• Tidak ada hasil yang ditemukan

Klasifikasi Tuberculosis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.2 Tuberculosis

2.1.2.5 Klasifikasi Tuberculosis

Tuberculosis primer adalah infeksi bakteri TB dari penderita yang belum mempunyai reaksi spesifik terhadap bakteri TB. Bila bakteri TB terhirup dari udara melalui saluran pernafasan dan mencapai alveoli dan bagian terminal saluran pernapasan. Maka bakteri akan ditangkap dan di hancurkan oleh makrofag yang berada di alveoli. Jika proses ini, bakteri di tangkap oleh makrofag yang lemah, maka bakteri akan berkembang biak dalam tubuh makrofag yang lemah itu dan menghancurkan makrofag (Arief Muttaqin, 2014).

Dari proses ini, di hasilkan bahan kemotaksik yang menarik monosit (makrofag) dari aliran membentuk tuberkel. Sebelum menghancurkan bakteri, makrofag harus di aktifkan terlebih dahulu oleh limfokin yang di hasilkan limfosit T. Bakteri TB yang berada di alveoli akan membentuk focus local (focus Ghon), sedangkan focus inisial bersama-sama dengan limfadenopati bertempat di hilus (kompleks primer ranks) dan di sebut juga TB primer. Focus primer paru biasanya bersifat unilateral dengan subpleura terletak di atas atau di bawah fisura. (Arif Muttaqin, 2014).

2. Tuberculosis Sekunder

Sejumlah kecil bakteri TB masih hidup dalam keadaan dorman di jaringan parut. Sebanyak 90% diantaranya tidak mengalami kekambuhan. Reaktivasi penyakit TB terjadi bila daya tahan tubuh menurun. Berbeda dengan TB primer, pada TB skunder kelenjar limfe regional dan organ lainnya jarang terkena, lesi lebih terbatas dan terlokalisasi. Reaksi imunologis terjadi dengan adanya pembentukan granuloma, mirip dengan yang terjadi pada TB primer.

Tetapi nekrosis jaringan lebih menyolok dan menghasilkan lesi kaseosa (perkijuan) yang luas dan di sebut tuberkuloma. Secara umum dapat dikatakan bahwa terbentuknya kavitas dan manifestasi lainnya dari TB skunder adalah akibat dari reaksi nekrotik yang dikenal sebagai hipersensitivitas seluler (Arief Muttaqin, 2014).

TB paru pasca primer dapat di sebabkan oleh infeksi lanjutan dari sumber eksogen, terutama pada usia tua dengan riwayat semasa muda pernah terinfeksi bakteri TB. Hal ini mungkin di sebabkan oleh kadar oksigen yang tinggi di daerah ini sehingga menguntungkan untuk pertumbuhan bakteri TB. Lesi skunder berkaitan dengan kerusakan paru. Kerusakan paru di akibatkan oleh produksi sitokin yang berlebihan. (Arif Muttaqin, 2014).

2.1.2.6 Bakteri Tuberkulosis

Bakteri tuberculosis berbentuk batang dengan ukuran 2-4u x 0,2-0,5um, bentuknya seragam, tidak berspora, dan tidak bersimpai. Pada

biakan, terlihat bentuknya bervariasi mulai dari bentuk kokoid sampai berupa filament. Beberapa strain tertentu berbeda dalam pertumbuhannya, yaitu berbentuk batang dan tersusun seperti tali yang disebut formation (Arif muttaqin, 2014).

Dinding selnya mengandung lipid sampai hampir 60% dari berat seluruhnya, sehingga sangat sukar diwarnai dan perlu cara khusus agar terjadi penetrasi zat warna. Ada beberapa teknik pewarnaan tahan asam untuk mewarnai bakteri ini. Salah satu pewarna yang lazim di gunakan adalah pewarnaan Ziehl-Neelsen. Kandungan lipid yang tinggi pada dinding sel menyebabkan bakteri ini sangat tahan terhadap tahan asam, basa, dan kerja antibiotic bakterisidal. Tuberculin positif dapat di transfer oleh sel monosit dari seseorang dengan tuberculin positif kepada seorang dengan tuberculin negative. Tuberculin positif mempunyai anti pada infeksi sebelumnya dengan mycobacterium akan tetapi tidak menunjukkan bahwa penyakitnya dalam keadaan aktif kecuali hasil tes positif. Tes ini menunjukkan reaktivitas sebulan setelah infeksi dan akan menetap sampai beberapa tahun. (Arif Muttaqin, 2014).

