• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II SEJARAH BERDIRINYA DESA DURIN SIMBELANG

2.4 Penggabungan Desa

Berdasarkan Ketetapan Panitia Penyelenggara Pembentukan Provinsi Sumatera Utara (P4SU) Nomor 50 tanggal 19 Agustus 1950 yang kemudian diganti dengan Ketetapan Gubernur Provinsi Sumatera Utara tanggal 31 Januari 1952, Gubernur Kepala Tingkat I Sumatera Utara yaitu Abdul Hakim mengadakan perubahan Pamong Sipil Kabupaten Daerah Tingkat II Deli Serdang yang secara administratif dibagi atas 6 kewedanan yang terdiri dari 30 kecamatan, salah satunya diantaranya adalah Kecamatan PancurBatu dengan kewedanan Deli Hulu.28 Pada saat itu juga wilayah Kecamatan PancurBatu terdiri atas 59 desa.

Berikut nama-nama 59 desa yang ada di Kecamatan PancurBatu pada saat terbentuknya Kewedanan Deli Hulu yang berkedudukan di PancurBatu yaitu : Desa Lau Burah, Desa Timbang Lawan Jahe, Desa Bintang Meriah, Desa Durin Pitu, Desa Lau Mentar, Desa Sugao, Desa Padang Sambo, Desa Tiang Layar, Desa Durin Simbelang A, Desa Durin Simbelang B, Desa Belabon, Desa Namo Riam, Desa Namo Puli, Desa Pancur Batu Kuta, Desa Pertampilen, Desa Hulu, Desa Kuta Tualah, Desa Salam Tani, Desa Sampak Kuring, Desa Tengah, Desa Lau Cekala, Desa Lau Buaten, Desa Namo Simpur, Desa Namo Salak, Desa Lama, Desa Perumnas Simalingkar, Desa Lau Kuala Beringin, Desa Namo Rih, Desa Penungkiren, Desa Durin Jangak, Desa Namo Pecowir, Desa Tuntungan II, Desa Tuntungan I, Desa Keriahen Tani, Desa Sembahe Baru, Desa Kuta Mbelin, Desa

28Pemerintah Provinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara, Sumatera Utara DalamLintasan Sejarah,Medan:PEMDASU, 1998, hal. 356

Tanjung Anom, Desa Rampah Dua, Desa Sukaraya, Desa Kuta Jurung, Desa Sei kehidupan yang dilakukan secara sengaja untuk suatu rencana tertentu terkhusus dalam pembangunan daerah baik dipusat kota maupun di desa. Kebijakan pemerintah di dalam pembangunan daerah biasanya dilakukan untuk memajukan perkembangan daerah di dalam bidang ekonomi, pendidikan dan infrastruktur daerah yang dilaksanakan dengan nyata terutama dalam memajukan pembangunan fisik di daerah-daerah dalam melaksanakan otonominya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.30

Bila ditelusuri, maka penggabungan desa bermula pada peraturan yang telah dibuat oleh Kabupaten, supaya desa-desa yang ada di Kecamatan PancurBatu dapat dimasukkan dalam ikatan kemasyarakatan untuk menjadi dasar masyarakat Indonesia, maka harus mempunyai kedudukan sendiri.

Desa Durin Simbelang merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan PancurBatu setelah diadakannya penggabungan desa pada tahun 1989. Nama Desa

29Arsip Kecamatan PancurBatu.

30 Robinson Tarigan, Perencanaan Pembangunan Wilayah, Jakarta: Bumi Aksara, 2004, hal.

76

Durin Simbelang dulunya adalah Desa Durin Simbelang A dan Desa Durin Simbelang B.

Penggabungan desa yang terjadi pada tahun 1989 adalah salah satu program pemerintah dalam meningkatkan daerah otonom. Penggabungan desa dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi penduduk setempat dalam percepatan pertumbuhan ekonomi yang diharapkan akan mempercepat proses pemerataan ekonomi dalam pembangunan demi mengurangi angka kemiskinan.

