• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebelum Indonesia merdeka hingga penghujung kekuasaan Orde Lama,52 Kendari bukanlah kota yang dikenal di daratan pulau Sulawesi. Berbeda dengan Konawe (Unaaha), Muna, dan Buton lebih dikenal karena kedudukannya sebagai pusat kerajaan tradisional masa lalu. Tetapi karena posisi Kendari yang strategis,53 kota ini kemudian diusung sebagai pusat pemerintahan Sulawesi Tenggara.54 Secara geografis Kendari berada diantara 120o39’06”–122o23’06” BT dan 03o54’30”–04o03’11” LS yang membentang mengelilingi Teluk Kendari. Di sebelah selatan kota ini, berbatasan dengan Kecamatan Soropia; sebelah timur berbatasan dengan Laut Banda; sebelah selatan berbatasan Kecamatan Moramo dan Kecamatan Konda; dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Ranomeeto dan Sampara.

Kemudian dibandingkan dengan sebelas kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Tenggara, Kendari adalah kota tersempit yang memiliki luas 0,78 persen atau 29.589 hektar. Sedangkan kabupaten yang terluas adalah Kolaka sebesar 18,14 persen atau 691.838 hektar (lihat Gambar 4.1). Jumlah penduduk dan kepala keluarga (KK) di Kendari termasuk dalam peringkat 3 besar dari 12

      

52

Awalnya Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Kendari diperingati setiap tanggal 27 September. Peristiwa yang disesuaikan peresmian Kendari sebagai Kotamadya Daerah Tingkat II Kendari oleh Mendagri Yogie S. Memed. Oleh sebagian elit lokal menganggap bahwa HUT Kota Kendari yang diambil dari peristiwa tersebut sama saja membatasi makna keberadaan Kota Kendari. Untuk itu, merujuk publikasi Vosmaer tentang Kendari, maka HUT Kota Kendari diperingati setiap tahunnya pada tanggal 9 Mei sesuai dengan Peraturan Walikota No. 174 Tahun 2007 (Asrun 2010).

53

Banyak orang mengatakan bahwa Kendari adalah pusat pemerintahan Kerajaan Laiwoi. Tapi menurut pendapat peneliti, pusat Kerajaan Laiwoi sesungguhnya bukanlah di Kendari, melainkan di Ranomeeto. Beberapa bukti sejarah mengatakan bahwa berdirinya Kerajaan Laiwoi tidak lepas dari campur tangan Belanda yang saat itu memiliki hubungan dekat dengan Sapati Tebawo di Ranomeeto. Hubungan dekat tersebut diikat dengan kepentingan yang sama, yaitu menumpas bajak-bajak laut Tobelo. Bukti lainnya, bahwa Ranomeeto sejak awal abad XIX telah menyatakan diri sebagai kerajaan berdaulat dengan nama Kerajaan Laiwoi dan mengadakan hubungan luar diantaranya dengan Belanda, yang ditandai dengan akte ikatan atau long contract

1858 (Tamburaka et. al. 2004: 300-306). Adapun Kendari saat itu, sebagai pusat armada militer dan Pemerintahan Belanda, serta tempat dilakukannya berbagai perjanjian dengan pihak non- Belanda karena dianggap lebih strategis dibandingkan kota-kota taklukan Belanda lainnya.

54

Dibagian berikut dalam tulisan ini, akan diketengahkan polemik penentuan pusat ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara ketika Sulawesi Tenggara lepas dari provinsi induknya Sulawesi Selatan-Tenggara (Sulselra).

kabupaten di Sulawesi Tenggara dengan jumlah penduduk dan KK terbanyak, yaitu masing-masing sebesar 14,02 persen (317.865 jiwa) dan 13,93 persen atau sebanyak 81.502 KK (lihat Tabel 4.1). Kondisi ini, kemudian berimplikasi pada kepadatan penduduk yang lebih tinggi dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di Sulawesi Tenggara, yaitu 881 jiwa/km2 (BPS Prov. Sulawesi Tenggara 2010).

