• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENDUDUK DI DESA DURIN SIMBELANG

3.2 Etnis Jawa

Asal mula kedatangan Etnis Jawa ke Sumatera Timur pada umumnya adalah sebagai buruh/kuli di perkebunan. Setelah masa kolonial Belanda berakhir tahun 1942 maka kontrak-kontrak mereka pun berakhir, namun masyarakat Jawa tersebut tidak kembali ke Jawa, mereka tetap menjadi penduduk setempat sama seperti masyarakat-masyarakat pendatang lainnya.

Desa Namoriam adalah suatu desa yang awal mulanya terbentuk karena permukiman yang telah dibentuk oleh Etnis Karo sekitar tahun 1870-an. Sejak dibukanya perkebunan tembakau di desa ini, maka tenaga kerja yang datang dari luar terkhusus Etnis Jawa mulai tinggal dan menetap di desa ini.

Pada awal dibukanya permukiman, penduduk asli memang telah memiliki wilayah pilihan sendiri. Oleh karena itu pada saat diadakan perluasan perkebunan dan banyak Etnis Jawa berdatangan ke desa ini, Etnis Karo sebagai penduduk asli tidak

35Arsip Profil Desa Durin Simbelang.

merasa terganggu. Mereka menganggap Etnis Jawa adalah orang-orang yang bekerja di perkebunan sehingga mereka memilih untuk tinggal di desa ini. Selain itu Etnis Jawa di Desa Namoriam dapat diterima dengan baik oleh Etnis Karo, karena terjalinnya komunikasi yang baik antara kedua belah pihak.36

Dalam hal ini Etnis Jawa yang tinggal di Desa Namoriam secara tidak langsung mendapatkan hak tanah melalui pemberian dari Perbapaan. Perbapaan merupakan seorang kepala adat (datuk) yang memiliki peranan dalam memimpin suatu desa. Berdasarkan hasil penelitian penulis menemukan bahwa ternyata tanah yang diberikan oleh perbapaan kepada Etnis Jawa bermula dari pembelian yang dilakukan secara langsung kepada pemilik tanah yaitu Etnis Karo. Tanah yang diberikan oleh Perbapaan kepada Etnis Jawa adalah 20 m x 20 m. Pemberian tanah ini dilakukan dengan adanya perjanjian atau pertemuan antara perwakilan dari Perbapaan dengan keluarga yang akan diberikan tanah, kemudian tanah yang sudah

dibeli itu diserahkan oleh pihak perbapaan kepada Etnis Jawa dan secara resmi sudah menjadi hak milik dari Etnis Jawa yang telah diberikan tanah oleh pihak dari Perbapaan.37

Sejak kedatangan mereka pada awal 1890 di Desa Namoriam, mereka mulai berkembang dan menjadi lebih semakin baik. Adengan Eng merupakan orang pertama Jawa yang tinggal bersama keluarganya di Desa Namoriam yang berasal dari Bagelan. Awal kedatangannya di desa ini adalah bekerja sebagai buruh, sedangkan

36Wawancara, Adanto di Desa Namoriam pada tanggal 03 Maret 2017.

37Wawancara, Jani di Desa Namoriam pada tanggal 20 Juni 2017.

keluarganya bekerja di lahan pertanian milik orang Karo. Selajutnya secara bertahap Etnis Jawa yang datang dari Pulau Jawa terus berdatangan ke Desa Namoriam ini.

Akan tetapi seiring berjalan waktu mereka mulai berkembang dan menyukai tempat mereka tinggal sekarang. Namun hal ini tidak berlangsung lama, karena pada tahun 1920, Etnis Karo yang merupakan suku asli di Desa Namoriam ternyata memeilihara hewan ternak babi di rumah mereka. Melihat hal ini membuat Etnis Jawa tidak suka melihatnya dan menyadari ketidaknyamanan di dalam hidup mereka.38

Hingga sekitar tahun 1930-an Etnis Jawa mulai merencanakan perpindahan ke desa lain. Sebelum pindah ke desa lain Etnis Jawa melihat daerah sekitar yang ada di dekat Desa Namoriam yang mereka anggap nyaman untuk mereka tinggali. Setelah melihat daerah yang lain ternayata Etnis Jawa yang ada di Desa Namoriam memilih untuk pindah ke desa sebelah yaitu Desa Durin Simbelang A yang dimana perpindahan itu terjadi pada tahun 1938.

