BAB II KAJIAN TEORI
A. Kajian Teori
2. Evaluasi Program
lain karir, pendidikan, kesehatan, perlindungan HAM, keagamaan, dan seni budaya. 27
Dari pemaparan dua ahli terhadap macam-macam kegiatan ekstrakurikuler di atas, dapat disederhanakan menjadi tiga yaitu kegiatan krida meliputi OSIS, Pramuka, dan palang merah remaja, selanjutnya olahraga dan kesenian, serta majalah sekolah. Dari semua kegiatan di atas, sekolah sebagai pengelola kegiatan pendidikan mempunyai tanggung jawab dalam mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik oleh karena itu kegiatan ekstrakurikuler harus di kelola dengan baik. Kegiatan ekstrakurikuler pula dapat memberikan kontribusi yang besar dalam mendidik peserta didik agar dapat mandiri dengan potensi yang dimilikinya.
Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler dibagi menjadi dua, yaitu:
1) Kegiatan ektrakurikuler yang bersifat rutin, spontan, dan keteladanan dilaksanakan secara langsung oleh guru, konselor, dan tenaga kependidikan di sekolah atau madrasah. Misalnya:
karyawisata, bakti sosial, perayaan hari besar dan lain sebagainya.
2) Kegiatan ekstrakurikuler yang terprogram dilaksanakan sesuai dengan sasaran, substansi, jenis kegiatan, waktu, tempat, dan pelaksanaan sebagaimana telah direncanakan. Misalnya:
pramuka, palang merah remaja (PMR), paskibra, dan lain sebagainya.28
Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa pelaksanaan ekstrakurikuler dibagi menjadi dua yaitu kegiatan rutin dan kegiatan yang telah terprogram.
2. Evaluasi Program
27 Eka Prihatin, Op.Cit., hlm. 181.
28 Eka Prihatin, Op.Cit., hlm. 182.
a. Pengertian Evaluasi Program
Evaluasi dalam ilmu manajemen merupakan hal yang penting karena evaluasi dapat menilai jalannya suatu program. Dari hasil evaluasi tersebut dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan di kemudian hari. Sebelum mengetahui lebih lanjut yang dimaksud dengan evaluasi program. Alangkah lebih baiknya mengetahui apa arti evaluasi. Evaluasi mempunyai berbagai macam definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli untuk memberikan batasan terhadap apa yang dimaksud dengan evaluasi, sesuai dengan sudut pandang masing-masing ahli. Berikut ini beberapa pengertian evaluasi menurut beberapa ahli.
Pendapat yang dikemukakan oleh Suchman yang dikutip oleh Arikunto memandang evaluasi sebagai sebuah proses menentukan hasil yang telah tercapai beberapa kegiatan yang direncanakan untuk mendukung tercapainya tujuan.29 pendapat Suchman di atas, melihat evaluasi sebagai sebuah proses menentukan hasil untuk mencapai tujuan, berbeda dengan pendapat yang dikemukakan oleh Stufflebeam yang dikutip oleh Arikunto mengatakan bahwa evaluasi merupakan proses penggambaran, pencarian, dan pemberian informasi yang sangat bermanfaat bagi pengambil keputusan dalam menentukan alternatif keputusan.30 Pendapat lain menurut Sukardi menjelaskan bahwa evaluasi secara umum, yaitu suatu proses mencari data atau informasi tentang objek atau subjek yang dilaksanakan untuk tujuan pengambilan keputusan terhadap objek tersebut.31 Terdapat pendapat pula yang memiliki kesamaan dengan Stufflebeam dan Sukardi yaitu pendapat dari Arifin yang menyatakan bahwa evaluasi adalah proses atau kegiatan
29Suharsimi Arikunto & Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan, (Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2010), cet.4. hlm.1.
