• Tidak ada hasil yang ditemukan

6 EVALUASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK PERMUKIMAN

Pendahuluan

Gardner et al. (2010) mengemukakan bahwa pertambahan jumlah penduduk

dan tingkat perekonomian dari tahun ke tahun semakin menambah kebutuhan masyarakat terhadap kebutuhan permukiman. Selain itu, Yunus (2008) mengungkapkan bahwa dari waktu ke waktu sejalan dengan selalu meningkatnya jumlah penduduk perkotaan berakibat pada meningkatnya kebutuhan ruang kekotaan yang besar untuk tempat tinggal dan fasilitas penunjang.

Selajutnya Warsono (2006) menyatakan bahwa kondisi penduduk ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan fisik kawasan. Konsekuensi pertambahan jumlah penduduk berdampak terhadap peningkatan kebutuhan fasilitas yang menunjang kehidupannya, salah satu diantaranya kebutuhan permukiman. Hartono et al. (2015) menyatakan pesatnya perkembangan pembangunan kota yang tak dapat

dihindari terhadap tata guna lahan yakni tingginya rasio perubahan alih fungsi lahan. Terjadinya alih fungsi lahan yang secara terus menerus dapat menimbulkan penggunaan ruang menjadi tidak sesuai dengan peruntukannya, banyak kejadian bencana yang timbul akibat terjadinya perubahan fungsi lahan, penggunaan lahan terutama permukiman yang berada pada zona yang tidak sesuai berdampak menimbulkan kerawanan terhadap bencana dan degradasi lingkungan.

Perluasan areal untuk permukiman berdampak terjadinya perubahan lingkungan alam yang semua berfungsi sebagai area penyerapan air menjadi lingkungan buatan yang menolak resapan air. Kontradiksi antara perlunya permukiman dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan upaya pelestarian lingkungan ibarat dua mata uang yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya (Giyasir 2005). Oleh karena itu, Mudelsee et al. (2003) menyatakan bahwa optimalisasi ruang merupakan suatu proses yang penting dilakukan terhadap ruang dengan cara pemanfaatan ruang secara efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan pelaku sehingga menjadikan kondisi yang lebih baik dan lebih sempurna. Optimalisasi besaran ruang dapat dilaksanakan dengan dua cara yakni pengoptimalisasian luasan/besaran ruang dan pengoptimalisasian fungsi ruang.

Menurut Kumajas (2006) penggunaan lahan terutama permukiman yang berada pada zona tidak sesuai seperti lahan yang memiliki kemiringan lereng yang besar dan batuan yang tidak stabil, serta kekurang vegetatif sangat rawan terjadi bencana khususnya banjir. Selanjutnya, Zakaria (2009) menyatakan pengembangan permukiman dan pembangunan villa pada kawasan lereng dan puncak-puncak bukit dapat mendorong perluasan areal banjir pada bagian muara. Kondisi tersebut menyebabkan berubahnya keseimbangan alam dalam meresapkan air.

Peningkatan kebutuhan pengembangan permukiman sebagai akibat peningkatan jumlah penduduk maka penting penentuan kesesuaian lahan untuk permukiman. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kesesuaian lahan untuk permukiman.

Metode penelitian

Evaluasi kesesuaian lahan untuk permukiman dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan yaitu metode Multi Criteria Evaluation (MCE) dan metode faktor pembatas/limiting factor. Analisis MCE menggunakan enam indikator yaitu: kelerengan, bahaya banjir, bahaya longsor, curah hujan, jenis tanah dan geologi. Analisis dengan metode limiting factor menggunakan lima indikator yaitu:

kelerengan, bahaya banjir, bahaya longsor, curah hujan, dan drainase.

Ketersediaan data penelitian

Berdasarkan kemiringan lereng, sebagian besar Kota Padang memiliki kemiringan lereng 17-26 % (Gambar 30a). Kemiringan lereng 0–8 % memiliki luas 17 617 ha (25.4%), lereng 9–16% memiliki luas 10 375 ha (14.9%), lereng 17-26% memiliki luas 31 558 ha (45.4%), dan lereng >27% seluas 9 952 ha (14.3%). Kemiringan lereng dihasilkan dari Peta Rupa Bumi skala 1 : 50 000 dengan interval kontur 25 meter.

