BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Konsep Teoretik
2.1.1 Estetika
Estetika merupakan sebuah nilai, terpaan rasa serta pandangan mengenai sisi baik dan keindahan yang melekat dalam sebuah objek kesenian. Aspek nilai tersebut, pada dasarnya dapat ditelisik pada masing-masing karya seni itu sendiri. Penuangan pandangan atau penilaian estetik terhadap sebuah karya seni, dapat dibedah melalui dasar pemikiran filsafatik yang menelisik secara detail terkait dengan asal keindahan seni yang dapat dirasakan orang, ataupun hakikat dari kenikmatan seni, serta bagaimana proses penikmatan seni itu sendiri. Merujuk pada pemikiran filsafatik tersebut, maka sangat beralasan apabila Dharsono (2007 : 10
)
menyatakan bahwa, nilai estetika pada dasarnya adalah kemampuan dari suatu benda untuk menimbulkan pengalaman estetis yang nantinya dapat diterka dalam berbagai sudut pandang kebenaran.menurut Djelantik (2004) dalam bukunya menyebutkan bahwa keindahan atau estetika adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan kesenangan, rasa puas, aman, nyaman hingga terpesona dan bahkan mampu menimbulkan keinginan untuk mengalami kembali perasaan tersebut walaupun sudah dinikmati berulangkali dari keseluruhan elemen yang mendukung. Sehubungan dengan estetika atau keindahan dapat memberi suatu pedoman terhadap pola perilaku manusia yang berkesinambungan dengan keindahan itu sendiri. Diantaranya, (1) estetika menjadi pedoman bagi seniman untuk mengekspresikan kreasi artistiknya, (2) estetika memberi pedoman bagi penikmat untuk menyerap karya seni tersebut berdasarkan pengalamannya melakukan pengalaman estetik tertentu (Bahri 2008: 47).
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa estetika adalah suatu unsur keindahan yang terdapat di suatu karya seni yang berpengaruh terhadap pola perilaku manusia yang berkaitan dengan suatu keindahan karya seni dan melalui estetika juga manusia dapat menyerap suatu keindahan yang terdapat di sebuah karya seni.
12 2.1.2 Apresiasi Seni
2.1.2.1 Definisi Apresiasi Seni
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat (2008: 82) apresiasi adalah kesadaran terhadap nilai seni budaya, penilai (penghargaan) terhadap sesuatu karya, kenaikan nilai barang karena harga pasarnya naik atau permintaan akan barang itu tambah. Apresiasi sendiri berasal dari bahasa latin “appretiatius” yang artinya penghargaan atau penilaian terhadap sesuatu, menurut (Fildman, 1981) Apresiasi pada prinsipnya bukanlah sebuah proses pasif, ia merupakan proses aktif dan kreatif, agar secara efektif mengerti nilai suatu karya seni, dan mendapatkan pengalaman estetik.
Menurut Susanne Langer (dalam Desmond, 2011: 68) seni adalah kreasi bentuk sebagai simbol perasaan manusia.
Primadi (1975: 1) seseorang dipandang sudah cukup berapresiasi seni bila ia sudah mencapai rasa empati dan rasa puas. Menurut Nooryan Bahari (2014:148) Apresiasi seni yaitu suatu proses sadar yang dilakukan seseorang dalam menghadapi dan memahami karya seni. Mengapresiasi karya seni menurut Jerome Stolnitz (dalam Carlson, 2000) haruslah dilakukan dengan sikap terbuka dan tanpa pamrih. Sedangkan menurut Rollo May (dalam Alisyahbana 1983: 18) menyatakan berapresiasi terhadap kreasi seni atau hasil seni merupakan satu kegiatan penghayatan melalui proses dan dapat memberikan penghargaan.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa apresiasi seni adalah suatu proses yang dilakukan dengan cara pengamatan, penghayatan dan penilaian terhadap suatu karya seni dilakukan secara sadar untuk menghasilkan suatu penghargaan terhadap karya seni.
