IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Survei Konsumsi Pangan
Hal yang diharapkan dari survei konsumsi pangan ini adalah data konsumsi pangan yang digunakan untuk menghitung estimasi besarnya paparan bisphenol-A (BPA) pada air dan ASI dalam botol susu polikarbonat yang menjadi tujuan utama dari penelitian ini. Survei konsumsi pangan ini juga memberi gambaran informasi sebaran responden yang menggunakan botol polikarbonat untuk menyimpan ASI dan air untuk bayi. Rekapan hasil survei untuk responden yang menyimpan ASI dan air dalam botol polikarbonat dapat dilihat pada Lampiran 2 dan 3. Informasi mengenai pengguna atau pengkonsumsi ASI dan air dalam botol susu polikarbonat dikelompokan berdasarkan tingkat pendidikan responden, pekerjaan responden, cara sterilisasi botol, brand botol, tempat penyimpanan botol, cara penyiapan ASI, jenis kelamin anak, usia anak, berat badan anak, frekuensi dan lama minum anak, serta volume botol yang digunakan. Pengelompokan ini dilakukan untuk mempermudah melihat sebaran pengguna botol susu polikarbonat. Informasi ini dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam upaya antisipasi terjadinya migrasi BPA yang melebihi batas konsumsi tubuh anak.
4.1.1. Sebaran responden berdasarkan tingkat pendidikan
Hasil survei di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Bogor menunjukkan bahwa 91 responden menyimpan air di dalam botol susu polikarbonat. Dari 91 responden tersebut didapat beragam tingkat pendidikan, sehingga perlu dilakukan pengelompokan untuk memudahkan analisa tingkat pendidikan responden terhadap penggunaan botol susu polikarbonat. Dari hasil survei tersebut, didapat jumlah responden dengan tingkat pendidikan SD sebanyak satu orang, SMP sebanyak lima orang, SLTA sebanyak 28 orang, S0 (D1 dan D3) sebanyak 25 orang, S1 sebanyak 29 orang, dan S2 sebanyak tiga orang. Selanjutnya, di wilayah yang sama dilakukan juga survei terhadap responden yang menyimpan ASI di dalam botol susu polikarbonat. Survei tersebut menghasilkan 72 responden dengan tingkat pendidikan SLTA, S0, S1, dan S2. Responden yang menyimpan ASI dalam botol susu polikarbonat dengan tingkat pendidikan SLTA sebanyak 19 orang, S0 sebanyak 13 orang, S1 sebanyak 36 orang, dan S2 sebanyak empat orang. Data sebaran tingkat pendidikan responden dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Tingkat pendidikan responden
Pendidikan Responden Pengguna botol PC untuk menyimpan air (orang) Persentase pengguna botol PC untuk menyimpan air (%) Pengguna botol PC untuk menyimpan ASI (orang) Persentase pengguna botol PC untuk menyimpan ASI (%) SD 1 1 0 0 SMP 5 6 0 0 SLTA 28 31 19 26 S0 25 27 13 18 S1 29 32 36 50 S2 3 3 4 6 Total 91 100 72 100
13
Dari data tersebut, dapat diketahui sebaran responden berdasarkan tingkat pendidikannya. Persentase tingkat pendidikan responden yang menyimpan air antara lain, responden dengan tingkat pendidikan SD sebesar 1%, SMP sebesar 6% SLTA sebesar 31%, S0 sebesar 27%, S1 sebesar 32% dan S2 sebesar 3%. Persentase tersebut memberi gambaran bahwa responden yang paling banyak menyimpan air di dalam botol susu polikarbonat adalah responden dengan tingkat pendidikan S1. Pada survei terhadap responden yang menyimpan ASI dalam botol susu polikarbonat, didapat persentase tingkat pendidikan responden antara lain, responden dengan tingkat pendidikan SLTA sebesar 26%, S0 sebesar 18%, S1 sebesar 50% dan S2 sebesar 6%. Persentase tersebut memberi gambaran bahwa responden yang paling banyak menyimpan ASI di dalam botol susu polikarbonat adalah responden dengan tingkat pendidikan S1, selanjutnya adalah responden dengan tingkat pendidikan SLTA dan S0. Sebaran tingkat pendidikan responden yang menyimpan air dan ASI dalam botol susu polikarbonat dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Gambar 4.1. Sebaran tingkat pendidikan responden yang menyimpan air dan ASI dalam botol susu polikarbonat