Alasan utama terjadinya penggabungan Desa Durin Simbelang A dan Desa Durin Simbelang B menjadi Desa Durin Simbelang terjadi karena jumlah penduduk yang tidak mencukupi. Hal ini terlihat dari jumlah penduduk di Desa Durin Simbelang A berjumlah 560 orang dan jumlah penduduk di Desa Durin Simbelang B berjumlah 610 orang. Syarat untuk berdirinya suatu desa pada waktu itu adalah setidaknya 1000 jiwa. Sehingga untuk memenuhi syarat tersebut maka Desa Durin Simbelang A dan Desa Durin Simbelang B digabung menjadi satu yaitu Desa Durin Simbelang dengan jumlah penduduk ketika digabung menjadi 1170 orang dan ini memenuhi syarat untuk berdiri menjadi suatu desa. Alasan lain munculnya penggabungan desa adalah terkait dengan peningkatan kualitas pelayanan publik yang tidak merata, infrastruktur, sarana & prasarana serta pembangunan ekonomi.31

Penggabungan desa yang terjadi di Kecamatan PancurBatu merupakan program dari pemerintah. Akan tetapi program ini tidak sepenuhnya dapat berjalan dengan baik karena terjadinya ketidaksesuaian di dalam pelaksanaannya. Salah

31Wawancara, Drs. Erson Munthe di Kecamatan PancurBatu Pada Tanggal 10 Mei 2017.

satunya adalah mengenai Dana Bantuan Desa atau APBD yang tidak merata.

Kebanyakan dana bantuan desa ini habis dipakai hanya untuk keluarga mereka sendiri. Misalnya saja pada satu desa itu jumlah penduduknya hanya 20 KK, yang tidak lain suaminya menjadi Kepala Desa, istrinya menjadi Sekretaris, anak atau saudaranya menjadi pegawai dan sebagainya. Hal inilah yang membuat Kabupaten melakukan penciutan terhadap desa-desa yang ada di Kecamatan PancurBatu.32

Penggabungan desa di Desa Durin Simbelang A dan Desa Durin Simbelang B terlihat sangat signifikan, karena melalui jumlah penduduk yang tidak mencukupi maka kedua desa tersebut harus dilakukan penggabungan untuk mendapatkan kesatuan hukum yang sah.

Pada saat terjadinya penggabungan desa, masyarakat diberikan kesempatan untuk memilih ke daerah mana mereka akan bergabung. Berhubung karena Desa Durin Simbelang A dan Desa Durin Simbelang B sama-sama memiliki kesamaan nama, maka masyarakat setempat memilih untuk bergabung menjadi satu desa yaitu Desa Durin Simbelang.

Pada saat penggabungan desa ini nama Desa Durin Simbelang yang dipakai, karena dengan nama tersebut akan tetap mengingat sejarah desa yang berawal dari tumbuhnya pohon durian. Selain itu untuk tetap menghargai nama desa yang telah lama diresmikan oleh perbapaan waktu itu, sehingga huruf A dan B saja yang dihapus menjadi Desa Durin Simbelang.

32Wawancara, Rosman di Kecamatan Kutalimbaru Pada Tanggal 24 Mei 2017.

Setelah melalui proses yang panjang dalam hal penggabungan desa, maka perwakilan dari Kecamatan PancurBatu membuat sebuah surat pernyataan atau mengundang perwakilan dari setiap desa untuk memberitahukan mengenai keputusan dari Kabupaten Deli Serdang dalam penggabungan dan penghapusan desa. Setelah surat pernyataan itu diberikan dan dihadiri oleh perwakilan desa maka diadakan pemilihan Kepala Desa yang baru untuk memimpin desa yang telah digabungkan dalam kepentingan bersama dengan masyarakat desa.33

Penggabungan desa ini diharapkan kedepannya dapat meningkatkan tali persaudaraan antara yang satu dan lainnya untuk kemajuan dalam pembangunan desa terutama dalam meningkatkan SDA dan SDM yang dapat dimanfaatkan.