BPBD Kota Padang dan penelitian Hermon (2009) telah melakukan zonasi kawasan rawan longsor di Kota Padang. Gambar 30b merupakan distribusi rawan longsor di Kota Padang yang dikategorikan atas tiga yaitu: zona rawan longsor rendah seluas 67 953 ha (97.78%); zona rawan longsor sedang seluas 236 ha (0.34); dan zona rawan longsor tinggi seluas 1 313 ha (1.89%). Gambar 30c merupakan analisis tingkat bahaya banjir di Kota Padang berdasarkan kelas bahaya banjir menunjukkan bahwa: a) seluas 9 531 ha termasuk pada kawasan bahaya tinggi; b) seluas 10 220 ha merupakan kawasan bahaya sedang; dan c) seluas 49 745 ha merupakan kawasan kategori bahaya rendah. Gambar 30d merupakan peta kawasan hutan di Kota Padang. Di Kota Padang jenis hutan dikategorikan atas tiga yaitu: kawasan areal peruntukan lain (APL) seluas 20 849 ha (30%); kawasan hutan lindung seluas 17 027 ha (24.5%); dan kawasan hutan suaka alam seluas 31 621 ha (45.5%).

Peta curah hujan dihasilkan dari data lima stasiun curah hujan di Kota Padang. Berdasarkan garis isohyet, maka intensitas curah hujan (Gambar 31b) secara umum yaitu 3 500–4 000 mm/tahun. Intensitas curah hujan di Kota Padang dapat dikategorikan atas lima, yaitu: curah hujan 2 500–3 500 mm/tahun seluas 6 832 ha (9.83%); curah hujan 3 000–3 500 mm/tahun seluas 13 823 ha (19.89%); curah hujan 3 500–4 000 mm/tahun seluas 27 520 ha (39 6%); curah hujan 4 000-4 500 mm/tahun seluas 16 047 ha (23.09%); dan curah hujan 4 500-5 000 mm/tahun seluas 5 275 ha (7.5%).

Berdasarkan Peta Jenis Tanah Puslitan (1990) (Gambar 31a) jenis tanah di Kota Padang dibedakan atas enam kategori tanah yaitu : 1) tanah Aluvial dengan luas 9 612 ha (13.8 %); 2 ) tanah Andosol dengan luas 27 709 ha (39.9%); 3) tanah Latosol dengan luas 17 733 ha (25.5%); 4) tanah Regosol dengan luas 6 225 ha (9%); 5) tanah Organosol dengan luas 196 ha (0.3%); dan 6) tanah Kompleks Podsolik Merah Kuning dengan luas 8 020 ha (11.5%).

Berdasarkan geologi, Kota Padang dibentuk oleh endapan permukaan, batuan vulkanik dan intrusi serta batuan sedimen dan metamorf. Secara garis besar jenis batuan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Aliran yang tak teruraikan (Qtau)

Merupakan batuan hasil gunung api yang tak teruraikan umumnya berupa lahar, konglomerat, breksi dan batu pasir yang bercampur satu. Batuan ini tersebar pada daerah yang merupakan daerah Bukit Barisan di wilayah penelitian dan sekitar Gunung Padang dan Bukit Air Manis.

2. Alluvium (Qal)

Merupakan batuan yang umumnya terdiri dari lanau, lempung, pasir, kerikil, pasir lempungan, lempung pasiran. Penyebaran dari Utara ke Selatan di seluruh dataran rendah wilayah penelitian.

3. Kipas Alluvium (Qt)

Merupakan batuan terdiri dari rombakan batuan andesit berupa bongkah-bongkah yang berasal dari gunung api strato, bewarna abu-abu kehitaman, keras, komposisi mineral piroksen, homblende dan mineral hitam lainnya. Batuan ini tersebar di bagian bawah lereng-lereng pegunungan dan perbukitan sekitar Bukit Nago dan Limau Manis.

