• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN

A. Konsep Etos Kerja Islami

1. Perpaduan Berbagai Konsep dalam Etos Kerja Islami

Etos kerja Islami merupakan karakter berkenaan dengan kerja yang berorientasi bukan sekadar pada aspek materi tetapi lebih dalam dari itu untuk mengabdi kepada Allah Swt sehingga ridho-Nya dapat diraih. Etos kerja Islami memiliki prinsip di antaranya bahwa bekerja itu harus sepenuh hati karena merupakan wujud pengabdian kepada Allah Swt. Bekerja sebagai wujud pengabdian kepada Allah Swt termasuk ibadah dalam arti luas, maka umat muslim hendaknya menyeimbangkan hidupnya dengan beribadah mahdhah dan juga bermuamalah, hablum minallah dan hablumminannas. Beribadah mahdhah seperti shalat, memang diwajibkan atas umat muslim, tetapi Islam tidak menghendaki manusia yang mengisi seluruh waktunya dengan hanya beribadah mahdhah, mengasingkan diri dari kehidupan bermasyarakat, dan melalaikan tugas-tugasnya sebagai khalifah Allah Swt untuk menciptakan kemakmuran di muka bumi.

Etos kerja Islami menempatkan kerja sebagai aktivitas yang mulia. Kerja sebagai aktivitas untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang bersifat duniawi sekaligus sarana untuk mencapai kebahagiaan di akhirat.

142

Etos kerja Islami menempatkan hasil materi bukan sebagai tujuan tertinggi dalam bekerja, melainkan hanya sebatas sarana untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Oleh karena itu, tujuan tertinggi dari kerja seorang muslim yang beretos kerja Islami ialah pengabdian kepada Allah Swt dengan sepenuh jiwa, pikiran, dan fisik untuk meraih ridho-Nya. Supaya dengan ridho Allah Swt tersebut, manusia dimasukkan dalam golongan penghuni surga. Konsep-konsep dalam etos kerja Islami begitu moderat dalam memposisikan kerja dalam kehidupan manusia.

a. Bekerja Sesuatu yang Fitrah dan Amanah

Manusia diciptakan Allah Swt dengan segenap potensi, baik ruhani, jasmani, maupun akal. Potensi-potensi tersebut yang membedakan manusia dari binatang dan memperoleh kedudukan sebagai makhluk yang paling mulia. Manusia dengan bekerja maka potensi dalam dirinya akan berkembang secara optimal, karena bekerja merupakan aktualisasi diri (Syahyuti, 2011:147). Artinya, dengan bekerja manusia memanusiakan dirinya. Islam berpandangan bahwa manusia hanya dapat memanusiakan dirinya dengan iman, ilmu, dan amal (Tasmara, 2002:4). Iman akan menjadi nyata dengan adanya amal yang dihiasi moral yang luhur yang dapat membawa ke jalan yang lurus. Jalan yang lurus akan diperoleh melalui ilmu. Oleh karena itu, seorang muslim dalam bekerja harus dilandasi dengan iman dan ilmu yang dapat membawa kepada jalan yang lurus, supaya manusia dapat memanusiakan dirinya.

143

Manusia sebagai makhluk yang paling mulia, maka amanat untuk memakmurkan bumi pun dilimpahkan kepadanya. Gelar khalifatullah fil ardhi atau khalifah Allah Swt di bumi membawa konsekuensi bagi manusia untuk bekerja dengan penuh kesungguhan, bukan kerja yang asal-asalan apalagi hanya bermalas-malasan. Manusia dianjurkan untuk bekerja giat dan berkompetisi dalam melakukan pekerjaan yang baik, sebagaimana telah disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 148, artinya: “... Maka berlomba-lombalah kamu dalam (berbuat) kebaikan ....”. Hanya dengan bekerja dengan penuh kesungguhan manusia dapat menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat terbaik (khairu ummah) yang bermanfaat bagi lingkungannya.

