BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
III.2. Evaluasi dan Analisis Capaian Kinerja Sasaran Strategis
Dalam sub bab ini akan disajikan pencapaian sasaran strategis Biro Tata Pemerintahan Setda DIY yang dicerminkan dalam capaian Indikator Kinerja. Adapun evaluasi dan analisis secara rinci indikator kinerja menurut sasaran stategis diuraikan sebagai berikut:
III.2.1. Meningkatkan tertib administrasi dalam penyelenggaraan urusan kependudukan dan catatan sipil
Tolok ukur capaian sasaran ini terdiri dari 1 (satu) indikator yaitu indikator Persentase Penduduk yang ber-KTP (NIK) dengan Formulasi Penghitungan: Jumlah penduduk ber KTP dibagi jumlah penduduk wajib KTP kali 100%; Tipe Penghitungan; Kumulatif Sumber Data: Laporan pelaksanaan program kegiatan yang berkaitan dengan pendataan penduduk.
Tabel III.3 Target dan Realisasi Kinerja
No Indikator Capaian 2015 2016 Target Akhir Renstra (2017) Capaian s/d 2016 terhadap 2017 (%) Target Realisasi % Realisasi* 1 2 3 4 5 6 7 8 1. Persentase penduduk yang ber-KTP (NIK) 92,23% 96,5% 97,17% 100,70 97% 100,17
Sumber: E-Sakip , monevapbd.jogjaprov.go.id
Capaian persentase penduduk yang ber-KTP (NIK) di DIY tidak lepas dari fungsi koordinasi, pembinaan dan pengawasan terhadap Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten/Kota.
Jumlah wajib KTP 2015 sebanyak 2.797.149 orang dengan angka yang sudah perekaman sebanyak 2.569.245 orang dengan capaian indikator 92,23%. Sedangkan pada tahun 2016, jumlah wajib KTP sebanyak
2.717.385 orang dengan angka perekaman 2.640.612 orang atau dengan capaian indikator 97,17%. Dilihat dari jumlah wajib KTP mengalami penurunan sebanyak 79.764 orang. Sedangkan jumlah penduduk DIY yang telah melakukan perekaman KTP-el dari tahun 2015 ke tahun 2016 mengalami kenaikan sebanyak 71.367 orang. Dilihat dari kenaikan jumlah kepemilikan KTP-el ini bisa dikatakan bahwa kesadaran penduduk akan pentingnya memiliki KTP-el semakin meningkat, karena banyak hal dalam pelayanan publik yang mensyaratkan kepemilikan KTP-el.
Bila dinilai secara persentase, capaian persentase penduduk yang ber-KTP (NIK) pada tahun 2016 lebih tinggi 4,94% dari tahun 2015. Hal ini terjadi karena jumlah penduduk sangat bersifat dinamis dari tahun ke tahun, misalnya karena ada penduduk yang pindah atau datang.
Diagram 2. Perbandingan Kepemilikan KTP
Di tahun 2016 pencapaiannya sampai pada persentase sebesar 100,17% yaitu dari target RPJMD sebesar 97%. Di tahun ini capaian kinerja fisik 100% dengan realisasi 97,17% dari target yang ditetapkan sebesar 96,5% dengan realisasi anggaran sebesar Rp. 485,622,963,00. (98,74%). Secara rinci disampaikan, jumlah penduduk wajib KTP di DIY tahun 2016 berdasarkan database SIAK (sistem informasi administrasi kependudukan) pelayanan di kabupaten/kota adalah 2.717.385 orang. Dari jumlah tersebut, 97,17%. atau sebanyak 2.640.612 orang telah perekaman biometrik dan tercatat di database KTP-el. Bila dipilah per kabupaten/ kota, Kabupaten Bantul menempati posisi tertinggi dalam angka perekaman bometrik dan kepemilikan KTP-el, yaitu 98,17%,
2450000 2500000 2550000 2600000 2650000 2700000 2750000 2800000 2015 2016 Jumlah Wajib KTP Jumlah Kepemilikan KTP
diikuti Kabupaten Gunungkidul 97,15%, Kabupaten Sleman 96,98%, Kota Yogyakarta 96,43%, dan terendah Kabupaten Kulon Progo 96,33%. Meski angka perekaman dan kepemilikan KTP-el di DIY telah melampaui target RPJMD, masih ada penduduk wajib KTP yang belum melakukan perekaman biometrik sebanyak 76.773 orang atau 2,83% dari total wajib KTP. Umumnya mereka belum perekaman karena alasan tinggal sementara di luar DIY, bekerja di luar negeri, dan/atau telah pindah domisili tetapi belum melapor ke Dinas Dukcapil.
