• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Permukiman Layak Huni .1 Pengertian evaluasi permukiman layak huni .1 Pengertian evaluasi permukiman layak huni

TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Evaluasi Permukiman Layak Huni .1 Pengertian evaluasi permukiman layak huni .1 Pengertian evaluasi permukiman layak huni

Menurut Raka Joni dalam wikipedia (2019) menjelaskan bahwa “evaluasi adalah proses untuk mempertimbangkan sesuatu barang, hal atau gejala dengan mempertimbangkan beragam faktor yang kemudian disebut Value Judgment.

Sementara Nurkancana menyatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan berkenaan dengan proses untuk menentukan nilai dari suatu hal.” Sementara Dunn (2000) mengemukakan istilah evaluasi dapat disamakan dengan penafsiran (appraisal), pemberian angka (rating), dan penilaian (assesment). Sedangkan Yunanda (2009) mengatakan bahwa evaluasi diperlukan untuk mengetahui keadaan suatu objek dilakukan dengan mengunakan suatu instrumen, dimana hasilnya dapat digunakan sebagai tolak ukur untuk mendapatkan kesimpulan.

Dari beberapa pengertian tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa evaluasi merupakan kegiatan penilaian secara terukur untuk mendapatkan sebuah kesimpulan, sedangkan pengertian evaluasi sebuah kawasan permukiman merupakan penilaiaan dari kelayakkan huni dari kawasan permukiman berdasarkan aspek, elemen ataupun ciri pembentuk kawasan permukiman tersebut dengan mempertimbangkan beberapa faktor.

2.2.2 Tujuan evaluasi kawasan permukiman

Evaluasi yang meliputi penilaian dan pengukuran sebuah situasi atau objek bertujuan untuk menghasilkan sebuah kesimpulan. Menurut Arikunto (2002) tujuan

evaluasi dibagi menjadi dua bagian yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dari sebuah evaluasi digunakan secara keseluruhan dalam menjalankan program, sedangkan secara khusus lebih diarahlan pada setiap komponen yang ada.

Sedangkan Crawford (2000), menjelaskan tujuan evaluasi adalah : (1) untuk mengetahui pencapaian tujuan kegiatan yang telah dibuat telah tercapai; (2) pengamatan terhadapa hasil yang objektivitas; (3) untuk menentukan kelayakan suatu kegiatan; (4) untuk memberikan tanggapan langsung dari kegiatan yang dilaksanakan.

Dari beberapa pendapat tentang tujuan evaluasi tersebut di atas, jika dikaitkan dengan tujuan penelitian dapat ditarik benang merah bahwa tujuan evalusi secara umum dari penelitian ini merupakan upaya untuk menilai tingkat keberhasilan atau terlaksanannya sebuah program kebijakan pemerintah dalam rencana penataan ruang melalui RTRW Kota Gunungsitoli. Sedangkan tujuan evaluasi secara khusus dimaksud untuk menilai masing-masing komponen yang mempengaruhi kondisi layak huni dari kawasan permukiman tersebut. Hasil akhir yang diperoleh dari sebuah proses evaluasi dapat digunakan untuk menilai layak atau tidak layak sebuah kawasan permukiman untuk dihuni dan memberikan informasi tentang faktor dominan penyebab ketidaklayakan sebuah permukiman tersebut.

2.2.3 Kelayakan hunian sebuah kawasan permukiman

Untuk memenuhi kebutuhan hunian bagi masyarakat maka diperlukan sebuah proses perencanaan yang matang sehingga kawasan hunian atau permukiman tersebut

menjadi kawasan yang layak untuk ditempati. Istilah kelayakan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah wajar; pantas atau patut. Kata kelayakan dapat juga merujuk pada sebuah pemenuhan standar dalam hal ini standar dari sebuah kawasan permukiman. Sebuah permukiman yang telah memnuhi standar dari kawasan permukiman maka dapat dikatakan bahwa kawasan permukiman tersebut layak untuk dihuni. Sedangkan permukiman yang tidak memenuhi standar merupakan pemukiman tidak layak huni dapat juga disebut dengan kawasan permukiman kumuh.