Sebelum terjadinya penggabungan desa, Desa Durin Simbelang A dipimpin oleh Perbapaan Kopon Sembiring dan Desa Durin Simbelang B dipimpin oleh Perbapaan Amit Tarigan. Pada waktu itu pemilihan dilakukan melalui musyawarah.

Akan tetapi setelah diadakannya penggabungan desa pada tahun 1989 maka diadakan pemilihan kepala desa dan saat itu juga namanya bukan lagi perbapaan tetapi Kepala Desa. Pada saat dilakukannya pemilihan kepala desa yang terjadi di Desa Durin Simbelang, yang terpilih pada saat penggabungan Desa Durin Simbelang adalah Senangate Ginting.

Pada saat dilakukannya pemilihan kepala desa, letak kantor Kelurahan Desa Durin Simbelang berada di Desa Durin Simbelang A dan sampai sekarang masih

33Wawancara, Drs. Erson Munthe di Jalan Srikandi Kecamatan PancurBatu pada tanggal 10 Mei 2017.

tetap dan tidak pernah pindah. Hanya saja sekarang namanya Desa Durin Simbelang.

Perbedaan yang terjadi juga hanya sedikit, jika dulu kantor kelurahan desa masih berbahan kayu, ketika dilakukannya penggabungan desa sudah mulai diperbaiki dengan berbahan dasar semen.

Melalui dari penggabungan sampai pemilihan kepala desa ini tidak ada yang menjadi kendala, semua berjalan dengan baik. Masyarakat di Desa Durin Sembelang tetap mengikuti aturan dari Camat dan melakukan pemilihan serta menghargai hasil pilkades yang telah dilakukan. Hal ini semakin terlihat jelas, bahwa Etnis Karo dan Etnis Jawa tetap menjaga kerukunan dan solidaritas antara satu dengan yang lain.

Terlihat dari pilkades yang terpilih adalah Etnis Karo yaitu Senangate Ginting, dan Etnis Jawa menghargai hasil pilkades tersebut, walaupun sebenarnya pada calon yang sudah ditentukan tidak ada Etnis Jawa yang dicalonkan pada pemilihan kepala desa di Desa Durin Simbelang.

BAB III

PENDUDUK DI DESA DURIN SIMBELANG 3.1 Etnis Karo

Asal usul masyarakat Desa Durin Simbelang A dan Desa Durin Simbelang B merupakan Etnis Karo dan suku pendatang dari Etnis Jawa yang datang dengan program pemerintah kolonial yang banyak memperkerjakan mereka di perkebunan tembakau yang terdapat di Sumatera Timur. Sedangkan kedatangan Etnis Karo yang merupakan masyarakat asli di Desa Durin Simbelang awalnya disebabkan oleh beberapa faktor yaitu

1. Adanya keinginan merantau untuk lebih memperbaiki taraf hidup yang lebih baik.

2. Karena lahan pertanian yang semakin sempit di dataran tinggi Karo dan kesuburan tanah yang menurun. Sehingga memilih tempat yang lain yang memiliki kesuburan tanah yang tinggi.

3. Adanya Peperangan yang terjadi secara terus-menerus di wilayah kampung dataran tinggi, sehingga mereka lebih memilih daerah di dataran rendah yang lebih suka dengan kedamaian.34

Banyaknya masyarakat yang datang ke desa ini menyebabkan Desa Durin Simbelang A semakin hari semakin banyak dan bisa dikatakan berubah menjadi kediaman Etnis Jawa, sedangkan Desa Durin Simbelang B tetap didiami oleh Etnis Karo. Berikut penjelasannya dapat dilihat pada tabel berikut:

34Rusdi Muchtar dkk, Masyarakat Indonesia, Jakarta: UI Press, 1992, hal. 5

Tabel 3.1

Komposisi Penduduk Desa Durin Simbelang A

NO Tahun Laki-Laki Perempuan Jumlah (Jiwa)

1 1938-1943 30 orang 45 orang 75 orang

2 1944-1949 60 orang 85 orang 145 orang

3 1950-1955 95 orang 105 orang 200 orang

4 1956-1961 115 orang 135 orang 250orang

5 1961-1966 150 orang 170 orang 320orang

6 1967-1972 190 orang 210 orang 400 orang 7 1972-1977 220 orang 230 orang 450 orang