Tabel 4.1. Jumlah dan Persentase Penduduk dan Kepala Keluarga Berdasarkan Kota/Kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara.

No. Kota/Kabupaten Jumlah Penduduk (Jiwa) % Kepala Keluarga (KK) % 1. Bau-Bau 133.598 (5,89) 33.942 (5,83) 2. Bombana 140.176 (6,18) 36.084 (6,20) 3. Buton 262.738 (11,59) 70.274 (12,08) 4. Buton Utara 55.923 (2,47) 13.742 (2,36) 5. Kendari 290.392 (12,81) 68.062 (11,70) 6. Kolaka 317.865 (14,02) 81.052 (13,93) 7. Kolaka Utara 125.158 (5,52) 31.935 (5,49) 8. Konawe 247.990 (10,94) 63.900 (10,98) 9. Konawe Selatan 270.611 (11,94) 69.825 (12,00) 10. Konawe Utara 53.574 (2,36 ) 14.225 (2,45) 11. Muna 273.000 (12,04) 70.143 (12,06) 12. Wakatobi 95.740 (4,22) 28.582 (4,91) Jumlah 2.266.765 (100) 581.766 (100)

Sumber: Diolah dari Data Potensi Desa Kelurahan (BPS 2011).

Kepadatan penduduk Kendari yang tinggi dianggap wajar karena kota ini sejak lama dikenal sebagai kota perdagangan yang strategis dan menjanjikan bagi siapa saja. Data terakhir (DDA Kota Kendari 2010) menyebutkan kekuatan perdagangan kota ini terletak pada perdagangan ekspor-impor dan perdagangan antar pulau. Pada tahun 2010, impor terbesar Kendari adalah pada komoditas bahan bakar mineral, yaitu mencapai 2.232.103 kilogram dengan nilai 1.205.147 US$. Sedangkan ekspor terbesar adalah pada bijih logam, perak, dan abu sebesar 3.710.296.866 kilogram dengan nilai 44.441.601 US$. Adapun perdagangan antar pulau lebih berorientasi barang-barang yang berasal dari hasil bumi dan laut, seperti: barang-barang hasil tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan,

dan hasil hutan. Sementara itu, hasil laut meliputi: ikan dan hasil-hasil lainnya. Semua ini, merupakan peluang ekonomi untuk meraih “rezki” bagi kelompok- kelompok etnik yang ada di Kota Kendari dan sekitarnya.

Gambar 4.1. Luas Wilayah per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sumber: Sulawesi Tenggara Dalam Angka 2010).

Jika ditelusuri lebih jauh, rupanya kekuatan perdagangan yang menjadi andalan kota ini tidak terjadi begitu saja. Melainkan warisan kesejarahan yang ada sejak lama. Penelusuran referensi menunjukkan Kendari adalah kota perdagangan yang mengekspor hasil-hasil bumi Laiwoi55 berupa beras. Chalik dan Bhurhanuddin (1984) menyebutkan roda perdagangan Kendari saat itu dijalankan kelompok etnik Bugis56 yang bertindak sebagai pedagang bermodal yang dibantu kelompok etnik lainnya, seperti: etnik Tolaki (produsen hasil bumi), Muna, dan Buton (buruh atau tenaga kasar di perdagangan). Inilah awal terbentuknya struktur masyarakat polietnik di Kendari yang terdiri dari empat

      

55

Menurut beberapa referensi menyebutkan Laiwoi adalah salah satu kerajaan (pecahan Kerajaan Konawe) dari daratan Sulawesi Tenggara yang kekuasaannya mencakup Kendari dan beberapa daerah sekitarnya. Dalam batasan kelompok etnik, Kerajaan Laiwoi merupakan kelompok etnik Tolaki (Konawe) yang pusat kerjaaannya pertama kali di Ranomeeto. Kemudian catatan Chalik dan Bhurhanuddin (1984) menyebutkan bahwa pada tahun 1927 Raja Laiwoi yang bernama Sao-Sao memindahkan ibukota swapraja dari Lepo-Lepo ke Kendari.

