HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Kota Solo 1. Sejarah Kota Solo
3. Gambaran Umum Daerah a). Kondisi Geografis
Kota Surakarta yang lebih dikenal dengan nama Kota Sala (selanjutnya akan disebut bergantian kota Surakarta atau Kota Solo) merupakan kota besar kedua setelah Semarang. Secara Geografis, wilayah administrtatif Kota Surakarta terletak di tengah wilayah eks Karesidenan Surakarta, dengan batas wilayah: Sebelah Utara : Kabupaten Boyolali
Sebelah Timur : Kabupaten Karanganyar Sebelah Selatan : Kabupaten Sukoharjo
Sebelah Barat : Kkabupaten Sukoharjo.
Kota Surakarta yang terletak pada jalur strategis Bali-Surabaya-Solo-Yogyakarta-Purwokerto-Jakarta-Sumatra, sangat berpeluang besar dalam pengembangan bidang perdagangan, industri pengolahan, manufaktur, pariwisata, dan pendidikan.
Secara astronomis Kota Surakarta terletak diantara 110o 45‟ 15” – 110o 45‟ 35” Bujur Timur dan antara 7o 36‟ 43” _ 7o 56‟ 28” Lintang Selatan dengan luas wilayah 44,06 km2. Secara geografis Surakarta berada diantara dua buah gunung yaitu Gunung Lawu dan Gunung Merapi. Dan berada ditepi sungai Bengawan Solo sehingga Kota Surakarta memiliki topografi yang realtif rendah, dengan ketinggian rata-rata 92m diatas permukaan laut. Suhu udara anatara 24,8 – 28,1
o
C dengan kelembaban udara 84%.
Kota Surakarta merupakan kota tua, bekas ibukota kerajaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat sejak tahun 1745 dan Pura Mangkunegaran. Kedua pusat kebudayaan jawa tersebut sudah tentu memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan tradisi dan adat istiadat masyarakat Kota Surakarta dan sekitarnya. Kekayaan budaya Jawa yang bersumber dari kedua punjering kebudayaan Jawa tersebut merupakan kekayaan cultural yang paling besar disbanding kekayaan daerah lain. Salah satu karakteristik tata nilai budaya jawa adalah kenthal dan laku tirakat, antara lain dalam bentuk berjaga malam (lek-lekan). Dengan banyaknya warga yang senang laku tirakat lek-lekan inilah kemudian muncul usaha-usaha yang beroperasi pada malam hari di banyak kawasan strategis, misalnya: hik. Dari sini muncul julukan Sala, kota yang tidak pernah tidur.
b). Kondisi Demografis (1) Kondisi Penduduk
Kota Surakarta merupakan kota dengan penduduk yang padat, dengan rata-rata pertumbuhan penduduk sebesar 2%. Jumlah penduduk kota Surakarta berdasarkan pendapatan penduduk berkelanjutan tahun 2014 kurang lebih sebanyak 552.650 jiwa dengan sex ratio 97,76 (setiap 100 penduduk wanita
terdapat 97-98 penduduk laki-laki). Jumlah penduduk yang kerja sebanyak 346.181 jiwa atau sebesar 62,64 %. Wanita yang telah bekerja sebesar 170.604jiwa atau sebesar 30,87% . Tingkat kepadatan penduduk cukup tinggi yaitu 12.548 jiwa/km2, dengan kepadatan tertinggi di Kecamatan Pasar Kliwon sebesar 17.429 jiwa/km2 dan kepadatan terendah di Kecamatan Jebres sebesar 11.298 jiwa/km2.
Surakarta sebagai salah satu kota besar di Indonesia memiliki struktur tenaga kerja yang hampir sama, yaitu didominasi oleh sektor industri, dan sektor jasa. Berdasarkan data SIAK Dinas kependudukan dan catatan sipil Surakarta tahun 2014 menunjukkan bahwa mayoritas penduduk kota Solo bekerja sebagai pegawai perusahaan swasta selanjutnya sebagai wiraswasta, pegadang, pegawai negeri, Guru dan Dosen, pekerja seni, buruh harian lepas, para medis, pelayan keagamaan.
