• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBENTUKAN IDENTITAS ETNIK DAN AKTOR YANG TERLIBAT DALAM ARENA EKONOMI POLITIK LOKAL

KEL ETNIK AKTOR

KEL. ETNIK AKTOR S e jar ah P e n gal aman Kedudukan Kelompok- kelompok Etnik: •  Symbolic power; •  Legenda “Tokoh; Pemersatu”; •  Pelapisan Sosial; •  Stigmanisasi etnisitas. Kondisi Kelompok- kelompok Etnik:

• Sebaran kelompok etnik;

• Etnik mayoritas;

• Kuantitas kelompok etnik.

(Re)produksi kultur kekuasaan etnik

Segregasi Mata pencaharian bias etnik

Marginalisasi atas penguasaan sumber ekonomi Posisi aktor dan pembatasan peran aktor

Obyektivikasi Subyektivikasi Pembentukan Identitas Etnik (Habitus) Aktor dalam Arena Ekpol Mitologi Tomanurung Mitologi La Ndoke- doke Te Manu Mitologi Bharata dan Haluoleo

atas masa lalu dan “nasib” masa depan aktor berdasarkan basis etnisitasnya. Dengan kata lain, konteks ini ingin memberikan gambaran tentang posisi aktor dan kelompok etniknya. Agar posisi ini dapat bertahan, maka kelompok etnik bersama aktor berupaya melanggengkan doxa dan melakukan orthodoxy yang dimilikinya. Atau melakukan heterdoxy atas doxa yang bersifat negatif bagi etnisitasnya. Studi ini menunjukkan bawah salah satu doxa yang dipertahankan adalah kekuasaan kerajaan tradisional masa lalu (symbolic power) dan kedudukan kelompok etnik di Kendari maupun Sulawesi Tenggara.

Selanjutnya doxa, orthodoxy, dan heterodoxy tersebut di(re)produksi dari satu generasi ke generasi lainnya. Dengan demikian, dimensi sejarah memberikan

BOKS 5.2.

“Sejarah yang Terkalahkan”: Upaya Melakukan Heterodoxy

SAI adalah satu dari sedikit dosen di Unhalu yang berasal dari etnik Buton dan memiliki konsen terhadap dinamika ekonomi politik lokal di Sulawesi Tenggara. Sebagai seorang mantan aktivis kampus sewaktu mahasiswa, SAI memiliki jaringan yang cukup luas baik di dalam maupun di luar Sulawesi Tenggara. Dengan umurnya yang relatif muda, ia merasa perlu memahami lebih dalam tentang geo-politik Sulawesi Tenggara dan posisi entitas sosial di Sulawesi Tenggara. Untuk itulah, ketertarikannya terhadap kajian sosial tidak kalah menariknya dengan ilmu ekonomi pembangunan yang ditekuninya sebagai dosen saat ini.

Dengan kapasitasnya sebagai intelektual muda Sulawesi Tenggara, memudahkan ia untuk memahami dengan cepat bagaimana peta ekonomi politik lokal di Sulawesi Tenggara, khususnya Kendari. Selanjutnya, ketika peneliti berkali-kali diskusi dengannya untuk memper-oleh informasi terkait tema studi peneliti, SAI seringkali mengungkapkan bahwa, “nuansa etnisitas di Kendari dan Sulawesi Tenggara begitu kental, bahkan kampus ikut di dalamnya”. Tetapi hal yang tak kalah menariknya adalah pembicaraan tentang posisi etnik SAI di tengah-tengah kontestasi kelompok-kelompok etnik mayoritas.

Menjawab hal di atas, SAI maengatakan bahwa “sejarah Buton adalah sejarah yang terkalahkan. Meski harus jujur diakui bahwa peradaban Buton lebih maju dibandingkan yang lainnya”. Pernyataan SAI didasari atas catatan sejarah: 1) pemin- dahan Ibukota provinsi dari Buton ke Kendari; 2) stigmanisasi PKI; 3) lengsernya putra terbaik Buton dalam arena politik lokal, seperti: La Ode Hadi dan Moh. Kasim; dan 4) kekalahan putra terbaik Buton dalam momentum pilgub.