Menurut Soemadi (1990), permukiman atau kampung kumuh adalah bagian keadaan dari suatu kawasan yang jorok, dengan lingkungan tidak layak huni tidak memenuhi syarat kesehatan dimana fasilitas permukiman seperti fasilitas tempat pembuangan sampah dan fasilitas air bersih tidak layak dan dihuni oleh penduduk miskin. Hal tersebut juga dipertegas dalam Undang-Undang No. 4 Pasal 22 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman dimana pengertian “permukiman kumuh adalah permukiman tidak layak huni antara lain karena berada pada lahan yang tidak sesuai dengan peruntukan/tata ruang, kepadatan bangunan sangat tinggi dalam luasan yang sangat terbatas, rawan penyakit sosial dan penyakit lingkungan, kualitas umum bangunan rendah, tidak terlayani prasarana lingkungan yang memadai, membahayakan keberlangsungan kehidupan dan penghuninya.” Menurut Yudohusodo (1991) mendefenisikan permukiman kumuh yakni bentuk hunian yang tidak terstruktur atau tidak berpola dengan letak jalan yang tidak teratur, serta tidak memiliki sarana prasarana dan fasilitas pelayanan permukiman yang memadai.

Sedangkan Dwira. N Aulia (2011) dalam buku perumahan dan permukiman

menjelaskan bahwa kawasan permukiman yang pembangunannya tidak merata dan tidak teratur atau sporadic akan sulit untuk dalam penyediaan prasarana yang menyebabkan permasalahan di kawasan permukiman tersebut.

Kelayakan dari sebuah tempat bermukim sangat dipengaruhi dari ketersediaan dan kondisi lahan itu sendiri. Permukiman yang berada dilahan yang sangat sempit akan menyebabkan kepadatan bangunan sehingga kualitas lingkungan permukiman dapat menurun dan berpotensi menciptakan permukiman kumuh. Kurniasih (2007) mendefenisikan kawasan permukiman kumuh sebagai kondisi lingkungan maupu hunian sangat buruk, dimana hunian dan fasilitas permukiman ataupun sarana dan prasranan permukiman tidak sesuai dengan kriteria dan standar dari sebuah persyaratan permukiman yang sehat baik dari kepadatan bangunan sarana air bersih dan kotor, ruang terbuka, kondisi jalan dan fasilitas sosial permukiman lainnya. Maka dari beberapa teori tersebut menjelaskan bahwa pengertian permukiman kumuh adalah kawasan permukiman yang mengalami penurunan kualitas akibat tidak terpenuhinya standar kebutuhan pelayanan kawasan permukiman sehingga permukiman tersebut tidak layak untuk dihuni atau ditempati.

Constantinos A. Doxiadis (1968), menjelaskan agar kawasan permukiman layak huni harus memperhatikan lima elemen dasar permukiman:

a. Alam, merupakan keadaan geologi atau bumi termasuk di dalamnya kondisi tanah, kondisi topografi, hidrografi, flora dan fauna serta cuaca atau iklim, sebagai tempat bermukim dan digunakan semaksimal mungkin;

b. Manusia, dimana kebutuhan akan emosiaonal, perasaan, hubungan atau interaksi antar sesama, mapun kebutuhan akan air, udara, rasa aman dan nyaman, baik secara individu maupun kelompok;

c. Masyarakat, merupakan keberadaan dari jumlah dan kepadatan penduduk, keberagaman suku dan budaya, derejat sosial masyarakat, kondisi kesejahteraaan ekonomi masyarakat, penegakan hukum, kondisi pendidikan dan kondisi kesehatan masyarakat;

d. Sarana perumahan, meliputi fasilitas rumah sakit, pendidikan, pusat perbelanjaan, pusat hiburan, tempat ibadah, pusat pemerintahan dan pusat kegiatan lainnya

e. Prasarana, meliputi jaringanm jalan, drainase, air bersih, persampahan, sistem komunikasi, saluran air kotor atau air limbah;

