BAB II Evaluasi Pelaksanaan RKAP 2015-2019
3. Kopi Covare
2.5 EVALUASI LAPORAN KEUANGAN .1 Evaluasi Neraca
Grafik di bawah ini menggambarkan Kinerja Keuangan khususnya pergerakan parameter-parameter Posisi Keuangan (Neraca) periode 2015 - 2019.
Dalam Miliar Rupiah
Grafik 2.5 Neraca Tahun 2015 - 2019
Kas setara Kas yang dimiliki perusahaan mengalami tren penurunan dari Tahun 2015 hingga Tahun 2018 dan baru di Tahun 2019 posisi kas setara kas mulai mengalami kenaikan. Untuk analisa lebih lanjut mengenai kas dan setara kas dapat dilihat pada sub bab 2.5.2 (Evaluasi Arus Kas).
Penurunan aset lancar diiringi dengan penurunan utang jangka pendek sebesar 78%
dan kenaikan utang jangka panjang sebesar 50% dari tahun 2015 sampai tahun 2019 sebagai akibat dari penambahan fasilitas Pinjaman Bank. Penurunan utang jangka pendek disebabkan oleh pembayaran RDI & eks-BPPN (turun Rp 271 Miliar dari tahun 2015) dan turunnya utang pajak sebesar Rp 213 Miliar dari tahun 2015.
Pada tahun 2016, perusahaan memulai proses restrukturisasi utang perusahaan yang bertujuan untuk meningkatkan status perusahaan agar lebih bankable dan mampu mendapatkan fasilitas pinjaman kembali dari perbankan. Tahun 2017 adalah tahun pertama PT PPI (Persero) melakukan pembayaran cicilan Hutang RDI sesuai kebijakan Kementerian Keuangan yang telah memutuskan untuk dicicil selama 20 tahun.
Sedangkan untuk Hutang eks-BPPN akan diusulkan bersama-sama dengan BUMN lain untuk ditetapkan sebagai PMN (Penyertaan Modal Negara) Non Tunai. Paralel dengan rencana skema PMN Non Tunai Pada bulan Oktober 2019, Perusahaan telah memperkecil jumlah Hutang Jangka Panjangnya dengan melakukan pembayaran melalui pencairan deposito sebesar kurang lebih 77 Miliar dan di Tahun 2020 PT PPI (Persero) sedang dalam proses untuk menyelesaikan administrasi terkait pengajuan proposal PMN Non Tunai yang sesuai rencana akan direalisasikan pada Tahun
Aset Lancar Aset Tidak Lancar Liabilitas Ekuitas
Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) Tahun 2020 - 2024 25
BAB II Evaluasi Pelaksanaan RKAP 2015-2019
2.5.2 Evaluasi Arus Kas
Berikut adalah grafik yang menunjukkan arus kas masuk dan keluar dari aktivitas operasional, aktivitas investasi, dan juga aktivitas pendanaan dari tahun 2015 sampai 2019.
Dalam Miliar Rupiah
Grafik 2.6 Arus Kas Tahun 2015 - 2019
Dari grafik di atas, terlihat bahwa dalam periode 2015 hingga 2019, terjadi kenaikan dan penurunan yang cukup bervariasi antara aktivitas operasi, aktivitas investasi maupun aktivitas pendanaan. Dari tahun 2016 sampai 2018, total arus kas operasi masih menunjukkan trend menurun, walaupun di Tahun 2019 nilai negatifnya semakin mengecil atau terjadi peningkatan kas operasi.
Di tahun 2015, terdapat arus kas positif yang diterima dari kegiatan investasi. Hal ini disebabkan adanya penjualan saham pada anak perusahaan PT Isuzu Astra Motor Indonesia sebesar Rp 400 Miliar. Di tahun 2016, terdapat arus kas positif dari aktivitas pendanaan akibat pinjaman bank jangka pendek sebesar Rp 100 Miliar. Arus kas yang negatif dari aktivitas operasional perusahaan dikarenakan adanya pembayaran/
setoran pajak tahun 2015 atas keuntungan penjualan saham PT IAMI dan setoran pajak final dari Tax Amnesty.
