BAB VI PEMBAHASAN
6.1 Pembahasan Hasil Kajian
Berdasarkan perhitungan rata-rata total biaya pengeluaran panen petani per hektar menggunakan metode panen combine harvester lebih sedikit dibandingkan dengan metode panen konvensional. Hasil kajian perhitungan rata- rata total biaya pengeluaran petani sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh S. Siadina (2019) bahwa rata-rata total biaya petani menggunakan metode panen combine harvester lebih sedikit ditinjau dari aspek pengurangan biaya tenaga kerja. Akan tetapi, berdasarkan peneltian yang dilakukan oleh Andi (2021) menyatakan bahwa total biaya usahatani padi menggunakan metode panen combine harvester lebih tinggi dibandingkan dengan metode panen konvensional.
Hal ini ditinjau dari aspek harga jasa penyewaan mesin combine harvester tinggi sehingga total biaya menjadi tinggi dibandingkan dengan metode panen secara tradisioanal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Maksudi (2018) menyatakan bahwa pemanenan menggunakan combine harvester sangat efektif berdasarkan dari aspek efisiensi waktu, tenaga kerja, biaya operasional, peningkatan produktifitas, dan pengurangan tingkat kehilangan hasil panen.
Hasil perhitungan rata-rata penerimaan petani per hectare dengan metode panen combine harvester lebih besar dibandingkan dengan metode panen konvensional karena hasil produksi yang diperoleh dan harga gabah kering panen berbeda antara menggunakan combine harvester dan konvensional. Hasil kajian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh A. Abubakar (2018) yang menjelaskan bahwa penerimaan petani menggunakan combine harvester lebih besar dibandingkan metode konvensional ditinjau dari aspek tingkat kehilangan hasil panen. Metode panen menggunakan combine harvester lebih menekan
66
67
tingkat kehilangan hasil panen karena proses pemotongan, perontokan, dan pengarungan pada mesin combine harvester dilakukan secara langsung.
Sedangkan menggunakan metode panen secara konvensional setelah proses pemotongan dilakukan proses pengangkutan sebelum gabah diperontok, sehingga menyebabkan tingkat kehilangan hasil pada metode panen konvensional tinggi. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Khoiri (2018) menyatakan bahwa kemampuan serap gabah pada alat panen combine harvester lebih baik daripada alat panen konvensional, sehingga mempengaruhi tinggi rendahnya produksi dan tingkat kehilangan gabah pada suatu areal sawah.
Tingkat kehilangan hasil pada metode panen konvensional besar karena terdapat gabah yang tertinggal di malai yang tidak terpotong. Gabah tersebut dibiarkan oleh petani sebagai sedekah untuk orang yang membutuhkan.
Hasil kajian analisis rata-rata pendapatan petani padi per hectare menggunakan metode panen combine harvester lebih besar dibandingkan dengan rata-rata pendapatan petani menggunakan panen secara konvensional. Hal tersebut terjadi karena terdapat perbedaan jumlah pernerimaan petani per hektar dan jumlah biaya yang dikeluarkan petani per hektar. Perbedaan pendapatan petani padi menggunakan metode panen combine harvester dengan petani konvensional berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Noufal (2021) yang menyatakan terdapat perbedaan biaya produksi dan penerimaan petani yang cukup besar, dimana terdapat selisih penerimaan dan selisih biaya produksi yang dikeluarkan petani padi yang menggunakan metode panen combine harveesteer dan konvensional. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Khoiri (2018) menyatakan bahwa perbedaan harga jual gabah kering panen dengan menggunakan combine harvester kualitas hasil produksi gabah lebih bersih dibandingkan dengan metode panen konvensional, sehingga terjadi perbedaan
68
harga gabah kering panen serta akan berpengaruh pada pendapatan petani. Dan kajian pendapatan sejalan pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Phahlevi (2018) menyatakan bahwa jumlah hasil produksi padi dan luas lahan usahatani berpengaruh signifikan terhadap hasil pendapatan karena semakin luas lahan usahatani dan jumlah hasil produksi sangat berpengaruh terhadap hasil pendapatan petani, semakin luas lahan maka semakin besar pula peluang mendapatkan hasil produksi yang tinggi.
Analisis pendapatan kajian juga sejalan dengan penelitian Dian A (2021) menyatakan hasil penggunaan mesin panen dipengaruhi oleh jumlah hasil produksi padi yang dihasilkan dan luas lahan usahatani yang digunakan. Semakin tinggi jumlah produksi maka semakin tinggi pula pendapatan yang dihasilkan. Baik petani yang menggunakan meisn panen combine harvester dan yang tidak menggunakan mesin panen keduanya sama sama menghasilkan keuntungan tetapi dari segi jumlah produksi yang berpengaruh terhadap pendapatan, petani yang menggunakan panen combine harvester yang memiliki keunggulan baik dari pendapatan maupun hasil produksi.
