• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL KAJIAN

4.3 Analisis Pendapatan

41

42

Rata-rata pengeluaran panen petani per hektar menggunakan combine harvester untuk biaya tetap (FC) sebesar Rp. 3.215.284,62/Ha/MT/Petani dan biaya variabel (VC) sebesar Rp. 630.000/Ha/MT/Petani, sehingga biaya total pengeluaran (TC) petani menggunakan metode panen combine harvester sebesar Rp. 3.845.384,62/Ha/MT/Petani. Sedangkan rata-rata pengeluaran panen petani per hektar menggunakan cara konvensional untuk biaya tetap (FC) sebesar Rp.

409.230,769/Ha/MT/Petani dan biaya variabel (VC) sebesar Rp.

4.017.179,49/Ha/MT/Petani, sehingga biaya total pengeluaran (TC) petani menggunakan metode panen konvensional sebesar Rp.

4.426.410,26/Ha/MT/Petani. Dari hasil perhitungan total biaya petani per hektar menunjukan bahwa total biaya pengeluaran secara konvensional lebih banyak yaitu sebesar Rp. 4.426.410,26/Ha/MT/Petani dibandingkan dengan combine harvester sebesar Rp. 3.215.284,62/Ha/MT/Petani.

Perbedaan total biaya di sebabkan karena biaya sewa alat dan biaya tenaga kerja untuk kedua metode panen berbeda. Untuk metode panen secara konvensional biaya untuk sewa alat panen dan upah tenaga kerja terpisah yaitu untuk biaya sewa merupakan sewa mesin perontok (power thrasher) dan untuk biaya tenaga kerja meliputi tenaga kerja pemotong, perontokan dan kelurgatani.

Sedangakan untuk metode panen combine harvester biaya sewa dan tenaga kerja operator. Tenaga kerja metode panen konvensional lebih banyak yaitu rata-rata per hektar 20 orang dan untuk metode panen combine harvester hanya membutuhkan 3 orang tenaga kerja.

4.3.2 Penerimaan

Selain total biaya, penerimaan petani juga mempengaruhi pendapatan dari hasil panen. Penerimaan didapat dari perkalian antara jumlah produksi (hasil panen) dan harga jual gabah kering panen (GKP). Berikut adalah penerimaan petani padi menggunakan combie harvester dan konvensional.

43

Tabel 4.10 Penerimaan Panen Combine harvester dan Konvensional/37,5 Ha/MT No Metode Panen Hasil Panen

(Kwintal)

Harga GKP (Rp/Kwintal)

Penerimaan (Rp) 1

2

Combine harvetser Konvensional

3.126 3.070,4

440.000 410.000

1.375.440.000 1.258.864.000 Berdasarkan tabel 4.10 penerimaan panen menggunakan combine harvester sebesar Rp. 1.375.440.000,00 dan penerimaan panen secara konvensional sebesar Rp. 1.258.864.000,00.

Tabel 4.11 Rata-Rata Penerimaan Panen Combine harvester dan Konvensional/Ha/MT/Petani

No Metode Panen Hasil Panen (Kwintal)

Harga GKP (Rp/Kwintal)

Penerimaan (Rp) 1

2

Combine harvetser Konvensional

120,23 78,72

440.000 410.000

52.901.538,5 32.278.564,1 Sumber: Data yang diolah, 2022

Rata-rata penerimaan petani per hektar dengan metode panen combine harvester sebesar Rp.52.901.538,5/Ha/MT/Petani. Sedangkan penerimaan petani per hektar dengan metode panen secara konvensional sebesar Rp.

32.278.564,1/Ha/MT/Petani. Untuk rata-rata hasil panen per hektar menggunakan combine harvester lebih tinggi yaitu sebesar 120,23 Kwintal/Ha dibandingkan konvensional sebesar 78,72 Kwintal/Ha. Selisih hasil penerimaan metode panen petani padi per hektar menggunakan combine harvester dan konvensional yaitu sebesar Rp. 20.622.974,4 /Ha/MT/Petani.

Selisih penerimaan disebabkan oleh adanya perbedaan penggunaan bibit sehingga mempengaruhi hasil panen petani. Selain itu juga dipengaruhi oleh pemeliharaan petani. Selisih penerimaan disebabkan karena adanya tingkat kehilangan hasil pada mesin combine harvester lebih sedikit dibandingkan dengan metode konvensional. Hal ini sesuai dengan Dinas Pertanian Kabupaten Bandung yang menyatakan bahwa menggunakan menggunakan combine harvester dapat menekan tingkat kehilangan hasil panen atau losis hingga 6% per hektar,

44

sedangkan untuk metode konvensioal dianggap lebih lama dan tingkat kehilangan hasil atau losis rata rata mencapai 8% per hektar.