4. Tufa Kristal (QTt)

Merupakan tufa kristal yang mengeras yang terlihat pada singkapan setempat- setempat di perbukitan di Bukit Air Manis, di Teluk Nibung dan dan Lubuk Begalung hingga ke perbukitan di Kelurahan Labuhan Tarok.

5. Andesit (Qta) dan Tufa (QTp)

Merupakan batuan gunung berapi yang masih masif bewarna hitam keabu abuan hingga putih, andesit berselingan dengan tufa, terlihat pada singkapan setempat- setempat di Pegambiran, Tarantang dan perbukitan Air Dingin yang bersebelahan dengan batu gamping.

6. Batu Gamping (PTls)

Merupakan batuan berwarna putih hingga ke abu-abuan, terlihat pada singkapan di Indarung, sekitar Bukit Karang Putih.

7. Fillit, Batu Pasir, Batu Lanau Meta (PTps)

Fillit bewarna hitam hingga abu kemerahan, batu pasir bewarna abu-abu kehijauan mengandung klorit keras dan berbutir halus dan batu lanau berwarna hijau kehitaman. Batuan ini terlihat pada singkapan Koto Lalang (jalan ke arah Solok).

Berdasarkan Peta Geologi dari Pusat Survey Geologi Badan Geologi Bandung (2007), geologi di Kota Padang dibedakan atas tujuh formasi yaitu: 1) Aluvium seluas 21 460 ha (30.88%); 2) Batu Kapur seluas 855 ha (1.23%); 3) Batuan Gunung Api seluas 34 199 ha (49.21%); 4) Batuan Intrusi seluas 1.181 ha (1.7%); 5) Batuan Metamorf seluas 1 300 ha (1.87%); dan 6) Formasi Painan seluas 10 494 ha (15.1%). Distribusi tipe geologi di Kota Padang dapat dilihat pada Gambar 31c.

Gambar 30. Peta lereng (a), peta bahaya longsor (b), peta bahaya banjir (c), peta jenis hutan (d) di Kota Padang

Sumber : Bappeda Kota Padang (2014) Sumber : Hasil Analisis (2016)

Sumber : Bappeda (2008) dan Hermon (2009)

Gambar 31. Peta jenis tanah (a), peta curah hujan (b), peta tipe geologi (c) di Kota Padang

Sumber : Puslitan (1990) Sumber : Analisis data Curah Hujan

(2013)

Analisis evaluasi kesesuaian lahan untuk permukiman

Dalam analisis evaluasi kesesuaian lahan untuk permukiman digunakan dua pendekatan yaitu MCE dan Limiting Factor.

a) Metode multi criteria evaluation (MCE)

Analisis kesesuaian lahan untuk kawasan permukiman dihasilkan dari overlay

beberapa peta tematik yang menjadi input penelitian antara lain: a) peta lereng, b) peta kerawanan banjir, c) peta kerawanan longsor, d) peta curah hujan, e) peta jenis tanah, dan f) peta geologi. Indikator dan sub indikator dalam analisis MCE pada analisis kesesuaian lahan untuk permukiman berdasarkan USDA (1971) dan Muta'ali (2012). Bobot untuk masing-masing indikator menggunakan pendapat pakar yang dianalisis dengan menggunakan AHP. Pakar yang dimintai pendapat untuk penentuan bobot pada analisis kesesuaian lahan untuk kawasan permukiman berasal dari Perguruan Tinggi, Dinas Tata Ruang Kota Padang, Bapedalda Kota Padang, dan Dinas Pekerjaan Umum Kota Padang. Jumlah pakar yang terlibat dalam penentuan bobot kesesuaian lahan untuk permukiman sebanyak 15 orang pakar.

