• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA 23

3.2 Evaluasi dan Analisis Kinerja

1 2 3 4 5 6 keuangankabupat en / kota 11. Persentase Raperda/Raperkada Kab./Kota tentang Perubahan APBD yang dievaluasi tepat waktu

100 % 100% 100

12. Persentase

Raperda/Raperkada Kab./Kota tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD yang dievaluasi tepat waktu

100 % 97% 97

3.2. EVALUASI DAN ANALISIS KINERJA

Evaluasi kinerja dilakukan terhadap pencapaian setiap indikator kinerja kegiatan untuk memberikan penjelasan lebih lanjut tentang hal-hal yang mendukung keberhasilan atau kegagalan dalam pelaksanaan suatu program kegiatan dengan membandingkan capaian indikator kinerja utama pada Tahun 2016 dengan tahun sebelumnya. Evaluasi bertujuan untuk mengetahui pencapaian realisasi, kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam rangka pencapaian misi agar dapat diperbaiki guna mencapai hasil yang lebih baik di masa yang akan datang. Adapun hasil evaluasi kinerja dari Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Tahun 2016, dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. TUJUAN 1 : OPTIMALISASI PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH

SASARAN STRATEGIS 1 : MENINGKATNYA KUALITAS PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR

Untuk mengetahui tingkat keberhasilan sasaran strategis ini, dapat diukur melalui 9 (sembilan) indikator kinerja yang didukung oleh 1 (satu) program, yaitu Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah.

Indikator Kinerja Utama (IKU), target dan realisasinya disajikan sebagai berikut :

1. Ketepatan Waktu Penyusunan Rancangan APBD dan RPAPBD Provinsi Jawa Timur

Tabel 3.2 IKU Ketepatan Waktu Penyusunan Rancangan APBD dan RPAPBD Provinsi Jawa Timur

Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian (%)

Ketepatan waktu penyusunan RAPBD dan RPAPBD Provinsi Jawa Timur

Tepat waktu

Tepat waktu

100

Sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman pengelolaan keuangan daerah yang telah diubah kedua kalinya dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011, pemerintah daerah sebelum menyusun APBD, wajib menyusun Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) yang merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan mendasarkan pada usulan SKPD untuk jangka waktu 1 (satu) tahun. Selanjutnya, dengan mendasari dokumen perencanaan tersebut Pemerintah Daerah menyusun Rancangan Kebijakan Umum APBD (KUA) dengan mengacu kepada Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman Penyusunan APBD yang ditetapkan setiap tahun dan RKPD. Rancangan KUA yang telah disusun disampaikan oleh sekretaris daerah selaku koordinator pengelola keuangan daerah kepada Kepala Daerah dan DPRD paling lambat pertengahan bulan Juni tahun anggaran berjalan. Berdasarkan KUA yang telah disepakati, pemerintah daerah menyusun Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) dibahas bersama dengan DPRD untuk selanjutnya disepakati menjadi Prioritas Plafon Anggaran (PPA) paling lambat akhir bulan Juli tahun anggaran berjalan. KUA-PPA yang telah disepakati, dituangkan ke dalam Nota Kesepakatan yang ditandatangani bersama antara Kepala Daerah dengan pimpinan DPRD. Berdasarkan Nota Kesepakatan, Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) menerbitkan Surat Edaran (SE) perihal Pedoman Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) SKPD paling lambat awal bulan Agustus tahun

anggaran berjalan untuk dijadikan dasar penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Selanjutnya, Rancangan Peraturan Daerah tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) disampaikan Gubernur Jawa Timur kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Timur pada tanggal 10 Oktober 2016. Mekanisme dan tahapan tersebut, sesuai dengan Pasal 104 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yang menjelaskan bahwa Kepala Daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang APBD beserta lampirannya kepada DPRD paling lambat minggu pertama bulan Oktober tahun anggaran sebelumnya dari tahun yang direncanakan untuk mendapatkan persetujuan bersama. Berdasarkan kondisi diatas, penyusunan RAPBD Provinsi Jawa Timur Tahun 2017 dikategorikan “Tepat Waktu”.