Dari teori tersebut di atas, maka untuk mengidentifikasi kawasan permukiman dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa karakteristik kawasan permukiman tersebut, antara lain :

a. Karakteristik penghuni

Kondisi sosial masyarakat mempengaruhi lingkungan dan kondisi tempat tinggal yang mereka huni. Kondisi sosial tersebut erat kaitannya dengan kondisi perekonomian masyarakat yang bersinggungan dengan tingkat pendapatan dari masyarakat tersebut. Menurut Suparno Sastra M. dan Endi Marlina (2006) mengemukakan bahwa permalahan tentang suatu wilayah permukiman yang didiami oleh kelompok masyarakat, berkaitan

dengan beberapa hal, yakni: (a) jumlah dan kepadatan penduduk; (b) adat istiadat dan kebudayaan; (c) sosial masyarakat ; (d) pengembangan ekonomi; (e) hukum; (f) kesehatan dan pendidikan.

b. Karakteristik hunian

Untuk mengetahui karakteristik hunian di permukiman dapat dilihat dari secara visual dengan cara memperhatikan kondisi atau keadaan bangunan hunian di kawasan permukiman. Hal tersebut dilakukan dengan memperhatikan desain serta material bahan bangunan, serta luasan hunian yang disesuaikan dengan jumlah penghuni. Selain hal tersebut kepemilikan hunian dan status kepemilikan tanah juga menjadi faktor yang mempengaruhi kepedulian masyarakat terhadap pemeliharaan huniannya yang berhubungan erat dengan tampak dari bangunan tersebut.

c. Karakteristik sarana dan prasarana

Salah satu aspek yang paling penting agar permukiman dapat dikatakan layak huni yakni dengan adanya ketersediaan sarana dan prasana di kawasan permukiman tersebut. Menurut Conyers, D. dan P. Hills (1984), sarana atau fasilitas yang terdapat pada kawasan permukiman diantaranya: (1) fasilitas pelayanan ekonomi dan perdagangan; (2) fasilitas pelayanan social; (3) fasilitas pelayanan kesejahteraan sosial; (4) fasilitas pelayanan pendukung lainnya. Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 yang telah diperbaharui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang perumahan dan pemukiman dijelaskan bahwa salah satu

faktor untuk menciptakan kawasan permukiman yang sehat, aman dan berkelanjutan, yakni dengan ketersediaan prasarana lingkungan permukiman, yakni: (1) jaringan jalan; (2) pembuangan air limbah; (3) pembuangan air hujan; (4) utilitas umum (air bersih, pembuangan sampah, jaringan listrik dan telpon).

d. Karakteristik lingkungan

Menurut Supriyanto (2005) permasalahan permukiman di Indonesia saai ini adalah (1) penyelenggaraan sistem kelembagaan yang belum maksimal; (2) pemenuhan kebutuhan tempat tinggal yang layak dan terjangkau masih sangat rendah; (3) permukiman yang belum memenuhi standar pelayanan menyebabkan penurunan dari kualitas lingkungan permukiman tersebut.

Menurut Sueca (2004) munculnya kawasan permukiman yang tidak layak huni atau kumuh adalah sebuah indikasi dari kegagalan sebuah program perumahan yang hanya berpihak pada kelompok masyarakat dengan ekonomi menengah ke atas serta mengesampingkan program rumah sewa, dan lebih mengutamakan program perumahan untuk kepemilikan pribadi. Sedangkan Rudiyantono (2000) mengemukakan bahwa ada dua standar dalam menentukan kawasan permukiman yang tidak layak huni yakni:

a. berdasarkan keadaan kondisi hunian, yang dapat dilihat dari kontruksi hunian, pemisahan fungsi ruang, kepadatan hunian dan penataan hunian;

b. berdasarkan kondisi prasarana lingkungan permukiman, seperti jaringan jalan, drainase, air bersih, sanitasi, pengelolaan sampah, ketersediaan fasilitas sosial seperti, sekolah, fasilitas kesehatan, rumah ibadah dan sarana perekonomian, dan ketersediaan ruang terbuka. Pendapat tersebut di atas melihat bahwa standar kelayakan sebuah kawasan permukiman hanya pada faktor fisik saja.

