• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PEMBAHASAN

3.7 Etika Penelitian

Etika penelitian meliputi antara lain informed consent, anonimity dan confidentiality .

1. Informed consent adalah pernyataan kesediaan dari subjek penelitian untuk diambil datanya dan ikut serta dalam penelitian. Aspek utama informed consent yaitu informasi, komprehensif dan volunterness, dan juga lembar persetujuan yang akan diberkan responden yang akan diteliti dan memenuhi kriteria inklusi dan disertai judul penelitian dan manfaat penelitian.

2. Anonimity (Tanpa Nama), untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak mencantumkan nama informan, tetapi lembar tersebut diberikan kode, nama informan selama penelitian tidak digunakan melainkan diganti dengan nomor dan inisial peneliti. Nomor dan inisial dari informan ini digunakan dengan tujan untuk menjaga kerahasiaan informan dan mencegah kekeliruan peneliti dalam memasukan data, berikut kode informan yang digunakan dalam penelitian ini: informan I (I01),

informan II (I02), dan seterusnya.

3. Confidentiality (kerahasiaan), kerahasiaan informasi informan dijamin oleh peneliti.

44 BAB IV

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di RSUD Kota Surakarta. RSUD Kota Surakarta merupakan Rumah Sakit yang di dirikan pemerintah kota solo yang berlokasi di pinggiran utara kota Surakarta Jawa Tengah. Pelayanan RSUD Kota Surakarta meliputi IGD 24 jam, rawat jalan seperti poliklinik umum, gigi, penyakit dalam, obsetri dan ginekologi, anak, mata, kulit dan kelamin, THT, syaraf, paru, serta VCT. Rawat inap seperti non bedah/ umum, bedah, anak, obsetri dan ginekologi.

Dan penunjang seperti ICU, radiologi, hemodialisa, laboratorium, farmasi, dan lainnya.

RSUD Kota Surakarta menjadi rumah sakit pilihan dan telah memiliki pasien dari berbagai daerah sekitar Surakarta jawa tengah. Pasien yang datang ke RSUD Kota Surakarta khususnya poli dalam bukan hanya pasien yang akan melakukan kontrol rutin, selain itu juga terdapat pasien rujukan dari puskesmas untuk mendapatkan penanganan selanjutnya seperti TB paru yang harus di lakukan pemeriksaan dahak, rontgen dan pemberian obat. Penyakit TB paru akan berdampak pada konsep diri penderita seperti permasalahan pada fisik, mental, dan sosial si penderita. Maka dari itu peneliti melakukan penelitian tentang konsep diri pada pasien TB paru di RSUD Kota Surakarta.

Bab ini peneliti menyajikan mengenai hasil penelitian mengenai Konsep Diri Pada Pasien TB di RSUD Kota Surakarta. Hasil penelitian di uraikan menjadi dua bagian, bagian pertama menjelaskan karateristik informan yang terlibat dalam

penelitian secara singkat, bagian ke dua menguraikan hasil penelitian tentang Konsep Diri Pada Pasien TB.

4.1. Karateristik Informan

Informan dalam penelitian ini berjumlah 3 informan yaitu pasien TB paru di RSUD Kota Surakarta. Adapun karateristik informan antara lain adalah sebagai berikut :

4.1.1 Informan 1

Informan pertama adalah laki-laki yang berinisial Tn. S usia 48 tahun.

Tempat tanggal lahir Surakarta, 6 November 1967. Agama Kristen.

Pendidikan SD. Pekerjaan Buruh. Alamat sambirejo RT 5 RW 9 kadipiro Surakarta. Status perkawinan sudah menikah. Kewarganegaraan Indonesia. Riwayat penyakit 5 bulan menderita TB paru.

4.1.2 Informan 2

Informan kedua adalah laki-laki yang berinisial Tn. N usia 55 tahun.

Tempat tanggal lahir Sragen, 3 Januari 1961. Agma Islam. Pendidikan SD.

