• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Konsep Teoretik

2.1.5 Seni Gebyok

2.1.5.1 Definisi Seni Gebyok

Seni ukir adalah jenis karya seni rupa yang dibuat dengan teknik goresan, cukilan, atau pahatan pada sebuah media kayu, tempurung dan bahan-bahan lainnya (Depdiknas, 2008:1773). Hasil karya seni ukir ini banyak terdapata di kota Jepara, oleh sebab itulah Jepara dijuluki sebagai kota ukir. Jepara sendiri merupakan salah satu kabupaten di provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Daerah tersebut adalah daerah penghasil ukir kayu utama dan terkenal dengan banyaknya sentra industri seni ukir yang umumnya berupa benda-benda keperluan rumah tangga (Soepratno, 2004:VIII).

19

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa seni ukir Jepara / Gebyok adalah suatu karya seni yang terbuat dengan cara menggambar pola, menggoreskan, dan pahatan pada media kayu dan bahan lainnya sehingga menghasilkan suatu karya seni yang disebut Gebyok.

2.1.5.2 Teknik dalam pembuatan seni gebyok

Untuk menghasilakan karya seni ukir Jepara, tentunya tidak terlepas dari keterampilan karya tangan, aktivitas, dan pola berpikir yang dilakukan oleh seorang pengrajin ukiran Jepara dimana pengrajin tersebut perlu memperhatikan beberapa teknik (Rahmawati, et al, 2017:31; Soepratno, 2004:89-91) sebagai berikut :

a) Membuat pola gambar.

b) Nggetaki (Mentransformasikan garis-garis dalam pola di kertas pada kayu).

c) Ndasari (Mencongkel bagian dasar diluar motif).

d) Mbukaki (Membentuk pahatan pada motif batang, daun, atau bunga).

e) Mbenangi (Membentuk benang atau garis lekukan pada motif).

f) Finishing (Menghaluskan hasil ukir).

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa teknik dalam pembuatan seni ukir sangatlah diperlukan dengan adanya teknik dalam pembuatan seni ukir akan membuat karya seni tersebut menjadi lebih indah dan memilki ke khasannya tersendiri.

2.1.5.3 Motif, corak dan ornamen seni gebyok

Motif adalah sesuatu yang menjadi pokok atau unsur pokok sebuah ornamen (Depdiknas, 2008:1043; Sunarto, 2009). Sedangkan corak adalah bunga atau gambar-gambar yang berjenis-jenis warna (Depdiknas, 2008:291). Ornamen adalah hiasan atau lukisan yang digambar atau dipahat (Depdiknas, 2008:1094).

Motif dan corak adalah unsur pokok yang terdapat pada ukiran. Tema atau ide dasar sebuah ornamen atau ukiran dapat dikenali melalui motif tersebut yang merupakan perwujudan atas bentuk-bentuk alam maupun bentuk-bentuk abstrak.

Motif ukiran Jepara menggunakan motif tumbuhan yang dirangkai dengan motif hewan (Dalidjo & Mulyadi, 1983:50). Ciri-ciri motif ukiran Jepara adalah daun pokok berbentuk relung, yang apabila dipotong melintang berbentuk prisma segitiga, daun-daunnya berbentuk segitiga, dan ukiran daunnya berbentuk miring

20

(Soepratno, 2004:15). Motif ukiran Jepara didominasi oleh nuansa floratif atau perwujudan dari bentuk tumbuh tumbuhan dengan beberapa unsur yang melekat di dalamnya, yaitu daun, relung, buah, dan trubusan (Purnomo & Kusumandyoko, 2017:570).

Selain itu motif tumbuhan ini dipadukan dengan motif hewan, yaitu burung.

Semua unsur yang membangun ukiran Jepara masing-masing memiliki makna tersendiri yang merupakan filosofi, ciri khas, dan identitas Kota Jepara.

