KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEUANGAN DAERAH
3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah
3.1.1. Evaluasi Kondisi Pembangunan Ekonomi Kabupaten Kuningan Tahun 2018 dan 2019
1) Pertumbuhan Ekonomi dan Produk Domestik Regional Bruto
Indikator untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah laju pertumbuhan PDRB. Indikator tersebut menggambarkan laju pertumbuhan produk seluruh kegiatan ekonomi yang dapat digambarkan dengan data pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan.
Berdasarkan harga konstan 2010, nilai PDRB Kab. Kuningan Tahun 2019 mencapai 16.860,52 miliar rupiah, meningkat dibandingkan tahun 2018 dengan nilai 15.821,95 miliar rupiah.
Pertumbuhan sektor dalam PDRB tahun 2019 hampir seluruhnya menunjukkan nilai positif, hanya pada sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami penurunan sebesar 2,75 jika dibandingkan dengan tahun 2018. namun demikian kondisi tersebut tidak berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kuningan secara keseluruhan yang masih tumbuh sebesar 6,56% sepanjang tahun 2019.
Sektor penggerak utama perekonomian Kabupaten Kuningan masih didominasi oleh sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (24,36%); (2) Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor (14,28%), (3) Transportasi dan Pergudangan (14,25%); (4) Jasa Pendidikan (11,90%); (5) Konstruksi (8,92%); dan (6) Jasa Keuangan dan Asuransi (5,54%).
secara rinci data dari penjabaran diatas tersaji pada tabel 3.2 -3.4 dibawah ini
Tabel 3.2
Nilai Sektor dalam PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten KuninganTahun 2015-2019 (Miliar Rupiah)
Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018*) 2019**) A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 2.900,32 3.031,84 3.196,98 3.379,28 3.539,58 B Pertambangan dan Penggalian 228,22 227,76 228,13 229,36 223,47 C Industri Pengolahan 318,14 340,89 357,83 376,80 409,17 D Pengadaan Listrik dan Gas 12,65 13,40 13,95 14,55 15,10 E Pengadaan Air, Pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang
11,92 12,61 13,53 14,53 14,99
F Konstruksi 1.184,79 1.227,21 1.334,59 1.452,84 1.543,85
G Perdagangan
Besar dan
Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 2.257,76 2.353,69 2.441,34 2.541,67 2.737,99 H Transportasi dan Pergudangan 1.847,31 1.974,10 2.077,60 2.190,20 2.323,00 I Penyediaan akomodasi dan Makan Minum 232,46 251,11 272,53 296,44 320,06 J Informasi dan Komunikasi 625,00 695,96 772,13 841,97 919,42 K Jasa Keuangan 682,81 746,64 783,18 823,96 855,98
Sumber: BPS Kabupaten Kuningan, 2019
Tabel 3.3
Laju Pertumbuhan Sektor dalam PDRB Atas Dasar Harga Konstan (%) Kabupaten Kuningan Tahun 2015– 2019
No. Sektor 2015 2016 2017 2018*) 2019**)
1. Pertanian, Kehutanan, dan
Perikanan 1,10 4,53 5,45 5,70 4,74
2. Pertambangan dan Penggalian 0,67 -0,20 0,16 0,54 -2,57
3. Industri Pengolahan 6,36 7,15 4,97 5,30 8,59
4. Pengadaan Listrik dan Gas 3,02 5,90 4,08 4,34 3,80
5. Pengadaan Air, Pengelolaan
Sampah, 6,13 5,83 7,30 7,36 3,21
6. Konstruksi 8,30 3,58 8,75 8,86 6,26
7. Perdagangan Besar dan Eceran,
Reparasi 3,25 4,25 3,72 4,11 7,72
8. Transportasi dan Pergudangan 8,96 6,86 5,24 5,42 6,06
9. Penyediaan Akomodasi dan
Makan Minum 8,58 8,02 8,53 8,77 7,97
10. Informasi dan Komunikasi 15,67 11,35 10,94 9,04 9,20
11. Jasa Keuangan dan Asuransi 8,62 9,35 4,89 5,21 3,89
12. Real Estate 5,04 6,74 9,20 8,87 9,07
13. Jasa Perusahaan 7,96 8,80 9,36 9,59 8,78
14.
