BAB IV HASIL DAN INTERPRETASI DATA
4.3 Temuan Data
4.3.1 Etos Kerja Pedagang
Etos kerja itu ada karena adanya nilai-nilai dan norma-norma yang dipercayai oleh pedagang dan dianut untuk dipraktekkan di dalam kehidupan nyata. Pedagang mendapatkan nilai-nilai itu dari nenek moyang mereka terdahulu yang mewarisi usaha sebagai pedagang tradisional sejak dahulu melalui proses turun-temurun, yang menyatakan bahwa perlunya rendah hati dalam menjalankan kehidupannya, sopan dan adil. Nilai-nilai ini dianggap dapat dijadikan pegangan untuk menjalani aktivitas keseharian pedagang dalam melakukan proses pedagang,
Karena semakin majunya berkembangan jaman sehingga pedagang melakukan inovasi-inovasi untuk lebih memahami pembeli demi kelangsungan usaha mereka, dimana inovasi yang mereka hasilkan sangat dapat membantu pedagang
dalam mendapatkan pelanggan, dimana pedagang lebih memperhatikan tampilan kesehariannya dalam melakukan aktivitasnya sebagai pedagang, yaitu pedagang perbakaian rapi dan sopan dalam memulai aktivitasnya, demi memberikan kenyamanan bagi pedagang yang datang ke kios mereka. Memasang wajah yang ramah juga dilakukan oleh pedagang untuk mendatangkan pembeli, dengan senyuman-senyuman kecil diwajah mereka sembari berkata “belanja….” Kata-kata ini sangat sering terdengar di dalam aktivitas pasar tradisional. Berikut adalah kutipan hasil wawancara yang dilakukan kepada pedagang pasar tradisional (pajak sore) Padang Bulan, Medan:
“…..saya menggunakan pakaian yang sopan sebelum berangkat ke pajak, walaupun tidak bagus tetapi saya mengusahakan untuk berpakaian sopan agar pembeli nyaman dengan pakaian yang saya pakai, kemudian menambahkan senyuman sikit untuk menarik perhatian orang yang lewat didepan kios saya…..”
(wawancara, april 2012)
Pedagang memberikan semua yang diperlukan demi menarik perhatian pembeli meskipun pedagang tidak memiliki karakter seperti yang ditunjukannya dalam aktivitas berdagang. Karena nilai-nilai itu diyakini dapat memberikan dampak positif bagi kemajuan usaha mereka sehingga mereka mengikuti apa yang telah mereka yakini dan memperaktekannya langsung meskipun karakter pedagang sangat
berbeda dengan nilai-nilai tersebut.
4.3.2 Moral Ekonomi Pedagang
Moral ekonomi pedagang muncul ketika para pedagang mengalami dilema yaitu memilih memenuhi kewajiban moral terhadap kerabat-kerabatnya ataupun tetangga-tetangganya untuk menikmati bersama pendapatan yang diperolehnya
sendiri, disisi lain pedagang juga harus memenuhi kebutuhan akan kepentingan ekonomi mereka dengan mengakumulasikan modal dalam bentuk barang atau uang. Devis dalam (Sairin,Sjafri 2002) mengemukakan dilema yang dialami pedagang adalah dimana saat pedagang biasanya dikerumuni kerabatnya sebagai pembeli. Pedagang yang terlalu banyak didatangi oleh kerabatnya yang akan membeli barang dagangan mereka memiliki kemungkinan besar untuk bangkrut, kebangkrutan ini terjadi karena banyaknya potongan yang diberikan kepada kerabatnya bahkan kepada kerabat yang telah banyak berhutung pada mereka.