Selisih penerimaan juga disebabkan karena adanya selisih harga gabah kering panen (GKP) pada metode panen combine harvester lebih tinggi dibandingkan dengan metode panen konvensional. Selisih harga gabah kering panen (GKP) ini sesuai dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi menyatakan bahwa rata-rata harga gabah kering panen (GKP) yang dipanen menggunakan combine harvester lebih tinggi karena kualitas gabah yang dihasilkan lebih bersih.

4.3.3 Pendapatan

Setelah diperhitungkan penerimaan, maka dihitung pendapatan dari petani padi dengan menggunakan combine harvester dan konvensional. Pendapatan merupakan hasil selisih dari penerimaan dan semua biaya (total biaya). Berikut merupakan pendapatan petani padi menggunakan combine harvester dan konvensional.

Tabel 4.12 Pendapatan Petani Menggunakan Combine harvester dan Konvensional/37,5Ha/MT

No Metode Panen Total Penerimaan

(Rp)

Total Biaya (Rp)

Pendapatan (Rp) 1

2

Combine harvetser Konvensional

1.375.440.000 1.258.864.000

99.980.000 172.630.000

1.275.460.000 1.086.234.000 Sumber: Data yang diolah, 2022

Berdasarkan hasil tabel 4.12 pendapatan petani padi menggunakan combine harvester sebesar Rp. 1.275.460.000,00 lebih tinggi di bandingkan petani padi secara konvensional sebesar Rp. 1.086.234.000,00. Selisih pendapatan petani menggunakan combine harvester dan konvensional yaitu Rp.

189.226.000/37,5Ha/MT

45

Sumber: Data yang diolah, 2022

Tabel 4.13 Rata-Rata Pendapatan Petani Menggunakan Combine harvester dan Konvensional/Ha/MT/Petani

No Metode Panen Total Penerimaan (Rp)

Total Biaya (Rp)

Pendapatan (Rp) 1

2

Combine harvetser Konvensional

52.901.538,5 32.278.564,1

3.845.384,62 4.426.410,26

49.056.153,9 27.852.153,8 Sumber: Data yang diolah, 2022

Rata-rata pendapatan petani padi per hektar menggunakan metode panen combine harvester sebesar Rp. 49.056.153,9/Ha/MT/Petani. Sedangkan rata-rata pendapatan petani padi per hektar menggunakan metode panen secara konvensional sebesar Rp. 27.852.153,8/Ha/MT/Petani. Selisih rata-rata pendapatan petani padi per hektar menggunakan metode panen combine harvester dan konvensional sebesar Rp. 21.204.000,1/Ha/MT/Petani.

4.3.4 R/C Ratio dan B/C Ratio

R/C atau Return Cost Ratio merupakan perbandingan antara rata-rata penerimaan petani dan rata-rata total biaya yang dikeluarkan oleh petani.

Sedangkan B/C ratio atau Benefit Cost ratio merupakan perbandingan antara rata- rata pendapatan dan rata-rata total biaya. Analisis R/C ratio dan B/C ratio bertujuan untuk mengetahui keuntungan dan layak, dengan asumsi semakin besar nilai penerimaan dan pendapatan (benefit) yang diterima petani akan semakin besar nilai kelayakan dan tingkat keuntungannya. Berikut tabel R/C ratio dan B/C ratio dari metode panen yang menggunakan combine harvester dan konvensional.

Tabel 4.14 R/C Ratio dan B/C Ratio Metode Panen Combine harvester dan Konvensional

No Metode Panen R/C Ratio B/C Ratio Keterangan 1

2

Combine harvester Konvensional

13,7 7,3

12,7 6,3

Untung dan Layak Untung dan Layak

46

Sumber: Data yang diolah, 2022

Tabel 4.14 menunjukkan bahwa metode panen menggunakan combine harvester untuk nilai R/C ratio sebesar 13,7 dan Untuk B/C ratio sebesar 12,7 Sedangkan metode panen secara konvensional untuk nilai R/C ratio sebesar 7,3 dan untuk B/C ratio sebesar 6,3. Hasil nilai R/C Ratio dan B/C ratio kedua metode panen baik menggunakan combine harvester dan konvensioal lebih dari 1 (>1) sehingga dapat disimpulkan metode panen menggunakan combine harvester dan konvensional layak.

Dari hasil R/C ratio dan B/C ratio pada tabel 4.14 metode panen combine harvester memperoleh nilai lebih tinggi sebesar 13,7 untuk R/C ratio dan 12,7 untuk B/C ratio dari metode panen secara konvensional sebesar 7,3 untuk R/C ratio dan 6,3 untuk B/C ratio, artinya dapat disimpulkan bahwa metode panen menggunkan combine harvester lebih layak diusahakan dan lebih menguntungkan bagi petani padi di Desa Tanggungkramat Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang.

Dokumen terkait