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan & Jaminan Sosial Wajib
2,24 3,02 1,71 2,55 4,57
15. Jasa Pendidikan 14,38 9,93 10,67 10,21 8,98
16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 14,11 9,20 9,80 7,97 8,90
N O Administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib 499,80 514,89 523,69 537,05 561,60 P Jasa Pendidikan 1.240,75 1.364,00 1.509,51 1.663,63 1.812,97 Q Jasa kesehatan dan kegiatan social 214,66 234,42 257,39 277,91 302,65 R, S, T, U Jasa lainnya 464,48 502,90 553,05 603,00 649,64 PDRB 13.175,672 13.977,774 14.866,629 15.821,945 16.860,52
No. Sektor 2015 2016 2017 2018*) 2019**)
17. Jasa Lainya 11,94 8,27 9,97 9,03 7,73
PDRB 6,38 6,09 6,36 6,43 6,56
Sumber: BPS Kabupaten Kuningan, 2020
Tabel 3.4
Kontribusi Sektor dalam PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (%) Kabupaten Kuningan Tahun 2015 – 2019
No. Sektor 2015 2016 2017*) 2018**) 2019
1. Pertanian, Kehutanan, dan
Perikanan 23,96 23,92 23,79 24,23 24,36
2. Pertambangan dan Penggalian 1,80 1,66 1,47 1,34 1,21
3. Industri Pengolahan 2,33 2,37 2,31 2,23 2,22
4. Pengadaan Listrik dan Gas 0,08 0,09 0,09 0,09 0,09
5. Pengadaan Air, Pengelolaan
Sampah, 0,08 0,09 0,09 0,10 0,10
6. Konstruksi 8,98 8,69 8,78 8,88 8,92
7. Perdagangan Besar dan Eceran,
Reparasi 15,55 15,09 14,67 14,22 14,28
8. Transportasi dan Pergudangan 15,22 15,42 15,17 14,72 14,25
9. Penyediaan Akomodasi dan
Makan Minum 1,72 1,76 1,81 1,84 1,86
10. Informasi dan Komunikasi 3,49 3,56 3,63 3,57 3,51
11. Jasa Keuangan dan Asuransi 5,36 5,61 5,64 5,60 5,54
12. Real Estate 2,62 2,60 2,61 2,59 2,58
13. Jasa Perusahaan 0,39 0,39 0,40 0,42 0,45
14.
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan & Jaminan Sosial Wajib
4,48 4,31 4,17 4,01 3,84
15. Jasa Pendidikan 9,53 9,89 10,61 11,33 11,90
16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan
Sosial 1,49 1,55 1,59 1,58 1,61
17. Jasa Lainya 2,92 3,03 3,16 3,23 3,28
PDRB 100 100 100 100 100
Sumber: BPS Kabupaten Kuningan, 2020
Sebagai acuan untuk mengukur tingkat kesejahteraan penduduk, yaitu dilakukan melalui perhitungan PDRB per kapita. Semakin tinggi PDRB per kapita suatu daerah, maka semakin baik tingkat perekonomian daerah tersebut,
PDRB per kapita juga digunakan sebagai ukuran “produktivitas” suatu wilayah, karena menjelaskan kemampuan wilayah dalam menghasilkan produk domestik, yang dihitung melalui 3 (tiga) pendekatan, yaitu pendekatan nilai tambah, pendekatan pengeluaran dan pendekatan pendapatan.
Nilai PDRB per kapitaKabupaten Kuningan atas dasar harga berlaku selama 5 tahun terakhir mengalami trend peningkatan dengan rata-rata peningkatan pertahun sebesar 10,18 %. Pada tahun 2015 PDRB per kapita tercatat sebesar 16,09 juta rupiah. Secara nominal terus mengalami kenaikan hingga tahun 2019 mencapai 23,21 juta rupiah. Ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Kuningan semakin meningkat.
Grafik 3.1
PDRB Perkapita Atas Dasar Harga Berlaku di Kabupaten Kuningan Tahun 2015-2019 (juta rupiah)
Tabel 3.5
PDRB Perkapita Atas Dasar Harga Berlaku di Kabupaten Kuningan Tahun 2015-2019 (juta rupiah)
Uraian Tahun 2015 2016 2017 2018**) 2019**) PDRB Perkapita ADHB 16,09 17,48 19,14 21,18 23,21 Peningkatan PDRB Perkapita 12.52% 8.64% 9.50% 10.66% 9.58% Sumber : BPS Kabupaten Kuningan, 2020 (diolah)
*)Data Sementara, **)Data Sangat Sementara
2) Ketenagakerjaan
Ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur ketenagakerjaan, antara lain, yaitu melalui ; a) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK); b) Tingkat Pengangguran Terbuka; dan c) Angka Beban Ketergantungan.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). TPAK adalah perbandingan antara jumlah angkatan kerja terhadap total penduduk usia kerja. TPAK ini merupakan indikator untuk melihat keterlibatan penduduk dalam kegiatan ekonomi. Pada tahun 2018 tercatat TPAK pendudukkabupaten kuningan telah mencapai 58,65 persen.