8 1978-1983 250 orang 265 orang 515 orang

9 1984-1990 275 orang 285 orang 560 orang

Sumber : Kantor Kepala Desa Durin Simbelang Profil Desa Tahun 1990

Dari data diatas terlihat bahwa penduduk Desa Durin Simbelang A pada tahun 1938-1943 berjumlah 75orang. Dimana jumlah laki-laki 30 jiwa dan jumlah perempuan 45 jiwa. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, penduduk desa di Durin Sembelang A semakin bertambah dan mengalami peningkatan. Sehingga pada tahun 1984-1990 sudah mencapai 560 orang yang dimana jumlah laki-laki 275 jiwa dan jumlah perempuan 285 jiwa. Hal ini terjadi karena banyaknya perpindahan penduduk yang dilakukan oleh Etnis Jawa dari Desa Namoriam dan desa lainnya untuk mencari lahan tempat tinggal yang baru dan yang cocok untuk diusahakan serta ada yang datang dengan ikut saudara dan terutama adalah faktor ekonomi.

Tabel 3.2

Komposisi Penduduk Desa Durin Simbelang B

NO Tahun Laki-Laki Perempuan Jumlah (Jiwa)

1 1938-1943 40 orang 50 orang 90 orang

2 1944-1949 60 orang 70 orang 130 orang

3 1950-1955 95 orang 105 orang 200 orang

4 1956-1961 130 orang 140 orang 270 orang

5 1961-1966 165 orang 185 orang 350 orang

6 1967-1972 200 orang 215 orang 415 orang

7 1972-1977 235 orang 245 orang 480 orang

8 1978-1983 265 orang 285 orang 550 orang

9 1984-1990 300 orang 310 orang 610 orang

Sumber : Kantor Kepala Desa Durin Simbelang Profil Desa Tahun 1990

Sedangkan pada tabel 2.2 penduduk Desa Durin Simbelang B pada tahun 1938-1943 berjumlah 90 orang. Dimana jumlah laki-laki 40 jiwa dan jumlah perempuan 50 jiwa. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, penduduk desa di Durin Simbelang B juga semakin bertambah dan mengalami peningkatan. Pada tahun 1984-1990 sudah mencapai 610 orang yang dimana jumlah laki-laki 300 jiwa dan jumlah perempuan 310 jiwa. Penduduk di Desa Durin Simbelang B kebanyakan dari mereka merupakan saudara atau Etnis Karo yang pindah dari desa lain ke Desa Durin Simbelang B untuk mencari lahan yang baru.

Selanjutnya berdasarkan etnis, data kepedudukan yang mendiami Desa Durin Simbelang A dan Desa Durin Simbelang B adalah sebagai berikut:

Tabel 3.3

Sumber : Data StatistikDesa Durin Simbelang Profil Desa Tahun 1990

Tabel 3.4

Sumber : Data Statistik Desa Durin Simbelang Profil Desa Tahun 1990

Dengan melihat tabel diatas, maka Etnis yang ada di Desa Durin Simbelang A dan Desa Durin Simbelang B adalah Etnis Karo, Jawa, Batak Toba, Sunda dan Melayu. Etnis Jawa, Batak Toba, Sunda dan Melayu merupakan masyarakat pendatang, karena masyarakat pertama yang membuka perkampungan adalah Etnis Karo. Akan tetapi di Desa Durin Simbelang B Etnis Sunda dan Melayu tidak ada. Hal

ini terjadi karena tidak adanya lahan yang bisa dibeli oleh mereka karena semua sudah dijadikan lahan pertanian dan rumah warga.

