FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS INDONESIA
A. Latar Belakang
Gangguan jiwa merupakan gangguan yang ditunjukkan dengan adanya perubahan klinis perilaku dan sindrom psikologis yang disebabkan oleh distress pasien, ketidakmampuan, atau resiko akibat pertahanan akan ketidakmampuan atau kehilangan kebebasan (APA, 2000 dalam Varcarolis & Halter, 2010). Gangguan jiwa merupakan penyakit yang merujuk pada seluruh diagnosa gangguan mental dan dikarakteristikkan dengan adanya gangguan pada pola berfikir, perasaan, perilaku yang berhubungan dengan distress dan kehilangan fungsi.
National Institue Mental Health (2010), menyatakan kejadian gangguan jiwa terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Diperkirakan 26.2% penduduk Amerika usia lebih dari 18 tahun mengalami gangguan jiwa setiap tahunnya. Artinya satu dari empat penduduk dewasa mengalami gangguan jiwa. Berdasarkan data tersebut sebanyak satu (6%) dari 17 penduduk dewasa mengalami gangguan jiwa berat. Saat ini diperkirakan 45% penduduk mengalami sedikitnya dua gangguan dengan derajat berat hingga dapat menimbulkan kematian. Sedangkan pada tahun 2011, berdasarkan survei yang dilakukan oleh MMWR (Centers for Disease control and prevention) mendapatkan data bahwa 97.9 tiap 10.000 penduduk menjalani perawatan di Rumah Sakit jiwa yang berkisar usia 18 hingga 64 tahun dan sebagian besar di diagnosa mengalami gangguan mood (Frieden et al, 2011)
Gangguan jiwa menjadi masalah terbesar yang menyebabkan Years lived with disability (YLDs) atau penurunan bahkan kehilangan produktivitas. Global Burden of Disease study 2004 update oleh World Health Organizations (WHO, 2008) menyatakan 1/3 YLDs disebabkan oleh masalah kesehatan jiwa, diikuti oleh penyebab lainnya seperti kehilangan pendengaran, proses menua, katarak, osteoartritis.
Gangguan jiwa berada dalam rentang V hingga VII dari skala kelas I hingga VII setara dengan penyakit kanker kronik, migrain berat dan quadriplegia yang merupakan penyakit penyebab YLDs. Populasi dunia yang mencapai 6.5 milliar penduduk pada tahun 2004, sebanyak 18.6 juta (29%) menjadi tidak produktif dan 79.7 juta (12.4%) mengalami YLDs berat. Rentang usia terjadi pada 5% pada usia 1-14 tahun, 15% saat usia 15-59 tahun dan 46% pada usia ≥ 60 tahun.
Ketidakmampuan yang terjadi pada klien dengan gangguan jiwa menyebabkan penderita menjadi tidak produktif dalam bekerja, tidak dapat berkontribusi terhadap kualitas sosial, ekonomi, kesejahteraan masyarakat serta dalam peningkatan kehidupan, bahkan membuat penderita tergantung pada orang lain sehingga menjadi beban bagi keluarga, masyarakat dan negara. Beban yang terbesar dirasakan oleh negara adalah
60
Workshop Keperawatan Jiwa ke-IX, Depok. 25 Agustus 2015
Program Studi Ners Spesialis I Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
penggunaan 75 % dari penghasilan negara dari sektor pajak untuk membiayai penderita skizofrenia lebih dari biaya untuk gengguan jiwa jenis lainnya (Stuart, 2009).
Sekitar 1% dari jumlah penduduk di Amerika Serikat mengalami skizofrenia sepanjang hidupnya, sehingga prevalensinya sekitar 2-3 juta orang mengalami gangguan jiwa, sebagian besar tempat tidur di unit psikiatri digunakan untuk merawat penderita skizofrenia dibandingkan dengan penderita gangguan jiwa lainnya (Mueser &
Gingerich,2006).