Berdasarkan ketentuan Bab VIII Pasal 154 sampai dengan Pasal 178 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman pengelolaan keuangan daerah sebagaimana telah diubah kedua kalinya dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011, Perubahan APBD hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun anggaran kecuali dalam keadaan luar biasa. Kepala daerah memformulasikan kembali terhadap hal-hal yang mengakibatkan terjadinya perubahan APBD ke dalam rancangan Kebijakan Umum Perubahan APBD (KUPA) serta PPAS Perubahan APBD dan disepakati bersama DPRD paling lambat minggu kedua bulan Agustus tahun anggaran berjalan. KUPA dan PPA Perubahan APBD yang telah disepakati, masing-masing dituangkan ke dalam nota kesepakatan yang ditandatangani bersama antara Kepala Daerah dengan pimpinan DPRD dalam waktu bersamaan. Berdasarkan Nota Kesepakatan, Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) menerbitkan Surat Edaran kepala daerah perihal Pedoman Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) SKPD dan DPA SKPD paling lambat minggu ketiga bulan Agustus tahun anggaran berjalan. Selanjutnya, RKPA yang telah disusun dijadikan dasar penyusunan rancangan peraturan daerah tentang

Perubahan APBD dan disampaikan kepada Kementerian Dalam Negeri untuk dilakukan evaluasi paling lambat 15 hari kerja dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri tentang Hasil Evaluasi Perubahan APBD.

Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (PAPBD) disampaikan Gubernur Jawa Timur kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Timur pada tanggal 08 Agustus 2016. Hal tersebut, sesuai dengan Pasal 172 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yang menjelaskan bahwa Kepala Daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD beserta lampirannya kepada DPRD paling lambat minggu kedua bulan September tahun anggaran berjalan untuk mendapatkan persetujuan bersama. Berdasarkan kondisi diatas, penyusunan Raperda PAPBD Provinsi Jawa Timur Tahun 2016 dikategorikan “Tepat Waktu”.

Upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka penyusunan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan Perubahan APBD yang tepat waktu antara lain :

 Klarifikasi Data Prediksi Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk Penyusunan Rancangan Perubahan APBD Tahun Anggaran 2016 dan Rancangan APBD Tahun Anggaran 2017 ;

 Rapat Perhitungan Kembali Gaji dan Tunjangan serta TPP untuk PAPBD Tahun Anggaran 2016 ;

 Perhitungan Kebutuhan Anggaran Belanja Tidak Langsung dan Belanja SKPD dan Anggaran Pembiayaan untuk Persiapan Penyusunan Rancangan KUA-PPAS Perubahan APBD TA. 2016 Terkait Anggaran ;  Penyusunan Bahan Rapat Kebijakan Efisien Anggaran oleh Tim

Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Provinsi Jawa Timur Bersama SKPD terkait Persiapan Penyusunan Rancangan Perubahan APBD TA. 2016.

2. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah

Tabel 3.3 IKU Rasio Kemandirian Keuangan Daerah

Indikator Kinerja Target Realisasi* Capaian

(%) Rasio Kemandirian Keuangan Daerah 310% 176% 57

*) Data Un Audited

Kemandirian keuangan daerah (otonomi fiskal) mengindikasikan kemampuan Pemerintah Daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan daerah. Kemandirian daerah ditunjukkan oleh besar kecilnya Rasio Kemandirian yang menggambarkan ketergantungan daerah terhadap sumber dana eksternal. Rasio ini ditunjukan oleh besar kecilnya pendapatan asli daerah (PAD) dibandingkan dengan pendapatan daerah yang berasal dari sumber lainnya misalnya bantuan pemerintah pusat (transfer pusat) maupun dari pinjaman. Semakin tinggi rasio kemandirian daerah, tingkat ketergantungan terhadap bantuan pihak eksternal semakin rendah, dan sebaliknya.