Bedasarkan tingkat Pendidikan yang ditamatkan penduduk Kota Surakarta jumlah terbanyak tamat SLTA/sederajat 1662.606 jiwa, kemudian diikuti tamat SLTP/Sederajat 84.227 jiwa, tamat SD/sederajat 82.848 jiwa, tamat Diploma I / II 3.466 jiwa, tamat akademi/D III sebanyak 22.130 jiwa, tamat S1 44.889 jiwa, tamat S2 4.251 jiwa, tamat S3 189 jiwa. Sedangkan yang belum tamat SD/sederajat 60.760 jiwa, dan yang tidak/belum sekolah sebanyak 87.284. Selain dihuni oleh suku Jawa, ada banyak pula penduduk beretnis Tionghoa, dan Arab yang tinggal di Surakarta. Keberagaman agama dan kepercayaan juga membaur di tengah-tengah warga Solo diantaranya agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu dan aliran kepercayaan.
Bangunan ibadah bersejarah yang masih dapat dijumpai di Surakarta beragam, yang mencerminkan keberagaman kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Solo, mulai dari masjid terbesar dan paling sakral yang terletak di bagian barat kota Surakarta, yaitu Masjid Agung Surakarta yang dibangun sekitar tahun 1727 atas prakarsa dari Paku Buwono X, Masjid Mangkunegaran, masjid tertua di Solo, Masjid Laweyan, Gereja St. Petrusdi Jl. Slamet Riyadi, Gereja St. Antonius
Purbayan, hingga Tempat Ibadah Tri Dharma Tien Kok Sie, Vihara Am Po Kian, dan Sahasra Adhi Pura.
Perkampungan Arab menempati tiga wilayah kelurahan, yaitu Kelurahan Pasar Kliwon, Semanggi dan Kedung Lumbu di Kecamatan Pasar KliwonPenempatan kampung Arab secara berkelompok tersebut sudah diatur sejak zaman dulu untuk mempermudah pengurusan bagi etnis asing di Surakarta dan demi terwujudnya ketertiban dan keamanan. Etnis Arab mulai datang di Pasar Kliwon diperkirakan sejak abad ke-19. Terbentuknya perkampungan di Pasar Kliwon, selain disebabkan oleh adanya politik pemukiman di masa kerajaan, juga tidak terlepas dari kebijakan pemerintah kolonial. Perkampungan Tionghoa banyak terfokus di wilayah Balong, Coyudan, dan Keprabon. Hal ini dapat dilihat dengan adanya bangunan-bangunan kelenteng dan tempat ibadah, seperti Kelenteng Tien Kok Sie.
(2)Kondisi Pemerintahan
Wilayah administrasi kota Surakarta terbagi menjadi lima wilayah kecamatan yaitu Jebres, Banjarsari, Pasar Kliwon, Serengan dan Lawiyan dan 51 Kalurahan dengan luas wilayah dan kepadatan penduduk yang berbeda-beda. Wilayah terluas berada di Kecamatan Banjarsari (14,81 km2) dan wilayah tersempit di Kecamatan Serengan (3,19 km2).
(3) Sosial dan Budaya
Surakarta memiliki semboyan "Berseri",akronim dari "Bersih, Sehat, Rapi, dan Indah", sebagai slogan pemeliharaan keindahan kota. Untuk kepentingan pemasaran pariwisata, Solo mengambil slogan pariwisata Solo, The Spirit of Java (Jiwanya Jawa) sebagai upaya pencitraan kota Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa. Slogan Solo The Spirit of Java diperoleh dari hasil sayembara yang diadakan oleh Pemkot Solo pada 4 Oktober sampai 14 November 2005 yang dimenangkan oleh Dwi Endang Setyorini (warga Giriroto, Ngemplak, Boyolali). Logonya, dikerjakan oleh perusahaan
periklanan pemenang pitching (tender), yaitu Freshblood Indonesia (Solo) dan didampingi oleh tim konsultan desain Optimaxi (Jakarta) di bawah pengawasan GTZ dalam rangkaian program Regional Economic Development (RED) atau GTZ-RED.
