ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. M DENGAN GANGGUAN MOBILITAS FISIK PADA DIAGNOSA MEDIS CVA INFARK
DI DESA KEPEL BUGUL KIDUL PASURUAN
Oleh : MEGA SILFIA
NIM. 1801071
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN POLITEKNIK KESEHATAN KERTA CENDEKIA
SIDOARJO
2021
i
KARYA TULIS ILMIAH
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. M DENGAN GANGGUAN MOBILITAS FISIK PADA DIAGNOSA MEDIS CVA INFARK
DI DESA KEPEL BUGUL KIDUL PASURUAN
Oleh : MEGA SILFIA
NIM. 1801071
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN POLITEKNIK KESEHATAN KERTA CENDEKIA
SIDOARJO
2021
ii
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. M DENGAN GANGGUAN MOBILITAS FISIK PADA DIAGNOSA MEDIS CVA INFARK
DI DESA KEPEL BUGUL KIDUL PASURUAN
Sebagai Prasyarat untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya Keperawatan (Amd. Kep) di Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia Sidoarjo
Oleh : MEGA SILFIA
NIM. 1801071
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN POLITEKNIK KESEHATAN KERTA CENDEKIA
SIDOARJO
2021
v
vi
اَهَعْس ُو اَلِّا اًسْفَن اُٰاللّ اُفِ لَكُي اَلّ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(Q.S Al-Baqarah: 286)
“Ilmu itu lebih baik dari kekayaan, karena kekayaan itu harus kamu jaga, sedangkan ilmu yang akan menjagamu.” -Ali bin Abi Thalib
“Memulai dengan penuh keyakinan Menjalankan dengan penuh keikhlasan Menyelesaikan dengan penuh kebahagiaan
Kemenangan yang seindah-indahnya dan sesukar-sukarnya yang boleh direbut oleh manusia ialah menundukan diri sendiri.”
– Ibu Kartini
“Life is never flat” - Chitato
vii
Syukur alhamdulillah senantiasa saya panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga Laporan Tugas Akhir ini dapat terselesaikan dengan baik.
Tugas akhir ini saya persembahkan kepada:
Untuk mama, kakak dan adik saya ucapkan banyak terima kasih karena selama ini telah memberi dukungan, doa dan semangat. Semoga Allah SWT memberi saya kesempatan untuk membahagiakan kalian kelak.
Untuk bapak dan ibu dosen terutama Bapak Kusuma Wijaya Ridi Putra, S.Kep.Ns., MNS, Ibu Faida Annisa, S.Kep.Ns., MNS, Ibu Erik Kusuma, S.Kep.Ns, M. Kes, Ibu Ayu Dewi Nastiti, S. Kep. Ns. M. Kep. Terimakasih saya ucapkan atas ilmu, bimbingan dan pelajaran hidup yang telah diberikan kepada saya tanpa bapak dan ibu dosen semua ini tidak akan berarti.
Untuk sahabat-sahabat saya, Syakira Sierly Amalia, Ika Septi Eriyanti, Syrah Nabawiyah, Natasya Lady Cerella, Jihan Vidia Pangesti, M. Zainul Abidin, M.
Zainul Akbar, Mustofal Amin, M. Ismail, Candra Setiawan. Terima kasih karena hingga saat ini tetap mensupport dan saling memberi semangat. Semoga kebersamaan ini tetap terjalin erat.
Untuk teman-teman saya, Mathlubi Thoriq Zuhdi, Yoga Afta Alfian, Dicky Akbar Permana, Fadilah Juliantono, Tirta Iis Ramadhani. Terimakasih karena telah menemani dan mendukung saya dalam pengerjaan karya tulis ilmiah ini.
Untuk teman seperjuangan saya yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, saya ucapkan terima kasih atas kebersamaan selama ini, ada suka duka yang kita lewati. Tetapi tak apa semua itu untuk pendewasaan kita masing-masing. Semoga kita dapat meraih kesuksesan sesuai harapan kita. Aamiin.
viii
Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya, sehingga dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. M DENGAN GANGGUAN MOBILITAS FISIK PADA DIAGNOSA MEDIS CVA INFARK DI DESA KEPEL BUGUL KIDUL PASURUAN” ini dengan tepat waktu sebagai persyaratan akademik dalam menyelesaikan Program D3 Keperawatan di Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia Sidoarjo.
Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan berbagai pihak, untuk itu kami mengucapkan banyak terimakasih kepada:
1. Untuk orangtua saya, kakak dan adik saya yang telah memberikan dukungan dan motivasi dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.
2. Agus Sulstyowati, S. Kep., M, Kes selaku Direktur Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo yang telah mengesahkan Karya Tulis Ilmiah ini.
3. Faida Annisa, S.Kep.Ns, MNS selaku pembimbing I yang selalu bijaksana memberikan bimbingan, mencurahkan perhatian, doa dan nasihat serta yang selalu meluangkan waktunya untuk membantu penulis menyelesaikan penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.
4. Erik Kusuma, S. Kep.Ns., M. Kes selaku pembimbing II yang selalu memberikan bimbingan, nasihat serta waktunya selama penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.
5. Keluarga responden yang telah memberikan kesempatan untuk dapat memberikan asuhan keperawatan keluarga.
6. Para sahabat yang telah mendukung untuk terselesaikannya Karya Tulis Ilmiah ini dengan tepat waktu, saling menyemangati dan memotivasi.
7. Teman-teman senasib dan seperjuangan Mahasiswa Keperawatan Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia Sidoarjo Tahun 2018. Terimakasih atas dukugan dan bantuan yang telah diberikan.
8. Pihak-pihak yang turut berjasa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
ix
x
Sampul Depan ... i
Sampul Depan Persyaratan Gelar... ii
Surat Pernyataan... iii
Lembar Persetujuan Karya Tulis Ilmiah ... iv
Halaman Pengesahan ... v
Motto ... vi
Lembar Persembahan ... vii
Kata Pengantar ... viii
Daftar Isi... x
Daftar Tabel ... xiii
Daftar Gambar ... xiv
Daftar Lampiran ... xv
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1.3.1 Tujuan Umum ... 4
1.3.2 Tujuan Khusus... 5
1.4 Manfaat Penelitian ... 5
1.4.1 Manfaat Teoritis ... 5
1.4.2 Manfaat Praktis ... 6
1.5 Metode Penulisan ... 6
1.5.1 Metode ... 6
1.5.2 Teknik Pengumpulan Data ... 7
1.5.3 Sumber Data ... 7
1.5.4 Studi Kepustakaan ... 7
1.6 Sistematika Penulisan ... 7
1.6.1 Bagian awal ... 8
1.6.2 Bagian inti ... 8
1.6.3 Bagian akhir ... 8
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1 Konsep Penyakit ... 9
2.1.1 Pengertian ... 9
2.1.2 Anatomi Fisiologi Otak ... 9
2.1.3 Klasifikasi CVA (Cerebrovascular Accident) ... 17
2.1.4 Etiologi ... 21
2.1.5 Faktor Risiko Terjadinya CVA (Cerebrovascular Accident) ... 22
2.1.6 Tanda dan Gejala ... 23
2.1.7 Patofisiologi ... 25
2.1.8 Pathway ... 28
2.1.9 Pemeriksaan Penunjang... 29
2.1.10 Komplikasi ... 30
2.1.11 Penatalaksanaan ... 31
xi
2.2.2 Tipe Keluarga ... 34
2.2.3 Tahap Perkembangan Keluarga ... 37
2.2.4 Struktur Keluarga ... 39
2.2.5 Ciri-ciri Struktur Keluarga ... 40
2.2.6 Elemen Struktur Keluarga ... 41
2.2.7 Fungsi Keluarga ... 41
2.2.8 Tugas Keluarga dalam Bidang Kesehatan ... 43
2.2.9 Peran Perawat dalam Keluarga ... 43
2.2.10 Definisi Asuhan Keperawatan Keluarga ... 45
2.2.11 Sasaran Asuhan Keperawatan Keluarga ... 45
2.2.12 Tujuan Asuhan Keperawatan Keluarga... 46
2.3 Konsep Gangguan Mobilitas Fisik ... 47
2.3.1 Definisi Gangguan Mobilitas Fisik ... 47
2.3.2 Batasan Karakteristik ... 48
2.3.3 Faktor yang Berhubungan ... 49
2.3.4 Pengukuran Kekuatan Otot ... 50
2.3.5 Penatalaksannan Gangguan Mobilisasi Secara Umum ... 50
