HASIL PENELITIAN
4. Sebelah Timus berbatasan dengan Kabupaten Badung
5.6 Analisis Model PLS
5.6.2 Evaluasi Model Struktural (Inner Model)
Setelah dilakukan pengujian terhadap outer model dengan uji validitas dan
reliabilitas maka selanjutnya dilakukan pengujian terhadap model struktural (inner
model). Tahapan dari pengujian inner model ini dapat dijelaskan sebagai berikut. 1. Evaluasi Goodness of Fit
Pengujian terhadap model struktural dilakukan dengan melihat nilai
R-Squares untuk setiap variabel sebagai kekuatan prediksi dari model struktural. Selain melihat besarnya nilai R-Squares, evaluasi model struktural PLS dapat juga
dilakukan dengan Q2 predictive relevance atau sering disebut predictive sample reuse. Besaran Q2 memiliki nilai rentang 0 < Q2 < 1, semakin mendekati 1 berarti model struktural dari suatu penelitian semakin baik. Hasil pengujian model dapat
dilihat pada Tabel 5.13.
Tabel 5.13
Hasil Evaluasi Goodness of Fit
Variabel R square
Manajemen Agribisnis (X2) 0.842
Keberhasilan Simantri (Y) 0.788
Kalkulasi : Q2 = 1-(1-R1 2 ) (1-R2 2 ) Q2 = 1-(1-0.842) (1-0.788) = 0.967
Sumber : Hasil Analisis Data Responden
Hasil evaluasi Tabel 5.13 menunjukkan bahwa model struktural terbukti
nilai Q2 (0.967) mendekati angka 1. Dengan demikian hasil evaluasi ini memberi bukti bahwa model struktural memiliki kesesuaian (goodness of fit model) yang
dijelaskan oleh model sedangkan sisanya 3,3% dijelaskan variabel lain yang
belum terdapat dalam model.
2. Evaluasi Koefisien Indikator
Evaluasi koefisien indikator digunakan untuk mengetahui besarnya
sumbangan pengaruh masing-masing indikator terhadap variabel yang dibentuk
serta tingkat signifikansinya.
1. Variabel Jiwa Kewirausahaan
Untuk mengetahui besarnya nilai koefisien masing-masing indikator jiwa
kewirausahaan dapat dilihat pada Tabel 5.14.
Tabel 5.14
Evaluasi Koefisien Indikator dengan Variabel Jiwa Kewirausahaan
Variabel Indikator/Item Original
Sample Standard Error t-statistic Jiwa Kewirausahaan (X1) Sifat Instrumental (X1.1) 0.841 0.027 31.544 Sifat Prestatif (X1.2) 0.851 0.031 27.419
Sifat Keluwesan Bergaul (X1.3) 0.898 0.017 54.134 Sifat Pengambil Resiko (X1.4) 0.883 0.020 43.687
Sifat Swakendali (X1.5) 0.881 0.027 32.668
Sifat Kerja Keras (X1.6) 0.827 0.033 24.791 Sifat Keyakinan Diri (X1.7) 0.871 0.030 28.998
Sifat Inovatif (X1.8) 0.879 0.025 34.562
Sifat Kreatif (X1.9) 0.877 0.027 32.504
Sifat Kepemimpinan (X1.10) 0.846 0.026 32.016 Sifat Action Oriented (X1.11) 0.833 0.034 24.711 Sifat Cara Berpikir Simple (X1.12) 0.849 0.030 28.463 Sifat Fokus pada Usaha yang Digeluti (X1.13) 0.824 0.034 24.346
Sumber : Hasil Analisis Data Responden
Hasil pengujian pada Tabel 5.14 menunjukkan bahwa dari 13 indikator
sangat nyata membentuk variabel jiwa kewirausahaan pada level 1% dengan nilai
t-statistik > 2.64.
Berdasarkan Tabel 5.14 dapat dijelaskan bahwa indikator jiwa
kewirausahaan yang dominan dilakukan oleh Poktan pelaksana Simantri untuk
mencapai keberhasilan adalah sifat keluwesan bergaul (X1.3) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator paling besar dalam membentuk variabel jiwa
kewirausahaan sebesar 0.898 dengan nilai t-statistik > 2.64. Indikator kedua
adalah sifat pengambil resiko (X1.4) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator sebesar 0.883. Indikator ketiga adalah sifat swakendali (X1.5) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator sebesar 0.881. Indikator keempat adalah
sifat inovatif (X1.8) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator sebesar 0.879. Indikator kelima adalah sifat kreatif (X1.9) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator sebesar 0.877. Indikator keenam adalah sifat keyakinan diri
(X17.) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator sebesar 0.871. Indikator ketujuh adalah sifat prestatif (X1.2) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator sebesar 0.851.
