BAB VII KEPEMIMPINAN DAN MODAL SOSIAL
E. Etos Kerja Dalam Kekristenan
Etos berasal dari Bahasa Yunani yaitu ethos yang berarti karakter, cara hidup, kebiasaan seseorang, motivasi, dan tujuan moral seseorang. Etos kerja berarti cara hidup individu atau sekelompok orang dalam membangun sebuah peradaban hidup yang baru dalam memasuki setiap realitas sosial di sekitarnya. Dalam melaksanakan etos kerja yang berhasil maka diperlukan sebuah aspek evaluatif dari sikap dan kepribadian seseorang selama berada di dunia ini. Sikap di sini digambarkan sebagai prinsip dari masing-masing individu atau sekelompok orang yang memiliki keyakinan yang kuat dalam mengambil keputusan untuk merubah tatanan hidupnya menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Etos kerja yang berlandaskan nilai iman Kristen meng-gambarkan semangat kerja dan komitmen yang kuat dalam bekerja untuk kemulian Tuhan. Etos kerja ini berakar pada keyakinan bahwa bekerja keras, menabung, hemat, dan ke-percayaan pada Tuhan merupakan sebuah bukti seseorang memiliki moral dan karakter yang baik. Iman Kristen mer-upakan standar etika dan prinsip-prinsip moral dalam membimbing setiap orang
untuk mencapai suatu kondisi yang lebih baik melalui transformasi so-sial yang berkelanjutan. Etos kerja manjadi modal
Iman Kristen merupakan
standar etika dan
prinsip-prinsip moral untuk
men-capai transformasi sosial
yang berkelanjutan
Kepemimpinan dan Transformasi Ekonomi
sosial dalam men-jalankan semangat kewirausahaan seh-ingga dapat meng-gerakan bidang ekonomi anggota masyarakatnya.
Etos kerja tidak hanya berorientasi untuk bekerja, namun mengandung nilai untuk bersikap saling percaya antar anggota kelompok tersebut. Tanpa kepercayaan yang kuat tentu setiap orang tidak mampu bekerjasama dengan baik. Memang prinsip kepercayaan tidak mudah bertumbuh pada suatu kelompok, kecuali mereka telah memiliki komitmen dari awal bekerja serta memiliki prinsip-prinsip etika kekristenan yang kuat. Dalam membangun sebuah kepercayaan tentu diperlukan kesadaran yang tinggi dari anggota masyarakat, sehingga setiap keputusan yang diambil bertujuan untuk kebaikan semua pihak.
Sejarah membuktikan bahwa ukuran sebuah negara maju terletak pada pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang mendukung etos kerja yang kuat di masyarakat. Keberhasilan suatu perusahaan terletak pada etos kerja yang militan sehingga hasilnya pun didapatkan oleh perusahaan dan karyawan tersebut. Setiap orang memiliki internal being yang mampu merumuskan siapa dirinya, sehingga mampu juga menetapkan respon atau reaksi terhadap tuntutan external. Respon internal being terhadap tuntutan external pada dunia kerja justru menetapkan etos kerja seseorang.
Etos kerja seseorang dapat diekspresikan lewat totalitas kepribadian dirinya dengan meyakini dan memberikan makna pada sesuatu, sehingga mendorong dirinya untuk
Ukuran sebuah negara maju
diten-tukan pada pemanfaatan
perkem-bangan teknologi dan ilmu
penge-tahuan untuk mendukung etos
kerja yang kuat di masyarakat
I Wayan Ruspendi Junaedi dan Dermawan Waruwu
bertindak dan meraih kesuksesan secara optimal. Pola relasi antara sesama maupun lingkungan di sekitarnya dapat terjalin dengan baik. Prinsip etos dalam kekristenan berorientasi pada beberapa hal, antara lain:
1. Orientasi ke masa depan, yaitu segala sesuatu direncanakan dengan baik, seperti waktu dan kondisi lainnya agar lebih baik dari sebelumnya. 2. Menghargai waktu demi efesien dan efektivitas
dalam bekerja.
3. Tanggung jawab, yaitu pekerjaan yang dilakukan merupakan sesuatu yang harus dikerjakan dengan ketekunan dan kesungguhan.
4. Hemat dan sederhana, yaitu memperhitungkan pengeluaran secara teliti demi kebutuhan pada masa yang akan datang.
5. Persaingan sehat, yaitu memacu diri agar pekerjaan yang dilakukan mendapatkan hasil yang maksimal dengan menambah kreativitas diri.