Sedangkan kepada para tetangganya, pedagang tidak memberikan potongan hanya saja apabila tetangga tersebut telah menjadi pelanggan mereka, mereka memberikan kemudahan dalam menjual barang dagangannya kepada tetangga tersebut, misalnya seperti pelanggan berbelanja di kios mereka tetapi jumlah barang yang diinginkan tidak mencukupi nilai uang yang mereka bawa, disini pedagang mengambil kebijakan untuk menawarkan bayar besok saja. Sesungguhnya disini pedagang sangat mengambil resiko besar terhadap keberlangsungan aktivitas berdagangnya, tetapi mereka mengambil resiko itu untuk mempermudah pelanggan-pelanggannya dalam mendapatkan barang yang mereka inginkan karena terjalinnya hubungan yang baik diantara kedua belah pihak dan menimbulkan rasa percaya diantara mereka, sehingga pedagang berani mengambil resiko ini. Berikut adalah hasil kutipan wawancara dengan pedagang Pasar tradisional (pajak sore) Padang Bulan:
“…..bayar besok saja, kata-kata ini saya keluarkan saat pelanggan saya datang ke kios saya tapi uang yang dibawanya tidak cukup untuk membayar
belanjaan yang dia (pelanggan) pilih,karena saya percaya kepada dia dan dia juga tepat waktu mengantar uangnya…..”
(wawancara, april 2012)
Dapat dipertegas lagi dengan kutipan wawancara kepada pedagang seperti berikut ini:
“…..banyak pelanggan saya yang hutang disini,tapi saya percaya hutang itu akan segera dilunasinya, karena kami juga telah kenal lama dan hubungan kami baik diluaran sana jadi saya tidak perlu khawatir untuk memberikan mereka hutangan,orang itu terbantu saya juga mendapatkan pelanggan, mereka sendiri yang menentukan kapan mereka akan balik ke kios ini lagi, jadi dua-duanya harus sepakat terlebih dahulu…..”
(wawancara, april 2012)
Dari kutipan wawancara diatas terlihat bahwa para pedagang mengambil resiko itu tanpa ragu karena didorong adanya rasa percaya yang tinggi diantara keduanya, demi mendapatkan pelanggan mereka menjalankan perannya dengan baik. Kemudahan-kemudahan yang diberikan pedagang terhadap pelanggan sangat membantu pelanggan dalam memenuhi kebutuhan mereka masing-masing dan mereka senang mendapat perlakuan seperti itu dari para pedagang yang telah menjadi langgannannya. Dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara kepada pembeli yang telah menjadi pelanggan berikut ini:
“…..karna saya telah lama membeli kebutuhan di kios ini,jadi saya telah mengenal ibu ini (pedagang pasar tradisional ) dengan baik, saya juga dapat hutangan kalo uang yang saya bawa kurang tapi saya bayarnya tepat waktu kok, malu lah kalo nunggak…..”
(wawancara, april 2012)
Berikut kutipan wawancara dengan pembeli yang telah menjadi pelanggan di kios salah satu pedagang Pasar tradisional (pajak sore) Padang Bulan:
“…..hutang.. saya sering dapat hutangan dari bapak ini (dengan senyuman kecil), dua hari sekali saya belanja kesini,karenakan saya jualan jadi barang-barang yang habisnya cepat harus ditambah lagi, awalnya saya ragu saat
bapak ini menawarkan hutangan ke saya, tapi kebetulan saat itu uang yang saya bawa tidak cukup, yaa saya ambil aja lah tawaran itu walaupun ragu. Tetap saja sampeknya dirumah saya kepikiran terus dengan hutang saya, besoknya saya dating lagi kesini dan membayar hutang saya, saya takut bapak ini tidak percaya lagi dengan saya, itu lah awalnya saya dikasih hutangan disini sampek sekarang udah dua tahun belanja disini terus…..” (wawancara, april 2012)
Munculnya rasa saling percaya diantara mereka membuahkan hubungan baik di antara pedagang dan pelanggan. Rasa malu dan segan menjadi control mereka untuk tidak melakukan kesalahan yang dapat merusak kepercayaan yang telah diberikan pedagang kepada pelanggan, jadi mereka akan tepat waktu melunasi hutang-hutang mereka kepada pedagang, sehingga menimbulkan rasa kekeluargaan yang kuat diantara mereka.