Etnis Jawa di Desa Namoriam memilih untuk bertempat tinggal di Desa Durin Simbelang A karena di desa tersebut tidak ada yang memelihara hewan ternak babi, termasuk penduduk asli yaitu Etnis Karo. Etnis Karo yang tinggal di Desa Durin Simbelang A tidak memelihara hewan ternak babi karena kebanyakan yang tinggal di desa ini beragama islam. Sehingga mereka tidak ada yang memelihara ternak babi karena dianggap haram dan juga kotor.

38Wawancara, Pardi di Desa Durin Simbelang pada tanggal 23 Maret 2017

Perpindahan yang dilakukan oleh Etnis Jawa ke Desa Durin Simbelang disebut dengan Migrasi. Migrasi merupakan perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat yang lain, baik secara individu maupun secara kelompok. Dalam migrasi terdapat unsur-unsur pokok yaitu meninggalkan kampung halaman dengan kemauan sendiri, mencari penghidupan dan pengalaman yang baru serta merantau yang membudaya.39

Penduduk sebagai pelaku terhadap peristiwa migrasi dalam hal ini adalah Etnis Jawa. Beberapa faktor-faktor yang mendorong terjadinya perpindahan Etnis Jawa ke Desa Durin Simbelang A yaitu:

1. Faktor Geografis

Letak geografis suatu daerah sangat mempengaruhi masyarakatnya yang tinggal di daerah itu. Melihat wilayah Desa Durin Simbelang A yang pada awalnya bersih dan tinggal didalam wilayah yang jauh dari gerombolan membuat mereka untuk pindah dari Desa Namoriam.

2. Faktor Sosial

Dalam kehidupan keseharian Etnis Jawa, mereka memiliki prinsip yang menjadi dasar pemikiran mereka adalah “mangan ora mangan sing penting ngumpul” yang artinya tetap mengutamakan kebersamaan.Disini Etnis Karo dan

Etnis Jawa selalu berkumpul walaupun tidak ada acara.40 3. Faktor Lingkungan

39Koenjtaraningrat, Manusia Dan Kebudayaan Di Indonesia, Jakarta:djambatan, 2007 hal. 57

40Wawancara, Bandan di Desa Durin Simbelang pada tanggal 25 Maret 2017.

Faktor ini sangat penting, karena kenyaman tempat tinggal merupakan suatu yang harus diutamakan. Karena jika tidak ada rasa aman maka tidak akan bisa hidup secara damai dan tenang. Suatu hal yang menguntungkan bagi Etnis Jawa dalam melakukan perpindahannya yaitu tidak adanya Etnis Karo yang memelihara hewan ternak babi. Untuk itu Etnis Jawa melakukan perpindahan dengan sangat baik yaitu mengambil hati Etnis Karo sebagai penduduk asli di Desa Durin Simbelang A.

Kedatangan Etnis Jawa di Desa Durin Simbelang A sedikit berbeda karena keluarga Adengan Eng dan Legiran merupakan Etnis Jawa pertama yang tinggal di Desa Namoriam pada tahun 1938. Sejak awal masuknya Etnis Jawa ke Desa Durin Simbelang sekitar tahun 1938 ternyata tidak ada reaksi yang bersifat negatif. Tidak terjadi permusuhan antara Etnis Karo terhadap Etnis Jawa. Pada dasarnya Etnis Karo menerima kedatangan Etnis Jawa dengan sikap hangat dan tangan terbuka. Hal ini didasari dengan awal kedatangan mereka yang dilakukan secara baik-baik dan kemampuan mereka beradaptasi dengan cepat.