Pekerjaan Buruh. Alamat Gedong, RT 07 RW 10 Kadipiro Banjarsari Solo. Status perkawinan sudah menikah. Kewarganegaraan Indonesia.

Riwayat penyakit 3 bulan menderita TB paru.

4.1.3 Informan 3

Informan ketiga adalah perempuan yang berinisial Tn. A usia 28 tahun.

Tempat tanggal lahir Kediri, 4 September 1987. Agama Islam. Pendidikan SMA. Pekerjaan Buruh. Alamat kayan, RT 01 RW 02 Krendawahono

Gondang Rejo Solo. Status perkawinan sudah menikah. Kewarganegaraan Indonesia. Riwayat penyakit 3 bulan menderita TB paru.

4.2.Hasil Penelitian

Peneliti akan menguraikan hasil wawancara sesuai dengan tujuan dalam penelitian ini, meliputi : 1) Gambaran diri, 2) Ideal diri, 3) Harga diri, 4) Peran, 5) Identitas diri

4.2.1. Gambaran Diri

Dari gambaran diri di hasilkan 3 tema yaitu : 1) kondisi fisik, 2) kondisi psikologis, 3) kondisi sosial

4.2.1.1.Kondisi fisik

Dua informan mengatakan bahwa gambaran dirinya berupa bentuk tubuh

“… pandangan saya itu ya gimana ya wong dulunya itu saya sehat gemuk sekarang kurus ya itugara-gara kena penyakit tb tu…”(I.1)

“…ya ini pak jadi kurus berat badan turun dulunya itu 60 kg pas saya timbang terakhir itu cuman 45 kg sudah turun berapa kilo itu…” (I.3)

Dua informan dari satu informan yang sama mengatakan bahwa gambaran dirinya berupa kondisi tubuh

“…ya sebelumnya saya itu menjadi tulang punggung menjadi orang yang bekerja keras tapi sekarang setelah kena penyakit ini saya itu jadi lemah…” (I.2)

“…emm kurang percaya diri pak sekarang ini kurus ngangkat-ngangkat ndak kuat jalan sana-sini ya cepat capek pak…”(I.3)

Hasil analisis dari tiga informan menghasilkan bahwa kondisi fisik pasien TB paru mengalami perubahan yaitu dua informan tubuhnya menjadi kurus dan dua dari satu informan yang sama kondisi tubuhnya lemah dan cepat capek.

4.2.1.2.Kondisi psikologis

Tiga informan mengatakan bahwa gambaran dirinya berupa perasaan negative

“…ya ada dulu waktu gemuk sehat kuat kemana-mana bisa ko sekarang mau kemana-mana nda bisa ko cuma duduk-duduk ga percaya diri ya ada…” (I.1)

“…ya seperti tidak berguna…” (I.2)

“…emm kurang percaya diri pak sekarang ini kurus ngangkat-ngangkat ndak kuat jalan sana-sini ya cepat capek pak…” (I.3)

Dua informan yang sama mengatakan bahwa gambaran dirinya berupa perasaan positif

“…yo masih mensyukuri masih di kasih umur panjang itu…”(I.1)

“…ya sering mensyukuri memang ya ini opo keadilan allah itu seperti ini, ini adil sangat lah adil hehe…” (I.2)

Hasil analisis dari tiga informan menghasilkan bahwa kondisi psikologis pasien TB paru tiga informan memiliki perasaan negative seperti tidak berguna dan tidak percaya diri dan dua informan yang sama juga menyatakan perasaan positif yaitu masih tetap mensyukuri.

4.2.1.3. Kondisi sosial

Dua informan mengatakan bahwa gambaran dirinya berupa terisolasi

“…terus itu ya itu g bisa kemana mana cuma di rumah aja sama hubungan keluarga itu kurang…” (I.1)

“…kalau sekarang lagi sakit gini lebih sering di rumah pak g bisa kumpul atau ikut kegiatan di masyarakat kaya ronda sama kerja bakti…”(I.3)

Hasil analisis dari dua informan menghasilkan bahwa kondisi sosial pasien TB paru menjadi terganggu karena penyakit TB paru membuat pasien TB paru tidak dapat bersosialisasi seperti biasanya dan lebih sering di rumah.