Berbeda halnya dengan apa yang dikemukakan oleh Titisari dan Farid Kurniawan (1999) dimana dalam menentukan suatu kawasan layak huni tidak hanya dilihat dari faktor fisik akan tetapi faktor non fisik termasuk didalamnya, dimana selain kondisi hunian dan pemenuhan sarana dan prasarana lingkungan serta aspek pendudukung, kondisi non fisik yakni status atau kondisi penduduk pada kawasan permukiman tersebut.

Pertumbuhan penduduk dalam sebuah kota terjadi akibat tingginya keinginan masyarakat untuk bermukim di pusat kota tersebut. Perkembangan pusat kota merupakan daya tarik bagi masyarakat, untuk membuka peluang-peluang usaha di pusat kota yang dekat dengan tempat tinggal masyarakat tersebut. Menurut Clay (1979), salah satu daya tarik masyarakat untuk tinggal di pusat kota yakni masyarakat berpendapat bahwa adanya kesempatan untuk mendapat pekerjaan atau peluang usaha. Akan teteapi perkembangan penduduk di pusat kota yang tidak berimbang dengan ketersediaan sarana prasaranan dan fasilitas pelayanan permukiman berdampak pada menurunnya kualitas permukiman tersebut sehingga menciptakan kawasan permukiman yang tidak layak huni.

Sinulingga (2005) menjelaskan bahwa terdapat beberapa ciri-ciri sebuah kampung atau pemukiman kumuh, antara lain:

a. Kepadatan penduduk antara 250-400 jiwa/ha dapat dikategorikan sangat pada. Beberapa pendapat para ahli perkotaan mengatakan bahwa apabila suatu kawasan telah mencapai 80 jiwa/ha maka akan timbul maslah kepadatan, jarak antara rumah yang begitu padat akan menimbulkan masalah penyakit, masalah keberlangsungan sistem kehidupan dan masalah psikologis masyarakat tersebut;

b. Keberadaan jalan yang sempit, tidak mempertimbangkan jalur kendaraan bahkan cenderung tertutup oleh teritisan atap rumah yang satu dengan yang lainnya;

c. Belum adanya sistem drainase yang memadai sebagai saluran air saat musim hujan. Bahkan dapat dikatan jalan yang ada tidak dilengkapi dengan saluran drainase, sehingga saan musim hujan sering terjadi genagan air;

d. Keberadaan septic tank di rumah-rumah sangat jarang ditemui, sehingga pembuangan air kotor/tinja biasanya dialirkan langsung ke sungai atau laut disekitar permukiman;

e. Kurangnya sumber air bersih, dimana air bersih didapatkan dengan cara memanfaatkan air hujan, maupun sumur yang ada, atau dengan cara membelinya;

f. Bangunan secara umum tidak permanen, tidak teratur dengan kondisi tidak layak huni atau darurat;

g. Rawan penularan penyakit;

h. Pemilikan tanah tidak legal, dimana status tanahnya masih kepemilikan tanah Negara atau Pemerintah Daerah, para pemilik tidak memilik status tanah yang jelas atas kepemilikan tanah.

Dari beberapa teori tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa untuk mengetahui layak tidaknya sebuah permukiman sebagai tempat hunian, dilakukan dengan cara mengevaluasi standar, faktor atau aspek pembentuk kawasan permukiman dengan mempertimbangkan ciri-ciri dari kawasan permukiman tersebut.

Adapun aspek yang telah disimpulkan untuk mengevaluasi kawasan permukiman dalam penelitian ini, berdasarkan beberapa teori tersebut di atas, antara lain:

1. Aspek Kependudukan

Kondisi kependudukan merupakan salah satu faktor penyebab yang menyebabkan penurunan kualitas suatu kawasan permukiman dimana terjadinya pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali. Menurut Shaw dalam Makarauw (2012), terjadinya keseimbangan dengan lingkungan disebabkan oleh faktor pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali.