Secara keseluruhan, dari responden yang disurvei di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Bogor menunjukkan bahwa yang paling banyak menggunakan botol susu polikarbonat untuk menyimpan air dan ASI adalah responden dengan tingkat pendidikan S1. Persentase sebesar 32% untuk responden S1 yang menyimpan air putih dalam botol susu polikarbonat dan sebesar 50% untuk responden yang menyimpan ASI dalam botol susu polikarbonat. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang tinggi tidak memberi jaminan untuk bebas dari resiko paparan zat berbahaya BPA yang terkandung dalam polikarbonat. Tingkat pendidikan yang tinggi seharusnya mempengaruhi pemahaman terkait penggunaan polikarbonat. Akan tetapi ketidakpedulian masyarakat terhadap isu BPA yang terkandung dalam botol dan juga terjangkaunya harga botol susu polikarbonat menyebabkan penggunaan botol susu polikarbonat masih sangat umum. Untuk itu diperlukan penyuluhan terhadap semua kalangan, baik kalangan berpendidikan maupun masyarakat luas mengenai bahaya paparan BPA yang terkandung dalam botol susu polikarbonat.
4.1.2. Sebaran responden berdasarkan pekerjaan
Berdasarkan hasil survei, terdapat beragam jenis pekerjaan pengguna botol PC, antara lain ibu rumah tangga, karyawan, guru, perawat, dosen, pegawai bank, dan pedagang sehingga perlu dilakukan pengelompokan untuk memudahkan analisa jenis pekerjaan responden terhadap penggunaan botol
14
susu polikarbonat. Jenis pekerjaan responden kemudian dikelompok menjadi empat kelompok, yaitu ibu rumah tangga, karyawan swasta, PNS dan wiraswasta. Dari hasil survei terhadap 91 responden yang menyimpan air dalam botol susu polikarbonat, didapat jumlah responden dengan jenis pekerjaan ibu rumah tangga sebanyak 49 orang, karyawan swasta sebanyak 18 orang, PNS sebanyak 16 orang dan wiraswasta sebanyak delapan orang. Survei juga dilakukan terhadap responden yang menyimpan ASI di dalam botol susu polikarbonat. 72 responden tersebut juga dikelompokkan menjadi empat kelompok pekerjaan, yaitu ibu rumah tangga, karyawan swasta, PNS dan wiraswasta. Dari hasil survei didapat jumlah responden ibu rumah tangga yang menyimpan ASI dalam botol susu polikarbonat sebanyak 20 orang, karyawan swasta sebanyak 25 orang, PNS sebanyak 16 orang, dan wiraswasta sebanyak 11 orang. Data sebaran jenis pekerjaan responden dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2. Jenis pekerjaan responden
Dari data tersebut, dapat diketahui persentase jenis pekerjaan responden yang menyimpan air dalam botol susu polikarbonat antara lain, responden ibu rumah tangga sebesar 54%, karyawan swasta sebesar 20%, PNS sebesar 17% dan wiraswasta sebesar 9%. Persentase tersebut memberi gambaran bahwa responden yang paling banyak menyimpan air putih di dalam botol susu polikarbonat adalah responden ibu rumah tangga, selanjutnya adalah responden yang bekerja sebagai karyawan swasta dan PNS. Pada survei terhadap responden pengguna ASI dalam botol susu polikarbonat, didapat persentase jenis pekerjaan responden antara lain, responden ibu rumah tangga sebesar 28%, karyawan swasta sebesar 35%, PNS sebesar 22% dan wiraswasta sebesar 15%. Persentase tersebut memberi gambaran bahwa responden yang paling banyak menyimpan ASI di dalam botol susu polikarbonat adalah karyawan swasta, selanjutnya ibu rumah tangga dan PNS. Sebaran jenis pekerjaan responden yang menyimpan air dan ASI dalam botol susu polikarbonat dapat dilihat pada Gambar 4.2.