2.4 Konsep Asuhan Keperawatan Pada CVA ... 53
2.4.1 Pengkajian ... 53
2.4.2 Diagnosis Keperawatan ... 60
2.4.3 Intervensi ... 64
2.4.4 Implementasi ... 75
2.4.5 Evaluasi ... 78
2.5 Kerangka Masalah ... 79
BAB 3 TINJAUAN KASUS... 80
3.1 Pengkajian ... 80
3.1.1 Data Umum ... 80
3.1.2 Riwayat dan tahap perkembangan keluarga ... 83
3.1.3 Data lingkungan ... 84
3.1.4 Struktur keluarga ... 86
3.1.5 Fungsi keluarga ... 86
3.1.6 Stress dan koping keluarga ... 88
3.1.7 Pemeriksaan kesehatan tiap individu anggota keluarga ... 89
3.1.8 Harapan keluarga... 93
3.2 Analisa Data ... 94
3.3 Diagnosis Keperawatan ... 95
3.3.1 Prioritas Masalah Keperawatan ... 95
3.3.2 Diagnosis Keperawatan ... 96
3.4 Intervensi Keperawatan... 97
3.5 Implementasi Keperawatan ... 100
3.6 Evaluasi Keperawatan ... 104
BAB 4 PEMBAHASAN ... 107
4.1 Pengkajian ... 107
xii
4.5 Evaluasi Keperawatan ... 114
BAB 5 PENUTUP ... 117
5.1 Simpulan ... 117
5.2 Saran ... 118
DAFTAR PUSTAKA ... 120
LAMPIRAN ... 122
xiii
No Tabel Judul Tabel Hal
Tabel 2. 1 Perbedaan CVA Hemoragik dan CVA Non Hemoragik ... 25
Tabel 2. 2 Nilai Glasglow Coma Scale (GCS) ... 57
Tabel 2. 3 Skala Prioritas Masalah Kesehatan Keluarga ... 63
Tabel 2. 4 Intervensi Keperawatan... 65
Tabel 3. 1 Komposisi Keluarga ... 80
Tabel 3. 2 Pemeriksaan Fisik Anggota Keluarga ... 89
Tabel 3. 3 Analisa Data ... 94
Tabel 3. 4 Skoring Masalah Gangguan Mobilitas Fisik ... 95
Tabel 3. 5 Skoring Masalah Defisit Perawatan Diri ... 95
Tabel 3. 6 Skoring Masalah Defisit Pengetahuan tentang CVA Infark ... 96
Tabel 3. 7 Daftar Diagnosis Keperawatan ... 96
Tabel 3. 8 Intervensi Keperawatan... 97
Tabel 3. 9 Implementasi Keperawatan ... 100
Tabel 3. 10 Evaluasi Keperawatan ... 104
xiv
No Gambar Judul Gambar Hal
Gambar 2. 1 Anatomi Fisiologi Otak ... 9
Gambar 2. 2 Area Otak ... 12
Gambar 2. 3 Batang Otak ... 15
Gambar 2. 4 Syaraf Pada Batang Otak ... 15
Gambar 2. 5 Klasifikasi CVA ... 17
Gambar 2. 6 Etiologi CVA Infark ... 21
Gambar 2. 7 Pathway ... 28
Gambar 2. 8 Kerangka Masalah ... 79
Gambar 3. 1 Genogram ... 81
Gambar 3. 2 Denah Rumah ... 84
xv
No Lampiran Judul Lampiran Hal
Lampiran 1 Satuan Acara Penyuluhan (SAP) ...122
Lampiran 2 Surat Ijin Penelitian ...130
Lampiran 3 Informed Consent ...131
Lampiran 4 Leaflet Mobilisasi Pasien CVA Infark ...132
Lampiran 5 Lembar Konsultasi ...133
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Cerebrovascular Accident (CVA) adalah penyakit atau gangguan
fungsional otak akut fokal maupun global akibat terhambatnya peredaran darah ke otak. Gangguan peredaran darah otak dapat berupa tersumbatnya pembuluh darah otak atau pecahnya pembuluh darah ke otak. Otak yang seharusnya mendapat pasokan oksigen dan zat makanan menjadi terganggu. Kekurangan pasokan oksigen ke otak akan memunculkan kematian sel saraf (neuron). Gangguan fungsi otak ini akan memunculkan gejala CVA (Junaidi, 2011). CVA merupakan kelainan fungsi otak yang bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja, pada masyarakat awam penyakit ini lebih dikenal dengan istilah stroke. CVA merupakan penyebab kematian dan kecacatan paling umum di dunia. CVA juga merupakan penyebab kecacatan jangka panjang dan memiliki dampak emosional, sosial dan ekonomi bagi pasien, keluarga dan layanan kesehatan. Gangguan mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara mandiri. (PPNI, 2016). Gangguan mobilitas fisk dapat terjadi pada pasien CVA disebabkan oleh kerusakan pada beberapa sistem saraf pusat yang meregulasi gerakan volunter yang menyebabkan gangguan kesejajaran tubuh, keseimbangan dan mobilisasi (Potter & Perry, 2010). Gangguan mobilitas fisik ini menghambat aktivitas pasien setiap harinya. Dampak dari gangguan mobilitas fisik dalam tubuh dapat mempengaruhi sistem tubuh, seperti perubahan pada metabolisme tubuh, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, gangguan dalam kebutuhan nutrisi, gangguan fungsi gastrointestinal, perubahan sistem
pernapasan, perubahan sistem muskuloskletal, perubahan kulit, perubahan eliminasi (buang air besar dan kecil) dan perubahan prilaku. Hal ini dapat semakin buruk jika tidak segera mendapatkan perawatan yang tepat.
WHO atau World Health Organizaton (2015), menyatakan bahwa ada sebesar 7,9% kematian disebabkan oleh CVA yang sedang terjadi di Indonesia. Di negara maju terdapat 10% kemungkinan bahwa CVA merupakan penyebab kematian setelah kanker 12% dan jantung koroner 13%. Sedangkan penduduk yang menderita CVA di Indonesia dengan jenis kelamin laki-laki 11% dan perempuan 10,9%. Sedangkan di Provinsi Jawa Timur angka penderita mencapai 36,32% dengan angka kematian 1 per 20 dari pada tingkat rehabilitasi maupun kesembuhannya, jika ditinjau dari gejalanya ada sekitar 10,5% dari 302.987 penduduk di Indonesia, serta 39,4% mengalami kecacatan permanen (imobilisasi) dan 38,7% dapat disembuhkan secara berkala (Riskesdas, 2018). Sekitar 4 dari 10 orang yang terkena CVA ringan kemudian menderita CVA yang sebenarnya.
Yang mengkhawatirkan adalah setengah dari CVA tersebut terjadi dalam kurun waktu 48 jam setelah CVA ringan. Di lingkungan peneliti, terdapat 4 orang dengan CVA dan 2 diantaranya mengalami gangguan mobilitas fisik setelah serangan kedua dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun. Penelitian lain juga menemukan bahwa sekitar 10 persen orang yang pernah mengalami CVA ringan akan mengalami CVA dalam kurun waktu 1 hingga 5 tahun ke depan (Amarenco, 2018).
Menurut World Health Organization (WHO) CVA didefinisikan sebagai suatu gangguan fungisonal otak yang terjadi secara mendadak dengan tanda dan gejala klinik, baik fokal maupun global yang berlangsung lebih dari 24 jam atau
dapat menimbulkan kematian yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak (Yunienwati, 2016). Mekanisme vaskular yang menyebabkan CVA dapat diklasifikasikan menjadi infark (emboli atau trombosis) dan hemoragik. Mayoritas CVA adalah infark serebral. Ketika arteri tersumbat secara akut oleh trombus atau embolus, maka sistem saraf pusat yang diperdarahi akan mengalami infark jika tidak ada perdarahan kolateral yang adekuat. CVA Infark bisa diakibatkan oleh trombosis yaitu pembekuan darah dalam pembuluh darah otak atau leher. Secara umum trombosis serebral tidak terjadi secra tiba-tiba, kehilangan bicara sementara, hemiplegia atau parestesia pada setengah tubuh dapat mendahului awitan paralisis berat pada beberapa jam atau hari. CVA Infark juga bisa diakibatkan oleh emboli yaitu tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah atau material lain yang dibawa ke otak dari bagian tubuh yang lain. Emboli biasanya menyumbat arteri serebral media sehingga menyebabkan disfungsi pada nervus XI assesoris yang dapat menurunkan fungsi motorik dan muskuloskeletal sehingga mengakibatkan kelemahan pada satu sisi atau keempat anggota gerak yaitu hemiparesis dan/atau hemiplegia kanan atau kiri maka dari itu menyebabkan gangguan mobilitas fisik (Brunner dan Suddarth, 2013).
