• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Etnis

3. Etnis India Tamil

a. Sejarah etnis India Tamil di Kota Medan

Etnis India Tamil di Indonesia merupakan kelompok etnis yang berasal dari Asia Selatan. Pada tahun 1863, perkebunan tembakau pertama dibuka di Tanah Deli. Pada saat itu, etnis Melayu yang merupakan penduduk asli di Tanah Deli tidak tertarik pada pekerjaan perkebunan sehingga buruh-buruh dari berbagai daerah dan bangsa seperti Cina, India, dan Pulau Jawa didatangkan dalam jumlah besar oleh pengusaha perkebunan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja (Bangkaru, 2001).

Kedatangan Etnis India Tamil dibawa oleh Belanda di awal pembangunan industri perkebunan. Etnis ini dijadikan sebagai buruh kasar dan harus bekerja dalam kondisi yang keras di tanah Deli. Ketika kontrak kerja mereka telah selesai dengan Belanda, sebagian orang Tamil dibawa kembali ke India. Namun, kebanyakan dari mereka tetap tinggal di Medan dan lainnya menyebar ke daerah-daerah lain yang ada di Sumatera Utara (Bangkaru, 2001).

Populasi India Tamil diperkirakan berjumlah 67.000 orang. Etnis ini telah tinggal di Medan lebih dari dua generasi bahkan juga tinggal berdampingan dan menikah dengan kelompok etnik lainnya serta telah berwarga negara Indonesia (Bangkaru, 2001). Dalam berhubungan dengan masyarakat luas, etnis India Tamil

memiliki falsafah hidup yakni “Yathum Ure, Yawerum Kellir” yang berarti bahwa etnis India Tamil harus saling menjaga budaya dan tingkah laku mereka dengan membina hubungan baik dan saling tolong menolong dengan masyarakat dimanapun mereka tinggal sehingga tidak menimbulkan perselisihan yang dapat mengurangi perasaan aman.

Kebanyakan etnis India Tamil bekerja di bidang perdagangan dan beberapa dari mereka juga bekerja menjadi kontraktor dan pegawai pemerintah walaupun dengan jumlah yang masih sedikit (Lubis, 2005). Beberapa isu diskriminasi muncul terhadap etnis India Tamil dimana mereka terkesan “dianaktirikan” oleh pemerintah daerah kota Medan yaitu sulitnya mencari akses lapangan kerja, pembuatan KTP, hingga masuk ke Perguruan Tinggi Negeri.

b. Kebudayaan etnis India Tamil

Etnis India Tamil merupakan kelompok etnis bangsa Dravida yang memiliki kebudayaan dari India Selatan (Nuriah, 1990). Kebanyakan etnis India Tamil memeluk agama Hindu, tetapi ada juga yang memeluk agama Islam, Kristen, Khatolik, dan Budha (Lausanne, 1989). Etnis India Tamil dapat dengan mudah dikenali dari ciri-ciri fisiknya seperti memiliki kulit yang berwarna hitam atau gelap, dengan jambang atau bulu dada, di samping memiliki gigi yang putih bersih dan juga hidung mancung, berkumis lebat merupakan ciri khas dari etnis India Tamil. Biasanya bagi perempuan Tamil ada ciri-ciri lain yaitu adanya tanda bulat yang diletakkan di dahi dengan warna seperti kuning, merah, hitam, biru, dan lain-lain yang disebut dengan potte(Nuriah, 1990).

Budaya India Tamil mengenal adanya 4 masa penting kehidupan yakni

brachmacharya yang dimulai sejak individu lahir sampai usia 25 tahun, grhastha

dari usia 26 tahun sampai dengan 50 tahun, sannaya yang dimulai dari usia 51 tahun sampai dengan 75 tahun, dan fase terakhir yakni vanaprastha yang dimulai dari usia 75 tahun keatas. Menurut fase ini, orang yang berada di bawah usia 25 tahun harus mencari pengetahuan untuk memperoleh kebenaran dan mampu mencapai atman yakni pengaturan diri yang baik (Loon & Laal, 2005).

Dalam kehidupannya sehari-hari, etnis India Tamil telah mengikuti kebiasaan lokal Indonesia pada umumnya, makan-makanan Melayu, Batak, Jawa, dan juga Tamil, serta menggunakan pakaian Indonesia sehingga mereka jarang memiliki konflik dengan etnis non India Tamil lainnya. Walaupun demikian, etnis India Tamil masih mempertahankan budaya dan adat istiadat mereka (Mani, 1993).