Perancangan logo berlangsung sekitar enam bulan di Solo. Selama masa itu diselenggarakan sesi konsultasi dengan Badan Koordinasi Antar Daerah (BKAD) dan tokoh masyarakat, yang puncak sosialisasinya digelar di Ballroom Hotel Quality (The Sunan Hotel saat ini), dihadiri beragam kalangan sebagai representasi wilaya Solo Raya Tim perancang bekerja dengan bekal slogan hasil sayembara dan dituntut menjabarkan konsep Spirit of Java dalam wujud visual. Identitas visual yang berupa tulisan ”Solo” beserta slogan di bawahnya dengan aksen huruf ”O” berbentuk relung, diperoleh dari ekstraksi konsep visual yang merefleksikan kesan Jawa dalam tampilannya. Relung dalam logo bisa saja mengingatkan orang pada ornamen keris, batik, atau mebel yang merujuk pada wilayah (Jawa). Selain itu Kota Solo juga memiliki beberapa julukan, antara lain Kota Batik, Kota Budaya, Kota Liwet, Solo Kota MICE. Penduduk Solo disebut sebagai wong Solo, dan istilah putri Solo juga banyak digunakan untuk menyebut wanita yang memiliki karakteristik mirip wanita dari Solo.
Julukan, slogan atau semboyan tersebut diharapkan menjadi semangat dan penuntun bagi masyarakat kota Surakarta untuk lebih maju dan berkembang dalam segala bidang, juga sebagai upaya untuk menonjolkan keistimewaan dan keunikannya. Slogan tersebut juga dimaksudkan untuk me-branding kota Solo di mata dunia, yang nantinya diharapkan dapat meningkatkan dunia pariwisata di Indonesia, dan di kota Solo pada khususnya.
Sebagai daerah yang miskin sumber daya alam, kondisi sosial ekonomi Kota Surakarta sudah barang tentu banyak dipengaruhi oleh seberapa jauh output yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan sektor ini akan sangat tergantung pada masukan produk sumber daya alam dari luar wilayah Surakarta, khususnya wilayah SUBOSUKOWONOSRATEN. Akan tetapi, karena Surakarta memiliki fungsi layanan jasa-jasa, maka wilayah-wilayah sekitar Surakarta tersebut juga
menggantungkan layanan jasa yang diproduksi di Surakarta untuk menjalankan roda ekonominya.
Pusat bisnis kota Solo terletak di sepanjang jalan Slamet Riyadi. Beberapa bank, hotel, pusat perbelanjaan, restoran internasional, hingga tujuan wisata dan hiburan terletak di sepanjang jalan protokol ini, termasuk Graha Soloraya, Loji Gandrung (rumah dinas wali kota). Pada hari minggu pagi, jalanan Slamet Riyadi khusus ditutup bagi kendaraan bermotor, untuk digunakan sebagai ajangSolo Car Free Day, sebagai bagian dari tekad pemda untuk mengurangi polusi. Beberapa mal modern di Solo antara lain Solo Square, Solo grand Mall (SGM), Solo Paragon, Solo Center Point (SCP), Singosaren plaza, Pusat Grosir Solo (PGS), Beteng Trade Center(BTC), Hartono Mall Solo Baru, Pusat Perbelanjaan Luwes (Ratu Luwes, Sami Luwes, Luwes Sangkrah, Luwes Gading, Luwes Nusukan, Luwes Mojosongo, Luwes Palur), dan Palur Plaza. Solo memiliki beberapa pabrik yang mempekerjakan karyawan dalam jumlah yang besar antara lain Sritex, Konimex, dan Jamu Air Mancur. Selain itu masih ada banyak pabrik-pabrik lain di zona industri Palur.Beberapa rumah sakit bersejarah antara lain RS Kadipolo