Dalam mewujudkan etos kerja yang benar tentu berkaitan dengan modal sosial yang ada di masyarakat. Dimensi modal sosial tumbuh di dalam suatu masyarakat yang berisi nilai dan norma serta pola-pola interaksi sosial yang mengatur kehidupan anggotanya. Terminologi modal sosial sebagai gambaran dari keterikatan internal yang mewarnai struktur kolektif, memberikan kohesifitas, dan keuntungan-keuntungan bersama dari proses dinamika sosial yang terjadi di dalam masyarakat (Adler dan Kwon, 2000). Oleh sebab itu, etos kerja yang terbangun dalam Desa Blimbingsari adalah etos kerja yang tinggi untuk meraih keberhasilan. Setiap anggota masyarakat merupakan pekerja keras, ulet, dan rajin untuk mengerjakan bidang pertanian, peternakan dan perkebunan.
Kepemimpinan dan Transformasi Ekonomi
Dasgupta dan Serageldin melansir dimensi modal sosial sebagai segala sesuatu yang membuat masyarakat bersekutu untuk mencapai tujuan bersama atas dasar kebersamaan yang diikat oleh nilai-nilai dan norma-norma yang ada. Sedangkan Colemen menekankan bahwa modal social itu inheren dalam struktur relasi sosial dan jaringan sosial pada suatu masyarakat yang menciptakan berbagai ragam kewajiban sosial, menciptakan iklim saling percaya, membawa saluran informasi, dan menetapkan norma-norma, serta sangsi-sangsi sosial bagi para anggota masyarakat tersebut. Secara langsung modal sosial ini telah terkandung di dalam nilai etos kerja yang solid untuk mendrive anggota masyarakat di Desa Blimbingsari. Hasil dari pekerjaan mereka dijadikan sebagai suatu kebanggaan karena ketekunannya.
Fukuyama pada sisi lain dengan tegas menyatakan bahwa belum tentu norma-norma dan nilai-nilai bersama yang dipedomani sebagai acuan bersikap, bertindak, dan bertingkah-laku itu otomatis menjadi modal sosial. Akan tetapi, hanyalah norma-norma dan nilai-nilai bersama yang dibangkitkan oleh kepercayaan (trust). Nilai kepercayaan ini merupakan harapan-harapan terhadap keteraturan, kejujuran, dan perilaku kooperatif yang muncul dari dalam sebuah komunitas masyarakat. Norma-norma ini berisi nilai-nilai luhur (kebajikan), keadilan, dan etos kerja dalam rangka mencapai nilai tertinggi dalam hidupnya. Dengan demikian, masyarakat Blimbingsari memiliki modal sosial yang kuat maka secara otomatis menunjang kuatnya etos kerja masyarakatnya. Semangat dalam meningkatkan kinerja anggota masyarakat untuk mengembangkan aspek lainnya, seperti mengembangkan dunia usaha, mengembangkan pendidikan, dan sebagainya.
I Wayan Ruspendi Junaedi dan Dermawan Waruwu
kebersamaan masyarakat untuk memperbaiki kualitas hidupnya, yang senantiasa dilakukan secara terus menerus. Dalam mencapai tujuan tersebut, masyarakat senantiasa terikat pada nilai-nilai dan norma-norma yang dipedomani sebagai acuan bersikap, bertindak, bertingkah-laku, dan cara membangun hubungan dengan pihak lain. Proses ini harus secara terus menerus dilakukan sampai mencapai tujuan yang diinginkan bersama.
Ada beberapa sikap yang merupakan spirit bagi masyarakat Desa Blimbingsari dalam mempertahankan modal sosialnya, yaitu:
a. Sikap yang partisipatif. b. Sikap saling memperhatikan.
c. Sikap saling memberi dan menerima. d. Sikap saling percaya dan mempercayai. e. Sikap proaktif dalam relasi dan ide-ide baru. Dimensi inti telaah dari modal sosial terletak pada bagaimana kemampuan masyarakat untuk bekerjasama dalam membangun suatu jaringan guna mencapai tujuan bersama, yaitu tujuan untuk hidup lebih baik dari sebelumnya. Kerjasama ini diwarnai oleh suatu pola inter relasi yang timbal balik dan saling menguntungkan. Relasi ini dibangun dengan dasar kepercayaan yang tinggi serta ditopang oleh norma-norma, nilai-nilai sosial, dan iman yang kuat. Dengan semangat proaktif membuat jalinan hubungan di atas menjadi konsisten dan berkelanjutan.
Secara umum, masyarakat Desa Blimbingsari memiliki etos kerja yang tinggi. Etos kerja yang dimaksud adalah ketekunan, beriman, kerja keras, dan bakat atau jiwa seni. Bakat seni yang tinggi dituangkan dalam berbagai macam karya seni. Mereka menciptakan jenis tarian yang didasarkan pada Alkitab seperti tari malaikat. Bakat seni ini pun terus
Kepemimpinan dan Transformasi Ekonomi
dikembangkan dengan mengukir tembok penyengker gereja dan membangun kantor desa yang berarsitektur Bali. Mereka berkreasi menghias dan membuat penjor di depan rumah mereka masing-masing pada saat hari raya Natal
dan Paskah. Dengan etos kerja yang tinggi maka anggota masyarakat mampu meningkatkan taraf perekonomiannya.