Rasio Kemandirian Daerah = Pendapatan Asli Daerah

x 100

(Dana Perimbangan + Pinjaman Daerah)

Untuk menilai tinggi rendahnya rasio kemandirian pemerintah daerah, bisa mengacu pada Kepmendagri No.690.900.327 tahun 1996, sebagai berikut :

Tabel 3.4

Kriteria Tingkat Kemandirian dan Kemampuan Keuangan Daerah

Kemampuan Keuangan Kemandirian (%) Pola Hubungan

Rendah sekali Rendah Sedang Tinggi 0 – 25 > 25 – 50 > 50 – 75 > 75 Instruktif Konsultatif Partisipatif Delegatif

Sumber : Kepmendagri No. 690.900.327 /1996

Rasio kemandirian keuangan daerah pada Tahun 2016 adalah sebesar 176 persen dari target 310 persen atau realisasi capaian 57%. Hal

ini, dikarenakan adanya Surat Edaran (SE) Menteri Dalam Negeri Nomor 905/501/SJ tentang Petunjuk Teknis Penganggaran Dana Alokasi Khusus Non Fisik Pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2016, bahwa terdapat perubahan postur transfer dana perimbangan ke daerah dalam rangka mendanai pelaksanaan desentralisasi. Semula dana perimbangan terdiri dari Dana Bagi Hsil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) menjadi DBH, DAU, DAK Fisik dan DAK Non Fisik. DAK Non Fisik antara terdiri dari :

1. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS); 2. Dana Tunjangan Profesi Guru PNS Daerah;

3. Dana Tambahan Penghasilan Guru PNS Daerah, dll.

Mengakibatkan besarnya anggaran dana perimbangan sehingga realisasi rasio kemandirian lebih rendah dari target yang ditetapkan.

Penerimaan Pendapatan Asli Daerah sebesar Rp.15.900.698.660.057,20, diperoleh dari :

a. Pajak daerah, sebesar Rp.12.772.227.117.584,90 b. Retribusi daerah, sebesar Rp.133.587.973.919,68

c. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, sebesar Rp.364.325.988.476,00

d. Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah, sebesar Rp.2.630.557.580.076,68

Penerimaan Dana Perimbangan sebesar Rp.9.039.003.358.881,00, diperoleh dari :

a. Dana bagi hasil pajak/bagi hasil bukan pajak sebesar Rp.1.849.884.362.367,00

b. Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp.1.672.878.372.000,00 c. Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp.5.516.240.624.514,00

Rasio kemandirian menunjukkan tren yang selalu meningkat, dimana pada Tahun 2014 sebesar 414 persen dan Tahun 2015 sebesar 494 persen. Pada tahun 2016 mengalami penurunan disebabkan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan ditindaklanjuti

dengan keluarnya Surat Edara (SE) Menteri Dalam Negeri Nomor 905/501/SJ tentang Petunjuk Teknis Penganggaran Dana Alokasi Khusus Non Fisik Pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2016, sehingga dana perimbangan mengalami kenaikan sebesar Rp.5.923.384.240.729 atau 190 persen.

3. Toleransi deviasi penyerapan keuangan

Tabel 3.5 IKU Toleransi deviasi penyerapan keuangan

Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian

(%) Toleransi deviasi penyerapan

keuangan sesuai target

4,9% 3,1% 163

Toleransi deviasi penyerapan keuangan Tahun 2016 sebesar 3,1 persen dari target 4,9 persen atau mencapai 163 persen. Hal ini,

disebabkan karena realisasi belanja daerah sebesar

Rp.23.874.751.773.851,10 atau lebih kecil bila dibandingkan dengan anggaran belanja daerah sebesar Rp.24.616.511.471.689,00 sehingga terdapat selisih anggaran belanja yang tidak terealisasi sebesar Rp.741.759.697.837,90 atau 3,1 persen.