Dampak lainnya akibat gangguan jiwa dapat terlihat dari beban akibat gangguan jiwa yang bersifat kronis dan ketidakmampuan yang diakibatkannya dihitung dengan indikator DALY‟s (Disability Adjusted Life Years) atau hilangnya nya waktu produktif dalam setahun. Pada tahun 1995 DALY‟s akibat gangguan jiwa 8,1%, lebih tinggi di banding TBC (7,2%), kanker (5,8%), penyakit jantung (4,4%) maupun malaria 2,6%.
DALY‟s akibat gangguan jiwa menjadi 12,3% pada tahun 2000 dan diproyeksikan menjadi 15% pada tahun 2020. Masalah kesehatan jiwa saat ini menempati urutan ke tiga penyebab DALY‟s yaitu 4.3% dari keseluruhan kejadian DALY‟s dan pada tahun 2030 diperkirakan akan menempati urutan pertama dengan angka 6.2% dari keseluruhan DALY‟s (WHO, 2010)
YLDs dapat dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan kategori negara yaitu afrika, negara dengan penghasilan rendah hingga sedang dan negara berpenghasilan tinggi.
Berdasarkan tingkat usia dari 0 hingga 80 tahun afrika dan negara berpenghasilan rendah menempati jumlah penduduk tertinggi dengan YLDs sedang hingga berat yaitu mencapai 50%, sedangkan negara berpenghasilan tinggi hanya berkisar 45%.
Penduduk dengan YLDs berat tertinggi dialami oleh afrika sebanyak 25 %, sedangkan negara berpenghasilan rendah dan tinggi hanya berada pada angka 15% (WHO, 2008).
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang termasuk dalam negara dengan penghasilan rendah hingga sedang. Berdasarkan Global Burden of Disease Country Profile (IHME, 2010), di Indonesia terdapat lima penyakit terbanyak yang menyebabkan YLDs yaitu low back pain, major depressive disorder, iron-deficiency anemia, chronic obstructive pulmonary disease, dan neck pain. Kejadian YLDs terbanyak terjadi pada usia 25 hingga 29 tahun. Angka ini dianggap belum mewakili keseluruhan kejadian karena masih banyak kejadian yang tidak dilaporkan dengan baik karena kejadian gangguan jiwa di Indonesia masih dianggap sebagai aib baik bagi individu, keluarga maupun masyarakat. Selain itu, masih banyak lapisan masyarakat dengan pendidikan rendah menganggap gangguan jiwa sebagai bagian dari magis.
Demikian pula dengan gangguan jiwa ringan yang biasanya lebih banyak terjadi pada individu belum dianggap sebagai gangguan jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa gangguan jiwa merupakan masalah besar yang terjadi dimasyarakat dan memiliki
61
Workshop Keperawatan Jiwa ke-IX, Depok. 25 Agustus 2015
Program Studi Ners Spesialis I Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
dampak merugikan yaitu menurunkan penghasilan serta meningkatkan pengeluaran negara secara tidak langsung.
Gangguan jiwa dapat dikategorikan menjadi gangguan jiwa berat dan gangguan jiwa ringan. Salah satu diagnosa terbanyak pada gangguan jiwa berat adalah skhizofrenia.
APA (2006, dalam Varcarolis, 2020) menyatakan skizofrenia sebagai gangguan psikotik yang artinya pasien mengalami delusi, halusinasi, dan kemampuan berfikir yang tidak terorganisir, bicara, dan/atau gangguan perilaku.
Prevalensi skizofrenia diperkirakan sebanyak 1%, hal ini berarti 1 dari 100 penduduk Amerika mengalami skizofrenia selama masa hidupnya, dan sekitar 0.05% populasi menjalani pengobatan skizofrenia setiap tahunnya. Skizofrenia ditemukan pada semua lapisan masyarakat, area geografis, dan angka prevalensinya secara kasar merata diseluruh dunia. Skizofrenia banyak terjadi pada ras Asia-Amerika dan Afrika-Amerika, dan merupakan gangguan seumur hidup, hal ini dibuktikan dari studi Epidemiologic Catchment Area (ECA) melaporkan prevalensi seumur hidup sebesar 0.6 hingga 1.9 % (Fortinash, Holoday & Worret, 2003; Sadock & Sadock, 2010).
