• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada Evaluasi proses ini membahas tentang implementasi program, mekanisme program, kendala dan permasalahan pelaksanaan serta presepsi siswa terhadap program FDS.

a. Implementasi Program

Implementasi program FDS di SMK Negeri 1 Pabelan ini berjalan lebih lama dari pada sekolah umumnya dan cukup lama dari jam belajar tertuang dalam peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 23 tahun 2017 tentang hari sekolah yang dilaksanakan 8 (delapan) jam dalam 1 (satu) hari atau 40 (empat puluh) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu sedangkan imlementasi disekolah yakni hari sekolah dilaksanakan 10 (delapan) jam dalam 1 (satu) hari atau 50 (lima puluh) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu pembelajaran.

Pelaksanaan pembelajaran dimulai dari jam 07.00 sampai dengan jam 16.00. Adapun pelaksanaan kegiatan belajar mengajar program FDS di SMK Negeri 1 Pabelan sebagai berikut.

91 Tabel 4.7

Jadwal Kegiatan Program FDS di SMK Negeri 1 Pabelan

Hari Waktu Jam

Ke- Aktivitas

Senin-Kamis

07.00-10.00 I-4 - Pendidikan karakter

(Menyanyikan lagu Indonesia Raya, Doa bersama)

- Pelaksanaan KBM sesuai dengan jadwal pembelajaran masing-masing kelas

10.00-10.15 Istirahat

10.15-12.30 5-7 Pelaksanaan KBM sesuai dengan jadwal pembelajaran masing-masing kelas

12.30-13.00 Istirahat

13.00-16.00 8-11 Pelaksanaan KBM sesuai dengan jadwal pembelajaran masing-masing kelas

Jumat 07.00-07.45 Pembiasaan (Kegiatan pendidikan karakter)

07.45-10.00 1-4 Pelaksanaan KBM sesuai dengan jadwal pembelajaran masing-masing kelas

10.00-10.15 Istirahat

10.15-11.45 5-6 Pelaksanaan KBM sesuai dengan jadwal pembelajaran masing-masing kelas

11.45-Selesai

Sholat Jumat berjamaah

12.00-13.00 Pendidikan Agama Kristen (PAK) (Sumber: Data jadwal pelajaran 2017/2018)

92 b. Mekanisme Program

Pelaksanaan semua aspek yang telah direncanakan diawal berjalan dengan semestinya sesuai dengan tahapan yang direncanakan.

Berdasarkan wawancara terhadap kepala sekolah, program FDS di SMK Negeri 1 Pabelan berjalan dengan baik.

Pernyataan kepala sekolah sebagai berikut.

“Pertama kali dilakukan mengenai FDS ini yaitu melihat kebutuhan sekolah apakah FDS itu harus diterapkan atau tidak selain terkait surat edaran dari pemerintah. Lalu kita adakan rapat internal stakeholder. Kemudian undang orangtua dan siswa. Awalnya tidak semuanya menerima program ini, namun pada akhirnya setuju karena melihat kelebihan dari program ini.

Selanjutnya kita tata dari mulai pendanaan kebutuhan sarana prasarana, SDM gurunya dan siswa, kesiapan pembelajaran bagaimana. Pada pelaksanaan FDS juga ada monitoring dari kepala sekolah. Diakhir ada evaluasi program, program atau tidak. Kelemahannya gimana, kemudian ditindaklanjuti bagaimana agar program lebih baik”.( Wawancara terhadap kepala sekolah, Kamis 26 September 2019).

Sejalan dengan pernyataan kepala sekolah, WakaKurikulum mengatakan bahwa pelaksanan program FDS sesuai dengan mekanisme dan jadwal. Hasil wawancara terhadap WakaKurikulum sebagai berikut.

“Pelaksanaan FDS berjalan dengan baik, meskipun pada awalnya tidak semua pihak menyetujui namun sekarang semua warga sekolah sudah dapat menerima program ini dengan baik.

Untuk pemenuhan kegiatan yang direncanakan cukup tercapai semuanya meskipun FDS ini ada kekurangan dan kelebihannya. Dari awal sosialisasi, penataan pembelajaran, sarpras, pendanaan, SDM dan evaluasi berjalan dengan baik

93

”.(Wawancara terhadap WakaKurikulum, Kamis 26 September 2019).

Sedangkan guru BK mengatakan bahwa program FDS sudah terlaksana dan siswa dapat menerima program tersebut dengan baik. Pernyataan guru BK sebagai berikut.