Pemberian latihan pada pasien CVA Infark akibat trombosis dan emboli jika tidak ada komplikasi lain dapat dimulai 2-3 hari setelah serangan. Pada CVA Infark karena trombosis atau emboli pada penderita infark miokard tanpa komplikasi, program latihan dapat dimulai setelah minggu ketiga, tetapi jika segera stabil dan tidak didapatkan aritmia, latihan dapat dimulai pada hari kesepuluh dengan berhati-hati. Pada CVA Infark yang berat lebih aman menunggu sampai tercapai complete CVA Infark, baru dapat dimulai program
latihan, walaupun hanya gerakan pasif yang diberikan. Jika penyebabnya dicurigai dari arteri karotis ditunggu 18 sampai 24 jam dan jika penyebabnya sistem vertebrobasilar tunggu sampai 72 jam sebelum memastikan tidak ada perburukan lagi. Pemberian latihan mobilisasi harus dilanjutkan dan diperlukan setelah keluar dari rumah sakit. Lamanya pemberian latihan tergantung dari tingkat keparahan dan komplikasi. Beberapa penderita CVA Infark dapat cepat sembuh dan ada pula yang memerlukan waktu jangka panjang untuk pemberian terapi, mungkin berbulan-bulan, bahkan bisa bertahun-tahun setelah terjadinya serangan.
Oleh karena itu, peneliti tertarik pada kasus ini berharap dapat memberikan implementasi yang telah terimprovisasi dalam peningkatan kualitas pelayanan serta menambah wawasan keluarga pasien dengan memberikan pendidikan kesehatan terutama pada CVA Infark di lingkungan sekitar khususnya asuhan keperawatan pasien CVA Infark dengan masalah keperawatan gangguan mobilitas fisik.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana asuhan keperawatan pada Ny. M dengan gangguan mobilitas fisik pada diagnosa medis CVA Infark di Desa Kepel Bugul Kidul Pasuruan?
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Menggambarkan asuhan keperawatan pada Ny. M dengan gangguan mobilitas fisik pada diagnosa medis CVA Infark di Desa Kepel Bugul Kidul Pasuruan.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Menggambarkan pengkajian keperawatan pada Ny. M dengan gangguan mobilitas fisik pada diagnosa medis CVA Infark di Desa Kepel Bugul Kidul Pasuruan.
1.3.2.2 Menggambarkan diagnosa keperawatan pada Ny. M dengan gangguan mobilitas fisik pada diagnosa medis CVA Infark di Desa Kepel Bugul Kidul Pasuruan.
1.3.2.3 Menggambarkan perencanaan keperawatan pada Ny. M dengan gangguan mobilitas fisik pada diagnosa medis CVA Infark di Desa Kepel Bugul Kidul Pasuruan.
1.3.2.4 Menggambarkan tindakan keperawatan pada Ny. M dengan gangguan mobilitas fisik pada diagnosa medis CVA Infark di Desa Kepel Bugul Kidul Pasuruan.
1.3.2.5 Menggambarkan evaluasi keperawatan pada Ny. M dengan gangguan mobilitas fisik pada diagnosa medis CVA Infark di Desa Kepel Bugul Kidul Pasuruan.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis
Sebagai kerangka pikir ilmiah dalam pengembangan ilmu keperawatan terutama di keperawatan keluarga dalam lingkup fungsi neurologi pada pasien CVA Infark dengan gangguan mobilitas fisik.
1.4.2 Manfaat Praktis
1.4.2.1 Bagi Pasien dan Keluarga
Pasien dan keluarga dapat mengerti gambaran umum tentang penyakit CVA Infark beserta tindakan yang benar untuk pasien agar pasien mendapatkan tindakan keperawatan yang tepat dalam keluarganya.
1.4.2.2 Bagi Perawat
Sebagai acuan dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien CVA Infark yang mengalami gangguan mobilitas fisik, peningkatan pelayanan dan melakukan pencegahan dengan memberi penyuluhan pada pasien dan keluarga tentang faktor resiko CVA Infark.
1.4.2.3 Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini dapat menjadi masukan, bahan pembelajaran dan menambah ilmu pengetahuan khususnya pada asuhan keperawatan pasien CVA Infark dengan gangguan mobilitas fisik.
1.5 Metode Penulisan 1.5.1 Metode
Metode deskriptif yaitu metode yang sifatnya mengungkapkan peristiwa atau gejala yang terjadi pada waktu sekarang yang meliputi studi kepustakaan yang mempelajari, mengumpulkan, membahas data dengan menggunakan studi pendekatan proses keperawatan dengan langkah-langkah pengkajian, perencanaan pelaksanaan dan evaluasi. Metode ini dilakukan dalam rentang waktu bulan Januari-Maret 2021. Berlokasi di Desa Kepel Glagah Bugul Kidul Kota Pasuruan.
Untuk mengukur batasan gerak atau gangguan mobilitas fisik pada pasien peneliti menggunakan skala kekuatan otot.
1.5.2 Teknik Pengumpulan Data 1.5.2.1 Wawancara
Data diambil/diperoleh percakapan baik dengan klien, keluarga maupun tim kesehatan lain.
1.5.2.2 Observasi
Data yang diambil melalui pengamatan secara langsung terhadap keadaan, reaksi, sikap dan perilaku klien yang dapat diamati.
1.5.2.3 Pemeriksaan
Meliputi pemeriksaan fisik dan laboratorium yang dapat menunjang menegakkan diagnosa dan pengamatan selanjutnya.
1.5.3 Sumber Data 1.5.3.1 Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh dari klien.
1.5.3.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari keluarga/orang terdekat dengan klien, catatan medik, perawat, hasil-hasil pemeriksaan dan tim kesehatan lain.
1.5.4 Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan adalah mempelajari buku sumber yang berhubungan dengan judul studi kasus dan masalah yang dibahas.
1.6 Sistematika Penulisan
Supaya lebih jelas dan lebih mudah dalam mempelajari dan memahami studi kasus ini, secara keseluruhan dibagi menjadi tiga, yaitu :
1.6.1 Bagian awal
Memuat halaman judul, halaman pernyataan, halaman persetujuan, halaman pengesahan, halaman motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan lampiran.
1.6.2 Bagian inti
Terdiri dari lima bab, yang masing-masing bab terdiri dari sub bab berikut ini:
BAB I : Pendahuluan, berisi tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan, manfaat penelitian, metode penulisan dan sistematika penulisan KTI.
BAB II : Tinjauan pustaka, berisi tentang konsep penyakit dari sudut medis dan asuhan keperawatan klien dengan diagnosa CVA Infark serta kerangka masalah.
BAB III : Tinjauan kasus, berisi tentang hasil pelakasaan asuhan keperawatan yang dimulai dari tahap pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pada waktu dan ruang yang digunakan pengambilan kasus.
BAB IV : Pembahasan, berisi tentang deskripsi kesenjangan yang terjadi antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus dalam asuhan keperawatan.
BAB V : Penutup, berisi tentang: simpulan dan saran.
1.6.3 Bagian akhir
Terdiri dari daftar pustaka dan lampiran.
9 BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Konsep Penyakit 2.1.1 PengertianMenurut World Health Organization (WHO) CVA didefinisikan sebagai suatu gangguan fungisonal otak yang terjadi secara mendadak dengan tanda dan gejala klinik, baik fokal maupun global yang berlangsung lebih dari 24 jam atau dapat menimbulkan kematian yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak (Yunienwati, 2016).
CVA infark adalah sindrom klinik yang awal timbulnya mendadak, progresif cepat, berupa defisit neurologi fokal atau global yang berlangsung 24 jam terjadi trombositosis dan emboli yang menyebabkan penyumbatan yang bisa terjadi di sepanjang jalur pembuluh darah arteri yang menuju otak. Darah ke otak disuplai oleh dua arteri karotis interna dan dua arteri vertebralis. Arteri-arteri ini ini merupakan cabang dari lengkung aorta jantung (arcus aorta) (Brunner dan Suddarth, 2013).
2.1.2 Anatomi Fisiologi Otak
Gambar 2. 1 Anatomi Fisiologi Otak (Syaifuddin, 2019)
Otak merupakan alat tubuh yang sangat penting karena merupakan pusat komputer dari semua alat tubuh. Jaringan otak dibungkus oleh selaput otak dan tulang tengkorak yang kuat dan terletak dalam kavum kranii. Berat otak orang dewasa kira-kira 1400 gram, setengah padat dan berwarna kelabu kemerahan.
Otak dibungkus oleh tiga selaput (meningen) dan dilindugi tulang tengkorak. Otak mengapung dalam suatu cairan untuk menunjang otak lembek dan halus. Cairan ini bekerja sebagai penyerap guncangan akibat pukulan dari luar terhadap kepala (Syaifudin, 2019).