Gambar 4.2. Sebaran jenis pekerjaan responden yang menyimpan air dan ASI dalam botol susu polikarbonat Pekerjaan Responden Pengguna botol PC untuk menyimpan air (orang) Persentase pengguna botol PC untuk menyimpan air (%) Pengguna botol PC untuk menyimpan ASI (orang) Persentase pengguna botol PC untuk menyimpan ASI (%) Ibu Rumah Tangga 49 54 20 28 Swasta 18 20 25 35 PNS 16 17 16 22 Wiraswasta 8 9 11 15 Total 91 100 72 100
15
Secara keseluruhan, dari responden yang disurvei di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Bogor menunjukkan bahwa yang paling banyak menggunakan botol susu polikarbonat untuk menyimpan air adalah ibu rumah tangga sebesar 54%, dan 46% sisanya adalah ibu pekerja yang 20%-nya merupakan karyawan swasta, sedangkan yang paling banyak menggunakan botol susu polikarbonat untuk menyimpan ASI adalah ibu pekerja sebesar 72% dimana 35 %-nya merupakan karyawan swasta, selanjutnya adalah ibu rumah tangga sebesar 28%. Hal ini menunjukkan bahwa responden yang bekerja di luar rumah maupun yang tidak bekerja di luar rumah memiliki kemungkinan yang sama untuk terkontaminasi paparan zat berbahaya BPA yang terkandung dalam polikarbonat. Kekurangtahuan masyarakat mengenai bahaya BPA dan penjualan botol susu polikarbonat yang menyebar di Indonesia menyebabkan penggunaan botol susu polikarbonat dianggap hal yang biasa. Dari sisi ekonomi, harga botol susu polikarbonat yang murah dan dapat dijangkau oleh semua kalangan masyarakat juga menyebabkan konsumsi terhadap botol susu jenis ini lebih diminati oleh masyarakat kecil sampai masyarakat dengan tingkat penghasilan menengah keatas. Untuk itu penyuluhan mengenai bahaya paparan BPA yang terkandung dalam botol susu polikarbonat perlu dilakukan secara menyeluruh, baik di kantor-kantor maupun di perumahan masyarakat untuk menghindarkan masyarakat dari penggunaan botol susu polikarbonat.
4.1.3. Sebaran branded botol susu polikarbonat
Brand atau merk dagang merupakan hal yang sangat penting dalam penjualan suatu produk.
Merk dagang adalah suatu identitas perusahaan yang dibuat untuk membedakan produknya dengan produk pesaing. Pencitraan dari perusahaan pembuat produk akan mempengaruhi pamor produk tersebut. Semakin baik citra perusahaan atau semakin terkenal nama perusahaan, maka merk dagang yang digunakan oleh perusahaan tersebut juga akan lebih dipercaya oleh konsumen. Kepercayaan konsumen terhadap merk dagang suatu produk akan mempengaruhi keinginan konsumen dalam mengkonsumsi produk tersebut. Oleh karena itu, merk dagang sangat mempengaruhi tingkat penjualan produk. Pada penelitian ini akan dilihat sebaran merk dagang botol susu polikarbonat yang biasa dikonsumsi oleh responden. Untuk mempermudah analisa, merk dagang botol susu akan dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu botol susu dengan merk A, merk B dan merk C.
