EVALUASI PROGRAM EKSTRAKURIKULER DI SMP NEGERI 1 LEGOK KABUPATEN TANGERANG
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Sebagai Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Disusun oleh:
Raras Feby Rhamayanti NIM. 11160182000047
JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK) UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 1441 H / 2021 M
ii
iii
iv
v
vi
vii ABSTRAK
Raras Feby Rhamayanti (NIM 11160182000047), Evaluasi Program Ekstrakurikuler di SMP Negeri 1 Legok Kabupaten Tangerang. Skripsi Program Strata (S-1) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2021.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek input, process, dan output dalam menemukan kesenjangan pada Program Ekstrakurikuler di SMP Negeri 1 Legok Kabupaten Tangerang yang menghasilkan rekomendasi untuk meningkatkan program ekstrakurikuler di sekolah ini. Penelitian ini menggunakan model evaluasi DEM (descrepancy evaluation model) atau biasa disebut model evaluasi kesenjangan yang berfokus pada masukan, proses, dan keluaran.
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan yang berorientasi pada tujuan (The Goal Oriented Approach) dan metode deskriptif.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, studi dokumen, observasi, dan angket. Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan konklusi. Hasilnya didapatkan kesimpulan bahwa program ekstrakurikuler di SMP Negeri 1 Legok diselenggarakan dengan baik.
Pada aspek masukan dan proses sangat baik dengan tingkat kesenjangan yang rendah, dan pada aspek keluaran cukup dengan tingkat kesenjangan tinggi.
Berdasarkan adanya temuan kesenjangan terdapat beberapa rekomendasi yang dapat diajukan antara lain, Kepala sekolah hendaknya menugaskan wakasek bidang kesiswaan untuk menyusun rencana kegiatan program ekstrakurikuler, memberikan arahan teknis terkait program ekstrakurikuler, membuat SK pembina, mengadakan sosialisasi untuk semua unsur-unsur yang terlibat, dan mengalokasikan dana tetap program ekstrakurikuler khususnya untuk sarana dan prasarana serta perlombaan. Pelatih dan pembina bekerjasama dalam membuat program kerja tahunan. Pelatih juga perlu meningkatkan kualitas, mulai dari materi yang diajar, metode dan strategi belajar yang kreatif dan inovatif dengan mengikuti pelatihan. Diharapkan semua peserta didik mengikuti program ekstrakurikuler agar dapat mengasah minat, bakat, kemampuan, serta potensi yang dimilikinya.
Kata kunci: Evaluasi Program, DEM, dan SMP Negeri 1 Legok.
viii ABSTRACT
Raras Feby Rhamayanti (NIM 11160182000047), Evaluation of Extracurricular Programs at SMP Negeri 1 Legok, Tangerang Regency. Thesis for Undergraduate Program (S-1) Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, 2021.
This study aims to determine the input, process, and output aspects in finding gaps in the Extracurricular Program at SMP Negeri 1 Legok, Tangerang Regency which resulted in recomendations for improving the extracurricular program at this school. This study uses a DEM (descrepancy evaluation mode) or commonly called a gap evaluation model that focuses on inputs, processes, and outputs. This research is a qualitative research with a goal-oriented approach (The Goal Oriented Approach) and descriptive method. Data was collected by means of interviews, document studies, observations, and questionnaires. The data that has been collected is then processed with data reduction techniques, data presentation, and conclusions. The result concluded that the extracurricular program at SMP Negeri 1 Legok was well organized. In the input and process aspects, it is very good in the low gap rate , and in the output aspect it is in the high gap rate.
Based on the findings of the gap, there are several recommendations that can be submitted, among others, the principal should assign the vice-chairman for student affairs to prepare plans for extracurricular program activities, provide technical directions related to extracurricular programs, make a supervisory decree, conduct socialization for all elements involved involved, and allocate fixed funds for extracurricular programs, especially for facilities and infrastructure and competitions. Trainers and coaches work together in making an annual work program. Trainers also need to improve quality, starting from the materials taught, methods and learning strategies that are creative and innovative by participating in training. It is expected that all students take part in extracurricular programs in order to hone their interests, talents, abilities, and potential.
Keywords: Program Evaluation, DEM, and SMP Negeri 1 Legok.
ix
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan rasa syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang berkat segala Rahmat dan Karunia- Nya, penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Shalawat serta salam semoga selalu terlimpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, dan umatnya.
Selama penulisan skripsi ini, penulis menghadapi kesulitan dan hambatan yang tidak sedikit. Namun demikian, berkat usaha dan do’a serta bantuan, arahan, bimbingan, dan motivasi dari berbagai pihak, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis selama menempuh pendidikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, M.A., Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
2. Dr. Sururin, M.Ag., Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
3. Drs. Muarif SAM, M. Pd sebagai Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan yang telah banyak membantu dalam keberlangsungan perkuliahan sampai selesai;
4. Dr. Tengku Rusman N. M.Pd., sebagai Dosen Pembimbing I, yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya dalam membantu, membimbing, dan mengarahkan serta memotivasi penulis dalam penulisan skripsi ini;
5. Drs. Muarif SAM, M.Pd., Dosen Pembimbing II, yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya dalam membantu, membimbing, mengarahkan dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini;
6. Drs. Ali Nurdin, M.Pd., Dosen Pembimbing Akademik, yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya dalam membimbing penulis selama masa perkuliahan;
x
7. Seluruh Dosen dan Staff Jurusan Manajemen Pendidikan yang telah memberikan ilmu dan pelayanan yang baik selama menjalani perkuliahan;
8. Agus Sulistio, S.Pd, MM, Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Legok yang telah meluangkan banyak waktunya dan sangat membantu penulis dalam memperoleh data yang diperlukan penulis serta guru dan pelatih (Pak Agus Bren, Pak Iwan, Pak Elva, Pak Nasrullah, Sabeum Yayat, Kak Firman, Kak Diana) dan seluruh anggota ekstrakurikuler kelas XII dan IX SMP Negeri 1 Legok yang selalu membantu dalam proses penyusunan skripsi ini;
9. Pak Elva Mustakim, S.Pd yang selalu membantu dalam proses penyusunan skripsi ini;
10. Ayahanda Slamet Riyadi dan Ibunda Carniti, orang tua tercinta yang senantiasa mendoakan dan memotivasi serta membantu penulis baik moral maupun materil hingga tak bisa digambarkan betapa besar perjuangan yang telah diberikan pada penulis;
11. Adik Ferdiansyah Adi Putro, Vara Dwi Ardhelia, Vira Dwi Ardhelia, dan Radeva Alfonsina yang terkadang menambah beban tetapi selalu memotivasi penulis dengan menghibur selama proses penyusunan skripsi;
