• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENDUDUK DI DESA DURIN SIMBELANG

3.3 Mata Pencaharian

Penduduk di Desa Durin Simbelang A dan Desa Durin Simbelang B memiliki mata pencaharian yang beragam, hal ini terlihat jelas di dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Berbagai pekerjaan mereka lakukan, bahkan ada yang mencari pekerjaan sampingan selain pekerjaan utama mereka. Adapun klasifikasi mata pencaharian penduduk di Desa Durin Simbelang A dan Desa Durin Simbelang B dapat dijelaskan dalam tabel berikut:

Tabel 3.7

Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa Durin Simbelang A

Sumber : Data Statistik Desa Durin Simbelang Profil Desa Tahun 1990

Pada tabel 2.7 terlihat bahwa mata pencahrian penduduk di Desa Durin Simbelang A yang terbanyak adalah sebagai petani sebanyak 195 orang. Kemudian diikuti oleh pedagang sebanyak 160 orang dan Buruh sebanyak 120 orang.

Berdasarkan mata pencaharian diatas penduduk yang mayoritas Etnis Jawa ini mengandalkan keahlian mereka di dalam bercocok tanam dan berjualan sebagai pedagang kelontong.

Tabel 3.8

Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa Durin Simbelang B

Sumber : Data Statistik Desa Durin Simbelang Profil Desa Tahun 1990

Pada tabel 2.8 juga terlihat mata pencaharian penduduk di Desa Durin Simbelang B yang terbanyak adalah sebagai petani. Akan tetapi di Desa Durin Simbelang ada yang bermata pencaharian sebagai sopir angkutan. Hal ini terjadi karena Pada tahun 1950 sudah ada transportasi umum yang dapat digunakan untuk masuk dan keluar dari Desa Durin Simbelang yaitu angkutan umum Rajawali.

Hal ini didukung oleh letak wilayah yang dekat dengan pusat perkebunan dan pasar/perdagangan, serta jarak tempuh ke kantor kecamatan. Biaya yang dikeluarkan pada waktu itu sebesar Rp. 150,-. Namun intensitas angkutannya maksimal satu jam sekali baru pergi atau ketika penumpang sudah penuh. Ketika awal terbentuk, penduduk di Desa Durin Simbelang A dan Desa Durin Simbelang B tinggal di dalam kampung yang jauh dari jalan raya. Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, penduduk mulai pindah ke wilayah yang dekat dengan jalan raya. Mereka melakukan

perpindahan tersebut supaya hasil tanaman dari hasil panen mereka lebih mudah di jual.43

Dari kedua tabel diatas dapat disimpulkan bahwa pada umumnya mata pencaharian penduduk di Desa Durin Simbelang A dan Desa Durin Simbelang B adalah petani karena mereka bekerja di bidang pertanian. Selain dari jenis mata pencaharian di atas, sebagian penduduk juga menambah mata pencahariannya melalui berbagai bidang yang dapat menambah penghasilan dalam rumah tangga. Banyak juga di antara warga yang mempunyai profesi ganda seperti petani merangkap sebagai pedagang, pedagang yang juga petani dan banyak lainnya. Hal ini sangat membantu bagi masyarakat menjadi lebih maju dalam bidang perekonomiannya.

43Arsip Profil Desa Durin Simbelang.

BAB IV

HUBUNGAN ANTARA ETNIS JAWA DAN ETNIS KARO DI DESA DURIN SIMBELANG

4.1 Pola Adaptasi

Adaptasi adalah proses yang dialami oleh setiap orang dalam menghadapi dan menyesuaikandiri dengan alam dan lingkungannya sehingga menghasilkan keserasian, keselarasan dan persatuan antara individu satu dan individu lainnnya.44 Dalam usaha untuk bertahan dan mensejahterakan hidup, maka Etnis Jawa melakukan interaksi dengan baik terhadap Etnis Karo. Sehingga dengan adanya interaksi ini akan membawa faktor yang saling membutuhkan antara kedua etnis tersebut.

Kedatangan Etnis Jawa ke Desa Durin Simbelang A telah menciptakan interaksi yang harmonis di dalam kehidupan. Oleh karena itu tanpa interaksi sosial dan proses adaptasi tidak akan mungkin ada kehidupan bersama. Di dalam usahanya untuk menyesuaikan diri dengan penduduk setempat kelompok Etnis Jawa berusaha untuk mempergunakan strategi selaras yaitu sama-sama mengutamakan keharmonisan.