Ketidakseimbangan itu terjadi akibat daya tampung dari lingkungan tidak mampu mewadahi pertumbuhan penduduk yang tinggi. Sedangkan Ida Bagoes Mantra (2007) mengemukakan pendapatnya bahwa kepadatan penduduk adalah perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas

wilayah yang dihuni. Dari beberapa pendapat di atas maka kita dapat mengetahui bahwa kondisi kepadatan penduduk dalam suatu kawasan permukiman disebabkan akibat laju pertumbuhan penduduk yang tidak terkontrol, permasalan ini dapat mempengaruhi kualitas lingkungan permukiman tersebut, sehingga disimpulkan bahwa kondisi kepadatan penduduk dan laju pertumbuhan penduduk merupakan parameter untuk mengetahui kondisi kependudukan dalam sebuah kawasan.

Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang Tata cara perencanaan lingkungan perumahan dijelaskan bahwa kategori kepadatan penduduk dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Laju pertumbuhan penduduk adalah terjadinya perubahan baik peningkatan ataupun penurunan dari jumlah penduduk di suatu daerah, yang terjadi pada setip tahun, yang digunakan untuk memprediksi jumlah penduduk dimasa yang akan datang dalam suatu wilayah. Menurut Direktorat Jenderal Cipta Karya Bidang Pengembangan Permukiman (2006) tingkat pertumbuhan penduduk di bagi tiga berdarkan tingkat kepadatannya. Pembagian tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Klasifikasi Kawasan

Kepadatan

Rendah Sedang Tinggi Sangat Padat Kepadatan Tabel 2.1 Klasifikasi Kepadatan Penduduk

Sumber: SNI 03-1733-2004

Klasifikasi Tingkat Pertumbuhan Penduduk

Tingkat Pertumbuhan Penduduk

Rendah Sedang Tinggi

Pertumbuhan

Kondisi bangunan dalam sebuah kawasan permukiman merupakan salah satu faktor yang secara fisik memperlihatkan kualitas dari lingkungan permukiman tersebut. Kondisi bangunan yang layak huni tentu saja representatif dari kawasan kualitas kawasan permukiman yang layak huni. Salah satu kategori dari permukiman tidak layak huni, dapat dilihat dari kondisi bangunan yang sangat buruk, serta penggunaan dari bahan atau material bangunan merupakan bahan bangunan semi permanen dan memiliki kepadatan bangunan yang cukup tinggi. Menurut Laboratorium Perumahan ITS (1997), persentase kepadatan bangunan yang termasuk dalam kategori tidak layak huni yakni sebesar 70 % (persen).

Maka untuk mengetahui kondisi kawasan permukiman, salah satunya dengan mengevaluasi kondisi bangunan dikawasan tersebut, meliputi:

kepadatan bangunan, bahan bangunan permanan atau non permanen, tapak bangunan dan jarak antar bangunan. Menurut Direktorat Jenderal Cipta Karya Bidang Pengembangan Permukiman (2006), secara teknis,

Tabel 2.2 Klasifikasi Tingkat Pertumbuhan Penduduk

Sumber: Direktorat Jenderal Cipta Karya Bidang Pengembangan Permukiman, 2006

parameter untuk mengidentifikasi kondisi bangunan dapat dilihat pada

Rendah Sedang Tinggi

Kepadatan bangunan <80 unit / ha yang diperoleh dari hasil indentifikasi kondisi bangunan dalam kawasan permukiman, maka kecenderungan bangunan tersebut tidak layak huni semakin tinggi.