2.1.2.2 Tujuan dalam Pembelajaran Apresiasi
Menurut Syarif (1994: 11) ada dua tujuan yang hendak diterapkan dalam pembelajaran apresiasi, yaitu:
a) Tujuan Intruksional
13
Dalam tujuan intruksional, siswa diharapakan memiliki kemampuan berapresiasi sesuai dengan SKKD. Kemampuan ini merupakan hasil belajar yang menyeluruh, mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
b) Tujuan Pengiring
Dalam tujuan pengiring, siswa diharapkan megalami perubahan tingkah laku sebagai akibat dari belajar apresiasi, tujun pengiring dari belajar apresiasi adalah mengembangkan rasa cinta tanah air, serta sikap mengharagai dan menjunjung tinggi kebudayaan bangsa.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan dalam pembelajaran apresiasi seni ada dua tujuan yaitu tujuan intruksional dan tujuan pengiring. Dalam penelitian ini tujuan instruksional adalah siswa diharapkan dapat memahami gebyok sebagai sumber belajar dan diharpkan akan tumbuh rasa cinta kebudayaan sedangkan tujuan pengiring dalam penelitian ini adalah setelah anak mempelajari gebyok sebahgai sumber belajar anak dapat mengembangkan rasa menghargai, melestarikan, dan mencintai peninggalan kebudayaan daerah mereka.
2.1.3 Perkembangan Anak SD
2.1.3.1 Definisi Perkembangan Anak SD
Perkembangan menurut Yusuf & Samsu, (2006) yaitu pada hakikatnya suatu perubahan yang berkesinambungan dan progresif yang berasal dari dalam dalam diri anak dari ia mulai berada di dunia sampai meninggal. Hurlock menyebutkan perkembangan pada dasarnya adalah serangkaian bentuk perubahan yang progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman (Masganti, 2012). Perkembangan anak akan berlangsung secara optimal jika berkembangnya sesuai dengan fase dan tugas perkembangannya masing-masing.
Anak usia 6 sampai dengan 12 tahun dalam kategori usia Sekolah Dasar. Pada usia ini, anak mengalami perkembangan yang sangat pesat.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa perkembangan anak adalah suatu perubahan yang berkesinambungan dimulai dari anak dilahirkan hingga anak tersebut sudah meninggal.
14 2.1.3.2 Faktor Perkembangan anak SD
Perkembangan berkaitan dengan kepribadian yang terintegrasi. Anak sekolah dasar yang berusia diantara 6-11 tahun berada pada fase kanak-kanak tengah (Sumantri, 2014: 99). Fase kanakkanak tengah, anak memiliki kemampuan dasar berhitung, menulis, dan membaca. Fase perkembangan anak SD dapat dilihat dari beberapa aspek utama kepribadian individu anak, yaitu sebagai berikut:
1. Fisik Motorik
Pertumbuhan fisik anak pada usia SD ditandai dengan anak menjadi lebih tinggi, berat, dan kuat dibandingkan pada saat anak berada di PAUD/TK, hal ini tampak pada perubahan sistem tulang, otot dan keterampilan gerak. Anak lebih aktif dan kuat untuk melakukan kegiatan fisik seperti berlari, memanjat,melompat, berenan dan kegiatan luar rumah lainnya. Kegiatan fisik ini dilakukan oleh anak dalam upaya melatih koordinasi, motorik, kestabilan tubuh maupun penyaluran energi yang tertumpuk. (Izzaty, 2008). Perkembangan fisik anak SD laki-laki dan perempuan berbeda. Anak perempuan biasanya lebih ringan dan lebih pendek daripada anak laki-laki. (Slavin, 2011). Aspek perkembangan fisik-motorik ini berpengaruh terhadap aspek perkembangan lainnya, sebagai contoh, keadaan fisik anak yang kurang normal misalnya anak terlalu tinggi atau terlalu pendek, anak terlalu kurus atau gemuk akan mempengaruhi rasa kepercayaan diri anak. Rasa kepercayaan ini akan berkaitan dengan emosi, kepribadian, dan sosial anak (Latifa, 2017).