30 Ibid., hlm.2
31 Sukardi, Evaluasi Program Pendidikan Dan Pelatihan, ( Jakarta : Bumi Aksara, 2015), cet.2, hlm. 2-3.
yang sistematis dan berkelanjutan untuk menggambarkan atau menentukan mutu (nilai dan arti/manfaat) daripada sesuatu, berdasarkan pertimbangan (judgement) dan kriteria tertentu untuk membuat evaluasi.32 Pendapat ketiganya memiliki kesamaan dalam memandang evaluasi. Ketiganya melihat evaluasi sebagai rangkaian proses dan dari proses tersebut menghasilkan informasi yang dapat di manfaatkan untuk mengambil keputusan. Jika informasi yang disajikan oleh evaluator tidak tepat maka dapat menghasilkan keputusan yang keliru. Pendapat lain menurut Wirawan, evaluasi sebagai riset untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyajikan informasi yang bermanfaat mengenai objek evaluasi, menilainya dengan membandingkannya dengan indikator evaluasi dan hasilnya dipergunakan untuk mengambil keputusan mengenai objek evaluasi.33 Wirawan memandang evaluasi adalah sebuah riset yang dimana harus terdapat objek evaluasi dari objek tersebut dikumpulkannya informasi setelah itu dinilai dan pada akhirnya hasil evaluasi digunakan untuk mengambil keputusan.
Dari pernyataan-pernyataan di atas, dapat dijelaskan bahwa evaluasi adalah suatu proses atau kegiatan yang didalamnya melakukan sebuah penilaian dan penyesuaian kegiatan terhadap aturan yang telah ada atau tujuan kegiatan tersebut dan pada akhirnya kegiatan ini memberikan informasi yang bermanfaat untuk mengambil keputusan serta menentukan alternatif keputusan.
Setiap lembaga baik pendidikan ataupun non-pendidikan pasti mempunyai program yang harus dilaksanakan. Program tersebut dilaksanakan dengan berbagai macam kegiatan. Untuk mengukur suatu program diperlukannya evaluasi. Untuk lebih mengetahui apa itu program, terdapat beberapa pendapat ahli mengenai pengertian program, sebagai berikut:
32 Zainal Arifin, Evaluasi Program, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2019), hlm. 2.
33 Wirawan, Evaluasi Teori, Model, Standar, Aplikasi, dan Profesi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2011), cet.1, hlm. 7
Program di definisi sebagai suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang.34 Menurut Arikunto yang dikutip oleh Prihatin yang dimaksud dengan program ialah sederetan kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.35 Menurut Sukardi yang dimaksud dengan program merupakan salah satu hasil kebijakan yang penetapannya melalui proses panjang dan disepakati oleh para pengelolanya untuk dilaksanakan dengan baik oleh sivitas akademika maupun tenaga administrasi lembaga diklat.36 Pendapat lain yang dikemukakan oleh Suherman dan Sukjaya yang dikutip oleh Ananda dan Rafida menyatakan bahwa program adalah suatu rencana kegiatan yang dirumuskan secara operasional dengan memperhitungkan segala faktor yang berkaitan dengan pelaksanaan dan pencapaian program tersebut.37 definisi lain menurut Herman yang dikutip oleh Arifin menyatakan bahwa program adalah sesuatu yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dengan tujuan untuk memperoleh hasil atau pengaruh.38
Dari pernyataan-pernyataan di atas dapat dijelaskan bahwa program adalah kegiatan-kegiatan yang timbul dari suatu kebijakan untuk mencapai tujuan agar memperoleh hasil atau pengaruh dan pembuatannya melalui kesepakatan bersama. Pembuatan program harus dilalui melalui proses musyarawarah anggota-anggota yang terlibat dalam organisasi. Program yang dibuat juga merupakan hasil implementasi dari tujuan yang telah di rumuskan. Jika pembuatan program tidak berdasarkan mufakat dan tidak sesuai dengan tujuan
34 Suharsimi Arikunto & Cepi Safruddin Abdul Jabar, Op.cit., hlm. 4.
35 Eka Prihatin, Op.cit., hlm. 159
36 Sukardi, Op.cit., hlm. 4.
37 Rusydi Ananda & Tien Rafida, Pengantar Evaluasi Program Pendidikan, ( Medan : Perdana Publishing, 2017), hlm. 5.
38 Zainal Arifin, Op.Cit, hlm. 6.
organisasi maka tidak dapat tercapai cita-cita organisasi tersebut.