12. Ustad Saiful Amin, Ustad Lutfi, dan Teh Dian yang senantiasa memberikan dukungan serta motivasi kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini;
13. Sahabat-sahabatku tercinta (Vivi, Linda, Arika, Abay, Fadil) yang telah membantu dalam menghapus rasa jenuh selama proses penulisan skripsi ini;
14. Muhammad Khosim Lambang, adik yang selalu mendukung, memberi semangat, dan selalu mendoakan dari awal penyusunan sampai terselesaikannya skripsi ini;
15. Teman-teman KBBC (Kumpul berkah badminton club), yang telah membantu dalam menghapus rasa jenuh selama proses penulisan skripsi ini;
16. Teman-teman seperjuangan Manajemen Pendidikan 2016 terkhusus teman seperjuangan (Fida, Jihan, Yuli, Dani, Nabila, Ary, Aldo, Romi, syifa, dan Fahri) yang senantiasa membantu penulis dalam melewati masa-masa perkuliahan;
xi DAFTAR ISI
ABSTRAK ... ii
ABSTRACT ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A.Latar Belakang Masalah ... 1
B.Identifikasi Masalah ... 9
C.Pembatasan Masalah ... 10
D.Rumusan Masalah ... 10
E. Tujuan Evaluasi... 10
F. Manfaat Evaluasi ... 11
BAB II KAJIAN TEORI ... 13
A.Kajian Teori ... 13
1. Kegiatan Ekstrakurikuler ... 13
2. Evaluasi Program... 31
B.Kerangka Berfikir ... 52
C.Penelitian Relevan ... 53
xii
BAB III METODOLOGI EVALUASI... 56
A.Tempat dan Waktu Evaluasi... 56
B.Jenis, Pendekatan, Metode, dan Model Evaluasi ... 56
C.Sumber dan Jenis Data ... 58
D.Populasi dan Sampel ... 59
E. Teknik Pengumpulan Data ... 60
F. Instrumen Evaluasi ... 62
G.Teknik Analisis Data ... 68
H.Uji Keabsahan Data ... 69
BAB IV HASIL EVALUASI DAN PEMBAHASAN ... 71
A.Gambaran Umum SMP Negeri 1 Legok ... 71
1. Profil Sekolah ... 71
2. Visi, Misi dan Tujuan Sekolah ... 71
3. Data Guru dan Pelatih Ekstrakurikuler... 74
4. Data Peserta Didik ... 75
B.Deskripsi Hasil Evaluasi ... 77
1. Masukan (Input) ... 77
2. Proses (process) ... 111
3. Keluaran (output)... 129
C.Analisis Hasil Ketercapaian Program Ekstrakurikuler ... 134
D.Pembahasan Hasil Temuan Evaluasi Program Ekstrakurikuler ... 144
E. Temuan Evaluasi Kesenjangan ... 147
F. Keterbatasan Evaluasi ... 149
xiii
BAB V KESIMPULAN ... 150
A.Kesimpulan ... 150
B.Rekomendasi ... 151
DAFTAR PUSTAKA ... 153
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 155
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 Standar Kompetensi Bidang Pembinaan Kesiswaan ... 27
Tabel 2. 2 Kriteria Evaluasi ... 51
Tabel 3. 1 Pelaksanaan Evaluasi Program ... 56
Tabel 3. 2 Populasi dan Sampel ... 59
Tabel 3. 3 Sebaran Instrumen Evaluasi ... 62
Tabel 3. 4 Kisi-kisi Pedoman Observasi ... 64
Tabel 3. 5 Instrumen Dokumen ... 64
Tabel 3. 6 Kisi-Kisi Wawancara Kepala Sekolah dan Wakasek Kesiswaan ... 65
Tabel 3. 7 Kisi-kisi Wawancara Pembina ... 65
Tabel 3. 8 Kisi-kisi Wawancara Pelatih ... 66
Tabel 3. 9 Kisi-kisi Wawancara Anggota Ekstrakurikuler ... 67
Tabel 3. 10 Kisi-Kisi Angket Anggota Ekstrakurikuler... 68
Tabel 4. 1 Pelatih Ekstrakurikuler SMP Negeri 1 Legok... 74
Tabel 4. 2 Tabel Peningkatan Jumlah Peserta Didik... 76
Tabel 4. 3 Data Pendaftar ... 76
Tabel 4. 4 Jumlah Anggota Ekstrakurikuler ... 97
Tabel 4. 5 Observasi Sarana dan Prasarana Ekstrakurikuler... 105
Tabel 4. 6 Hasil Perhitungan Angket tentang Penjadwalan Kegiatan Ekstrakurikuler ... 111
Tabel 4. 7 Hasil Perhitungan Angket tentang Implementasi Kegiatan Ekstrakurikuler ... 121
Tabel 4. 8 Hasil Perhitungan Angket tentang Pengawasan... 123
Tabel 4. 9 Hasil Perhitungan Angket tentang Perlombaan ... 125
Tabel 4. 10 Tabel Prestasi ... 131
Tabel 4. 11 Analisis Hasil Ketercapaian Program Ekstrakurikuler ... 134
xv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3. 1 Skema Kerangka Berfikir Model DEM ... 53
Gambar 4. 1 Honorarium Pelatih ... 109
Gambar 4. 2 Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka ... 114
Gambar 4. 3 Kegiatan Ekstrakurikuler Taekwondo ... 115
Gambar 4. 4 Kegiatan Ekstrakurikuler Paduan Suara ... 116
Gambar 4. 5 Kegiatan Ekstrakurikuler PMR (Palang Merah Remaja) ... 116
Gambar 4. 6 Kegiatan Ekstrakurikuler Paskibra (Pasukan Pengibar Bendera) .. 116
Gambar 4. 7 Kegiatan Ekstrakurikuler Futsal ... 117
Gambar 4. 8 Kegiatan Ekstrakurikuler Musik ... 118
Gambar 4. 9 Kegiatan Ekstrakurikuler Tari tradisional / Modern Dance ... 118
Gambar 4. 10 Kegiatan Ekstrakurikuler Bulu Tangkis ... 119
Gambar 4. 11 Kegiatan Ekstrakurikuler Basket ... 120
Gambar 4. 12 Upacara Pembukaan Perlombaan GTA (Gladi Tangkas Arena) .. 126
Gambar 4. 13 Kegiatan Perlombaan Ekstrakurikuler Pramuka ... 127
Gambar 4. 14 Kegiatan Perlombaan Ekstrakurikuler Taekwondo... 127
Gambar 4. 15 Juara Internasional Ekstrakurikuler Taekwondo ... 128
Gambar 4. 16 Perlombaan Ekstrakurikuler Futsal ... 128
Gambar 4. 17 Perlombaan Ekstrakurikuler Paskibra ... 129
Gambar 4. 18 Lemari Piala ... 132
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Instrumen Evaluasi ... 156
Lampiran 2 Profil Smp Negeri 1 Legok ... 168
Lampiran 3 Data Guru ... 169
Lampiran 4 Hasil Wawancara ... 171
Lampiran 5 Hasil Observasi Sarana Dan Prasarana ... 224
Lampiran 6 Studi Dokumen ... 226
Lampiran 7 Struktur Pengurus Ekstrakurikuler ... 227
Lampiran 8 Surat Keputusan Pelatih... 228
Lampiran 9 Sertifikat Pelatih ... 230
Lampiran 10 Diagram Hasil Angket ... 233
Lampiran 11 Surat Bimbingan Skripsi ... 240
Lampiran 12 Surat Izin Penelitian... 241
Lampiran 13 Surat Keterangan Penelitian ... 242
Lampiran 14 Dokumentasi Penelitian ... 243
Lampiran 15 Uji Referensi ... 244
Lampiran 16 Profil Penulis ... 248
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sekolah adalah lembaga pendidikan yang menyediakan layanan dan pembinaan kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuan, pengetahuan, kecerdasan, pemahaman dan keterampilan yang nantinya dapat berguna bagi dirinya, masyarakat, bangsa, dan agamanya. Sebagaimana tertuang dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal 1 ayat 1 menyebutkan Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.1 Dengan adanya UU tentang Sistem Pendidikan Nasional sekolah memiliki dasar atau asas dalam menentukan arah pendidikan serta diharapkan peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi dirinya dan tercapainya tujuan pendidikan.
Sekolah memiliki tugas menyiapkan peserta didik untuk kehidupan bermasyarakat dan mengasah potensi peserta didik untuk dirinya sendiri.
Menyiapkan peserta didik untuk kehidupan bermasyarakat yaitu melalui pembelajaran. Mengasah potensi peserta didik dapat melalui minat, bakat, dan hobi dengan pengembangan diri yang dapat di tekuni di sekolah agar terciptanya keseimbangan antara kecerdasan spiritual, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan sosial. Sudah saatnya dunia pendidikan harus mengubah orientasinya dari orientasi kognitif kearah orientasi afektif (tanggung jawab) atau dari orientasi kecerdasan intelektual (IQ) ke arah kecerdasan spiritual (SQ) dan emosional (EQ). Pengembangan diri dapat diberikan dengan banyak cara di lingkungan sekolah, Diantaranya
1 Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2
pemberian tugas di kelas, kebersihan kelas dan sekolah, menunaikan ibadah, struktur kepengurusan di kelas, OSIS, ataupun ekstrakurikuler dan lain sebagainya yang dapat mengembangkan diri.