56

Pengakuan etnik Bugis sebagai kelompok etnik yang sudah lama berdiam di Kendari dibuktikan dari adanya tanda tangan perwakilan etnik Bugis yang diwakili kepala Suku Bugis pada “Perjanjian Ulularang” antara Raja Sao-Sao dengan Pemerintah Belanda (Tamburaka et. al. 2004).

7,01% 7,58% 17,81% 18,14% 11,84% 8,01% 1,12% 8,89% 5,23% 12,79% 0,78% 0,80%

Buton& Muna& Konawe& Kolaka& Konawe&Selatan& Bombana& Wakatobi& Kolaka&Utara& Buton&Utara& Konawe&Utara& Kendari& Bau6Bau&

kelompok etnik mayoritas, yaitu Tolaki, Muna, Buton, dan Bugis dan sisanya dua puluh empat etnik minoritas.57

Gambar 4.2. Salah Satu Aktivitas “Kota Dagang” di Teluk Kendari.

Sebagai daerah yang terbentuk dari struktur polietnik, Kendari memiliki tiga keistimewaan dibandingkan dengan kota-kota pesisir lainnya di Indonesia.

Adapun ketiga keistimewaan tersebut, pertama, Kendari sebagai tempat

bertemunya kelompok-kelompok etnik yang mengakui perbedaan [identitas] etnik satu sama lainnya. Selanjutnya perbedaan [identitas] etnik di(re)produksi dalam perebutan kekuasaan baik politik maupun ekonomi; kedua, narasi sejarah kekuasaan kerajaan tradisional dikonstruksi aktor sebagai kekuasaan simbolik

(symbolic power) yang terus di(re)produksi.58 Tujuan (re)produksi tersebut

adalah agar aktor dapat memperoleh dan melanggengkan kekuasaan politik

maupun ekonomi; dan ketiga, sebagai kota dagang, Kendari membentuk tatanan

      

57

Etnik Bugis seringkali masih dikonstruksikan sebagai etnik pendatang di Kota Kendari. Sedangkan etnik Tolaki, Muna, dan Buton dianggap sebagai etnik lokal. Meski kenyataannya, konstruksi tersebut tidak beralasan karena sebelum Kerajaan Laiwoi dan Vosmaer bersama armada militernya ke Kendari, etnik Bugis dan Bajo sudah berdiam sejak lama di Kendari.

58

Di daratan Sulawesi Tenggara, terdapat tiga kerajaan tradisional, yaitu Konawe, Mekongga, dan Laiwoi. Sedangkan di kepulauan Sulawesi Tenggara, terdapat dua kerajaan tradisional, yaitu Muna dan Buton (La Oba 2005; Tamburaka et. al. 2004; Chalik dan Bhurhanuddin 1984). Cerita sejarah kerjaan dan kesultanan di Sulawesi Tenggara dapat dibaca melalui karya Tamburaka et. al. (2004); Oba (2005); dan Darmawan (2009).

“masyarakat tersegregasi” berdasarkan basis etnisitasnya. Bentuk segregasi tersebut dapat dilihat dari pemukiman, matapencaharian, proses politik (baca: pilkada), pemekaran wilayah, dan lain-lain.

Ketiga keistimewaan tersebut, rupanya dilestarikan aktor yang berbeda [identitas] etnik melalui tradisi lisan dan tulisan tentang kedudukan kelompok etniknya. Akibatnya tidak sedikit diantara mereka menjadikannya kebanggaan yang diakumulasi menjadi serangkaian modal (ekonomi, sosial, budaya, dan simbolik). Namun tidak sedikit pula, nampak “dendam sejarah” yang tak dapat disembunyikan. Kondisi paradoks ini, kemudian bermuara pada politik identitas dalam bentuk pertarungan simbolik aktor yang berkepentingan merebut dan mempertahankan legitimasi dan kekuasaannya.59