Selanjutnya hasil evaluasi indikator kedelapan adalah sifat berpikir simple
(X1.12) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator sebesar 0.849. Indikator kesembilan adalah sifat kepemimpinan (X1.10) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator sebesar 0.846. Indikator kesepuluh adalah sifat instrumental
(X1.1) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator sebesar 0.841. Indikator kesebelas adalah sifat action oriented (X1.11) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator sebesar 0.833. Indikator kedua belas adalah sifat kerja keras
(X1.6) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator sebesar 0.827 dan indikator yang terakhir adalah sifat fokus pada usaha yang digeluti (X1.13) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator sebesar 0.824.
2. Variabel Manajemen Agribisnis
Untuk mengetahui besarnya nilai koefisien masing-masing indikator
manajemen agribisnis dapat dilihat pada Tabel 5.15.
Tabel 5.15
Evaluasi Koefisien Indikator dengan Variabel Manajemen Agribisnis
Variabel Indikator/Item Original
Sample Standard Error t-statistic Manajemen Agribisnis (X2)
Perencanaan Usaha Agribisnis dalam Simantri
(X2.1) 0.831 0.032 26.301
Pengorganisasian Usaha Agribisnis dalam
Simantri (X2.2) 0.807 0.038 21.105
Pengembangan Usaha Agribisnis dalam Simantri
(X2.3) 0.933 0.010 93.598
Pengawasan Usaha Agribisnis dalam Simantri
(X2.4) 0.896 0.020 45.600
Sumber : Hasil Analisis Data Responden
Hasil pengujian pada Tabel 5.15 memperlihatkan bahwa dari 4 indikator
yang digunakan untuk mengukur variabel manajemen agribisnis semua
berpengaruh sangat nyata membentuk variabel jiwa kewirausahaan pada level 1%
dengan nilai t-statistik > 2.64.
Berdasarkan Tabel 5.15 dapat dijelaskan bahwa indikator manajemen
agribisnis yang dominan dilakukan oleh Poktan pelaksana Simantri untuk
mencapai keberhasilan adalah pengembangan usaha agribisnis dalam Simantri
membentuk variabel manajemen agribisnis sebesar 0.933 dengan nilai t-statistik >
2.64. Indikator kedua adalah pengawasan usaha agribisnis dalam Simantri (X2.4) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator sebesar 0.896. Selanjutnya
Indikator ketiga adalah perencanaan usaha agribisnis dalam Simantri (X2.1) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator sebesar 0.831 dan indikator yang
terakhir adalah pengorganisasian usaha agribisnis dalam Simantri (X2.2) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator sebesar 0.807.
3. Variabel Keberhasilan Simantri
Untuk mengetahui besarnya nilai koefisien masing-masing indikator
keberhasilan Simantri dapat dilihat pada Tabel 5.16.
Tabel 5.16
Evaluasi Koefisien Indikator dengan Variabel Keberhasilan Simantri
Variabel Indikator/Item Original
Sample Standard Error t-statistic Keberhasilan Simantri (Y)
Berkembangnya Kelembagaan dan SDM (Y1) 0.825 0.035 23.247 Terciptanya Lapangan Kerja Melalui
Pengembangan Diversifikasi Usaha Pertanian dan Industri Rumah Tangga (Y2)
0.889 0.020 44.031 Berkembangnya Intensifikasi dan Ekstensifikasi
Usaha Tani (Y3) 0.705 0.075 9.383
Meningkatnya Insentif Berusaha Tani Melalui Peningkatan Produksi dan Efisiensi Usaha tani (Y4)
0.875 0.025 34.927 Tercipta dan Berkembangnya Pertanian Organik
Menuju Green Economic (Y5) 0.900 0.019 46.643 Berkembangnya Usaha Ekonomi Pedesaan (Y6) 0.826 0.034 24.563 Peningkatan Pendapatan Petani (Y7) 0.840 0.024 35.374
Sumber : Hasil Analisis Data Responden
Hasil pengujian pada Tabel 5.16 menunjukkan bahwa dari 7 indikator
berpengaruh sangat nyata membentuk variabel keberhasilan Simantri pada level
1% dengan nilai t-statistik > 2.64.
Berdasarkan Tabel 5.16 dapat dijelaskan bahwa indikator keberhasilan
yang dominan dilakukan oleh Poktan pelaksana Simantri adalah tercipta dan
berkembangnya pertanian organik menuju green economic (Y5) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator paling besar dalam membentuk variabel
manajemen agribisnis sebesar 0.900 dengan nilai t-statistik > 2.64. Indikator
kedua adalah terciptanya lapangan kerja melalui pengembangan diversifikasi
usaha pertanian dan industri rumah tangga (Y2) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator sebesar 0.889. Indikator ketiga adalah meningkatnya insentif
berusaha tani melalui peningkatan produksi dan efisiensi usaha tani (Y4) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator sebesar 0.875. Indikator keempat adalah
peningkatan pendapatan petani (Y7) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator sebesar 0.840.