Tabel 3.5

Komposisi Penduduk Menurut Agama di Desa Durin Simbelang A

NO Agama Jumlah (Jiwa)

1 Islam 230 orang

2 Kristen Protestan 190 orang

3 Kristen Khatolik 90 orang

Jumlah 560 orang

Sumber : Data Statistik Desa Durin Simbelang Profil Desa Tahun 1990

Tabel 3.6

Komposisi Penduduk Menurut Agama di Desa Durin Simbelang B

NO Agama Jumlah (Jiwa)

1 Kristen Protestan 365 orang

2 Islam 144 orang

3 Kristen Khatolik 101 orang

Jumlah 610 orang

Sumber : Data Statistik Desa Durin Simbelang Profil Desa Tahun 1990

Pada tabel diatas terlihat masyarakat di Desa Durin Simbelang A dan Desa

mulai berdatangan sekitar tahun 1970-an. Kebanyakan dari mereka merupakan perpindahan dari desa sebelah seperti Desa Pertampilan.35

Akan tetapi antar pemeluk agama disini terjalin dengan baik, saling menghormati, dan saling menghargai. Yang penting dalam masyarakat itu saling mengenal dan tinggal dalam satu desa, hal kebersamaan ini senantiasa berlangsung.

Bahkan tidak jarang karena perbedaan inilah menyatukan mereka di dalam keharmonisan.

3.2 Etnis Jawa

Asal mula kedatangan Etnis Jawa ke Sumatera Timur pada umumnya adalah sebagai buruh/kuli di perkebunan. Setelah masa kolonial Belanda berakhir tahun 1942 maka kontrak-kontrak mereka pun berakhir, namun masyarakat Jawa tersebut tidak kembali ke Jawa, mereka tetap menjadi penduduk setempat sama seperti masyarakat-masyarakat pendatang lainnya.

Desa Namoriam adalah suatu desa yang awal mulanya terbentuk karena permukiman yang telah dibentuk oleh Etnis Karo sekitar tahun 1870-an. Sejak dibukanya perkebunan tembakau di desa ini, maka tenaga kerja yang datang dari luar terkhusus Etnis Jawa mulai tinggal dan menetap di desa ini.

Pada awal dibukanya permukiman, penduduk asli memang telah memiliki wilayah pilihan sendiri. Oleh karena itu pada saat diadakan perluasan perkebunan dan banyak Etnis Jawa berdatangan ke desa ini, Etnis Karo sebagai penduduk asli tidak

35Arsip Profil Desa Durin Simbelang.

merasa terganggu. Mereka menganggap Etnis Jawa adalah orang-orang yang bekerja di perkebunan sehingga mereka memilih untuk tinggal di desa ini. Selain itu Etnis Jawa di Desa Namoriam dapat diterima dengan baik oleh Etnis Karo, karena terjalinnya komunikasi yang baik antara kedua belah pihak.36

Dalam hal ini Etnis Jawa yang tinggal di Desa Namoriam secara tidak langsung mendapatkan hak tanah melalui pemberian dari Perbapaan. Perbapaan merupakan seorang kepala adat (datuk) yang memiliki peranan dalam memimpin suatu desa. Berdasarkan hasil penelitian penulis menemukan bahwa ternyata tanah yang diberikan oleh perbapaan kepada Etnis Jawa bermula dari pembelian yang dilakukan secara langsung kepada pemilik tanah yaitu Etnis Karo. Tanah yang diberikan oleh Perbapaan kepada Etnis Jawa adalah 20 m x 20 m. Pemberian tanah ini dilakukan dengan adanya perjanjian atau pertemuan antara perwakilan dari Perbapaan dengan keluarga yang akan diberikan tanah, kemudian tanah yang sudah

dibeli itu diserahkan oleh pihak perbapaan kepada Etnis Jawa dan secara resmi sudah menjadi hak milik dari Etnis Jawa yang telah diberikan tanah oleh pihak dari Perbapaan.37

Sejak kedatangan mereka pada awal 1890 di Desa Namoriam, mereka mulai berkembang dan menjadi lebih semakin baik. Adengan Eng merupakan orang pertama Jawa yang tinggal bersama keluarganya di Desa Namoriam yang berasal dari Bagelan. Awal kedatangannya di desa ini adalah bekerja sebagai buruh, sedangkan

36Wawancara, Adanto di Desa Namoriam pada tanggal 03 Maret 2017.