Bila ditinjau dari segi kehidupan banyak perbedaan yang dapat dilihat baik dari segi bahasa, tindakan ritual, sikap dan adat istiadat, namun hal ini bukan

44Sjafri Sairin, Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia: Perspektif Antropologi, Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2002, hal. 87

merupakan penghalang bagi hubungan mereka. Perbedaan ini bahkan menjadi suatu pendorong kearah proses adaptasi.

Dalam rangka adaptasi di Desa Durin Simbelang, Etnis Jawa berusaha untuk menarik minat simpati Etnis Karo dengan cara bersikap ramah, dan berusaha menjaga keharmonisan dan kebersihan lingkungan. Hal ini membuat Etnis Karo merasa simpati terhadap Etnis Jawa. Berikut adalah interaksi atau proses adaptasi yang dilakukan oleh Etnis Jawa terhadap Etnis Karo sebagai penduduk asli yaitu:

4.1.1 Adaptasi Dalam Bahasa atau Alat Komunikasi

Untuk kelancaran suatu komunikasi bahasa memegang peranan yang sangat penting. Bahasa adalah alat dalam berinteraksi, oleh sebab itu sangatlah penting dalam masyarakat mempunyai bahsa karena merupakan salah satu unsur kebudayaan.

Indonesia terdiri dari beraneka ragam etnis. Masing-masing etnis memiliki bahasa tersendiri yang merupakan ciri khas suatu daerah. Demikian juga halnya dengan di Desa Durin Simbelang. Di dalam kehidupan sehari-hari bahasa Karo dipergunakan sebagai bahasa pengantar dan pergaulan.

Pada awal kedatangan Etnis Jawa sekitar tahun 1938 di Desa Durin Simbelang, mereka saling berinteraksi dengan Etnis Karo dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Akan tetapi seiring berjalan waktu mereka mulai dapat menguasai bahasa Karo dengan baik meskipun ada juga yang hanya bisa sepatah-patah. Mereka

berusaha dapat menguasai Bahasa Karo dengan alasan untuk memperlancar komunikasi dan mempererat hubungan dengan penduduk setempat yaitu Etnis Karo.45 Bagi Etnis Jawa yang telah tinggal dan menetap lama di Desa Durin Simbelang, logat bahasa Karo ini seakan-akan telah mendarah daging dalam diri mereka. Walaupun mereka mempergunakan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa, logatnya tetap logat Karo. Jadi secara tidak langsung para Etnis Jawa ini harus merelakan bahasa daerahnya untuk menyerap bahasa daerah Karo.

Etnis Jawa pada dasarnya masih dapat dibedakan dengan Etnis karo apabila sedang berkomunikasi. Akan tetapi Etnis Jawa tampaknya mulai bisa dalam berbahasa Karo seiring di dalam kehidupan mereka sehari-hari. Misalnya saja apabila Etnis Jawa berkomunikasi dengan Etnis Karo maka mereka akan menggunakan bahasa Karo, meskipun terkadang ada yang masih belum fasih. Begitu sebaliknya ketika Etnis Karo berkomunikasi dengan Etnis Jawa, mereka juga terkadang memakai bahasa Jawa sedikit-dikit meskipun terkadang lebih banyak menggunakan bahasa Karo.46

Biasanya dalam mempelajari Bahasa Karo ataupun Bahasa Jawa, Etnis Jawa dan Etnis Karo akan meminta bantuan kepada orang yang lebih tua yang sudah lebih mengerti atau paham dalam mengajari bahasa yang mereka ingin pelajari. Hal ini

45Wawancara, Salmono di Desa Durin Sembelang pada tanggal 10 Maret 2017.

46Wawancara, Sehati Br. Sitepu di Desa Durin Sembelang pada tanggal 10 Maret 2017.

biasanya dilakukan ketika melakukan kunjungan kerumah atau sekedar bertemu di warung.47

Misalnya melakukan pembelajaran dari bahasa Karo, belajar menari Karo serta mengetahui tentang pakaian adat Karo. Begitu juga sebaliknya Etnis Karo juga banyak belajar dari Etnis Karo mengenai budaya Jawa. Biasanya mereka melakukan hal ini setiap minggu. Sekitar tahun 1950-an Etnis Jawa mulai belajar tentang budaya Karo, biasanya hal pertama yang mereka lakukan adalah belajar bahasa dan menari Karo. Begitu seterusnya mereka lakukan, walaupun terkadang susah mereka tetap berusaha untuk mempelajarinya.