Pada grafik dibawah, nampak bahwa tren toleransi deviasi selalu naik. Tren ini menunjukkan bahwa realisasi beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) masih dibawah batas toleransi. Sedangkan pada tahun 2016 mengalami penurunan, yang artinya realisasi SKPD sudah diatas target toleransi. Kondisi ini, antara lain disebabkan sudah banyak SKPD yang mempedomani jadwal pelaksanaan program kegiatan yang telah direncanakan sehingga di Triwulan IV atau menjelang tahun anggaran berakhir dapat direalisasaikan sebelum batas waktu pencairan akhir tahun serta menyelesaikan dokumen dan kelengkapan persyaratan administrasi tepat waktu.

Grafik 1. Tren toleransi deviasi penyerapan keuangan

4. Persentase SKPD dengan realisasi diatas 95%

Tabel 3.6 IKU Persentase SKPD dengan realisasi diatas 95%

Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian

(%) Persentase SKPD dengan realisasi

diatas 95%

24% 54% 225

Persentase SKPD dengan realisasi belanja daerahnya diatas 95% Tahun Anggaran 2016 sebesar 54 persen dari target 24 persen atau mencapai 225 persen. Jumlah SKPD dengan realisasi diatas 95% Tahun Anggaran 2016 sebanyak 40 SKPD dari 74 SKPD di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Keadaan ini meningkat bila dibandingkan dengan Tahun Anggaran 2015, yaitu sebanyak 23 SKPD atau meningkat 74 persen.

Grafik 2. Tren SKPD dengan realisasi diatas 95%

4,44 5,1 5,2 5,21 3,1 0 1 2 3 4 5 6 2012 2013 2014 2015 2016

Toleransi deviasi penyerapan

Toleransi deviasi penyerapan

54 44 20 23 40 0 10 20 30 40 50 60 2012 2013 2014 2015 2016

SKPD dengan realisasi diatas 95%

Memperhatikan tren realisasi belanja SKPD diatas 95% mulai Tahun Anggaran 2012-2014 terdapat penurunan jumlah SKPD, sedangkan pada tahun 2015-2016 mengalami kenaikan. Hal ini, disebabkan beberapa hal, antara lain :

a. Adanya efisiensi anggaran, yang diperoleh dari selisih lebih hasil lelang pengadaan barang dan jasa. Namun, jumlah tersebut belum diimbangi dengan penyesuaian capaian tingkat realisasi kinerja ;

b. Adanya faktor kehati-hatian dari para pengguna anggaran untuk melakukan realisasi anggaran karena masih adanya perbedaan persepsi antara pelaksana dengan Aparatur Pemeriksa. Hal ini, tentunya secara tidak langsung akan mempengaruhi percepatan realisasi ;

c. Masih kurang cermatnya perencanaan. Hal ini, banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya, lemahnya fungsi koordinasi antara struktural dan fungsional sehingga pelaksanaan kegiatan tidak sesuai dengan jadwal.

Upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka peningkatan SKPD dengan realisasi diatas 95%, antara lain :

 Bintek penatausahaan Bendahara Pengeluaran, Bendahara Penerimaan dan aplikasi penatausahaan keuangan daerah pada SKPD ;

 Sosialisasi sistem prosedur belanja daerah berbasis akrual pada SKPD :  Asistensi realisasi belanja/APBD Provinsi Jawa Timur per triwulan.