2. Kognisi
Aspek perkembangan kognisi merupakan perkembangan yang berhubungan dengan kemampuan kognitif yang dimiliki oleh anak, yakni kemampuan untuk berpikir dan memecahkan masalah. Anak usia sekolah dasar memiliki karakteristik berpikir yang khas. Cara berpikir mereka berbeda dengan anak pra sekolah dan orang dewasa. Cara mengamati lingkungan sekitar dan mengorganisasi dunia pengetahuan yang mereka dapatpun berbeda dengan anak prasekolah dan orang dewasa. Teori perkembangan Piaget merupakan salah satu teori perkembangan kognitif yang terkenal. Dalam teorinya, Piaget menjelaskan anak usia SD yang pada umumnya berusia 7 sampai 11 tahun, berada pada tahap ketiga dalam tahapan perkembangan kognitif yang dicetuskannya yaitu tahap
15
operasional konkret. Pada tahap ini, anak dinilai telah mampu melakukan penalaran logis terhadap segala sesuatu yang bersifat konkret, tetapi anak belum mampu melakukan penalaran untuk hal-hal yang bersifat abstrak (Trianingsih, 2016).Anak usia SD akan mengalami perkembangan kognitif yang pesat. Anak akan mulai belajar membentuk sebuah konsep, melihat hubungan, dan memecahkan masalah terhadap situasi yang bersifat konkret. (Slavin, 2011). Untuk itu, Guru hendaknya dapat membangun suasana belajar yang konkret bagi anak sebagai guna memudahkan anak dalam berpikir logis serta dapat memecahkan masalah. (Trianingsih, 2016).
3. Perkembangan sosio-emosional
Ciri khas dari fase ini ialah meningkatnya intensitas hubungan anak dengan teman-teman sebayanya serta ketergantungan anak terhadap keluarga menjadi berkurang. Pada fase ini hubungan atau kontak sosial lebih baik dari sebelumnya sehingga anak lebih senang bermain dan berbicara dalam lingkungan sosialnya. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa teman sebaya memiliki peranan yang penting dalam perkembangan sosial anak, karena melalui teman sebaya anak bisa belajar dan mendapat informasi mengenai dunia anak di luar keluarga (Murni, 2017). Hal lainnya yang tampak pada fase ini ialah anak sudah mulai membentuk konsep diri sebagai anggota kelompok sosial di luar keluarga.
Hubungan sosial anak dengan orang dewasa di luar keluarga memberikan pengaruh penting dalam pengembangan kepercayaan diri anak.
Ketidakpercayaan diri pada anak akan timbul jika anak tidak mampu mengerjakan tugas seperti temannya. Dalam kegiatan pembelajaran peran guru sangat penting dalam menumbuhkan kepercayaan diri anak serta semangat berkarya sesuai dengan kemampuan masing-masing anak.
4. Perkembangan Bahasa
Bahasa merupakan suatu alat untuk berkomunikasi dalam suatu interaksi sosial. Perkembangan bahasa anak akan berkembang dari awal masa sekolah dasar dan mencapai kesempurnaan pada akhir masa remaja.