Pelayanan kesehatan untuk mengatasi masalah gangguan jiwa khususnya skizofrenia telah berkembang sejak tahun 1980-an. perkembangan pada beberapa dekade terakhir memberikan kesempatan pada pasien skizofrenia untuk dapat kembali ke masyarakat, meningkatkan harapan dan kesempatan untuk menjalani hidup secara bermakna terutama setelah melewati fase akut. Psikoterapi telah dikembangkan sejak tahun 1952 oleh Hans, J, Eysenck. Psikoterapi merupakan penatalaksanaan gangguan emosi, perilaku, kepribadian, psikiatri yang terutama didasarkan pada komunikasi dan intervensi verbal atau nonverbal dengan pasien, berbeda dengan penatalaksanaan menggunakan upaya kimia dan fisik (Stedman, 2005).
Penelitian yang dilakukan pada sekitar 74% dari 24 penelitian pada pasien neurotik yang mendapatkan psikoterapi selama 2 tahun mengalami kemajuan dibandingkan dengan pasien yang tidak mendapatkan terapi. Pengukuran hasil penelitian dilanjutkan setelah tahun 1980, dan didapati hasilnya yang menunjukkan peningkatan hasil penelitian dimana pasien yang mendapatkan psikoterapi menunjukkan penurunan gejala gangguan jika dibandingkan dengan pasien tanpa terapi. Dari penelitian yang dilakukan didapatkan hasil pasien dengan pemberian plasebo menunjukkan penurunan gejala gangguan sebanyak 66% jika dibandingkan pasien tanpa terapi apapun, sedangkan pasien yang mendapatkkan psikoterapi mengalami penurunan sebanyak 80% jika dibandingkan pasien tanpa perlakuan (Lambert & Vermeersch, 2002).
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pasien yang mendapatkan psikoterapi menunjukkan hasil lebih baik jika dibandingkan pasien yang mendapatkan terapi plasebo dan tanpa terapi.
62
Workshop Keperawatan Jiwa ke-IX, Depok. 25 Agustus 2015
Program Studi Ners Spesialis I Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
Penelitian lainnya oleh Hollon, Steward & Strunk (2006), Shedler (2010) didapati bahwa dampak pemberian psikoterapi bertahan lebih lama jika dibandingkan dengan terapi psikofarmakologi. Hal ini dibuktikan pada pasien depresi dan ansietas yang mendapatkan psikoterapi, pasien memiliki kemampuan beragam saat terapi berakhir dan terus mengalami peningkatan setelahnya. Bahkan saat ini banyak orang beralih dari terapi medis kepada psikoterapi karena berbagai alasan seperti adanya efek samping dari terapi farmaka (Deacon & Abramowitz, 2005; Patterson, 2008; Solomon et al., 2008; Vocks et al., 2010). Pada penelitian lainnya disebutkan pengobatan dengan farmasi atau obat-obatan antidepresan memakan biaya lebih besar dibandingkan psikoterapi dalam jangka panjang (Tournier, et al., 2009; Cuijpers, et al., 2010; Pyne, et al., 2005). Psikoterapi juga menjadi pilihan utama bagi lansia karena kondisi kesehatan kronik yang tidak memungkinkan jika dibandingkan dengan usia yang lebih muda (Alexopoulos, et al., 2011; APA, 2004; Areán, et al., 2005a; Areán, et al., 2005b;
Areán, Gum, Tang, & Unutzer, 2007; Areán, et al., 2010; Arnold, 2008; Gum, Areán,
& Bostrom, 2007; Cuijpers, van Straten & Smit, 2006; Kazdin, et al., 2010; Kaslow, et al., 2012).