Peserta didik merupakan salah satu input yang ikut menentukan keberhasilan proses pendididikan. Peserta didik merupakan klien utama yang harus dilayani dan harus dilibatkan secara aktif, tidak hanya pada proses belajar mengajar, melainkan juga di dalam kegiatan sekolah. Ekstrakurikuler merupakan salah satu kegiatan sekolah dalam bentuk pelayanan untuk mengembangkan diri peserta didik.
Ekstrakurikuler merupakan salah satu kegiatan dalam pembinaan kesiswaan yang terdapat di satuan pendidikan sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 39 tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan, bab I pasal 3 ayat 1 disebutkan bahwa pembinaan kesiswaan dilaksanakan melalui kegiatan ekstrakurikuler dan kokurikuler dengan jenis kegiatan yang dapat dikembangkan oleh sekolah dengan kebijakan yang dibuat oleh masing-masing sekolah.2 dengan adanya Permendiknas tersebut diharapkan sekolah dapat menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler dan kokulikuler dengan jenis kegiatan yang dibutuhkan oleh masing-masing sekolah atau daerahnya.
Program ekstrakurikuler merupakan salah satu perwujudan dari peningkatan mutu pendidikan dan pengembangan diri peserta didik di sekolah. Peningkatan mutu pendidikan di sekolah tidak hanya pada pencapaian aspek akademik tetapi juga aspek non-akademik. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2014 tentang kegiatan ekstrakurikuler pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah dalam pasal 1 ayat 1 menyebutkan kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan kurikuler yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kegiatan intrakurikuler dan kegiatan kokurikuler, dibawah
2 Permendiknas No. 39 Tahun 2008 tentang pembinaan kesiswaan, hlm. 4.
3
bimbingan dan pengawasan satuan pendidikan.3 Dengan adanya regulasi tentang kegiatan ekstrakurikuler diharapkan satuan pendidikan dapat lebih memperhatikan kegiatan ekstrakurikuler. Satuan pendidikan meliputi Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah. (SMP/MTs), Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA), dan Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan (SMK/MAK).
Tujuan dari kegiatan ekstrakurikuler tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2014 tentang kegiatan ekstrakurikuler pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah dalam pasal 2, kegiatan ekstrakurikuler diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, dan kemandirian peserta didik secara optimal dalam rangka mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional.4 Tujuan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler pada satuan pendidikan tertuang pula dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Kegiatan Ekstrakurikuler yaitu (a) kegiatan ekstrakurikuler harus dapat meningkatkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik dan (b) Kegiatan ekstrakurikuler harus dapat mengembangkan bakat dan minat peserta didik dalam upaya pembinaan pribadi menuju pembinaan manusia seutuhnya.5 Tujuan kegiatan ekstrakurikuler sudah jelas tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dengan konsep pengembangan diri peserta didik agar peserta didik dapat menjadi manusia seutuhnya serta tercapainya tujuan pendidikan nasional. Untuk mencapai tujuan tersebut tidaklah mudah karena ekstrakurikuler bukanlah kegiatan yang wajib ada di sekolah. Hanya terdapat satu kegiatan ekstrakurikuler yang
3 Permendikbud RI No. 62 Tahun 2014 tentang kegiatan ekstrakurikuler pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
4 Ibid.,
5 Permendikbud RI No. 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Kegiatan Ekstrakurikuler.
4
diwajibkan di sekolah yaitu pramuka. Padahal bakat dan minat peserta didik tidaklah sama. Maka sebaiknya kegiatan ekstrakurikuler harus disesuaikan dengan bakat dan minat peserta didik di sekolahnya masing-masing.
Kegiatan ekstrakurikuler terdiri atas kegiatan ekstrakurikuler wajib dan kegiatan ekstrakurikuler pilihan. Kegiatan Ekstrakurikuler wajib yaitu kegiatan ekstrakurikuler yang wajib diikuti oleh seluruh peserta didik di dalam satuan pendidikan berbentuk pendidikan kepramukaan. Kegiatan Ekstrakurikuler pilihan yang dimaksud adalah Kegiatan Ekstrakurikuler yang dikembangkan dan diselenggarakan oleh satuan pendidikan sesuai bakat dan minat peserta didik.6 Dalam kurikulum 2013 pendidikan kepramukaan ditetapkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler wajib dan tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 62 tahun 2014. Pendidikan kepramukaan dijadikan ekstrakurikuler wajib karena dasar legalitasnya sudah tertuang dalam Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 2010 dan pendidikan kepramukaan mengajarkan banyak nilai-nilai, mulai dari nilai Ketuhanan, kebudayaan, kepemimpinan, kebersamaan, sosial, kecintaan alam, hingga kemandirian.7 Kegiatan ekstrakurikuler pilihan merupakan kegiatan yang antara lain OSIS, UKS, dan PMR.8 Selain itu kegiatan ekstrakurikuler pilihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan satuan pendidikan dalam menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler pilihan.
Menurut Mulyono kegiatan ekstrakurikuler dibagi menjadi lima macam yaitu Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), pramuka sekolah, olahraga dan kesenian sekolah, majalah sekolah, Palang Merah Remaja (PMR).9 Sekolah yang sudah dianggap bermutu rata-rata hanya menyediakan kegiatan yang meliputi lima jenis yang telah disebutkan di atas, nyatanya setiap peserta
6 Permendikbud RI No. 62 Tahun 2014 tentang Kegiatan Ekstrakurikuler pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah pasal 3.
7 Permendikbud RI No. 63 Tahun 2014 tentang Pendidikan kepramukaan sebagai ekstrakurikuler wajib, hlm. 2.
8 Permendikbud RI No. 81A tahun 2013 tentang implementasi kurikulum, hlm. 5.
9 Mulyono, manajemen adminstrasi dan organisasi pendidikan, (2008 :Ar-Ruzz Media, Yogyakarta), hlm. 192.
5
didik mempunyai potensi, minat, bakatnya masing-masing dan berbeda-beda.
Satuan pendidikan dapat menyediakan sebanyak-banyaknya kegiatan ekstrakurikuler dan menyediakan kegiatan ekstrakurikuler yang disesuaikan dengan kebutuhan masa kini misalnya kegiatan ekstrakurikuler desain grafis, public speaking, e-sport, beauty class, language club, bercocok tanam, robotik, keputrian dan lain sebagainya agar semua peserta didik dapat mengembangkan potensi, minat, bakat serta kemampuan dirinya.
Kegiatan ekstrakurikuler juga merupakan wadah yang dapat dijadikan sebagai alat untuk mendeteksi talenta peserta didik. Untuk itu diperlukan pembina maupun pelatih dalam setiap kegiatan ekstrakurikuler untuk mengasah minat, bakat, serta keterampilan agar proses yang dilalui oleh peserta didik dapat teratur dan terpantau mulai dari masukan selanjutnya proses setelah itu terlihat keluarannya. Pembina dan pelatih ini harus mempunyai rekam jejak pendidikan yang sesuai dengan kegiatan ekstrakurikuler yang dilatih agar tercapainya tujuan program ekstrakurikuler.
Sejauh ini pemerintah hanya memiliki regulasi kualifikasi pembina dan pelatih ekstrakurikuler pramuka, regulasi tersebut termuat dalam salinan lampiran 1 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2014 Tentang Pendidikan Kepramukaan sebagai Ekstrakurikuler wajib. Didalamnya terdapat penjelasan tentang pembimbing dan pembina yaitu majelis pembimbing adalah dewan yang memberikan bimbingan kepada satuan organisasi gerakan pramuka dan pembina pramuka adalah anggota dewasa gerakan pramuka. Pembina bertugas merencanakan, melaksanakan, dan mengawasi pelaksanaan kegiatan kepramukaan di tingkat gudep.10 Seorang pembina ekstrakurikuler pramuka juga memiliki beberapa kualifikasi agar dapat menjadi pembina pramuka yaitu dengan mengikuti kursus yang disebut dengan kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar atau disebut KMD yang diselenggarakan bagi anggota dewasa dan pramuka pandega yang akan membina anggota muda di gugus depan dan kursus
10 Permendikbud No. 63 Tahun 2014 Tentang Pendidikan Kepramukaan sebagai Ekstrakurikuler wajib, hlm. 4.
6
lanjutan yang disebut KML yang merupakan jenjang tertinggi bagi pembina pramuka. Kualifikasi tersebut belum dipraktikan dengan baik, dalam praktiknya masih banyak sekolah yang memiliki pembina ekstrakurikuler pramuka yang tidak memiliki kualifikasi yang telah ditetapkan.
