• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengkajian

Dalam dokumen KARYA TULIS ILMIAH (Halaman 123-130)

BAB 4 PEMBAHASAN

4.1 Pengkajian

Pada tinjauan kasus didapatkan data klien dengan nama Ny. M berusia 57 tahun, berjenis kelamin perempuan dan pekerjaan sebegai ibu rumah tangga. Pada tinjauan pustaka disebutkan bahwa semakin tua semakin besar risiko terkena CVA, jenis kelamin laki-laki memiliki risiko lebih besar untuk terkena CVA dibandingkan perempuan, pekerjaan dengan tingkat stress yang tinggi dan membutuhkan tenaga ekstra khususnya pikiran beresiko untuk menyebabkan CVA. Pada pengkajian identitas terdapat kesenjangan antara tinjauan kasus dengan tinjauan pustaka yaitu klien berjenis kelamin perempuan. Hal ini disebabkan karena Ny. M tergolong lansia dan sudah mengalami menopause.

Ketika wanita menopause maka hormon esterogen menurun drastis padahal salah satu fungsi hormon esterogen adalah menjaga elastisitas pembuluh darah. Klien juga memiliki riwayat penyakit hipertensi yang meningkatkan resiko menderita CVA, Ny. M bekerja sebagai ibu rumah tangga yang juga memiliki stressor tersendiri seperti mengelola keuangan dan kebutuhan keluarganya. Kondisi sakit

yang diderita oleh klien juga menjadi beban pikiran bagi klien karena kesulitan memenuhi kewajibannya sebagai ibu rumah tangga

Pada tinjauan kasus disebutkan Ny. M memiliki riwayat penyakit hipertensi dan pernah mengalami TIA (Transient Ischemic Attack) setahun sebelumnya. Pada tinjauan pustaka CVA Infark bisa disebabkan oleh diabetes melitus, hipertensi, kelainan jantung, riwayat TIA dan polisitemia. TIA dan hipertensi dapat meningkatkan risiko terkena CVA karena tekanan darah yang tinggi pada pembuluh darah dapat menyebabkan terjadinya penyempitan, sumbatan, bahkan pembuluh darah pecah, selain itu TIA dapat meningkatkan kerusakan pada pembuluh darah.

Pada tinjauan kasus didapatkan data pasien mengeluh badannya lemas dan sulit menggerakkan tangan dan kaki bagian kanan, kekuatan otot . Pada tinjauan pustaka disebutkan pada pasien CVA ditemukan keluhan utama seperti, kelemahan/kelumpuhan pada salah satu sisi ekstremitas. Lesi pada otak bagian kanan menyebabkan gangguan motorik pada area tubuh sebelah kiri dan apabila lesi terdapat pada otak bagian kiri menyebabkan gangguan motorik pada area tubuh sebelah kanan (Muttaqin, dan Sari, 2011). Pada otak terdapat sistem piramidal atau traktus kortikospinalis merupakan jalur neuron tunggal yang keluar dari korteks serebri menuju medula spinalis. Pada bagian ini, serabut-serabut penting menyilang ke sisi yang berlawanan, kemudian diteruskan ke penyilangan traktus piramida. Kemudian serabut-serabut masuk ke medula spinalis dan menyilang pada sisi yang berlawanan pada titik bagian akhir serat dan berakhir dalam substansia grisea yang terdapat pada ujung anterior, dekat sel saraf motorik.

Hal ini menyebabkan terjadinya gangguan motorik pada area yang berlawanan

dengan area jejas di otak (Muttaqin, dan Sari, 2011). Pada Ny. M terjadi hemiparese dekstra disebabkan karena adanya lesi pada otak sebelah kiri, hal ini diperkuat dari hasil CT-Scan yang menunjukkan bahwa terjadi lesi hipodens capsula interna sinistra.

4.2 Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan pengkajian keperawatan yang dilakukan pada kasus terdapat 3 diagnosa yang muncul pada klien, yaitu gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskular yang ditandai dengan kekuatan otot menurun, defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan neuromuskular yang ditandai dengan tidak mampu mandi dan defisit pengetahuan tentang CVA Infark berhubungan dengan kurang terpapar informasi tentang CVA Infark yang ditandai dengan sikap yang menunjukkan presepsi yang salah terhadap masalah.

Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai respon klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang berlangsung aktual maupun potensial. Diagnosis keperawatan bertujuan untuk mengidentifikasi respon klien individu, keluarga dan komunitas terhadap situasi yang berkaitan dengan kesehatan (SDKI, 2016).

Terdapat kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus. Pada tinjauan pustaka dijelaskan bahwa penderita CVA Infark diagnosa keperawatan yang mungkin muncul berjumlah 7 diagnosa, yaitu gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuscular, defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan neuromuscular, gangguan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan penurunan mobilitas, gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan gangguan neuromuscular, gangguan menelan berhubungan

dengan ganguan serebrovaskular, gangguan persepsi sensori pengelihatan berhubungan dengan hipoksia serebral, defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi tentang CVA Infark.

Terdapat 4 diagnosa yang tidak muncul pada klien antara lain :

4.2.1 Gangguan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan penurunan mobilitas. Diagnosa ini tidak muncul karena pada klien tidak muncul luka yang disebabkan tekanan terus menerus/karena tirah baring terlalu lama (ulkus dekubitus).

4.2.2 Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan gangguan neuromuskular. Diagnosa ini tidak muncul karena tidak ada kerusakan pada nervus aksesorius.

4.2.3 Gangguan menelan berhubungan dengan ganguan serebrovaskular.

Diagnosa ini tidak muncul karena tidak ada kerusakan pada nervus vagus.

4.2.4 Gangguan persepsi sensori pengelihatan berhubungan dengan hipoksia serebral. Diagnosa ini tidak muncul karena tidak ada kerusakan pada nervus optikus.

4.3 Intervensi Keperawatan

Intervensi pada pada tinjauan pustaka dan tinjauan kasus terdapat kesamaan secara umum, namun masing-masing intervensi tetap mengacu pada sasaran, data dan kriteria hasil yang telah ditetapkan. Berikut intervensi yang telah disusun sesuai dengan SDKI (2016), SLKI dan SIKI (2018) dengan menyesuaikan tinjauan kasus, yaitu:

4.3.1 Intervensi pada diagnosa keperawatan gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskular dilakukan selama 3 x 24 jam

diharapkan keluarga mampu melakukan perawatan terhadap klien agar mobilitas fisik meningkat dengan tindakan keperawatan yang telah direncanakan sebagai berikut: identifikasi adanya nyeri atau keluhan lainnya, monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum mulai mobilisasi, monitor kondisi umum selama melakukan mobilisasi, fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu (mis. kursi roda), fasilitasi melakukan pergerakan, libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan, jelaskan prosedur dan tujuan mobilisasi, ajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (mis. duduk di tempat tidur, duduk di sisi tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke kursi).

Pada intervensi diagnosa gangguan mobilitas fisik antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus tidak ditemukan kesenjangan karena telah disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi klien yaitu lemah pada ekstremitas kanannya yang mengakibatkan Ny. M tidak dapat melakukan aktivitas sehari-harinya.

4.3.2 Intervensi pada diagnosa keperawatan defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan neuromuskuler dilakukan selama 3 x 24 jam diharapkan keluarga mampu melakukan perawatan diri terhadap klien agar perawatan diri meningkat dengan tindakan keperawatan yang telah direncanakan sebagai berikut:

identifikasi kebiasaan aktivitas perawatan diri sesuai usia, identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri, berpakaian, berhias, dan makan, siapkan keperluan pribadi, damping dalam melakukan perawatan diri, fasilitasi kemandirian, bantu jika tidak mampu melakukan perawatan diri, jadwalkan rutinitas perawatan diri.

Pada intervensi diagnosa defisit perawatan diri antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus tidak ditemukan kesenjangan karena telah disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi klien yaitu lemah pada ekstremitas kanannya yang

mengakibatkan Ny. M tidak dapat melakukan aktivitas sehari-harinya termasuk melakukan perawatan diri seperti mandi dan mengenakan pakaian.

