HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Evaluasi/pengontrolan
Tahap terakhir dari manajemen pemasaran adalah monitoring dan evaluasi terhadap elemen-elemen dalam perencanaan pemasaran dan pelaksanaan pemasaran. Kendali dan pengukuran (control) adalah merupakan penjabaran dari bagaimana hasil akhir dan proses program kegiatan komunikasi pemasaran tersebut dipantau dan dievaluasi. Kendali atau pengukuran / pengontrolan adalah merupakan penjabaran dari hasil kerja dan proses program kegiatan komunikasi pemasaran tersebut dipantau dan dievaluasi. Mengacu pada tujuan-tijuan yang sudah ditetapkan dengan menjabarkan kapan pemantauan dan evaluasi dilakukan, bagaimana data didapat dan apa ukurannya (Manulang, 1985: 173).
Evaluasi khusus terhadap pelaksanaan strategi komunikasi pemasaran wisata MICE di Kota Solo belum dilakukan. Evaluasi yang dijalankan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta yang kaitannya dengan wisata MICE adalah sebatas melakukan Survey lapangan yang meliputi kesadaran target pasar mengenai potensi MICE Solo (melalui survey awareness), respon pengunjung situs dan peningkatan hit record, permintaan dari buyer untuk paket umum/MICE (survey buyer), jumlah event skala besar yang diselenggarakan di Solo (update baseline), kepuasan konsumen / klien (survey kepuasan tamu) serta menyususn laporan masing-masing kegitan yang kaitannya dengan aktifitas promosi wisata MICE
2. Peran stakeholder terkait dalam pelaksanaan strategi komunikasi pemasaran wisata MICE di Kota Solo
Kelancaran dan keberhasilan sebuah organisasi mencapai tujuan dipengaruhi oleh komunikasi dan koordinasi dalam organisasi tersebut. Koordinasi merupakan aktifitas dan fungsi manajemen yang dilakukan untuk mengusahakan terjadinya kerjasama yang selaras dan tertib mengarah pada tercapainya tujuan organisasi secara menyeluruh (Syamsi, 1994:113). Kerjasama banyak dilakukan dalam setiap kesempatan, tak hanya oleh organisasi besar, atau pun hanya kelompok-kelompok kecil, namun antara individu satu dengan individu lainnya juga banyak terjalin kerjasama. Kerjasama juga dilakukan agar individu dapat mempermudah dalam melakukan kegiatannya, dan dapat menghasilkan hasil yang maksimal. Menurut Deutch , 1949 (Hadi Suyono, 2008) kerjasama akan terjadi antar kelompok kecil apabila masing-masing anggota kelompok itu dapat menembus wilayah antar kelompok, dan persaingan akan terjadi apabila masing-masing anggota kelompok tidak berhasil menembus wilayah antar kelompok. Baron & Byane (Hadi Suyono, 2008) juga menjelaskan pengertian kerjasama (cooperation) adalah suatu usaha atau bekerja untuk mencapai suatu hasil.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta melibatkan semua stakeholder dan masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan Kota Solo sebagai destinasi wisata MICE. Seperti dijelaskan bahwa unsur-unsur yang mengikuti Wisata MICE sangat kompleks dan massif karena untuk menjadi Kota MICE harus memenuhi sembilan kriteria dan 65 indikator maka pelaksanaan pemasarannnya pun akan melibatkan banyak sektor. Duncan (2008:8) menekankan adanya lima prinsip dalam komunikasi pemasaran terpadu salah satunya adalah Creating and nourishing stakeholder relationship yakni upaya menarik pelanggan dan kemudian melakukan interaksi dengan mereka sehingga akan diperoleh informasi mengenai apa yang sebenarnya harus dilakukan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan dan stakeholder. Dengan demikian sebuah perusahaan tetap bisa memepertahankan bahkan meningkatkan pembelian dan dukungan mereka.