Inilah fakta masyarakat majemuk yang menjadi perhatian khusus Furnivall tiga abad yang lalu ketika mengkonstruksi masa depan Hindia Belanda (Furnivall 2009: 489-494). Uraian sebelumnnya menunjukkan bahwa keberadaan etnisitas tersebut, telah memberikan warna kesejarahan Kendari yang tak dapat dipisahkan dari eksistensi kelompok-kelompok etnik. Fakta lain dapat dilihat dari konstruksi etnik “lokal-pendatang” sebagai upaya mempertegas “kebenaran” wacana dominan (doxa) “putra daerah”, yang sesungguhnya tidak lahir begitu saja. Melainkan melekat dengan histori Kendari sebagai kota perdagangan yang terbuka, dimana kelompok-kelompok etnik yang ada didalamnya saling berinteraksi tanpa menanggalkan keidentitasan etniknya. Inilah yang peneliti sebut bahwa Kendari berada dalam “bayang-bayang” identitas etnik.

Untuk menjelaskan kondisi tersebut, maka diperlukan suatu pemahaman tentang kejadian atau peristiwa penting dalam kurun waktu tertentu, seperti: prakolonial, kolonialisme, pra kemerdekaan, kemerdekaan (Orde Lama), Orde Baru, dan pasca Orde Baru (reformasi dan desentralisasi). Bagaimanapun dalam kurun waktu tersebut, banyak peristiwa menarik yang inspiratif. Namun peneliti akan membatasinya dan mengambil “penggalan” persitiwa yang bersesuaian dengan tematik studi yang diangkat dalam disertasi ini. Atas rangkaian peristiwa

      

59

Pertarungan simbolik antar etnik lokal (Tolaki, Muna, dan Buton) dapat dilihat dari kumpulan tulisan berjudul “Haluoleo dalam Berbagai Persepsi” yang dieditori oleh Anwar (2004). Pertarungan simbolik ini senantiasa direproduksi dalam arena ekonomi politik lokal.

tersebut, peneliti menganggapnya sebagai “tonggak-tonggak” dominasi etnik di Kendari (lihat Tabel 4.2).

Tabel 4.2. Peristiwa Penting sebagai “Tonggak-tonggak” Dominasi Etnik di Kendari.

Peristiwa Refleksi Periodesasi

1. Keberadaan kerajaan tradisional di Sulawesi

Tenggara Pra Kolonialisme

2. Masyarakat yang tersegregasi berdasarkan etnik Kolonialisme 3. Pembentukan daerah administratif yang sarat

dengan identitas etnik Kemerdekaan

4. Kontrol atas kekuatan [identitas] etnik Orde Baru

5. Kebangkitan identitas etnik Pasca Orde Baru

(Reformasi)

Sumber: Diolah dari berbagai sumber (Chalik dan Bhurhanuddin 1984; Tamburaka et. al.

2004; Darmawan 2009); dan data primer dari hasil indept interview.

Diuraikannya lima peristiwa tersebut, sebagai cermin bahwa kebangkitan politik identitas etnik di era desentralisasi memiliki pondasi sejarah yang tak dapat ditafikkan bagi masyarakat politetnik. Sebagai daerah yang mencerminkan ciri-ciri Indonesia, Kendari menjadi penting menggambarkan berlangsungnya kebangkitan politik [identitas] etnik. Untuk itu, tulisan peneliti pada bab ini bermaksud menjelaskan dimensi historis Kendari dalam “bayang-bayang” identitas etnik sebagimana yang telah disebutkan sebelumnya.

Kerajaan-kerajaan Tradisional di Sulawesi Tenggara

Jauh sebelum Belanda melakukan invasi ke daratan dan kepulauan Sulawesi Tenggara (pra kolonialisme),60 terdapat kerajaan tradisional dengan sistem

      

