BAB IV PEMBAHASAN
A. Konsep Etos Kerja Islami
2. Etos Kerja Islami Melahirkan Kerja yang Religius
Etos kerja Islami merupakan karakter berkenaan dengan kerja yang bersumber dari keyakinan Islam terhadap kerja, di mana sumber tersebut dimuat dalam Al-Qur‟an dan hadits. Keyakinan-keyakinan terhadap kerja yang Islami dapat melahirkan cara-cara kerja yang Islami pula.
a. Produktivitas Tinggi sebagai Proyeksi Hati yang Bersyukur
Seorang muslim seharusnya akan menghindari sikap mubadzir. Dengan penghayatan ini tumbuhlah sikap yang konsekuen dalam bentuk perilaku yang selalu mengarah pada cara kerja yang efisien. Sikap seperti ini merupakan modal dasar dalam upaya menjadikan dirinya sebagai manusia yang selalu berorientasi kepada nilai-nilai produktif. Kerja yang efisien dan berorientasi pada produktivitas ini karena pribadi muslim sangat menghayati arti waktu sebagai aset, ia tidak mungkin membiarkan waktu berlalu tanpa arti. Penghargaan terhadap waktu ialah salah satu wujud rasa syukur atas limpahan nikmat yang Allah Swt berikan kepadanya.
150
b. Bekerja secara Profesional sebagai Proyeksi Nilai Keikhlasan
Bekerja yang dilakukan dengan penuh keikhlasan, yang orientasi utamanya ialah meraih ridho Allah Swt maka akan membuahkan kerja yang profesional. Keikhlasannya untuk mengabdikan diri kepada Allah Swt akan melahirkan cara-cara kerja yang profesional yang tentunya disukai oleh Allah Swt. Ia dalam bekerja di antaranya akan memiliki sikap jujur, konsisten, disiplin, bertanggungjawab, melayani. Sikap-sikap tersebut ia lakukan secara ikhlas, tanpa ada pamrih apapun. Meskipun dengan sikap kerja yang demikian ia akan mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan atau hasil yang tidak sesuai harapan, ia akan tetap menerimanya dengan senang hati, sebab ia ikhlas dalam kerjanya. Ia yakin, dengan keikhlasannya Allah Swt akan memberikan balasan yang lebih indah. Balasan indah baik berupa kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan berupa surga di akhirat.
c. Kerja Datang dari Cinta sebagai Wujud Pengabdian
Bekerja sebagai wujud pengabdian kepada Allah Swt tentunya akan dilakukan dengan sepenuh hati dan cinta yang mendalam, supaya Allah Swt berkenan memberikan ridho-Nya. Ketika seseorang mengagumi orang lain yang diharapkan akan menjadi kekasihnya, maka ia akan melakukan apapun dengan sepenuh cinta untuk dapat memilikinya. Begitupun dengan bekerja, apabila ia sadar bahwa bekerja merupakan ibadah; pengabdian diri kepada Allah Swt, maka
151
ia akan melakukan kerja dengan sepenuh cinta, supaya Allah Swt juga mencintainya, mengabulkan do‟anya dan memberikan ridho-Nya.
d. Bekerja dalam Balutan Kompetisi dan Tolong Menolong
Allah Swt memerintahkan manusia untuk berlomba-lomba atau berkompetisi (tanafus) di manapun keberadaannya untuk menjadi hamba yang gemar berbuat kebajikan (Fitriantoro, 2011:28). Semua ini menunjukkan etos persaingan dalam kualitas kerja yang Islami. Dalam kaitannya dengan kerja, Islam memerintahkan supaya seorang muslim dalam bekerja memiliki semangat untuk berkompetisi agar memperoleh hasil yang terbaik. Kompetisi yang dilakukan harus dilandasi dengan akhlak yang mulia, bukan kompetisi yang dilakukan dengan cara curang.
Kompetisi dalam bekerja juga dibarengi dengan sikap saling tolong menolong (ta‟awun). Seorang muslim walaupun berada dalam sebuah kompetisi kerja, namun tetap mengutamakan untuk menolong rekan kerja yang membutuhkan bantuannya. Ia memiliki prinsip, dengan memudahkan urusan orang lain maka Allah Swt akan memudahkan segala urusan dirinya. Oleh karena itu, dengan memberi pertolongan kepada rekan kerjanya, ia akan menjadi seorang yang memiliki citra baik di hadapan semua orang. Jika ia berhasil dalam kerjanya, misalnya memperoleh promosi atau kenaikan pangkat, semua orang di sekitarnya akan ikut senang. Kebaikannya kepada
152
orang-orang di sekitarnya menumbuhkan kecintaan mereka kepada dirinya serta mampu menghantarkan pada kesuksesan kerjanya.
e. Bekerja secara Sempurna (Itqan)
Kualitas kerja yang itqan yaitu hasil pekerjaan yang dapat mencapai standar ideal pekerjaan secara teknis. Kerja secara itqan ntuk itu memerlukan dukungan pengetahuan dan skill yang optimal. Islam menganjurkan umatnya agar terus menambah atau mengembangkan ilmunya dan tetap berlatih (Fitriantoro, 2011:19).