Dinas Dukcapil kabupaten/kota telah berupaya mendorong penduduk wajib KTP agar segera mengurus KTP-el melalui penyederhanan prosedur pelayanan. Sekarang penduduk yang akan perekaman biometrik cukup datang ke kecamatan/dinas dengan membawa fotokopi kartu keluarga dan/atau KTP lama. Bahkan untuk merekamkan biometrik dan mencetak KTP, bisa dilakukan di Dinas Dukcapil kabupaten/kota mana pun.
Permasalahan dan Solusi A) Permasalahan
- Keterbatasan blangko KTP-el di daerah menyebabkan sebagian penduduk belum dapat menerima fisik KTP-el. Bahkan sejak Oktober 2016 sampai laporan ini dibuat, Dinas Dukcapil belum melayani pencetakan KTP-el lagi karena penerimaan distribusi blangko dari Ditjen Dukcapil berhenti sementara waktu sampai stok di Pusat tersedia lagi. Jika kondisi tersebut berlangsung lama atau sering terulang, dikhawatirkan akan menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap Dinas Dukcapil sekaligus berimplikasi terhadap penurunan animo penduduk untuk merekamkan biometriknya.
- Pemerintah melalui instansi pelaksana adminduk telah berupaya memangkas dan menyederhanakan prosedur untuk beberapa pelayanan penerbitan dokumen kependudukan seperti KTP-el, kartu keluarga, dan akta kelahiran. Namun di lapangan, masih dijumpai petugas pelaksana yang belum melaksanakan kebijakan prosedur baru sehingga menghambat penduduk untuk memperoleh dokumen secara cepat dan mudah.
- Meski angka cakupan akta kelahiran anak di DIY pada 2016 telah melampaui target yang ditetapkan Pusat, masih ada satu kabupaten, yakni Sleman, yang angkanya jauh di bawah target minimal nasional. Kondisi ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten tetapi perlu adanya fasilitasi secara langsung dari pemerintah provinsi sehingga pada tahun depan seluruh kabupaten/kota se-DIY, khususnya Sleman, dapat memenuhi target nasional.
B) Solusi
- Penyediaan blangko KTP-el untuk seluruh kebutuhan pencetakan KTP-el di daerah menjadi tanggung jawab penuh Ditjen Dukcapil. Namun pemerintah daerah perlu untuk terus mendorong Pusat agar kekurangan blangko dapat segera teratasi dan ke depan manajemen pengadaan maupun pendistribusian blangko semakin baik. Dalam rangka mengatasi keterbatasan blangko, Dinas Dukcapil menerbitkan Surat Keterangan Pengganti KTP-el bagi penduduk yang telah perekaman biometrik namun belum memperoleh KTP-el. Meski fungsi Surat Keterangan ini sama seperti KTP-el, yakni digunakan untuk mengurus pelayanan publik, sering dijumpai instansi/lembaga penyedia layanan publik yang tidak bersedia menerima keberadaan Surat Keterangan Penganti KTP-el. Terkait hal itu, Dinas Dukcapil dan instansi pelaksana adminduk di provinsi perlu memberikan pemahaman yang tepat kepada instansi/lembaga lain agar penduduk tidak dirugikan selama KTP-el belum dapat dicetak.
- Setiap kebijakan baru harus ditindaklanjuti secara cepat dengan sosialisasi dan/ atau bimbingan teknis kepada petugas pelaksana. Sebab petugas pelaksana adminduk tersebar di desa/kelurahan, kecamatan, dan dinas dengan peran berbeda-beda namun saling memengaruhi kualitas pelayanan. Maka pimpinan Dinas Dukcapil hendaknya dapat membangun komunikasi yang baik dan efektif dengan seluruh jajaran petugas pelaksana di berbagai tingkatan agar setiap perubahan kebijakan pelayanan adminduk diimplementasikan seragam dan konsisten.
- Dalam meningkatkan angka cakupan akta kelahiran anak, ada beberapa kebijakan yang dapat diterapkan oleh instansi pelaksana adminduk, antara lain konversi database kelahiran non-SIAK ke database SIAK; kerja sama
dengan puskesmas, bidan, dan rumah sakit dalam rangka percepatan penerbitan akta kelahiran; mewajibkan penduduk datang untuk melampirkan akta kelahiran; membebaskan sanksi denda keterlambatan pengurusan akta kelahiran bagi penduduk dari keluarga miskin; dan pendataan penduduk secara berkala. Pada tahun anggaran 2017, Dinas Dukcapil Sleman dan Biro Tata Pemerintahan Setda DIY telah membangun komitmen bersama untuk mengoptimalkan berbagai solusi berupa terobosan kebijakan yang dapat mendongkrak angka cakupan akta kelahiran anak.
Meskipun masih banyak dijumpai permasalahan dalam pencapaian indikatornya, tetapi sampai dengan akhir tahun 2016, dapat disimpulkan bahwa pencapaian target indikator “Persentase penduduk yang ber-KTP (NIK)” berhasil dan bahkan melampaui target yang telah ditetapkan sebesar 0,67%.