Pada usia late primary (7-8 tahun), bahasa anak mengalami perkembangan yang sangat pesat. Anak telah memahami tata bahasa, sekalipun terkadang menemui kesulitan dan menunjukkan kesalahan tetapi anak dapat
16
memperbaikinya. Anak telah mampu menjadi pendengar yang baik. Anak mampu menyimak cerita yang didengarnya, dan selanjutnya mampu mengungkapkan kempali dengan urutan dan susunan yang logis. Anak telah menunjukkan niatanya terhadap puisi, dan juga mampu mengungkapkan perasaan dan pikirannya dalam bentuk puisi. Anak memiliki kemampuan untuk memahami lebih dari satu arti, dan memperkaya kata menjadi sebuah humor. (Surna. 2014). Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak SD ialah faktor lingkungan. Anak SD telah banyak belajar dari orang disekitar lingkungannya khususnya lingkungan keluarga yang merupakan lingkungan terdekat anak. Oleh karena itu, hendaknya orang tua dan masyarakat menggunakan istilahistilah bahasa yang lebih selektif dan lebih baik jika berada disekitar anak, karena pada dasarnya bahasa anak akan dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggalnya.(Adriana, 2008).
5. Perkembangan Moral Keagamaan
Lingkungan keluarga dan lingkungan sosial yang lebih luas di luar keluarga menjadi pusat dari pelajaran perkembangan moral bagi anak.
Konsep perkembangan moral menjelaskan bahwa norma dan nilai yang ada dilingkungan sosial siswa akan mempengaruhi diri siswa untuk memiliki moral yang baik atau buruk (Trianingsih , 2016). Pada masa perkembangan kanak-kanak awal, moral anak belum berkembang pesat karena disebabkan oleh perkembangan kognitif anak yang belum mencapai pemahaman menganai prinsip benar salah menganai suatu hal, pada masa ini anak belum mampu membedakan hal-hal yang benar untuk dilakukan dan hal-hal yang tidak boleh dilakukan. (Murni, 2017). Berdasarkan periodesasi perkembangan Piaget, anak sekolah dasar kelas I, II, III, dan IV berada dalam periode transisi, yaitu meninggalkan periode moral realisme memasauki periode moral otonom. Akibat periode transisi itu tingkah laku moral anak kadang-kadang seperti tingkah laku moral anak periode heterenom dan kadangkadang seperti tingkah laku anak yang otonom. Bagi anak kelas II, III, dan IV yang masih berada dalam perkembangan moral heterenom, yaitu anak mulai melihat tingkah laku baik atau buruk yang dipanang dari akibat yang ditimbulkan oleh tingkah laku itu, dan bukan dari niat atau maksud si pelaku. Misalnya, ketika 12
17
buah gelas secara tidak sengaja dipecahkan oleh anak, hal ini akan dipandang anak sebagai tingkah laku yang lebih buruk dibandingkan dengan memecahkan sebuah gelas yang maksudnya untuk mencuri kue.
Bagi anak yang dalam periode perkembangan moral otonom justru berpandang sebaliknya, bahwa memecahkan 12 buah gelas secara tidak sengaja lebih baik daripada memecahkan sebuah gelas karena ingin mencuri kue. Bagi anak itu kesalahan tingkah laku dilihat dari maksud orang bertingkah laku, bukan dari akibat yang ditimbulkan dari oleh tingkah laku itu. Sehubungan dengan aspek perkembangan moral anak, guru hendaknya dapat menanamankan moral pada anak yang dilakukan.
tanpa disadari anak sehingga mendorong kesadaran dalam diri anak untuk berbuat sesuai dengan moral yang baik. (Trianingsih , 2016).
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa ada lima fase dalam perkembangan anak SD yaitu : fisik-motorik, kognisi, sosio-emosional, bahasa, dan moral keagamaan.
2.1.4 Teori Belajar Konstruktivisme
2.1.4.1 Definisi Teori Pembelajaran Konstruktivisme
Teori Konstruktivisme menurut Piaget (1971) adalah sistem penjelasan tentang bagaimana siswa sebagai individu beradaptasi dan memperbaiki pengetahuan. Sedangakan menurut (Rangkuti, 2014) Teori belajar konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan bantuan fasilitasi orang lain, sehingga teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan, atau teknologi dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri. Richey, Klein, dan Tracey (2011, p. 40) menjelaskan konstruktivisme adalah orentasi filosofi yang sangat penting bagi proses pengembangan pengetahuan. Ini melibatkan lebih dari sekedar menekankan individu bahwa pengetahuan, bahkan berpikir itu mencerminkan dunia luar, berbentuk unik (yaitu, dikonstruksi) oleh setiap orang. Proses belajar dipengaruhi oleh beberapa aspek antara lain: pengetahuan awal, pengalaman, kapabilitas belajar, dan lingkungan belajar menurut (Dwiyogo, 2016, p. 17).
