusia memiliki kemampuan ter-sebut diharapkan menjadikan kita lebih bijaksana dalam melak-sanakan fungsi dan peranannya sebagai pendidik yang profe-sional.
diantaranya:
1. Kepustakaan hindu (Ciwa) menyatakan bahwa atman manu-sia datang langsung dari Tuhan (Bathara Ciwa) dan sekaligus menjadi penjelmaannya.
2. Kepustaan agama Budha menggambarkan bahwa manusia adalah mahluk samsara, merupakan wadah dari the absolute yang hidupnya penuh dengan kegelapan.
3. Pendapat kaum pemikir kuno yang bercampur dengan mistik menyatakan bahwa manusia adalah manifestasi yang paling komplit dan paling sempurna dari Tuhan Yang Maha Esa, intisari dari semua mahluk yang memiliki kecerdasan.
4. Filosof Socrates menyatakan bahwa hakekat manusia terletak pada budinya yang memungkinkan untuk menentukan kebe-naran dan kebaikan. Plato dan Aristoteles menyatakan haki-kat manusia terletak pada pikirnya.
5. Tokoh Dunia Barat melanjutkan pendapat Plato & Aristoteles tentang hakekat kebaikan manusia yg selanjutnya bergeser ke pandangan humanistik yg menyatakan manusia merupakan kemenyuluruhan dari segala dimensinya. (1), Spinoza berpan-dangan pantheistik menyatakan hakekat manusia sama dengan Tuhan dan sama pula dengan hakekat alam semesta. (2), Voltaire mengatakan hakekat manusia sangat sulit untuk diketahui dan butuh waktu yang sangat panjang untuk meng-ungkapkannya.
6. Notonagoro mengatakan manusia pada hakekatnya adalah mahluk mono-dualis yang merupakan kesatuan dari jiwa dan raga yg tak terpisahkan.
7. Para ahli biologi memandang hakekat manusia titik beratnya pada segi jasad, jasmani, atau wadag dengan segala perkem-bangannya. Pandangan ini dipelopori oleh Darwin dengan teori evolusinya.
manusia adalah rokhani, jiwa atau psikhe.
9. Ahli teori konvergensi antara lain William Stern berpendapat bahwa hakekat manusia merupakan paduan antara jasmani dan rokhani.
10. Pandangan dari segi agama, Islam, Kristen, dan Katolik meno-lak pandangan hakekat manusia adalah jasmani dengan teori evolusi. Hakekat manusia adalah paduan menyeluruh antara akal, emosi dan perbuatan. Dengan hati dan akalnya manusia terus menerus mencari kebenaran dan dianugerahi status sebagai khalifah Allah.
11. Pancasila memandang hakekat manusia memiliki sudut pan-dang yg monodualistik & monopluralistik, keselarasan, kesera-sian, dan keseimbangan, integralistik, kebersamaan dan keke-luargaan.
Pada hakekatnya manusia mempunyai potensi untuk me-ngembangkan kepribadiannya menjadi makhluk yang berdaya. Pendidikan adalah salah satu alat untuk mengembangkan diri menjadi manusia yang paripurna. Pendidikan yang dikembang-kan mengalami banyak perkembangan adikembang-kan tetapi perkembang-an itu mengalami disorientasi dari tujuperkembang-an pendidikperkembang-an semula ya-itu menjadikan manusia seutuhnya. Dinamika esensi keberadaan pendidikan di tanah air selama ini, terasa tidak lebih dari apa yang disebut dengan “pabrik intelektual”. Sehingga hakikat pendidikan sejatinya seakan terabaikan begitu saja. Mengidentifikasikan bah-wa dunia pendidikan kita telah mengalami pergeseran dari nilai-nilai luhurnya. Digantikannya dengan produk-produk egoisme diri dan kebinatangan yang semakin serakah, tidak adil dan hampa akan nilai-nilai filosofis. Aksentuasinya terletak pada pembentuk-an wawaspembentuk-an para intelektual ypembentuk-ang hpembentuk-anya terjebak pada nilai-nilai kehidupan yang kering akan moralitas dan etika dalam kehidupan bermasyarakat.
menunjukkan bahwa di segala jenjang dan bidang kehidupan di negeri ini mengalami krisis filosofi hidup. Mereka yang terdidik justru menjadi koruptor sedangkan mereka yang tidak terdidik malah menjadi maling. Ada pula golongan yang kebingungan, lalu menjadi tukang pengisap sabu-sabu dan terjerumus pada nar-koba. Padahal tujuan pendidikan sebenarnya adalah melahirkan individu-individu yang merdeka, matang, bertanggungjawab dan peka terhadap permasalah sosial di lingkungan sekitarnya.
Melalui pendidikan Transformatif diharapkan mampu mem-bawa angin segar bagi perubahan pendidikan kita dimasa depan. Tentunya orientasi, tujuan serta komponen lainnya yang mendu-kung terhadap pelaksanaan pendidikan yang lebih baik. Manusia yang berbudaya ia akan sadar akan kepribadiannya sebagai makh-luk yang dapat didik dengan kesadaran. Meluruskan kem-bali oriantasi serta membenahi sistem pendidikan kita adalah salah satu kunci dan pertanda untuk merubah paradigma pendidikan kita. Menurut Musthofa Rembagy, tawaran model pendidikan yang harus diimplementasikan dewasa ini adalah model pendidikan yang bervisi transformatif sekaligus berwawasan global. Model pendidikan yang bersifat kooperatif terhadap segala kemampuan peserta didik menuju proses berfikir yang bebas dan inovatif. Menghargai sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki se-tiap individu dengan membiarkan potensi-potensi itu tumbuh dan berkembang secara wajar dan manusiawi bukan malah dimatikan dengan berbagai bentuk penyeragaman dan sanksi.
Dalam pusaran arus globalisasi, pada kenyataannya pendidik-an kita juga belum mampu menciptakpendidik-an peserta didik ypendidik-ang kritis dan memiliki kemampuan dalam menghadapi tantangan global yang kian menindas dan mencengkram. Dalam keadaan inilah pendidikan mestinya tidak bebas nilai, sebaliknya pendidikan ha-ruslah berkepentingan. Kepentingan-kepentingan untuk melahir-kan calon-calon penerus bangsa ini yang mampu menghadapi
segala tantangan yang akan dihadapi di masa mendatang.
Transformasi pendidikan menjadi penting dengan melihat adanya tantangan kuat dalam era global. Salah satunya adalah transformasi nilai besar-besaran yang menciptakan konsekuesi logis munculnya budaya-budaya baru dalam penguatan etos kerja SDM kita. Kalau pendidikan masih mengandalkan pada aspek tertentu, dapat dipastikan dunia pendidikan kita akan ketinggalan jauh dengan bangsa-bangsa lain. Secara makro, era globalisasi adalah tantangan untuk merebut kompetensi SDM antar bangsa.
Untuk itulah, dengan merenungi setiap jejak langkah kehi-dupan tentu kita tetap bisa mengar ungi hakikat dunia pendidikan sejati. Bertindak seperti nilai-nilai pendidikan yang telah diajar-kan selama ini dari akar budaya lelehur bangsa ini. Budiajar-kan malah mengubah landasan filosofis pendidikan dengan nilai-nilai prag-matis dalam kehidupan nyata dan hampa belaka. Intinya adalah suatu pendidikan haruslah diarahkan pada tujuan mulia, yakni menjadikan manusia yang cerdas, kreatif dan humanis.