Atas empat poin di atas, SAI mengatakan, “ada upaya yang disengaja untuk menaklukkan orang Buton dan kami sadari hal tersebut”. Padahal, lanjut SAI, “semua itu tidak benar. Ada kesan sejarah diputarbalikkan”. Respon yang disampaikan SAI tersebut merupakan heterodoxy untuk melawan doxa yang tidak sesuai dengan kenyataan orang Buton (Wawancara 23/11/2011).

ruang bagi kelompok etnik dan aktor untuk mempertahankan posisi melalui pelestarian modal simbolik dan modal budaya (lihat Boks 5.2).

Kemudian pada garis kontinum subyektivikasi, aktor memainkan peran atas dasar kepentingan ekonomi dengan melakukan disposisi. Adapun bentuk disposisi yang dimaksud, antara lain: kondisi marginalisasi, segregasi matapencaharian, pembatasan peran, dan penguasaan sumber ekonomi yang dialami dan dirasakan aktor. Dalam kondisi seperti ini, aktor berupaya me(re)produksi sentimen kelompok etnik untuk keluar dari kondisi posisi sebelumnya. Aktor yang terdominasi dalam ekonomi, akan berupaya sekeras mungkin memperoleh modal ekonomi dengan me(re)produksi modal sosial (jaringan aktor) dan modal simbolik yang dimilikinya, sehingga mampu mengakses sumber ekonomi. Ketika sumber ekonomi tersebut berhasil diakses, maka aktor berharap memperoleh posisi strategis dan tidak terdominasi lagi. Sebaliknya, bagi aktor yang mendominasi akan terus berupaya melanggengkan posisinya dengan mengakumulasi modal ekonomi, memperluas modal sosial, dan menjaga modal simbolik yang dimilikinya (lihat Boks 5.3).

Gambar 5.10. Afiliasi Kelompok Etnik pada Praktik Politik Lokal.

Atas uraian di atas, maka peneliti beranggapan tindakan aktor senantiasa menyertakan basis etnisitas yang berorientasi pada kepentingan ekonomi dan politik. Untuk itu, struktur pembentukan identitas etnik di arena ekonomi politik

Kepulauan Muna- Tolaki Buton- Bugis Daratan

lokal merupakan relasi dialektikal antara aktor dengan kelompok etnik yang membentuk identitas bersama dan melekat dalam diri aktor berlandaskan kesejarahan kelompok etnik (posisi) dan pengalaman (disposisi) dari aktor. Meski demikian, identitas etnik dapat berubah seiring berjalannya waktu, apabila terjadi disposisi-disposisi baru dalam diri aktor. Dalam hal ini, perubahan identitas terjadi apabila ruang kepentingan (space of interest) aktor semakin kecil untuk memperluas kekuasaannya di arena ekonomi politik. Sehingga aktor akan berupaya mempengaruhi kelompok etnik untuk meredefinisi keidentitasan etniknya agar memenangkan pertarungan dalam arena ekonomi politik.

Dengan demikian, struktur pembentukan identitas etnik dalam arena ekonomi politik lokal dibedakan menjadi dua, yaitu: pertama, pembentukan identitas etnik skala besar, merupakan pembentukan identitas etnik yang mempertemukan sejarah kelompok etnik dengan pengalaman aktor. Struktur pembentukan identitas ini terjadi di inter dan antar kelompok etnik. Pada kondisi internal, aktor bersama kelompok etnik me(re)produksi berbagai jenis modal (modal sosial, budaya, dan simbolik) yang dimiliki. Meski demikian, tidak jarang terjadi pertarungan antar aktor dalam kelompok etnik yang sama di arena politik. Sedangkan antar kelompok etnik yang berbeda, aktor bersama kelompok etniknya masing-masing me(re)produksi modal simbolik untuk membangun afiliasi etnik.