Berbeda dengan Etnis Karo, mereka hanya melakukan pembelajaran mengenai bahasa Jawa. Akan tetapi terkadang mengenai budaya Jawa lainnya terkadang mereka pelajari juga. Misalnya dalam permainan Jawa yaitu congkak dan kelereng. Pada tahun 1970-an, anak-anak di Desa Durin Sembelang sering bermain congkak dan kelereng. Hampir setiap sore mereka bertemu di lapangan sepak bola dan memainkan permainan tersebut.

Adaptasi dalam berbahasa ini menonjol di kalangan generasi muda. Mereka tidak memandang dengan suku apa mereka berbicara. Pada awalnya mereka menggunakan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi. Akan tetapi seiring berlanjut mereka mulai berbicara dalam Bahasa Karo tetapi juga tidak meninggalkan Bahasa Jawa. Misalnya saja dalam acara kegiatan bercandaria di kegiatan Gendang-Gendang

47Wawancara, Rubini di Desa Durin Sembelang pada tanggal 20 Juni 2017.

Guro Aron, maka Etnis Jawa akan berbahasa Karo. Begitu juga sebaliknya Etnis Karo akan menggunakan Bahasa Jawa sedikit-sedikit jika mereka bertamu kerumah tetangga.48Adanya kesadaran untuk mempelajari bahasa berarti dapat menciptakan suatu komunikasi yang baik. Dengan demikian perlunya kesadaran di setiap individu agar mampu untuk saling menghargai kebudayaan masing-masing.

4.1.2Adaptasi dalam Mata Pencaharian Hidup

Desa Durin Simbelang merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan PancurBatu. Selain tempat yang strategis, peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat terjadi disini. Dalam berbagai rancangan tersebut, Etnis Jawa memegang peranan yang vital dalam mencapai tujuan tersebut. selain sebagai penyumbang ide maupun sebagai pelaksana perencanaan, Etnis Jawa di Desa Durin Sembelang juga merasakan dampak postif dari perencanaan tersebut.

Kedatangan Etnis Jawa di Desa Durin Simbelang adalah kebanyakan bekerja di lahan pertanian. Selain bekerja di lahan pertanian, lambat laun Etnis Jawa membeli lahan pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka membeli tanah yang dijual oleh orang Karo melalui hasil dari kerja mereka sebagai pekerja buruh.

Tanaman yang ditanam adalah padi, jagung, kacang. Pada waktu panen hasilnya tidak menentu, kadang hasil panen baik kadang kurang memuaskan, hal ini disebabkan

48Wawancara, Upahta Sitepu di Desa Durin Sembelang pada tanggal 20 Juni 2017.

pengaruh cuaca dan sistem penggunaan pupuk. Akan tetapi dari hasil panen rata-rata yang diperoleh penduduk dapat disimpulkan hasilnya sangat memuaskan.49

Dengan demikian pertanian di Desa Durin Simbelang mempermudah Etnis Jawa dalam bertani karena didukung oleh tanahnya yang subur sehingga meningkatkan pendapatan mereka. Banyak Etnis Jawa telah memiliki tanah dan rumah di Desa Durin Sembelang. Dalam hal ini mereka masih saling mendukung dan saling membantu dalam bidang ekonomi, seperti peminjaman modal usaha, pembelian pupuk untuk pertanian, sedangkan untuk pembayaran utang harus sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat oleh kedua belah pihak.

Selain sebagai petani, Etnis Jawa banyak pula yang beternak. Ternak diusahakan adalah ayam, kambing, sapi. Misalnya saja pada tahun 1960-an Etnis Jawa sudah mulai menjual hasil ternak mereka kepada masyarakat setempat atau menjualnya ke pajak. Peternakan ini sangat membantu Etnis Jawa yang ada di Desa Durin Simbelang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu, Etnis Jawa yang ada juga melanjutkan hidupnya sebagai pedagang di pasar. Di dalam usaha berdagang ada yang membuka usaha dagangannya dengan mempergunakan modal sendiri dan ada juga dengan modal pinjaman.50

Keterlibatan Etnis Jawa di dalam mata pencaharian hidup lainnya adalah menjadi seorang buruh upahan dan pedagang. Kebanyakan Etnis Jawa berhasil di bidang penjual makanan dan usaha minuman (kedai kopi). Dagangan mereka adalah

49Wawancara, Harsa di Desa Durin Sembelang pada tanggal 20 Februari 2017.

