Peningkatan jumlah penduduk dan tingkat perekonomian suatu wilayah berakibat terhadap peningkatan kebutuhan akan permukiman (Gardener et al. 2010).
Selain itu, seiring dengan selalu meningkatnya jumlah penduduk perkotaan berakibat pada meningkatnya kebutuhan ruang perkotaan untuk tempat tinggal dan fasilitas penunjang (Yunus 2008). Permasalahan petumbuhan penduduk juga terjadi di Kota Padang, periode 2009-2014 pertumbuhan penduduk Kota Padang sebesar 1.6 persen/ tahun.
Dampak pertumbuhan penduduk terhadap penggunaan lahan adalah semakin meningkatnya penggunaan lahan terbangun. Periode 1981-2014 terjadi peningkatan penggunaan lahan untuk kawasan permukiman di Kota Padang. Pada tahun 1981 luas lahan permukiman sekitar 4.4% dari luas wilayah, tahun 1995 meningkat menjadi 11.9% dari luas wilayah, dan akhir tahun 2014 luas lahan permukiman menjadi sekitar 16.5% dari luas wilayah Kota Padang seluas 69 496 ha. Hal ini didukung pendapat Antrop (2004) dan Hartono et al. (2015) menyatakan bahwa konsekuensi
pertambahan jumlah penduduk berdampak terhadap peningkatan kebutuhan fasilitas yang menunjang kehidupannya, salah satu diantaranya kebutuhan permukiman.
Peningkatan penggunaan lahan terbagun menyebabkan berkurangnya daerah resapan. Di Kota Padang periode 1988-2014 terjadi pengurangan daerah resapan sebesar 12.1% dari luas wilayah. Sebagai akibatnya terjadi peningkatan aliran air permukaan dan semakin luasnya genangan banjir. Berdasarkan hasil penelitian terhadap bahaya banjir di Kota Padang terdapat sebesar 13.7% merupakan zona bahaya tinggi; sebesar 14.7% merupakan zona bahaya sedang; dan sebesar 71.5% merupakan zona bahaya rendah. Pada wilayah yang memiliki zona rawan tinggi (13.7%), maka dilakukan upaya mitigasi untuk mengurangi dampak kerugian yang ditimbulkan. Di Kota Padang terdapat 53.5% kawasan permukiman masuk pada zona rawan tinggi terhadap bencana banjir. Selain itu, berdasarkan kerentanan sebesar 8.8% wilayah Kota Padang masuk pada zona kerentanan tinggi; sebesar 9.3% masuk pada zona kerentanan sedang; dan sebesar 81.9% merupakan zona kerentanan rendah. Kawasan permukiman di Kota Padang sebesar 31.5% merupakan zona kerentanan tinggi. Selanjutnya, berdasarkan risiko 34.5% kawasan permukiman masuk pada zona risiko tinggi.
Upaya untuk mengurangi kerugian yang diakibatkan bencana banjir maka penting untuk melakukan mitigasi bencana banjir. Mitigasi banjir dapat dibedakan atas dua bentuk, yakni mitigasi struktural dan mitigasi non struktural. Hasil penelitian ini berupa zonasi rawan dan risiko banjir. Peta zona rawan dan risiko banjir merupakan bentuk mitigasi secara non struktural.
Data BPBD Kota Padang menunjukkan frekuensi dan luasan bencana banjir serta dampak yang ditimbulkannya khususnya kawasan permukiman dari waktu ke waktu mengalami perningkatan dan perluasan. Sedangkan yang menjadi fokus dan prioritas BPBD Kota Padang selama ini pada bahaya dan mitigasi siaga gempa dan
tsunami. Peta zonasi rawan tsunami dan jalur evakuasi dapat ditemui dimana-mana, sedangkan peta zonasi rawan banjir dan jalur evakuasi hampir tidak dijumpai pada daerah yang rawan banjir. Berdasarkan data Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Padang jumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang terdaftar sebanyak 61 LSM. Sebagian besar fokus LSM di Kota Padang untuk siaga gempa dan tsunami serta lingkungan, hampir tidak ada LSM yang sangat fokus terhadap bencana banjir.