Selaput otak (meningen) adalah selaput yang membungkus otak dan sumsum tulang belakang untuk melindungi struktur saraf yang halus membawa pembuluh darah dan cairan sekresi serebrospinalis memperkecil benturan atau getaran pada otak dan sumsum tulang belakang. Otak terdiri dari tiga bagian besar: otak besar (cerebrum), batang otak (truncus cerebri) dan otak kecil (cerebelum) (Syaifudin, 2019).
2.1.2.1 Serebrum (Otak Besar)
Serebrum atau otak besar mempunyai dua belahan yaitu hemisfer kiri dan hemisfer kanan yang dihubungkan oleh masa substansia alba yang disebut korpus kolosum. Tiap-tiap hemisfer meluas dari os frontalis sampai ke os oksipitalis. Diatas fosa kranii anterior media dan fosa kranii posterior, hemisfer dipisahkan oleh celah besar disebut fisura longitudinalis serebri. Serebrum (telensefalon) terdiri dari korteks serebri, basal ganglia (korpora striate) dan rheniensefalon. (Syaifuddin, 2019).
Korteks serebri adalah lapisan permukaan hemisfer yang disusun oleh substansia grisea. Korteks serebri berlipat-lipat, disebut girus, dan
celah diantara dua lekuk disebut sulkus (fisura). Beberapa daerah tertentu dari korteks serebri telah diketaui memiliki fungsi spesifik. Pada tahun 1909 Brodmann (seorang neuropsikiater bangsa jerman) membagi korteks serebri menjadi 8 area berdasarkan struktur selular, diantaranya yaitu:
lobus frontalis, lobus parietalis, lobus oksipitalis, lobus temporalis, area broka (area bicara motoris), area visualis, insula reili, girus singuli
(Syaifuddin, 2019).
Basal ganglia terdiri dari beberapa kumpulan substansia grisea yang padat, yang terbentuk dalam hubungan erat dengan dasar ventrikulus lateralis. Ganglia basalis merupakan nuklei subkortikalis yang berasal dari telesenfalon. Pada otak manusia ganglia basalis terdiri atas beberapa elemen saraf. Nuklei basal ganglia mendapat impuls dari daerah motorik dan premotorik. Fungsi yang tepat dari basal ganglia belum jelas.
Perangsangan pada umumnya tidak menunjukkan hasil yang jelas. Pada gerakan lambat dan mantap basal ganglia akan aktif, sedangkan pada gerakan cepat dan tiba-tiba basal ganglia tidak aktif. Basal ganglia sudah aktif sebelum gerakan dimulai, berperan dalam penataan dan perencanaan gerakan yaitu dalam proses konversi pikiran menjadi gerakan volunter.
Aktivitasnya disalurkan melalui talamus menuju korteks dan jarak kortikospinalis merupakan jalur akhir menuju ke neuron motorik (Syaifuddin, 2019).
Rinensefalon atau lobus limbik atau sistem limbik merupakan bagian otak yang terdiri atas jaringan alo-korteks yang melingkar sekeliling hilus hemisfer serebri serta berbagai struktur lain yang lebih
dalam yaitu amigdala, hipokampus dan nuklei septal. Rinensefalon berperan dalam fungsi perilaku penghidupan, perilaku makan dan bersama dengan hipotalamus berfungsi dalam perilaku seksual, emosi takut dan marah, serta motivasi (Syaifuddin, 2019).
Otak besar memiliki dua bagian belahan otak, yaitu belahan otak bagian kanan dan otak bagian kiri. Setiap bagian belahan otak memiliki fungsinya masing-masing, seperti :
1) Belahan otak kanan, fungsinya : (1) Mengontrol sisi tubuh bagian kiri
(2) Bertanggung jawab atas perkembangan Emotional Quotient (EQ) misalnya bersosialisasi, berkomunikasi, mengendalikan emosi, serta berinteraksi dengan manusia yang lain.
(3) Bertanggung jawab atas kemampuan intuitif, kemampuan merasakan, memadukan, serta mengekspresikan tubuh, seperti menari, melukis, bernyanyi maupun kegiatan-kegiatan lainnya.
Gambar 2. 2 Area Otak (Syaifuddin, 2019)
2) Belahan otak kiri, fungsinya : (1) Mengontrol sisi tubuh bagian kanan
(2) Merupakan pusat Intelegent Qoutient (IQ) atau hal-hal yang memiliki hubungan dengan rasio dan logika seperti kemampuan untuk membaca dan menulis.
(3) Kedua belahan otak diatas terhubung oleh corpus callosum, yaitu massa materi putih besar yang terdiri dari ikatan serat yang menghubungkan materi pitih dari dua belahan otak (Syaifuddin, 2012).
2.1.2.2 Serebelum (Otak Kecil)
Serebelum (otak kecil) terletak dalam fosa kranial posterior, dibawah tentorium seberelum bagian posterior dari pons varoli dan medula oblongata. Serebelum mempunyai dua hemisfer yang dihubungkan oleh fermis serebelum, dihubungkan dengan otak tengah oleh pedunkulus serebri superior, dengan pons varoli oleh pedunkulus serebri media, dan dengan medula oblongata oleh pedunkulus serebri inferior (Syaifuddin, 2019).
Serebelum berfungsi dalam mengadakan tonus otot dan mengkoordinasikan gerakan otot pada sisi tubuh yang sama. Berat serebelum lebih kurang 150 gr (8-9%) dari berat otak seluruhnya.
Serebelum merupakan suatu mekanisme umpan balik yang bertujuan untuk mengendalikan pergerakan-pergerakan selagi pergerakan sedang berlangsung. Fungsi utama mengembalikan tonus otot diluar kesadaran, merupakan suatu mekanisme saraf yang berpengaruh dalam
pengaturan dan pengendalian terhadap perubahan ketegangan otot, untuk mempertahankan keseimbangan sikap tubuh, terjadinya kontraksi dengan lancar dan teratur pada gerakan dibawah pengendalian kemauan dan mempunyai aspek keterampilan (Syaifuddin, 2019).
Setiap pergerakan memerlukan suatu koordinasi dalam kegiatan sejumlah otot. Otot antagonis harus mengalami relaksasi secara teratur, otot sinergis berusaha memfiksasi sendi sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan oleh pergerakan. Lesi yang mengenai neuroserebelum ditandai oleh terganggunya gerakan-gerakan halus yang ditimbulkan oleh piramidal (Syaifuddin, 2019).
Gangguan tersebut meliputi:
1) Otot dalam keadaan hipotoni lemah dan mudah lelah.
2) Gangguan pergerakan dalam bentuk asinergi, misalnya dalam bentuk:
(1) Dismetri, ketidakmampuan menghentikan pergerakan.
(2) Fenomen pantulan, mengadakan fleksi didaerah siku dengan melawan suatu tahanan.
(3) Ketidakmampuan melakukan gerakan cepat yang bersifat alternatif.
(4) Bicara terpotong-potong.
(5) Gerakan asosiatif yang tidak teratur.
(6) Ataksia, kecendrungan untuk jatuh ke satu sisi.
3) Nistagmus serebral: mekanisme yang mengendalikan sinergi dan tonus intrinsik bola mata terganggu, klien menjadi goyah dan tidak stabil, kecendrungan jatuh ke belakang. Apabila otot bicara terlibat, kata-kata menjadi tidak terkendali dan tidak jelas (Syaifuddin, 2019).
2.1.2.3 Batang Otak
Pada permukaan batang otak (truncus serebri) terlihat medula oblongata, pons varoli, mensefalon dan diensefalon. Talamus dan epitalamus terlihat di permukaan posterior batang otak, terletak diantara serabut kapsula interna. Di sepanjang tepi dorso medial talamus terdapat sekelompok serabut saraf berjalan ke posterior basis epifise (Syaifuddin, 2019). Batang otak merupakan tempat melekatnya seluruh syaraf kranial, kecuali syaraf I dan II yang melekat pada otak besar (serebrum).
Gambar 2. 3 Batang Otak (Syaifuddin, 2019)
Gambar 2. 4 Syaraf Pada Batang Otak (Syaifuddin, 2019)
Hipotalamus terletak dibagian ventral dari talamus, diatas kelenjar hipofisis, dan membentuk dasar dari dinding lateral ventrikel. Hipotalamus mempunyai beberapa nukleus. Setiap nukleus mempunyai fungsi masing- masing dalam mengatur fungsi internal tubuh, salah satu fungsi penting adalah mengatur keseimbangan tubuh. Hipotalamus dianggap sebagai salah satu pusat utama yang berkaitan dengan ekspresi emosi, menerjemahkan emosi yang timbul di daerah korteks melalui proses asosiasi intrakortial, menjadi reaksi emosional yang sesuai dengan keadaan. Hipotalamus merupakan daerah sinaps yang penting dalam jalur- jalur yang bersangkutan dengan kegiatan makan dan minum (rasa haus dan lapar) (Syaifuddin, 2019).