2.1.2.7 Sifat-Sifat Pertumbuhan

Bakteri TB memerlukan oksigen untuk tumbuh dan kelangsungan hidupnya. Energy di peroleh dari hasil oksidasi senyawa karbon sederhana. Karbon dioksida dapat merangsang pertumbuhan dengan suhu pertumbuhan 30-40C dan suhu optimum 37-38C. bakteri akan mati dengan pemanasan pada suhu 60C selama 15-20 menit.

Pada suhu 30C atau 40-45C, bakteri sukar tumbuh atau bahkan tidak dapat tumbuh. Pengurangan oksigen menurunkan metabolisme bakteri.

Daya tahan bakteri TB lebih besar dibandingkan dengan bakteri lainnya karena sifat hidrofobik pada permukaan selnya. Bakteri ini tahan terhadap asam, alkali, dan zat warna lainnya. Bakteri pada sputum kering yang melekat pada debu dapat tahan hidup selama 8-10 hari. Proses pasteurisasi dan pengguna fenol 5% selama 24 jam dapat membunuh bakteri TB. Pengguna eter dapat menghilangkan sifat tahan asam bakteri tuberculosis (Arif muttaqin, 2014).

2.1.2.8 Penatalaksanaan Medis

Penatalaksanaan tuberculosis paru terbagi menjadi tiga bagian, yaitu pencegahan, pengobatan, dan penemuan penderita. (Zain, 2001).

1. Pencegahan Tuberkulosis Paru

a. Pemeriksaan kontak, yaitu pemeriksaan terhadap individu yang bergaul erat dengan penderita tuberculosis paru BTA positif.

Pemeriksaan meliputi tes tuberculin, klinis, dan radiologis. Bila tes tuberculin positif, maka pemeriksaan radiologis foto thorak di ulang pada 6 dan 12 bulan mendatang. Bila masih negative, di berikan BCG vaksinasi. Bila positif, berarti terjadi konversi hasil tes tuberculin dan di berikan kemoprofilaksis.

b. Mass chest X-ray, yaitu pemeriksaan massal terhadap kelompok-kelompok populasi tertentu, misalnya:

1) Karyawan rumah sakit/puskesmas/balai pengobatan

2) Penghuni rumah tahanan 3) Siswa-siswi pesantren c. Vaksinasi BCG

d. Kemoprofilaksi menggunakan INH 5 mg/kgBB selama 6-12 bulan dengan tujuan menghancurkan atau mengurangi populasi bakteri yang masih sedikit. Indikasi kemoprofilaksis primer atau utama ialah bayi yang menyusu pada ibu dengan BTA positif, sedangkan kemoprofilaksis skunder diperlukan bagi kelompok berikut:

1) Bayi dibawah lima tahun dengan hasil tes tuberculin positif karena risiko timbulnya TB milier dan meningitis TB

2) Anak dan remaja dibawah 20 tahun dengan hasil tes tuberculin positif yang bergaul erat dengan penderita TB yang menular 3) Individu yang menunjukkan konversi hasil tes tuberculin dari

negative menjadi positif,

4) Penderita yang menerima pengobatan steroid atau obat imunosupresif jangka panjang

5) Penderita diabetes mellitus

e. Komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) tentang penyakit tuberculosis kepada masyarakat di tingkat puskesmas maupun di tingkat rumah sakit oleh petugas pemerintah maupun petugas LSM.

2. Pengobatan Tuberculosis Paru

Tujuan pengobatan pada penderita TB paru selain mengobati, juga untuk mencegah kematian, kekambuhan, resistensi terhadap OAT, serta memutuskan mata rantai penularan. Untuk penatalaksanaan pengobatan tuberculosis paru, berikut ini adalah beberapa hal yang penting untuk di ketahui.

3. Mekanisme Kerja Obat Anti Tuberkulosis(OAT)

a. Aktivitas bakterisidal, untuk bakteri yang membelah cepat

1) Ekstraseluler, jenis obat yang digunakan ialah Rifampisin (R) dan Streptomisin (S).

2) Intraseluler, jenis obat yang di gunakan ialah Rifampisin dan Isoniazid (INH).

b. Aktivitas sterilisasi, terhadap bakteri semidormant

1) Ekstraseluler, jenis obat yang di gunakan ialah Rifampisin dan Isoniazid.

2) Intraseluler, untuk slowly growing bacilli di gunakan Rifampisin dan Isoniazid. Untuk very slowly growing bacilli, di gunakan Piranizamid (Z).

c. Aktivitas bakteriostatis, obat-obatan yang mempunyai aktivitas bekteriostatis terhadap bakteri tahan asam.