18
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa teori belajar konstruktivisme adalah suatu teori yang ada dikarenakan rasa ingin belajar sesorang untuk menemukan hal baru dan dapat dibantu orang lain.
2.1.4.2 Tiga Garis Besar Pandangan Teori Kontruktivisme
Menurut Widodo (2004) tiga garis besar pandangan konstruktivisme dalam pembelajaran, yaitu:
1. Pengetahuan merupakan hasil konstruksi manusia dan bukan sepenuhnya representasi suatu fenomena atau benda. Fenomena atau obyek memang bersifat obyektif, namun observasi dan interpretasi terhadap suatu fenomena atau obyek terpengaruh oleh subyektivitas pengamat.
2. Pengetahuan merupakan hasil konstruksi sosial. Pengetahuan terbentuk dalam suatu konteks sosial tertentu. Oleh karena itu pengetahuan terpengaruh kekuatan sosial (ideologi, agama, politik, kepentingan suatu kelompok, dsb) dimana pengetahuan itu terbentuk.
3. Pengetahuan bersifat tentatif. Sebagai konstruksi manusia, kebenaran pengetahuan tidaklah mutlak tetapi bersifat tentatif dan senantiasa berubah.
Sejarah telah membuktikan bahwa sesuatu yang diyakini “benar” pada suatu masa ternyata “salah” di masa selanjutnya.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa ada tiga garis besar pandangan dalam teori kontruktivisme yaitu pengetahuan hasil kontruksi dari manusia, pengetahuan dari hasil kontruksi sosial, dan pengetahuan bersifat tentatif.
2.1.5 Seni Gebyok
2.1.5.1 Definisi Seni Gebyok
Seni ukir adalah jenis karya seni rupa yang dibuat dengan teknik goresan, cukilan, atau pahatan pada sebuah media kayu, tempurung dan bahan-bahan lainnya (Depdiknas, 2008:1773). Hasil karya seni ukir ini banyak terdapata di kota Jepara, oleh sebab itulah Jepara dijuluki sebagai kota ukir. Jepara sendiri merupakan salah satu kabupaten di provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Daerah tersebut adalah daerah penghasil ukir kayu utama dan terkenal dengan banyaknya sentra industri seni ukir yang umumnya berupa benda-benda keperluan rumah tangga (Soepratno, 2004:VIII).
19
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa seni ukir Jepara / Gebyok adalah suatu karya seni yang terbuat dengan cara menggambar pola, menggoreskan, dan pahatan pada media kayu dan bahan lainnya sehingga menghasilkan suatu karya seni yang disebut Gebyok.
2.1.5.2 Teknik dalam pembuatan seni gebyok
Untuk menghasilakan karya seni ukir Jepara, tentunya tidak terlepas dari keterampilan karya tangan, aktivitas, dan pola berpikir yang dilakukan oleh seorang pengrajin ukiran Jepara dimana pengrajin tersebut perlu memperhatikan beberapa teknik (Rahmawati, et al, 2017:31; Soepratno, 2004:89-91) sebagai berikut :
a) Membuat pola gambar.
b) Nggetaki (Mentransformasikan garis-garis dalam pola di kertas pada kayu).
c) Ndasari (Mencongkel bagian dasar diluar motif).
d) Mbukaki (Membentuk pahatan pada motif batang, daun, atau bunga).
e) Mbenangi (Membentuk benang atau garis lekukan pada motif).
f) Finishing (Menghaluskan hasil ukir).