37Wawancara, Jani di Desa Namoriam pada tanggal 20 Juni 2017.

keluarganya bekerja di lahan pertanian milik orang Karo. Selajutnya secara bertahap Etnis Jawa yang datang dari Pulau Jawa terus berdatangan ke Desa Namoriam ini.

Akan tetapi seiring berjalan waktu mereka mulai berkembang dan menyukai tempat mereka tinggal sekarang. Namun hal ini tidak berlangsung lama, karena pada tahun 1920, Etnis Karo yang merupakan suku asli di Desa Namoriam ternyata memeilihara hewan ternak babi di rumah mereka. Melihat hal ini membuat Etnis Jawa tidak suka melihatnya dan menyadari ketidaknyamanan di dalam hidup mereka.38

Hingga sekitar tahun 1930-an Etnis Jawa mulai merencanakan perpindahan ke desa lain. Sebelum pindah ke desa lain Etnis Jawa melihat daerah sekitar yang ada di dekat Desa Namoriam yang mereka anggap nyaman untuk mereka tinggali. Setelah melihat daerah yang lain ternayata Etnis Jawa yang ada di Desa Namoriam memilih untuk pindah ke desa sebelah yaitu Desa Durin Simbelang A yang dimana perpindahan itu terjadi pada tahun 1938.

Etnis Jawa di Desa Namoriam memilih untuk bertempat tinggal di Desa Durin Simbelang A karena di desa tersebut tidak ada yang memelihara hewan ternak babi, termasuk penduduk asli yaitu Etnis Karo. Etnis Karo yang tinggal di Desa Durin Simbelang A tidak memelihara hewan ternak babi karena kebanyakan yang tinggal di desa ini beragama islam. Sehingga mereka tidak ada yang memelihara ternak babi karena dianggap haram dan juga kotor.

38Wawancara, Pardi di Desa Durin Simbelang pada tanggal 23 Maret 2017

Perpindahan yang dilakukan oleh Etnis Jawa ke Desa Durin Simbelang disebut dengan Migrasi. Migrasi merupakan perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat yang lain, baik secara individu maupun secara kelompok. Dalam migrasi terdapat unsur-unsur pokok yaitu meninggalkan kampung halaman dengan kemauan sendiri, mencari penghidupan dan pengalaman yang baru serta merantau yang membudaya.39

Penduduk sebagai pelaku terhadap peristiwa migrasi dalam hal ini adalah Etnis Jawa. Beberapa faktor-faktor yang mendorong terjadinya perpindahan Etnis Jawa ke Desa Durin Simbelang A yaitu:

1. Faktor Geografis

Letak geografis suatu daerah sangat mempengaruhi masyarakatnya yang tinggal di daerah itu. Melihat wilayah Desa Durin Simbelang A yang pada awalnya bersih dan tinggal didalam wilayah yang jauh dari gerombolan membuat mereka untuk pindah dari Desa Namoriam.

2. Faktor Sosial

Dalam kehidupan keseharian Etnis Jawa, mereka memiliki prinsip yang menjadi dasar pemikiran mereka adalah “mangan ora mangan sing penting ngumpul” yang artinya tetap mengutamakan kebersamaan.Disini Etnis Karo dan

Etnis Jawa selalu berkumpul walaupun tidak ada acara.40 3. Faktor Lingkungan

39Koenjtaraningrat, Manusia Dan Kebudayaan Di Indonesia, Jakarta:djambatan, 2007 hal. 57

40Wawancara, Bandan di Desa Durin Simbelang pada tanggal 25 Maret 2017.

Faktor ini sangat penting, karena kenyaman tempat tinggal merupakan suatu yang harus diutamakan. Karena jika tidak ada rasa aman maka tidak akan bisa hidup secara damai dan tenang. Suatu hal yang menguntungkan bagi Etnis Jawa dalam melakukan perpindahannya yaitu tidak adanya Etnis Karo yang memelihara hewan ternak babi. Untuk itu Etnis Jawa melakukan perpindahan dengan sangat baik yaitu mengambil hati Etnis Karo sebagai penduduk asli di Desa Durin Simbelang A.