Berdasarkan hasil survei, dari 91 responden yang menggunakan botol untuk menyimpan air, didapat jumlah botol susu polikarbonat yang digunakan dengan merk dagang A sebanyak 70 botol, merk dagang B sebanyak 17 botol, dan merk dagang C sebanyak empat botol. Survei juga dilakukan terhadap 72 responden yang menyimpan ASI di dalam botol susu polikarbonat. Dari hasil survei didapat jumlah botol susu polikarbonat dengan merk dagang A yang digunakan untuk menyimpan ASI sebanyak 50 botol, merk dagang B sebanyak 20 botol, dan merk dagang C sebanyak dua botol. Data sebaran merk botol susu polikarbonat yang digunakan oleh responden dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3. Merk botol susu polikarbonat Merk
Botol
Jumlah botol PC yang digunakan untuk menyimpan air (buah)
Persentase botol PC yang digunakan untuk menyimpan air
(%) Jumlah botol PC yang digunakan untuk menyimpan ASI (buah) Persentase botol PC yang digunakan untuk menyimpan ASI (%) A 70 77 50 69 B 17 19 20 28 C 4 4 2 3 Total 91 100 72 100
16
Dari data tersebut, persentase botol susu polikarbonat yang banyak digunakan responden untuk menyimpan air adalah botol susu dengan merk dagang A sebesar 77%, merk dagang B sebesar 19%, dan merk dagang C sebesar 4%. Sedangkan persentase botol susu polikarbonat yang digunakan untuk menyimpan ASI antara lain, botol susu dengan merk dagang A sebesar 69%, merk dagang B sebesar 28% dan merk dagang C sebesar 3%. Persentase tersebut memberi gambaran bahwa botol susu polikarbonat yang paling banyak digunakan responden adalah botol susu dengan merk dagang A. Sebaran merk botol susu polikarbonat yang digunakan responden untuk menyimpan air dan ASI dapat dilihat pada Gambar 4.3.
Gambar 4.3. Sebaran merk botol susu polikarbonat yang digunakan untuk menyimpan air dan ASI Secara keseluruhan, dari responden yang disurvei di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Bogor menunjukkan bahwa botol susu polikarbonat yang paling banyak digunakan, baik untuk menyimpan air, maupun untuk menyimpan ASI adalah botol susu polikarbonat dengan merk dagang A sebesar 77% dan 69%. Hal ini menunjukkan bahwa merk dagang A merupakan botol susu polikarbonat dengan tingkat kepercayaan konsumen yang cukup baik. Selain tingkat kepercayaan masyarakat yang baik terhadap merk dagang ini, harga yang ditawarkan juga terjangkau, sehingga mayoritas masyarakat menggunakan botol susu polikarbonat dengan merk dagang A. Selanjutnya dilakukan perhitungan persentase sebaran tingkat pendidikan dan pekerjaan responden terhadap pemilihan brand botol. Persentase tingkat pendidikan dan pekerjaan responden yang menyimpan air dan ASI dalam botol terhadap pemilihan brand botol susu polikarbonat dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Brand botol A paling banyak digunakan untuk menyimpan air. Responden yang memilih brand
A untuk menyimpan air memiliki beragam tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan. Mulai dari tingkat pendidikan SD sampai tingkat pendidikan S2. Namun mayoritas responden yang menggunakan brand A, jika dilihat dari tingkat pendidikannya adalah tingkat pendidikan S1. Jika dilihat dari jenis pekerjaannya, mayoritas responden yang menggunakan brand A adalah responden dengan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Brand botol A paling banyak digunakan untuk menyimpan ASI. Responden yang memilih brand A untuk menyimpan ASI, memiliki tingkat pendidikan yang beragam, mulai dari tingkat pendidikan SLTA sampai tingkat pendidikan S2. Namun mayoritas responden yang menggunakan brand A, jika dilihat dari tingkat pendidikannya adalah tingkat pendidikan S1. Jika dilihat dari jenis pekerjaannya, mayoritas responden yang menggunakan brand A adalah responden karyawan swasta. Dari Tabel dapat diketahui bahwa responden penyimpan air dalam botol susu polikarbonat yang memilih brand A adalah responden dengan tingkat pendidikan S1 sebesar 33% dan pekerjaan ibu rumah tangga sebesar 53%. Untuk responden penyimpan ASI dalam
17
botol susu polikarbonat yang memilih brand A adalah responden dengan tingkat pendidikan S1 sebesar 50% dan karyawan swasta sebesar 40%.
