• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI DAN DOKUMENTASI

Dalam dokumen Modul terapi (1) (Halaman 121-129)

SESI II : Persiapan Kognitif : Memahami rentang dari perasaan senang sampai marah yang dirasakan ( Termometer Perasaan)

F. EVALUASI DAN DOKUMENTASI

Evaluasi ketepatan waktu pelaksanaan terapi khususnya tahap kerja, keaktifan klien, keterlibatan klien dan proses pelaksanaan secara keseluruhan.

Format Evaluasi

Sesi II REBT : Persiapan kognitif : Memahami perasaan yang timbul dalam rentang senang sampai marah

Klien : Tanggal :

No Kegiatan

KLIEN

Ya Tidak

1 Menyepakati kontrak kegiatan

2 Mampu membuat thermometer perasaan sendiri

3 Mampu mengungkapkan manfaat atau kegunaan thermometer perasaan

4 Aktif dalam diskusi

Keterangan :

Isilah Ya = jika klienmelakukan, Tidak = jika klien tidak melakukan.

SESI III : Persiapan Kognitif : Fakta Lawan Opini A. Tujuan SESI III : Klien mampu :

1. Melihat kejadian atau peristiwa berdasarkan fakta atau opini

2. Membedakan fakta dan opini dari kejadian atau peristiwa yang dialami klien B. Setting

Klien duduk di ruangan dengan terapis dalam suasana yang tenang dan nyaman C. Alat

Alat tulis, modul, buku kerja klien dan buku evaluasi klien D. Metode

Diskusi, curah pendapat dan tanya jawab E. Langkah – Langkah

112

Workshop Keperawatan Jiwa ke-IX, Depok. 25 Agustus 2015

Program Studi Ners Spesialis I Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

1. Persiapan

a. Mengingatkan klien minimal 1 hari sebelumnya b. Mempersiapkan diri, tempat dan waktu

2. Tahap Orientasi a. Salam terapeutik :

Salam dari terapis kepada klien.

b. Evaluasi/ Validasi :

1) Menanyakan perasaan klien hari ini

2) Menanyakan apakah ada kejadian atau peristiwa lain yang dialami dan bagaimana perasaan klien terkait dengan kejadian / peristiwa tersebut

3) Menanyakan latihan klien menggunakan Termometer Perasaan untuk kejadian / peristiwa lainnya.

4) Melihat buku kerja klien untuk mengetahui apakah klien sudah menggunakan termometer perasaannya.

5) Memberikan reinforcement positif atas kemampuan klien untuk menggunakan Termometer Perasaan.

c. Kontrak :

1) Menyepakati topik pertemuan pada sesi 3 yaitu membedakan antara fakta dan opini, tujuannya adalah agar klien dapat mengetahui kejadian atau peristiwa yang dialami adalah nyata atau hanya sekedar persepsi atau opini.

2) Lama waktu pertemuan 20-30 menit di ruangan yang dirasa nyaman oleh klien dan terapis.

3) Mengingatkan kembali peraturan terapi yaitu klien diharapkan berpartisipasi dalam diskusi dan mengikuti sesi dari awal sampai akhir.

3. Tahap Kerja

a. Menjelaskan tentang definisi fakta dan opini

1) Fakta adalah sesuatu yang secara aktual ada, sesuatu yang sudah nyata terjadi, sebuah informasi yang secara objektif nyata, dengan kata lain orang dapat melihat sesuatu secara nyata dan setuju kalau itu ada. Fakta merupakan sesuatu yang dapat dibuktikan oleh orang lain. Fakta harus dapat diobservasi atau dilihat dan diukur seperti perilaku yang ditunjukkan oleh individu, konsep tentang tinggi badan, berat badan, dan warna rambut

Contoh : Tn. B mempunyai tinggi badan 170 cm dan berat badan 65 kg. Tn.

B bila marah melempar barang yang ada di dekatnya.

2) Opini adalah suatu pandangan, suatu pernyataan, atau bentuk penilaian dari pikiran terhadap sesuatu hal tertentu, dengan kata lain sama dengan kepercayaan/keyakinan dan perasaan.

Contoh : Tn. A adalah orang yang kurang ramah.

b. Mendiskusikan fakta dan opini dalam kehidupan klien dan menuliskannya di

113

Workshop Keperawatan Jiwa ke-IX, Depok. 25 Agustus 2015

Program Studi Ners Spesialis I Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

buku kerja.

1) Diskusikan satu kejadian atau peristiwa yang dialami klien yang menimbulkan rasa marah.

2) Diskusikan fakta – fakta dari kejadian yang dialami tersebut.

3) Diskusikan opini – opini dari kejadian yang dialami tersebut.

4) Diskusikan perbedaan antara fakta dan opini.