2.1.2.4 Viskositas
Otak memperoleh darah dari dua pembuluh besar, yaitu : karotis atau sirkulasi anterior dan vetebra atau sirkulasi posterior. Masing-masing sistem terlepas dari arkus aorta sebagai pasangan pembuluh, karotis komunis kanan dan kiri serta vetebra kanan dan kiri. Masing-masing karotis membentuk bifurkasi untuk membentuk arteri karotis interna dan eksterna. Arteri vetebra berawal dari arteri subklavia. Vetebra bergabung membentuk arteri basiler dan selanjutnya memecah untuk membentuk kedua arteri serebral posterior yang mensuplai permukaan otak inferior dan mediana juga bagian lateral lobus oksipital. Sistem karotis terutama melayani hemisfer otak dan sistem vetebrabasilaris terutama memberi darah bagi batang otak, serebelum dan bagian posterior hemisfer. Aliran darah di otak (ADO) dipengaruhi terutama oleh 3 faktor. Dua yang paling
penting adalah tekanan untuk memompa darah dari sistem arteri kapiler ke sistem vena dan tahanan (perifer) pembuluh darah otak. Faktor ketiga adalah faktor darah sendiri yaitu viskositas dan kougulobilitasnya (kemampuan untuk membeku) (Syaifuddin, 2012).
2.1.3 Klasifikasi CVA (Cerebrovascular Accident)
Para ahli mengklasifikasikan CVA menjadi beberapa macam.
Pengklasifikasian tersebut berdasarkan gambaran klinis, patologi anatomi, sistem pembuluh darah dan stadiumnya. Dasar klasifikasi yang berbeda-beda ini perlu karena setiap jenis CVA mempunyai cara pengobatan, preventif dan prognosis yang berbeda, walaupun patogenesisnya serupa (Yueniwati, 2016).
Klasifikasi modifikasi Marshall untuk CVA adalah sebagai berikut:
2.1.3.1 Berdasarkan patologi antomi dan penyebabnya:
1) CVA Iskemia (CVA Infark)
CVA iskemia yaitu tersumbatnya pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan terhenti. CVA iskemia secara umum diakibatkan oleh aterotrombosis pembuluh darah serebral
Gambar 2. 5 Klasifikasi CVA (Yueniwati, 2016)
baik yang besar maupun yang kecil. Pada CVA iskemia, penyumbatan bisa terjadi disepanjang jalur pembuluh darah arteri yang menuju otak.
(1) Transient Ischemic Attack (TIA)
Transient Ischemic Attack (TIA) adalah gangguan neurologis
fungsional yang mendadak dan terbatas pada wilayah vaskular dan biasanya berlangsung kurang dari 15 menit dengan resolusi lengkap selama 24 jam. Meskipun TIA memiliki berbagai penyebab, tetapi pada umumnya disebabkan karena suplai darah sementara yang tidak memadai untuk suatu wilayah fokus otak. TIA bukan suatu gangguan yang jinak dan hampir sepertiga pasien akhirnya akan memiliki infark serebral (sekitar 20% dalam waktu 1 bulan kejadian CVA berawal dari TIA).
(2) Trombosis serebri
Hampir separuh insiden CVA Infark trombosis. Jenis CVA ini ditandai dengan penggumpalan darah pada pembuluh darah yang mengarah menuju otak. Biasa pula disebut dengan serebral trombosis.
Proses trombosis dapat terjadi di dua lokasi yang berbeda, yaitu pembuluh darah besar erat kaitannya dengan aterosklerosis, sedangkan trombosis pada pembuluh darah kecil biasanya dialami oleh penderita hipertensi.
(3) Emboli serebri
Merupakan jenis CVA dimana penggumpalan darah bukan terjadi pada pembuluh darah otak melainkan pada pembuluh darah yang lainnya. Kebanyakan insiden terjadi karena trombosis pada pembuluh
darah jantung. Menurutnya pasokan darah dari jantung yang kaya oksigen dan nutrisi ke otak adalah faktor utama yang menjadi penyebabnya.
2) CVA Hemoragik (CVA Hemoragik)
CVA hemoragik disebabkan oleh perdarahan ke dalam jaringan otak (disebut hemoragia intraserebrum atau hematom intraserebrum) atau perdarahan ke dalam ruang subarakhnoid, yaitu ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak (disebut hemoragia subarakhnoid atau hematom subarakhnoid). CVA hemoragik merupakan jenis CVA yang paling mematikan dan merupakan sebagian kecil dari keseluruhan CVA yaitu sebesar 10-15% untuk perdarahan intraserebrum dan sekitar 5% untuk perdarahan subarakhnoid.
(1) Perdarahan intraserebral
Perdarahan terjadi didalam otak, biasanya pada ganglia batang otak, otak kecil dan otak besar. Jenis CVA ini yang menimbulkan dampak paling fatal. Sebagian besar pasien yang mendapat serangan CVA jenis ini tidak dapat tertolong karena untuk mengatasinya memerlukan tindakan operasi yang harus dilakukan segera mungkin.
(2) Perndarahan subarakhnoid
CVA hemoragik subaraknoid ditandai dengan perdarahan yang terjadi diluar otak, yaitu di pembuluh darah yang berada di bawah otak atau diselaput otak. Perdarahan tersebut menekan otak sehingga suplai darah ke otak berhenti. Ketika darah yang berasal dari pembuluh darah yang bocor bercampur dengan cairan yang ada dibatang atau selaput otak,
maka darah tersebut akan menghalangi aliran cairan otak sehingga menimbulkan tekanan. Insiden CVA hemoragik subaraknoid paling sering terjadi pada penderita hidrosefalus.
2.1.3.2 Berdasarkan stadium/pertimbangan waktu:
1) Transient Ischemic Attack (TIA)
Transient Ischemic Attack (TIA) adalah gangguan neurologis
fungsional yang mendadak dan terbatas pada wilayah vaskular dan biasanya berlangsung kurang dari 15 menit dengan resolusi lengkap selama 24 jam. Meskipun TIA memiliki berbagai penyebab, tetapi pada umumnya disebabkan karena suplai darah sementara yang tidak memadai untuk suatu wilayah fokus otak. TIA bukan suatu gangguan yang jinak dan hampir sepertiga pasien akhirnya akan memiliki infark serebral (sekitar 20% dalam waktu 1 bulan kejadian CVA berawal dari TIA).
2) CVA-in-evolution
Cerebro Vaskuler Accident (CVA) yang terjadi masih terus
berkembang dimana gangguan neurologis terlihat semakin berat. Proses dapat berjalan 24 jam atau beberapa hari.
3) Completed CVA
Gangguan neurologi yang timbul sudah menetap atau permanen. Sesuai dengan istilahnya CVA komplit dapat diawali oleh serangan TIA (Trans Iskemik Attack) berulang.
2.1.3.3 Berdasarkan sistem pembuluh darah:
1) Sistem karotis (sirkulasi anterior)
2) Sistem vetebro-basiler (sirkulasi posterior) (Yueniwati, 2016).
2.1.4 Etiologi
CVA Infark terjadi karena suplai darah ke otak terganggu dikarenakan pembuluh darah di otak terjadi penyumbatan. Trombosis otak, aterosklerosis dan emboli serebral yang membentuk plak akan menyebabkan dinding pembuluh darah di otak tersumbat. Penyebab penyakit CVA ini bisa disebabkan karena darah tinggi, kolestrol tinggi, kegemukan, gaya hidup kurang sehat, perokok, rusaknya motorik pada neuron (Muttaqin, 2008).
Etiologi CVA, yaitu:
2.1.4.1 Trombosis arteri (atau vena) pada sistem saraf pusat dapat disebabkan oleh salah satu atau lebih dari trias Virchow:
1) Abnormalitasnya dinding pembuluh darah, umumnya penyakit degeneratif, dapat juga inflamasi (vaskulitis) atau trauma (diseksi), 2) Abnormalitas darah, misalnya polisitemia ( jumlah sel darah merah di
dalam tubuh terlalu banyak), 3) Ganngguan aliran darah.
Gambar 2. 6 Etiologi CVA Infark (Yueniwati, 2016)
2.1.4.2 Embolisme dapat merupakan komplikasi dari penyakit degeneratif arteri sistem saraf pusat atau dapat juga berasal dari jantung:
1) Penyakit katup jantung, 2) Fibrilasi atrium,
3) Infark miokard yang baru terjadi.