4.2.2. Ideal Diri

Dari ideal diri di hasilkan 3 tema yaitu : 1) kesehatan 2) dukungan lingkungan, 3) kebutuhan ekonomi

4.2.2.1. Kesehatan

Dua informan mengatakan bahwa ideal dirinya berupa sembuh/

sehat

“…harapannya yo itu biar penyakite hilang dapat anu kembali cari uang lagi nafkahi anak-anak sama istri itu g seperti ini cuma duduk-duduk susah…” (I.1)

“…harapannya ya supaya bisa sehat kembali ya bisa bekerja lagi paling tidak itu harus punya pemasukan buat keluarga…”(I.2)

Satu informan mengatakan bahwa ideal dirinya berupa kesehatan fisik

“…ya harapan saya sih ya cepat sembuh pak kan kalau dulu itu saya sehat kerja itu ya g cepat capek pak sekarang kerja dikit udah capek

…” (I.3)

Hasil analisis dari tiga informan menghasilkan bahwa ideal diri pasien TB paru yaitu penyakitnya hilang bisa sehat kembali dan tidak cepat capek.

4.2.2.2. Dukungan lingkungan

Dua informan mengatakan bahwa ideal dirinya berupa kebersamaan

“…harapan saya ya cuma satu cuma bisa anu itu bisa kumpul g minder gitu lo sama teman itu ya cuma itu…”(I.1) “…ya kalau bisa cepat sehat la pak biar bisa ikut kegiatan masyarakat kaya dulu lagi ngumpul-ngumpul gitu sama temen…” (I.3)

Satu informan yang sama mengatakan bahwa ideal dirinya berupa perasaan positif

“…harapan saya ya cuma satu cuma bisa anu itu bisa kumpul g minder gitu lo sama teman itu ya cuma itu…” (I.1) Satu informan mengatakan bahwa ideal dirinya berupa pengakuan

“…ya supaya saling mengerti aja saling mengerti dalam keadaan saya lagi kena penyakit ya jangan di hina jangan di ejek…” (I.2)

Hasil analisis dari tiga informan menghasilkan bahwa ideal diri pasien TB paru terhadap lingkungan bisa kumpul lagi, tidak minder, dan saling mengerti.

4.2.2.3. Kebutuhan ekonomi

Tiga informan mengatakan bahwa ideal dirinya berupa bekerja

“…harapannya yo itu biar penyakite hilang dapat anu kembali cari uang lagi nafkahi anak-anak sama istri itu g seperti ini cuma duduk-duduk susah…” (I.1)

“…harapannya ya supaya bisa sehat kembali ya bisa bekerja lagi paling tidak itu harus punya pemasukan buat keluarga…” (I.2)

“…ya kalau harapan saya sih biar cepat sembuh terus bisa kerja lagi buat nambah pemasukan keluarga…”(I.3)

Hasil analisis dari tiga informan menghasilkan bahwa ideal diri pasien TB paru bisa bekerja lagi nafkahi anak istri, punya pemasukan buat keluarga dan mencukupi kebutuhan dalam kelurga.

4.2.3. Harga Diri

Dari harga diri di hasilkan 1 tema yaitu : 1) HDR 4.2.3.1. Harga Diri Rendah (HDR)

Tiga informan mengatakan bahwa harga dirinya berupa kritik diri sendiri

“…Ya malunya sama diri sendiri…” (I.1)

“…g sih, g begitu saya ya seolah olah menyalahkan diri sendiri gitu na, g jadi beban untuk…” (I.2)

“…ya ada pak malu punya penyakit kaya gini mau ngapa-ngapain g bisa…” (I.3)