60

Di wilayah daratan Sulawesi Tenggara, invasi Belanda mulai masuk ke Kerajaan Konawe pada abad ke XVIII. Tepatnya pada tanggal 9 Mei 1831, dimana orang-orang Belanda mulai menginjakkan kakinya di Wilayah Kerajaan Konawe, yaitu di Ranomeeto. Kemudian menjalin hubungan dengan Tebau (Sapati Ranomeeto) untuk mengadakan pengamanan terhadap bajak laut Tobelo (Tamburaka et. al. 2004:261). Sementara itu, di wilayah kepulauan Sulawesi Tenggara, invasi Belanda ditandai dengan intervensi Belanda di dua kerajaan yang terdapat di kepulauan Sulawesi Tenggara, yaitu Kerajaan Muna dan Buton. Di Muna dan Buton, Belanda masuk disertai penyelesaian konflik antar Kerajaan Muna dan Buton yang terjadi pada abad ke XVI. Tamburaka et. al. (2004) mencatat kedatangan Belanda ke Muna pada tahun 1652 ditandai

pemerintahannya masing-masing. Ini sebagaimana diuraikan dalam buku “Sejarah Sulawesi Tenggara dan 40 Tahun Sulawesi Tenggara Membangun” yang ditulis Tamburaka et. al. (2004). Meski buku ini menuai banyak kritik,61 tetapi buku inilah yang secara komprehensif menceritakan kedudukan kerajaan-kerajaan tradisional yang pernah ada dan eksis di daratan maupun kepulauan Sulawesi Tenggara. Tamburaka et. al. (2004) mencatat terdapat enam kerajaan tradisional yang pernah ada di Sulawesi Tenggara, yaitu: Moronene, Buton, Konawe, Laiwoi, Muna, dan Mekongga. Kemudian, jika dikelompokkan berdasarkan etnik, keenam kerajaan tradisional tersebut terdiri dari: (1) etnik Tolaki (Konawe dan Mekongga); (2) etnik Muna (Kerajaan Muna); (3) etnik Buton (Kerajaan Buton); dan (4) etnik Moronene (Kerajaan Moronene). Untuk kepentingan disertasi ini, peneliti membatasi tiga etnik (Tolaki, Muna, dan Buton) yang akan menjadi fokus analisis, selain etnik Bugis sebagai salah satu etnik yang memiliki sebaran mayoritas di Sulawesi Tenggara.

Dalam riwayat kesejarahaan, kedudukan kerajaan-kerajaan tradisional di

Sulawesi Tenggara merupakan kekuasaan simbolikkelompok etnik dan memiliki

kekuasaan atas wilayah di Sulawesi Tenggara. Sebagai misal, Kerajaan Moronene merupakan manifestasi kekuasaan simbolik etnik Moronene yang memiliki kekuasaan eks Kerajaan Moronene atas wilayah jazirah Sulawesi Tenggara bagian selatan dan pulau Kabaena (Tamburaka et. al. 2004:139-142) dan saat ini berdiri

      

dengan kedatangan De Flaming bersama Sultan Mandasyah dari Ternate ke Buton, kemudian bersama-sama melakukan tindakan penangkapan La Ode Kaindea di Pelabuhan Lohia (Ghai). Meski sebelumnya pada tahun 1613, Belanda selalu mampir di Muna dan Buton dalam pelayaran ke Maluku. Referensi lain dikemukakan Couvreur (2001:22) bahwa kedatangan Belanda ke Muna dan Buton 1655 yang ditandai dengan peristiwa direbutnya daerah Tiworo oleh Komandan Ross yang dibantu oleh Sultan Ternate. Berbeda dengan referensi sebelumnya, Djarudju (Darmawan 2009:148) mengemukakan bahwa kedatangan Belanda ke Buton ditandai dengan perjanjian persahabatan VOC dengan Buton sebanyak 3 kali pada tahun 1613. Menurut peneliti ada kesamaan dan perbedaan antara tiga referensi tersebut. Kesamaannya terletak pada kesepahaman bahwa kedatangan Belanda di kedua kerajaan tersebut pada abad ke XVI. Adapun perbedaannya, terletak pada ketetpatan tahun dan peristiwa masuknya Belanda di dua kerajaan kepulauan Sulawesi Tenggara.