Untuk mengukur dan menilai suatu program perlu dilakukannya evaluasi. Evaluasi mempunyai banyak bentuk salah satunya yaitu evaluasi program.
Evaluasi program mempunyai berbagai macam definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Berikut ini beberapa pengertian evaluasi menurut beberapa ahli.
Pengertian evaluasi program menurut Mugiadi yang dikutip oleh Sudjana menyatakan bahwa evaluasi program adalah upaya pengumpulan informasi mengenai suatu program, kegiatan atau proyek.39 Pengertian evaluasi program menurut Cronbach dan Stufflebeam yang dikutip oleh Arikunto dan Jabar menyatakan bahwa evaluasi program adalah upaya menyediakan informasi yang disampaikan kepada pengambil keputusan.40 Pengertian evaluasi program menurut Sukardi mcnyatakan bahwa evaluasi program merupakan evaluasi yang berkaitan dengan erat dengan suatu program atau kegiatan pendidikan, termasuk diantaranya tentang kurikulum, sumber daya manusia, penyelenggara program, proyek penelitian dalam suatu lembaga.41 Pendapat lain yang dikemukakan oleh Arifin evaluasi program adalah suatu proses atau kegiatan ilmiah yang dilakukan secara berkelanjutan dan menyeluruh sebagai upaya pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu (nilai dan arti) suatu program, berdasarkan kriteria dan pertimbangan tententu untuk membuat suatu keputusan dan pertanggung jawaban dalam melaksanakan program.42 Menurut Briekerhoff et-al yang dikutip oleh Ananda dan Rafida mendefinisikan evaluasi program adalah suatu proses menemukan sejauh mana tujuan dan sasaran program atau proyek telah terealisasi, memberikan informasi untuk
39 Djudju Sudjana, Op.cit., hlm. 21.
40 Suharsimi Arikunto & Cepi Safruddin Abdul Jabar, Op.cit., hlm. 5.
41 Sukardi, Op.cit., hlm. 3.
42 Zainal Arifin, Op.cit, hlm. 8.
pengambilan keputusan, membandingkan kinerja dengan standar atau patokan untuk mengetahui adanya kesenjangan, penilaian harga dan kualitas penyidikan sistematis tentang nilai atau kualitas suatu objek.43 Berdasarkan berbagai pengertian yang dikemukakan di atas maka evaluasi program adalah kegiatan sistematis yang menghasilkan data untuk mengambil keputusan apakah program dilanjutkan, diperbaiki, atau diberhentikan.
Evaluasi program dilakukan berlandaskan pada Undang Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada BAB XVI pasal 57 ayat (1) evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Dan pasal (2) evaluasi dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan pada jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan. Peneliti melakukan kegiatan evaluasi pada program yang terdapat dalam satuan pendidikan SMP Negeri 1 Legok Kabupaten Tangerang yaitu program ekstrakurikuler agar membantu sekolah dalam meningkatkan mutu dan diharapkan hasil penelitian dapat menjadi acuan dalam pengambilan keputusan pada program ekstrakurikuler
b. Fungsi dan Prinsip Evaluasi Program
Evaluasi Program memiliki beberapa fungsi baik secara akademik maupun non akademik yang mencakup fungsi evaluasi, penilaian, dan pengukuran.44 Secara umum, fungsi evaluasi program adalah :
1) Improvisasi, yaitu perbaikan dan pengembangan program.
2) Generalisasi, yaitu menyimpulkan keberhasilan program secara keseluruhan.