Hadirnya doxa “daratan-kepulauan” dalam praktik politik lokal di Kendari (Sulawesi Tenggara) adalah contoh pembentukan identitas ini (lihat Gambar 5.10). Ilustrasi konteks doxa tersebut, sebagaimana diungkapkan informan berinisial PNL bahwa “...bicara sejarah masa lalu, Buton itu saudaranya Bugis pak. Muna saudaranya Makassar. Ketika kita bicara tentang politik, ini mohon maaf pak, Buton-Bugis saudaranya Belanda. Sebaliknya Muna-Makassar musuhnya Belanda...” (Wawancara tanggal 18/11/2011). Selanjutnya dalam struktur pembentukan identitas ini, aktor bersama kelompok etnik berupaya memenangkan pertarungan di arena politik, lalu masuk ke arena ekonomi. Untuk memenangkan pertarungan yang dimaksud, maka dilakukan berbagai doxa,

heterodoxy, dan orthodoxy yang mempertentangkan antar satu kelompok etnik dengan kelompok etnik lainnya. Symbolic power dan relasi antar kelompok etnik seringkali digunakan aktor sebagai alasan untuk meraih atau mempertahankan

kekuasaan politik. Situasi dan kondisi seperti ini, dijumpai pada peristiwa atau momentum pemilu, pilgub, dan konflik antar kelompok etnik yang pernah terjadi di Indonesia.

Kedua, pembentukan identitas etnik terbatas, merupakan pembentukan identitas etnik berdasarkan pengalaman atau disposisi-disposisi yang terjadi di dalam diri aktor. Sebelum aktor memanfaatkan sentimen (emosional) massa berbasis etnik dan jejaring yang dimilikinya, aktor terlebih dahulu mengakumulasi modal ekonomi sesuai dengan kepentingannya. Berbeda dengan struktur pembentukan identitas sebelumnya, aktor berupaya memenangkan pertarungan di arena ekonomi terlebih dahulu, kemudian masuk ke arena politik. Situasi dan

BOKS 5.3.

Kekecewaan Terhadap Aktor dari Etnik yang Sama

AMN adalah politisi asal Muna yang memiliki jam terbang cukup tinggi. Pada tahun 2007, ketika Sulawesi Tenggara pertama kali menggelar pemilihan secara langsung gubernur, AMN ikut bergabung dengan Gubernur Sulawesi Tenggara yang menang saat ini, yakni H. Nur Alam, SE. Bergabungnya AMN di tim ini dikarenakan pasangan yang digandeng Nur Alam berasal dari Muna, yakni Saleh Lasata. Boleh dikata, kemenangan Nur Alam di Raha adalah kontribusi dari AMN. Tetapi, pasca terpilih menjadi gubernur, AMN seakan ditinggalkan. AMN mengatakan, “kecewa jelas ada, tapi tidak berlarut-larut”. Harapan AMN tidak banyak terhadap Nur Alam.

Setidaknya menurut AMN, “Nur Alam memperhatikan teman-teman yang banyak membantu”. Ketika peneliti bertanya, bentuk perhatian apa yang diharapkan, AMN menjawab, “setidaknya persoalan ekonomi teman-teman selesai”. Statment AMN ini mengingatkan peneliti bahwa “akumlulasi modal ekonomi” adalah salah satu motif keterlibatan seseorang di Tim Sukses Pemenangan Kepala Daerah. Fenomena AMN, peneliti jumpai pula pada responden berinisial ARM yang berasal dari etnik Tolaki dan mengaku kecewa dengan kepemimpinan Gubernur Nur Alam karena telah banyak membantu pada tahun 2007. ARM mengatakan, “jangankan dapat proyek dari gubernur, ditemui saja susahnya bukan main”.

Baik AMN maupun ARM, keterlibatan mereka awalnya karena memiliki kesamaan solidaritas dengan kandidat. Jika AMN ada Saleh Lasata yang orang Muna, maka ARM terlibat karena Nur Alam berasal dari etnik Tolaki. Menghadapi pilgub 2012, AMN dan ARM cenderung memilih kandidat dari etnik yang berlainan. Ketika peneliti bertanya, apa alasan mereka melakukan ini, keduanya menjawab senada, “kami melakukan perlawanan! Lebih baik kami memilih orang lain yang berlainan etnik, tapi memperhatikan kita daripada memilih sesama etnik tapi cuekknya bukan main”. Saat ini mereka berdua (AMN dan ARM), melakukan pengkonsoludasian jaringan yang mereka miliki untuk mengarahkan suara ke pilihan kandidat. Berangkat dari kasuistik AMN dan ARM, menjadi jelas bahwa kedua aktor ini berangkat dari kepentingan ekonomi untuk melakukan pengkonsoludasian entitas sosial mereka masing-masing (Wawancara tanggal 1/12/2011).