Selanjutnya evaluasi indikator kelima adalah berkembangnya usaha
ekonomi pedesaan (Y6) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator sebesar 0.826. Indikator keenam adalah berkembangnya kelembagaan dan SDM (Y1) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator sebesar 0.825 dan indikator yang
terakhir adalah berkembangnya intensifikasi dan ekstensifikasi usaha tani (Y3) dengan sumbangan pengaruh koefisien indikator sebesar 0.705
3. Evaluasi koefisien Jalur Struktural
Evaluasi koefisien jalur struktural bertujuan untuk menganalisis jiwa
berikut dilakukan analisis terhadap hasil pengujian model untuk mengetahui
koefisien masing-masing jalur. Pengujian koefisien jalur struktural dilakukan
untuk menjawab hipotesis penelitian dan juga untuk mengetahui besarnya
pengaruh masing-masing variabel. Hasil pengujian model dan hipotesis dapat
dilihat pada Tabel 5.17.
Tabel 5.17
Koefisien Jalur Struktural
Hubungan Antar Variabel Koefisien Jalur
T-Statistic Keterangan
Jiwa Kewirausahaan (X1) -> Keberhasilan
Simantri (Y) 0.366 2.817
Positif dan Sangat Signifikan Manajemen Agribisnis (X2)-> Keberhasilan
Simantri (Y) 0.539 4.330
Positif dan Sangat Signifikan Jiwa Kewirausahaan (X1)-> Manajemen
Agribisnis (X2) 0.917 54.782
Positif dan Sangat Signifikan Sumber : Hasil Analisis Data Responden
Berdasarkan Tabel 5.17 di atas, dapat dibangun model persamaan
hubungan regresi struktur yang terbentuk antara konstruk eksogen dengan
konstruk endogen, sebagai berikut:
1. Y = 0,366 X1 + 0,539 X2
Gambar 5.1 Model Struktural
Berdasarkan hasil pada Gambar 5.1 diatas diketahui bahwa pengaruh
secara bersama-sama variabel jiwa kewirausahaan dan manajemen agribisnis
terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap keberhasilan Simantri dengan
koefisien determinan (R2) sebesar 0.788. Hal ini menunjukkan bahwa variabel jiwa kewirausahaan dan manajemen agribisnis mampu menjelaskan variabel
keberhasilan Simantri sebesar 78.8%, sedangkan sisanya sebesar 22.2% dijelaskan
oleh variabel lain diluar model. Selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis
masing-masing jalur yang terbentuk dalam model yang dipaparkan pada uraian
berikut :
0.917 [54.782]
0.366 [2.817]
1. Pengaruh jiwa kewirausahaan terhadap keberhasilan Simantri.
Jiwa kewirausahaan (X1) terbukti berpengaruh positif dan sangat signifikan terhadap keberhasilan Simantri (Y). Hal ini dapat ditunjukkan oleh koefisien
jalur yang bernilai positif sebesar 0.366 dengan t-statistik sebesar 2.817
(T-statistik > 2.64). Pengaruh secara tidak langsung jiwa kewirausahaan (X1) melalui manajemen agribisnis (X2) terhadap keberhasilan Simantri sebesar 0.494, sehingga hipotesis 1 (H1) : jiwa kewirausahaan berpengaruh positif terhadap keberhasilan Simantri dapat dibuktikan.
2. Pengaruh Jiwa kewirausahaan terhadap penerapan manajemen agribisnis. Jiwa kewirausahaan (X1) terbukti berpengaruh positif dan sangat signifikan terhadap manajemen agribisnis (X2). Hal ini dapat ditunjukkan oleh koefisien jalur yang bernilai positif sebesar 0.917 dengan t-statistik sebesar 54.782
(T-statistik > 2.64) dengan koefisien determinan sebesar 0.842 yang artinya
variabel jiwa kewirausahaan mampu menjelaskan variabel manajemen
agribisnis sebesar 84.2 % sedangkan sisanya sebesar 15.8 % dijelaskan oleh variabel lain diluar model, sehingga hipotesis 2 (H2) : jiwa kewirausahaan berpengaruh positif terhadap manajemen agribisnis dapat dibuktikan.
3. Pengaruh manajemen agribisnis terhadap keberhasilan Simantri.
Manajemen Agribisnis (X2) terbukti berpengaruh positif dan sangat signifikan terhadap keberhasilan Simantri (Y). Hal ini dapat ditunjukkan oleh koefisien
jalur yang bernilai positif sebesar 0.539 dengan t-statistik sebesar 4.330
(T-statistik > 2.64), sehingga hipotesis 3 (H3) : manajemen agribisnis berpengaruh positif terhadap keberhasilan Simantri dapat dibuktikan.
BAB VI PEMBAHASAN
6.1 Tingkat Jiwa Kewirausahaan Kelompok Tani Pelaksana pada Gapoktan