43 Rusydi Ananda & Tien Rafida, Op.cit., hlm. 6.
44 Sukardi dan Yayat Sri Hayati, Op.Cit., hlm. 6.
3) Diagnostik, yaitu mendiagnosis kesulitan, kelemahan atau kekurangan program yang telah dilaksanakan serta faktor-faktor yang melatarbelakanginya sehingga evaluator dapat dengan cepat mencari alternatif solusinya.
4) Akreditasi, yaitu untuk menilai kelayakan program dalam satuan pendidikan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.45
Dapat dijelaskan fungsi evaluasi program yaitu adanya kegiatan perbaikan, pengembangan, menyimpulkan keberhasilan, mendiagnosis kesulitan dan kelemahan, dan menilai kelayakan program agar dapat dievaluasi, dinilai serta diukur ketercapaian dalam mencapai tujuan program.
Evaluasi program agar tetap memiliki kebermaknaan dalam fungsinya, perlu memiliki beberapa prinsip penting menurut Sukardi dan Hayati, yaitu sebagai berikut.46
1) Jujur, di mana para pihak yang terlibat memberikan data, keterangan, atau informasi sesuai dengan kenyataan dan didukung dengan bukti fisik yang mendukung.
2) Objektif, yaitu para pihak yang terlibat perlu mendasarkan penilaian atas dasar informasi dan kriteria yang ada dan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar informasi dan kriteria yang ada.
3) Tanggung jawab, yaitu para pihak yang terlibat memberikan data dan informasi yang benar dan nyata serta bisa diberikan alasannya secara rasional.
4) Transparansi, yaitu hasil evaluasi dapat dikomunikasikan untuk memperoleh hasil yang lebih baik dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dapat dijelaskan dari prinsip di atas evaluator dan pihak-pihak yang terlibat harus memegang teguh prinsip jujur, objektif, tanggung jawab dan transparansi dalam memberikan data dan informasi agar hasil evaluasi menjadi akurat.
45 Zainal Arifin, Op.Cit., hlm. 12.
46 Sukardi dan Yayat Sri Hayati, Op.Cit., hlm. 7.
Terdapat prinsip-prinsip evaluasi program lainnya yaitu yang dikemukakan oleh Arifin, menurutnya untuk memperoleh hasil evaluasi yang baik, maka kegiatan evaluasi program harus bertitik tolak dari prinsip-prinsip umum sebagai berikut :47
1) Berorientasi pada tujuan, kegiatan evaluasi program harus terarah untuk mencapai tujuan yang akan mengarahkan kepada rangkaian kegiatan evaluasi, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hasil, dan sistem pelaporan.
2) Kontinuitas, evaluasi program harus dilakukan secara kontinu maksudnya hasil evaluasi yang telah diperoleh pada waktu tertentu harus dihubungkan dengan hasil-hasil evaluasi sebelumnya agar dapat diperoleh gambaran yang komprehensif dan utuh.
3) Komprehensif, evaluator harus mengambil seluruh objek sebagai bahan evaluasi.
4) Adil dan objektif, setiap program yang dievaluasi harus diberlakukan sama tanpa diskriminatif. Implikasinya adalah evaluator program harus bertindak adil dan objektif, proporsional, profesional, apa adanya sesuai dengan kondisi objektif program, dan melihat data dan fakta yang sebenarnya.
5) Kooperatif, prinsip ini menekankan pada pentingnya bekerja sama dalam melaksanakan evaluasi program. Evaluator harus bekerja sama dengan semua pihak yang terlibat dan semua pihak harus merasa puas dengan hasil evaluasi serta hasil evaluasi tidak menyinggung pihak yang terlibat dan mereka merasa dihargai terhadap hasil yang ada.
6) Praktis dan efisien, praktis mengandung arti instrumen evaluasi mudah digunakan bagi evaluator itu sendiri atau bagi orang lain. Sedangkan efisien mengandung arti bahwa pelaksanaan
47 Zainal Arifin, Op.Cit., hlm. 16-19.
evaluasi perlu mempertimbangkan waktu, tenaga, biaya, dan sarana secara proporsional dan profesional.
