• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Estimasi Nilai Paparan

Estimasi nilai paparan adalah nilai migrasi yang diperkirakan terjadi dari kemasan ke dalam pangan terkemas dan kemudian dikonsumsi oleh tubuh. BPA dikatakan terpapar ke dalam pangan apabila dalam pangan yang dikemas ditemukan kandungan BPA. BPA sendiri merupakan salah satu bahan tambahan dalam pembuatan plastik yang digunakan untuk menguatkan plastik polikarbonat. Botol susu yang dibuat dari plastik polikarbonat juga menggunakan BPA sebagai bahan baku pembentuknya. BPA dalam botol susu polikarbonat ini bukan tidak mungkin dapat terlepas dan mengkontaminasi pangan yang disimpan dalam botol susu. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terlepasnya BPA dari polikarbonat, seperti perlakuan pencucian botol, frekuensi pemakaian botol, dan perlakuan pemanasan pada botol. Kontaminasi BPA dari botol susu polikarbonat ini dapat dihitung melalu estimasi nilai paparan BPA. Beberapa hal yang mempengaruhi nilai paparan BPA, antara lain besarnya porsi dan frekuensi konsumsi dengan menggunakan botol polikarbonat, jenis pangan yang dikonsumsi dari botol, kadar residu BPA yang bermigrasi ke pangan, dan berat badan pengkonsumsi. Porsi dan frekuensi konsumsi berbanding lurus dengan nilai paparan. Artinya, semakin besar porsi dan frekuensi konsumsi terhadap penggunaan botol, maka nilai paparan BPA dari botol pun akan semakin tinggi dan sebaliknya, semakin kecil porsi dan semakin jarangnya frekuensi konsumsi, maka nilai paparan juga akan semakin rendah. Berat badan berbanding terbalik dengan nilai paparan, semakin besar berat badan pengkonsumsi air dan ASI dari botol susu polikarbonat, maka akan semakin rendah nilai paparan BPAnya. Estimasi nilai paparan BPA dari botol susu polikarbonat kemudian dihitung berdasarkan jenis pangan yang dikonsumsi.

4.2.1. Estimasi nilai paparan BPA pada air

Estimasi nilai paparan BPA pada air atau paparan diet harian dihitung dengan cara mengkalikan besar konsumsi pangan dengan batas residu BPA terhadap berat badan anak yang mengkonsumsi air dari botol susu polikarbonat. Besar konsumsi pangan didapat dari frekuensi minum anak dalam satu hari dan seberapa besar porsi sekali minum. Batas residu BPA untuk air yang

39

digunakan sebesar 0,1µg/L atau setara dengan 0,1 ppb. Penentuan batas ini berdasarkan penelitian Brede (2003) yang berjudul Increased migration levels of bisphenol A from polycarbonate baby

bottles after dishwashing, boiling and brushing dimana pengujian dilakukan dengan menggunakan

GCMS terhadap botol susu yang diisi dengan air, menghasilkan nilai migrasi spesifik air pada BPA sebesar 0,1µg/L atau sebesar 0,0001 ppm.

Dalam estimasi nilai paparan ini, diasumsikan bahwa telah terjadi 100% migrasi BPA ke dalam pangan yang dikonsumsi untuk menunjukkan kemungkinan terburuk dari terlepasnya paparan BPA. Dari hasil survei yang dilakukan di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Bogor menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi pangan (air) adalah 0,232 liter dalam satu hari. Berat badan rata-rata anak yang mengkonsumsi air dari botol susu polikarbonat sebesar 10 kg. Dari informasi tersebut, kemudian dilakukan perhitungan nilai paparan diet sehingga didapat estimasi nilai paparan BPA dari botol susu polikarbonat ke dalam air sebesar 0,000002 ppm atau setara dengan 0,000002 mg/kg berat badan/hari. Berdasarkan peraturan Kepala Badan POM tahun 2012, batas toleransi BPA adalah 0,029 mg/kg berat badan/hari. Nilai paparan BPA pada air jauh lebih kecil dibandingkan standar toleransi atau Total Daily Intake (TDI) yang ditetapkan oleh BPOM RI. Menurut standar internasional yang dibuat oleh European Food Safety Authority (EFSA) pada tahun 2006, harga asupan harian yang dapat ditoleransi oleh tubuh atau tolerable daily intake (TDI) BPA sebesar 0,05 mg/kg berat badan/hari. Jika dibandingkan dengan standar EFSA, nilai estimasi paparan BPA pada air juga jauh lebih kecil. Artinya penggunaan botol susu polikarbonat untuk air masih aman digunakan

Studi menunjukkan bahwa pada dosis yang sangat rendah, 6µg/L atau setara dengan 6 ppb atau 0,006 ppm BPA dapat mengakibatkan pertumbuhan abnormal sel endometrium diluar rahim, yang dapat mengakibatkan kemandulan pada wanita. Pada Laki-laki, BPA dapat menyebabkan berkurangnya produksi sperma dan kanker testis. BPA sangat beresiko pada anak-anak yang kemampuan hormonnya masih belum seimbang. Ditambah lagi konsumen BPA terbesar adalah anak-anak, karena penggunaan BPA banyak terdapat pada botol susu anak. Batas migrasi BPA yang ditetapkan di uni eropa untuk botol susu bayi adalah 3 mg/kg (ppm) pangan (Sun, C.L., 2003).