Berdasarkan hasil analisis Interpretative Structural Modelling (ISM) terhadap
elemen stakeholder terdapat dua sub elemen yang memiliki kekuatan penggerak
(driver power) yang tinggi yaitu sub elemen 11 (pemerintah kota, provinsi dan pusat)
dan sub elemen 6 (dinas tata ruang). Hal ini dapat diartikan bahwa kedua sub elemen tersebut memiliki pengaruh yang besar dalam kebijakan mitigasi kawasan permukiman rawan dan berisiko banjir di Kota Padang. Pada kawasan yang memiliki kerentanan tinggi maka perlu ditingkatkan kapasitas dalam menghadapi bencana dalam rangka meminimalkan kerugian yang ditimbulkan.
Kota Padang memiliki sekitar 30% kawasan budidaya yang dimanfaatkan untuk kawasan permukiman, pertanian, perdagangan, industri, jasa dan pendidikan. Terbatasnya lahan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, maka perlu perencanaan tata guna lahan. Dalam perencanaan penggunaan lahan harus mengkaji dari semua aspek, jangan sampai merugikan wilayah lain. Hal ini dukung oleh pendapat Rustiadi et al. (2011) seringkali dijumpai dalam penyusunan program
penggunaan lahan tanpa disadari telah merugikan wilayah lain. Hal ini terjadi karena tidak terjalinnya koordinasi yang cukup baik antar sektor atau pihak yang mengambil kebijakan ditingkat pusat dan daerah.
Di Kota Padang tahun 2014 terdapat seluas 11 477 ha kawasan permukiman, 21.1% dari kawasan permukiman tidak sesuai dengan pola ruang. Selain itu, sebesar 0.2% kawasan permukiman tidak sesuai dengan penggunaannya. Berkembangnya permukiman pada kawasan tidak sesuai dengan peruntukkannya merupakan bukti masih lemahnya penegakan hukum bagi pelanggaran tata ruang. Hal ini terbukti dari elemen kendala yakni masih lemahnya penegakan hukum bagi pelanggaran tara ruang. Hal ini diperkuat pendapat Suripin (2004) bahwa pelanggaran tara ruang terjadi karena lemahnya koordinasi dan singkronisasi antar komponen terkait, serta rendahnya kesadaran hukum dan belum konsistennya pelaksanaan hukum dalam penataan ruang.
Untuk mengatasi beberapa persoalan di Kota Padang terkait dengan permukiman rawan dan berisiko banjir maka diharapkan adanya perubahan. Hasil analisis ISM pada elemen perubahan yang diharapkan di Kota Padang adalah: 1) adanya penetapan peraturan bangunan dan zoning regulation; b) adanya peningkatan
koordinasi/kerjasama antar instansi yang bertanggung-jawab terhadap penataan ruang; dan c) adanya peningkatan konsistensi penerapan regulasi yang berkaitan dengan pengendalian ruang.
Berdasarkan Gambar 57 menunjukkan bahwa pada tahun 2014 penggunaan lahan di Kota Padang sebesar 16.5% merupakan kawasan permukiman. Sekitar 53.5% kawasan permukiman pada zona sangat rawan terhadap banjir, dan 31.5% kawasan permukiman memiliki tingkat kerentanan tinggi yang tersebar pada lima kecamatan yakni Kecamatan Padang Barat, Kecamatan Nanggalo, Kecamatan Padang Utara,
Kecamatan Padang Timur, dan Kecamatan Lubuk Begalung. Oleh karena itu, upaya mitigasi untuk kawasan permukiman menjadi penting untuk dilakukan sebagai upaya mengurangi risiko bencana banjir pada masa yang akan datang.