kondisi ini, dijumpai pada fenomena pengorganisasian ekonomi identitas dan tindakan individu aktor dalam politik identitas. Berdasarkan uraian dan penjelasan sebelumnya, maka dipastikan pembentukan identitas etnik sangat menentukan atau berpengaruh terhadap praktik-praktik dominasi [identitas] etnik dalam arena ekonomi politik lokal yang mana di dalamnya terbentuk kekuatan [identitas] etnik dan relasi antar etnik (akan dijelaskan pada bab berikutnya).

Aktor yang Terlibat

Siapakah aktor yang terlibat dan melakukan pertarungan dalam arena ekonomi politik lokal? Lalu bagaimana posisi subyektif aktor dalam arena yang dimaksud tersebut? Kedua pertanyaan tersebut penting untuk diuraikan karena menentukan praktik-praktik dominasi [identitas] etnik dalam arena ekonomi politik lokal. Namun sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya peneliti menguraikan proposisi-proposisi aktor yang peneliti bangun dalam kaitannya dengan habitus etnisitas yang dimaksud dalam studi ini. Adapun proposisi-proposisi tersebut, sebagai berikut:

1) Habitus etnisitas yang dimiliki aktor akan selalu mengklasifikasikan arena yang akan dimasuki. Sebaliknya, arena mengkondisikan habitus etnisitas aktor;

2) Habitus etnisitas bagi aktor yang dominan, akan mempertahankan posisinya dengan mengakumulasi berbagai modal. Sehingga aktor senantiasa memanfaatkan modal yang dimilikinya untuk merebut dan mempertahankan posisi; dan

3) Modal memiliki kekuatan untuk menentukan (re)produksi dalam arena ekonomi politik lokal. Arena ini, kemudian mensyaratkan kepemilikan modal dari seorang aktor sebagai aturan-aturan yang tersirat di dalamnya. Berangkat dari proposisi di atas, maka praktik aktor dalam arena ekonomi politik lokal disesuaikan berdasarkan distingsi identitas etnik dan latar belakang (profesi) aktor. Hal tersebut disebabkan setiap arena memiliki aturan-aturan yang harus diikuti aktor. Adanya aturan-aturan tersebut, menyebabkan tidak semua

aktor dapat memasuki arena yang ada sehingga aktor cenderung bertindak memilih praktik-praktik yang sesuai dengan habitusnya. Selanjutnya, apabila aktor merasa memiliki kuasa yang cukup atas praktik yang dijalankannya, maka aktor dapat “menjajah” ke praktik lainnya. Oleh karena itu, aktor sebagaimana temuan dari penelitian ini, umumnya aktor dibedakan menjadi dua kategori, yaitu: 1) Aktor dalam (in-actors), yaitu aktor yang lahir dan besar di Kendari (Sulawesi Tenggara), serta mengalami berbagai peristiwa pergesekan bahkan benturan antar etnik yang terjadi dalam arena ekonomi politik lokal. Pergesekan dan benturan tersebut, kemudian membentuk persepsi aktor tentang etnisitas yang tidak jarang mempengaruhi aktor memisahkan diri dengan praktik-praktik dominasi dan terdominasi yang terjadi antar etnik. Kemudian ketika aktor memiliki kepentingan dalam arena ekonomi politik lokal, maka aktor dominan me(re)produksi identitas etnik sebagai instrumen (tools) mewujudkan kepentingan yang diinginkan. Mereka yang disebut aktor dalam kategori ini, sebagian besar menempuh pendidikan di universitas daerah dan menjadi aktivis di kampus tersebut; dan