Dalam melayani pembeli yang bukan pelanggan para pedagang dipasar tradisional ini menjalankan tradisi turun temurun yang diwariskan dari keluarga-keluarga mereka terdahulu, pelayanan itu berupa penggunaan kata-kata yang sopan dan memperlakukan pembeli sebagai seorang raja,seperti pepatah yang mengatakan “pembeli adalah raja” dapat dibuktikan dari kutipan hasil wawancara kepada pedagang di bawah ini:
“..…saya melakukan pembeli dengan sopan,biar orang itu suka belanja disini. Kalo pembelinya orang jawa ,saya gunakan bahasa jawa untuk melayaninya, kalo pembelinya orang karo saya menggunakan bahasa karo untuk melayaninya walaupun saya hanya tau sedikit-sedikit saja (mengeluarkan senyuman kecil)…..”
(wawancara, april 2012)
Perlakuan lain yang dapat terlihat adalah pada pedagang ikan, dimana pedagang ikan meluangkan waktunya untuk menyiangin ikan-ikan yang dibeli oleh para pembeli walaupun keadaan kios sedang ramai, mereka sepenuhnya memanjakan
pembeli yang datang ke kios mereka dengan kemudahan-kemudahan yang mereka tawarkan, sehinga timbul minat pembeli untuk mendatangi kios mereka karena melihat pelayanan yang diberikan sangat menguntungkan bagi pembeli. Berikut adalah kutipan wawancara kepada pembeli:
“…..saya akan datang ke kios yang mempunyai kualitas barang dagangan yang baik, pelayanan yang ramah juga membuat saya nyaman untuk berbelanja di kios ini, apalagi kalo pedagang memberikan saya kemudahan dalam mendapatkan kemudah memperoleh ikan yang bias disiangin langsung, saya jadi tidak repot-repot lagi menyianginnya di rumah, dan pelayanan ini tidak saya temukan pada pasar modern, jadi saya senang berbelanja di pasar tradisional…..”
(wawancara, april 2012)
Pedagang menjalankan kegiatan berdagangnya dengan sangat baik, tidak hanya memperhatikan kepuasan pelanggan tetapi mereka juga meningkatkan hubungan persaudaraan ataupun hubungan kekeluargaan yang terbangun dari kegiatan berdagang mereka karena adanya rasa saling percaya diantara aktor-aktor ekonomi yang ada di Pasar tradisional (pajak sore) Padang Bulan, Medan. Sehingga membawa dampak positif bagi para pedagang juga karena mereka dapat mengoptimalkan pemenuhan kebutuhan akan kepentingan ekonomi mereka juga tidak menyampingkan kewajiban moral kepada kerabat dan tetangga mereka dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari sebagai pedagang di Pasar tradisional (pajak sore) ini.
4.3.3 Jaringan
Adanya jaringan-jaringan sosial yang erat dalam aktivitas perdagangan di Pasar tradisional (pajak sore) mempermudah para pedagang dalam mendapatkan barang dagangan serta mempertahankan pelanggannya. Jaringan sosial ada dan
berkembang membentuk satu kesatuan yang sulit untuk diputuskan, semua ini terjadi karena adanya rasa saling percaya yang timbul antara pedagang dan pemasok, dan pedagang terhadap pembeli yang selanjutnya menjadi pembeli tetap di kios tempat mereka berdagang atau dengan kata lain yaitu sebagai pelanggan.
Jaringan kekeluargaan merupakan dasar pembentuk hubungan modal sosial yang menciptakan kepercayaan dalam masyarakat, modal sosial mempengaruhi pertukaran ekonomi dalam dua bentuk yaitu kepercayaan dan emosi dalam suatu kelompok atau jaringan, dan keuntungan yang diperoleh secara langsung dengan mengenal pihak lain melalui jaringan. Dimana modal sosial dapat mengurangi biaya dalam memperoleh barang, difusi inovasi dan mereduksi resiko.
Pelaku dalam perdagangan tidak hanya “pedagang” dalam arti orang yang membeli dan membayar suatu barang, lalu menjualnya pada kesempatan lain dengan mengambil untung dari kegiatannya tersebut. Selain pedagang, dalam sistem perdagangan terlibat juga para buruh yang membantu pedagang. Pelaku transportasi (sopir, kernet dan pemilik truk) penyedia jasa dalam penimbangan, bongkar muat dan lain-lain. Orang-orang ini sangat mempengaruhi kemajuan dari usaha yang dijalankan pedagang itu sendiri, berikut kutipan hasil wawancara dari salah satu informan penelitian.