Dilihat aspek gender dibidang ketenagakerjaan, pada tahun 2018tampak keterlibatan penduduk perempuan dalam kegiatan ekonomi dinilai masih rendah, hal ini ditunjukkan dengan tpak penduduk perempuan proporsinya kurang dari separuh penduduk laki-laki, yang masing-masing, tpak perempuan sekitar 37,88 persen sedangkan TPAK laki-laki sekitar 79,59 persen.
Tabel 3.6
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Kabupaten Kuningan Tahun 2014-2018 Uraian 2014 2015 2016 2017 2018 L P L P L P L P L P Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja berdasarkan Jenis Kelamin (%) 67 33 71,72 27,28 82.32 37,88 78,16 37,40 79,59 37,88 TPAK (%) 60,21 60,23 63,04 57,69 58,65
Sumber: BPS Kab. Kuningan, 2019
Dari tabel di atas dapat digambarkan, bahwa ada persoalan yang masih cukup besar terkait dengan partisipasi angkatan kerja.Tantangan besar berikutnya adalah masih sangat rendahnya partisipasi angkatan kerja perempuan, dan kondisi ini menjadi rentan terhadap posisi perempuan dalam rumah tangga, sehingga berpotensi terhadap KDRT.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) adalah perbandingan antara jumlah penduduk yang sedang mencari pekerjaan dan jumlah angkatan kerja.BPS mendefinisikan pengangguran yaitu orang yang masuk dalam angkatan kerja (15 sampai 64 tahun) yang sedang mencari pekerjaan dan belum mendapatkannya.
Pada Tahun 2018 TPT penduduk Kabupaten Kuningan mencapai 8,99 persen, mengalami kenaikan sebesar 1,05 persen bila dibandingkan dengan kondisi Tahun 2017. Dilihat menurut aspek laki-laki dan perempuan, tampaknya pengangguran terbuka perempuan proporsinya 1,43 persen lebih banyak dibandingkan dengan pengangguran terbuka laki-laki, yaitu tpt perempuan sebesar 9,96 persen, sedangkan tpt laki-laki hanya sebesar 8,53 persen.
Dari data BPS, dari 810.422 jiwa penduduk usia kerja,475.284 jiwa adalah angkatan kerja (terdiri dari yang bekerja dan pengangguran terbuka)
dan 335.138 jiwa bukan angkatan kerja (terdiri dari mereka yang bersekolah, mengurus rumah tangga dan lainnya). Penduduk yang bekerja sejumlah 432.549 jiwa terdiri dari 293.720 jiwa laki-laki dan 138.829 jiwa perempuan.
Tabel 3.7
Data Ketenagakerjaan di Kabupaten Kuningan Tahun 2016 – 2018
Indikator 2016 2017 2018
L P Jumlah L P Jumlah L P Jumlah
Penduduk Usia 15 tahun keatas 422.643 418.074 840.717 399.056 402.462 801.518 403.419 407.003 810.422 AngkatanKerja 348.024 158.346 506.370 311.898 150.505 462.403 321.101 154.183 475.284 - Bekerja 323.656 146.239 469.895 289.748 135.952 425.700 293.720 138.829 432.549 - Pengangguran Terbuka 24.368 12.107 36.475 22.150 14.553 36.703 27.381 15.354 42.735 Bukan Angkatan Kerja 74.619 259.728 334.347 87.158 251.957 339.115 82.318 252.820 335.138 - Sekolah 24.605 33.412 58.017 39.552 34.578 74.130 34.897 33.226 68.123 - Mengurus Rumah Tangga 8.864 195.203 204.067 11.486 204.322 215.808 19.895 206.101 225.996 - Lainnya 41.150 31.113 72.263 36.120 13.057 13.057 27.526 13.493 41.019 TPAK 82,34 37,88 60,23 78,16 37,40 57,69 79,59 37,88 58,65 TPT 7,00 7,65 7,20 7,10 9,67 7,94 8,53 9,96 8,99 TKK 93,00 92,35 92,80 92,90 90,33 92,06 91,47 90,04 91,01
Sumber :BPS Kab. Kuningan, 2019
Keterangan : L = Laki-laki ; P = Perempuan