2) Aktor luar (out-actors). Berbeda dengan aktor sebelumnya, aktor ini lahir di Kendari (Sulawesi Tenggara), tetapi besar di luar daerah ini. Hasil interaksinya dengan pengalaman di luar Kendari (Sulawesi Tenggara) menyebabkan aktor memiliki persepsi sendiri tentang

distingsi identitas etnik dan memperlakukannya. Untuk itu, ketika aktor memiliki kepentingan dalam arena ekonomi politik lokal, maka aktor tidak dominan menggunakan identitas etnik sebagai instrumen (tools). Namun aktor mencari instrumen yang tepat untuk mewujudkan kepentingan yang diinginkan. Kalaupun distingsi identitas etnik digunakan aktor sebagai instrumen, maka sifatnya hanyalah taktis dan sementara saja. Adapun aktor yang termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang dulunya pernah mengenyam pendidikan tinggi di luar Sulawesi Tenggara dan menjadi aktivis di kampus-kampus tersebut.

Berangkat dari dua kategori umum tersebut, aktor secara spesifik dibedakan berdasarkan basis profesinya, seperti: aktor politisi, birokrat, kampus, pengusaha, dan NGO/LSM. Meski demikian, pembedaan berdasarkan basis profesi aktor bukan berarti membatasi wilayah atau cakupan tindakan aktor. Melainkan, disini aktor lebih memahami bahwa posisi subyektif aktor dan prinsip-prinsip pembentukan identitas etnik yang tak dapat dipisahkan (dikotomis) antar aktor dengan massa. Tidak itu saja, setiap aktor yang terlibat memiliki kekuatan yang berbeda-beda dalam mengakumulasi modal sebagai syarat untuk “bertarung” di arena ekonomi politik lokal.

Posisi Subyektif Aktor dan Mobilisasi [Identitas] Etnik

Meski massa cenderung mengutamakan dan mempertahankan modal simbolis (sebagaimana penjelasan pada prinsip-prinsip pembentukan identitas etnik), namun kondisi ekonomi massa yang tidak layak bisa memberikan peluang bagi aktor untuk melakukan mobilisasi [identitas] etnik dengan kekuatan modal ekonomi yang dimilikinya. Akan tetapi mobilisasi [identitas] etnik hanya dapat dilakukan dalam bentuk dukungan politik dari massa. Sebagaimana diungkapkan informan peneliti berinisial AMN98:

“...tanpa uang dukungan kerabat sesama etnik tidak akan mungkin diperoleh. Ibaratnya, kalo saja kita satu etnik dimana saya dari golongan miskin. Mana mungkin saya ke Mandonga bertemu Bapak, jika saja Bapak tidak memberi saya uang pete-pete. Walau niat saya ke Bapak, tapi kalo Bapak tidak perhatikan nasib saya bagaimana pak...Situasi ini terjadi dengan salah kandidat gubernur tahun 2007 dari etnik Muna berinisial MHD...” ungkap AMN (Wawancara tanggal 1/12/2011).

Dengan demikian, menurut peneliti bahwa posisi subyektif aktor di arena ekonomi politik lokal mampu mendorong terwujudnya mobilisasi [identitas] etnik yang bersifat negatif maupun positif. Mobilisasi [identitas] etnik bersifat negatif, terjadi apabila aktor dengan modal ekonomi yang dimiliknya melakukan upaya mobilisasi [identitas] etnik. Adapun mobilisasi yang dilakukan aktor bertujuan

      

98 AMN adalah responden penelitian ini yang dapat digolongkan sebagai elit politik dari

etnik Muna. Sejauh ini, AMN memiliki pengalaman sebagai master campaign kandidat bupati dan gubernur di Sulawesi Tenggara.

agar memperoleh dukungan simbolik dari basis etnisitasnya untuk meraih kekuasaan politik sebagaimana yang diharapkan. Situasi dan kondisi ini terjadi, apabila massa yang tersegregasi dalam kondisi miskin. Oleh karena itu, pilkada dengan mudah membuka ruang mobilisasi [identitas] etnik. Jika situasi dan kondisi ini terus “dipelihara” dan berlanjut, maka akan memberikan dampak bagi suramnya masa depan Kendari, Sulawesi Tenggara maupun Indonesia.