Etnis India Tamil memiliki berbagai macam kebudayaan dan adat istiadat yang sampai sekarang masih dijalankan oleh etnis India Tamil di kota Medan maupun di kota-kota besar lainnya di Indonesia seperti perayaan Adhi Tiruvilla (upacara tolak bala) dan Navaratri (penghormatan kepada tiga dewi yaitu Dewi Durga, Dewi Laksmi, dan Dewi Saraswathi) (Pina, 2010). Selain itu, etnis India Tamil juga dikenal dengan kesustertaan, yang dibagi ke dalam 3 kelas yakni aksara, musik, dan drama. Bahkan musik dan tarian menjadi suatu tradisi yang dilakukan dalam kegiatan ibadah (Pang & EK Sng, 1991).

Pada kebudayaan India, sifat yang paling kuat ialah susunan kasta. Sistem kasta ini telah ada sejak berabad –abad yang lalu, yang disebut Yati, sedangkan

sistemnya disebut Varna. Satu-satunya jalan untuk menjadi anggota yaitu melalui kelahiran atau keturunan. Kasta pada masyarakat India tersusun dari atas ke bawah, yaitu sebagai berikut :

a. Brahmana, yaitu kasta para pendeta agama Hindu, yang merupakan lapisan tertinggi pada masyarakat. Pendidikan bertujuan untuk menguasai kitab suci sebagai sumber kebenaran dan pengetahuan yang universal.

b. Ksatria , yaitu kasta para bangsawan dan tentara. Pendidikan bertujuan untuk memiliki pengetahuan teoritis yang berkaitan denga pengaturan pemerintahan.

c. Waisya, yaitu kasta para pedagang. Kasta ini dianggap sebagai kelompok lapisan menengah pada masyarakat.

d. Sudra , yaitu kasta yang dimiliki oleh orang kebanyakan atau rakyat jelata. Pendidikan bertujuan agar individu memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup, sesuai dengan pekerjaan yang secara turun temurun misalnya keterampilan bercocok tanam, pelayaran, perdagangan, seni pahat dan sebagainya.

Individu yang berada pada lapisan bawah jarang memiliki cita –cita yang tinggi karena masyarakat akan melecehkannya atau terkadang keberhasilan yang ditempuh seseorang tidak diakui. Dengan demikian, kedudukan yang dimiliki setiap individu sebagai anggota masyarakat relatif bersifat permanen. Begitu pula hubungan yang dilakukan dengan sesama anggota masyarakat yang berlainan lapisan harus dibatasi sesuai dengan kedudukan sosial yang dimiliki. Sistem

lapisan sosial tertutup ini sering disebut sebagai sistem yang kaku atau ekstrim. Sebagai akibatnya, kemampuan pribadi tidak diperhitungkan dalam menentukan tinggi rendah kedudukan seseorang dalam masyarakat (Waluya, 2007).

Etnis India Tamil mempercayai ajaran Karmaphala atau hukum karma untuk mempertebal keyakinan agar tidak melakukan tingkah laku yang menyimpang. Ajaran ini mengajarkan tentang hubungan antara perbuatan atau tingkah laku manusia itu sendiri. Apabila berbuat jahat atau berfikiran jahat maka akibat buruk yang didapat dan sebaliknya apabila berbuat baik makan kebaikan yang akan didapat. Selain itu, Etnis India Tamil juga percaya bahwa keharmonisan diri dengan alam dan lingkungan sekitar merupakan bagian dari keagamaan yang harus dilaksanakan karena manusia tidak dapat hidup sendiri dan tidak dapat hidup tanpa alam sekitar, jadi harus adanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam dan manusia dengan sesamanya (Nuriah, 1990).

Etnis India Tamil memiliki falsafah tersendiri dalam hal pendidikan yang berbunyi “kovil la lathe idettie kudi irukke vendham”, artinya jangan tinggal ditempat yang tidak ada madrasahnya. Kesadaran akan pendidikan menjadi ciri dan kecenderungan umum bagi etnis India Tamil. Pendidikan merupakan jembatan yang bisa mengatasi kemiskinan karena lewat pendidikan individu berpeluang melakukan mobilitas (Buana, 2007).

Etnis India mementingkan hal yang bersifat universal, mengecilkan arti individualitas, menganggap kepribadian manusia dari segi subjektif, tuntuk kepada hal universal, serta suka pada pemikiran introspektif dan metafisik (Habib, 2004). Etnis India cukup santai terhadap waktu dan ketepatan waktu, menjunjung

tinggi intuisi, sikap subjektif, sifat samar, sikap lepas dan mengupayakan penindasan keinginan (Bahm, 2003).

Dokumen terkait