Dilihat dari tingkat pendidikan, jumlah angkatan kerja paling besar adalah berpendidikan Sekolah Dasar (32,46%), disusul SLTA (30,37%), SLTP (18,17%), Tidak Tamat SD (9,6%), dan Diploma/Sarjana (9,40%). Walaupun jumlah Angkatan Kerja paling besar adalah berpendidikan SD, namun dari tingkat pengangguran yang paling tinggi adalah yang berpendidikan SLTA (50,12), bahkan yang berpendidikan Diploma/Sarjana sebesar 15,55%. Hal ini menggambarkan bahwa perbaikan tingkat
Grafik 3.2
Persentase Angkatan Kerja Menurut Pendidikan Di Kabupaten Kuningan Tahun 2018
Sumber: BPS Kab. Kuningan, 2019 (diolah)
Grafik 3.3
Persentase Pengangguran Menurut Pendidikan Di Kabupaten Kuningan Tahun 2018
Meningkatnya tingkat pengangguran dari tahun ketahun berdampak pada kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Kabupaten Kuningan. Di
bidang ekonomi, tingkat pengangguran yang tinggi akan memberikan dampak peningkatan beban pencapaian tujuan pembangunan ekonomi. Hal ini karena apabila melihat struktur pembentukan PDRB dari sisi pengeluaran, yang mana kontribusi pengeluaran dari konsumsi rumah tangga mencapai 83,6% pada tahun 2018, maka peningkatan pengangguran menimbulkan penurunan daya beli masyarakat sehingga akan berdampak negatif secara langsung terhadap perekonomian daerah.
Selain itu pengangguran akan menyebabkan meningkatkan kemiskinan, kemiskinan terjadi karena ketidakmampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, kesehatan, pakaian dan lain-lain.Selain dampaknya terhadap perekonomian, pengangguran juga berdampak pada kehidupan sosial yaitu meningkatnya tingkat kriminalitas.
Angka Beban Ketergantungan (Dependency Ratio). Masalah ketenagakerjaan tidak hanya melihat dari TPT dan jumlah penduduk bekerja, namun perlu diperhatikan pula aspek kualitas ketenagakerjaan.Salah satunya adalah dengan memperhatikan rasio ketergantungan. Angka Beban Ketergantungan (Dependency ratio)
merupakan salah satu indikator demografi yang penting. Semakin tinggi persentase angka beban ketergantungan menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Sedangkan persentase angka beban ketergantungan yang semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi.
Dampak keberhasilan pembangunan kependudukan juga dapat dilihat pada perubahan komposisi penduduk menurut umur seperti tercermin
Tabel 3.8
Angka Beban Ketergantungan Kabupaten Kuningan Tahun 2014-2018 No. Kelompok Umur (Tahun) 2014 2015 2016 2017 2018
1 0 – 14 26,13 25,77 25,41 25,05 24,70
2 15 – 64 65,93 66,46 66,17 66,26 66,30
3 65+ 7,94 7,77 8,42 8,70 9,00
4 Angka Beban Tanggungan 51,67 51,38 51,12 50,93 50,83 Sumber : BPS Kabupaten Kuningan, 2019
Selama periode 2014-2018 angka beban ketergantungan cenderung mengalami penurunan. Angka beban ketergantungan di Kabupaten Kuningan sebesar 51,67 di tahun 2014, terus mengalami penurunan sampai tahun 2018 menjadi sebesar 50,83. Arti dari angka 50,83 pada tahun 2018 adalah bahwa setiap 100 penduduk produktif masih menanggung beban sekitar 50 penduduk tidak produktif (di bawah umur 15 tahun dan 65 tahun ke atas).
1) Kemiskinan
Persentase penduduk diatas garis kemiskinan dihitung dengan menggunakan formula (100 – angka kemiskinan). Angka kemiskinan adalah perbandingan antara persentase penduduk yang masuk kategori miskin terhadap jumlah penduduk. Penduduk miskin dihitung berdasarkan garis kemiskinan. Garis kemiskinan adalah nilai rupiah pengeluaran per kapita setiap bulan untuk memenuhi standar minimum kebutuhan-kebutuhan konsumsi pangan dan non pangan yang dibutuhkan oleh individu untuk hidup layak.