Bekerja merupakan perintah Allah Swt yang banyak termuat dalam firman-Nya. Salah satunya dalam Q.S. Ar-Ra‟du ayat 11 dijelaskan bahwa Allah Swt tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka sendiri yang mengubahnya. Ayat ini menyiratkan perintah Allah Swt kepada umat manusia untuk bekerja agar mereka dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik. Dengan kehidupan yang lebih baik maka manusia dapat meninggikan martabatnya.

b. Bekerja adalah Ibadah

Tugas setiap manusia dan juga jin ialah ibadah; menghambakan diri kepada Allah Swt. Ibadah sebagai tugas hidup

144

adalah mencakup semua aspek kehidupan (ucapan, perbuatan, dan lain-lain) yang diizinkan oleh Allah Swt dan dilaksanakan dengan ikhlas untuk mendapatkan ridho Allah Swt. Ibadah dalam pengertian khusus (terminologi fiqh) berarti perbuatan atau upacara dalam melaksanakan hubungan langsung dengan Allah Swt. Termasuk dalam pengertian ini adalah rukun Islam yang lima. Ibadah dalam arti khusus utamanya rukun Islam yang lima telah diatur tata caranya secara pasti (Faridi, 1982:87-88). Ibadah baik sebagai tugas hidup maupun ibadah ritual memiliki kedudukan yang sama pentingnya dan harus dilakukan seluruhnya tanpa meninggalkan salah satu di antaranya.

Bekerja adalah salah satu aspek dari kehidupan manusia yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan guna mempertahankan kelangsungan hidup. Bekerja merupakan sarana untuk memanusiakan manusia dan meninggikan martabatnya di hadapan Allah Swt. Bekerja adalah termasuk ibadah, apabila dilaksanakan dengan ikhlas, sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang dikehendaki Allah Swt dan tujuan tertingginya untuk meraih ridho Allah Swt. Bekerja sebagai ibadah berarti kerja yang dilakukan didasarkan pada keimanan kepada Allah Swt sehingga bekerja termasuk amal shalih. Allah Swt tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang beramal shalih, seperti tertulis dalam firman Allah Swt surah Al-Kahfi ayat 30 berikut ini:

145























Artinya:

Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal shalih, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. (Q.S. Al-Kahfi: 30).

Bekerja sebagai ibadah yaitu menghambakan diri kepada Allah Swt. Bekerja dalam rangka menghambakan diri kepada Allah Swt Yang Maha Mulia lagi Sempurna tentunya tidak boleh asal-asalan, melainkan harus dilaksanakan dengan ikhlas, sepenuh hati, dan penuh kesungguhan. Bekerja sebagai ibadah harus diiringi oleh tujuan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, kemudian melahirkan suatu peningkatan atau perbaikan untuk meraih nilai yang lebih bermakna. Bekerja sebagai ibadah merupakan bukti pengabdian dan rasa syukur umat muslim untuk mengolah dan memenuhi panggilan Ilahi agar mampu menjadi yang terbaik karena mereka sadar bahwa bumi diciptakan sebagai ujian bagi mereka yang memiliki etos terbaik (Tasmara, 2002:25).

Bekerja merupakan ibadah, maka sebagai muslim jangan sampai terjebak hanya pada ibadah ritual saja dan menganggap kerja hanya sebagai aktivitas duniawi yang tidak bernilai ibadah. Anggapan tersebut tentunya tidak benar. Islam merupakan agama yang kaffah, mementingkan urusan dunia dan akhirat, hablumminallah dan hablumminannas, aqidah dan syari‟ah, jasmani dan rohani, individu

146

dan sosial, serta pasangan-pasangan yang lainnya. Sifat menyeluruh dan seimbang ini dipertegas oleh Al-Qur‟an dan hadits. Dalam Surah Al-Jumu‟ah ayat 9 dijelaskan bahwa: “Apabila kamu selesai mengerjakan shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah”. Ayat ini menegaskan bahwa manusia yang bertakwa bukan sekadar yang mengerjakan ibadah ritual melainkan juga bermuamalah. Rasulullah saw. selanjutnya dalam hadits juga menjelaskan bahwa beliau tidak menyukai sikap yang berlebihan, karena beliau orang yang paling takut kepada Allah Swt saja berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur serta menikahi wanita-wanita. Islam agama yang kaffah, menghendaki pemeluk-pemeluknya untuk melaksanakan tuntunan agama secara menyeluruh dan seimbang.