3. Aspek Ekonomi

Pentingnya untuk mengetahui aspek ekonomi kawasan, dimaksud untuk mengetahui seberapa penting kawasan sebagai sasaran penanganan untuk kawasan permukiman tidak layak huni dalam sebuah kota di masa yang akan datang. Aspek ekonomi merupakan salah satu daya tarik masyarakat untuk tinggal di pusat kota sehingga menyebabkan arus migrasi dari desa ke kota. Masyarakat yang bekerja di bidang pertanian beralih bekerja Sumber: Direktorat Jenderal Cipta Karya Bidang Pengembangan Permukiman, 2006

Tabel 2.3 Klasifikasi Parameter Kondisi Bangunan

menjadi pedagang atau buruh. Masyarakat memilih pindah ke kota salah satunya karena mempertimbangkan kemudahan aksesibilitas dari satu tempat ke tempat lainnya. Selain itu Menurut Amos Rapoport (1977) salah satu faktor seseorang dalam menentukan lokasi bermukiman yakni pertimbangan jarak ke pusat pelayanan. Berkaitan dengan pemilihan lokasi, Luhst (1997) mengemukakan pendapatnya bahwa pemilihan lokasi yang tepat menentukan tingat kenyamanan dan keamanan dimana berhubungan dengan kualitas kehidupan. Agar suatu lokasi permukiman memiliki daya tarik, maka harus meperhatikan dua hal yakni aksesibilitas dan lingkungan. Kemudahan dalam pencapaian ke berbagai pusat kegiatan merupakan daya tarik dari aksesibilitas. Pusat kegiatan tersebut dapat berupa pusat pendidikan, kesehatan, perdagangan, pemerintah, tempat rekreasi, jasa pelayanan perbankan dan jasa profesional, dan sebagainya. Maka dari beberapa teori tersebut di atas, dapat disimpulkan daya tarik kawasan permukiman dilihat dari kepentingan ekonomi, harus memperhatikan aksesibilitas dalam hal ini jarak jangkau ke pusat kegiatan atau tempat bekerja dan fungsi-fungsi pelayanan disekitar kawasan permukiman tersebut. Semakin dekat dan didukung dengan kemudahan suatu kawasan ke pusat-pusat kegiatan dalam sebuah kota akan menjadi pertimbangan dan daya tarik kawasan tersebut.

Untuk mengevaluasi kawasan permukiman tepi laut berdasarkan tingkat kepentingan aspek ekonomi, maka dapat dilakukan dengan cara seperti pada Tabel 2.4.

Klasifikasi Aspek Ekonomi

Kepentingan Ekonomi

Tidak Penting Kurang Penting Penting Latak kawasan Tidak strategis Kurang strategis Sangat

strategis

Penjelasan tabel diatas dimaksud untuk mengetahui seberapa penting kawasan permukiman tidak layak huni tersebut untung ditanggulangi, apabila dilihat dari aspek ekonominya. Klasifikasi kepentingan dibagi tiga, dimana Semakin tinggi nilai yang didapat maka semakin tinggi juga kepentingan kawasan tersebut, dilihat dari aspek ekonomi di dalam suatu kota.

4. Aspek Status Kepemilikan Tanah

Salah satu persoalan permukiman yang sering terjadi adalah status dari kepemilikan tanah. Masyarakat yang merasa memiliki hak atas tanah meskipun tanpa bukti yang sah, akan memanfaatkan tanah tersebut Sumber: Direktorat Jenderal Cipta Karya Bidang Pengembangan Permukiman, 2006

Tabel 2.4 Klasifikasi Tingkat Kepentingan Dilihat Dari Aspek Ekonomi

berdasarkan keinginananya. Diperlukan sebuah penertiban untuk penguasaan ataupun pemanfaatan pertapakan tanah, sehingga fungsi yang dibangun di atas tanah tersebut sesuai dengan kebijakan arah pembangunan serta terciptanya keseimbangan dalam pemanfaatannya.