Gambar 57. Permukiman bahaya banjir (a), permukiman rentan banjir (b), dan permukiman risiko banjirdi (c) di Kota Padang
Hasil analisis ISM pada elemen perubahan yang diharapkan terdapat tiga sub elemen kunci yaitu penetapan peraturan bangunan dan zoning regulation, peningkatan koordinasi/kerjasama antar instansi yang bertanggung jawab terhadap
penataan ruang, dan peningkatan konsistensi penerapan regulasi yang berkaitan dengan pengendalian ruang. Langkah-langkan mitigasi bencana banjir dikembangkan berdasarkan tiga sub elemen kunci pada elemen perubahan yang diharapkan yang disajikan pada matriks Tabel 25.
Tabel 25. Matriks langkah-langkah mitigasi bencana banjir pada kawasan permukiman rawan dan berisiko banjir di Kota Padang
Elemen Upaya Mitigasi
Regulasi pada zona rawan banjir
a. Tidak boleh mendirikan bangunan sejauh 100 meter dari sempadan sungai
b. Setiap kawasan permukiman harus menyediakan 30% ruang terbuka hijau
c. Larangan mendirikan bangunan pada badan sungai atau menghalangi laju arus sungai
d. Selektif dalam pemberian izin mendiriangkan bangunan (IMB) pada zona rawan dan berisiko bencana
Upaya pada zona kerentanan banjir
a. Peningkatan sosialisasi kepada masyarakat tentang peringatan dini dan kajian resiko bencana
b. Melakukan penyusunan aturan dan kelembagaan penanggulangan bencana banjir
c. Memberikan pendidikan kebencanaan pada masyarakat rawan bencana banjir
d. Peningkatan kesiapsiagaan masayarakat dalam menghadapi bencana
e. Melakukan pengurangan faktor risiko bencana banjir baik secara struktural dan non struktural secara kontinu
Penetapan peraturan bangunan dan zoning regulation
Peningkatan koordinasi/ kerjasama antar instansi yang bertanggung jawab terhadap penataan ruang
a. Membangun sistem informasi publik antar instasi yang bertanggung jawab dalam penataan ruang b. Menyusun program pendidikan dan pelatihan
pengembangan kapasitas SDM secara bersama terhadap instasi yang terkait dalam penataan ruang Konsistensi penerapan
regulasi yang berkaitan dengan pengendalian ruang
a. Melakukan tindakan pombongkaran bangunan tampa IMB
b. Tidak mengeliarkan izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan pola ruang
c. Memperketat mengeluarkan izin pendiriangan bangunan pada zona rawan dan berisiko bencana d. Melakukan tindakan pada pengembangan kawasan
permukiman yang tidak memenuhi 30% ruang terbuka hijau
Upaya mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat bencana banjir, maka penelitian ini membentuk zona prioritas pengembangan kawasan permukiman di Kota Padang. Peta zona prioritas pengembangan kawasan permukiman dihasilkan berdasarkan empat indikator yaitu: a) kesesuaian lahan untuk permukiman, b) ketersediaan lahan untuk permukiman, c) bahaya banjir, dan d) pola ruang pada RTRW Kota Padang. Upaya mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat bancana banjir terhadap kawasan permukiman, maka tingkat kerawanan banjir menjadi pertimbangan dalam penentuan prioritas kawasan permukiman. Semakin tinggi tingkat kerawanan banjir, maka semakin rendah dalam tingkat prioritas untuk menjadi kawasan permukiman. Hasil analisis zona prioritas pengembangan kawasan permukiman di Kota Padang terdapat 8 tingkatan zona prioritas pengembangan kawasan permukiman (Lampiran 9). Tingkatan tertinggi yakni 1, sedangkan yang terendah adalah 8 (Gambar 58).
Gambar 58. Zona prioritas pengembangan kawasan permukiman di Kota Padang Pada zona prioritas pengembangan kawasan permukiman dengan tingkat risiko tinggi maka dibentuk penetapan peraturan bangunan dan zoning regulation antara
lain:
1) Kawasan permukiman harus memenuhi aturan 30% ruang terbuka hijau
2) Kawasan permukiman harus memiliki jaringan drainase yang sesuai dengan daya tampung air hujan
3) Pengembangan permukiman tidak berada pada zona 100 meter disepanjang sempadan sungai dan tidak menghalangi laju arus sungai