Akan tetapi kajian yang di lakukan ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Asi Karlina (2017) yang menjelaskan bahwa tidak terjadi perbedaan pendapatan yang signifikan antara petani yang menggunakan metode panen combine harvester dengan petani yang menggunakan metode konvensional.
Pendapatan petani yang menggunkan metode konvensional sedikit lebih tinggi dari petani yang menggunakan combine harvester. Hal tersebut terjadi karena pada penelitian ini sawah memiliki produksi padi yang cukup rendah, yang hanya dapat untuk kebutuhan keluarga tidak dapat disimpan ataupun dijual sebagai modal. Petani memilih menggunakan metode konvensional meksipun dengan jumlah tenaga kerja yang banyak serta memakan waktu yang lebih lama.
69
Berdasarkan perhitungan R/C ratio pada kajian menunjuknan bahwa nilai R/C ratio >1, artinya metode panen menggunkan combine harvester layak dan lebih menguntungkan. Hasil kajian sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Durroh B (2020) menyatakan bahwa metode panen menggunakan combine harvester layak diusahakan dan menguntungkan karena penerimaan petani lebih besar dari biaya pengeluaran. Dan sejalan pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Dian A (2021) menyatakan bahwa nilai R/C dapat menunjukkan bahwa usahatani yang dikembangkan menguntungkan karena penerimaan lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan. Pengolahan usahatani yang dilakukan secara efisien akan mendapatkan hasil penerimaan yang besar, makan akan semakin besar pendapafan serta akan mendapatkan keuntungan yang diperoleh.
Serta sejalan dengan penelitian Muharram (2018) menyatakan hasil R/C mekanisasi combine harvester lebih tinggi dibandingkan metode konvensional, meskipun kedua metode memiliki hasil lebih dari satu akan tetapi nilai mekanisasi combine harvester lebih tinggi sehingga dapat disimpulkan bahwa metode mekanisasi lebih layak dan efisien.
Tabel 6.1 Matriks Hasil Kajian Metode Panen Combine Harvester Dan Konvensional/Ha/MT/Petani
Metode Panen
Total Biaya (Rp/Ha)
Penerimaan (Rp/Ha)
Pendapatan (Rp/Ha)
R/C Ratio
B/C Ratio Combine harvester 3.854.384,62 52.901.538,5 49.056.153,8 13,7 12,7
Konvensional 4.426.410,26 32.278.564,1 27.852.153,8 7,3 6,3 Selisih 572.025,64 20.622.974,4 21.204.000
Sumber: Data yang diolah, 2022
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pemanenan menggunakan mesin combine harvester lebih efisien dari segi waktu dan tenaga kerja jika dibandingkan dengan metode panen konvensional. Pemanenan menggunakan combine harvester semua rangkaian pemanenan padi sekaligus dikerjakan mulai
70
dari pemotongan, perontokan da pengarungan. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Batlibangtan (2015) menyatakan bahwa kegiatan panen menggunakan combine harvester sangat efisien dari jumlah tenaga kerja ataupun waktu. Dalam 1 Ha sawah yang biasa di panen oleh 15-20 orang selama 2-3 hari, tetapi dengan menggunkan combine harvester cukup 6 jam dengan 3 orang perkeja.
Dilihat dari hasil uji statistik kajian yang dilakukan bahwa nilai t hitung (t Stat) 3.484 > t tabel (t Critical one-tail) 1.690, artinya pendapatan petani padi menggunakan combine harvester terjadi perdedaan nyata dengan pendapatan petani konvensional. Analisis uji t pada hasil kajian sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Abubakar A (2020) menyatakan bahwa hasil nilai statistik t yang diperoleh adalah pendapatan rata-rata (mean) combine hervester lebih besar dari metode panen secara tradisional. Berdasarkan analisis maka dapat disimpulkan terlihat jelas berbedaan pendapatan petani padi menggunakan combine harvester dan konvensional. Dan sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Vinkan (2022) menyatakan bahwa terjadi perbedaan pendapatan petani sebelum dan sesudah menggunakan combine harvester. Rata-rata pendapatan petani padi sebelum menggunakan metode panen combine harvester lebih rendah dibandingkan sesudah menggunakan metode panen combine harvester. Hal ini terjadi karena biaya produksi petani yang dibutuhkan lebih besar sebelum menggunakan metode panen combine harvester dan tenaga kerja yang dibutuhkan sebelum menggunakan combine harvester lebih banyak dibandingkan sesudah menggunakan combine harvester.