7) Mendidik, maksudnya kegiatan evaluasi harus memberikan solusi sebagai upaya perbaikan. Jika dalam pelaksanaan program kurang baik dan terdapat yang menyimpang maka diberikan alternatif solusi agar menjadi baik dan meluruskan program sesuai dengan tujuan.
Berdasarkan hasil analisis penulis, prinsip yang telah dipaparkan oleh Arifin pada prinsip yang terdapat pada poin a. yang berorientasi pada tujuan, itu hanya dapat digunakan oleh model evaluasi yang berorientasi pada tujuan sedangkan dalam evaluasi program terdapat model bebas tujuan (Goal Free Evaluation) dimana pada model evaluasi tersebut beranggapan bahwa evaluasi tidak harus mengetahui tujuan program agar dapat mendapatkan pengaruh yang sesungguhnya dan tidak terkontaminasi atas tujuan yang ada. Untuk prinsip yang lainnya yang sudah dijelaskan diatas, prinsip-prinsip tersebut sudah dapat menjadi pijakan dalam evaluasi.
c. Tujuan Dan Manfaat Evaluasi Program
Evaluasi program sebaiknya memiliki tujuan, tujuan tersebut dijadikan gambaran ideal keberhasilan program yang nantinya dapat dijadikan pijakan oleh evaluator untuk mengidentifikasi dan menganalisis realitas program, dan evaluasi program sebaiknya pula memiliki manfaat yang dapat diambil jika tidak maka sia-sia dilakukannya evaluasi.
Tujuan evaluasi program yang dikemukakan oleh Arifin adalah untuk mengetahui keefektifan dan efisiensi pelaksanaan suatu program, untuk mengetahui ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan, untuk mengetahui relevansi pelaksanaan program dengan rencana program, untuk mengetahui dampak apa yang ditimbulkan setelah program dilaksanakan, untuk mengidentifikasi kekuatan dan
kelemahan program, dan menyediakan informasi untuk membuat keputusan.48
Secara khusus, tujuan evaluasi program adalah :
1) Untuk mengidentifikasi dan menganalisis jenis kebutuhan yang diperlukan masyarakat dan kelayakan suatu program untuk dilaksanakan di lapangan.
2) Untuk mengidentifikasi dan menganalisis proses perencanaan dan pengembangan program.
3) Untuk memantau pelaksanaan program, yaitu apakah program dapat berjalan sebagaimana sesuai dengan rencana program.
4) Untuk mengidentifikasi dan menganalisis tingkat efisiensi pelaksanaan program, baik yang berkenaan dengan tenaga, biaya, maupun waktu yang digunakan.
5) Untuk mengidentifikasi dan menganalisis dampak yang ditimbulkan dari suatu program terhadap populasi sasaran dan semua stakeholders.
6) Untuk menyediakan informasi secara komprehensif guna membantu para penyusun kebijakan dalam membuat keputusan dan kesimpulan yang tepat sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.49
Terdapat pendapat lain yang dikemukakan oleh Wirawan, Wirawan merumuskan tujuan evaluasi lebih luas. Menurut Wirawan evaluasi dilaksanakan untuk mencapai berbagai tujuan sesuai dengan objek evaluasinya. Tujuan melaksanakan evaluasi antara lain adalah:
1) Mengukur pengaruh program terhadap masyarakat
2) Menilai apakah program telah dilaksanakan sesuai dengan rencana
3) Mengukur apakah pelaksanaan program sesuai dengan standar
48 Zainal arifin, Op.Cit, hlm. 9.
49 Zainal arifin, Op.Cit., hlm.10.
4) Mengindentifikasi dan menemukan mana dimensi program yang berjalan dan mana yang tidak berjalan
5) Pengembangan staf program
6) Memenuhi ketentuan undang-undang 7) Akreditasi program
8) Mengukur cost effectiveness dan cost-efficiency 9) Mengambil keputusan mengenai program 10) Akuntabilitas
11) Memberikan balikan kepada pimpinan dan staf program 12) Memperkuat posisi politik
13) Mengembangkan teori ilmu evaluasi atau riset evaluasi.50
Dari pemaparan tujuan di atas, dapat dijelaskan bahwa tujuan evaluasi adalah mengidentifikasi dan menganalisis mulai dari proses perencanaan, jenis kebutuhan, pelaksanaan, tingkat efektivitas dan efisiensi suatu program agar didapatkannya suatu informasi untuk membuat keputusan dan mengetahui dampak dari suatu program.