61

Kritikan paling keras disampaikan oleh Prof. H. La Ode Sirajudin Djarudju (Dosen Unhalu) pada acara “Simposium Internasional IX Pernaskahan Nusantara di Kota Bau-Bau”. Dalam simposium tersebut, Djaruju mengungkapkan “...pernyataan yang dimuat dalam buku Alamanak Jagad Raya penerbit Dian Rakyat ha. 60 tentang Sulawesi Tenggara, yaitu dahulukala Sulawesi Tenggara dikuasai oleh Kerajaan Konawe di bawah Haluoleo. Pernyataan tersebut sebagai dongeng belaka yang tidak mengandung kebenaran, perlu dipertanyakan darimana sumber pernyataan diperoleh...hasil rumusan seminar nasional dan relevansi buku berdasarkan hasil seminar sebagaimana tercantum dalam hal. 767-778 adalah tidak benar...” (Djarudju dalam

sebagai Kabupaten sendiri bernama Bombana.62 Sementara itu, etnik Tolaki merupakan etnik yang memiliki kekuasaan simbolik yang kuat karena mewakili tiga kerajaan tradisional, yaitu Konawe, Mekongga, dan Laiwoi (Tamburaka et. al. 2004:193-361). Adapun kekuasaan wilayah kerajaan tradisional tersebut, tersebar merata hampir di jazirah Sulawesi Tenggara bagian utara, barat, selatan, dan timur.63 Kemudian, dalam konteks kekuasaan wilayah bagian utara terdapat Kabupaten Kolaka Utara, bagian timur terdapat Kabupaten Kolaka, bagian barat terdapat Kota Kendari dan Kabupaten Konawe, serta bagian selatan terdapat Kabupaten Konawe Selatan. Akan tetapi seiring perjalanan waktu, terjadi situasi seperti Kabupaten Bombana, dimana etnik Bugis menggeser dominasi etnik Tolaki untuk wilayah jazirah Sulawesi Tenggara bagian utara (Kolaka Utara) dan bagian barat, yaitu Kolaka.

Berbeda dengan kerajaan-kerajaan di daratan Sulawesi Tenggara, di wilayah kepulauan terdapat dua kerajaan yang masing-masing memiliki kekuasaan yang dipisahkan pulau, yaitu Kerajaan Muna dan Kerajaan Buton. Meski terpisah, bukan berarti kedua kerajaan ini tidak memiliki hubungan sama sekali. Bukti adanya daerah kekuasaan Kerajaan Muna di daratan Buton dan sebaliknya, terdapat daerah Kekuasaan Kerajaan Buton di daratan Muna64 menunjukkan kedua kerajaan ini mimiliki historis “pertalian”. Sebagaimana dinyatakan informan berinisial PNL:

      

62

Meski sejarah Kabupaten Bombana tidak terlepas dari Kerajaan Moronene, akan tetapi dalam perjalanannya etnik yang mendominasi di jazirah selatan Sulawesi Tenggara ini adalah Bugis. Hasil penelitian menyatakan bahwa nama Kabupaten Bombana merupakan hasil kompromi etnik yang mana Bombana berarti “Bone, Moronene, Kabaena” (Tirtosudarmo 2006:69).

63

Catatan Tamburaka et. al. (2004:193) menyebutkan bahwa batas-batas kekuasaan kerajaan tradisional (Konawe, Mekongga, dan Laiwoi) dimana etnik Tolaki mendominasi, sebagai berikut: (a) sebelah utara, berbatasan dengan Kerajaan Bungku dan Kerajaan Luwu; (b) sebelah barat, berbatasan dengan teluk Bone dan wilayah Kerajaan Mekongga; (c) sebelah selatan, berbatasan dengan Selat Tiworo dan Selat Buton; dan (d) sebelah Timur, berbatasan dengan laut Maluku.