Dalam nuansa floratif, unsur pertama pada motif ukiran Jepara yaitu daun jumbai. Daun pada ukiran Jepara memiliki bentuk segitiga dengan ujungnya lancip dan mempunyai corak merelung dan melingkar, yang memiliki makna berupa representasi hubungan religius antara manusia dengan Tuhan, maupun antar sesama manusia (Purnomo & Kusumandyoko, 2017:570). Unsur kedua yaitu buah. Bentuk buah pada motif ukiran Jepara menyerupai buah anggur atau wuni, yaitu berbentuk bulatan-bulatan. Posisi buah pada motif ini cenderung tersusun sejajar ataupun bergerombol. Buah ini terdapat pada pertemuan relung daun pokok atau ujung relung yang dikelilingi daun-daun pokok. Unsur ketiga adalah relung atau lung. Unsur relung ini dapat ditemukan pada sebagian besar motif ukiran bernuansa floratif atau bertemakan tumbuhan. Unsur relung merupakan alur dari pangkal tumbuhan kepada daun. Relung ini memiliki makna yaitu membuat kesan luwes dan fleksibel pada ukiran (Purnomo & Kusumandyoko, 2017:570). Pada bagian ini terdapat trubusan, yaitu bentuk ukiran daun yang tumbuh di tengah-tengah pangkal atau bagian bawah daun pokok. Pada ketiga unsur motif ukiran Jepara tersebut, terdapat makna nilai dan ajaran agama pada pecahan ukiran daun jumbai, yaitu terdapat tiga pecahan garis mengikuti bentuk daun sehingga tampak seperti sinar. Secara religius atau kepercayaan, sinar ini melambangkan cahaya sebagai simbol kehadiran Tuhan.

Di samping nilai agama, terdapat pula nilai moral seni ukir Jepara. Selain unsur bernuansa floratif, motif ukiran Jepara juga dipadukan dengan motif hewan, yaitu burung merak dengan sulur ubi jalar. Motif ini menggambarkan burung merak yang hinggap atau sedang terbang mengembangkan sayapnya mengisi sela-sela ukiran. Motif ini mempunyai makna yaitu kesesuaian dengan perilaku hidup sang pengrajin yang suka merantau dan hidup bebas terbang ke daerah lain untuk membangun karir (Gustami, 2000:193). Sedangkan sulur ubi jalar memvisualisasikan kesuburan dan melambangkan produk pekarangan yang

21

apabila ditekuni dengan sungguh-sungguh meskipun dengan modal sedikit akan menghasilkan produk pangan yang mencukupi. Selain itu, daun jumbai merupakan perlambangan dari daun cengkeh dan sulur-sulur pada motif ukiran Jepara menggambarkan tumbuhan cengkeh yang tumbuh subur di Jepara dan memberikan kontribusi kuat terhadap perkembangan perekonomian masyarakat Jepara. Di samping itu, sulur-sulur yang rumit melambangkan ketekunan, keuletan, dan kesungguhan para pengrajin dalam mengerjakannya karena dibutuhkan keterampilan yang tinggi (Gustami, 2000:194).

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa motif pada seni ukir di Jepara memiliki macam-macam motif antarannya motif tumbuhan dan hewan, dan ada beberapa unsur-unsur dalam motif ukir anataranya daun jumbai, bauh, dan relung atau lung.

Gambar 2.1 Gebyok khas Jepara

22 2.2 Kajian Penelitian Relevan

Berdasarkan penelitian yang sejenis dengan topik penelitian yang akan dilaksanakan, ada penelitian-penelitian terdahulu yang telah dilaksanakan. Berikut beberapa penelitian terkait yang akan dijadikan kajian pustaka dalam penelitian ini disajikan dalam tabel 1.

Tabel 1. Kajian Penelitian Relevan

No Nama

2019 Mengkaji konsep estetika dalam

2021 Mengkaji filosi seni pahat,

23

24 pembelajaran sains

5. Riandy Ramadhan

2019 Mendeskripsikan respon para mahasiswa Universitas Negeri Makassar dalam

berapresiasi seni terhadap suatu lukisan

Penelitian Riandy Ramadhan

mendukung

penelitian yang akan saya lakukan karena

mendeskripsikan seberapa besar orang

mengapresiasi suatu karya seni

Riandy Ramadhan menleiti respon mahasiswa dalam mengapresiasikan karya seni lukisan

25 2.3 Kerangka Berpikir

Persepsi merupakan proses yang menyangkut masuknya peran atau suatu informasi ke dalam otak manusia (Slamet, 2010: 102). Dengan persepsi manusia saling berhubungan dengan lingkungannya. Hubungan tersebut dapat dilakukan dengan inderanya, yaitu indera penglihatan, pendengaran, peraba, perasa, dan penciuman manusia. Sedangkan menurut (Sugiharto,2007: 8) persepsi adalah kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk menerjemahkan/menginterepretasi stimulus yang masuk ke dalam alat indera mereka.