Kegiatan ekstrakurikuler pilihan didalamnya belum terdapat regulasi yang menjelaskan tentang kualifikasi pembina atau pelatih kegiatan ekstrakurikuler pilihan di sekolah. Sekolah sebaiknya menentukan kualifikasi atau syarat-syarat apa saja yang harus di penuhi untuk menjadi seorang pelatih atau instruktur di sekolah agar pelaksanaan pada kegiatan ekstrakurikuler sesuai yang diharapkan. Dalam praktiknya pada kebanyakan pelatih kegiatan ekstrakurikuler tidak memenuhi kualifikasi dan kurang mumpuni dalam membimbing kegiatan ekstrakurikuler. Sejalan dengan itu pelatih kurang mendapatkan apresiasi dari sekolah maupun masyarakat padahal perannya penting. Karena kualifikasi yang tidak terorganisir dengan baik berdampak pula pada kompensasi yang didapatkan oleh pelatih kegiatan ekstrakurikuler yang terhitung sedikit. Hal itu berdampak pula pada ketidakadilan untuk pelatih yang memang mumpuni di bidangnya dan memiliki kualifikasi yang baik dengan pelatih yang kurang mumpuni serta kualifikasi yang belum memadai. Padahal ekstrakurikuler juga merupakan hal penting yang dapat meningkatkan mutu pendidikan, mengembangkan potensi peserta didik, dan tercapainya tujuan pendidikan.
Manfaat kegiatan ekstrakurikuler bagi peserta didik yaitu dapat menggunakan waktu luang seoptimal mungkin, memberikan rekreasi mental dan fisik secara sosial, memperoleh pengalaman dan bekerja sama dengan orang lain serta mengembangkan tanggung jawab. Dari penjelasan di atas memberikan pemahaman bahwa kegiatan ekstrakurikuler sangat penting bagi peserta didik karena memberikan pengalaman yang berharga dan dapat berpengaruh untuk masa depan peserta didik.
Peran para guru dan orang tua juga sangat penting dalam hal mengapresiasi dan mengatur jadwal peserta didik atau anak mereka agar tidak mengganggu satu sama lain dalam kegiatan yang dilakukannya. Pada
7
kenyataannya guru dan orang tua sering kali memandang bahwa kegiatan ekstrakurikuler tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap kemampuan dan pengembangan diri peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler dikesampingkan dan dianggap tidak terlalu penting untuk diikuti. Padahal jika program ekstrakurikuler dikelola dengan baik akan memberikan manfaat bagi peserta didik. Pengelolaan yang baik tidak akan berjalan lancar tanpa adanya pengawasan. Untuk itu perlu adanya pengawasan dan evaluasi kegiatan ekstrakurikuler terhadap pengembangan diri peserta didik.
Pengawasan dalam penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler perlu dilakukan agar berjalan sesuai dengan tujuannya. Pengawasan program ekstrakurikuler dilakukan oleh wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dan pembina ekstrakurikuler. Evaluasi juga perlu dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan. Evaluasi dapat dilakukan pada peserta didik, satuan pendidikan, dan program pendidikan. Cakupan evaluasi peserta didik di dalamnya termasuk attitude, kognitif, keterampilan, dan afektif peserta didik yang dinilai. Evaluasi satuan pendidikan dapat dilakukan pada aspek kurikulum, metode pembelajaran, sumber daya manusia, dan lain sebagainya.
Cakupan evaluasi dalam program pendidikan salah satunya dapat dilakukan pada program ekstrakurikuler.
Mengimplementasikan program ekstrakurikuler di sekolah dengan baik akan memberikan manfaat bagi peserta didik dan sekolah.
Pengimpelementasian yang baik dilakukan dengan cara mengalokasikan dana untuk kegiatan ekstrakurikuler, sarana dan prasarana yang memadai, adanya pelatih atau instruktur yang profesional, serta mengadakan monitoring dan evaluasi agar program tersebut dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan.
Salah satu lembaga satuan pendidikan yang memperhatikan program ekstrakurikuler adalah SMP Negeri 1 Legok dibuktikan dengan kuantitas kegiatan ekstrakurikuler yang ada di SMP Negeri 1 Legok yang terbilang banyak jika dibandingkan dengan SMP/sederajat yang ada di kecamatan Legok, berdasarkan studi pendahuluan terdapat 15 kegiatan esktrakurikuler
8
yang ada di SMP Negeri 1 Legok. Sarana dan prasarana yang cukup memadai mulai dari 2 lapangan, panggung pentas seni, ruang kesenian, gudang penyimpanan peralatan ekstrakurikuler dan ruang UKS. Sarana dan prasarana yang telah disebutkan dapat menunjang kegiatan ekstrakurikuler agar berjalan dengan lancar. Prestasi-prestasi yang dimiliki sekolah juga cukup banyak didapatkan melalui lomba-lomba yang diikuti pada kegiatan ekstrakurikuler.
SMP Negeri 1 Legok memiliki sebanyak 1.066 peserta didik. Dengan banyaknya jumlah peserta didik yang dimiliki menjadikan sekolah bertanggung jawab lebih atas terbentuknya karakter peserta didik dan kemampuan peserta didik dengan berjalannya program ekstrakurikuler yang dapat mengasah bakat, minat serta kemampuan non-akademik peserta didik.
Pembinaan kesiswaan di SMP Negeri 1 Legok di bawah tanggung jawab Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan yaitu Agus Bren dan Pembina OSIS dan pembina program ekstrakurikuler yaitu Elva Mustakim. Terdapat program-program unggulan di SMP Negeri 1 Legok yaitu kurasaki (kurangi sampah sekolah kita), sekolah menyenangkan, sekolah model, dan sekolah adiwiyata yang dari program-program tersebut para pembina kesiswaan bekerjasama dengan OSIS agar program-program tesebut terlaksana dengan baik.
Hasil dari studi pendahuluan terkait kegiatan pembinaan kesiswaan.
Program kurasaki memiliki beberapa kegiatan salah satunya sekolah tidak lagi memperbolehkan plastik untuk mengemas makanan, setiap siswa diwajibkan membawa peralatan makan dari rumah masing-masing. Dalam program sekolah menyenangkan ini terdapat kegiatan-kegiatan yang menjadikan sekolah ramah anak misalnya mengadakan belajar di luar kelas.
Program sekolah model memiliki beberapa kegiatan misalnya mengecat ruang kelas dengan warna yang bervariasi. Program sekolah adiwiyata memiliki kegiatan yang mengharuskan peserta didik membawa satu jenis tanaman yang berbeda setiap kelasnya dan mengurus tanaman tersebut.
Program eksrakurikuler yang terdapat di sekolah tersebut berjumlah 15 kegiatan ekstrakurikuler yaitu paskibra (pasukan pengibar bendera), pramuka,
9
futsal, jurnalistik, taekwondo, karate, bola voli, bola basket, badminton, paduan suara / musik, english club, marawis, baca tulis Al-Qur’an dan ekstrakurikuler tari. Dari sekian banyak kegiatan ekstrakurikuler yang telah disebutkan yang sering mengukir prestasi non-akademik dalam perlombaan yaitu ekstrakurikuler adalah paskibra, pramuka, taekwondo serta futsal dan dari keempat kegiatan ekstrakurikuler itulah yang paling digemari oleh siswa SMPN 1 Legok.