4.2.2. Estimasi nilai paparan BPA pada ASI

Estimasi nilai paparan BPA pada ASI dihitung dengan cara yang sama dengan perhitungan estimasi nilai paparan BPA pada air. Hal yang membedakan hanya nilai batas residu BPA yang digunakan. Sebuah penelitian mengenai migrasi BPA yang dilakukan di Inggris, menganalisa kandungan BPA pada botol susu polikarbonat yang telah disterilisasi sebanyak 50 kali dengan menggunakan dishwasher. Pengujian dilakukan dengan menginkubasi botol yang berisi etanol 10% selama satu jam pada suhu 70°C. Larutan etanol 10% diasumsikan sebagai simulan pangan pengganti susu. Setelah dilakukan tiga kali pengulangan inkubasi, migrasi spesifik BPA yang terdeteksi sebanyak kurang dari 1,1 µg/L (CSL, 2004). Atas dasar penelitian yang telah dilakukan CSL (2004), maka nilai residu BPA pada ASI yang digunakan adalah sebesar 1,1 µg/L atau 1,1 ppb yang setara dengan 0,0011 ppm.

Dari hasil survei yang dilakukan, rata-rata konsumsi pangan (ASI) dalam satu hari adalah sebesar 0,38 liter. Berat badan rata-rata anak yang mengkonsumsi air dari botol susu polikarbonat sebesar 8,5kg. Dari informasi tersebut, kemudian dilakukan perhitungan paparan diet sehingga didapat estimasi nilai paparan BPA dari botol susu polikarbonat ke dalam ASI sebesar 0,00005 ppm atau setara dengan 0,00005 mg/kg berat badan/hari. Sama seperti nilai estimasi BPA pada air, nilai estimasi BPA pada ASI juga lebih kecil dibandingkan standar EFSA dan BPOM RI. Artinya penggunaan botol susu polikarbonat untuk ASI masih dalam batas aman digunakan. Akan tetapi,

40

kemungkinan BPA terpapar juga tetap ada, meski hanya dalam jumlah kecil. Hal ini disebabkan perlakuan sterilisasi dan penyiapan serta penyimpanan ASI yang mengharuskan ASI mengalami kontak dengan botol susu polikarbonat untuk waktu yang lama dan suhu yang ekstrim. Suhu sterilisasi yang ekstrim dan lama kontak yang lama dapat memicu BPA terpapar.

Beberapa studi menunjukkan keterkaitan antara BPA dengan beberapa penyakit berbahaya yang dapat merusak fungsi normal sel, gangguan otak, kardiovaskuler, abnormalitas jantung, dan lainnya. Walaupun jumlah resiko paparannya masih diperdebatkan, akan tetapi beberapa negara telah melakukan pengurangan penggunaan BPA dalam industri plastik. Terdapat banyak negara yang telah dengan tegas melakukan pelarangan produksi plastik polikarbonat dari BPA, antara lain Amerika Serikat, Minnesota, dan Chicago. Kanada adalah negara yang pertama kali melarang penjualan botol plastik yang mengandung BPA. Sementara Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (US FDA) merekomendasikan untuk tidak menggunakan botol plastik polikarbonat yang mengandung BPA untuk menampung susu atau pangan lain untuk bayi. Beberapa negara lainnya masih mentoleransi penggunaan botol polikarbonat selama jumlah paparannya di bawah batas Tolerable

Daily Intake (TDI). Menurut penelitian yang dilakukan oleh National Toxicology Program European Commission (1997), BPA juga ditemukan pada susu formula bayi. Diperkirakan sumbernya berasal

dari migrasi botol susu polikarbonat. Akan tetapi jumlahnya masih dianggap dalam kategori aman, karena berada di bawah nilai Tolerable Daily Intake (TDI), yang nilainya sebesar 0,05 mg/kg berat badan. Menurut Wheteril et al., (2007), paparan BPA bahkan dengan kadar rendah sekalipun tetap berpotensi mengubah fungsi sel tubuh. BPA juga terbukti dapat mengendap di dalam hati, usus, dan ginjal untuk jangka waktu beberapa hari.

Untuk meminimalisir pelepasan BPA pada botol susu polikarbonat, sebaiknya perlu dilakukan penyuluhan agar masyarakat tidak memanaskan air di dalam botol polikarbonat saat menyiapkan ASI perah atau susu formula dan menghindari mengisi air panas langsung ke dalam botol. Dalam proses pencucian botol, sebaiknya menggunakan cairan sabun yang memang khusus diperuntukkan untuk peralatan bayi karena sabun khusus tersebut telah dibuat dengan pH yang disesuaikan terhadap produk bayi. Penggunaan sabun cuci yang sembarangan sangat berbahaya, karena cairan sabun yang keras akan memicu lepasnya BPA dari botol. Penyikatan botol saat pencucian juga perlu diperhatikan. Sebaiknya menggunakan sikat yang halus agar gesekan yang terjadi antara sikat dengan botol tidak sampai menyebabkan lepasnya BPA. Sebaiknya, perlu dilakukan juga penyuluhan agar masyarakat lebih memilih menggunakan botol susu BPA free.

Dokumen terkait