5) Bantu klien untuk mengevaluasi cara berpikir yang biasa dilakukan : lebih banyak fakta atau opini

6) Memberikan reinforcement positif atas kemampuan klien dalam membedakan antara fakta dan opini dari kejadian atau peristiwa yang dialami.

7) Terapis meminta klien untuk menyampaikan manfaat atau kegunaan dari kemampuan membedakan antara fakta dan opini dari kejadian atau peristiwa bagi klien.

c. Klien latihan ulang untuk membedakan fakta dan opini

1) Diskusikan satu kejadian atau peristiwa lain yang dialami klien yang menimbulkan rasa marah.

2) Diskusikan fakta – fakta dari kejadian yang dialami tersebut.

3) Diskusikan opini – opini dari kejadian yang dialami tersebut.

4) Diskusikan perbedaan antara fakta dan opini.

5) Bantu klien untuk mengevaluasi cara berpikir yang biasa dilakukan : lebih banyak fakta atau opini

6) Memberikan reinforcement positif atas kemampuan klien dalam membedakan antara fakta dan opini dari kejadian atau peristiwa yang dialami.

7) Terapis meminta klien untuk menyampaikan manfaat atau kegunaan dari kemampuan membedakan antara fakta dan opini dari kejadian atau peristiwa bagi klien.

4. Tahap Terminasi 1. Evaluasi

a. Menanyakan perasaan klien setelah sesi 3 selesai

b. Menanyakan kembali pada klien tentang perbedaan antara fakta dengan opini.

c. Memberikan umpan balik positif atas kerjasama klien yang baik dan kemampuan klien dalam membedakan fakta dan opini dari kejadian atau peristiwa yang dialami.

2. Tindak lanjut :

a. Menganjurkan klien untuk memperbanyak berpikir berdasarkan fakta dan mengurangi berpikir berdasarkan opini.

114

Workshop Keperawatan Jiwa ke-IX, Depok. 25 Agustus 2015

Program Studi Ners Spesialis I Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

b. Meminta klien untuk menuliskan kejadian atau peristiwa lainnya yang dialami dan membedakannya apakah fakta atau opini di dalam buku kerja.

3. Kontrak :

a. Menyepakati topik sesi 4 yaitu belajar model kognitif ACBs (Rational Self- Analysis).

b. Menyepakati tempat dan waktu untuk pertemuan sesi 4.

F. Evaluasi Dan Dokumentasi

Evaluasi ketepatan waktu pelaksanaan terapi khususnya tahap kerja, keaktifan klien, keterlibatan klien dan proses pelaksanaan secara keseluruhan.

Format Evaluasi

Sesi III REBT : Persiapan kognitif : fakta lawan opini Klien : Tanggal :

No Kegiatan

KLIEN

Ya Tidak

1 Menyepakati kontrak kegiatan

2 Mampu membedakan antara fakta dan opini dalam kehidupannya

3 Mampu menyampaikan manfaat atau kegunaan membedakan fakta dan opini dalam kehidupan .

4 Aktif dalam diskusi

Keterangan :

Isilah Ya = jika klien melakukan, Tidak = jika klien tidak melakukan.

SESI IV : Belajar Model Kognitif ACBs (Rational Self – Analysis) A. Tujuan SESI IV : Klien mampu :

1. Memahami tentang model kognitif ACBs (Rational Self – Analysis)

2. Melakukan Rational Self Analysis dari kejadian atau peristiwa yang dialami.

B. Setting

Klien duduk di ruangan dengan terapis dalam suasana yang tenang dan nyaman C. Alat

Alat tulis, modul, buku kerja klien dan buku evaluasi klien D. Metode

Diskusi, curah pendapat dan tanya jawab E. Langkah – Langkah

1. Persiapan

a. Mengingatkan klien minimal 1 hari sebelumnya

115

Workshop Keperawatan Jiwa ke-IX, Depok. 25 Agustus 2015

Program Studi Ners Spesialis I Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

b. Mempersiapkan diri, tempat dan waktu 2. Tahap Orientasi

a. Salam terapeutik :

Salam dari terapis kepada klien.

b. Evaluasi/ Validasi :

1) Menanyakan perasaan klien hari ini

2) Menanyakan pada klien kejadian atau peristiwa lain yang dialami, bagaimana persaaan klien dan hubungan kejadian atau peristiwa dengan perasaan klien.

3) Menanyakan pada klien tentang latihan termometer persaannya.

4) Menanyakan pada klien apakah klien sudah berlatih berpikir berdasarkan fakta dan mengurangi berpikir berdasarkan opini.