Penyebab tersering CVA adalah penyakit degeneratif arterial, baik aterosklerosis pada pembuluh darah besar (dengan tromboemboli) maupun penyakit pembuluh darah kecil (lipohialinosis). Kemungkinan berkembangnya penyakit degeneratif arteri yang signifikan meningkat pada beberapa faktor risiko vaskular (Wijaya dan Putri, 2015).
2.1.5 Faktor Risiko Terjadinya CVA (Cerebrovascular Accident)
2.1.5.1 Hipertensi, merupakan faktor risiko utama. Hipertensi dapat menyebabkan arterosklerosis pembuluh darah serebral, sehingga pembuluh darah tersebut mengalami penebalan dan degenerasi yang kemudian pecah atau menimbulkan perdarahan.
2.1.5.2 Penyakit kardiovaskuler, misalnya embolisme serebral berasal dari jantung seperti penyakit arteri koronia, gagal jantung kongestif, hipertrofli ventrikel kiri, abnormalitas irama pada fibrilasi atrium.
2.1.5.3 Diabetes melitus
2.1.5.4 Perokok, nikotin yang menumpuk dan menjadi plak dapat menghambat aliran darah.
2.1.5.5 Alkoholik, alkohol dapat menyebabkan hipertensi, penurunan aliran darah ke otak dan kardiak aritmia serta kelainan pembuluh darah sehingga terjadi emboli serebral.
2.1.5.6 Peningkatan kolestrol 2.1.5.7 Obesitas
2.1.5.8 Aterosklerosis, elasititas pembuluh darah menurun, sehingga perfusi otak menurun juga sehingga menyebabkan CVA.
2.1.5.9 Kontrasepsi, hipertensi yang menyertai usia di atas 35 tahun dan kadar esterogen yang tinggi.
2.1.5.10 Riwayat kesehatan adanya CVA 2.1.5.11 Umur
2.1.5.12 Stress emosional (Wijaya dan Putri, 2015).
2.1.6 Tanda dan Gejala
Gejala klinis pada pasien CVA (Cerebro Vaskuler Accident), yaitu:
2.1.6.1 Kehilangan Motorik
CVA (Cerebro Vaskuler Accident) adalah penyakit otot neuron atas dan mengakibatkan kehilangan kontrol volunter terhadap gerakan motorik, misalnya:
1) Hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi tubuh) 2) Hemiparesis (kelemahan pada salah satu sisi tubuh) 3) Menurunnya tonus otot abnormal
2.1.6.2 Kehilangan komunikasi
Fungsi otak yang mempengaruhi oleh CVA (Cerebro Vaskuler Accident) adalah bahasa dan komunikasi, misalnya :
1) Disartria, yaitu kesulitan berbicara yang ditunjukan dengan bicara yang sulit dimengerti yang disebabkan oleh paralisis otot yang bertanggung jawab untuk menghasilkan bicara.
2) Disfasia atau afasia atau kehilangan bicara yang terutama ekspresif atau arefresif. Apraksia yaitu ketidakmampuan untuk melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya.
2.1.6.3 Gangguan persepsi
1) Hemonimus hemianopsia, yaitu kehilangan setengah lapang pandang dimana sisi visual yang terkena berkaitan dengan sisi tubuh yang paralisis.
2) Amorfosintesis, yaitu keadaan dimana cenderung berpaling dari sisi tubuh yang sakit dan mengabaikan sisi atau ruang yang sakit tersebut.
3) Gangguan hubungan visual spasia, yaitu gangguan dalam mendapatkan hubungan dua atau lebih objektif dalam area spasial.
4) Kehilangan sensori, antara lain tidak mampu merasakan posisi dan gerakan bagian tubuh (kehilangan propioseptik) sulit menginterprestasikan stimulasi visual, taktil auditorius
(Wijaya dan Putri, 2015).
Tabel 2. 1 Perbedaan CVA Hemoragik dan CVA Non Hemoragik
Gejala Klinis CVA Hemoragik CVA Non
Hemoragik
PIS PSA
Gejala defisit lokal Berat Ringan Berat/Ringan
SIS sebelumnya Amat jarang - +/biasa
Permulaan (Onset) Menit/jam 1-2 menit Pelan (jam/hari)
Nyeri Kepala Hebat Sangat hebat Ringan/tidak
ada Muntah pada
awalnya Sering Sering
Tidak, kecuali lesi dibatang otak
Hipertensi Hampir selalu Biasanya tidak Sering
Kesadaran Bisa hilang Bisa hilang
sebentar Bisa hilang
Kaku kuduk Jarang Bisa ada pada
permulaan Tidak ada
Hemiparesis Sering, diawal Tidak ada Sering, diawal
Deviasi mata Bisa ada Tidak ada Mungkin ada
Gangguan bicara Sering Jarang Sering
Likuor Sering berdarah Selalu berdarah Jernih
Perdarahan
subhialoid Tidak ada Bisa ada Tidak ada
Paresis/Gangguan
N11 - Mungkin (+) -
(Sumber: Sholeh, 2019) 2.1.7 Patofisiologi
Setiap kondisi yang menyebabkan perubahan perfusi darah pada otak akan menyebabkan keadaan hipoksia. Hipoksia yang berlangsung lama dapat menyebabkan iskemik otak. Iskemik yang terjadi dalam waktu singkat kurang dari 10-15 menit dapat menyebabkan defisit sementara dan bukan defisit permanen.
Sedangkan iskemik yang terjadi dalam waktu lama dapat menyebabkan sel mati permanen dan mengakibatkan infark pada otak (Fransisca, 2011).
Setiap defisit fokal permanen akan bergantung pada daerah otak mana yang terkena. Daerah otak yang terkena akan menggambarkan pembuluh darah otak yang terkena. Pembuluh darah yang paling sering mengalami iskemik adalah arteri serebral tengah dan arteri karotis interna. Defisit fokal permanen dapat tidak
diketahui jika klien pertama kali mengalami iskemik otak total yang dapat teratasi (Fransisca, 2011).
Jika aliran darah ke tiap bagian otak terhambat karena trombus atau emboli maka mulai terjadi kekurangan suplai oksigen ke jaringan otak. Kekurangan oksigen dalam satu menit menunjukkan gejala yang dapat pulih seperti kehilangan kesadaran. Sedangkan kekurangan oksigen dalam waktu lama menyebabkan nekrosis mikroskopik neuron-neuron. Area yang mengalami nekrosis disebut infark (Fransisca, 2011).
Gangguan peredaran darah otak akan menimbulkan gangguan pada metabolisme sel-sel neuron, dimana sel-sel neuron tidak mampu menyimpan glikogen sehingga kebutuhan metabolisme tergantung dari glukosa dan oksigen yang terdapat pada arteri-arteri yang menuju otak (Fransisca, 2011).
Perdarahan intakranial termasuk perdarahan ke dalam ruang subarakhnoid atau ke dalam jaringan otak sendiri. Hipertensi mengakibatkan timbulnya penebalan dan degeneratif pembuluh darah yang dapat menyebabkan rupturmya arteri serebral sehingga perdarahan menyebar dengan cepat dan menimbulkan perubahan setempatserta iritasi pada pembuluh darah otak (Fransisca, 2011).
Perdarahan biasanya berhenti karena pembentukan trombus oleh fibrin trombosit dan oleh tekanan jaringan. Setelah 3 minggu, darah mulai direabsorbsi.
Ruptur ulangan merupakan risiko serius yang terjadi sekitar 7-10 hari setelah perdarahan pertama (Fransisca, 2011).
Ruptur ulangan mengakibatkan terhentinya aliran darah ke bagian tertentu, menimbulkan iskemik fokal dan infark jaringan otak. Hal tersebut dapat menimbulkan gegar otak dan kehilangan kesadaran, peningkatan tekanan cairan
serebrospinal (CSS) dan menyebabkan gesekan otak (otak terbelah sepanjang serabut). Perdarahan mengisi ventrikel atau hematoma yang merusak jaringan otak (Fransisca, 2011).
Perubahan sirkulasi CSS, obstruksi vena, adanya edema dapat meningkatkan tekanan intrakranial yang membahayakan jiwa dengan cepat.
Peningkatan tekanan intrakranial yang tidak diobati mengakibatkan herniasi unkus atau serebelum. Disamping itu, terjadi bradikardia, hipertensi sistemik dan gangguan pernapasan (Fransisca, 2011).
Darah merupakan bagian yang merusak dan bila terjadi hemodialisa, darah dapat mengiritasi pembuluh darah, meningen dan otak. Darah dan vasoaktif yang dilepas mendorong spasme arteri yang berakibat menurunnya perfusi serebral.