Apresiasi merupakan suatu pengahayatan atau penghargaan terhadap suatu karya seni tertentu apresiasi juga merupakan sebuah bagian dari kegiatan berkesenian, maka setiap manusia dapat berapresiasi dan masing-masing individu tidaklah sama dalam berapresiasi, dengan adanya apresiasi berarti mereka memahami isi yang terkandung dalam suatu karya seni.

Seni Ukir/Gebyok merupakan salah satu seni rupa yang dibuat dengan cara pembuatan pola, pemahatan, pencukilan, pada sebuah media kayu tertentu yang hasil pahatan tersebut biasa di sebut gebyok oleh masyarakat Jepara. Ukiran kayu di Jepara memiliki ke khasan tersendiri mulai dari bahan baku yang digunakan teknik dan alat yang digunakan dan pola/motif yang biasa digunakan.

Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti melakukan studi pustaka untuk menambah pengetahuan sebagai bekal dalam melakukan wawancara dan studi pustaka mengenai persepsi anak dalam berapresiasi seni di masyarakat pengrajin gebyok ukir Jepara. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui kebenaran dan kesesuaian data yang telah di temukan.

26

Berikut ini merupakan bagan kerangka berpikir yang telah disusun dalam penelitian yang akan dilaksanakan

Gambar 2.2 Bagan Kerangka Berpikir Persepsi anak SD dalam berapresiasi

terhadap seni gebyok

Bagaimana proses persepsi anak dalam

berapresiasi seni di masyarakat pengrajin

gebyok ukir Jepara?

Persepsi anak dalam berapresiasi seni gebyok di desa Blimbing Rejo Jepara

Seni gebyok di Jepara

Bagaimana hasil persepsi anak dalam

berapresasi seni di masyarakat pengrajin

gebyok ukir Jepara?

Unsur-unsur estetika dan prinsipnya

Kepekaan inderawi

Bagaimana hasil persepsi anak dalam

berapresasi seni di masyarakat pengrajin

gebyok ukir Jepara?

27 2.4 Kerangka Teori

Kerangka teori merupakan keterkaitan antara teori yang digunakan sebagai dasar penelitian yang disajikan dalam bentuk bagan sebagai berikut.

Gambar 2.3 Bagan Kerangka Teori

Berdasarkan bagan diatas penggunaan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori estetika, apresiasi, perkembangan anak SD, teori belajar konstruktivisme, dan seni gebyok. Estetika adalah keindahan yang akan menghasilkan rasa terpesona dan kesenangan terhadap suatu karya seni, dari estetika nanti akan muncul respon apresiasi

Persepsi Anak dalam Berapresiasi Seni Gebyok di Desa Blimbing Rejo Jepara

Estetika

28

terhadap seni. Apresiasi seni sendiri adalah suatu perilaku menilai dan memahami suatu karya seni sesudah mengalami suatu proses estetik tadi setelah melalui proses tersebut akan mengalami sutu perkembangan pada anak. Perkembangan adalah suatu proses yang terdapat di dalam diri anak yang melalui proses secara berkesinambungan dan progresif dari proses perkembangan anak akan muncul respon teori belajar konstruktivisme. Teori belajar konstruktivisme adalah suatu sistem diamana siswa beradaptasi dan memperbaiki pengetahuan mereka dari proses melalui teori belajar tersebut akan mengahasilkan respon terhadap seni gebyok. Seni gebyok adalah seni rupa yang terbuat dari kayu ukiran dibuat dengan beberapa teknik khusus dab gebyok merupakan ciri khas kota Jepara.

29 BAB III

METEDOLOGI PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Menentukan tempat penelitian merupakan hal penting sebelum melakukan sebuah penelitian. Pemilihan tempat penelitian dilakukan untuk mengetahui kondisi tempat penelitian. Penelitian ini dilakukan di desa Blimbing Rejo, kecamatan Nalumsari, kabupaten Jepara. Adapun waktu penelitian direncanakan pada bulan Februari 2022.

3.2 Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, penelitian kualiatif adalah suatu proses penelitian untuk memahami fenomena-fenomena manusia atau sosial dengan menciptakan gambaran yang menyeluruh dan kompleks yang dapat disajikan dengan kata-kata, melaporkan pandangan terinci yang diperoleh dari sumber informasi, serta dilakukan dalam latar setting yang alamiah (Walidin, Saifullah & Tabrani, 2015: 77). Penelitian ini akan mengamati bagaimana persepsi anak dalam berapresiasi seni gebyok di desa Blimbing Rejo Jepara.