Manfaat evaluasi tidak hanya dirasakan oleh ahli pendidikan lebih dari itu para konsultan dan profesional di berbagai bidang ilmu merasakan manfaatnya. Evaluasi program dimanfaatkan sebagai media pertanggungjawaban seorang pimpinan kepada para pelanggan yang relevan. Evaluasi juga dimanfaatkan untuk memperoleh informasi yang tepat, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan.51
Secara sederhana manfaat dilakukannya evaluasi program adalah untuk mendapatkan informasi, yang berguna untuk para pengambil keputusan dan kebijakan lanjutan dari program tersebut.
Empat kemungkinan kebijakan yang dapat dilakukan berdasarkan hasil dalam pelaksanaan sebuah program keputusan, yaitu :
50 Wirawan, Op.Cit., cet.1, hlm. 22-25
51 Sukandi dan Yayat Sri Hayati, Op.Cit., hlm. 2.
1) Menghentikan program, karena dipandang bahwa program tersebut tidak ada manfaatnya, atau tidak dapat terlaksana sebagaimana diharapkan.
2) Merevisi program, karena ada bagian-bagian yang kurang sesuai dengan harapan (terdapat kesalahan tetapi hanya sedikit)
3) Melanjutkan program, karena pelaksanaan program menunjukkan bahwa segala sesuatu sudah berjalan sesuai dengan harapan dan memberikan hasil yang bermanfaat.
4) Menyebarkan program (melaksanakan program di tempat-tempat lain atau mengulangi lagi program di lain waktu), karena program tersebut berhasil dengan baik maka sangat baik jika dilaksanakan lagi di tempat dan waktu yang lain.52
Dari pemaparan di atas, dapat dijelaskankan bahwa manfaat evaluasi adalah untuk memperoleh informasi yang tepat, objektif, serta dapat dipertanggungjawabkan yang selanjutnya dapat berguna untuk para pengambil keputusan dalam menentukan kebijakan yang diambil untuk program tersebut apakah diberhentikan, direvisi, dilanjutkan, atau disebarkan pada tempat lain atau diulangi program tersebut di lain waktu.
d. Model Evaluasi Program Yang Digunakan
Model adalah sebuah gambaran abstraksi dari sistem yang akan ditunjukkan. Pentingnya model yaitu untuk memudahkan dalam pemahaman suatu sistem. Evaluasi memerlukan model untuk mempermudah dalam menilai sejauhmana kesesuaian pelaksanaan kebijakan/program dengan standar capaian yang seharusnya.
Menurut Wirawan model evaluasi merupakan penjabaran teori evaluasi dalam praktik melaksanakan evaluasi. Suatu model evaluasi mengemukakan pengertian mengenai evaluasi dan proses bagaimana melaksanakannya.53 Dengan adanya model evaluasi memudahkan evaluator dalam melakukan evaluasi karena model evaluasi dianggap sebagai penyederhanaan konsep yang selanjutnya akan memberikan pemahaman terhadap fenomena yang dievaluasi.