Stakeholder pariwisata yang terlibat dalam pemasararan wisata MICE ini adalah Association of The Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Cabang Surakarta,
Himpunan Pemanduwisata Indonesia (HPI), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DPC Surakarta , Event Organizer, Perguruan Tinggi seperti Universitas Negeri Sebelas Maret serta akademisi pariwisata dan perhotelan, Forum Pariwisata SOLO RAYA, dan komunitas-komunitas lainnya.
a. DPC Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Surakarta
PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) adalah bagian penting dari bisnis pariwisata dan MICE yang berperan sebagai penyedia venue sekaligus akomodasi. Perkembangan hotel dan restoran sebagai salah satu tujuan wisata MICE semakin menjadi penting manakala fungsinya menjadi bertambah selain sebagai sarana akomodasi saat ini juga menjadi tempat pertemuan, pameran maupun program-program insentif lainnya. Kegiatan MICE sudah tidak asing lagi khusunya bagi dunia perhotelan. Sebelum ditetapkanya Kota Solo sebagai Kota MICE, dunia perhotelan sudah lekat dengan bisnis MICE. Dampak bisnis MICE menjadi lebih terasa manakala Kota Solo tampil sebagai salah satu destinasi wisata MICE di Indonesia.
Seperti yang sudah dipaparkan, bahwa PHRI berperan aktif dalam strategi komunikasi pemasaran wisata MICE di Kota Solo, yaitu:
1) Penyedia produk dan jasa akomodasi dan ruang pertemuan. Perkembangan bisnis MICE yang terus meningkat membuat investor dan pengelola hotel ikut andil menangkap peluang tersebut yaitu dengan menyediakan fasilitas ruang meeting dengan segala perlengkapan untuk menunjang kegiatan MICE. Perlengkapan penunjang ini berupa makanan, minuman, tempat rekreasi atau relaksasi seperti kolam renang, spa, fitness center, bar dan lain ssebagainya. Kondisi ini sebagai upaya menciptakan kenyaman dan pelayanan prima bagi tamu.
2) Mendukung pemerintah Kota dalam hal manajemen produk yaitu dengan membuat harga-harga paket meeting sesuai kebutuhan tamu dan sesuai kondisi pasar. Hal ini merupakan strategi pemasaran yang menyasar langsung pada apa yang dibutuhkan tamu secara individu, atau disebut sebagai mass
customization artinya perusahaan memproduksi dan mengirim suatu barang atau jasa yang sesuai dengan kebutuhan khusus dari setiap individu (Belch & Belch 2001: 9).
3) Mendukung pemerintah Kota dalam menjalankan pemasaran wisata MICE dengan melakukan kegiatan promosi secara pribadi seperti sales call, telemarketing, direct selling, sales promotion, public relation, marketing interactive maupun bersama pemerintah dan stakeholder pariwisata yang lain dalam acara road show, travel mart, table top dan lain sebagainya.
b.DPC ASITA (Assocition of The Indonesian Tours and Travel Agencies) Surakarta
ASITA merupakan sebuah organisasi Biro Perjalanan Wisata (BPW) yang mana salah satu bisnis utamanya adalah menyelenggarakan paket inbound dan outbound, termasuk didalamnya aktivitas penyelenggaran MICE baik di dalam dan diluar negeri. ASITA berperan aktif dalam strategi komunikasi pemasaran wisata MICE di Kota Solo dalam hal:
1) Penyedia produk dan jasa wisata dan perjalanan. Wisata MICE merupakan bagian dari business tourism artinya wisata yang menggabungkan antara urusan bisnis dan kesenangan. Oleh karena itu ketika kegiatan MICE terselenggara dan untuk menciptakan manfaat fisik dan manfaat sensual maka penyedaia jasa wisata sangat diharapkan. 2) Mendukung pemerintah Kota dalam hal manajemen produk yaitu dengan membuat harga-harga paket perjalanan wisata khusus wisatawan MICE berupa kegiatan pre/post tour. Sama halnya dengan perhotelan BPW selalu menciptakan harga paket-paket wisata sesuai kebutuhan tamu baik dari segi harga maupun tujuan wisatanya.
3) Mendukung pemerintah Kota dalam menjalankan promosi dan pemasaran wisata MICE dengan aktif dalam kegiatan Travel mart baik nasional maupun internasional dan secara rutin mengadakan agenda Bengawan Travel Mart. Bengawan Travel Mart adalah kegiatan