III.2.2. Meningkatnya tertib administrasi penyelenggaraan urusan pemerintahan umum dan otonomi daerah
Tolok ukur capaian sasaran ini terdiri dari 1 (satu) indikator yaitu indikator Persentase dinamika penyelenggaraan pemerintahan dan otonomi daerah yang direspon dengan kebijakan dengan target 70%. Dengan Formulasi Perhitungan: Jumlah dinamika penyelenggaraan otonomi daerah dan pemerintahan umum yang direspon dengan kebijakan (Perda, Pergub, SE) tahun berjalan dibagi jumlah dinamika penyelenggaraan otonomi daerah dan pemerintahan umum yang sudah teridentifikasi (200 kebijakan) dikali 100%
Tabel III.4 Target dan Realisasi Kinerja
No Indikator Capaian 2015 2016 Target Akhir Renstra (2017) Capaian s/d 2016 terhadap 2017 (%) Target Realisasi % Realisasi* 1 2 3 4 5 6 7 8 1. Persentase dinamika penyelenggaraan pemerintahan dan otonomi daerah yang direspon dengan kebijakan n/a 70% 70,5% 100,71 80% 88,13
Capaian kinerja dari indikator Persentase dinamika penyelenggaraan pemerintahan dan otonomi daerah yang direspon dengan kebijakan ini sampai dengan akhir tahun 2016 ini dihasilkan sebanyak 141 kebijakan yang dihasilkan Biro Tata Pemerintahan Setda DIY untuk menyikapi adanya dinamika dalam penyelenggaraan pemerintahan dan otonomi daerah. Sehingga apabila diformulasikan ke rumus indikator di atas, 141 kebijakan dibagi 200 dikali 100% dan dihasilkan angka capaian 70,5% melebihi 0,5% dari angka yang ditargetkan (70%). Indikator ini merupakan tahun pertama pelaksanaannya, karena di tahun 2015 lalu, indikator yang digunakan yaitu “Persentase rumusan bahan kebijakan pemerintahan” dengan target tahunan 100%.
A) Permasalahan
1. Peraturan Pelaksanaan urusan pemerintahan konkuren dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sampai sekarang belum ditetapkan.
2. Belum ada kebijakan alokasi pendanaan terhadap hasil pengalihan P3D dari Kabupaten/Kota dan Provinsi ke Pemerintah Pusat untuk anggaran tahun 2017 oleh pusat.
3. Tidak sinkronnya regulasi/ kebijakan sektoral dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014.
4. Tidak sinkronnya kebijakan yang dikeluarkan antara Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. 5. Masih adanya aparat desa yang tidak menguasai lokasi batas daerah,
sehingga menyulitkan penentuan titik batas daerah di lapangan;
A) Solusi
1. Konsultasi ke Pusat terkait kebijakan implementasi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan mengacu pada peraturan perundangan sebelumnya dan kebijakan sektoral yang tidak bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014.
2. Pendanaan personil dan operasional hasil daripengalihan P3D dari Kabupaten/Kota dan Provinsi ke Pemerintah Pusat agar dianggarkan oleh pemda sampai ada kebijakan dari pusat sesuai Surat Kawat Mendagri Nomor 903/5001/SJ 5 Januari 2017.
3. Melakukan konsultasi ke Kemendagri dan Kementerian Sektoral serta koordinasi dengan pemerintah Kabupaten/Kota untuk penyamaan persepsi terhadap implementasi Undang-Undang 23 Tahun 2014 .
4. Konsultasi ke Kemendagri dan Kementerian Desa dan PDT serta koordinasi dengan pemerintah Kabupaten untuk penyamaan persepsi terhadap permasalahan pemerintahan desa.
5. Menghimbau kepada aparatur desa untuk membawa peta desa ke lapangan dan sebelumnya bertanya terlebih dahulu pada masyarakat setempat atau pemilik tanah yang berada di sekitar titik batas yang hendak dicari;
6. Menggunakan teknologi citra resolusi tinggi (misalnya Google Earth) yang diberikan asosiasi berupa balai desa atau fasilitas umum dan tempat ibadah yang dekat dengan titik batas daerah, sehingga memudahkan aparatur desa untuk memahami kondisi eksisting.
Faktor penghambat dalam capaian indikator ini diantaranya adanya ketergantungan yang sangat tinggi dengan pihak lain (secara umum terhadap Pemerintah Pusat). Mengenai keterkaitan jadwal/agenda Pemerintah Pusat, keterkaitan dengan pemerintah kabupaten/kota dan pihak-pihak lain yang terkait, yang tidak bisa diprediksi pada saat perencanaannya. Meskipun terdapat beberapa permasalahan yang bersifat menghambat kelancaran pencapaian target kinerja, tetapi secara keseluruhan Indikator “Persentase dinamika penyelenggaraan pemerintahan dan otonomi daerah yang direspon dengan kebijakan” capaiannya melebihi 0,5% dari target dan dapat disimpulkan berhasil.