1) Ekstraseluler, jenis obat yang di gunakan ialah Etambutol (E), asam para-amino salisilik (PAS), dan sekloserine.

2) Intraseluler, kemungkinan masih dapat di musnahkan oleh Isoniazid dalam keadaan telah terjadi resistensi sekunder.

Pengobatan tuberculosis terbagi menjadi dua fase, yaitu fase intensif 2-3 bulan dan fase lanjutan 4-7 bulan. Paduan obat yang digunakan terdiri atas obat utama dan obat tambahan. Jenis obat utama yang di gunakan sesuai rekomendasi WHO adalah Rifampisin, Isoniazid, Piranizamid, Streptomisin dan Etambutol (Depkes RI, 2004).

Program nasional pemberantasan TB paru, WHO menganjurkan panduan obat sesuai dengan kategori penyakit. Kategori di dasarkan pada urutan kebutuhan pengobatan dalam program.untuk itu, penderita di bagi 4 kategori.

a. Kategori I

Kategori I adalah kasus baru dengan sputum positif dan penderita dengan keadaan yang berat seperti meningitis, TB milier, pericarditis, peritonitis, pleuritis masif atau bilateral, spondiolitis dengan gangguan neurologis, dan penderita dengan sputum negative tetapi kelainan parunya luas, TB usus, TB saluran perkemihan, dan sebagainya.

Di mulai dengan fase 2 HRZS(E) obat di berikan setiap hari selama dua bulan. Bila selama dua bulan sputum menjadi negative, maka di mulai fase lanjutan. Bila setelah 2 bulan sputum masih tetap positif, maka fase intensif di perpanjang 2-4 minggu lagi (dalam

program P2TB Depkes di berikan 1 bulan dan di kenal sebagai obat sisipan), kemudian di teruskan dengan fase lanjutan tanpa melihat apakah sputum sudah negative atau belum. Fase lanjutan adalah 4 HR atau 4 H3R3. Pada penderita meningitis, TB milier, spondiolitis dengan kelainan neurologis, fase lanjutan di berikan lebih lama, yaitu 6-7 bulan hingga total pengobatan 8-9 bulan.

Sebagai panduan alternative pada fase lanjutan ialah 6 HE.

b. Kategori II

Kategori II adalah kasus kambuh atau gagal dengan sputum tetap atau positif. Fase intensif dalam bentuk 2 HRZES-1 HRZE. Bila setelah fase intensif sputum menjadi negative, baru di teruskan ke fase lanjutan. Bila setelah tiga bulan sputum masih tetap positif, maka fase intensif di perpanjang 1 bulan lagi dengan HRZE (juga di kenal sebagai obat sisipan). Bila setelah 4 bulan sputum masih tetap positif, maka pengobatan di hentikan 2-3 hari. Kemudian, periksa biakan dan uji resistensi lalu pengobatan di teruskan dengan fase lanjutan. Bila penderita mempunyai data resisten sebelumnya dan ternyata bakteri masih sensitive terhadap semua obat dan setelah fase intensif sputum menjadi negative maka fase lanjutan dapat di ubah seperti kategori I dengan pengawasan ketat.

Bila data menunjukkan resistensi terhadap H atau R, maka fase lanjutan harus di awasi dengan ketat. Tetapi jika data menunjukkan resistensi terhadap H atau R, maka kemungkinan keberhasilan

pengobatan kecil. Fase lanjutan adalah 5 H3R3E3 bila dapat di lakukan pengawasan atau 5 HRE bila tidak dapat dilakukan pengawasan.

c. Kategori III

Kategori III adalah kasus dengan sputum negative tetapi kelainan parunya tidak luas dan kasus TB di luar paru selain yang di sebut dalam kategori I. pengobatan yang di berikan, yaitu 2 HRZ/6 HE, 2 HRZ/4 HR, 2 HRZ/4 H3R3

d. Kategori IV

Kategori IV adalah tuberculosis kronis. Prioritas pengobatan rendah karena kemungkinan keberhasilan pengobatan kecil sekali.

Untuk Negara kurang mampu dari segi kesehatan masyarakat, dapat di berikan H saja seumur hidup. Untuk Negara maju atau pengobatan secara individu (penderita mampu), dapat di coba pemberian obat berdasarkan uji resistensi atau obat lapis ke dua seperti Quinolon, Ethioamide, Sikloserin, Amikasin, Kanamisin, dan sebagainya.