Tabel 4.4. Tingkat pendidikan dan pekerjaan responden yang menyimpan air dan ASI dalam botol terhadap pemilihan brand botol susu polikarbonat
Merk Botol PC untuk Air
Total
Merk Botol PC untuk ASI
Total A B C A B C (n) (%) (n) (%) (n) (%) (n) (%) (n) (%) (n) (%) Pendidikan S2 3 4 3 4 8 4 S1 23 33 5 29 1 25 29 25 50 10 50 1 50 36 S0 20 29 4 24 1 25 25 8 16 5 25 13 SLTA 20 29 6 35 2 50 28 13 26 5 25 1 50 19 SMP 3 4 2 12 5 SD 1 1 1 Total 70 100 17 100 4 100 91 50 100 20 100 2 100 72 Pekerjaan Ibu RT 37 53 10 58 2 50 49 14 28 5 25 1 50 20 Swasta 15 21 3 18 18 20 40 5 25 25 PNS 13 19 1 6 2 50 16 10 20 5 25 1 50 16 Wiraswasta 5 7 3 18 8 6 12 5 25 11 Total 70 100 17 100 4 100 91 50 100 20 100 2 100 72
4.1.4. Sebaran responden berdasarkan cara sterilisasi botol susu
Sterilisasi botol susu dilakukan untuk menghindari kontaminasi bakteri dari pangan yang tersisa didalam botol. Biasanya sterilisasi ini dilakukan dengan pemanasan pada suhu tertentu untuk mematikan bakteri yang ada. Ada banyak cara untuk mensterilisasi botol susu antara lain, dengan mencuci botol susu menggunakan sabun, merebus botol susu, merendam botol susu dalam air panas, atau menggunakan uap panas dari mesin seperti steamer. Suhu dan lama waktu sterilisasi mempengaruhi terjadinya pengikisan lapisan plastik polikarbonat pada botol susu. Hal ini harus diperhatikan mengingat kikisan tersebut dapat terlarut dalam air dan ASI. Biedermann-Brem dan Grob (2009) mempelajari pengaruh suhu terhadap migrasi BPA dalam air ledeng, hasil penelitian menunjukan bahwa konsentrasi BPA dalam air ledeng pada suhu 50°C sebesar <0.0001 mg/l meningkat menjadi 0.0006 mg/l ketika air mendidih. Kemudian konsentrasi BPA dalam air pada pH 9.5 (50o
Untuk mempermudah analisis, cara sterilisasi botol susu polikarbonat kemudian dikelompokkan menjadi tiga cara, yaitu dengan cara merebus botol dalam air dengan suhu 100 ºC, merendam botol ke dalam air panas dengan suhu sekitar 70ºC, dan sterilisasi dengan menggunakan
steamer. Dari hasil survei terhadap 91 responden yang menggunakan botol susu polikarbonat untuk
C) sebesar <0.002 mg/l meningkat menjadi 0.033 mg/l ketika air mendidih. Menurut Biles et
al. (1997), konsentrasi terbesar migrasi BPA dari kemasan polikarbonat dalam air deionisasi dan air
ledeng adalah sebesar 1 mg/l pada suhu 65°C selama 10 hari. BPA akan sangat mudah bermigrasi apabila suhunya dinaikkan atau dipanaskan. Sementara botol susu dalam penggunaannya selalu bersentuhan panas baik untuk sterilisasi dengan cara direbus, dipanaskan dengan microwave, hingga dituangi air mendidih atau air panas. Pemanasan botol, kondisi makanan yang panas dalam botol, atau keberadaan makanan atau minuman asam, serta pencucian yang berulang pada botol polikarbonat dapat meningkatkan lepasnya monomer BPA dari botol.