5. Persentase SKPD yang menerapkan Accrual Accounting Based Capacity Building

Tabel 3.7 IKU Persentase SKPD yang menerapkan Accrual Accounting Based Capacity Building

Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian

(%) Persentase SKPD yang menerapkan

Accrual Accounting Based Capacity Building

75% 79% 105

Persentase SKPD yang menerapkan accrual accounting based capacity building pada Tahun Anggaran 2016 sebesar 79 persen dari

target 75 persen atau mencapai 105 persen. Jumlah SKPD yang telah menerapkan akuntansi berbasis akrual sebanyak 56 (lima puluh enam) SKPD dari 71 (tujuh puluh satu) SKPD, sementara sisanya masih terdapat permasalahan dalam penerapannya.

Beberapa kendala dalam pelaksanaan akuntansi berbasis akrual antara lain :

a. Masih diperlukan peningkatan pemahaman para pengelola keuangan tentang perubahan dan penerapan kebijakan akuntansi berbasis akrual ;

b. Masih diperlukan penguatan sistem pengendalian intern pada pengelolaan keuangan di tingkat SKPD;

c. Masih diperlukan penyempurnaan terhadap regulasi terkait penerapan kebijakan akuntansi berbasis akrual yang disesuaikan dengan regulasi/perundang-undangan yang berlaku.

Realisasi Tahun 2016 mengalami peningkatan dibandingkan dengan Tahun 2015 sebesar 3% atau ada peningkatan terhadap 2 (dua) SKPD dimana pengelola keuangan khususnya fungsi akuntansi dalam menerapkan akuntansi berbasis akrual.

Upaya yang dilakukan dalam melakukan pembinaan kepada SKPD terhadap penerapan akuntansi berbasis akrual antara lain :

 Rekonsiliasi data jurnal, Laporan Operasional dan Laporan Realisasi Anggaran sesuai dengan pelaksanaan kebijakan akuntansi berbasis akrual;

 Sosialisasi Bagan Akun Standar (BAS), Aplikasi SIBAKU 2016 dan Evaluasi Pelaksanaan Akuntansi Berbasis Akrual Tahun Anggaran 2016;  Pembinaan dan Evaluasi Implementasi Kebijakan Akuntansi berbasis akrual pada SKPD pelaksana PPK BLUD ke RS Kusta Kediri, RSU Karsa Husada Batu dan RS Kusta Sumberglagah Mojokerto.

6. Persentase Laporan Keuangan SKPD sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)

Tabel 3.8 IKU Persentase Laporan Keuangan SKPD sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)

Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian (%) Persentase Laporan Keuangan SKPD

sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)

80% 80% 100

Persentase Laporan Keuangan SKPD sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) pada Tahun Anggaran 2016 sebesar 80 persen dari target 80 persen atau mencapai 100 persen. Penilaian ini, dilihat dari tingkat pemahaman SKPD terhadap standar akuntansi pemerintahan di dalam pelaksanaan prosedur akuntansi.

Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menyatakan secara eksplisit bahwa pemerintah pusat dan daerah wajib menyusun laporan keuangan berbasis akrual. Sebagai tindak lanjut atas pelaksanaan UU No. 17 Tahun 2003, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).

Salah satu persyaratan untuk dapat menerapkan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual, perlu disusun kebijakan akuntansi yang menjadi pedoman bagi fungsi akuntansi di SKPD dan SKPKD untuk menyusun laporan keuangan. Kebijakan akuntansi berbasis akrual ini mengatur penyusunan laporan keuangan finansial yaitu laporan keuangan yang menggunakan basis akrual dalam pencatatannya dan laporan pelaksanaan anggaran berbasis kas. Perbedaan antara penggunaan basis kas dan basis akrual difasilitasi dengan pembuatan bagan akun standar yang membedakan antara akun finansial untuk menyusun Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas dan Neraca serta bagan akun pelaksanaan anggaran untuk menyusun Laporan Realisasi Anggaran dan Laporan Arus Kas. Jenis Laporan Pelaksanaan Anggaran adalah Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dan Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL). Sedangkan Laporan Finansial terdiri dari Laporan Operasional, Laporan Finansial terdiri dari Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca dan Laporan Arus Kas.