64

Catatan sejarah menyebutkan bahwa kondisi ini terjadi saat Kerajaan Buton di bawah kepemimpinan Murhum atau Lakilaponto (Raja ke VI) dan Kerajaan Muna di bawah kepemimpinan La Posasu (Raja ke VII) yang tidak lain adalah adik Lakilaponto sendiri. Agar hubungan persahabatan antar dua kerajaan ini terjalin dengan baik, maka kedua raja ini bersepakat untuk saling mempertukarkan wilayah kekuasaannya. Kerajaan Buton (Murhum) menyerahkan Wakorumba dan Kalisusu kepada Kerajaan Muna, sedangkan Kerajaan Muna (La Posasu) menyerahkan Lakuso, Bombonawulu, dan Mawasang kepada Kerajaan Buton. Dalam sejarah Muna, perjanjian ini dikenal dengan nama “Perjanjian Kapeo-peo” (Tamburaka et. al. 2004).

“...Muna dan Buton itu bersaudara. Dari silsilah keturunan raja-raja, hampir seluruh raja-raja di Buton itu memang dari Muna...Salah satu buktinya adalah adanya kekuasaan Kabupaten Muna di daratan Buton dan ada kekuasaan Kabupaten Buton di daratan Muna...” (Wawancara tanggal 18/11/2011).

Selanjutnya jika kekuasaan kedua kerajaan tersebut dikontekstualkan dengan kondisi saat ini, maka kekuasaan Kerajaan Muna, meliputi seluruh daratan Muna, kecuali Lakudo, Bombonawulu, dan Mawasangka. Sedangkan kekuasaan Kerajaan Buton, meliputi: seluruh daratan Buton (kecuali Wakorumba dan Kalisusu) dan kepulauan Tukang Besi (Wakatobi). Namun seiring dengan perubahan yang terjadi, “perjanjian kapeo-peo” yang pernah diprakarsasi dua kerajaan di kepulauan tersebut, berakhir di era desentralisasi (tahun 2007) yang ditandai berpisahnya Wakorumba dan Kalisusu dari bagian kekuasaan Kabupaten Muna yang kemudian mendirikan Buton Utara sebagai kabupaten baru.65

Atas obyektivikasi keberadaan kerajaan-kerajaan tradisonal di atas, sebagian besar aktor lokal di(re)produksi sebagai doxa yang membelah geo-politik Sulawesi Tenggara menjadi dua bagian, yaitu “daratan versus kepulauan”. Meski dalam kenyataannya, doxa tersebut tidak saling berhadapan satu sama lain (daratan “melawan” kepulauan), melainkan sekedar strategi yang dilakukan aktor lokal untuk membentuk afiliasi politik. Kondisi ini begitu nampak saat berlangsungnya pesta demokrasi lokal (pemilihan kepala daerah), dimana kandidat dari “daratan” yang merupakan simbolisasi etnik Tolaki berafiliasi dengan “kepulauan” yang merupakan simbolisasi etnik Muna. Bahkan yang terjadi adalah dua etnik yang memiliki histori kerajaan tradisional di “kepulauan”, yakni etnik Buton dan Muna saling berivalisasi. Kenyataannya ini diperkuat dengan temuan penelitian bahwa konflik pemekaran wilayah Buton Utara merupakan: (1) refleksi dari adanya rivalitas antar dua elit politik yang berasal dari dua etnik, yaitu etnis Buton dan Muna, dalam memperebutkan pengaruh kekuasaan di pulau Buton; (2) gabungan dari faktor etnisitas, sejarah dan kepentingan ekonomi politik lokal, terutama dari elit lokal Buton dan Muna; dan

      

65

Terdapat enam kecamatan di Kabupaten Buton Utara, yaitu Bonegunu, Kambowa, Wakorumba, Kulisusu, Kulisusu Barat, dan Kulisusu Utara.

(3) aspirasi lama elit politik di “daerah kepulauan” membentuk Provinsi Buton Raya (Tirtosudarmo 2006:66-67).