Dua informan yang sama mengatakan bahwa harga dirinya

“…g marah g tersinggung cuma sedih gitu aja…” (I.1)

“…ya aga terganggu sih seperti misalnya mau ngobrol jaga jarak ngobrolnya juga jauhan kan rasanya lain pak…” (I.3) Tiga informan yang sama mengatakan bahwa harga dirinya nantinya sembuh ko istri saya kan cuma ngeyem-ngeyem gitu lo…”(I.1)

“…g ada karena apa yo cemas sih, tapi kita lalu anu ya…”(I.2)

“…ya cemas sih pak kepikiran keluarga kasihan kalau saya gini terus g kerja kasihan anak sama istri...”(I.3)

Hasil analisis dari tiga informan menghasilkan bahwa pasien TB paru mengalami harga diri rendah seperti malu dengan penyakitnya, merasa bersalah terhadap diri sendiri, sedih, dan merasa cemas.

4.2.4.Peran

Dari peran di hasilkan 2 tema yaitu : 1) kesesuaian, 2) kegagalan 4.2.4.1. Kesesuaian

Tiga informan mengatakan bahwa peran dirinya berupa peran yang di terima

“…sebagai kepala keluarga…”(I.1)

“…sebagai apa ya, ya sebagai kepala rumah tangga…”(I.2) “…sebagai kepala keluarga…”(I.3)

Dua informan yang sama mengatakan bahwa peran dirinya berupa fungsi dalam masyarakat

“…ya masyarakat biasa…”(I.2)

“…masyarakat biasa…”(I.3)

Hasil analisis dari tiga informan menghasilkan bahwa peran pasien TB paru sesuai pada posisinya sebagai kepala keluarga dan masyarakat biasa.

4.2.4.2. Kegagalan

Satu informan mengatakan bahwa peran dirinya berupa terbatasi

“…ya di rumah cuma duduk-duduk…”(I.1)

Dua dari satu informan yang sama mengatakan bahwa peran dirinya berupa ketidak puasan

“…ya belum puas, ya belum puasnya itu tadi hubungan sama istri g bisa lancar gitu lo…”(I.1)

“…belum puas sebagai laki-laki…”(I.2)

“…ya kalau gini sih kurang puas pak tapi ya mau di apain namanya orang lagi sakit…”(I.3)

Hasil analisis dari satu informan menghasilkan bahwa peran pasien TB paru mengalami keterbatasan hanya bisa di rumah saja dan juga tidak puas dengan keadaannya yang sedang menderita TB paru.

4.2.5. Identitas Diri

Dalam identitas diri di hasilkan 2 tema yaitu : 1) Data diri, 2) Status 4.2.5.1. Data Diri

Tiga informan mengatakan bahwa identitas dirinya berupa nama

“…Tn. s…”(I.1)

“…Tn. n…”(I.2)

“…Tn. a…”(I.3)

Tiga informan mengatakan bahwa identitas dirinya berupa tempat tanggal lahir

“…solo anu Surakarta tanggal lahir 6 november 1967…”(I.1)

“…sragen ee karang asem tanon sragen…”(I.2)

“…1961 bulan pertama tanggal 3…”(I.2)

“…kediri 4 september 1987…”(I.3)

Tiga informan mengatakan bahwa identitas dirinya berupa jenis kelamin

“…laki-laki…”(I.1)

“…laki-laki…”(I.2)

“…laki-laki…”(I.3)

Tiga informan mengatakan bahwa identitas dirinya berupa kewarganegaraan

“…indonesia…”(I.1)

“…indonesia…(I.2)

“…indonesia…(I.3)

Hasil analisis dari tiga informan menghasilkan bahwa kesadaran pasien TB paru dalam memperkenalkan identitasnya seperti data diri.