Pada Tahun 2016 masih ada beberapa SKPD yang melakukan tindakan kesalahan dalam penyajian akun/pos sehingga mempengaruhi laporan keuangan periode berjalan atau periode sebelumnya.

Beberapa penyebab terjadinya kesalahan, antara lain karena keterlambatan penyampaian bukti transaksi oleh pengguna anggaran, kesalahan hitung, kesalahan penerapan standar dan akuntansi, kelalaian dan lain-lain yang ditemukan diperiode yang sama saat kesalahan dibuat dan pada periode di masa depan.

Upaya yang dilakukan dalam melakukan pembinaan terhadap penyusunan laporan keuangan SKPD sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan, antara lain :

 Penyelenggaraan Helpdesk Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2016 ;

 Rekonsiliasi piutang dan penyisihan piutang Pemprov Jatim;

 finalisasi penyusunan laporan keuangan pemerintah provinsi jawa timur tahun 2016 dan konsolidasi laporan keuangan skpd Tahun 2016.

7. Persentase tanah milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang bersertifikat

Tabel 3.9 IKU Persentase tanah milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang bersertifikat

Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian

(%) Persentase tanah milik Pemerintah

Provinsi Jawa Timur yang bersertifikat

20,68% 20,9% 101

Persentase tanah milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang bersertifikat pada Tahun Anggaran 2016 sebesar 20,9 persen dari target 20,68 persen atau mencapai 101 persen. Luas tanah yang bersertifikat sampai dengan Tahun Anggaran 2016 seluas 17.770.275 m2 dari total tanah milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur seluas 85.060.013 m2, sehingga masih terdapat selisih seluas 67.289.738 m2, yang secara bertahap setelah dokumen persyaratannya lengkap akan dilakukan

percepatan sertifikasi. Permasalahan di lapangan yang sering dihadapi, antara lain disebabkan karena :

 Sertifikasi aset tetap tanah di Badan Pertanahan Nasional (BPN) tidak dapat dipastikan jangka waktu penyelesaiannya (satu tahun anggaran), karena proses pengajuan sertifikasi harus clean dan clear sehingga memerlukan waktu dan beberapa tahapan, antara lain harus melakukan klarifikasi dengan tetangga kiri, kanan, depan serta belakang untuk memastikan tapal batas dan mengetahui proses perolehan agar tidak menimbulkan kerugian kedua belah pihak dan permasalahan di kemudian hari;

 Proses pengukuran aset tetap tanah yang akan disertifikatkan dapat dihentikan oleh BPN, apabila masih terdapat permasalahan dan/atau ada pihak-pihak yang tidak setuju (complaint) dan akan dilanjutkan kembali setelah permasalahan telah diselesaikan, dengan mengacu jadwal waktu pengukuran mengacu dari BPN.

Upaya yang dilakukan dalam mempercepat proses sertifikasi, antara lain :  Pengukuran & Pemetaan Bidang Tanah, Pelayanan Pemeriksaan Tanah;  Pendaftaran Keputusan Pemberian Hak Atas Tanah Desa/Kelurahan;  Koordinasi/Klaririfikasi dan menindaklanjuti proses sertifikasi Aset

Provinsi Jawa Timur;

 Melakukan kerjasama dengan BPN di seluruh Jawa Timur;

 Lebih aktif dan intens berkomunikasi dengan para pihak (SKPD, pemilik lahan/tanah).

8. Persentase Aset Tetap Tanah dan Bangunan yang digunakan dan dimanfaatkan

Tabel 3.10 IKU Persentase Aset Tetap Tanah dan Bangunan yang digunakan dan dimanfaatkan

Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian

(%) Persentase Aset Tetap Tanah dan

Bangunan yang digunakan dan dimanfaatkan

Persentase aset tetap tanah dan bangunan yang digunakan dan dimanfaatkan Tahun Anggaran 2016 untuk sewa tanah dan bangunan serta pinjam pakai untuk instansi lain sebesar 98,71 persen dari target 98,87 persen atau mencapai 99 persen. Secara keseluruhan jumlah aset tetap tanah dan bangunan yang digunakan dan dimanfaatkan sebanyak 13.030 bidang dari total jumlah aset tetap tanah dan bangunan sebanyak 13.200 bidang atau 98,71 persen.