Perlunya penelitian ini dilakukan untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai program ekstrakurikuler, informasi mengenai bagaimana sekolah mengatur program ekstrakurikuler untuk meningkatkan minat, bakat, dan keterampilan peserta didik. Sebelumnya juga belum terdapat penelitian atau evaluasi yang dilakukan oleh pihak eksternal tentang program ekstrakurikuler di SMP Negeri 1 Legok. Bertolak dari hal tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan evaluasi program ekstrakurikuler, seperti yang tertuang dalam judul penelitian: “Evaluasi program ekstrakurikuler di SMP Negeri 1 Legok Kabupaten Tangerang”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang, diketahui berbagai masalah yang muncul terkait penyelenggaraan program ekstrakurikuler yang dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Program ekstrakurikuler belum dilaksanakan secara maksimal dan menyeluruh ke seluruh kegiatan ekstrakurikuler.
2. Perhatian guru-guru terhadap program ekstrakurikuler kurang maksimal.
3. Apresiasi guru dan orang tua terhadap pelatih yang bertanggung jawab terhadap program ekstrakurikuler kurang maksimal.
4. Apresiasi guru dan orang tua terhadap peserta didik atau anak yang mengikuti program ekstrakurikuler kurang didukung secara maksimal.
5. Anggaran ekstrakurikuler terbatas.
6. Sarana dan prasarana belum memadai secara menyeluruh.
10
7. Kesempatan mengikuti lomba minim dalam beberapa kegiatan ekstrakurikuler.
C. Pembatasan Masalah
Peneliti membatasi evaluasi berdasarkan model evaluasi yang telah dipilih yaitu DEM (discrepancy evaluation model). Model ini dipilih sebagai jenis dalam melakukan evaluasi program dengan tujuan mendapat gambaran mulai dari input-process-output dalam pelaksanaan program ekstrakurikuler.
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Legok Kabupaten Tangerang pada program ekstrakurikuler untuk mendukung minat, bakat, serta keterampilan peserta didik.
D. Rumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana evaluasi input program ekstrakurikuler di SMP Negeri 1 Legok Kabupaten Tangerang?
2. Bagaimana evaluasi process program ekstrakurikuler di SMP Negeri 1 Legok Kabupaten Tangerang?
3. Bagaimana evaluasi output program ektrakurikuler di SMP Negeri 1 Legok Kabupaten Tangerang?
E. Tujuan Evaluasi
Tujuan evaluasi adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui evaluasi input program ekstrakurikuler di SMP Negeri 1 Legok Kabupaten Tangerang
2. Untuk mengetahui evaluasi process program ekstrakurikuler di SMP Negeri 1 Legok Kabupaten Tangerang
3. Untuk mengetahui evaluasi output program ekstrakuler di SMP Negeri 1 Legok Kabupaten Tangerang
11
F. Manfaat Evaluasi
Kegiatan penelitian ini diharapkan dapat digunakan bagi yang berkecimpung di dalam dunia pendidikan, kegunaan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Secara teoritis
Dengan adanya penelitian ini dapat menambah pengembangan keilmuan dan memperluas wawasan tentang layanan pembinaan ekstrakurikuler di SMP Negeri 1 Legok dan dapat mengetahui sejauh mana pembinaan ekstrakurikuler bagi peserta didik SMP Negeri 1 Legok.
2. Secara praktis
a. Anggota ekstrakurikuler
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan anggota ekstrakurikuler untuk mengembangkan minat, bakat, dan keterampilan peserta didik melalui kegiatan-kegiatan yang ada di dalam ekstrakurikuler tersebut dan juga sebagai bahan evaluasi untuk mencapai keberhasilan yang di raih oleh masing-masing kegiatan ekstrakurikuler.
b. Guru pembina ekstrakurikuler
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan guru pembina ekstrakurikuler untuk membina peserta didik dan mengembangkan bakat, minat, serta keterampilan peserta didik dan membina kedisiplinan peserta didik maupun penciptaan budaya sekolah yang baik. Juga sebagai bahan evaluasi terhadap keberhasilan yang timbul dari dampak pembinaan ekstrakurikuler terhadap peningkatan kemampuan dalam hal bakat, minat, serta keterampilan peserta didik.
c. Kepala Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan pada kepala sekolah SMP Negeri 1 Legok dalam menanamkan dan mengembangkan program ekstrakurikuler dan terkait rancangan serta pelaksanaan program ekstrakurikuler.
d. Orang tua
12
Hasil penelitian ini diharapkan orang tua dapat memberikan dukungan terhadap kegiatan program ekstrakurikuler di sekolah serta dapat berperan aktif dalam pembinaan anaknya.
e. Peneliti lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan penelitian terdahulu dan menambah wawasan peneliti lain dalam rumpun penelitian yang sejenis.
13 BAB II KAJIAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Kegiatan Ekstrakurikuler a. Pengertian ekstrakurikuler
Kegiatan yang dilakukan peserta didik di sekolah sangat beragam. Mulai dari upacara bendera, gerakan peduli lingkungan, perlombaan-perlombaan, peringatan hari besar, pentas seni, ekstrakurikuler dan lain sebagainya. Ekstrakurikuler merupakan suatu program atau kumpulan kegiatan yang sudah tidak asing bagi peserta didik di sekolah. Ekstrakurikuler juga merupakan salah satu hal yang dapat menjadi tolak ukur berkualitasnya suatu sekolah di mata masyarakat karena mempunyai daya tarik yang besar dalam hal promosi serta pemasaran suatu sekolah. Ekstrakurikuler adalah ajang untuk mengasah potensi, bakat, minat dan hobi yang dimiliki oleh para peserta didik dan merupakan salah satu pembelajaran yang dilakukan di luar kelas. Untuk memahami lebih lanjut pengertian ekstrakurikuler berikut pemaparan oleh beberapa ahli:
Menurut Mulyono kegiatan ekstrakurikuler adalah berbagai kegiatan sekolah yang dilakukan dalam rangka memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi, minat, bakat, dan hobi yang dimilikinya yang dilakukan di luar jam pelajaran normal.11 Sekolah memenuhi kewajibannya dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat belajar dan mengenyam pendidikan. Salah satunya kesempatan untuk dapat memilih dan menentukan kegiatan ekstrakurikuler yang ingin diikuti oleh masing-masing peserta didik. Manfaat sudah dapat dirasakan oleh peserta didik sebelum mengikuti serangkaian kegiatan
11 Mulyono, Manajemen Adminstrasi dan Organisasi Pendidikan, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2008), hlm. 188.
ekstrakurikuler, manfaatnya yaitu peserta didik dapat belajar menentukan apa yang diinginkannya dan bertanggung jawab atas apa yang telah dipilihnya. Jika peserta didik mengikuti dengan baik serangkaian kegiatan ekstrakurikuler maka potensi, minat, bakat, dan hobi peserta didik pun dapat terasah dan pada akhirnya dapat bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat di sekitarnya.
Pendapat Mulyono memiliki kesamaan penekanan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Arikunto yang dikutip oleh Prihatin yang dimaksud dengan program ialah sederetan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Sedangkan kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan tambahan, di luar struktur program yang pada umumnya merupakan kegiatan pilihan.12 Kesamaan tersebut terletak pada kegiatan pilihan maksudnya peserta didik dapat memilih kegiatan apa saja yang ingin diikutinya.
Hal berbeda dikemukakan oleh Kompri yang menyatakan ekstrakurikuler pada tujuan dan manfaat secara komprehensif.
Menurut Kompri kegiatan ekstrakurikuler yaitu:
“Kegiatan-kegiatan siswa di luar jam pelajaran, yang dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah, dengan tujuan memperluas pengetahuan, memahami keterkaitan antara berbagai mata pelajaran, penyaluran bakat dan minat, serta dalam rangka usaha untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan para siswa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kesadaran berbangsa dan bernegara, berbudi pekerti luhur dan sebagainya.”13
Tujuan yang dicapai secara komprehensif dapat memunculkan manfaat yang komprehensif pula diantaranya meningkatkan kualitas diri peserta didik dari segi keimanan, ketakwaan, budi pekerti, dan kemampuan diri.
Pengertian ekstrakurikuler juga terdapat dalam lampiran Permendikbud RI No. 81A tahun 2013 dinyatakan bahwa
12 Eka prihatin, Manajemen Peserta didik, (Bandung: Alfabeta, 2011), hlm. 159.
13 Kompri, Manajemen Sekolah Orientasi Kemandirian Kepala Sekolah, (Yogyakarta:
Pustaka pelajar, 2015), hlm. 312-313.
ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kurikulum standar sebagai perluasan dari kegiatan kurikulum dan dilakukan di bawah bimbingan sekolah dengan tujuan untuk mengembangkan kepribadian, bakat, minat, dan kemampuan peserta didik yang lebih luas atau di luar minat yang dikembangkan oleh kurikulum.14 Pengembangan potensi peserta didik merupakan tujuan pendidikan nasional, hal tersebut salah satunya dapat diwujudkan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler merupakan perangkat operasional kurikulum yang perlu disusun dan dituangkan dalam rencana kerja tahunan satuan pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan peserta didik yang berbeda-beda. Jika setiap satuan pendidikan menyusun rencana kegiatan ekstrakurikuler tidak sesuai dengan kebutuhan perkembangan peserta didik maka hal tersebut berdampak kurang bermanfaatnya kegiatan tersebut bagi peserta didik dan tidak dapat mencapai tujuan pendidikan nasional.
Selain itu pula dikutip dari Minarti, ekstrakurikuler merupakan bagian dari pembinaan peserta didik di dalam satuan pendidikan yang memberikan bimbingan, arahan, pemantapan, peningkatan terhadap pola pikir, sikap mental, perilaku, minat, bakat, serta keterampilan para peserta didik dalam mendukung keberhasilan program kurikuler.15
Pembinaan peserta didik program ekstrakurikuler harus melibatkan semua warga sekolah khususnya dewan guru, tenaga kependidikan, Kepala Sekolah, serta Komite Sekolah/Madrasah.
Dewan guru dan tenaga kependidikan berkewajiban sebagai pengembang dan pembina program ekstrakurikuler, kepala sekolah sebagai penanggung jawab program, dan komite sekolah/madrasah mewakili orang tua atau peserta didik dalam pengembangan program
14Permendikbud No.81A Tahun 2013, hlm. 2.
15 Sri Minarti, Manajemen Sekolah Mengelola Lembaga Pendidikan secara Mandiri, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 202.
dan memberikan dukungan dalam pelaksanaan program. Semuanya harus berkaitan dan bekerjasama satu sama lain dan tidak dapat bekerja masing-masing. Yang pada akhirnya, jika semua berkerjasama maka akan memberikan manfaat dan keberhasilan bagi peserta didik.
Berdasarkan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh beberapa ahli di atas, dapat dijelaskan bahwa ekstrakurikuler adalah kegiatan sekolah yang diperuntukkan oleh siswa yang pelaksanaannya di luar jam kegiatan belajar mengajar di kelas dan untuk mengembangkan potensi, minat, bakat, serta hobi peserta didik serta dalam rangka meningkatkan kualitas dari segi keimanan, ketakwaan, budi pekerti, dan kemampuan diri.
b. Fungsi dan tujuan ekstrakurikuler
Suatu sistem harus memiliki kegunaan, itulah yang disebut dengan fungsi. Tujuan adalah penjabaran dari visi dan misi, serta merupakan hal yang akan dicapai oleh suatu organisasi.
Semua kegiatan maupun program harus memiliki fungsi dan tujuan agar program atau kegiatan tersebut dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Terdapat fungsi dan tujuan ekstrakurikuler yang disadur dari pemaparan menurut Mulyono, terdapat tujuh fungsi ekstrakurikuler yang menghasilkan manfaat dari setiap fungsinya yaitu, sebagai berikut:16
1) Timbal balik, yakni bahwa dalam kegiatan ekstrakurikuler dilakukannya hubungan yang saling berkaitan dan saling memberikan manfaat dari lingkungan sosial, budaya dan alam semesta. Manfaat yang diperoleh adalah eksistensi peserta didik di masyarakat dan dapat menebar manfaat sebagai anggota masyarakat.
16 Mulyono, Op.Cit., hlm.188-189.
2) Kreativitas, yakni dalam kegiatan ekstrakurikuler peserta didik dapat mengasah kreativitasnya melalui penyaluran dan pengembangan potensi, minat dan bakat yang pada akhirnya dapat menghasilkan karya melalui kegiatan yang telah diikutinya.
3) Nilai moral, yakni dalam kegiatan ekstrakurikuler harus dapat menumbuhkan dan melatih sikap disiplin, kejujuran, kepercayaan, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas.
Manfaatnya peserta didik mempunyai nilai moral yang baik jika sikap-sikap tersebut dilatih dan ditumbuhkan.
4) Integrasi moral, yakni dalam kegiatan ekstrakurikuler dapat mengembangkan etika dan akhlak yang mengintegrasikan hubungan dengan Tuhan, Rasul, manusia, alam semesta, bahkan diri sendiri.
5) Pro-aktif, yakni dalam kegiatan ekstrakurikuler dapat mengembangkan sensitivitas peserta didik dalam melihat persoalan-persoalan yang terjadi di dalam masyarakat sehingga menjadi insan yang pro-aktif terhadap permasalahan sosial.
6) Olah tubuh, yakni dalam kegiatan ekstrakurikuler dapat memberikan bimbingan dan arahan serta pelatihan kepada peserta didik agar memiliki fisik yang sehat, bugar, kuat, cekatan, dan terampil.
7) Komunikasi, yakni dalam kegiatan ekstrakurikuler dapat memberi peluang kepada peserta didik agar memiliki kemampuan berkomunikasi (human relation) dengan baik secara verbal dan non-verbal.
Terdapat Fungsi ekstrakurikuler lainnya yang sudah disusun Pemerintah tertuang dalam pedoman kegiatan ekstrakurikuler pada lampiran Permendikbud RI No. 81A tahun 2013 meliputi fungsi pengembangan, fungsi sosial, fungsi rekreatif, dan fungsi persiapan karir. Dipaparkan sebagai berikut:
1) Pengembangan, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk mendukung pengembangan personal peserta didik melalui perluasan minat, pengembangan potensi, dan pemberian kesempatan untuk pembentukan karakter dan pelatihan kepemimpinan.
2) Sosial, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik. Kompetensi sosial dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperluas pengalaman sosial, praktek keterampilan sosial, dan internalisasi nilai moral dan nilai sosial.
3) Rekreatif, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler dilakukan dalam suasana rileks, menggembirakan, dan menyenangkan sehingga menunjang proses pengembangan peserta didik.
4) Persiapan karir, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik melalui pengembangan kapasitas. 17
Fungsi pengembangan mencangkup fungsi timbal balik, nilai moral, dan komunikasi dalam pemaparan Mulyono, karena dengan fungsi ini peserta didik dapat mengembangkan potensi, bakat, minat dan hobi. Tujuan ekstrakurikuler dapat tercapai dengan diimplementasikannya fungsi pengembangan ini. Fungsi sosial mencangkup fungsi integrasi moral dan pro aktif dalam pemaparan Mulyono. Fungsi sosial penting untuk mengembangkan kemampuan sosial peserta didik. Kemampuan sosial dan rasa tanggung jawab tidak tumbuh dengan sendirinya melainkan di kembangkan melalui pemberian kesempatan peserta didik memperluas pengalaman sosial, praktek keterampilan sosial, internalisasi nilai moral dan nilai sosial yang didapatkan dari sosialisasi, komunikasi, pemberian tanggung jawab serta internalisasi nilai pada program ekstrakurikuler. Di masa
17 Permendikbud No.81A Tahun 2013, hlm. 3.
anak-anak atau remaja fungsi rekreatif juga dibutuhkan karena suasana rileks, menggembirakan, dan menyenangkan membuat peserta didik nyaman mengikuti ekstrakurikuler yang nantinya akan berdampak pada kreatifitas peserta didik. Dalam pemaparan Mulyono fungsi kreativitas dan olah tubuh dapat tercangkup dalam fungsi rekreatif. Fungsi persiapan karir yang dampaknya tidak terjadi dalam waktu dekat tetapi melalui fungsi ini peserta didik dapat pengembangan kemampuan dalam segala aspek contohnya softskill yaitu kepemimpinan, kerjasama tim, komunikasi, dan lain sebagainya yang memang dibutuhkan dalam dunia kerja.