Gambar 5.11. Prinsip Hierakhi dan Mobilisasi [Identitas] Etnik di Lokasi Studi.

Sementara itu mobilisasi [identitas] etnik bersifat positif, terjadi apabila aktor mendukung (menjaga) sepenuhnya modal simbolik yang telah melekat dalam diri massa. Atau terjadi apabila massa yang memiliki modal simbolik dengan kesadaran penuh melakukan tindakan penolakan atas segala cara yang dilakukan aktor atau pelaku lainnya untuk membenturkan antar massa (kelompok- kelompok etnik) demi kepentingan kekuasaan aktor. Perihal yang terakhir, terjadi apabila kondisi massa sudah tidak lagi dalam keadaan miskin dan adanya kemauan kolektif dari seluruh pihak untuk mengawal agenda multikulturalisme.

Sehubungan dengan hal di atas, Gambar 5.11 mengingatkan hasil penelitian yang mengatakan bahwa trend kemajuan ekonomi di beberapa negara Asia

Aktor memperoleh dukungan massa Praktik Pilkada yang

sarat dengan money politic

Mobilisasi [Identitas] Etnik

HETERENOM

OTONOM AKTOR

Massa

Dukungan Aktor dari Massa yang memperjuangkan eksistensi identita [etnik]

Modal Ekonomi Eksisitensi identitas etnik di berbagai arena Modal Simbolik Keterangan: Mobilisasi + Mobilisasi -

Tenggara (Indonesia, Singapura, dan Malaysia) memiliki hubungan linear dengan tumbuhnya organisasi-organisasi kemasyarakat baru. Meski demikian, gejala ini menurut pandangan antropolog Robert W. Hefner (2011:77-79):

“...karena berasal-usul dari masyarakat-masyarakat yang beraneka ragam, asosiasi-asosiasi civic itu kadang-kadang bisa digunakan untuk mempromosikan kepentingan-kepentingan salah satu kelompok sosial yang berseberangan dengan kelompok lain, bukannya demi tujuan- tujuan demokratis”

Senada dengan Hefner, studi ini menggarisbawahi bahwa modal simbolik yang dimiliki masyarakat majemuk ternyata tidak cukup sebagai faktor utama mewujudkan agenda multikulturalisme di arena ekonomi politik. Tetapi perlu diikuti dengan penyelesaian problem kemiskinan dan membangun kesadaran kolektif berbagai pihak untuk bersama-sama mengawal agenda multikulturalisme. Dengan demikian, posisi subyek aktor di arena ekonomi politik lokal memberikan gambaran awal bahwa aktor memiliki peran dalam pembentukan identitas etnik dan moda praktik yang berlangsung dalam arena ekonomi politik lokal.

Peta Kekuatan Aktor dalam Arena Ekonomi Politik Lokal

Untuk memetakan kekuatan aktor dalam arena ekonomi politik lokal, maka penting memahami “bermainnya” modal dalam praktik ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praktik arena ekonomi politik lokal lebih menitikberatkan modal simbolik dan modal ekonomi yang miliki aktor sebagai kekuatannya. Sementara itu, relasi antar aktor bias etnik lebih bersifat transaksional yang memberikan keuntungan bagi aktor dengan pihak yang diajak melakukan transaksi. Oleh karena itu, aktor yang memasuki praktik ini memiliki kemampuan “memainkan” peran yang telah ditentukan prinsip heteronom maupun otonom.

Selanjutnya di arena ekonomi politik lokal tersebut, aktor memiliki kecenderungan atau orientasi untuk merebut kekuasaan politik. Kemudian agar orientasi tersebut tercapai, aktor menggunakan sepenuhnya modal simbolik dan ekonomi yang dimilikinya untuk menarik dukungan massa saat berlangsungnya momentum politik (seperti: pilkada, suksesi parpol, suksesi ormas, suksesi

kampus, dan lain sebagainya).99 Apabila aktor berhasil memposisikan diri dalam arena politik, maka aktor dengan perlahan-lahan akan “menjajah” atau memperluas praktiknya di arena ekonomi sesuai dengan kekuasaan politik yang dimilikinya. Adapun orientasisnya adalah mengakumulasi modal ekonomi agar pengaruh aktor semakin luas dan dapat “memilihara” dukungan massa selama kekuasaan politik masih melekat di dalam dirinya.