50Arsip Profil Desa Durin Simbelang

nasi goreng, mie goreng, gado-gado, sate, goreng pisang, lontong dan berbagai makanan lainnya. Umumnya Etnis Karo menyukai dagangan Etnis Jawa. Mereka mengatakan bahwa masakan Etnis Jawa itu sangat enak.

Hal ini terlihat pada tanggal 12 Oktober 1942, bapak Sartono seorang Etnis Jawa membuka warung kelontong pertama di Desa Durin Sembelang di depan rumahnya. Bapak Sartono menjual makanan seperti lontong, mie dan gorengan.

Usaha yang dilakukan bapak Sartono ini sangat membantu perekonomian keluarganya. Selanjutnya banyak juga yang mengikuti usaha dari bapak Sartono ini.51Selain itu, Etnis Karo yang melihat itu merasa senang karena membantu mereka dalam menyediakan sarapan untuk keluarga mereka jika seorang ibu rumah tangga tidak sempat untuk menyediakan makanan di rumah mereka.

Keunikan masakan Etnis Jawa adalah keterampilan tangannya yang cepat dan cekatan dalam mencampuradukkan bahan makanan ke dalam jumlah takaran yang diminta. Rasanya yang manis merupakan ciri khas Etnis Jawa, berbeda dengan lidah Etnis Karo yang rata-rata menyukai rasa asin dan jumlah cabai yang terkadang melebih takaran.52

Mengenai bentuk kerjasama dalam mata pencaharian hidup juga dapat di lihat disini, yaitu dengan adanya Etnis Karo dan Etnis Jawa yang bergabung dalam satu pekerjaan. Misalnya saja sekitar tahun 1960-an. Etnis Jawa dan Etnis Karo bekerja sebagai buruh upahan di sebuah pabrik makanan. Padahal pada waktu itu

51Wawancara, Darwin Sembiring di Desa Durin Simbelang pada tanggal 20 Maret 2017.

52Wawancara, Enda Br. Sitepu di Desa Durin Simbelang pada tanggal 10 Maret 2017.

pemilik pabrik makanan tempat mereka bekerja adalah Etnis Karo yaitu Bapak Selamat Ginting. Hal ini terlihat jelas bahwa Etnis Karo dan Etnis Jawa saling menghargai satu sama lainnya sehingga dalam bekerja pun mereka tetap mau berbagi.53

Etnis Karo yang merupakan penduduk asli di Desa Durin Simbelang tidak begitu pesat mengalami perubahan sejak kedatangan Etnis Jawa, yakni budaya adat serta di bidang perekonomiannya diikuti oleh Etnis Jawa dan Etnis lainnya.

Melihat dari faktor ekonomi maka dapat disimpulkan bahwa Etnis Karo dan Etnis Jawa saling membantu di dalam perekonomian mereka. Dengan adanya kesadaran Etnis Jawa untuk memilih mata pencaharian hidup yang tidak merugikan Etnis Karo, maka adaptasi di Desa Durin Simbelang ini dapat berjalan dengan baik dan lancar.

4.1.3 Adaptasi dengan Lingkungan Tempat Tinggal

Berdasarkan hasil penelitian aktivitas tolong menolong, kerjasama, kerukunan dan keharmonisan sangat erat di dalam kehidupan masyarakat di Desa Durin Simbelang. Tolong menolong dan kerjasama dapat berlangsung karena adanya hubungan komunikasi secara baik. Pada umumnya rumah penduduk di Desa Durin Simbelang A dan Desa Durin Sembelang B saling berdekatan antara rumah yang satu dengan rumah yang lain. Etnis Karo dan Etnis Jawa banyak tinggal berdampingan.

53Wawancara, Salmono di Desa Durin Simbelang pada tanggal 10 Maret 2017.

Dulunya, ketika Desa Durin Simbelang A dan Desa Durin Simbelang B terbentuk, penduduk kebanyakan tinggal di dalam kampung yang jauh dari jalan raya.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu sekitar tahun 1970, penduduk satu persatu mulai pindah ke wilayah yang dekat dengan jalan raya agar lebih dekat membawa hasil panen mereka ke pajak. Selain itu perpindahan ini juga terjadi karena beberapa faktor yaitu:

- Tempat atau jalannya banyak berlubang dan becek.