dan Rumah Sakit Panti Kosala (Kandang Sapi). Sementara rumah sakit lain dengan fasilitas UGD 24 jam antara lain RSUD Moewardi, RS PKU Muhammadiyah, RS Islam Surakarta (Yarsis), RS Kustati, RS Kasih Ibu, RS Panti Waluyo, RS Brayat Minulyo, dan RS Dr. Oen Solo Baru. RS Ortopedi Dr. Soeharso adalah salah satu pusat ortopedi terkemuka di Indonesia yang pernah menjadi pusat rujukan tulang nasional. Karena sejarahnya, terdapat banyak bangunan bersejarah Surakarta mulai dari bangunan ibadah, bangunan umum, keraton, hingga bangunan militer. Selain Keraton Surakarta (dibangun 1675) dan Pura Mangkunegaran (dibangun 1757), terdapat pula Benteng Vesternburg peninggalan Belanda, dan Loji Gandrung yang saat ini digunakan sebagai kediaman Walikota Surakarta. Sebelumnya, bangunan peninggalan Kolonial yang sampai saat ini masih utuh kondisinya ini selain digunakan sebagi tempat kediaman pejabat pemerintah Belanda, juga sering digunakan untuk dansa-dansi gaya Eropa dan bangsawan Jawa, sehingga
disebut sebagai “Gandrung”. Pada tahun 1997 telah didata 70 peninggalan sejarah di Solo yang meliputi tempat bersejarah, rumah tradisional, bangunan kolonial, tempat ibadah, pintu gerbang, monumen, furnitur jalan, dan taman kota.
Museum batik yang terlengkap di Indonesia, yaituHouse of Danar Hadi,dan museum tertua di Indonesia, yaitu Musem Radya Pustaka, terletak di jalan protokol Slamet Riyadi, Surakarta. Museum Radya Pustaka yang dibangun pada tanggal 28 Oktober 1980 oleh Kanjeng Adipati Sosrodiningrat IV, Pepatih Dalem pada masa pemerintahan Paku Buwono IX dan Paku Buwono X, memiliki artefak-artefak kuno kebudayaan Jawa dan bertempat di kompleks Taman Wisata Budaya Sriwedari. Selain itu ada pula Museum Keraton Surakarta (Museum Sasana Pustaka), Museum Pura Mangkunegaran (Museum Rekso Pustaka), Museum Pers, Museum Sangiran dan Museum Lukis Dullah. Selain museum, terdapat pula sebuah situs budaya bernama Balai Sudjatmoko. Bangunan ini adalah rumah Sudjatmoko yang di dalamnya masih bisa dilihat karya-karya dan peninggalan Sudjatmoko baik dalam bentuk buku, kaca mata, toga, dan foto-foto asli dokumenter koleksi pribadi keluarga Sudjatmoko. Balai Sudjatmoko difungsikan oleh pengelolanya sebagai pusat apresiasi baik pementasan, pertunjukan, pameran, bedah buku dan sarasehan. Para seniman juga diberi kesempatan luas untuk memanfaatkan Balai Sudjatmoko untuk melakukan apresiasi seni dalam bentuk pameran baik pameran lukisan, patung, kriya sampai dengan pameran pendidikan.
Surakarta dikenal sebagai salah satu inti kebudayaan Jawa karena secara tradisional merupakan salah satu pusat politik dan pengembangan tradisi Jawa. Kemakmuran wilayah ini sejak abad ke-19 mendorong berkembangnya berbagai literatur berbahasa Jawa, tarian, seni boga, busana, arsitektur, dan bermacam-macam ekspresi budaya lainnya. Orang mengetahui adanya "persaingan" kultural antara Surakarta dan Yogyakarta, sehingga melahirkan apa yang dikenal sebagai "gaya Surakarta" dan "gaya Yogyakarta" di bidang
busana, gerak tarian, seni tatah kulit (wayang), pengolahan batik, gamelan, dan sebagainya.