Optimalisasi pemanfaatan aset daerah merupakan optimalisasi terhadap penggunaan aset disamping meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat juga menghasilkan pendapatan dalam bentuk uang. Pemanfaatan disebut sebagai pendayagunaan barang milik daerah yang tidak dipergunakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi SKPD, dapat berupa sewa, pinjam pakai, Kerjasama Pemanfaatan (KSP), Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna dengan tidak mengubah status kepemilikan.

Sewa adalah pemanfaatan barang milik daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dengan menerima imbalan uang tunai. Penyewaan merupakan penyerahan hak penggunaan/ pemanfaatan kepada Pihak Ketiga, dalam hubungan sewa menyewa tersebut harus memberikan imbalan berupa uang sewa tahunan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun, baik sekaligus maupun secara berkala.

Pinjam pakai merupakan penyerahan penggunaan Barang Milik Daerah dengan tidak merubah status kepemilikan barang daerah kepada instansi pemerintah dan antar pemerintah daerah serta untuk kepentingan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang ditetapkan dengan Surat Perjanjian untuk jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun, tanpa menerima imbalan dan setelah jangka waktu tersebut berakhir, Barang Milik Daerah tersebut diserahkan kembali kepada Pemerintah Daerah.

9. Persentase sertifikasi kompetensi pengelola keuangan daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur

Tabel 3.11 IKU Persentase sertifikasi kompetensi pengelola keuangan daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur

Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian (%) Persentase sertifikasi kompetensi

pengelola keuangan daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur

40% 54,7% 137

Persentase sertifikasi kompetensi pengelola keuangan daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada Tahun Anggaran 2016 sebesar 54,7 persen dari target 40 persen atau mencapai 137 persen. Jumlah pengelola keuangan yang telah mengikuti bimbingan teknis pengelolaan keuangan dan aset daerah sebanyak 637 orang dari 1.162 orang pengelola keuangan. Terlampauinya Persentase Sertifikasi Kompetensi pengelola keuangan daerah dikarenakan antusiasme SKPD di lingkungan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kab/Kota mengajukan usulan permintaan pelatihan bagi para pengelola keuangan agar lebih paham terhadap Pengelolaan Keuangan Daerah.

Meskipun telah melampaui target, ada beberapa kendala yang dihadapi dalam menyelenggarakan bimbingan teknis tentang pengelolaan keuangan dan aset daerah, diantaranya :

 Beberapa SKPD kurang tertib, disiplin dan responsif dalam menyampaikan usulan peserta pelatihan, seringkali baru disampaikan ketika pelaksanaan pelatihan sedang berlangsung, sehingga penggantian peserta tidak memungkinkan untuk dilakukan oleh SKPD pengirim;

 Beberapa kali jadwal pelaksanaan kegiatan di UPT LPKD bersamaan dengan bidang-bidang dan bahkan dengan peserta yang sama.

Upaya yang dilakukan dalam rangka peningkatan sertifikasi kompetensi pengelola keuangan daerah, antara lain :

 Forum Group Discussion (FGD) Penerapan dan Persiapan Penyusunan Dokumen Pembentukan Lembaga Sertifikasi profesi (LSP);

 Konsultasi terkait upgrade Modul Pengelolaan daerah ke Penelitian dan Pelatihan Ekonomika dan Bisnis ( P2 EB- FEB ) UGM;

 Tindak Lanjut penawaran kerjasama in house training Keuangan daerah di UPT LPKD oleh P2EB UGM Di Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Dokumen terkait