Penelitian kualitatif ini dilaksanakan menggunakan beberapa informasi untuk memahami respons yang terjadi terhadap persepsi anak dalam berapresiasi seni gebyok di desa Blimbing Rejo Jepara. Degan adanya informasi yang berbeda beda dan luas dari masing-masing anak, peneliti dapat menggali informasi secara intens mengenai respons anak-anak terhadap gebyok ukir Jepara.

Karakteristik penelitian kualitatif yaitu dilaukan pada kondisi yang alamiah, langsung ke sumber data dan peneliti adalah instrumen kunci, penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif. Data yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada angka, penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses daripada produk, penelitian kualitatif melakukan analisis data secara induktif dan lebih menekankan makna dibalik data yang diamati (Bogan dan Biklen, 1982).

Dengan karaketristik tersebut maka penelitian dilaukan secara mendalam dan dengan hati-hati mencatat suatu fenomena yang ditemukan, melakukan analisis dokumen yang didapatkan, dan menyusun sebuah laporang yang detail.

30

Dalam penelitian kualitatif penelitilah yang menjadi instrumen dalam penelitian utama, karena dimana permasalahan yang belum jelas dan pasti belum mempunyai fokus penelitian, prosedur penelitian, hipoteisis yang digunaan, bahkan hasil yang diharapkan, itu semua belum dapat dipastikan dengan jelas maka dari itu penelitilah satu-satunya yang dapat mencapainya menurut (Nasution 1988) Karena data merupakan komponen yang sangat penting dalam penelitian ini kareana data tersebut yang akan menjadi sumber menganalisis data yang nantinya akan ditarik kesimpulannya. Sehingga data yang akan diperoleh dalam penelitian ini harus memenuhi syarat keabsahan data. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi anak dalam berapresiasi seni di masyarakat pengrajin gebyok ukir Jepara.

Pada penelitian ini peneliti menggunakan jenis pendekatan naratif, menurut (Daliman, 2014) pendekatan naratif/Historis merupakan suatu metode dalam riset ilmu sosial, untuk membantu memahami identitas dan pandangan dunia seseorang dengan mengacu pada cerita-cerita (narasi) yang didengarkan atau dituturkan. Dapat dikatakan juga sebagai proses penyelidikan secara kritis terhadap peristiwa masa lalu dan menghasilkan deskripsi/narasi serta penafsiran yang tepat, benar mengenai peristiwa-peristiwa. Biasanya teknik yang digunakan adalah heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi sedangkan menurut (Franzosi, 1998) Teks naratif mengandung banyak informasi sosiologis, dan banyak bukti empiris kami dalam bentuk naratif. Menurut (Clandinin dan Connelly, 2000) prosedur penelitian naratif sebagai berikut: menentukan masalah atau problem terkait penelitian yang akan dilaksanakannya, memfokuskan pada seorang individu tunggal, mengumpulkan informasi tentang konteks dari cerita atau pengalaman yang disampaikan partisipan, peneliti menyusun kembali cerita yang didapat dalam bentuk kronologi yang utuh, menganalisis data dan membuat laporan, dan membuat refleksi dari peneliti tentang proses dan hasil penelitiannya.

Berdasarkan uraian diatas untuk mendesain naratif dapat digambarkan dalam bentuk bagan seperti berikut.

31

Gambar 2. Bagan Penelitian Naratif Menentukan Masalah

Persepsi anak dalam berapresiasi seni gebyok

Pengalaman anak dalam proses pembuatan gebyok

Respon anak tentang gebyok

Respon anak terhadap fenomena covid-19 Partisipasi anak

dalam pembuatan gebyok

Pengumpulan data:

1. Observasi 2. Wawancara 3. Dokumentasi

Respon orang tua tentang gebyok

Analisis Data

Penyajian Data

Kesimpulan Peneliti

Hasil Penelitian

Verifikasi Reduksi Data

Nilai apresiasi apa saja yang di apresiasikan seni

gebyok Hasil persepsi anak

dalam berapresiasi seni gebyok

32 3.3 Peranan Penelitian

Peranan peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai instrumen dan pengumpul data. Saat pertama kali memasuki lingkungan penelitian, peneliti sebagai penghubung antara informan dengan obyek yang akan diteliti. Saat penelitian berlangsung, peneliti berperan sebagai pendamping informan untukmemudahkan peneliti memperoleh data melalui observasi dan wawancara kepada informan serta memperoleh dokumentasi baik hasil karya maupun foto selama kegiatan penelitian berlangsung. Peneliti bertanggung jawab penuh dengan segala penelitian yang dilakukan, seorang peneliti harus mampu menjadi perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis, dan menjadi pelapor hasil penelitian yang telah dilakukan.