Tabel 14. Kriteria kesesuaian lahan untuk permukiman dengan metode MCE

Indikator Sub Indikator Luas (ha) Bobot Harkat Skor

Lereng (%) 0-8 17 617 14.5 4 58 9–15 10 376 3 43.5 16-26 31 558 2 29 >27 9 952 1 14.5 Kerawanan Banjir Rendah 49 739 25.2 3 75.6 Sedang 11 379 2 50.4 Tinggi 8 352 0 0 Kerawanan Longsor Rendah 67 953 27.2 3 81.6 Sedang 236 2 54.4 Tinggi 1 314 0 0 Curah Hujan (mm/th) < 4 000 48 175 7.6 4 30.4 4 000-4 500 16 047 3 22.8 4 500-5 000 5 275 2 15.2 Jenis tanah Aluvial 9 612 8.5 4 34 Andosol 27 709 1 8.5 Organosol 196 2 17 Regosol 6 225 1 8.5 Latosol 17 733 3 25.5 Komp. Padsolik MK 8 011 2 17 Tipe Geologi Aluvial 21 460 7.8 4 31.2 Batuan Metamorf 1 300 3 23.4 Batu Kapur 855 3 23.4 Formasi Painan 10 494 1 7.8

Batuan Gunung Api 34 199 1 7.8

Batuan Instruksi 1 181 1 7.8

Tabel 14 merupakan kriteria yang digunakan untuk menilai kesesuaian kawasan permukiman. Hasil penilaian pakar dalam penentuan bobot untuk kesesuaian lahan kawasan permukiman (Lampiran 2) menunjukkan bahwa nilai bobot rawan longsor paling tinggi yakni sebesar 27.2 %, sedangkan intensitas curah hujan memiliki nilai bobot paling rendah yakni sebesar 7.6%. Selain itu, nilai bobot indikator yang lain adalah: a) kerawanan banjir (25.2%); b) lereng (14,5%); c) tipe geologi (7.6%); dan d) jenis tanah (8.5%). Hasil perkalian antara bobot dengan harkat akan diperoleh skor diperoleh masing-masing indikator. Untuk menentukan zonasi kesesuaian lahan untuk permukiman digunakan persamaan 2 (halaman 37). Hasil analisis

menghasilkan total skor tertinggi sebesar 296 dan total skor terendah sebesar 136, maka dengan empat kelompok kelas diperoleh interval sebesar 40. Tabel 15 merupakan kelas interval kesesuaian lahan untuk kawasan permukiman.

Tabel 15. Kelas interval kesesuaian lahan untuk kawasan permukiman

Kelas Kesesuaian Kelas Indeks Indeks Kesesuaian untuk Kawasan

Permukikan

Kelas sangat sesuai (S1) 256 - 296 Zona permukiman sangat sesuai

Kelas sesuai (S2) 216 - 256 Zona permukiman sesuai

Kelas sesuai marginal (S3) 176 - 216 Zona permukiman sesuai marginal Kelas tidak sesuai (N) 136 - 176 Zona permukiman tidak sesuai

Metode faktor pembatas (limiting factor)

Analisis kesesuaian lahan untuk kawasan permukiman menggunakan metode

limiting factor, menggunakan beberapa peta tematik sebagai input pembuatan peta

satuan lahan pada wilayah penelitian, antara lain: a) peta lereng, b) peta jenis tanah, dan c) peta geologi. Hasil overlay ketiga peta tersebut membentuk 24 unit satuan

lahan (Lampiran 8). Tabel 16 merupakan kriteria yang digunakan untuk analisis

kesesuaian lahan untuk permukiman dengan metode limiting factor.

Tabel 16. Kriteria kesesuaian lahan untuk permukiman dengan metode limiting factor

Sifat tanah Simbol Kesesuaian lahan

S1 S2 S3 N

Lereng L 0-8% 9-15% 15-27% >27%

Bahaya banjir O Tanpa Jarang Kadang-

kadang

Sering

Bahaya longsor G Tanpa Rendah Sedang Tinggi

Curah hujan W < 4 000 4 000-5 000 4 000-5 000 >5 000

Drainase D Baik Agak baik Agak Buruk Buruk

Sumber : Hardjowigeno dan Widiatmaka (2007)

Pada analisis limiting factor, nilai terendah akan menjadi pembatas kelas

kesesuaian lahan. Indikator yang digunakan yaitu lereng, bahaya banjir, bahaya longsor, curah hujan, dan kondisi drainase. Hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan

untuk permukiman dibedakan atas tiga kelas kesesuaian lahan yaitu sangat sesuai (S1), sesuai (S2), sesuai marjinal (S3), dan tidak sesuai (N).