2.2 Keaslian Penelitian

Keaslian penelitian dimaksudkan bahwa masalah yang hendak di teliti belum pernah dipecahkan oleh peneliti terdahulu, jika permasalahannya mirip, maka harus ditegaskan perbedaan penelitiannya dengn peneliti terdahulu.

Tabel 2.1 Keaslian Penelitian

No Nama peneliti Judul penelitian Metode Hasil penelitian

1 Yuliana, Fathra Annis

Sampling Purposif Terdapat hubungan positif antara

2.3 Kerangka Berfikir

TB Paru

Perubahan Fisik Mental Sosial

1. Kurus Gangguan Konsep Diri: Hubungan

2. Tampak Pucat dengan orang

3. Badan lemah Gambaran Diri lain

4. Kemampuan Fisik Ideal Diri Interaksi Sosial

Menurun Harga Diri

Peran Identitas Diri

Gambar 2.1 Kerangka Teori ( Purwoto, 2009 )

Ket : : Di Teliti : Tidak Diteliti

2.4 Fokus Penelitian

Pandangan penelitian kualitatif, gejala itu bersifat holistic (menyeluruh tidak dapat di pisah-pisahkan), sehingga peneliti kualitatif tidak akan menetapkan penelitiannya hanya berdasarkan variable penelitian, tetapi keseluruhan situasi sosial yang di teliti yang meliputi aspek tempat (place), pelaku (actor), dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis. Dalam hal ini penelitiannya Di RSUD Kota

Surakarta nara sumber adalah pasien TB. Bisa di buat dalam skema di bawah ini :

Gambaran Diri

Ideal Diri

Harga Diri TB Paru

Peran

Identitas Diri

Gambar 2.2 Fokus Penelitian

33 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Penelitian kualitatif efektif digunakan untuk memperoleh informasi yang spesifik mengenai nilai, opini, perilaku dan konteks sosial menurut keterangan populasi. Pendekatan fenomenologis merupakan pendekatan yang berusaha untuk memahami makna dari berbagai peristiwa dan interaksi manusia di dalam situasinya yang khusus. Fenomenologi menggambarkan riwayat hidup seseorang dengan cara menguraikan arti dan makna hidup serta pengalaman suatu peristiwa yang dialaminya.

Penelitian ini dilakukan dalam situasi penelitian yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai fenomena yang diteliti dengan demikian cara fenomenologis menekankan pada berbagai aspek subyektif dari perilaku manusia supaya dapat memaknai tentang bagaimana dan makna apa yang dibentuk dari berbagai peristiwa di dalam kehidupan informan sehari-hari (Sutopo, 2006). Pendekatan fenomenologis mempelajari bagaimana kehidupan sosial ini berlangsung dan melihat tingkah laku manusia, yaitu apa yang dikatakan dan dilakukan sebagai hasil dari bagaimana manusia mendefenisikan dunianya (Edmund Husserl, 2006).

Penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini adalah dengan mencocokkan antara realita empirik dengan teori yang berlaku dengan menggunakan metode diskriptif.Penelitian kualitatif bersifat induktif dimana sosial dan manusia sebagai satu kesatuan, memahami tingkah laku manusia dari sudut pandang mereka yang di teliti, hubungan peneliti dan yang di teliti bersifat interaktif dan tidak dapat dipisahkan, proses penelitian merupakan suatu hal yang dianggap penting selain hasil penelitian itu sendiri, dan bersifat humanistik (Sugiono, 2010).

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat dan waktu penelitian sangat berpengaruh terhadap hasil yang diperoleh dalam penelitian. Pemilihan tempat penelitian harus disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian sehingga tempat ditentukan benar-benar menggambarkan kondisi informan yang sesungghnya. Tempat penelitian adalah tempat interaksi informan dengan lingkungannya yang akan membangun pengalaman hidupnya (Suryono &

Anggraeni,2010).Penelitian dilakukan di ruang Poli Dalam RSUD Kota Surakartapada bulan September 2015 sampai dengan November 2015.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/ subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk di pelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2015). Populasi pada penelitian ini adalah semua pasien TB paru di RSUD Kota Surakarta. Jumlah populasi 6 bulan terahir adalah 8 orang positif TB Paru.