Di tahun 2017, terdapat arus kas negatif dari akvitas investasi yang disebabkan oleh penempatan deposito sebesar Rp 41 Miliar dan adanya penyertaan modal saham di anak perusahaan PT Mitra BUMDes Nusantara sebesar Rp 10 Miliar (dari total porsi kepemilikan modal dasar sebesar 20%).
Pada Tahun 2019, arus kas dari aktivitas operasi mengalami peningkatan, dari minus Rp 81 Miliar menjadi minus Rp 6 Miliar. Hal ini disebabkan oleh cukup besarnya pencairan piutang dan penjualan di tahun 2019 (naik 130% dari tahun 2018) dan rendahnya pembayaran pajak (turun 97%). Hal yang perlu menjadi perhatian adalah
140 129
Aktivitas Operasi Aktivitas Investasi Aktivitas Pendanaan
Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) Tahun 2020 - 2024 26
BAB II Evaluasi Pelaksanaan RKAP 2015-2019
adanya kenaikan kas yang dikeluarkan untuk membayar beban administrasi umum dari Rp 155 Miliar di tahun 2018 menjadi Rp 204 Miliar di tahun 2019.
Dari sisi aktivitas investasi, arus kas yang diterima perusahaan adalah sebesar Rp 40 Miliar. Perusahaan mendapatkan kas dari pencairan Deposito Rp 66 Miliar dan disisi lain harus membiayai pengeluaran untuk investasi Aktiva Tetap sebesar Rp 26 Miliar.
Beberapa aktivitas investasi yang dilakukan perusahaan adalah dalam rangka renovasi prasarana bangunan dan gudang (Rp 12,5 Miliar), kendaraan operasional (Rp 3,1 Miliar) serta pembelian peralatan dan IT (Rp 5,7 Miliar).
Di tahun 2019, PPI memanfaatkan fasilitas pinjaman bank jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan modal kerja sebesar Rp 17 Miliar dan di sisi lain juga harus membayar angsuran Hutang RDI sebesar Rp 2,8 Miliar serta angsuran Hutang Eks BPPN sebesar Rp 77 Miliar. Pinjaman bank jangka pendek ini diambil dalam rangka back-up terhadap berkurangnya kemampuan Perusahaan dalam penyediaan Modal Kerja untuk membeli Persediaan yang cukup.
2.5.3 Rasio Keuangan
Berikut adalah tabel yang berisi rasio-rasio yang digunakan untuk menganalisa performa perusahaan dari tahun 2015 sampai tahun 2019.
Tabel 2.4 Rasio Keuangan PT PPI (Persero)
Type Ratio 2015 2016 2017 2018 2019
Management Effectiveness
Inventory Turnover
(hari) 18 29 38 37 21
Accounts Receivable
Turnover (kali) 7.5 8.1 10,7 10,7 22,5
Days Payable
Outstanding (hari) 37 21 13 17 13
Liquidity
Cash Ratio 36,0% 5,1% 61,5% 57,6% 35,7%
Current Ratio 111,1% 164,4% 350,9% 350,9% 190,2%
Quick Ratio 68,0% 42,6% 105,8% 110,5% 90.9%
Solvency
Total Debt to Equity
Ratio 80,1% 63,4% 57,1% 57,1% 54,8%
Debt Ratio 44,2% 38,8% 36,3% 36.4% 35.4%
Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) Tahun 2020 - 2024 27
BAB II Evaluasi Pelaksanaan RKAP 2015-2019
Type Ratio 2015 2016 2017 2018 2019
Profitability
Gross Profit Margin 10,9% 5,5% 11,2% 11,9% 10,6%
Operating Profit
Margin 2,5% 0,4% -0,1% 0,4% 0,8%
Return on Total
Asset 9,8% 12,7% 0,1% 4,4% -4,7%
Return on Equity 17,6% 20,4% 0,1% 5,1% -4,9%
Management Effectiveness Ratio ini untuk melihat seberapa efektif tingkat aktivitas asset yang dimiliki terhadap kegiatan tertentu perusahaan, dalam hal ini persediaan dan piutang. Apabila dilihat dari Inventory Turnover Ratio, pada tahun 2015 menunjukkan angka 18 hari, angka ini terus berfluktuasi sampai tahun 2016 dengan angka 29 hari. Namun di tahun 2017 rasio ini mulai mengalami penurunan sampai di angka 21 hari di tahun 2019. Secara umum, PT PPI (Persero) telah mengganti dan menjual persedian barang-barangnya selama 13 kali, dan membutuhkan rata-rata 28 hari untuk menjual persediannya.