Ibarat “sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui”, praktik aktor dalam arena ekonomi politik lokal memiliki daya tarik tersendiri sehingga banyak aktor memasuki praktik ini. Mereka yang dimaksud adalah aktor politik, birokrat, pengusaha, dan NGO/LSM. Serta ditemukan satu-dua aktor kampus yang ikut terlibat dalam praktik ini. Inilah salah satu alasan mengapa praktik ekonomi politik lokal cenderung lebih kompleks. Namun demikian, kekompleksitasan tersebut dapat diuraikan dengan terlebih dahulu memetakan modal simbolik dan ekonomi (kekuatan praktik) dari masing-masing aktor (lihat Tabel 5.9). Studi ini menunjukkan bahwa aktor politik dan birokrasi cenderung memiliki kekuatan praktik yang lebih besar dibandingkan aktor lainnya. Kemudian disusul aktor pengusaha karena memiliki modal simbolik di bawah dua aktor sebelumnya. Fenomena inilah yang kemudian menyebabkan mengapa kandidat kepala daerah senantiasa berasal dari tiga profesi ini.

Aktor kampus dan NGO/LSM merupakan aktor dengan posisi “kuda hitam” yang sewaktu-waktu tampil sebagai rival aktor politik, birokrasi, dan pengusaha di arena politik lokal. Kurangnya dukungan modal ekonomi dari kedua aktor ini menyebabkan posisi aktor ini cenderung tidak kuat (lemah) dalam proses rivalisasi antar aktor di arena politik yang bersifat massal. Hal ini disebabkan otonomi daerah atau demokrasi lokal yang bersifat liberatif cenderung menggiring massa untuk menempatkan modal ekonomi (uang) secara lebih masif.

      

99

Biasanya aktor yang berhasil memenangkan pertarungan dengan dukungan massa adalah aktor yang mampu me(re)produksi symbolic power, stigmanisasi etnik, kekuatan etnik, dan kekuasaan kerajaaan tradisional masa lalu. Meski tak dapat disangkal, bahwa keberhasilan aktor sangat ditentukan dengan kekuatan modal ekonomi yang dimilikinya.

Tabel 5.9. Peta Kekuatan Aktor dalam Arena Ekonomi Politik Lokal. Aktor

Kekuatan Praktik Aktor

Orientasi Praktik

Modal Simbolik Modal Ekonomi

1. Politik Memiliki pengaruh di masy. karena keturunan

bangsawan, ketua ormas, dan pengurus parpol

Memiliki kekayaan materiil yang mumpuni

Merebut dan

mempertahankan kekuasaan politik dan ekonomi

2. Pengusaha

(Ekonomi)

Ketua ormas dan memiliki pekerja dari lintas etnik

Memiliki kekayaan materiil yang mumpuni

Memperluas dan

mengamankan asset ekonomi dan memiliki orientasi memasuki praktik politik

3. Birokrasi Memiliki pengaruh di masy. karena keturunan

bangsawan dan ketua ormas

Memiliki kekayaan materiil yang mumpuni

Memiliki orientasi untuk memasuki praktik politik

4. NGO/LSM

Memiliki pengaruh di masy. karena memiliki program pendampingan di masyarakat dan memiliki kapasitas pengetahuan yang mumpuni terkait dinamika sejarah dan kebudayaan etnisitasnya

Memiliki kekayaan materiil yang terbatas, tidak seperti tiga aktor sebelumnya.

Memiliki orientasi untuk memasuki praktik politik

5. Kampus

Memiliki pengaruh di masy. karena keturunan bangsawan, ketua paguyuban kelompok etnik, ketua ormas, dosen, dan memiliki kapasitas pengetahuan yang mumpuni terkait dinamika sejarah dan kebudayaan etnisitasnya

Dibandingkan aktor NGO/LSM,

Dokumen terkait