Spasme serebri atau vasospasme biasa terjadi pada hari ke-4 sampai ke-10 setelah terjadinya perdarahan dan menyebabkan kontriksi arteri otak. Vasospasme merupakan komplikasi yang mengakibatkan terjadinya penurunan fokal neurologis, iskemik otak dan infark (Fransisca, 2011).
28 2.1.8 Pathway
Gambar 2. 7 Pathway (Wijaya dan Putri, 2015)
Faktor yang dapat dimodifikasi : 1. Hipertensi
2. Hiperkolestrolimia 3. Diabetes Melitus
4. Riwayat penyakit jantung 5. Gaya hidup (obesitas, diet, stress) Faktor yang tidak dapat dimodifikasi :
1. Umur 2. Ras
3. Jenis kelamin
4. Genetik Penimbunan lemak/kolestrol yang meningkat dalam aliran darah
Lemak yang sudah nekrotik & berdegenerasi Terbentuk trombus arterial dan emboli
Penyumbatan pembuluh darah otak Suplai darah dan O2 ke otak menurun
Iskemik jaringan pada otak Hipoksia
CVA NON HEMORAGIK
Iskemik pada arteri vetebra basilasris
Iskemik pada arteri carotis interna
Iskemik pada arteri cerebri media Gangguan premotor area
Kerusakan neuromuskular
Kegagalan menggerakkan anggota tubuh / Hemiplegia Gangguan
Mobilitas Fisik Kelemahan anggota gerak / Hemiparesis
Gangguan Integritas Kulit/Jaringan Defisit
Perawatan Diri
Gangguan motorspeech area Disfasia, Afasia, Amourasis Fulgaks Gangguan Komunikasi Verbal
Gangguan gustatory area Disfagia Gangguan Menelan
Gangguan visual area Gangguan pengelihatan
atau pergerakan bola mata, diplopia Gangguan Persepsi Sensori Pengelihatan
Defisit Pengetahuan Kurangnya
informasi Kecemasan
2.1.9 Pemeriksaan Penunjang
Menurut Wijaya dan Putri (2015) beberapa pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada penderita CVA, antara lain:
2.1.9.1 Angiografi serebral
Membantu menentukan penyebab CVA secara spesifik seperti perdarahan, obstruktif arteri, oklusi, ruptur.
2.1.9.2 EEG (Elektro Encefalography)
Mengidentifikasi masalah didasarkan pada gelombang otak atau mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.
2.1.9.3 Sinar X tengkorak
Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawan dari masa yang luas, klasifikasi karotis interna terdapat pada trombus serebral. Klasifikasi parsial dinding, aneurisma pada perdarahan sub arakhnoid.
2.1.9.4 Ultrasonography Doppler
Mengidentifikasi penyakit arteriovena (masalah sistem arteri karotis /aliran darah /muncul plak/ arterosklerosis.
2.1.9.5 CT-Scan
Memperlihatkan adanya edema, hematoma, iskemia, dan adanya infark.
2.1.9.6 MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Menunjukan adanya tekanan anormal dan biasanya ada trombosis, emboli, dan TIA, tekanan meningkat dan cairan mengandung darah menunjukan, hemoragi sub arakhnoid/perdarahan intakranial.
2.1.9.7 Pemeriksaan foto thorax
Dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi kronis pada penderita CVA, menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah berlawanan dari massa yang meluas.
2.1.9.8 Pemeriksaan laboratorium
1) Fungsi lumbal: tekanan normal biasanya ada trombosis, emboli dan TIA. Sedangkan tekanan yang meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukan adanya perdarahan sub arakhnoid atau intrakranial.
2) Pemeriksaan darah rutin.
3) Pemeriksaan kimia darah: pada CVA akut dapat terjadi hiperglikemia.
2.1.10 Komplikasi
Ada beberapa komplikasi CVA menurut Junaidi (2011), yaitu:
2.1.10.1 Dalam hal mobilisasi:
1) Infeksi pernapasan (pneumoni) 2) Nyeri tekan pada dekubitus 3) Konstipasi
2.1.10.2 Dalam hal paralisis:
1) Nyeri pada punggung 2) Dislokasi sendi, defromitas 2.1.10.3 Dalam hal kerusakan otak:
1) Epilepsi 2) Nyeri kepala
2.1.10.4 Hipoksia serebral 2.1.10.5 Herniasi otak 2.1.10.6 Kontraktur 2.1.11 Penatalaksanaan
2.1.11.1 Penatalaksanaan umum
1) Posisi kepala dan badan diatas 20-30 derajat, posisi lateral dekubitus bila disertai muntah. Boleh dimulai mobilisasi bertahap bila hemodinamik stabil.
2) Bebaskan jalan nafas dan usahakan ventilasi adekuat bila perlu berikan oksigen 1-2 liter/menit.
3) Kandung kemih yang penuh dikosongkan dengan kateter.
4) Suhu tubuh harus dipertahankan.
5) Nutrisi peroral hanya boleh diberikan setelah tes fungsi menelan baik, bila terhadap gangguan menelan atau pasien yang kesadaran menurun, dianjurkan pemasangan NGT.
6) Mobilisasi dan rehabilitasi dini jika tidak ada kontraidikasi.
2.1.11.2 Penatalaksanaan Medis
1) Trombolitik (streptokinase)
2) Anti platelet/anti trombolitit (asetosol, ticlopidin, clostazol, dipiridamol)
3) Antikoagulan (heparin) 4) Hemoragea (pentoxifilyn)
5) Antagonis serotonin (naftidrofuryl)
6) Antagonis calcium (nomodipin, piracetam)
2.1.11.3 Penatalaksanaan Khusus
1) Atasi kejang (antikonvulsan)
2) Atasi tekanan intrakranial yang meninggi dengan manitol, gliserol, furosemide, intubasi, steroid dll)
3) Atasi dekompresi (kraniotomi) 4) Untuk penatalaksanaan faktor risiko, (1) Atasi hipertensi (anti hipertensi)
(2) Atasi hiperglikemia (anti hiperglikemia) (3) Atasi hiperurisemia (anti hiperurisemia) (Wijaya dan Putri, 2015)
2.1.12 Upaya Pencegahan 2.1.12.1 Mengurangi kegemukan 2.1.12.2 Berhenti merokok 2.1.12.3 Berhenti minum kopi 2.1.12.4 Batasi makan garam / lemak 2.1.12.5 Tingkatkan masukan kalium 2.1.12.6 Rajin berolahraga
2.1.12.7 Mengubah gaya hidup
2.1.12.8 Menghindari obat-obat yang dapat meningkat tekanan darah (Wijaya dan Putri, 2015)
2.2 Konsep Dasar Keluarga 2.2.1 Definisi Keluarga
Menurut Bailon dan Maglaya (1997) Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan, atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, dan saling berinteraksi satu sama lainnya dalam perannya menciptakan dan mempertahankan suatu budaya. Menurut Stanhope dan Lancaster (1996) Keluarga adalah dua atau lebih individu yang berasal dari kelompok keluarga yang sama atau yang berbeda dan saling menikutsertakan dalam kehidupan yang terus menerus, biasanya bertempat tinggal dalam satu rumah, mempunyai ikatan emosional dan adanya pembagian tugas antara satu dengan yang lainnya. Menurut Allender dan Spradley (2001) Keluarga adalah satu atau lebih individu yang tinggal bersama, sehingga mempunyai ikatan emosional, dan mengembangkan dalam interelasi sosial, peran dan tugas.
Dari beberapa pengertian tentang keluarga maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah (Depkes, 2000):
2.2.1.1 Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi.
2.2.1.2 Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika berpisah mereka akan tetap memperhatikan satu sama lain.
2.2.1.3 Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai peran sosial, seperti: suami, istri, anak, kakak, adik.
2.2.1.4 Mempunyai tujuan menciptakan dan mempertahankan budaya, meningkatkan perkembangan fisik, psikologis dan sosial anggota.
(Susanto, 2012).
2.2.2 Tipe Keluarga
Keluarga memerlukan pelayanan kesehatan berasal dari berbagai macam pola kehidupan. Sesuai dengan perkembangan sosial, maka tipe keluarga juga akan berkembang mengikutinya. Agar dapat mengupayakan peran serta keluarga dalam meningkatkan derajat kesehatan maka perawat perlu mengetahui berbagai tipe keluarga (Susanto, 2012).
2.2.2.1 Keluarga Tradisional:
1) The nuclear family (Keluarga Inti)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri, dan anak.
2) The dyad family
Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup bersama dalam satu rumah.
3) Keluarga usila
Keluarga yang terdiri dari suami dan anak yang dengan sudah memisahkan diri.
4) The childless family
Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk mendapatkan anak terlambat waktunya yang disebabkan karena mengejar karir/ pendidikan yang terjadi pada wanita.