3.4 Data dan Sumber Data 3.4.1 Data

Data dalam penelitian pada dasarnya terdiri dari semua informasi atau bahan yang disediakan alam yang harus dicari, dikumpulkan dan dipilih oleh peneliti. Data bisa terdapat pada segala sesuatu apa pun yang menjadi bidang dan sasaran penelitian (Subroto, 1992:34). Dalam penelitian ini data kualitatif yang dibutuhkan adalah data hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Selain itu dapat menggunakan data tertulis yang diperoleh dari para ahli dan penelitian-penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini.

Dalam penelitian ini peneliti melakukan observasi langsung ke rumah anak SD yang orang tuanya pengrajin gebyok di desa Blimbing Rejo, selain itu peneliti melakukan wawancara dengan beberapa pertanyaan yang sudah dibuat peneliti tentang gebyok ke narasumber disini peneliti mewawancarai anak SD dan orang tua pengrajin gebyok di desa Blimbing Rejo, untuk dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa foto dengan narasumber.

3.4.2 Sumber Data

Perlunya pemahaman tentang berbagai sumber data sangatlah penting bagi peneliti, sebab ketepatan dalam memilih dan menentukan sumber data akan menentukan ketepatan, kedalaman, dan kelayakan informasi yang akan diperoleh nantinya, menurut (Sutopo, 2006:103) jika penelitian kurang

33

memahami prosesnya secara utuh dapat mengakibatkan munculnya simpulan yang kurang dapat dipertanggungjawabkan secara mantab.

Penelitian ini dilakukan terhadap anak-anak sekolah dasar anak dari para pengrajin gebyok di desa Blimbing Rejo. Adapun sampel sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Sumber Data Anak-anak SD desa Blimbing Rejo

No Nama Kelas

1 FTN I

2 SRA II

3 HN III

4 FDH V

5 FDL VI

3.5 Pengumpulan Data 3.5.1 Observasi

Observasi menurut Asyari (1983) adalah suatu pengamatan yang khusus dan pencatatan yang simetris yang ditunjukkan pada satu atau beberapa fase masalah dalam rangka penelitian, dengan maksud untuk mendapatkan data yang diperoleh untuk pemecahan masalah yang dihadapi.

Dalam penelitian ini observasi dilakukan untuk mengetahui keadaan awal di lapangan . observasi diawal dengan melakukan pengamatan secara langsung tentang keadaan anak-anak berkaitan berkaitan dengan pendidikan seni dan pemahaman anak tentang seni gebyok yang terdapat dilingkungan mereka. Keadaan yang diamati adalah persepsi dalam berapresiasi seni gebyok, perkembangan anak memahami seni gebyok. Sehingga dapat dijadikan pertimbangan dalam penelitian yang akan dilakukan.

3.5.2 Wawancara

Menurut Arikunto (1993) Wawancara adalah sebuah diaolog yang digunakan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara.

Sedangkan menurut Esterberg (2002) wawancara adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu.

34

Dalam penelitian ini wawancara bertujuan untuk mengumpulkan data mengenai persepsi anak dalam berapresiasi seni gebyok yang dituangkan melalui wawancara. Wawancara dilakukan kepada anak dan orang tua pengrajin gebyok untuk mengetahui persepsi anak dalam berapresiasi seni gebyok secara mendalam. Wawancara dilakukan kepada anak-anak SD dan orang tua pengrajin gebyok di desa Blimbing Rejo kecamatan Nalumsari kabupaten Jepara. Anak dan orang tua diminta untuk menyampaikan pemikiran mereka mengenai seni gebyok.

3.5.3 Dokumentasi

Moleong (1990: 161) menjelaskan bahwa semua dokumen yang berkaitan dengan topik penelitian, dapat dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, dan bahkan untuk meramalkan data dalam penelitian. Sedangkan menurut (Yin 2000:104) dokumen dapat memberikan rincian spesifik yang mengandung informasi dari sumber-sumber lain.