“Sejauh ini program FDS sudah berjalan cukup baik, siswa juga sudah terbiasa dengan program FDS. (Wawancara terhadap guru BK, 30 September 2019).

Berdasarkan wawancara terhadap stakeholder, pelaksanaan program FDS sesuai dengan mekanisme yang telah direncanakan. Kegiatan-kegiatan terlaksana dengan baik. Hal tersebut ditunjukkan oleh pelaksanaan kegiatan FDS yang dilakukan oleh SMK Negeri 1 Pabelan, yakni sebagai berikut:

1. Sosialisasi

Sebelum melakukan sosialisasi, sekolah mengadakan rapat untuk menindak lanjuti Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Surat edaran dari Dinas Pendidikan Jawa Tengah terkait dengan peralihan hari sekolah dari 6 hari belajar menjadi 5 hari belajar. Pihak sekolah melakukan analisis kebutuhan akan pentingnya program dilaksanakan. Setelah melakukan analisa kebutuhan kemudian pihak sekolah mengadakan sosialisasi tentang program FDS dengan mengundang. orangtua dan siswa. Sosialisasi dilakukan pada awal tahun ajaran baru yaitu 7 juli 2017. Dengan mekanisme sosialisasi dilakukan dengan 3 Sesi (Kelas X,XI,XII), kepala sekolah menyampaikan materi program kemudian adanya tanya

94

jawab dan sharing tentang program FDS. Hasil dari sosialisasi adalah orang tua atau wali menyetujui pelaksanaan program karena menjawab kebutuhan mereka terkait dengan pengawasan anak. Selain itu melalui sosialisasi stakeholder, orangtua dan siswa memahami program FDS.

2. Perencanaan pembelajaran

Perencanaan pembelajaran dilakukan karena yang awalnya 6 hari belajar yaitu senin hingga sabtu pada jam 07.00-13.45 dipadatkan menjadi menjadi 5 hari belajar yaitu senin hingga jumat dengan waktu yang lebih lama yaitu 07.00-16.00 sehingga struktur jadwal pembelajaran otomatis berubah. Pada perencanaan pembelajaran ini dilakukan rapat dengan stakeholder yang terlibat yaitu kepala sekolah, humas, guru, dan komite untuk merubah metode pembelajaran dan perangkat pembelajaran sesuai dengan kebutuhan program FDS. Hasil dari rapat dari perencanaan pembelajaran yakni merubah jadwal pembelajaran dari 6 hari menjadi 5 hari, perangkat pembelajaran sesuai dengan pola dan kebutuhan siswa.

3. Penyelenggaraan Sarana dan Prasarana (sarpras)

Sarana dan prasarana sangat mendukung terlaksananya program FDS,sehingga diperlukan penataan dan penyelenggaraan. Sumber daya manusia yang terlibat dalam penyelenggaraan sarana dan prasarana ialah kepala sekolah, guru serta wakakurikulum bagian sarpras. Dengan mekanisme diskusi

95

dan guru permatapelajaran memberikan masukan terkait dengan sarpras yang dibutuhkan, kemudian masukan tersebut didata dan dilakukan rekap sapras, menyesuaikan sarat minimal sapras, kemudian menyusun draft anggran. Hasil dari penataan sarpras yaitu sarpras terpenuhinya kebutuhan program FDS terkait dengan sarana dan prasarana.

4. Penyelenggaraan Ekstrakulikuler

Penyelenggaraan dan penataan ekstrakulikuler dilakukan untuk memaksimalkan kegiatan exstrakulikuler yang dulunya semua olahraga maupun exstra ingin dilaksanakan semuanya tanpa melihat apa yang menjadi kebutuhan siswa sebenarnya menjadi dirancang untuk memenuhi kebutuhan dan disesuaikan dengan minat siswa. SDM yang terlibat dalam penyelenggaraan dan penataan ekstakulikuler yaitu kepala sekolah, guru, wakakurikulum, serta komite sekolah dengan melakukan diskusi. Hasilnya yakni ekstra yang dulunya didesain dari 6 hari dibagi menjadi 3 hari, yang dilaksanakan pada rabu, kamis dan jumat dan pemilihan ekstra yang akan dilaksanakan sesuai dengan minat dan bakat siswa.

