KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEUANGAN DAERAH
3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah
3.1.3. Evaluasi Hasil Perumusan Masalah Pembangunan Daerah
Kebijakan pembangunan ekonomi tidak terpisah dari permasalahan-permasalahan diluar kegiatan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kuningan dirancang untuk tidak memberikan dampak buruk terhadap lingkungan hidup dan dapat dirasakan manfaatnya oleh semua kalangan. Hal ini juga selaras dengan arah kebijakan pembangunan nasional yang pro-poor, pro-job, pro-growth dan pro-environment. Masalah-masalah kemiskinan, pengangguran, pertumbuhan ekonomi serta kondisi lingkungan hidup tetap menjadi dasar dalam rangka merumuskan kebijakan ekonomi Kabupaten Kuningan kedepan.
Kabupaten Kuningan pada awal tahun 2020 menjadi salah satu kabupaten terdampak oleh penyebaran pandemic Covid-19. Disamping aspek kesehatan, dampak yang ditimbulkan adalah melambatnya pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor, meningkatnya angka kemiskinan, pengangguran dan sektor lainnya. Agenda pembangunan Tahun 2021 diarahkan dalam rangka rekonstruksi dan rehabilitasi
Apabila dianalisis dari data capaian pembangunan di Kabupaten Kuningan, masih banyak pekerjaan rumah yang dihadapi pada tahun 2021 yang perlu dipecahkan bersama, antara lain:
a) Kemiskinan
Tingkat kemiskinan di Kabupaten Kuningan masih berada di atas rata-rata Jawa Barat. Meskipun pada tahun 2019 terjadi penurunan menjadi 11,41%, dari 12,22% pada tahun 2018. Angka kemiskinan di kabupaten kuningan menunjukkan tren positif dimana tiap tahun semakin berkurang, tetapi secara angka kurang lebih sebanyak 123.000 kk hidup di bawah garis kemiskinan.
Kemiskinan bukan hanya persoalan pemerintah daerah, kemiskinan bisa dientaskan jika semua pihak peduli.Segenap instansi terkait bersama segenap stakeholder harus dapat saling bergerak bersama menekan jumlah kemiskinan di kuningan.Rumah tangga dikatakan miskin apabila:
1) luas lantai bangunan tempat tinggalnya kurang dari 8 m2 per orang; 2) lantai bangunan tempat tinggalnya terbuat dari tanah/bambu/kayu
murahan;
3) dinding bangunan tempat tinggalnya terbuat dari bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah atau tembok tanpa diplester;
4) tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama rumah tangga lain menggunakan satu jamban;
5) sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik;
6) air minum berasal dari sumur/mata air yang tidak terlindung/sungai/air hujan;
7) bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah;
8) hanya mengonsumsi daging/susu/ayam satu kali dalam seminggu; 9) hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun;
11) tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/poliklinik; 12) sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas
lahan 0,5 ha, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp 600.000 per bulan;
13) pendidikan terakhir kepala rumah tangga: tidak sekolah/tidak tamat sekolah dasar (SD)/hanya SD; dan
14) tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan nilai minimal Rp 500.000 seperti sepeda motor (kredit/nonkredit), emas, hewan ternak, kapal motor ataupun barang modal lainnya.
Secara teknokratis, dalam penanggulangan kemiskinan ini dipandang perlu dilakukan penguatan pendapatan individu yang secara otomatis akan meningkatkan pendapatan rumah tangga. Hal ini dapat dilakukan melalui optimalisasi usaha kecil dan mikro (UKM) yang relatif sesuai dengan tipikal penduduk lapisan bawah.
b) Pembangunan Manusia
Apabila memperhatikan disparitas capaian IPM beserta komponen-komponennya antar kabupaten/kota di Jawa Barat, posisi Kabupaten Kuningan secara umum masih mengungguli kabupaten di Wilayah III Cirebon (Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan – Ciayumajakuning), namun masih di bawah angka Jawa Barat, dan berada pada posisi ke-17 di tingkat Jawa Barat.
Dari sekian komponen indikator pendukung IPM yang perlu mendapat perhatian khusus adalah rata-rata lama sekolah yang masih berkisar pada 7,37 tahun.
c) Angkatan Kerja
lainnya merupakan pengangguran terbuka yaitu mereka yang tidak bekerja tetapi aktif mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha dan lainnya dalam upaya memperoleh penghidupan, sehingga data tahun 2018 menunjukkan tingkat pengangguran terbuka sebesar 8,99%.