Garis kemiskinan menggambarkan batas minimum pengeluaran per kapita per bulan untuk memenuhi kebutuhan minimum makanan dan non makanan yang memisahkan seseorang tergolong miskin atau tidak. Sedangkan indikator persentase penduduk di atas garis kemiskinan adalah indikator yang menggambarkan rasio penduduk yang hidup berkecukupan dan yang tidak menurut standar tertentu yang berlaku secara nasional.
Persentase penduduk miskin di Kabupaten Kuningan masih terbilang tinggi, yaitu 12,22% pada tahun 2018. Angka ini masih jauh di atas persentase penduduk miskin Jawa Barat sebesar 7,45% dannasional sebesar 9,66%. Secararinci, angka kemiskinan di Kabupaten Kuningan tergambar sebagaimana tabel berikut:
Tabel 3.9
Angka Kemiskinan Kabupaten Kuningan Tahun 2014-2018
No. Indikator Angka Kemiskinan
2014 2015 2016 2017 2018 1 Jumlah Penduduk Miskin (000 jiwa) 133,57 147,21 144,07 141,55 131,16 2 Garis Kemiskinan 271.015 276.154 289.901 302.061 332.483 3 Persentase Penduduk Miskin 12,72 13,97 13,59 13,27 12,22 Sumber: BPS Kab. Kuningan, 2019
Keberhasilan program KB tidak terlepas dari upaya yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat dan lembaga atau organisasi masyarakat lainnya yang secara bersama-sama mensukseskan program dimaksud yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Pada tahun 2016, sesuai dengan tahapan atau tingkatan kesejahteraan keluarga, maka setiap keluarga dapat dikelompokan kepada 3 (tiga) tahapan keluarga yaitu: Keluaraga Pra Sejahtera, Keluarga Sejahtera Tahap I, dan Keluarga Sejahtera Tahap II. Jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan Sejahtera di Kabupaten Kuningan Tahun 2016-2018 disajikan pada tabel berikut.
Tabel 3.10
Persentase Jumlah Keluarga Pra Sejahtera dan Sejahtera Kabupaten Kuningan Tahun 2016-2018
Jumlah Keluarga 2016 2017 2018
Pra Sejahtera 5,41 5,29 5,11
Sejahtera Tahap I 65,95 64,05 44,77 Sejahtera Tahap II 28,64 30,66 50,13
2) Gini Rasio
Gini Ratio adalah salah satu alat untuk mengukur derajat ketidakmerataan distribusi pendapatan penduduk. Nilai rasio gini berkisar antara 0 (nol) dan 1 (satu). Koefisien gini bernilai 0 menunjukkan adanya pemerataan pendapatan yang sempurna. Sebaliknya, rasio gini yang bernilai 1 mengindikasikan adanya pemerataan pendapatan yang tidak sempurna, atau dengan kata lain terjadi ketimpangan sempurna.
Gini Rasio di Kabupaten Kuningan relatif rendah dan trend relatif stabil dari tahun ke tahun. Hal ini diperlihatkan oleh angka gini ratio (GR) yang berada pada angka 0,32 pada tahun 2014 dan tetap pada angka 0,32 pada tahun 2018. Walaupun pada tahun 2015 sempat menurun menjadi 0,23 tetapi meningkat kembali menjadi 0,33 pada tahun 2016. Artinya, terdapat sedikit peningkatan ketimpangan atau ketidakmerataan pengeluaran antar penduduk dari tahun sebelumnya meskipun masih berada pada taraf tingkat ketimpangan rendah (karena GR < 0,4). Hal ini dapat dilihat dalam tabel berikut ini.
Tabel 3.11
Gini Ratio Kabupaten Kuningan Tahun 2014 – 2018
Indikator 2014 2015 2016 2017 2018
Gini Ratio 0,32 0,23 0,33 0,32 0,32 Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Kuningan, 2019
3) Inflasi
Terdapat 7 (tujuh) Kota di Jawa Barat yang dihitung angka inflasinya oleh Badan Pusat Statistik (BPS), tujuh kota besar tersebut yaitu Kota Bandung, Kota Cirebon, Kota Bekasi, Kota Depok, Kota Bogor, Kota Sukabumi dan Kota Tasikmalaya. Di wilayah III Cirebon, untuk melihat gambaran inflasi Kabupaten sekitarnya biasanya menggunakan data inflasi Kota Cirebon. Pada tahun 2019, inflasi kota Cirebon adalah 2% (BPS Kota Cirebon). Angka inflasi tersebut berada dibawah inflasi Jawa Barat yaitu 3,21% dan Nasional 3,02% pada tahun yang sama (BPS).