Penentuan ketersediaan lahan untuk permukiman dihasilkan dari overlay

beberapa peta tematik, yaitu peta penunjukkan kawasan hujan, peta pola ruang, dan peta penggunaan lahan tahun 2014. Berdasarkan penunjukkan kawasan hutan bahwa kawasan yang dapat digunakan untuk permukiman adalah arel peruntukan lain (APL). Kawasan hutan lindung dan hutan suaka alam tidak dapat dimanfaatkan untuk kawasan budidaya. Distribusi kawasan hutan di Kota Padang dapat disajikan pada Gambar 30d.

Gambar 32. Pola ruang (a) dan penggunaan lahan (b) Kota Padang

Berdasarkan pola ruang Kota Padang sekitar 70% merupakan kawan lindung dan sekitar 30% merupakan kawasan budidaya. Gambar 32a menunjukkan bahwa kawasan budidaya sebagian besar diperuntukan untuk kawasan permukiman. Selain itu, berdasarkan penggunaan lahan (Gambar 32b) kawasan permukiman di Kota Padang sebesar 16.5% dari luas wilayah. Hasil overlay peta penunjukkan kawasan

hutan, peta pola ruang, dan peta penggunaan lahan dapat ditentukan ketersediaan lahan untuk kawasan permukiman. Kawasan APL pada peta penunjukkan kawasan hutan dan kawasan permukiman pada pola ruang merupakan kawasan yang dapat digunakan untuk kawasan permukiman. Untuk mendapatkan lahan yang tersedia untuk kawasan permukiman dilakukan overlay dengan penggunaan lahan. Lahan terbangun pada penggunaan lahan merupakan lahan yang tidak tersedia.

Hasil Penelitian

Evaluasi kesesuaian lahan untuk permukiman dengan metode MCE

Berdasarkan hasil analisis MCE kesesuaian lahan untuk permukiman di Kota Padang maka dapat simpulkan bahwa: a) terdapat 12 543 ha (18%) luas zona lahan yang sangat sesuai (S1) untuk permukiman; b) terdapat 52 390 ha (75.4%) luas zona lahan yang sesuai (S2) untuk permukiman; c) terdapat 4 279 ha (6.2%) luas zona lahan yang sesuai marjinal (S3) untuk permukiman; d) seluas 285 ha (0.8%) zona tidak sesuai (N) untuk permukiman. Persentase kesesuaian lahan untuk permukiman ditunjukkan pada grafik Gambar 33. Distribusi zona kesesuaian lahan untuk permukiman disajikan pada Gambar 34.

Gambar 33. Grafik persentase kesesuaian lahan untuk permukiman dengan metode MCE di Kota Padang

Gambar 34. Zona kesesuaian lahan untuk permukiman dengan metode MCE di Kota Padang

Evaluasi kesesuaian lahan untuk permukiman dengan motode limiting factor

Indikator yang digunakan dalam analisis evaluasi kesesuaian lahan untuk permukiman dengan pendekatan limiting factor adalah lereng, bahaya banjir, bahaya

longsor, curah hujan, dan drainase. Indikator yang digunakan tidak semua menggunakan indikator pada USDA (1971), sebab tidak semua indikator yang syaratkan dapat digunakan pada wilayah penelitian. Oleh sebab itu, maka dalam analisis pendekatan kesesuaian lahan menggunakan metode limiting factor dilakukan

modifikasi sesuai dengan kondisi Kota Padang.

Hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan dengan menggunakan metode limiting factor menunjukkan bahwa terdapat seluas 2 772 ha (4%) zona sangat sesuai (S1)

untuk permukiman, seluas 20 127 ha (29%) zona sesuai (S2) untuk permukiman, seluas 38 546 ha (55.5%) zona sesuai marginal (S3) untuk permukiman, dan seluas 8 051 ha (11.6%) zona tidak sesuai (N) untuk permukiman. Gambar 35 merupakan grafik zona kesesuaian lahan untuk permukiman dengan metode limiting factor.

Distribusi kesesuaian lahan dengan motode limiting factor di Kota Padang ditunjukkan pada Gambar 36.

Gambar 35. Grafik zona keseuaian lahan untuk permukiman dengan metode limiting

factor di Kota Padang

Gambar 36. Zona kesesuaian lahan untuk permukiman dengan metode limiting factor

Hasil evaluasi kesesuaian lahan untuk permukiman metode MCE dan metode

limiting factor dilakukan overlay, dan hasilnya menunjukkan bahwa (1) kedua

metode tersebut memiliki sebagian hasil yang sama (kelas kesesuaian) yaitu: a) seluas 3.8% pada zona sangat sesuai (S1), b) seluas 15.2% pada zona sesuai (S2), c) seluas 3.8% pada zona sesuai marginal (S3), dan d) seluas 0.8% pada zona tidak sesuai (N); dan (2) kedua metode tersebut memiliki pula zona tidak sama besar 76.4%. Gambar 37 merupakan grafik perbandingan metode MCE dengan metode limiting factor.

Distribusi wilayah perbandingan metode MCE dengan metode limiting factor

ditunjukkan pada Gambar 38.

Gambar 37. Grafik perbandingan metode MCE dan metode limiting factor di Kota

Padang

Gambar 38. Peta perbandingan metode MCE dan metode limiting factor di Kota

Gambar 39. Zona ketersediaan lahan untuk permukiman (a), overlay kesesuaian lahan untuk permukiman metode MCE dengan ketersediaan lahan (b), dan

overlay kesesuaian lahan untuk permukiman metode limiting factor

dengan ketersediaan lahan (c) di Kota Padang

Analisis ketersediaan lahan untuk permukiman

Analisis ketersediaan lahan untuk permukiman menggunakan persamaan 4. Hasil analisis menunjukkan bahwa luas ketersediaan lahan untuk permukiman pada wilayah penelitian yaitu 4 489 ha (6.46%). Gambar 39a merupakan hasil analisis ketersediaan lahan untuk permukiman.

Tabel 17. Persentase perbandingan kesesuaian lahan dengan ketersediaan lahan untuk permukiman pada metode MCE dan metode limiting factor

Kriteria

Metode MCE Metode limiting factor

Tersedia Tidak Tersedia Tersedia Tidak Tersedia

Sangat sesuai (S1) 3.0 15.0 0.1 3.9

Sesuai (S2) 2.6 72.7 4.1 24.9

Sesuai marjinal (S3) 0.8 5.4 1.5 53.9

Tidak sesuai (N) 0.0 0.4 0.8 10.8

Gambar 39 dan Tabel 17 merupakan perbandingan kesesuaian lahan dengan ketersediaan lahan untuk permukiman pada dua metode, yaitu metode MCE dan metode limiting factor. Berdasarkan analisis perbandingan tersebut menunjukkan bahwa: a) ketersediaan lahan untuk permukiman pada zona sangat sesuai (S1) dengan menggunakan metode MCE lebih luas dibandingkan dengan metode limiting factor,

b) tidak terdapat zona tidak sesuai (N) untuk permukiman pada metode MCE, sedangkan dengan metode limiting factor luas zona tidak sesuai untuk permukiman sekitar 0.8%, c) jumlah ketersediaan lahan sesuai (S1, S2, dan S3) pada metode MCE lebih luas dibandingkan metode limiting factor.