Liquidity Ratio adalah rasio yang menggambarkan kemampuan suatu perusahaan untuk melunasi semua kewajiban yang harus segera dipenuhi, dalam hal ini hutang jangka pendeknya. Dari sisi Current Ratio, PT PPI (Persero) berada di angka 111% di tahun 2015 dan terus meningkat sampai di angka 190% di tahun 2019. Rasio ini menunjukan bahwa dari tahun ke tahun tingkat likuiditas PT PPI (Persero) untuk membayar utang-utang jangka pendek semakin membaik, karena jumlah aset yang dimiliki dapat dengan mudah dikonversikan ke kas yang nilainya 2,95 kali dari utang-utang jangka pendeknya. Namun, apabila dilihat dari tingkat kas yang sebenarnya yang dimiliki masih relatif rendah, kemampuan PT PPI (Persero) dalam membiayai kegiatan operasionalnya masih belum cukup baik.
Solvency Ratio biasa digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi segala kewajibannya baik jangka panjang maupun jangka pendek. Apabila dilihat menggunakan Total Debt to Equity Ratio (DER), perusahaan memiliki rasio 57%
di tahun 2018 dan mengalami penurunan menjadi 54% di tahun 2019. PT PPI (Persero) masih memiliki hutang yang lebih kecil dari ekuitasnya. Di tahun 2019, total liabilitas perusahaan mengalami penurunan sebesar 8% dibanding tahun 2018, diiringi dengan kenaikan ekuitas sebesar 2%. Hal ini menunjukan bahwa struktur kapital PT PPI (Persero) masih bertumpu pada hutang jika dibandingkan dengan kompetitornya.
Profitability Ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam mendapatkan laba. Rasio ini menunjukkan berapa besar persentase
Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) Tahun 2020 - 2024 28
BAB II Evaluasi Pelaksanaan RKAP 2015-2019
pendapatan bersih yang diperoleh dari setiap penjualan. Semakin besar rasionya semakin baik, karena dianggap kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba cukup tinggi. Apabila dibandingkan dari tahun 2015 dengan 2019, Gross Profit Margin memang mengalami penurunan di tahun 2016 namun trennya meningkat di tahun 2017 dan 2018 masing-masing sebesar 11,2% ke 11,9%. Pada Tahun 2019, mengalami penurunan menjadi 10,6%.
Rasio lain yang dapat digunakan untuk menghitung tingkat kemampuan dalam mendapatkan laba adalah Return on Total Aset (ROE). Pada tahun 2015 berada di angka 17,6% dan terus mengalami penurunan sampai menjadi minus 4,9% di tahun 2019. Tingkat ROE yang fluktuatif ini disebabkan bukan karena aktivitas perusahaan tetapi lebih kepada aktivitas Pendapatan (Biaya) di luar usaha. Hal ini menunjukan bahwa perusahaan belum mampu menghasilkan pengembalian dalam bentuk laba bersih secara baik dengan menggunakan aset (utang dan modal) yang dimiliki.
2.6 EVALUASI KAPABILITAS INTERNAL