5) Melihat buku kerja klien untuk mengetahui apakah klien sudah mencoba berlatih untuk membedakan antara fakta dengan opini dari kejadian yang ada dalam kehidupannya.

c. Kontrak :

1) Menyepakati topik pertemuan pada sesi 4 yaitu belajar untuk membuat Rational Self Analysis (Analisis Rasional Diri), tujuannya adalah agar klien dapat berpikir secara rasional dalam menghadapi kejadian atau peristiwa dan mengendalikan perasaan sehingga dapat mengontrol perilakunya.

2) Lama waktu pertemuan 20-30 menit di ruangan yang dirasa nyaman oleh klien dan terapis.

3) Mengingatkan kembali peraturan terapi yaitu klien diharapkan berpartisipasi dalam diskusi dan mengikuti sesi dari awal sampai akhir.

3. Tahap Kerja

a. Menjelaskan tentang Model Kognitif ACBs yang dikenal dengan Rational Self Analysis yang terdiri atas :

1) A (Activating Event) : Mengidentifikasi kejadian atau peristiwa yang dialami dan mencari arti kejadian atau peristiwa terhadap klien.

Pertanyaan untuk menggalinya adalah Apakah baru-baru ini terjadi sesuatu yang membuat klien merasa terganggu? Lalu apa artinya kejadian itu bagi klien?

Contoh :

Kejadian : Seorang teman lewat disamping saya namun tidak menyapa saya.

Arti kejadian bagi saya : Dia mengacuhkan saya dan mungkin juga tidak suka dengan saya. Saya tidak diterima sebagai teman

116

Workshop Keperawatan Jiwa ke-IX, Depok. 25 Agustus 2015

Program Studi Ners Spesialis I Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

2) C (Consequence) : Reaksi individu terhadap kejadian atau peristiwa.

Menggali reaksi negatif terhadap kejadian atau peristiwa (A) dari emosi (perasaan) dan perilaku klien. Dengan menanyakan Dengan kejadian seperti itu ….. Bagaimana perasaan klien ? Apa yang dilakukan klien?

Contoh :

Perasaan : Merasa sangat buruk dan marah

Perilaku : Menghindari orang lain dan susah tidur karena sering terbayang-bayang peristiwa tersebut.

3) B (Belief system) : Evaluasi kejadian atau peristiwa (A) berdasarkan nilai yang diyakini atau pemikiran klien. Dengan menanyakan; Apa yang terpikir oleh klien tentang situasi tersebut? Atau Apa yang terpikir oleh klien ketika merasakan hal seperti itu? Apa sebabnya dengan kejadian (A) klien merasa sangat buruk?

Contoh :

a) Menurut saya kalau berteman harus selalu menyapa bila bertemu dimana saja.

b) Saya harus disukai dan dihargai oleh setiap orang yang mengenali saya.

c) Saya selalu merasa sangat buruk dan kesal bila ada teman yang mengacuhkan saya.

4) E (new Effect) : Dampak cara berpikir irrasional (B) terhadap kejadian atau peristiwa yang dialami (A). Dengan menanyakan :

a) Apakah dengan perilaku klien tersebut menyelesaikan masalah? Ya / Tidak

b) Apakah dengan perasaan tersebut membantu klien untuk berpikir jernih? Ya / Tidak

c) Apakah dengan perasaan tersebut membantu klien menghadapi kejadian yang mengganggu tersebut? Ya / Tidak

d) Apakah emosi (perasaan) dan perilaku tersebut membantu klien atau menyakiti klien? Membantu / Menyakiti

Dengan demikian Apakah keyakinan (B) yang klien miliki akan dipertahankan?... Lalu bagaimana seharusnya yang klien rasakan? …. Lalu seharusnya apa yang klien lakukan?...

Contoh :

Sedikit kecewa tetapi tidak merasa sangat buruk dan marah sehingga tidak mengganggu tidur saya.

5) D (Disputing) : Tanggapan rasional untuk menolong menghadapi reaksi terhadap kejadian atau peristiwa (A), dengan menanyakan Apakah dengan berpikir demikian sudah pasti sesuai dengan kenyataan (fakta) atau hanya

117

Workshop Keperawatan Jiwa ke-IX, Depok. 25 Agustus 2015

Program Studi Ners Spesialis I Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

opini?... Lalu apa buktinya selama ini terkait kejadian/peristiwa (A) itu?

Contoh :

a) Sebenarnya tidak ada bukti bahwa saya tidak diterima sebagai teman, namun kalau pun ada itu bukanlah keseluruhan dari diri saya.

b) Biasanya saya diterima baik oleh teman, biasanya teman-teman selalu senyum dan menyapa saya.

c) Sebenarnya tidak ada gunanya saya merasa buruk dan marah, kalaupun dia tidak menerima saya sebagai teman masih banyak teman yang lainnya yang menerima saya.