Pembahasan

Jumlah penduduk yang mendiami planet bumi dari waktu ke waktu menunjukkan semakin bertambah jumlahnya, sedangkan kemampuan planet bumi untuk menampung segala aktifitas kehidupan manusia relatif terbatas. Selain itu, penambahan jumlah penduduk mendorong peningkatan kebutuhan lahan baik untuk tempat tinggal atau untuk kebutuhan lainnya. Penduduk Kota Padang dari waktu-ke waktu terus bertambah jumlahnya. Periode 2009-2014 tingkat pertumbuhan penduduk Kota Padang sebesar 1.6 persen pertahunnya. Peningkatan jumlah penduduk Kota Padang berdampak semakin luasnya kebutuhan tempat tinggal. Penggunaan lahan untuk permukiman di Kota Padang periode 1994-2014 mengalami perluasan setiap waktu (Gambar 40). Pada tahun 1994 luas penggunaan lahan untuk permukiman sekitar 11.9% dari luas wilayah, tahun 2007 luas permukiman menjadi 16.2% dari luas wilayah, dan akhir tahun 2014 luas penggunaan lahan untuk permukiman bertambah menjadi 16.5%.

Peningkatan jumlah penduduk dan pemanfaatan sumberdaya alam mengakibatkan muncul berbagai masalah baru terhadap pemanfaatan sumberdaya lahan. Lahan dengan faktor-faktor pembatas yang sedikit menjadi tinggi pemanfaatannya untuk kebutuhan lahan tertentu. Terbatasnya lahan yang dapat dimanfaatkan untuk penggunaan tertentu menyebabkan konflik antarpenggunaan lahan. Di Kota Padang lahan yang dapat dimanfaatkan sebagai kawasan budidaya sekitar 30% dari luas wilayah. Sekitar 70% dari luas wilayah Kota Padang merupakan kawasan hutan lindung dan hutan suaka alam.

Gambar 40. Grafik dinamika penggunaan lahan permukiman di Kota Padang periode 1994-2014 (Citra Landsat 1994, Citra Landsat 2007, dan Citra

Landsat 2014)

Evaluasi kesesuaian lahan merupakan kecocokan suatu lahan untuk dapat dimanfaatkan untuk jenis penggunaan tertentu. Lahan yang sesuai untuk penggunaan tertentu, belun tentu cocok dimanfaatkan untuk penggunaan yang lain. Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya dapat menyebabkan kerusakan lahan. Oleh karena itu, USDA (1971) dan Muta'ali (2013) menentukan kriteria lahan yang dapat digunakan untuk permukiman memiliki beberapa karakteristik, antara lain: a) memiliki topografi datar sampai bergelombang (lereng 0-25%); b) tersedianya sumber air dengan jumlah yang cukup (60-100 liter/ org/ hari); c) tidak berada pada daerah rawan bencana (longsor, banjir, erosi, abrasi dan tsunami); d) drainase baik sampai sedang; e) tidak berada pada daerah sempadan sungai, pantai, dan waduk; f) tidak berada pada kawasan lindung; dan g) tidak berada pada kawasan budidaya pertanian dan sawah irigasi teknis. Selain itu, Departemen Pekerjaan Umum tahun 2005 mengeluarkan kriteria kesesuaian lahan untuk permukiman antara lain: a) tidak berada pada kawasan hutan lindung; b) bebas dari pencemaran dan bencana alam; c) ketinggian lahan kurang dari 1 000 meter dpl; d) kemiringan lahan tidak melebihi 15%; e) tidak mengganggu jalur perhubungan; f) kondisi sarana prasarana memadai; dan g) dekat dengan pusat-pusat kegiatan dan pelayanan kota (CBD). Indikator- indikator yang digunakan untuk evaluasi kesesuaian lahan untuk permukiman dengan metode MCE adalah lereng, kerawanan banjir, kerawanan longsor, curah hujan, jenis tanah, dan tipe geologi dan pada metode limiting factor menggunakan indikator lereng, bahaya banjir, bahaya longsor, curah hujan, dan draenase.