Seorang muslim yang bekerja dengan landasan itqan selalu berusaha mengerjakan segala sesuatu secara sempurna atau dengan standar tinggi. Ia tidak mau bekerja secara asal-asalan, bekerja harus itqan. Kerja secara itqan membutuhkan ilmu yang mumpuni, karena kesempurnaan atau idealitas tidak mungkin dicapai dengan pengetahuan yang terbatas terhadap pekerjaannya. Ia harus ahli dalam bidangnya; mengetahui apa yang ia kerjakan sampai ke akar-akarnya dan terus-menerus melakukan perbaikan agar memperoleh hasil yang lebih baik disetiap waktunya.
f. Bekerja dengan Kreatif dan Gigih sebagai Wujud Sikap Tawakal
Seorang muslim yang kreatif dan gigih dalam kerjanya memiliki ciri-ciri: motivasi untuk berprestasi yang kuat, komitmen yang kuat terhadap pekerjaannya, serta penuh inisiatif dan optimisme (Tasmara, 2002:91-92). Bekerja secara kreatif dan gigih merupakan wujud sikap tawakal.
153
Seorang muslim yang memiliki sikap tawakal, dalam bekerja akan berusaha dengan sungguh-sungguh dan ia yakin akan usahanya tersebut. Setiap kali semangat kerjanya mulai redup ia berdzikir kepada Allah Swt untuk menumbuhkan dorongan semangat pada dirinya. Setiap kali diterpa badai tantangan dalam kerjanya, ia segera memperbaiki dan membenahi diri. Dalam segala hal ia tidak pernah mencari kambing hitam, ia tidak akan mencari-cari alasan kegagalan dirinya dengan cara menyalahkan orang lain. Ia menyadari bahwa apapun yang terjadi dalam kerjanya harus ia hadapi dengan penuh tanggung jawab. Tidak ada kata pesimis dalam hidupnya. Baginya melihat sesuatu secara pesimis dan negatif hanya akan menambah beban dan bukan akan mendapatkan penyelesaian dari persoalan yang dihadapinya.
g. Zuhud dan Tawadhu
Zuhud bukan berarti menolak segala sesuatu yang bersifat duniawi. Zuhud dalam konteks etos kerja Islami ialah kepuasan hati dengan apa yang diberikan Allah Swt. Tidak ada ikatan hati kepada harta dan hal-hal yang bersifat material lainnya. Harta hanya sampai di “tangan”, tidak sampai di “hati” (Syahyuti, 2011:167). Harta bagi seorang muslim merupakan sarana, bukan tujuan. Harta merupakan sarana untuk memperoleh kebahagiaan akhirat. Seorang muslim yang zuhud tidak akan terperdaya oleh harta, karena harta merupakan sarana untuk ia dapat melaksanakan ibadah dan meraih kebahagiaan
154
akhirat. Harta bukanlah tujuan ia bekerja, bukan pula tujuan dari hidupnya.
Kezuhudan seorang muslim juga diiringi dengan sikap tawadhu. Tawadhu adalah sikap merendah tanpa menghinakan diri (Syahyuti, 2011:154). Tawadhu akan mengangkat derajat seseorang, bahkan mengangkat derajat suatu kaum dan menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat. Tawadhu adalah salah satu akhlak mulia yang menggambarkan keagungan jiwa, kebersihan hati, dan ketinggian derajat pemiliknya (Syahyuti, 2011:155). Tawadhu dalam kaitannya dengan kerja ialah sikap yang senantiasa rendah hati, merasa bahwa ia bukan siapa-siapa meskipun memiliki kedudukan tinggi dalam pekerjaannya. Orang yang rendah hati maka hati dan pikirannya selalu terbuka terhadap gagasan-gagasan atau ide-ide baru. Hal inilah yang akan membawa kemajuan pesat pada orang yang memiliki sikap tawadhu. Tampak di luar biasa-biasa saja, namun dibalik tampilan luarnya tersimpan sesuatu yang luar biasa.