18
menyimpan air, didapat sebanyak 75 orang responden yang mensterilisasi botol susu polikarbonat dengan cara direbus, sebanyak 12 orang dengan cara merendam botol dalam air panas dengan suhu sekitar 70ºC, dan empat orang sisanya menggunakan steamer. Selanjutnya, dari 75 responden yang menggunakan botol susu polikarbonat untuk menyimpan ASI, didapat sebanyak 52 orang responden yang mensterilisasi botol susu polikarbonat dengan cara direbus, sebanyak 14 orang dengan cara merendam botol dalam air panas dengan suhu sekitar 70ºC, dan enam orang menggunakan steamer. Data cara sterilisasi botol susu polikarbonat dapat dilihat pada Tabel 4.5.
Tabel 4.5. Cara sterilisasi botol susu polikarbonat
Dari data tersebut didapat persentase sebaran responden berdasarkan cara sterilisasi botol susu polikarbonat. Botol susu polikarbonat yang digunakan untuk menyimpan air, sebesar 83% disterilisasi dengan cara direbus, sebesar 13% disterilisasi dengan cara direndam dalam air panas, dan sebesar 4% disterilisasi dengan menggunakan steamer. Botol susu polikarbonat yang digunakan untuk menyimpan ASI, sebesar 72% disterilisasi dengan cara direbus, sebesar 20% disterilisasi dengan cara direndam dalam air panas, dan sebesar 8% disterilisasi dengan menggunakan steamer. Dari sebaran tersebut dapat dilihat bahwa sebagian besar responden mensterilisasi botol susu polikarbonat dengan cara merebusnya. Secara keseluruhan, dari responden yang disurvei di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Bogor menunjukkan bahwa cara sterilisasi botol susu polikarbonat yang paling banyak dilakukan adalah direbus. Persentase sebesar 83% untuk botol yang digunakan untuk menyimpan air dan sebesar 72% untuk botol yang digunakan untuk menyimpan ASI. Cara sterilisasi botol dengan merebusnya merupakan cara yang umum dilakukan untuk menghilangkan bakteri dari pangan yang tersisa didalam botol. Perlakuan ini sebenarnya cara paling baik karena bakteri pembawa penyakit dapat mati jika dipanaskan pada suhu 100ºC. Akan tetapi, yang perlu dihindari bukan bakteri saja. Bahaya paparan BPA dalam botol susu polikarbonat juga harus dihindari. Cara sterilisasi dengan merebus botol pada suhu 100ºC dapat menyebabkan terlepasnya BPA dari botol.Sebaran cara sterilisasi botol susu polikarbonat yang digunakan untuk menyimpan air dan ASI dapat dilihat pada Gambar 4.4.