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa teknik dalam pembuatan seni ukir sangatlah diperlukan dengan adanya teknik dalam pembuatan seni ukir akan membuat karya seni tersebut menjadi lebih indah dan memilki ke khasannya tersendiri.
2.1.5.3 Motif, corak dan ornamen seni gebyok
Motif adalah sesuatu yang menjadi pokok atau unsur pokok sebuah ornamen (Depdiknas, 2008:1043; Sunarto, 2009). Sedangkan corak adalah bunga atau gambar-gambar yang berjenis-jenis warna (Depdiknas, 2008:291). Ornamen adalah hiasan atau lukisan yang digambar atau dipahat (Depdiknas, 2008:1094).
Motif dan corak adalah unsur pokok yang terdapat pada ukiran. Tema atau ide dasar sebuah ornamen atau ukiran dapat dikenali melalui motif tersebut yang merupakan perwujudan atas bentuk-bentuk alam maupun bentuk-bentuk abstrak.
Motif ukiran Jepara menggunakan motif tumbuhan yang dirangkai dengan motif hewan (Dalidjo & Mulyadi, 1983:50). Ciri-ciri motif ukiran Jepara adalah daun pokok berbentuk relung, yang apabila dipotong melintang berbentuk prisma segitiga, daun-daunnya berbentuk segitiga, dan ukiran daunnya berbentuk miring
20
(Soepratno, 2004:15). Motif ukiran Jepara didominasi oleh nuansa floratif atau perwujudan dari bentuk tumbuh tumbuhan dengan beberapa unsur yang melekat di dalamnya, yaitu daun, relung, buah, dan trubusan (Purnomo & Kusumandyoko, 2017:570).
Selain itu motif tumbuhan ini dipadukan dengan motif hewan, yaitu burung.
Semua unsur yang membangun ukiran Jepara masing-masing memiliki makna tersendiri yang merupakan filosofi, ciri khas, dan identitas Kota Jepara.
Dalam nuansa floratif, unsur pertama pada motif ukiran Jepara yaitu daun jumbai. Daun pada ukiran Jepara memiliki bentuk segitiga dengan ujungnya lancip dan mempunyai corak merelung dan melingkar, yang memiliki makna berupa representasi hubungan religius antara manusia dengan Tuhan, maupun antar sesama manusia (Purnomo & Kusumandyoko, 2017:570). Unsur kedua yaitu buah. Bentuk buah pada motif ukiran Jepara menyerupai buah anggur atau wuni, yaitu berbentuk bulatan-bulatan. Posisi buah pada motif ini cenderung tersusun sejajar ataupun bergerombol. Buah ini terdapat pada pertemuan relung daun pokok atau ujung relung yang dikelilingi daun-daun pokok. Unsur ketiga adalah relung atau lung. Unsur relung ini dapat ditemukan pada sebagian besar motif ukiran bernuansa floratif atau bertemakan tumbuhan. Unsur relung merupakan alur dari pangkal tumbuhan kepada daun. Relung ini memiliki makna yaitu membuat kesan luwes dan fleksibel pada ukiran (Purnomo & Kusumandyoko, 2017:570). Pada bagian ini terdapat trubusan, yaitu bentuk ukiran daun yang tumbuh di tengah-tengah pangkal atau bagian bawah daun pokok. Pada ketiga unsur motif ukiran Jepara tersebut, terdapat makna nilai dan ajaran agama pada pecahan ukiran daun jumbai, yaitu terdapat tiga pecahan garis mengikuti bentuk daun sehingga tampak seperti sinar. Secara religius atau kepercayaan, sinar ini melambangkan cahaya sebagai simbol kehadiran Tuhan.