52 Suharsimi Arikunto dan Cepi Safrudin Abdul Jabar, Op.Cit., hlm. 21-22.
53 Wirawan, Op.Cit., cet.1, hlm. 79.
Evaluasi program terdapat beragam model. Menurut Kaufman dan Thomas model evaluasi dapat dibagi menjadi delapan macam, yaitu sebagai berikut:
“Goal Oriented Evaluation Model, dikembangkan oleh Ralph Tyler; Goal Free Evaluation Model, dikembangkan oleh Michael Scriven; Formatif Summative Evaluation Model dikembangkan oleh Michael Scriven; Countenance Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake; Responsive Evaluation Model dikembangkan oleh Stake; CSE-UCLA Evaluation Model, menekankan pada “kapan” evaluasi dilakukan. CIPP Evaluation Model, yang dikembangkan oleh Stufflebeam, Descrepancy Evaluation Model, yang dikembangkan oleh Provus.”54
Model evaluasi masih banyak jenisnya selain yang telah disebutkan di atas. Adapun model evaluasi yang digunakan dalam penelitian evaluasi ini adalah Discrepancy evaluation model (DEM).
Model evaluasi kesenjangan adalah model evaluasi yang mengidentifikasi kesenjangan yang terjadi pada program, yaitu kesenjangan antara tujuan dan pelaksanaan program. Model tersebut dikenal dengan nama Discrepancy evaluation model (DEM), jika diterjemahkan per kata artinya menjadi ‘evaluasi model ketidaksesuaian’ tetapi model ini lebih dikenal dengan sebutan Evaluasi Kesenjangan Program. Discrepancy evaluation model (DEM) yang dikenalkan oleh Malcolm Provus pada tahun 1971.
Menurut Arifin kesenjangan program adalah sebagai suatu keadaan antara program yang diharapkan dalam rencana dengan hasil yang diperoleh dari pelaksanaan program.55
Model evaluasi ini merupakan model yang berangkat dari asumsi bahwa untuk mengetahui kelayakan suatu program, evaluator
54 Suharsimi Arikunto dan Cepi Safrudin Abdul Jabar, Op.Cit., hlm. 40-41.
55 Zainal Arifin, Op.Cit., hlm. 132.
dapat membandingkan antara apa yang seharusnya terjadi (standard) dengan apa yang sebenarnya terjadi (performance) sehingga dapat diketahui ada tidaknya kesenjangan (discrepancy) antara keduanya yaitu standard yang ditetapkan dengan kinerja sesungguhnya.56
Menurut Widoyoko, model evaluasi Provus bertujuan untuk menganalisis suatu program sehingga dapat ditentukan apakah suatu program layak diteruskan, ditinggalkan atau sebaiknya dihentikan mementingkan terdefinisikannya standard, performance, dan discrepancy secara rinci dan terukur.57
Dapat dijelaskan dari definisi tentang evaluasi kesenjangan program (descrepancy evaluation model) adalah proses mengetahui kelayakan suatu program dengan membandingkan antara rencana dengan hasil yang diperoleh dari suatu program yang bertujuan untuk pengambilan keputusan.
Menurut Wirawan ketimpangan-ketimpangan ditentukan melalui mempelajari tiga aspek dari program, yaitu: masukan, proses, dan keluaran pada tingkat-tingkat pengembangan program:
1) Definisi program yang memfokuskan pada desain dan sifat daripada proyek, termasuk objektif, siswa, staf, aktivitas, dan sebagainya.
2) Implementasi program.
3) Proses program, difokuskan pada tingkat formatif di mana objektif sedang dicapai.
4) Produk program atau pertandingan final outcome dengan standar atau objektif.58
Menurut Provus yang di kutip oleh Subasno dalam e-Journal yang berjudul provus’s discrepancy evaluation model dalam
56 Eko Putro Widoyoko, Evaluasi Program Pembelajaran, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 186.
57 Ibid,.
58Ibid., hlm. 106.
pendidikan inklusi, evaluasi adalah proses yang terdiri dari tiga hal, yakni :
1) Menyetujui berdasarkan standar (istilah lain yang digunakan secara bergantian dengan istilah tujuan);
2) Menentukan apakah kesenjangan antara kinerja aspek-aspek program dengan standar kinerja yang ditetapkan;
3) Menggunakan informasi tentang kesenjangan-kesenjangan yang
3) Menggunakan informasi tentang kesenjangan-kesenjangan yang