5) The extended family
Keluarga yang terdiri dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu rumah seperti nuclear family disertai paman, tante, orangtua (kakek-nenek), keponakan.
6) The single-parent family
Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah atau ibu) dengan anak, hal ini terjadi biasanya melalui proses perceraian, kematian, atau karena ditinggalkan (menyalahi hukum pernikahan)
7) Commuter family
Kedua orangtua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah satu kota tersebut sebagai tempat tinggal dan orangtua yang bekerja diluar kota bisa berkumpul pada anggota keluarga pada saat weekends atau pada waktu-waktu tertentu.
8) Multigenerational family
Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu rumah.
9) Kin-network family
Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling berdekatan dan menggunakan barang-barang pelayanan yang sama.
10) Blended family
Duda atau janda karena perceraian yang menikah kembali dan membesarkan anak dari hasil perkawinan atau perkawinan sebelumnya.
11) The single adult living alone/single adult family
Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya atau perpisahan seperti perceraian atau ditinggal mati.
2.2.2.2 Keluarga Non Tradisional:
1) The unmarried teenage mother
Keluarga yang terdiri dari orangtua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah.
2) The stepparent family
Keluarga dengan orangtua tiri.
3) Commune family
Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara yang hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama, sosialisasi anak dengan melalui aktivitas kelompok/membesarkan anak bersama.
4) The nonmarital heterosexual cohabiting family
Keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan.
5) Gay and lesbian families
Seseorang yang mempunyai persamaan seks hidup bersama sebagaimana ‘marital patners’.
6) Cohabitating family
Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan karena beberapa alasan tertentu.
7) Group marriage family
Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga bersama, yang saling merasa saling menikah satu dengan yang lainnya, berbagi sesuatu termasuk seksual dan membesarkan anaknya.
8) Group network family
Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai,nilai-nilai hidup berdekatan satu sama lain dan saling menggunakan barang-barang rumah tangga bersama, pelayanan, dan bertanggung jawab membesarkan anaknya.
9) Foster family
Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/ saudara di dalam sementara, pada saat orangtua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali keluarga yang aslinya.
10) Homeless family
Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang permanen karena krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental.
11) Gang
Sebuah bentuk keluarga yang destruktif dari orang-orang muda yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian tetapi berkembang dalam kekerasan dan kriminal dalam kehidupannya (Susanto, 2012).
2.2.3 Tahap Perkembangan Keluarga
Berdasarkan konsep Duvall dan Miller, tahapan perkembangan keluarga dibagi menjadi 8:
2.2.3.1 Keluarga Baru (Berganning Family)
Pasangan baru nikah yang belum mempunyai anak. Tugas perkembangan keluarga dalam tahap ini antara lain yaitu membina hubungan intim yang memuaskan, menetapkan tujuan bersama, membina hubungan dengan keluarga lain, mendiskusikan rencana memiliki anak atau KB, persiapan menjadi orangtua dan memahami prenatal care (pengertian kehamilan, persalinan dan menjadi orangtua).
2.2.3.2 Keluarga dengan anak pertama < 30bln (child bearing)
Masa ini merupakan transisi menjadi orangtua yang akan menimbulkan krisis keluarga. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini antara lain yaitu adaptasi perubahan anggota keluarga, mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan, membagi peran dan tanggung jawab, bimbingan orangtua tentang pertumbuhan dan perkembangan anak, serta konseling KB post partum 6 minggu.
2.2.3.3 Keluarga dengan anak pra sekolah
Tugas perkembangan dalam tahap ini adalah menyesuaikan kebutuhan pada anak pra sekolah (sesuai dengan tumbuh kembang, proses belajar dan kontak sosial) dan merencanakan kelahiran berikutnya.
2.2.3.4 Keluarga dengan anak sekolah (6-13 tahun)
Keluarga dengan anak sekolah mempunyai tugas perkembangan keluarga seperti membantu sosialisasi anak terhadap lingkungan luar rumah, mendorong anak untuk mencapai pengembangan daya intelektual, dan menyediakan aktifitas anak.
2.2.3.5 Keluarga dengan anak remaja (13-20 tahun)
Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah pengembangan terhadap remaja, memelihara komunikasi terbuka, mempersiapkan perubahan sistem peran dan peraturan anggota keluarga untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anggota keluarga.
2.2.3.6 Keluarga dengan anak dewasa
Tugas perkembangan keluarga mempersiapkan anak untuk hidup mandiri dan menerima kepergian anaknya, menata kembali fasilitas dan sumber yang ada dalam keluarganya.
2.2.3.7 Keluarga usia pertengahan (middle age family)
Tugas perkembangan keluarga pada saat ini yaitu mempunyai lebih banyak waktu dan kebebasan dalam mengolah minat sosial, dan waktu santai, memulihkan hubungan antara generasi muda-tua, serta persiapan masa tua.
2.2.3.8 Keluarga lanjut usia
Dalam perkembangan ini keluarga memiliki tugas seperti penyesuaian tahap masa pensiun dengan cara merubah cara hidup, menerima kematian pasangan, dan mempersiapkan kematian, serta melakukan life review masa lalu (Susanto, 2012).
2.2.4 Struktur Keluarga
2.2.4.1 Dominasi jalur hubungan darah
1) Patrilineal
Keluarga yang dihubungkan atau disusun melalui jalur garis ayah, suku-suku di Indonesia rata-rata menggunakan struktur keluarga patrilineal.
2) Matrilineal
Keluarga yang dihubungkan atau di susun melalui jalur garis ibu.
Suku Padang salah satu suku yang menggunakan struktur keluarga matrilineal
2.2.4.2 Dominasi keberadaan tempat tinggal 1) Patrilokal
Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga sedarah dari pihak suami.
2) Matrilokal
Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga sedarah dari pihak istri.
2.2.4.3 Dominasi pengambilan keputusan 1) Patriakal
Dominasi pengambilan keputusan ada pada pihak suami.
2) Matriakal
Dominasi pengambilan keputusan ada pada pihak istri.
(Susanto, 2012).
2.2.5 Ciri-ciri Struktur Keluarga 2.2.5.1 Terorganisasi
Saling berhubungan saling ketergantungan antara anggota keluarga.
2.2.5.2 Ada keterbatasan
Setiap anggota memiliki kebebasan, tetapi mereka juga mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya masing-masing.
2.2.5.3 Ada perbedaan dan kekhususan
Setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan fungsinya masing- masing.
2.2.6 Elemen Struktur Keluarga 2.2.6.1 Struktur peran keluarga
Menggambarkan peran masing-masing anggota keluarga baik di dalam keluarganya sendiri maupun peran di lingkungan masyarakat.
2.2.6.2 Menggambarkan nilai dan norma yang dipelajari dan di yakini dalam keluarga.
2.2.6.3 Pola komunikasi keluarga
Menggambarkan bagaimana cara pola komunikasi diantara orang tua, orang tua dan anak, diantara anggota keluarga atau dalam keluarga.
2.2.6.4 Struktur kekuatan keluarga
Menggambarkan kemampuan anggota keluarga untuk mengendalikan atau mempengaruhi orang lain dalam perubahan perilaku kearah positif (Susanto, 2012).
2.2.7 Fungsi Keluarga
Keluarga mempunyai 5 fungsi yaitu:
2.2.7.1 Fungsi Afektif
Fungsi afektif berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga yang merupakan basis kekuatan keluarga. Fungsi afektif berguna untuk
pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan fungsi afektif tampak pada kebahagiaan dan kegembiraan dari seluruh anggota keluarga.
Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga dalam melaksanakan fungsi afektif adalah (Friedman, M.M et al, 2010) :
1) Saling mengasuh yaitu memberikan cinta kasih, kehangatan, saling menerima, saling mendukung antar anggota keluarga.
2) Saling menghargai, bila anggota keluarga saling menghargai dan mengakui keberadaan dan hak setiap anggota keluarga serta selalu mempertahankan iklim positif maka fungsi afektif akan tercapai.
3) Ikatan dan identifikasi ikatan keluarga di mulai sejak pasangan sepakat memulai hidup baru.
2.2.7.2 Fungsi Sosialisasi
Sosialisasi di mulai sejak manusia lahir. Keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi, misalnya anak yang baru lahir dia akan menatap ayah, ibu dan orang-orang yang ada disekitarnya. Dalam hal ini keluarga dapat Membina hubungan sosial pada anak, Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak, dan Menaruh nilai-nilai budaya keluarga.
2.2.7.3 Fungsi Reproduksi
Fungsi reproduksi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber daya manusia. Maka dengan ikatan suatu perkawinan yang sah, selain untuk memenuhi kebutuhan biologis pada pasangan tujuan untuk membentuk keluarga adalah meneruskan keturunan.