Psikoterapi menjadi lebih efektif jika dibandingkan terapi medis dalam evaluasi jangka panjang. Hal ini dimungkinkan terjadi karena psikoterapi bertujuan untuk membantu pasien dan/atau keluarga merubah pola kognitif, perilaku yang didasari pemahaman mendalam mengenai masalah yang dialami oleh pasien serta keluarganya. Pola kogitif, perilaku, rutinitas keluarga dan mekanisme koping maladaptif yang selama ini digunakan menjadi faktor dasar yang dirubah menjadi adaptif dalam psikoterapi dan hal ini berbeda dengan terapi berbasis farmakoterapi yang lebih fokus menstabilkan kondisi pasien.
CBT merupakan kombinasi dari terapi cognitive dan behaviour, dan memiliki pengaruh untuk mengatasi gangguan mood dan ansietas (Chambless & Ollendick, 2001; DeRubeis & Crists-Christoph, 1998 dalam Cully & Teten, 2008). CBT adalah salah satu bentuk terapi komunikasi (Kassel & Rais, 2010), Sehingga dapat dikatakan bahwa CBT merupakan terapi yang menggunakan pendekatan penyelesaian masalah dengan mempelajari cara pengontrolan pikiran melalui perubahan persepsi terhadap orang dan situasi tertentu.
Stallard (2002), menyebutkan bahwa CBT adalah intervensi terapeutik yang bertujuan untuk mengurangi tingkah laku mengganggu dan maladaptif dengan mengembangkan proses kognitif. CBT didasarkan pada asumsi bahwa afek dan tingkah laku adalah produk dari kognitif oleh karena itu intervensi kognitif dan tingkah laku dapat membawa perubahan dalam pikiran, perasaan, dan tingkah laku. CBT pada dasarnya bertujuan untuk mengubah keadaan atau status emosi individu, akan tetapi emosi tidak
63
Workshop Keperawatan Jiwa ke-IX, Depok. 25 Agustus 2015
Program Studi Ners Spesialis I Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
dapat diintervensi secara langsung. Emosi dihasilkan dari adanya stimulasi internal dan eksternal dan dipengaruhi oleh adanya perubahan pola pikir dan perilaku. Tujuan untuk menstabilkan emosi dicapai menggunakan CBT dengan merubah pikiran dan perilaku yang berkontribusi menyebabkan distress emosi. CBT bertujuan untuk menciptakan ketrampilan yang memungkinkan individu untuk meningkatkan kesadaran akan pikiran dan perasaannya, mengidentifikasi bagaimana situasi, pikiran dan perilaku mempengaruhi perasaan dan meningkatkan kemampuan untuk merubah pikiran dan perilaku maladaptif (Cully & Teten, 2008).
Martin (2010) menyatakan bahwa penerapan terapi psikososial dengan perilaku kognitif dapat merubah pola pikir yang negatif menjadi positif sehingga perilaku yang maladaptif yang timbul akibat pola pikir yang salah juga akan berubah menjadi perilaku yang adaptif, sehingga pada akhirnya diharapkan individu dengan masalah isolasi sosial memiliki peningkatan kemampuan untuk melakukan interaksi sosial dan bereaksi secara adaptif dalam menghadapi masalah atau situasi yang sulit dalam setiap fase hidupnya. Singer dan Addington (2009) mengungkapkan penambahan terapi perilaku kognitif (CBT) dapat menurunkan gejala positif dan negatif skizofrenia serta fungsi sosial yang baik dan menunjukan efek yang menetap setelah pengobatan berakhir, dibandingkan dengan perawatan rutin saja, karena dengan terapi perilaku kognitif klien dapat membantu klien melakukan perilaku dan pikiran yang yang positif.