Dengan demikian, aktor lokal memiliki peran penting menjadikan kekuasaan simbolik kerajaan tradisional sebagai instrumen untuk me(re)produksi identitas etnik dengan tujuan melanggengkan legitimasi dan kekuasaannya. Jika uraian tersebut, merupakan gambaran makro Sulawesi Tenggara, lalu bagaimana dengan Kendari? Di awal tulisan telah disinggung, bahwa kedudukan Kendari sebagai kota dagang dan kota yang bukan sebagai “pusat kerajaan”, memungkinkan kelompok-kelompok etnik dari daratan maupun kepulauan Sulawesi Tenggara melakukan migrasi masuk ke kota ini dan selanjutnya membentuk “komunitas baru” berbasis etnik. Bukti ini dapat dilihat dari beberapa nama tempat yang mencerminkan asal etnik, seperti: Sodoha (etnik Bugis), Kampung Butung (etnik Buton), Poasia (etnik Muna), Puwatu (etnik Tolaki), dan lain-lain. Demikian halnya sebaran pemukiman penduduk di Kendari, yang mencerminkan dominasi kelompok-kelompok etnik mayoritas (akan diuraikan pada bab lain).

Selanjutnya dari sekian etnik yang melakukan migrasi masuk ke Kendari, etnik Bugis dan Bajo merupakan entitas sosial yang mula-mula menghuni Kendari (Chalik dan Bhurhanuddin 1984). Seiring dengan keamanan dan perkembangan yang pesat di Kendari, serta menjanjikan sebagai kota perdagangan, maka arus migrasi masuk cukup besar dan tak dapat dihindari. Adapun kelompok etnik yang melakukan migrasi masuk tersebut adalah etnik Muna, Buton, dan Tolaki. Masuknya kelompok-kelompok etnik tersebut, merupakan cikal bakal terjadinya pembauran kelompok etnik di Kendari. Proses pembauran tersebut dipengarui beberapa faktor yang terjadi di daerah asal, yaitu: (1) terjadinya perang berkepanjangan di daerah asal (khususnya etnik Muna dengan pihak lain, seperti: VOC, Saudagar Bugis, dan Kesultanan Buton); (2) tekanan lapisan (golongan) atas terhadap lapisan menengah ke bawah di daerah asal;66 dan (3) dorongan

      

66

Tidak ditemukan satupun referensi yang menyatakan alasan mengapa orang Bugis melakukan migrasi ke Kendari. Akan tetapi, alasan kedua ini identik dengan tindakan orang Bugis yang melakukan perantauan (passompe) dikarenakan persoalan si’ri di daerah asalnya. Beberapa studi menunjukkan bahwa passompe orang Bugis didorong beberapa faktor, yakni politik, ekonomi, prestise individual dan budaya (Acciaoli, 1989; Abidin, 1983; Aditjondro, 1986; Kayam, 1985; Mattulada, 1998; dan Robinson, 2000).

untuk memperbaiki nasib (ekonomi) di Kendari sebagai daerah tujuan. Chalik dan Bhurhanuddin (1984) menambahkan bahwa kelompok etnik Muna yang melakukan migrasi masuk secara besar-besaran ke Kendari dibandingkan dengan kelompok etnik lainnya.67

Atas uraian di atas, maka keberadaan kelompok etnik di Kendari (termasuk Sulawesi Tenggara) tidak dapat dipisahkan dengan histori keberadaan kerajaan tradisional. Bagi sebagian besar kelompok etnik (termasuk aktor didalamnya) kerajaan tradisional merupakan modal simbolik untuk memperoleh symbolic

power dalam rangka memperkuat posisi mereka di arena ekonomi politik lokal.

Dalam kondisi seperti ini, maka identitas etnik yang termanifestasi dalam bentuk “konstruksi masa lalu” senantiasa dijadikan instrumen untuk meraih legitimasi dan kekuasaan kelompok etnik maupun aktor lokal.

Masyarakat yang Tersegregasi

Peristiwa “masyarakat yang tersegregasi” merupakan salah satu tonggak yang mencerminkan dominasi [identitas] etnik yang sudah berlangsung sebelum Belanda melakukan invasi ke Kendari. Meski demikian, “gejala” masyarakat yang

      

67

Pendapat yang dikemukakan Chalik dan Bhurhanuddin (1984) didukung dengan fakta

Dokumen terkait