4.2.5.2. Status

Tiga informan mengatakan bahwa identitas dirinya berupa alamat

“…sambirejo rt no 5 rw 9 kadipiro Surakarta…”(I.1)

“…ohh alamat rumah di gedong, RT 07 RW 10 Kadipiro Banjarsari Solo…”(I.2)

“…kayan RT 01 RW 02 Krendawahono Gondang Rejo Solo…”(I.3)

Tiga informan mengatakan bahwa identitas dirinya berupa agama

“…kristen…”(I.1)

“…islam…”(I.2)

“…islam…”(I.3)

Tiga informan mengatakan bahwa identitas dirinya berupa status perkawinn yaitu menikah

“…nikah…”(I.1)

“…sudah menikah…(I.2)

“…sudah menikah…(I.3)

Tiga informan mengatakan bahwa identitas dirinya berupa pekerjaan yaitu buruh

“…buruh…”(I.1)

“…buruh…(I.2)

“…buruh…(I.3)

Hasil analisis dari tiga informan menghasilkn bahwa kesadaran pasien TB paru dalam memperkenalkan identitasnya seperti status.

56 BAB V PEMBAHASAN

5.1. Gambaran Diri

Hasil penelitian mengenai gambaran diri pada pasien TB paru, informan mengatakan badan kurus, berat badan turun, lemah, cepat capek, merasa minder, tidak percaya diri, seperti tidak berguna, malu mau ngumpul, mensyukuri, tidak bisa kemana-mana, cuma di rumah saja, jaga jarak, menjauh, tidak ikut kegiatan di masyarakat, seperti putus hubungan di masyarakat, seperti di asingkan.

Penderita TB Paru biasanya mengalami perubahan bentuk fisik menjadi lebih kurus dan tampak pucat, sering batuk-batuk, badan lemah dan kemampuan fisikpun menurun, Perubahan mental seperti gangguan konsep diri, dan perubahan sosial seperti hubungan dengan orang lain terganggu (Purwoto, 2009). TB Paru dapat mengganggu keadaan fisik dan psikososial penderita yang mempengaruhi harga diri penderita TB Paru.Penderita TB Paru dengan pengobatan lama akan mengalami tekanan psikologis dan merasa tidak berharga bagi keluarga dan masyarakat (Sulistiyawati Endah, 2012).

Berdasarkan hal tersebut gambaran diri pasien TB paru mengalami perubahan pada fisik mental dan sosial yang menunjukkan pasien TB paru menjadi kurus, lemah, berperasaan negatife dan hubungan di lingkungan masyarakat maupun keluarga menjadi terganggu.

5.2. Ideal Diri

Hasil penelitian mengenai ideal diri pada pasien TB paru, informan mengatakan harapannya penyakitnya hilang, bisa sehat kembali, cepat sembuh, bisa kumpul lagi, ikut kegiatan di masyarakat, kumpul sama teman, tidak minder, di priyoritaskan, supaya saling mengerti, jangan di hina jangan di ejek, bisa kerja lagi, cari uang, nafkahi anak istri

Menurut Saronson dkk dalam Mazbow (2009) dukungan lingkungan sosial memiliki peranan penting untuk mencegah dari ancaman kesehatan mental. Individu yang memiliki dukungan lingkungan sosial yang lebih kecil akan lebih memungkinkan mengalami konsekuensi psikis yang negatif. Keuntungan individu yang memperoleh dukungan sosial yang tinggi akan menjadi individu lebih optimis dalam menghadapi kehidupan saat ini maupun masa yang akan datang, lebih terampil dalam memenuhi kebutuhan psikologi dan memiliki sistem yang lebih tinggi, serta tingkat kecemasan yang lebih rendah, mempertinggi interpersonal skill (keterampilan interpersonal), memiliki kemampuan untuk mencapai apa yang diinginkan dan lebih dapat membimbing individu untuk beradaptasi dengan stress.

berdasarkan hal tersebut pentingnya dukungan lingkungan sosial dalam proses kesehatan mental pasien TB paru. karena pasien TB paru yang memiliki dukungan lingkungan sosial yang lebih kecil memungkinkan mengalami konsekuensi psikis yang negatife dan dapat menjadikan tidak punya harapan untuk sembuh. berdasarkan hasil

penelitian tersebut juga di temukan data harapan untuk sembuh, sehat kembali, penyakitnya hilang, bisa bekerja lagi, cari uang, nafkahi anak istri.

dukungan lingkungan sosial memotivasi pasien TB paru untuk sembuh, memberikan semangat pada pasien untuk sehat kembali, dan bisa bekerja lagi mencari uang nafkahi anak dan istri.