Dalam hal ini Etnis Jawa yang tinggal di Desa Durin Simbelang A secara tidak langsung mendapatkan hak tanah melalui sistem barter yaitu menukar dengan cangkol. Penukaran dengan cangkol ini dilakukan karna pada saat itu susahnya untuk membeli cangkol. Ketika itu Adengan Eng dan Legiran melakukan penukaran dengan Santo Ginting yang dimana mereka memberikan dua cangkol kepada Santo Ginting dan mendapatkan sebidang tanah yang dapat mereka tempati. Akan tetapi hal ini tidak berlangsung lama karena semakin hari Etnis Jawa yang lainnya mulai berdatangan ke

Desa Durin Simbelang A sehingga pemberian hak tanah tidak dilakukan lagi melalui sistem barter, tetapi dengan cara membeli.

Pada awalnya terdapat banyak perbedaan antara Etnis Jawa dengan Etnis Karo. Adapun yang melatarbelakangi hal tersebut adalah karena adanya perbedaan, cara hidup, struktur sosial dan bahasa. Namun hal itu bukanlah menjadi suatu penghalang bagi Etnis Jawa untuk tinggal di Desa Durin Sembelang. Secara perlahan mereka mulai beradaptasi terhadap orang-orang yang berada disekitarnya.

Etnis Jawa secara perlahan-lahan beradaptasi terhadap orang-orang yang berada disekitarnya. Sehingga disini terjadi komunikasi yang semula berjalan agak canggung itu mulai menunjukkan suatu perubahan, sehingga Etnis Jawa semakin menarik perhatian bagi Etnis Karo dengan adanya sikap menerima, keramah tamahan, sopan santun, keuletan dalam bekerja membuat hati Etnis Karo mulai beranggapan bahwa Etnis Jawa ini dapat hidup bermasyarakat dan dapat dijadikan sebagai teman untuk meramaikan daerahnya yang masih sepi pada waktu itu.

Perlu ditekankan disini, hubungan antar individu dengan individu, antar individu dengan kelompok dan antara kelompok dengan kelompok berjalan dengan harmonis, karena masing-masing etnis menyadari betapa pentingnya hidup bersatu, mengadakan hubungan saling membagi dan bantu membantu demi kelangsungan hidup mereka. Misalnya saja dalam pembentukan organisasi petani yang dibentuk pada tahun 1956, masyarakat Etnis Karo dan Etnis Jawa turut andil di dalam

membentuk organisasi ini bahkan di dalamnya orang Karo dan orang Jawa termasuk di dalam sistem kepengurusannya.41

Perasaan itu timbul karena Etnis Jawa sudah merasa bahwa Desa Durin Sembelang itu merupakan daerah mereka sendiri atau seperti kampung halaman mereka.Budaya akan mempengaruhi karakter kepribadian seseorang. Budaya erat kaitanya dengan tempat tinggal seseorang pada daerah tertentu. Keadaan sosial sangat dipengaruhi oleh budaya-budaya yang berlaku disuatu daerah. Sedangkan tempat tinggal adalah tempat dimana kehidupan manusia berlangsung paling banyak dalam kehidupan sehari-hari. Karena begitu seringnya manusia menghabiskan waktunya di daerah tempat tinggalnya, maka mau atau tidak mau dia akan terlibat pada lingkungan sosialnya yang penuh dengan budaya dalam kehidupan keseharianya.42

Sekelompok nilai yang berkenaan dengan pandangan. Tata krama penghormatan, dan nilai-nilai yang berkenan dengan pengutamaan orang Jawa terhadap terpeliharanya penampilan sosial yang harmonis. Hal-hal ini yang mendorong Etnis Jawa untuk merealisasikan nilai sosial yang dibawanya sehingga dapat terwujud keserasian dan keharmonisan dengan Etnis Karo.

41Wawancara, Bandan di Desa Durin Sembelang pada tanggal 23 Maret 2017.

42Pardi Suratno, Masyarakat Jawa & Budaya Barat:Kajian Sastra Jawa Masa Kolonial, Yogyakarta: Adiwacana, 2013, hal. 145

Dokumen terkait