Di samping nilai agama, terdapat pula nilai moral seni ukir Jepara. Selain unsur bernuansa floratif, motif ukiran Jepara juga dipadukan dengan motif hewan, yaitu burung merak dengan sulur ubi jalar. Motif ini menggambarkan burung merak yang hinggap atau sedang terbang mengembangkan sayapnya mengisi sela-sela ukiran. Motif ini mempunyai makna yaitu kesesuaian dengan perilaku hidup sang pengrajin yang suka merantau dan hidup bebas terbang ke daerah lain untuk membangun karir (Gustami, 2000:193). Sedangkan sulur ubi jalar memvisualisasikan kesuburan dan melambangkan produk pekarangan yang
21
apabila ditekuni dengan sungguh-sungguh meskipun dengan modal sedikit akan menghasilkan produk pangan yang mencukupi. Selain itu, daun jumbai merupakan perlambangan dari daun cengkeh dan sulur-sulur pada motif ukiran Jepara menggambarkan tumbuhan cengkeh yang tumbuh subur di Jepara dan memberikan kontribusi kuat terhadap perkembangan perekonomian masyarakat Jepara. Di samping itu, sulur-sulur yang rumit melambangkan ketekunan, keuletan, dan kesungguhan para pengrajin dalam mengerjakannya karena dibutuhkan keterampilan yang tinggi (Gustami, 2000:194).
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa motif pada seni ukir di Jepara memiliki macam-macam motif antarannya motif tumbuhan dan hewan, dan ada beberapa unsur-unsur dalam motif ukir anataranya daun jumbai, bauh, dan relung atau lung.
Gambar 2.1 Gebyok khas Jepara
22 2.2 Kajian Penelitian Relevan
Berdasarkan penelitian yang sejenis dengan topik penelitian yang akan dilaksanakan, ada penelitian-penelitian terdahulu yang telah dilaksanakan. Berikut beberapa penelitian terkait yang akan dijadikan kajian pustaka dalam penelitian ini disajikan dalam tabel 1.
Tabel 1. Kajian Penelitian Relevan
No Nama
2019 Mengkaji konsep estetika dalam
2021 Mengkaji filosi seni pahat,
23
24 pembelajaran sains
5. Riandy Ramadhan
2019 Mendeskripsikan respon para mahasiswa Universitas Negeri Makassar dalam
berapresiasi seni terhadap suatu lukisan
Penelitian Riandy Ramadhan
mendukung
penelitian yang akan saya lakukan karena
mendeskripsikan seberapa besar orang
mengapresiasi suatu karya seni
Riandy Ramadhan menleiti respon mahasiswa dalam mengapresiasikan karya seni lukisan
25 2.3 Kerangka Berpikir
Persepsi merupakan proses yang menyangkut masuknya peran atau suatu informasi ke dalam otak manusia (Slamet, 2010: 102). Dengan persepsi manusia saling berhubungan dengan lingkungannya. Hubungan tersebut dapat dilakukan dengan inderanya, yaitu indera penglihatan, pendengaran, peraba, perasa, dan penciuman manusia. Sedangkan menurut (Sugiharto,2007: 8) persepsi adalah kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk menerjemahkan/menginterepretasi stimulus yang masuk ke dalam alat indera mereka.
Apresiasi merupakan suatu pengahayatan atau penghargaan terhadap suatu karya seni tertentu apresiasi juga merupakan sebuah bagian dari kegiatan berkesenian, maka setiap manusia dapat berapresiasi dan masing-masing individu tidaklah sama dalam berapresiasi, dengan adanya apresiasi berarti mereka memahami isi yang terkandung dalam suatu karya seni.
Seni Ukir/Gebyok merupakan salah satu seni rupa yang dibuat dengan cara pembuatan pola, pemahatan, pencukilan, pada sebuah media kayu tertentu yang hasil pahatan tersebut biasa di sebut gebyok oleh masyarakat Jepara. Ukiran kayu di Jepara memiliki ke khasan tersendiri mulai dari bahan baku yang digunakan teknik dan alat yang digunakan dan pola/motif yang biasa digunakan.
Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti melakukan studi pustaka untuk
Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti melakukan studi pustaka untuk