6) F (Further action) : Apa yang akan dilakukan untuk menghindari berulangnya pikiran irrasional yang sama. Dengan menanyakan Lalu apa yang akan klien lalukan agar tidak terjadi lagi kejadian seperti sebelumnya?

Contoh :

a) Pergi dan lihat teman-teman , cek apakah benar seperti opini saya b) Bila dia tidak menginginkan saya , saya akan cari teman lainnya

c) Lihat dan baca kembali buku kerja tentang thermometer perasaan dan ukur kembali untuk masalah ini

b. Mendiskusikan tentang Rational Self Analysis untuk peristiwa atau kejadian yang dialami klien dan menuliskannya di buku kerja.

1) Meminta klien menuliskan satu kejadian atau peristiwa yang dialami dan minta klien untuk memikirkan apa arti kejadian atau peristiwa terhadap klien.

2) Meminta klien untuk menuliskan perasaan dan tindakannya terkait dengan kejadian atau peristiwa tersebut.

3) Meminta klien mengevaluasi pemikirannya tentang kejadian atau peristiwa yang dialaminya

4) Meminta klien memikirkan tanggapan rasional untuk membantunya dalam bereaksi terhadap kejadian atau peristiwa yang dialaminya.

5) Meminta klien untuk mengungkapkan apa yang akan dilakukannya untuk menghindari terulangnya kejadian atau peristiwa tersebut.

6) Memberikan reinforcemen positif atas kemampuan klien mempelajari Rational Self - Analysis.

7) Terapis meminta klien untuk menyampaikan manfaat atau kegunaan Rational Self Analysis bagi klien

c. Klien latihan ulang membuat Rational Self - Analysis di dalam buku kerja 1) Meminta klien menuliskan satu kejadian atau peristiwa lainya yang dialami

dan minta klien untuk memikirkan apa arti kejadian atau peristiwa terhadap klien.

118

Workshop Keperawatan Jiwa ke-IX, Depok. 25 Agustus 2015

Program Studi Ners Spesialis I Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

2) Meminta klien untuk menuliskan perasaan dan tindakannya terkait dengan kejadian atau peristiwa tersebut.

3) Meminta klien mengevaluasi pemikirannya tentang kejadian atau peristiwa yang dialaminya

4) Meminta klien memikirkan tanggapan rasional untuk membantunya dalam bereaksi terhadap kejadian atau peristiwa yang dialaminya.

5) Meminta klien untuk mengungkapkan apa yang akan dilakukannya untuk menghindari terulangnya kejadian atau peristiwa tersebut.

6) Memberikan reinforcemen positif atas kemampuan klien mempelajari Rational Self - Analysis.

7) Terapis meminta klien untuk menyampaikan manfaat atau kegunaan Rational Self Analysis bagi klien

4. Tahap Terminasi 1. Evaluasi

a. Menanyakan perasaan klien setelah sesi 4 selesai

b. Menanyakan kembali manfaat atau kegunaan Rational Self Analysis bagi klien

c. Meminta klien untuk menjelaskan kembali tentang Rational Self-Analysis d. Memberikan reinforcement positif atas kerjasama klien yang baik dan

kemampuan klien dalam membuat Rational Self - Analysis yang telah didiskusikan.

2. Tindak lanjut :

a. Menganjurkan klien untuk berlatih melakukan Rational Self – Analysis sendiri

b. Menganjurkan klien untuk menuliskannya didalam buku kerja 3. Kontrak :

a. Menyepakati topik sesi 5 yaitu latihan menerapkan Rational Self - Analysis terhadap kejadian atau peristiwa yang dialami yang menimbulkan perasaan marah klien

b. Menyepakati tempat dan waktu untuk sesi 5 F. EVALUASI DAN DOKUMENTASI

Evaluasi ketepatan waktu pelaksanaan terapi khususnya tahap kerja, keaktifan klien, keterlibatan klien dan proses pelaksanaan secara keseluruhan.

Format Evaluasi

Sesi IV REBT : Belajar model kognitif ACBs Klien : Tanggal :

No Kegiatan

KLIEN

Ya Tidak

119

Workshop Keperawatan Jiwa ke-IX, Depok. 25 Agustus 2015

Program Studi Ners Spesialis I Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

1 Menyepakati kontrak kegiatan

2 Mampu mengetahui tentang Rational Self Analysis

3 Mampu mengungkapkan manfaat Rational Self Analysis bagi klien

4 Aktif dalam diskusi

Keterangan :

Isilah Ya = jika klienmelakukan, Tidak = jika klien tidak melakukan SESI V : Latihan Model Kognitif ACBs

Dalam dokumen Modul terapi (1) (Halaman 121-129)