Bahasa yang digunakan di Surakarta adalah bahasa Jawa Surakarta dialek Mataraman (Jawa Tengahan) dengan varian Surakarta. Dialek Mataraman/Jawa Tengahan juga dituturkan di daerah Yogyakarta, Magelang timur, Semarang, Pati, Madiun, hingga sebagian besar Kediri. Meskipun demikian, varian lokal Surakarta ini dikenal sebagai "varian halus" karena penggunaan kata-kata karma yang meluas dalam percakapan sehari-hari, lebih luas daripada yang digunakan di tempat lain. Bahasa Jawa varian Surakarta digunakan sebagai standar bahasa Jawa nasional (dan internasional, seperti di Suriname). Beberapa kata juga mengalami spesifikasi, seperti pengucapan kata "inggih" ("ya" bentuk krama) yang penuh (/iŋgɪh/), berbeda dari beberapa varian lain yang melafalkannya "injih" (/iŋdʒɪh/), seperti di Yogyakarta dan Magelang. Dalam banyak hal, varian Surakarta lebih mendekati varian Madiun-Kediri, daripada varian wilayah Jawa Tengahan lainnya.
Walaupun dalam kesehariannya masyarakat Solo menggunakan bahasa nasional bahasa Indonesia namun sejak kepemimpinan wali kota Joko Widodo maka bahasa Jawa mulai digalakkan kembali penggunaannya di tempat-tempat umum, termasuk pada plang nama-nama jalan dan nama-nama instansi pemerintahan dan bisnis swasta.
Solo juga berperan dalam pembentukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional Indonesia Pada tahun 1938, dalam rangka memperingati sepuluh tahun Sumpah Pemuda, diselenggarakan Konggres Bahasa Indonesia I di Solo, Jawa Tengah. Kongres ini dihadiri oleh bahasawan dan budayawan terkemuka pada saat itu, seperti Prof. Dr.Hoesein Djajadiningrat, Prof. Dr.Poerbotjaraka, dan Ki Hajar Dewantara. Dalam kongres tersebut dihasilkan beberapa keputusan yang sangat besar artinya bagi pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia. Solo memiliki beberapa tarian daerah seperti Bedhaya (Ketawang, Dorodasih, Sukoharjo, dll.) dan Srimpi (Gandakusuma dan Sangupati). Tarian ini masih dilestarikan di lingkungan Keraton Solo. Tarian seperti Bedhaya Ketawang
secara resmi hanya ditarikan sekali dalam setahun untuk menghormati Sri Susuhunan Pakoe Boewono sebagai pemimpin Kota Surakarta.
Peninggalan sejarah lain adalah Batik. Batik adalah kain dengan corak atau motif tertentu yang dihasilkan dari bahan malam khusus (wax) yang dituliskan atau di cap pada kain tersebut, meskipun kini sudah banyak kain batik yang dibuat dengan proses cetak. Solo memiliki banyak corak batik khas, seperti Sidomukti dan Sidoluruh. Di KecamatanLaweyan terdapat Kampung Batik laweyan yaitu kawasan sentra industri batik yang sudah ada sejak zaman kerajaan Pajang tahun 1546. Kampung batik lainnya yang terkenal untuk para turis adalah Kampung Batik Kauman. Produk-produk batik Kampung Kauman dibuat menggunakan bahan sutra alam dan sutra tenun, katun jenis premisima dan prima, rayon. Keunikan yang ditawarkan kepada para wisatawan adalah kemudahan transaksi sambil melihat-lihat rumah produksi tempat berlangsungnya kegiatan membatik. Artinya, pengunjung memiliki kesempatan luas untuk mengetahui secara langsung proses pembuatan batik bahkan untuk mencoba sendiri mempraktekkan kegiatan membatik.
Batik Solo memiliki ciri pengolahan yang khas, warna kecoklatan (sogan) yang mengisi ruang bebas warna, berbeda dari gaya Yogya yang ruang bebas warnanya lebih cerah. Pemilihan warna cenderung gelap, mengikuti kecenderungan batik pedalaman. Jenis bahan batik bermacam-macam, mulai dari sutra hingga katun, dan cara pengerjaannya pun beraneka macam, mulai dari batiktulis hingga batik cap.