Tabel 18 merupakan perbandingan hasil analisis kesesuaian lahan untuk permukiman dengan metode MCE dengan metode limiting factor. Dengan membandingkan kedua metode tersebut, dapat dinyatakan bahwa: a) pada metode MCE sebesar 75.4% dari Kota Padang merupakan zona sesuai (S2), sedangkan pada metode limiting factor sebesar 55.5% dari kawasan Kota Padang merupakan kategori zona sesuai marjinal (S3); b) kawasan sangat sesuai (S1) di Kota Padang menggunakan metode MCE lebih luas dibandingkan metode limiting factor; dan c)

luas kawasan tidak sesuai (N) pada metode MCE lebih sedikit dibandingkan metode

limiting factor. Dengan menggunakan metode limiting factor lahan yang sangat

sesuai (S1) untuk permukiman hanya 4%, sedangkan dengan menggunakan metode MCE lahan yang sangat sesuai menjadi 18%.

Tabel 18. Perbandingan hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan untuk permukiman antara metode MCE dengan metode limiting factor

Indeks Metode MCE Metode Limiting Factor

Luas (ha) Persen Luas (ha) Persen

Sangat Sesuai (S1) 12 543 18 2 772 4

Sesuai (S2) 52 390 75.4 20 127 29

Sesuai Marginal (S3) 4 279 6.2 38 546 55.5

Tidak Sesuai (N) 285 0.4 8 051 11.6

Kota Padang memiliki kawasan hutan sekitar 70% dari luas wilayah, dan dibedakan atas dua yakni hutan lindung dan hutan suaka alam. Sekitar 30% dari luas wilayah Kota Padang merupakan areal peruntukan lain (APL). Kawasan APL merupakan kawasan budidaya yang dimanfaatkan untuk lahan permukiman, pertanian, perdagangan, industri, jasa, dan pendidikan. Sekitar 16.5% dari luas wilayah dimanfaatkan untuk kawasan permukiman. Gambar 41 merupakan perbandingan evaluasi kesesuaian lahan untuk permukiman dengan kawasan hutan menggunakan metode MCE dan metode limiting factor. Berdasarkan perbandingan

tersebut untuk zona sangat sesuai (S1) pada menggunakan metode MCE sebagian besar berada pada kawasan APL, sedangkan pada metode limiting factor zona sangat sesuai (S1) sebagian besar berada pada kawasan hutan lindung.

Gambar 41. Perbandingan kesesuaian lahan metode MCE (a), metode limiting factor

Kota Padang memiliki 1.9% dari luas wilayah kategori zona rawan longsor tinggi. Selain itu, 13.7% dari luas Kota Padang masuk pada zona rawan banjir tinggi. Daerah yang memiliki tingkat kerawanan merupakan faktor pembatas dalam penentuan kesesuaian lahan untuk kawasan permukiman. Dalam perencanaan wilayah, kawasan rawan longsor tinggi tidak menjadi pilihan untuk kawasan permukiman. Gambar 42 merupakan perbandingan kesesuaian lahan untuk permukiman dengan daeran rawan longsor. Pada metode MCE sebagian besar zona sangat sesuai (S1) tidak berada pada zona rawan longsor, sedangkan menggunakan metode limiting factor terdapat sebagian besar wilayah berada dekat dengan wilayah

zona rawan longsor.

Kemiringan lereng merupakan salah satu faktor pembatas dalam penentuan kesesuaian lahan untuk permukiman. Kawasan dengan kemiringan lebih dari 27% tidak layak dimaanfaatkan untuk kawasan permukiman. Lebih dari 60% wilayah Kota Padang tidak layak dimanfaatkan untuk kawasan permukiman, karena memiliki lereng dari miring sampai curam. Gambar 43 merupakan perbandingan kesesuaian lahan dengan kemiringan lereng. Untuk zona sangat sesuai (S1) pada analisis kesesuaian lahan menggunakan metode MCE sebagian besar berada pada morfologi relatif datar sampai bergelombang, dan pada metode limiting factor zona sangat sesuai (S1) sebagian besar berada pada wilayah bergelombang sampai miring.

Gambar 42. Perbandingan kesesuaian lahan metode MCE (a), metode limiting factor