Kembali kepada meningkatnya pengangguran di kabupaten kuningan pada tahun 2018, perlu disikapi dengan arif dan serius untuk melakukan perbaikan pada penyerapan tenaga kerja. Hasil sakernas Agustus 2018 mencatat bahwa pengangguran di Kabupaten Kuningan relatif lebih tinggi di daerah perkotaan (9,09%) dibanding daerah perdesaan (8,88%). Ini mengindikasikan bahwa penduduk usia kerja di daerah perkotaan yang belum terserap pada lapangan usaha relatif lebih banyak dibanding mereka yang berada di daerah perdesaan.
Tingginya angka TPT harus mendapat perhatian serius dari perangkat daerah terkait.Pemberian pelatihan lifeskill harus ditingkatkan untuk para pencari kerja ini, baik dalam bentuk pelatihan keterampilan kerja atau pembinaan kewirausahaan baru.Dinas terkait juga perlu melakukan kerjasama dengan lembaga keuangan untuk menyalurkan kredit usaha kecil dengan syarat yang lebih mudah.
Ruang investasi juga harus terbuka lebar, prosedur perizinan dimudahkan dengan tetap mempertimbangkan kebijakan daerah dalam hal pelestarian lingkungan.Investor akan hadir jika lingkungan masyarakat kondusif, masyarakat mau menerima secara terbuka investor yang memang telah memenuhi syarat perizinan, tidak diganggu atau dihalang-halangi. Banyaknya investor akan menjaring angkatan kerja di kuningan, yang dapat membantu menurunkan angka pengangguran dan berimbas pada penurunan angka kemiskinan di kabupaten kuningan. Selain itu infrastruktur transportasi harusdiperbaiki untuk memudahkan aksesibilitas ekonomi.
d) Pendidikan
Keberhasilan pembangunan suatu wilayah ditentukan oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan merupakan salah satu cara meningkatkan kualitas sdm tersebut. Oleh karena itu peningkatan mutu pendidikan harus terus diupayakan, dimulai dengan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada penduduk untuk mengenyam pendidikan, hingga pada peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pendidikan. Potret pendidikan kabupaten kuningan terlihat dari angka partisipasi murni anak-anak Kuningan sebesar SD=98,25% , SMP=81,01% dan SMA=57,33%.
e) Kesehatan
Pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan sangat penting dalam mempertahankan kelangsungan hidup seseorang.Semakin tinggi kualitas kesehatan seseorang semakin tahan terhadap keluhan kesehatan, dan semakin preventif terhadap terjadinya kesakitan. Derajat kesehatan penduduk Kabupaten Kuningan relatif baik, di antaranya ditunjukkan oleh Usia Harapan Hidup (UHH) yang relatif tinggi, dan berada di atas rata-rata UHH provinsi jawa barat, tetapi tetap perlu dilakukan pengawasan (controlling) terhadap kegiatan pelayanan dan penyuluhan kesehatan secara kontinu.
Hasil survey nasional menunjukkan, aspek yang berpengaruh terhadap UHH di Kabupaten Kuningan meliputi perlunya peningkatan pelayanan bagi penduduk yang berobat jalan ke fasilitas medis, peningkatan penolong kelahiran oleh petugas medis, peningkatan balita yang pernah diberi imunisasi, penurunan rumah tangga dengan lantai tempat tinggal terluas tanah, penurunan gini ratio, peningkatan jumlah dokter, dan peningkatan rumah tangga menggunakan sumber air minum bersih.
f) Perekonomian
Dilihat dari laju pertumbuhan ekonomi (LPE) di tahun 2019, LPE kabupaten kuningan naik dari angka 6,43% di tahun 2018 menjadi 6,56%. Disamping karena tidak bersandar kepada migas dan industri, maka pertumbuhan di Kabupaten Kuningan masih bertahan dengan kualitas sumber daya alam yang terkelola dengan baik. Hal ini juga ditunjang dengan status Kabupaten Kuningan yang dijadikan sebagai Kabupaten Konservasi.
Akan tetapi pertumbuhan yang tinggi ini juga harus ditunjang dengan nominal produktivitas yang besar untuk semakin menghidupkan perekonomian di Kabupaten Kuningan. Pada perbandingan ketimpangan sosial (indeks gini) menunjukkan hal yang positif dimana tidak terjadi jurang kesenjangan yang besar antara si kaya dengan si miskin. Namun demikian juga perlu bijaksana dalam menyikapi indikator ini apabila dibandingkan dengan kabupaten/ kota lainnya.
Selain itu fenomena Kejadian Luar Biasa (KLB) Wabah Pandemi COVID-19 mengharuskan Pemerintah Kabupaten Kuningan melakukan refocusing dan realokasi APBD Tahun Anggaran 2020. Hal ini mengakibatkan tidak optimalnya kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah di Tahun 2020. Dengan demikian, isu strategis yang mengemuka pada tahun rencana 2021 adalah “Pemulihan Ekonomi dan Kehidupan Masyarakat Sebagai Dampak Pandemi COVID-19”.