3.3.2 Sampel

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang yang dimiliki oleh populasi tersebut. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling yaitu pengambilan sampel yang didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu. Misalnya, orang tersebut dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga memudahkan peneliti menjelajahi obyek/

situasi sosial yang di teliti. Penelitian kualitatif ukuran dan jumlah sampel bergantung pada kejenuhan data (point of data saturation) maksudnya apabila dalam proses analisis data peneliti telah menemukan pola yang terulang berkali-kali, maka analisis sudah boleh di hentikan karena saat itu terjadi kejenuhan data (Sugiyono, 2015). Informandalam penelitian ini adalahsemuapasien TB paru wanita dan pria di RSUD Kota Surakarta.

Adapun ciri-ciri kriteria sampel antara lain:

1. Kriteria Inklusi

a. Usia remaja dan lansia ( 19-65 tahun) b. Hasil BTA Positif

c. Dalam keadaan sadar d. Tidak cacat (buta, tuli, bisu) e. Bersedia sebagai informan 2. Kriteria Eklusi

a. Orang tua/ keluarga informan b. Dalam keadaan tidak sadar c. Cacat (buta, tuli, bisu)

d. Tidak bersedia sebagai informan

3.4 Instrumen Dan Prosedur Pengumpulan Data 3.4.1 Cara Pengumpulan Data

Dalam penelitian kualitatif terdapat banyak cara yang dipakai untuk mengumpulkan data, cara pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sesuai dengan pedoman menurut (Saryono & Anggraeni, 2010).

1. Wawancara

Wawancara merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya, teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam (in dept interview). Wawancara mendalam (in dept interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan

penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai.

Wawancara dapat dilakukan secara semiterstruktur maupun tak terstruktur, dan dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telepon (Sugiono, 2015). Dalam hal ini peneliti menggunakan wawancara semi terstruktur dan tak terstruktur.

2. Dokumen

Dokumen adalah sejumlah besar data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. Adapun ciri-ciri dari dokumen, seperti dokumen berbentuk tulisan yaitu buku status pasien dan dokumen medik. Teknik atau cara pengumpulan data dalam penelitian kualitatif bersifat naturalistik (alamiah) yakni dengan observasi dan wawancara secara mendalam (Sugiono, 2015). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui wawancara dan dokumen. dokumen pada penelitian ini adalah buku status pasien yang berisikan tentang diagnosa pasien dan riwayat penyakit pasien. dokumentasi pada penelitian ini adalah foto pada saat melakukan wawancara kepada pasien.

3.4.2 Alat pengumpulan data

Alat pengumpulan data dapat diambil dari peneliti itu sendiri dan adapun instrumen atau alat yang digunakan dalam penelitian ini (Sugiono, 2015), adalah:

1. Alat tulis

2. Pedoman wawancara/ tak terstruktur/ semi strukture interview 3. Dokumentasi/ status pasien

4. Tape Recorder

3.4.3 Tahap Pengumpulan Data

1. Tahap orientasi

Peneliti melakukan pengumpulan data segera dilakukan setelah peneliti memperoleh izin dari RSUD Kota Surakarta dan menentukan calon informan sesuai dengan kriteria peneliti dan mendiskusikan dengan perawat ruangan terkait, peneliti bertemu langsung dengan calon informan sesuai dengan jadwal kunjungan untuk menjelaskan tujuan peneliti, manfaat penelitian, prosedur penelitian, hak-hak informan serta peran informan dalam penelitian.

Setelah membina hubungan saling percaya kemudian peneliti menanyakan kesediaan calon informan untuk menjadi informan dalam penelitian ini, jika calon informan bersedia menjadi informan dalam penelitian ini selanjutnya peneliti membuat perjanjian tempat dan waktu dilakukan wawancara. Calon informan menanda tangani lembar persetujuan atau informed consent.

2. Tahap pelaksana

Setelah peneliti membuat perjanjian dengan calon informan dan bersedia untuk menjadi informan dalam peneliti ini serta telah menandatangani Informed cosent, selanjutnya adalah wawancara mendalam terhadap informan, wawancara dilakukan sore hari di rumah

informan dengan durasi 30-45 menit. peneliti memberikan pertanyaan kepada informan sesuai dengan pedoman wawancara yang telah dibuat pada saat persiapan sebelum penelitian dilakukan, setelah wawancara selesai peneliti segera melakukan transkripsi hasil wawancara dan melakukan konsultasi dengan pembimbing tentang pertanyaan yang mungkin perlu untuk dikembangkan dan ditambahkan pertanyaan sesuai dengan pedoman wawancara dibuat berdasarkan data yang telah dikumpulkan pada saat studi pendahuluan dan sesuai dengan kriteria-kriteria.