Kedatangan Etnis Jawa di Desa Durin Simbelang A sedikit berbeda karena keluarga Adengan Eng dan Legiran merupakan Etnis Jawa pertama yang tinggal di Desa Namoriam pada tahun 1938. Sejak awal masuknya Etnis Jawa ke Desa Durin Simbelang sekitar tahun 1938 ternyata tidak ada reaksi yang bersifat negatif. Tidak terjadi permusuhan antara Etnis Karo terhadap Etnis Jawa. Pada dasarnya Etnis Karo menerima kedatangan Etnis Jawa dengan sikap hangat dan tangan terbuka. Hal ini didasari dengan awal kedatangan mereka yang dilakukan secara baik-baik dan kemampuan mereka beradaptasi dengan cepat.

Dalam hal ini Etnis Jawa yang tinggal di Desa Durin Simbelang A secara tidak langsung mendapatkan hak tanah melalui sistem barter yaitu menukar dengan cangkol. Penukaran dengan cangkol ini dilakukan karna pada saat itu susahnya untuk membeli cangkol. Ketika itu Adengan Eng dan Legiran melakukan penukaran dengan Santo Ginting yang dimana mereka memberikan dua cangkol kepada Santo Ginting dan mendapatkan sebidang tanah yang dapat mereka tempati. Akan tetapi hal ini tidak berlangsung lama karena semakin hari Etnis Jawa yang lainnya mulai berdatangan ke

Desa Durin Simbelang A sehingga pemberian hak tanah tidak dilakukan lagi melalui sistem barter, tetapi dengan cara membeli.

Pada awalnya terdapat banyak perbedaan antara Etnis Jawa dengan Etnis Karo. Adapun yang melatarbelakangi hal tersebut adalah karena adanya perbedaan, cara hidup, struktur sosial dan bahasa. Namun hal itu bukanlah menjadi suatu penghalang bagi Etnis Jawa untuk tinggal di Desa Durin Sembelang. Secara perlahan mereka mulai beradaptasi terhadap orang-orang yang berada disekitarnya.

Etnis Jawa secara perlahan-lahan beradaptasi terhadap orang-orang yang berada disekitarnya. Sehingga disini terjadi komunikasi yang semula berjalan agak canggung itu mulai menunjukkan suatu perubahan, sehingga Etnis Jawa semakin menarik perhatian bagi Etnis Karo dengan adanya sikap menerima, keramah tamahan, sopan santun, keuletan dalam bekerja membuat hati Etnis Karo mulai beranggapan bahwa Etnis Jawa ini dapat hidup bermasyarakat dan dapat dijadikan sebagai teman untuk meramaikan daerahnya yang masih sepi pada waktu itu.

Perlu ditekankan disini, hubungan antar individu dengan individu, antar individu dengan kelompok dan antara kelompok dengan kelompok berjalan dengan harmonis, karena masing-masing etnis menyadari betapa pentingnya hidup bersatu, mengadakan hubungan saling membagi dan bantu membantu demi kelangsungan hidup mereka. Misalnya saja dalam pembentukan organisasi petani yang dibentuk pada tahun 1956, masyarakat Etnis Karo dan Etnis Jawa turut andil di dalam

membentuk organisasi ini bahkan di dalamnya orang Karo dan orang Jawa termasuk di dalam sistem kepengurusannya.41

Perasaan itu timbul karena Etnis Jawa sudah merasa bahwa Desa Durin Sembelang itu merupakan daerah mereka sendiri atau seperti kampung halaman mereka.Budaya akan mempengaruhi karakter kepribadian seseorang. Budaya erat

Perasaan itu timbul karena Etnis Jawa sudah merasa bahwa Desa Durin Sembelang itu merupakan daerah mereka sendiri atau seperti kampung halaman mereka.Budaya akan mempengaruhi karakter kepribadian seseorang. Budaya erat

Dokumen terkait