Diharapkan jika diterapkan pada klien dengan isolasi sosial akan membentuk pikiran yang positif sehingga mendapatkan perilaku yang positif. Klien dengan isolasi sosial yang mengalami penurunan motivasi dalam melakukan interaksi sosial dengan diberikan terapi perilaku kognitif akan mempunyai persepsi yang positif dan klien mengetahui pentingnya interaksi sosial.
Penelitian yang telah dilakukan oleh Fauziah (2009) mengatakan terapi perilaku kognitif dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan perilaku klien skizofrenia dengan perilaku kekerasan, Sasmita (2007) Cognitive behaviour therapy (CBT) meningkatkan secara bermakna kemampuan kognitif dan perilaku klien harga diri rendah, Wahyuni (2010) mengatakan terapi perilaku kognitif dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan perilaku klien halusinasi, Erwina (2010) mengatakan terapi perilaku kognitif dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan perilaku klien pasca gempa. Sesuai penelitian yang akan dilakukan bahwa dengan memberikan terapi perilaku kognitif akan meningkatkan kemampuan kognitif dan perilaku klien melakukan interaksi sosial sehingga klien tetap menjaga hubungan atau kontak sosial dan klien merasa tidak sendiri. Apabila klien dengan isolasi sosial yang mengalami penurunan kemampuan interaksi sosial jika tidak diberikan terapi perilaku kognitif akan mengakibatkan kepercayaan dirinya kurang sehingga muncul gangguan konsep
64
Workshop Keperawatan Jiwa ke-IX, Depok. 25 Agustus 2015
Program Studi Ners Spesialis I Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
diri pada klien dan muncul halusinasi karena suka menyendiri dan jarang berinteraksi dengan orang lain.
Penerapan terapi perilaku kognitif akan mengubah status pikiran dan perilaku klien, sehingga perilaku negatif yang muncul akan menjadi perilaku yang positif (Oemarjoedi, 2003). Diharapkan putusnya hubungan antara pikiran dan perilaku yang negatif pada klien, secara keseluruhan akan mengubah cara berpikir dan berperilaku individu tersebut tidak mengarah pada perilaku yang maladaptif, sehingga akan meningkatan kemampuan klien isolasi sosial untuk melakukan interaksi sosial dan pada akhirnya akan meningkatnya kepercayaan klien dalam melakukan interaksi klien dengan orang lain dan mengurangi pikiran negatif yang muncul pada klien.
Penelitian yang dilakukan oleh Hargiana, Keliat, dan Mustikasari (2015) menunjukkan bahwa terapi perilaku kognitif juga dapat diberikan pada klien perokok, ketergantungan nikotin, dan ansietas dimana tujuan pemberian terapi perilaku kognitif adalah untuk merubah perilaku negatif klien yang merokok dan ketergantungan nikotin, serta untuk mengatasi ansietas klien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku merokok, ketergantungan nikotin, dan ansietas kelompok yang mendapat terapi perilaku kognitif mengalami penurunan secara signifikan.
Terapi perilaku kognitif juga sangat tepat diberikan pada klien yang baru saja mengalami kejadian pasca bencana. Bencana merupakan kejadian mendadak yang dapat mengakibatkan perubahan pada kehidupan dan mengubah cara berfikir klien yang dapat mengakibatkan munculnya pikiran otomatis negatif. Respon kecemasan yang dialami klien pasca bencana menyebabkan klien mengalami acute stress disorder (ASD) yang mempengaruhi pikiran dan perilaku klien. penelitian yang dilakukan oleh Gati, Mustikasari, dan Rahmah (2015) pada klien yang mengalami perubahan ASD menunjukkan bahwa terjadi penurunan respon ASD yang bermakna setelah klien diberikan terapi perilaku kognitif. Berdasarkan penelitian-penelitian diatas, maka terapi perilaku kognitif telah terbukti efektif untuk mengatasi masalah gangguan jiwa, pasca bencana, ataupun klien yang memiliki kebiasaan dan perilaku negatif seperti ketergantungan rokok dan nikotin.
B. Tujuan Terapi Perilaku Kognitif