5.3. Harga Diri

Hasil penelitian mengenai harga diri pada pasien TB paru, informan mengatakan malu sama diri sendiri, malu sakit TB paru, jengkel, menyesal, merasa bersalah, menyalahkan diri sendiri, ragu deket sama temen, sedih, cemas.

Riyadi & Purwanto, (2009) mengatakan Penyakit TB paru dapat mempengaruhi konsep diri penderitanya. Individu yang menderita penyakit TB paru sering merasa tidak berdaya, menolak, merasa bersalah, merasa rendah diri dan menarik diri dari orang lain karena khawatir penyakit yang diderita menular kepada orang lain. Konsep diri seseorang tidak terbentuk saat bayi dilahirkan tetapi konsep diri berkembang dalam diri dan dipelajari melalui interaksi sosial dan pengalaman masa kecil. (Stuart dan Laraia, 2005) mengatakan bahwa harga diri yang rendah dapat berupa hilangnya percaya diri, penurunan produktivitas, perasaan tidak mampu, mengkritik diri sendiri, rasa bersalah, pesimis dan ansietas. Daulay (2009) menemukan bahwa penderita TB Paru mengalami gangguan harga diri. Penderita merasa malu karena mengetahui penyakitnya menularkan kepada orang lain. Salah satu cara

untuk mengatasi hal ini, penderita memerlukan dukungan keluarga agar harga diri penderita meningkat.

Berdasarkan hal tersebut pasien TB paru mengalami harga diri rendah seperti penderita merasa bersalah, pesimis dan merasa malu dengan penyakit TB paru yang di derita karena mengetahui penyakitnya menularkan kepada orang lain.

5.4. Peran

Hasil penelitian mengenai peran pada pasien TB paru, informan mengatakan sebagai kepala keluarga, kepala rumah tangga, mampu menjalaankan peran sebaga kepala keluarga, sebagai masyarakat biasa, tidak puas keadaan saat ini, di rumah duduk-duduk, hubungan sama istri kurang, tidak puas sebagai laki-laki.

Perilaku yang di harapakan secara sosial yang berhubungan dengan fungsi individu pada berbagai kelompok sosial. tiap individu mempunyai berbagai peran yang terintegrasi dalam pola fungsi individu. gangguan perilaku peran yaitu berubah atau terhenti fungsi peran yang di sebabkan oleh penyakit, proses menua ataupun di rawat di rumah sakit. peran yang berubah seperti peran dalam keluarga, pekerjaan/sekolah, dan peran dalam berbagai kelompok (Stuart dan Sudden, 2007). individu berusaha menyelesaikan masalah tetapi tidak tuntas sehingga timbul pikiran bahwa diri tidak mampu atau merasa gagal (Direja, 2011).

Berdasarkan hal tersebut pada informan tidak terjadi gangguan dalam peran namun terdapat kesesuaian peran sebagai kepala keluarga dan peran

di masyarakat sebagai masyarakat biasa. penyakit TB paru yang di derita membuat pasien TB paru terbatasi hanya bisa di rumah saja dan menyebabkan ketidak puasan karena keadaannya, seperti hasil penelitian (Direja, 2011) yaitu individu berusaha menyelesaikan masalah tetapi tidak tuntas sehingga timbul pikiran bahwa diri tidak mampu atau merasa gagal.