Berdasarkan perilaku responden secara spesifik, sterilisasi botol susu polikarbonat dengan cara direbus kemudian dibedakan lagi menjadi dua, yaitu botol direbus selama 5-10 menit setelah air mendidih dan botol dimasak bersama air sampai air mendidih. Sterilisasi botol dengan cara direndam air panas juga dispesifikasi lagi menjadi dua, yaitu perendaman botol dalam air panas dan pengocokan botol dengan air panas. Data sterilisasi botol susu polikarbonat berdasarkan perilaku responden dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Cara Sterilisasi Botol Jumlah botol PC untuk menyimpan air (buah) Persentase botol PC untuk menyimpan air (%) Jumlah botol PC untuk menyimpan ASI (buah) Persentase botol PC untuk menyimpan air (%) Direbus 75 83 52 72
Direndam air panas 12 13 14 20
Steamer 4 4 6 8
19
Gambar 4.4. Sebaran cara sterilisasi botol susu polikarbonat yang digunakan untuk menyimpan air dan ASI
Tabel 4.6. Sterilisasi botol secara spesifik Cara
Sterilisasi Botol
Suhu Keterangan Cara
Botol PC untuk air (buah) Persentase botol PC untuk air (%) Botol PC untuk ASI (buah) Persentase botol PC untuk ASI (%) Direbus 100 Botol direbus selama 5 – 10 menit setelah air mendidih
42 56 29 56
Botol sekaligus dimasak hingga air mendidih 33 44 23 44 Total 75 100 52 100 Direndam air panas 70 Air mendidih, kompor dimatikan, lalu botol direndam
9 75 10 72
Botol dikocok
dengan air panas 3 25 4 28
Total 12 100 14 100
Steamer 100 Menggunakan
steamer 4 6
Total responden 91 72
Pada botol susu polikarbonat yang digunakan untuk menyimpan air, dari 75 responden yang melakukan sterilisasi botol dengan cara perebusan, 56% responden atau sebanyak 42 pengguna botol merebus botol selama 5-10 menit setelah air mendidih dan 44% responden atau sebanyak 33 pengguna botol merebus botol bersamaan dengan air sampai air mendidih. Pada botol susu polikarbonat yang digunakan untuk menyimpan ASI, dari 52 responden yang melakukan sterilisasi botol dengan cara perebusan, 56% responden atau sebanyak 29 pengguna botol merebus botol selama 5-10 menit setelah air mendidih dan 44% responden atau sebanyak 23 pengguna botol merebus botol bersamaan dengan air sampai air mendidih. Perilaku merebus air bersamaan dengan botol sampai air mendidih ini merupakan perilaku yang sangat ekstrim karena botol akan mengalami kontak dengan air panas lebih lama mulai dari air dimasak sampai air tersebut mendidih. Dibandingkan dengan perilaku merebus botol selama 5-10 menit setelah air mendidih, akumulasi panas yang diterima oleh botol yang
20
mengalami perilaku perebusan dari air dimasak sampai air mendidih akan lebih besar, sehingga kemungkinan BPA terpapar karena panas juga lebih besar.
Gambar 4.5. Sebaran sterilisasi botol dengan perebusan
Selanjutnya, pada keterangan sterilisasi botol susu dengan perendaman dalam air panas yang suhunya diperkirakan 70ºC, 75% responden atau sebanyak sembilan pengguna botol polikarbonat yang menyimpan air dalam botol dan 72% responden atau sebanyak 10 pengguna botol yang menyimpan ASI merendam botol setelah air mendidih. 25 % responden atau sebanyak tiga orang pengguna yang menyimpan air dalam botol dan 28% responden atau sebanyak empat orang pengguna yang menyimpan ASI dalam botol melakukan sterilisasi botol dengan mengocok botol yang berisikan air panas. Perilaku responden yang mensterilisasi botol susu polikarbonat dengan mengocok botol yang berisi air panas lebih beresiko terpapar BPA. Hal ini disebabkan pada saat pengocokan, air panas dan dinding botol mengalami gesekan secara berulang. Pada suhu tinggi, kekuatan plastik akan melemah atau melentur dan gesekan yang terjadi secara berulang dapat menggores dinding plastik sehingga BPA yang terkandung di dalamnya dapat terpapar. Cara sterilisasi lainnya dengan menggunakan steamer, yaitu pencucian botol susu polikarbonat secara otomatis dengan menggunakan uap panas (suhu 100ºC) . Cara sterilisasi dengan menggunakan steamer ini tergolong jarang digunakan karena dari segi harga, steamer termasuk barang yang tidak bisa dijangkau oleh semua kalangan. Sebaran sterilisasi botol susu polikarbonat dengan cara direndam air panas dapat dilihat pada Gambar 4.6.
21
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Michels (2008) di Sekolah Kesehatan Masyarakat Harvard (HSPH), menunjukkan bahwa air yang disimpan selama seminggu didalam botol polikarbonat dapat terkontaminasi BPA. Hal ini akan meningkat dua sampai tiga kali lipat apabila