4.3.3 Intervensi pada diagnosa keperawatan defisit pengetahuan tentang CVA Infark berhubungan dengan kurang terpapar informasi tentang CVA Infark dilakukan selama 3 x 24 jam diharapkan keluarga mampu mengenal masalah kesehatan klien agar tingkat pengetahuan meningkat dengan tindakan keperawatan yang telah direncanakan sebagai berikut: identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi, sediakan materi dan media pendidikan kesehatan, jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan, berikan kesempatan untuk bertanya, jelaskan penyebab dan faktor risiko penyakit, jelaskan proses patofisiologi munculnya penyakit, jelaskan tanda gejala yang ditimbulkan oleh penyakit, jelaskan kemungkinan terjadinya komplikasi, ajarkan cara meredakan atau mengatasi gejala yang dirasakan.

Pada intervensi diagnosa defisit perawatan diri antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus tidak ditemukan kesenjangan karena telah disesuaikan dengan kebutuhan klien dan keluarga. Keluarga dan klien kurang terpapar informasi mengenai penyakit terutama CVA Infark. Sehingga diperlukan edukasi mengenai penyakit.

4.4 Implementasi Keperawatan

Implementasi pada tinjauan pustaka hanya membahas teori asuhan keperawatan dan pada tinjauan kasus implementasi tersebut diwujudkan langsung pada klien disertai pendokumentasian tindakan dari intervensi keperawatan.

4.4.1 Pada diagnosa keperawatan gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskular, semua intervensi keperawatan telah dilakukan selama 3

hari meliputi tindakan keperawatan seperti: identifikasi adanya nyeri atau keluhan lainnya (tidak ditemukan nyeri), monitor tanda-tanda vital, monitor kondisi umum (kondisi umum klien lemah), fasilitasi melakukan pergerakan (membantu klien duduk ditempat tidur), libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan, jelaskan prosedur dan tujuan mobilisasi, ajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (duduk di tempat tidur).

Tindakan keperawatan yang dilakukan merupakan pengaplikasian intervensi yang telah disusun sebelumnya. Pada diagnosa gangguan mobilitas fisik semua intervensi yang telah disusun dilakukan semua pada tindakan keperawatan sehingga tidak ditemukan kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus.

4.4.2 Pada diagnosa keperawatan defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan neuromuskular, semua intervensi keperawatan telah dilakukan selama 3 hari meliputi tindakan keperawatan seperti: identifikasi kebiasaan aktivitas perawatan diri sesuai usia (sebelum sakit klien biasa mandi 2 kali sehari), identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri, berpakaian, berhias, dan makan (membantu keluarga dan klien untuk menyiapkan kebutuhan klien seperti berganti pakaian, mandi dan makan), damping dalam melakukan perawatan diri (membantu keluarga menyeka klien dan memindahkan klien untuk mandi), jadwalkan rutinitas perawatan diri (membiasakan keluarga untuk membantu klien mandi setiap hari).

Tindakan keperawatan yang dilakukan merupakan pengaplikasian intervensi yang telah disusun sebelumnya. Pada diagnosa defisit perawatan diri semua intervensi yang telah disusun dilakukan semua pada tindakan keperawatan

sehingga tidak ditemukan kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus.

4.4.3 Pada diagnosa keperawatan defisit pengetahuan tentang CVA Infark berhubungan dengan kurang terpapar informasi tentang CVA Infark, semua intervensi keperawatan telah dilakukan selama 3 hari meliputi tindakan keperawatan seperti: identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi, berikan kesempatan untuk bertanya (klien dan keluarga antusias untuk bertanya), jelaskan penyebab dan faktor risiko penyakit, jelaskan proses patofisiologi munculnya penyakit, jelaskan tanda gejala yang ditimbulkan oleh penyakit, jelaskan kemungkinan terjadinya komplikasi (keluarga sudah paham dan mampu menjelaskan kembali apa yang telah disampaikan perawat).

Tindakan keperawatan yang dilakukan merupakan pengaplikasian intervensi yang telah disusun sebelumnya. Pada diagnosa defisit pengetahuan semua intervensi yang telah disusun dilakukan semua pada tindakan keperawatan sehingga tidak ditemukan kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus.

Dalam dokumen KARYA TULIS ILMIAH (Halaman 123-130)

Dokumen terkait