- Wilayah yang sempit.

- Tingkat keamanannya kurang terjaga.

- Berjualan pun susah.54

Di Desa Durin Simbelang A dan Desa Durin Simbelang B dulunya sering sekali ditemukan kunjungan seseorang kerumah tetangga hanya untuk bertukar pikiran. Bahkan hal ini sering terjadi akan tetapi sekitar tahun 1970-an hal ini sudah mulai jarang dilakukan, karena setiap orang masing-masing sibuk dengan pekerjannya. Sehingga waktu ngobrol pun mulai berkurang. Mereka lebih mementingkan ekonomi dan berusaha untuk mengumpulkan uang guna menghidupi kebutuhan keluarga dan sebagian biaya yang akan dipergunakan untuk pendidikan anak-anak mereka yang menurut mereka amat penting.

Bagi kaum ibu dan anak gadis di Desa Durin Simbelang suatu berita dapat diperoleh dengan cara saling mengunjungi, bertemu di kedai, pasar dan sewaktu mengadakan pertemuan yang bersifat keagamaan. Sedangkan kaum bapak dan

54Arsip Profil Desa Durin Simbelang.

pemuda di Desa Durin Simbelang memperoleh berita apabila berada di kedai kopi.

Kedai kopi merupakan tempat pertemuan, mereka mengobrol sambil minum kopi dan bermain catur.

Aktivitas tolong menolong ini juga akan dijumpai pada saat acara kelahiran, perkawinan, kematian, sakit, sunatan dan lainnya. Misalnya saja pada tahun 1972 sudah dibentuk suatu organisasi yang bernama Sembuyak Ngeripei. 55Organisasi ini dibentuk dalam bentuk pengumpulan dana untuk orang meninggal. Selain datang untuk mengucapkan bela sungkawa, biasanya yang akan diberikan adalah beras 2 mug dan uang 300 rupiah. Contoh lainnya adalah ketika ada acara kelahiran, maka Etnis Karo dan Etnis Jawa akan memberikan beras sebanyak 2 mug untuk diberikan kepada keluarga. Hal ini berlangsung sejak tahun 1950-an sampai tahun 1980-an.56 Pada acara perkawinan juga terlihat seperti itu, jika ada Etnis Karo yang menikah, maka Etnis Jawa juga akan membantu di acara perkawinannya. Misalnya membantu dalam mengadakan persiapan seperti ada yang membantu membuat tenda pernikahan, memberi pinjam peralatan piring, cangkir atau peralatan dapur seperti dandang, tempayan dan lain-lain. Bahkan ada juga yang menjadi anak beru atau ikut dalam membantu memasak untuk menyediakan makanan buat para tamu. Begitu pula sebaliknya Etnis Karo juga akan membantu dalam perkawinan Etnis Jawa biasanya mereka akan membantu dalam penerimaan tamu. Tidak ada istilah orang lain ataupun

55Sembuyak Ngeripei adalah satu nama organisasi yang khusus dibuat oleh Etnis Karo untuk mengumpulkan dana bagi orang yang meninggal dunia.Sembuyak Ngeripei ini awalnya dibentuk oleh Darwin Sembiring.

56Wawancara, Rubini di Desa Durin Simbelang pada tanggal 10 Maret 2017.

suku lain disini, semua tetangga akan membantu. Kegiatan ini dilakukan mulai tahun 1950 bahkan ada juga diantaranya masih memberlakukan kegiatan ini.57

Hal lain yang terlihat juga adalah ketika ada Etnis Karo atau Etnis Jawa yang membangun atau pindah rumah, maka mereka akan memberitahukan kepada beberapa orang desa, sehingga mereka bisa datang untuk menolong melakukan pembangunan atau pemindahan rumah sampai pekerjaan itu selesai.