c. Bekerja adalah Rangkaian Iman, Hijrah, dan Jihad

Jihad bukan hanya semata-mata dikaitkan dengan perang secara fisik. Jihad secara umum maknanya adalah kesungguhan untuk mengerahkan segala kekuatan atau potensi dirinya di dalam melaksanakan sesuatu dan meninggikan martabat dirinya sebagai manusia yang mengemban misi sebagai rahmatan lil „alamin

(Tasmara, 2002:37). Oleh karena itu, secara sederhana jihad diartikan sebagai bersungguh-sungguh. Allah Swt bahkan memberikan jaminan pertolongan serta jalan keluar bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam segala hal, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Swt surah Al-Ankabut ayat 69 sebagai berikut:

147



















Artinya:

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al-Ankabut: 69).

Jihad dalam kaitannya dengan kerja islami merupakan semangat yang bergemuruh dalam setiap pekerjaan yang dilakukan karena keterpanggilan untuk mendapatkan rahmat dan ridho Allah Swt. Jihad merupakan bagian dari tiga rangkaian mutiara yang secara berulang disebutkan di dalam Al-Qur‟an, yaitu rangkaian iman, hijrah, dan jihad. Iman harus dihidupkan dalam bentuk adanya perubahan (hijrah). Kualitas iman dan semangat perubahan tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan adanya jihad, yaitu kesungguhan untuk membuktikan dalam kehidupan yang nyata (Tasmara, 2002:39).

Bekerja adalah ibadah, ini artinya bekerja harus dilaksanakan dengan penuh kesungguhan, mengerahkan segala daya dan upaya secara maksimal, serta dengan semangat yang luar biasa. Bekerja dengan semangat jihad juga merupakan proyeksi dari keimanan seorang muslim. Keimanan dalam dirinya membawa keyakinan bahwa Allah Swt senantiasa mengawasi kerja yang ia lakukan. Keyakinan ini akan terproyeksikan pada sikap jujur dalam bekerja serta mampu menghindarkan diri dari sikap-sikap curang atau negatif dalam bekerja. Kesimpulannya, bekerja dengan semangat jihad ialah bekerja

148

dengan penuh kesungguhan untuk melahirkan perubahan-perubahan yang lebih baik disetiap waktu, karena Allah Swt selalu mengawasi kerja yang ia lakukan.

d. Materi Bukan Sekadar Hasil Kerja

Bekerja dalam konteks etos kerja Islami bukan sekadar berorientasi pada materi, tetapi juga imateri sebagai tujuan tertinggi. Hasil kerja berupa materi bukanlah tujuan akhir, melainkan hasil tersebut adalah sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup sehingga akan dapat melaksanakan perintah-perintah Allah Swt selama di dunia termasuk melaksanakan ibadah mahdhah seperti shalat, zakat, haji. Ibadah-ibadah mahdhah tersebut tidak mungkin dapat terlaksana apabila manusia tidak bekerja.

Haji misalnya, membutuhkan biaya yang besar untuk dapat menunaikannya. Biaya tersebut didapat melalui bekerja tentunya. Zakat juga demikian, zakat fitrah misalnya, hanya dapat dikeluarkan oleh seorang muslim yang mampu untuk membayarkannya. Zakat mal dapat dikeluarkan oleh seorang muslim apabila telah mencapai nisab dan haul. Nisab tentunya dicapai apabila telah memenuhi kadar tertentu, artinya orang yang dapat mengeluarkan zakat mal tergolong orang yang berharta. Ini artinya, materi atau harta bukan sekadar bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan manusia selama hidup di dunia. Apalagi harta dipandang sebagai sesuatu yang negatif, karena dapat membuat manusia lalai dan terlena. Anggapan ini memang

149

benar adanya, yaitu apabila seorang yang berharta tersebut menganggap harta sebagai tujuan hidupnya, ia takut kehilangannya, dan menjadi budak hartanya. Harta bagi seorang muslim seharusnya ditempatkan sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah Swt dan mengumpulkan bekal untuk kehidupan akhirat, sehingga tercapailah tujuan tertinggi dari bekerja yaitu mendapatkan ridho Allah Swt agar memasukkan ke dalam golongan penghuni surga.