Tujuan ekstrakurikuler sudah tertuang dalam lampiran Permendikbud RI No. 81A tahun 2013 yaitu sebagai berikut:
1) Kegiatan ekstrakurikuler harus dapat meningkatkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik.
2) Kegiatan ekstrakurikuler harus dapat mengembangkan bakat dan minat peserta didik dalam upaya pembinaan pribadi menuju pembinaan manusia yang seutuhnya.18
Untuk mengukur keberhasilan proses pembelajaran diperlukan ketiga aspek yang semuanya harus di perhatikan diantaranya aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Ketiga aspek ini diperlukan juga untuk mengevaluasi sejauh mana materi pendidikan dapat diserap oleh peserta didik. Pada awalnya pengukuran pencapaian materi pengajaran hanya ditekankan pada aspek kognitifnya saja, yang fokusnya hanya kepada hasil pencapaian tingkat pengetahuan peserta didik. Maka diperlukan penekanan pada ketiga aspek tersebut agar hasil yang didapatkan tidak hanya pada pemahaman konsep pelajaran namun juga akan mengembangkan emosional serta motorik peserta didik secara bersamaan. Aspek ini juga membantu para guru mengenali pada tahap mana kemampuan peserta didik berada dan
18 Ibid., hlm. 4.
diperlukan pula pembinaan secara mendalam kepada masing-masing peserta didik agar tercapainya tujuan ekstrakurikuler.
Fungsi-fungsi tersebut dapat diwujudkan melalui operasionalisasi ekstrakurikuler yang terencana dengan baik dengan melibatkan banyak pihak agar tujuan ekstrakurikuler dapat tercapai, khususnya pada tujuan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 81A tahun 2013 yaitu peserta didik dapat menjadi manusia yang seutuhnya di masa depannya.
Yang pada akhirnya terjadi timbal balik, integrasi moral, pengembangan pada diri peserta didik, pengembangan kreativitas, serta dapat siap menghadapi dunia kerja.
c. Prinsip-Prinsip Manajemen Ekstrakurikuler
Ekstrakurikuler memiliki fungsi, supaya fungsi itu terwujud maka dalam menyelenggarakan ekstrakurikuler harus berpatokan pada prinsip-prinsip manajemen ekstrakurikuler. Serta agar tetap memiliki kebermaknaan dalam fungsinya, kegiatan ekstrakurikuler perlu memiliki beberapa prinsip. Beberapa prinsip yang dapat dijadikan sebagai pijakan dalam merancang dan melaksanakan program ekstrakurikuler dipaparkan menurut beberapa ahli. Dari pemaparan menurut Sutisna yang dikutip oleh Prihatin yaitu terdapat delapan prinsip program ekstrakurikuler, sebagai berikut:19
1) Keterlibatan, semua warga sekolah baik guru, tenaga kependidikan, kepala sekolah, komite sekolah, peserta didik hingga orang tua harus ikut serta dalam usaha meningkatkan program.
2) Kerjasama tim, dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuannya diperlukan kerjasama tim karena kerjasama tim merupakan hal yang fundamental atau mendasar. Begitu pula dalam program ekstrakurikuler semua elemen yang terlibat harus bekerjasama agar dapat mencapai tujuan.
19 Eka Prihatin, Op.Cit., hlm. 161.
3) Partisipasi, tidak ada batasan-batasan dalam berpartisipasi.
Peserta didik dibebaskan untuk berpartisipasi aktif dalam program ekstrakurikuler. Seluruh warga sekolah pun boleh dan dapat berpartisipasi dalam program ekstrakurikuler sesuai kapasitas dan kemampuannya.
4) Mengutamakan proses, karena proses yang dilalui akan menghasilkan apa yang sudah diusahakan.
5) Komprehensif, program hendaknya cukup komprehensif dan seimbang dalam memenuhi kebutuhan dan minat semua siswa.
6) Sesuai kebutuhan, program hendaknya memperhitungkan kebutuhan khusus sekolah sesuai dengan kebutuhan peserta didik dalam mengembangkan minat, bakat, serta potensinya.
7) Nilai dan efisiensi, program harus dinilai berdasarkan sumbangannya kepada nilai-nilai pendidikan di sekolah dan efisiensi pelaksanaannya.
8) Sumber motivasi, kegiatan ini hendaknya menyediakan sumber- sumber motivasi yang kaya bagi pengajaran kelas, sebaliknya pengajaran kelas hendaknya juga menyediakan sumber motivasi yang kaya bagi kegiatan peserta didik.
Berbeda dengan Sutrisna, dalam lampiran Permendikbud RI No. 81A tahun 2013 terdapat beberapa prinsip yang harus dikedepankan dalam kegiatan ekstrakurikuler, yaitu:
1) Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan potensi, bakat dan minat peserta didik masing-masing 2) Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan
keinginan dan diikuti secara sukarela peserta didik
3) Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang menuntut keikutsertaan peserta didik secara penuh
4) Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler dalam suasana yang disukai dan mengembirakan peserta didik
5) Etos kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang membangun semangat peserta didik untuk bekerja dengan baik dan berhasil
6) Kemanfaatan sosial, yaitu prinsip kegiatan ektrakurikuler yang dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat. 20
Dari pemaparan prinsip yang dikemukakan oleh Sutrisna dan Permendikbud, Sutrisna menganalisis ekstrakurikuler secara detail, jadi prinsip yang disajikan mencangkup semua pihak yang terlibat.
Jika prinsip ini diaplikasikan dalam ekstrakurikuler manfaat dapat dirasakan oleh semua pihak yang terlibat tidak hanya dirasakan oleh peserta didik saja. Sedangkan prinsip yang dikemukakan Permendikbud menekankan pada peserta didik. Permendikbud ini menjelaskan bahwa ekstrakurikuler sebagai hal yang dapat memberikan kebebasan memilih dan kebermanfaatan peserta didik untuk diri sendiri, masa depan, dan sosialnya. Yang pada akhirnya jika kedua prinsip ini diimplementasikan dalam ekstrakurikuler akan menumbuhkan sikap kebebasan menentukan pilihan atau mengambil keputusan, tanggung jawab peserta didik, dan diharapkan peserta didik dapat memiliki jiwa sosial yang tinggi.
d. Pembinaan ekstrakurikuler
Pembinaan ekstrakurikuler merupakan pecahan pelaksanaan dari pembinaan kesiswaan. Seperti yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No.39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan pasal 3 ayat 1 yang berbunyi: “pembinaan kesiswaan dilaksanakan melalui kegiatan ekstrakurikuler dan kokurikuler”.21
Menurut Prihatin, Pembinaan atau pengelolaan aktivitas siswa dalam hal ini diartikan sebagai kegiatan memberikan bimbingan, arahan, pemantapan, peningkatan terhadap pola pikir, sikap mental, perilaku, minat, bakat, serta keterampilan para peserta didik melalui program ekstrakurikuler dalam mendukung keberhasilan program kurikuler.22
20 Permendikbud No.81A Tahun 2013, hlm. 4.
21 Permendiknas No.39 Tahun 2008 pasal 3 ayat 1.
22 Sri Minarti, Op.Cit., hlm. 202.
Secara esensi pembinaan kesiswaan merupakan tanggung jawab setiap pendidik dan tenaga kependidikan yang menjadi bagian dari warga sekolah. Namun demikian secara khusus pada lembaga pendidikan, pembinaan kesiswaan biasanya menjadi tanggung jawab wakil kepala sekolah bidang kesiswaan yang mengurusi urusan peserta didik yang sifatnya koordinatif dan administratif. Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan memiliki tugas merencanakan dan mengkoordinasikan penyelenggaraan pembinaan kesiswaan. Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dibantu oleh pembina dan pelatih pada setiap pembinaan kesiswaan salah satunya kegiatan ekstrakurikuler.
Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan secara operasional bertanggung jawab atas pelaksanaan penyusunan program pengembangan diri peserta didik. Berikut ini adalah uraian prosedur kerja pembinaan kegiatan ekstrakurikuler:
1) Kepala sekolah menugaskan wakasek bidang akademis/kurikulum dan wakasek bidang kesiswaan untuk menyusun rencana kegiatan ekstrakurikuler.