Pada saat acara sunatan sekitar tahun 1970-an, Etnis Karo dan Etnis Jawa akan sama-sama membantu, jika pihak keluarga membutuhkan bantuan dan biasanya Etnis Jawa meminta bantuan Etnis Karo untuk menyebarkan undangan acara sunatan anak mereka. Selain itu aktivitas tolong-menolong lainnya adalah ketika ada orang sakit, maka warga setempat akan langsung datang ke rumah untuk mengunjungi. Hal inilah yang membuat Etnis Karo dan Etnis Jawa dapat menjaga keutuhan hidup rukun di dalam menjaga keharmonisan yang telah lama terwujud di dalam kehidupan sehari-hari mereka.58

Pada tahun 1951 ada seorang yang bernama Rahmad datang ke Desa Durin Simbelang A. Beliau menumpang di rumah salah satu Etnis Karo yaitu Ripa Ginting.

Disini Rahmad sudah mulai mengikuti pola hidup dan aturan-aturan yang ada di Desa Durin Sembelang A, sehingga tidak heran jika pada saat itu dia ingin diangkat sebagai anak angkat dari keluarga Ripa Ginting. Akan tetapi hal ini tidak semudah

57Wawancara, Darwin Sembiring di Desa Durin Simbelang pada tanggal 30 Maret 2017.

58Wawancara, Rubini di Desa Durin Sembelang pada tanggal 30 Maret 2017.

dibayangkan, rahmad harus mengikuti beberapa syarat untuk bisa diangkat sebagai anak angkat dari keluarga Ripa Ginting terkhusus dalam pemberian merga.

Adapun syarat-syarat yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

1) Adanya pemberian izin dari pihak keluarga yang bersangkutan.

2) Setelah itu pihak keluarga harus meneliti mengenai perihal dari anak yang ingin diangkat seperti sikap perilaku yang ditnjukkannya terhadap masyarakat sekitar.

3) Setelah diteliti dengan baik dan pihak keluarga setuju, maka pihak keluarga akan dinobatkan sebagai bapak dan ibu dari anak yang ingin diangkat.

4) Setelah bapak dan ibu diangkat menjadi pihak keluarga anak angkat, maka pemberian marga akan diberikan kepada anak yang telah diangkat oleh orang tua angkatnya. Dengan berkata “Terimalah saya bapak dan ibu sebagai anak angkat kalian dengan marga Ginting yang telah diberikan kepada saya”.

5) Kemudian yang terakhir dilakukanlah pesta kecil-kecilan dirumah keluarga yang telah mengangkat seorang anak angkat di dalam keluarga mereka.

Diatas terlihat jelas seorang Jawa yang bernama Rahmad benar-benar menghargai budaya yang ada di Desa Durin Simbelang bahkan ia meminta untuk menjadi seorang anak angkat dari Etnis Karo yang tinggal di desa tersebut. Setelah melakukan syarat-syarat yang yang harus dilakukan oleh Rahmad, maka pihak keluarga Ripa Ginting menerima Rahmad sebagai anaknya. Sehingga nama Rahmad

menjadi Rahmad Ginting. Hal ini pun terus berlanjutdan diikuti oleh beberapa Etnis Jawa yang meminta untuk diangkat menjadi anak angkat dari Etnis Karo.59

Selain pemberian marga terhadap Etnis Jawa yang tinggal di Desa Durin Sembelang A, budaya yang lain juga terjadi di desa ini. Misalnya saja dalam pemberian nama anak. Disini dalam pemberian nama anak dilakukan oleh Etnis Jawa yang menikah dengan Etnis Karo. Pasangan Usaha Ginting dan Sena br Gurusinga salah satu contoh dari pemberian nama anak mereka yang dilakukan tahun 1945.

Mereka melakukan ini sebagai ucapan syukur atas kelahiran anak laki-laki pertama

mereka setelah menikah selama dua tahun yang diberi nama Eikel Harapenta Ginting.

Adapun tahap-tahap yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1) mengundang pihak kalimbubu, sembuyak, senina dan anak beru.

2) Setelah berkumpul dan bermusyawarah , maka pemberian nama anak akan diberikan oleh pihak kalimbubu kepada pihak keluarga.

3) Setelah diberikan nama dari pihak kalimbubu, maka nama itu sudah sah menjadi nama anak tersebut.

Akan tetapi dalam hal pemberian nama anak ini, masih tetap menjadi tanggung jawab dari pihak kalimbubu. Karena jika nanti anak yang telah diberi nama meninggal dunia

Akan tetapi dalam hal pemberian nama anak ini, masih tetap menjadi tanggung jawab dari pihak kalimbubu. Karena jika nanti anak yang telah diberi nama meninggal dunia

Dokumen terkait