“…..saya menggunakan jasa tukang untuk mengambil barang-barang yang akan saya dagangkan ini, dari sentral saya menggunakan jasa tukang becak langganan saya, dia membantu saya mengangkat barang-barang dari
menaikan barang ke becak sampai menurunkannya kembali ke kios saya…..”
(wawancara, april 2012)
Dari kutipan hasil wawancara diatas dapat dilihat bahwa, pedagang memilih menggunakan jasa tukang becak yang telah menjadi langganannya dalam membantu
mempermudah aktivitas berdagang, karena pedagang telah mendapatkan kenyamanan terhadap si tukang becak tersebut dan telah terbangun kepercayaan diantara mereka. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa dengan adanya kepercayaan maka menimbulkan suatu jaringan diantara mereka dalam kehidupannya dan mendatangkan nilai positif untuk kehidupan mereka masing-masing.
Dalam satu jaringan tata niaga biasa dijumpai banyaknya pedagang yang terlibat mulai dari pedagang pengumpul tingkat desa, pedagang pengumpul tingkat kecamatan, kemudian ke pedagang pengumpul yang lebih tinggi lagi sampai akhirnya ke pedagang antar daerah, antar pulau atau eksportir. Pada daerah pemasaran, barang akan berpindah-pindah tangan lagi dari pedagang antar wilayah atau pulau kemudian ke pedagang grosir dan selanjutnya ke pedagang eceran.
Sebagian pedagang mendatangkan barang dagangannya dari pemasok diluar daerah pemasaran contohnya pada pedagang ikan, mereka mendatangkan ikan-ikan dari luar daerah yang terkenal dengan hasil lautnya, berhubung karena daerah pemasaran ini terletak agak jauh dari desa nelayan, sehingga memaksa mereka mendatangkan ikan-ikan segar dari daerah lain. Hal ini dapat dibuktikan dari kutipan wawancara kepada pedagang ikan berikut ini:
“…..aku ngambil ikan-ikan ini diluar kota, kadang di batubara, belawan, kisaran sama tanjung balai, tergantunglah mana yang kualitasnya bagus dan harganya miring, tapi paling sering aku ngmbil di tanjung balai karena dari dulu aku pesan ikan disana,jadi uda tau sama tau lah ikan kayak mana yang ku mau…..”
(wawancara, april 2012)
Dari kutipan wawancara diatas, dapat dilihat bahwa pedagang-pedagang ikan memilih untuk mendatangkan ikan-ikan yang segar dari pemasok yang sudah
mengetahui ikan apa-apa saja yang diinginkan oleh pedagang, karena intensitas waktu yang terjalin cukup lama kepada si pemasok, sehingga mereka sudah saling memahami satu sama lain. Keadaan ini sangat membantu pedagang dan pemasok untuk meningkatkan kegiatan perekonomiannya dan menciptakan hubungan kekeluargaan karena telah terjalin rasa saling percaya diantara kedua belah pihak. Keadaan ini dapat dikuatkan lagi dengan hasil kutipan wawancara kepada pedagang sayuran sebagai berikut:
“…..saya mengambil sayur dari tanah karo langsung, kalaupun bukan saya yang mengambil kesana, mereka bias mengantarkan sayuran yang saya pesan langsung ke pajak ini, nanti kalau sudah mau sampai saya dikabarin melalui telepon, bahwasanya sayur-sayurnya udah mau sampai dan saya langsung menelpon orang yang biasa mengurusin sayuran-sayuran saya yang dating dan memasukannya kedalam gudang…..”
(wawancara,april 2012)
Adanya orang-orang yang terlibat didalam aktivitas perdagangan sangat membantu para aktor perdagangan didalam mendapatkan hasil yang lebih baik, tepat guna dan tepat waktu. Dengan mempekerjakan orang-orang yang mereka percayai untuk membantu mereka dalam kegiatannya sehingga memperoleh hasil yang lebih maksimal.