Dokumen merupakan pelengkap dalam penelitian kualitatif. Hasil penelitian akan dipercaya jika dilakukan oleh dokumen yang didapatkan peneliti. Dalam penelitian ini dokumentasi dapat berupa gambar gebyok yang dibuat pengarajin gebyok di desa Blimbing Rejo.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan hasil observasi, wawancara, pendapat responden, dan dokumentasi. Data dianalisis secara naratif kualitatif.

3.6 Keabsahan Data

Keabsahan data merupakan hal yang sangat penting dilakukan untuk mengetahui ketepatan data yang diperoleh dalam penelitian, dengan data yang dilaporkan oleh peneliti. Data dikatakan valid jika data yang diperoleh sama dengan data yang dilaporkan oleh peneliti. Berikut adalah uji keabsahan data dalam penelitian: Uji kredibilitas, uji transferabilitas, uji dependabilitas, uji konfirmabilitas.

3.6.1 Uji Kredibilitas

Teknik keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kreadibilitas triangulasi. Menurut (Moleong, 1990:178) Triangulasi adalah

35

teknik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data tersebut untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data yang bersangkutan.

Triangulasi sumber dilakukan untuk menguji kredibilitas data dengan cara mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber. Untuk menguji kredibilitas data tentang persepsi anak terhadap gebtok ukir maka sumber data berasal dari perkataan dan ekspresi anak saat melakukan wawancara.

Triangulasi teknik dilakukan untuk menguji kreadibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Untuk menguji kreadibilitas data tentang persepsi anak terhadap gebyok ukir maka teknik yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Triangulasi waktu digunakan untuk menguji kredibilitas data, dilakukan dengan mempertimbangkan waktu, karena waktu dapat mempengaruhi kredibilitas data. Maka untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan teknik lain dalam waktu berbeda. Untuk menguji kredibilitas data tentang persepsi anak terhadap gebyok ukir maka waktu yang digunakan adalah pagi, siang dan sore.

3.6.2 Uji Transferabilitas

Transferabilitas merupakan validitas ekternal dalam penelitian kualitatif. Validitas ekternal menunjukkan derajad ketepatan atau dapat diterapkan hasil penelitian ke populasi dimana sampel tersebut diperoleh, menurut (Sanafiah Faisal, 1990) Bila pembaca laporan penelitian memperoleh gambaran yang sedemikian jelasnya, suatu penelitian dapat diberlakukan atau transferabilitas, maka laporan tersebut memenuhi standar transferabilitas.

Maka dari itu agar orang lain memahami hasil penelitian kualitatif maka peneliti harus membuat laporan dan memberi urai yang jelas, rinci, sistematis, dan dapat dipercaya agar dapat diterapkan dipenelitian lain.

3.6.3 Uji Dependabilitas

Menurut Amzir (2014) kriteria dependabilitas sama dengan reliabiitas dalam penelitian kuantitatif. Pandangan kuantitatif tradisional tentang reliabilitas didasarkan pada asumsi replikabilitas (replicability) atau keterulangan (repeatabillity) atau keterulangan.

36 3.6.4 Uji Konfirmabilitas

Konfirmabilitas atau objektivitas, objektivitas seringkali dipertentangkan dengan subjektivitas. Dalam penelitian kualitatif tidak dapat dilakukan eksperimen untuk menguji objektivitas. Namun penelitian kualitatif harus berusaha untuk meperkecil faktor subjektivitas agar dapat menjauhi segala kemungkinan bias atau prasangka pada peneliti yang dilatarbelakangi pada hidup dan pendidikan, agama, kesukuan, status sosial, dan sebagainya.

Menurut (Creswell, 2007) penelitian kualitatif biasanya tidak menggunakan kata bias dalam penelitian; mereka akan mengatakan bahwa semua penelitian adalah interpretatif dan bahwa peneliti harus jadi reflektif diri mengenai perannya dalam penelitian, bagaimana dia menginterpretasikan temuan, dan sejarah personal dan politiknya yang membangun interpretasinya. Dengan demikian akurasi dan kredibilitas temuan adalah sangat penting menurut (Amzir, 2014).

3.7 Analisis Data

Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama dilapangan, dan setelah dilapangan. Nasution (1988) menyatakan analisis telah mulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan, dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian. Analisis data menjadi pegangan bagi penelitian selanjutnya sampai jika mungkin, teori yang

Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama dilapangan, dan setelah dilapangan. Nasution (1988) menyatakan analisis telah mulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan, dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian. Analisis data menjadi pegangan bagi penelitian selanjutnya sampai jika mungkin, teori yang

Dokumen terkait