Menurut Ali Sofwan Husein dalam Sudahnan (2006), ketidakseimbangan itu akan semakin timpang, bahkan dapat menyebabkan polarisasi apabila penguasaan tanah tidak segera mendapatkan regulasi sebagai pencegahannya. Khomarudin (1997) menjelaskan dalam defenisi kawasan permukiman kumuh atau tidak layak huni bahwa salah faktor terjadinya permukiman tidak layak huni yakni syarat teknis dan kesehatan tidak terpenuhi, dan bangunan dibangun di atas tanah yang ilegal atau milik orang lain, Negara/Pemerintah Daerah setempat dan tidak memiliki izin Dalam Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1990, hak atas tanah ditentukan beberapa macam, yakni: hak milik, hak huna usaha, hak guna bangunan, hak pakai, hak sewa, hak membuka tanah , hak memungut hasil hutan. Akan tetapi persoalan yang sering dihadapi di kawasan permukiman tepi laut dengan kondisi tidak layak huni adalah penguasaan tanah dengan status tanah warisan atau tanah girik atau tanpa sertifikat pengusaaan tanah yang sah. Menurut Rampengan (2016) untuk menjamin kepastian hukum pemegang hak atas tanah, maka seseorang harus memiliki sebuah sertifikat, kepastian hukum tersebut baik berupa batas, luas suatu bidang tanah, lokasi, dan kepastian hukum lainnya.

Adanya kepastian hukum tersebut, memberikan perlindungan secara hukum bagi masyarakat yang berhak secara sah atau legal terhadap kepemilikan tanah tersebut. Dari pendapat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa kepemilikan tanah yang tidak memiliki sertifikat sah maka kepastian hukum dari kepemilikan tersebut masih diragukan.

Kepastian hukum kepemilikan tanah yang dominan dalam satu kawasan, juga dapat menciptakan kemudahan dalam pengelolaan kawasan tersebut.

5. Aspek Prasarana Permukiman

Salah satu faktor terciptanya kawasan permukiman tidak layak huni disebabkan oleh kurangnyan kualitas pelayaan sarana dan prasarana di suatu lingkungan atau kawasan permukiman. Menurut Roestam dalam Massikki, (2005) menyatakan bahwa untuk mengoptimalkan fungsi sarpras yang berdampak untuk aspek ekonomi yakni melalui peningkatan kualitas lingkungan. Dimana masyarakat yang tinggal di dekat sarana dan prasarana permukiman lebih sering menggunakan fasilitas sarana dan prasarana tersebut. Lebih lanjut Massikki menjelaskan prasarana di kawasan permukiman antara lain: jaringan jalan, air minum /air bersih, air limbah, persampahan, jaringan listrik dan telepon. Sedangkan Kwanda dkk (2004) membagi prasarana kawasan permukiman meliputi: jalan, air limbah, air hujan, air bersih, jaringan listrik dan telepon.

Berangkat dari teori tersebut di atas, tingkat pelayanan prasarana di kawasan permukiman merupakan salah satu faktor untuk mengetahui kualitas kawasan permukiman layak huni. Untuk mengetahui sejauh mana pelayanan prasarana permukiman maka diperlukan evaluasi melalui Standar Pelayanan Minimal (SPM) dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 01 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang. Adapun prasarana yang akan di evaluasi dalam penelitian ini berdasarkan beberapa teori tersebut di atas dengan menggunakan Standar Pelayanan Minimal (SPM), antara lain:

a. Jaringan Jalan

Secara umum jaringan jalan yang terdapat di kawasan pesisir atau tepi laut hampir sama dengan jaringan jalan yang berada di kawasan permukiman lainnya. Akan tetapi berbeda dengan perumahan yang berada di atas perairan atau di atas air, dimana jaringan jalan dalam lingkungan perumahan tersebut berupa jembatan dari kayu atau beton. Menurut Adji Adisasmita (2010) sebuah prasarana jalan memiliki peran vital bagi setiap kehidupan manusia, baik dalam kegiatan perekonomian atau kegiatan lainnya, dimana rata-rata kegiatan tersebut dilakukan di luar rumah.

Manusia dalam berkegiatan sangat membutuhkan transportasi jalan sekaligus jasa pelayanan jalan, dalam artian prasarana jalan sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari -hari manusia.

Untuk mengetahui kondisi jaringan jalan, dilakukan dengan pembagian besaran persentasi kondisi jalan, seperti pada Tabel 2.5.

Klasifikasi Tingkat Kondisi Jaringan Jalan

Kondisi Jaringan Jalan

Rusak Berat Rusak Sedang Rusak Ringan

Persentase >70 % 50-70 % <50 %

Dari kajian teori tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa kondisi

Dari kajian teori tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa kondisi