2) Kepala sekolah memberikan arahan teknis tentang program pengembangan diri melalui kegiatan ekstrakurikuler. Arahan kepala sekolah meliputi:
1) Esensi program ekstrakurikuler
2) Tujuan yang ingin dicapai program ekstrakurikuler 3) Manfaat program ekstrakurikuler
4) Hasil yang diharapkan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler
5) Unsur-unsur yang terlibat dan uraian tugasnya dalam program ekstrakurikuler
6) Mekanisme program ekstrakurikuler
3) Wakasek bidang kurikulum dan wakasek bidang kesiswaan menyusun rencana kegiatan untuk penyusunan kegiatan ekstrakurikuler. Rencana kegiatan ekstrakurikuler meliputi:
1) Tujuan program ekstrakurikuler
2) Hasil yang diharapkan dari program ekstrakurikuler 3) Ruang lingkup program ekstrakurikuler
4) Jadwal kegiatan program ekstrakurikuler
5) Unsur-unsur yang terlibat dan uraian tugasnya dalam program ekstrakurikuler
6) Alokasi pembiayaan program ekstrakurikuler
4) Wakasek bidang kurikulum dan wakasek bidang kesiswaan menyusun rambu-rambu tentang mekanisme program ekstrakurikuler. Rambu-rambu tentang mekanisme penyusun program ekstrakurikuler terdiri atas:
1) Prinsip program ekstrakurikuler sekurang-kurangnya menjelaskan tentang keragaman potensi, kebutuhan, bakat, minat, kepentingan peserta didik dan satuan pendidikan serta peningkatan potensi dan kecerdasan peserta didik 2) Jenis kegiatan ekstrakurikuler menguraikan pengelompokan
kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler oleh satuan pendidikan berdasarkan kebutuhan, bakat, dan minat peserta didik yang disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan
3) Langkah-langkah penyusunan program ke setiap bentuk kegiatan ekstrakurikuler
4) Kriteria dan aturan pelaksanaan setiap jenis bentuk kegiatan ekstrakurikuler
5) Pendidik/pembina/pelatih melakukan analisis kebutuhan dan kesesuaian yang meliputi analisis kebutuhan, bakat, dan minat peserta didik yang selanjutnya analisis kesesuaian kondisi satuan pendidikan. analisis kebutuhan dapat dilakukan dengan menggunakan angket dan analisis kesesuaian dapat dilakukan
observasi terkait ketersediaan sarana dan prasarana serta pendukung yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan ekstrakurikuler
6) Guru/pembina/pelatih menyusun draf program kegiatan ekstrakurikuler. Draf program ekstrakurikuler memuat:
1) Pendahuluan yang terdiri atas latar belakang, tujuan, dan jenis kegiatan ekstrakurikuler
2) Setiap jenis kegiatan ekstrakurikuler memuat deskripsi program kerja, hasil yang diharapkan, pngorganisasian pelaksanaaan program kerja, waktu pelaksanaan program kerja, pembina/pelatih, jumlah anggota, pembiayaan, tempat, sarana dan prasarana, dan penilaian
3) Penutup terdiri atas kesimpulan dan saran
7) Wakasek kurikulum bersama wakasek kesiswaan bersama guru pembina/pelatih melakukan review dan revisi draf program ekstrakurikuler.
8) Wakasek kurikulum dan wakasek kepesertadidikan menentukan kelayakan review dan revisi program ekstrakurikuler.
9) Wakasek kurikulum dan dan wakasek kepesertadidikan memfinalkan hasil revisi program ekstrakurikuler.
10) Kepala sekolah mengesahkan program ekstrakurikuler.
11) Wakasek bidang kurikulum dan wakasek kepesertadidikan menggandakan dan mendistribusikan program ekstrakurikuler sesuai keperluan.23
Uraian prosedur kerja di atas, dapat membantu pihak-pihak yang terlibat mengurus program ekstrakurikuler dalam merencanakan program ekstrakurikuler dan agar program berjalan dengan baik sesuai tujuan yang ingin dicapai.
23 Badrudin, Manajemen Peserta Didik, (Jakarta: PT. Indeks, 2014), hlm. 143-146.
Pihak-pihak yang terlibat dalam program ekstrakurikuler menurut Daien yang dikutip oleh Prihatin perlu mengetahui hal-hal berikut:
1) Kegiatan harus dapat meningkatkan pengayaan siswa yang beraspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
2) Memberikan tempat serta penyaluran bakat dan minat sehingga siswa akan terbiasa dengan kesibukan-kesibukan yang bermakna.
3) Adanya perencanaan dan persiapan serta pembinaan yang telah diperhitungkan masak-masak sehingga program ekstrakurikuler mencapai tujuan.
4) Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler oleh semua atau sebagian siswa. 24
Hal diatas penting untuk diketahui oleh pihak-pihak yang terlibat karena dengan memahami aspek kognitif, afektif, psikomotorik, mempersiapkan program ekstrakurikuler dengan matang, merangkul semua siswa serta ekstrakurikuler dijadikan kegiatan yang bermakna hal tersebut dapat memberikan manfaat bukan hanya kepada peserta didik tetapi manfaat tersebut juga dapat dirasakan oleh pihak-pihak yang terlibat.
Pembinaan kesiswaan agar berhasil guna dan memberi manfaat bagi semua pihak dapat mengacu pada standar kompetensi guru bidang pembinaan kesiswaan, tabel di bawah ini dapat dijadikan acuan dalam membina peserta didik. Standar tersebut dirinci ke dalam sub-sub kompetensi dan indikator-indikator sebagai rujukan penyelenggaraan pembinaan kesiswaan, sebagaimana tertuang dalam matriks berikut:25
24 Eka Prihatin, Op.Cit., hlm. 163.
25 Badrudin, Op.Cit., hlm. 50-52.
Tabel 2. 1
Standar Kompetensi Bidang Pembinaan Kesiswaan
No. Kompetensi Subkompetensi Indikator
1. Memahami
Perkembangan peserta didik
1.1 1. 1 Memahami:
1.2 - Karakteristik
perkembangan peserta didik
- - Perkembangan fisik psikomotorik
- - Perkembangan sosial- emosional
- - Perkembangan
intelektual, bakat, dan minat
- - Perkembangan
kreativitas
1.2.1 1.1.1 Adanya pembinaan yang memfasilitasi perkembangan peserta didik dalam hal : - - Tahap-tahap perkembangan peserta didik -
- - Pemahaman gejala perubahan fisik dan perilaku motorik
- - Kehidupan sosial-emosional berkelompok (peer group)
- - Prestasi akademik dan non-akademik
- - Orisinalitas dan fleksibilitas, pembaharuan
2. Memahami
ruang lingkup pembinaan kesiswaan
2.1 memahami ruang lingkup pembinaan : - - ketakwaan pada Tuhan
yang Maha Esa
- - kepribadian dan budi pekerti
- - kepemimpinan
- - kreativitas, keterampilan, dan kewirausahaan - - kualitas jasmani dan
rohani
- - seni budaya - - pendidikan
pendahuluan bela negara
2.1.1 lingkup pembinaan kesiswaan - - Terdapat pelaksanaan sosial keagamaan,
adanya toleransi kehidupan beragama, terdapat kegiatan hari besar keagamaan, adanya kegiatan seni dan budaya yang bernafaskan keagamaan.
- - Terlaksananya tata tertib dan tata krama dalam kehidupan sosial di sekolah, sikap saling menghormati antar masyarakat sekolah
- - Terlaksananya aktivitas OSIS, kelompok belajar, latihan dasar kepemimpinan, forum diskusi.
- - Ada dan terlaksananya koperasi sekolah, adanya kumpulan hasil karya dan prestasi siswa.
-
- - Adanya aktivitas PMR (palang merah remaja), kantin sekolah, olahraga, UKS (usaha kesehatan sekolah), kegiatan sosial, kegiatan 6K.
-
- - Adanya berbagai aktivitas seni budaya -
- - Terlaksananya upacara bendera, peringatan hari-hari besar nasional, bakti sosial, wisata