Wawancara dilakukan dengan pedoman wawancara namun tidak bersifat kaku karena pertanyaan dapat berkembang sesuai dengan proses yang berlangsung selama wawancara. Informasi yang disampaikan informan terbebas dari pengaruh orang lain baik dari keluarganya maupun orang terdekat dari informan. Jumlah pertemuan antara peneliti dengan informan berbeda-beda antara satu hingga dua kali pertemuan peneliti selalu memperhatikan kondisi informan jika pada saat pertemuan pertama belum tercapai semua tujuan peneliti maka peneliti membuat kesepakatan pada informan untuk pertemuan yang kedua. Pada wawancara kedua ini juga penting dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada informan melakukan verifikasi/

konfirmasi.

3.5 Analisis Data

Analisa data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurutka data kedalam pola, kategori dan satu uraian dasar, sehingga dapat di temukan tema tertentu (Moleong, 2007). Proses analisa dalam penelitian ini menggunakan langkah-langkah dari Colaizzi (Streubert & Carpenter).

Alasan pemilihan metode analisa ini didasarkan pada kesesuaian dengan filosofi Husserl, yaitu suatu penampakan fenomena (informan), sehingga sangat cocok untuk memahami arti dari suatu makna fenomena konsep diri pada pasien TB paru.

Adapun langkah-langkah analisa sebagai berikut:

1. Membuat deskripsi informan tentang fenomena dari informan dalam bentuk narasi yang bersumber dari wawancara.

2. Membaca kembali secara keseluruhan deskripsi informasi dari informan untuk memperoleh perasaan yang sama seperti pengalaman informan. Peneliti melakukan 3-4 kali membaca transkip untuk merasa hal yang sama seperti informan.

3. Mengidentifikasi kata kunci melalui penyaringan pernyataan informan yang signifikan dengan fenomena yang di teliti. Pernyataan-pernyataan yang merupakan pengulangan dan mengandung makna yang sama atau mirip maka pernyataan ini di abaikan.

4. Memformulasikan arti dari kata kunci yang sesuai pernyataan penelitian selanjutnya mengelompokkan lagi kata kunci yang sejenis.

Peneliti sangat berhati-hati agar tidak membuat penyimpangan arti dari

pernyataan informan dengan merujuk kembali pada pernyataan informan yang signifikan. Cara yang perlu dilakukan adalah menelaah kalimat satu dengan yang lainnya.

5. Mengorganisasikan arti-arti yang telah teridentifikasi dalam beberapa kelompok tema tersebut.

6. Mengumpulkan semua hasil penelitian kedalam suatu narasi yang menarik dan mendalam sesuai dengan topik penelitian.

7. Mengembalikan semua hasil penelitian pada masing-masing informan lalu diikutsertakan pada diskripsi hasil akhir penelitian.

3.6 Keabsahan Data

Keabsahan data pada penelitian kualitatif meliputi kredibility, transferability, dependebility dan confirmability.

1. Kredibility atau validitas internal antara lain dilakukan dengan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian, tringulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negatif, dan member chek.

2. Transferability atau validitas eksternal menunjukkan derajat ketepatan atau dapat diterapkannya hasil penelitian ke populasi di mana sampel tersebut di ambil. Nilai transfer ini berkenaan dengan pertanyaan, hingga mana hasil penelitian dapat diterapkan atau digunakan dalam situasi lain.

3. Dependebility atau reliabilitas adalah apabila orang lain dapat

mengulangi/ mereplikasi proses penelitian tersebut, dalam penelitian kualitatif, uji depenability dilakukan dengan melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian.

4. Confirmability atau obyektivitas, penelitian dikatakan obyektif bila hasil penelitian telah disepakati banyak orang, dalam penelitian kualitatif uji konfirmability mirip dengan uji dependability sehingga pengujiannya dapat dilakukan secara bersaman.

3.7 Etika Penelitian

Etika penelitian meliputi antara lain informed consent, anonimity dan confidentiality .

1. Informed consent adalah pernyataan kesediaan dari subjek penelitian untuk diambil datanya dan ikut serta dalam penelitian. Aspek utama informed consent yaitu informasi, komprehensif dan volunterness, dan juga lembar persetujuan yang akan diberkan responden yang akan diteliti dan memenuhi kriteria inklusi dan disertai judul penelitian dan manfaat penelitian.

2. Anonimity (Tanpa Nama), untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak

2. Anonimity (Tanpa Nama), untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak

Dokumen terkait