5.5. Identitas Diri

Hasil penelitian mengenai identitas diri pada pasien TB paru, informan mengatakan nama Tn. S, pekerjaan buruh, jenis kelamin laki-laki, agama Kristen, menikah. Nama Tn. N, pekerjaan buruh, jenis kelamin laki-laki, agama islam, sudah menikah. Nama Tn. A, pekerjaan buruh, jenis kelamin laki-laki, agama islam, sudah menikah.

Suatu karateristik yang mendefinisikan keterangan tentang individu, konsep yang memperkenalkan cara kita mempersepsikan orang lain dan diri kita berdasarkan pada baik karateristik khusus (personal identity) dan keanggotaan kita lainnya (priyoto, 2014). Identitas diri dapat di munculkan dari prilaku dan perasaan seseorang, seperti individu mengenal dirinya sebagai mahkluk yang terpisah dan berbeda dengan yang lain, individu mengakui atau menyadari jenis sekualnya, individu mengakui dan menghargai peran, nilai, dan perilaku secara harmonis (Hendra BT, 2012).

berdasarkan hal tersebut bahwa tidak terjadi gangguan pada identitas diri,

informan dapat mengenali dirinya, dapat memperkenalkan dirinya seperti data diri dan status, mengakui dirinya, masih menyadari jenis seksual, berbeda dengan yang lain dan menghargai berbagai aspek tentang dirinya.

62 BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisa data yang telah didapat dalam penelitian, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Gambaran diri pada pasien TB paru terjadi perubahan badan kurus, lemah, cepat capek, merasa minder, tidak percaya diri, seperti tidak berguna, malu mau ngumpul, mensyukuri, tidak bisa kemana-mana, cuma di rumah aja, jaga jarak, seperti putus hubungan di masyarakat.

2. Ideal diri pada pasien TB paru yaitu dukungan lingkungan sosial memotivasi pasien TB paru untuk sembuh, memberikan semangat pada pasien untuk sehat kembali, dan bisa bekerja lagi mencari uang nafkahi anak dan istri.

3. Harga diri pada pasien TB paru mengalami harga diri rendah seperti penderita merasa bersalah, pesimis, dan merasa malu dengan penyakit TB paru yang di derita karena mengetahui penyakitnya menularkan kepada orang lain.

4. Peran diri pada pasien TB informan sebagai kepala keluarga dan peran di masyarakat sebagai masyarakat biasa. penyakit TB paru yang di derita membuat informan terbatasi hanya bisa di rumah saja dan menyebabkan ketidak puasan karena keadaannya.

5. Identitas diri pada pasien TB paru tidak terdapat gangguan pada identitas diri, informan dapat mengenali dirinya, memperkenalkan dirinya, mengakui dirinya dan menjelaskan data diri dan statusnya.

6.2 Saran

1. Bagi pasien TB paru dan masyarakat

Bagi pasien agar menumbuhkan sikap positif seperti berfikir positif, berprilaku positif, dalam menghadapi penyakit TB paru yang di derita agar tidak berlanjut pada konsep diri yang negative. Bagi masyarakat agar memberikan motivasi, dukungan seperti memberi semangat, support, nasehat, dan rasa nyaman terhadap pasien TB paru agar tidak menimbulkan masalah pada konsep diri pada penderita TB paru.

2. Bagi RSUD Kota Surakarta

Bagi pihak rumah sakit diharapkan dapat menjadikan bahan masukan agar memberikan asuhan keperawatan psikososial tentang konsep diri pada pasien TB paru.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Bagi Peneliti Selanjutnya diharapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai data dan informasi dasar untuk penelitian selanjutnya dan diharapkan peneliti selanjutnya dapat mengembangkan dan memperdalam pertanyaan yang sudah ada.

4. Bagi Institusi Pendidikan

Bagi Institusi Pendidikan dapat memberikan sumbangan materi mengenai konsep diri pasien TB paru.

5. Bagi Peneliti

Dapat memberikan pengalaman secara langsung bagi peneliti dalam

Dapat memberikan pengalaman secara langsung bagi peneliti dalam

Dokumen terkait