5. Penyelenggaraan penguatan pendidikan karakter

Penyelenggaraan penguatan pendidikan karakter dilakukan karena tujuan dari program FDS secara spesifik ialah untuk pembentukan karakter menjadi lebih baik. Guru bimbingan konseling bersama dengan kesiswaan serta wali kelas

96

melakukan rapat mengenai kebutuhan dan kondisi siswa terkait dengan pendidikan karakter. Hasil dari penyelenggaraan dan penataan pendidikan karakter yaitu adanya materi bimbingan konseling dikelas selama 1 jam dan budaya 5 S yaitu senyum, salam, sapa, sopan serta santun. Ada pula kegiatan pembiasaan sebelum bel masuk guru menyambut siswa dan bersalam, pembiasaan sikap cinta tanah air dengan menyanyikan lagu-lagu Indonesia raya dan lagu kebangsaan lainnya sebelum pelajaran dimulai, serta pembacaan doa pagi bersama dan pelbagai pembiasaan pembentukan karakter lainnya. Sehingga siswa menjadi lebih tertib, perperilaku sopan dan minimnya kenakalan yang dilakukan anak disekolah.

6. Penyelengaraan dan penataan ibadah

Penyelengaraan dan penataan ibadah dilakukan untuk memenuhi penguatan keagamaan dan penguatan pendidikan karakter siswa. Guru agama melakukan diskusi ataupun sharing dengan guru bagian kesiswaan dan sarpras terkait dengan kebutuhan religius yang dibutuhkan oleh siswa baik kegiatan religius dan kebutuhan tempat beribadah. Hasil penataan ibadah tersebut yakni siswa dapat beribadah bersama-sama dimushola yang sudah disiapkan oleh sekolah dan siswa lebih rajin beribadah sehingga terbentuknya anak yang memiliki akhlak dan beriman;

97 7. Evaluasi

Evaluasi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan program FDS. Evaluasi dilakukan diakhir semester, kepala sekolah mengevaluasi program dengan mengadakan rapat dimana semua guru yang ada membuat catatan-catatan kecil dari keseluruhan pelaksanaaan kegiatan-kegiatan yang berisi laporan keberhasilan program baik menyangkut aspek akademik, non akademik dan pendidikan karakter, hambatan yang kemudian digunakan sebagai acuan guna perbaikan program FDS.

c. Faktor Pendukung dan Penghambat program FDS

Pada pelaksanaan program FDS di SMK Negeri 1 Pabelan tentunya dapat berjalan dengan baik tergantung pada faktor-faktor yang mendukung terlaksananya program.

Berdasarkan wawancara terhadap kepala sekolah, ada beberapa hal yang mendukung terlaksananya program yakni sumber daya manusia, sarana dan prasarana, serta warga sekolah.

Berikut hasil wawancara terhadap kepala sekolah :

“Faktor pendukungnya ada SDM, sarana dan prasarana yang menunjang kemudian peran serta warga sekolah yang saling mendukung satu sama lain”(Wawancara terhadap kepala sekolah, Kamis 26 September 2019).

Pernyataan kepala sekolah didukung pula dengan pernyataan WakaKurikulum yakni warga sekolah dan orangtua mendukung program FDS. Pernyataan WakaKurikulum sebagai berikut.

98

“Orangtua mendukung dan setuju, tidak terlalu memusingkan dengan adanya program full day school. Yang penting anaknya disekolah, pulang tepat waktu, pihak orangtua memberikan tambahan keuangan yaitu uang jajan tambahan untuk anak”(Wawancara terhadap WakaKurikulum, Kamis 26 September 2019).

Pernyataan kepala sekolah dan WakaKurikulum didukung pula oleh pernyataan guru BK yang menyatakan bahwa:

“Faktor pendukung FDS itu ada pihak sekolah, pihak sekolah berperan penting dan saling bekerjasama satu sama lain.

Orangtua juga mendukung, orangtua kadang konsultasi juga kepada BK terkait anaknya disekolah. Faktor pendukung lain, SDM guru juga memenuhi”.(Wawancara terhadap Guru BK, Kamis 26 September 2019).

Berdasarkan pernyataan stakeholder, ada beberapa faktor pendukung tercapainya program FDS di SMK Negeri 1 Pabelan antara lain yaitu : 1). program FDS sangat didukung oleh sumber daya manusia, guru selaku aktor dalam dunia pendidikan yang mentransfer ilmu kepada siswa dituntut untuk memiliki kompetensi mengajar secara profesional dan selalu mengembangkan kemampuan baik pengetahuan dan skill dalam mengajar. Selain itu, guru juga dituntut untuk mampu mengembangkan bahan ajar yang sekiranya dapat membangkitkan semangat siswa dalam belajar dan sehingga tidak membuat siswa merasa bosan dikarenakan program FDS mengharuskan siswa wajib belajar sehari penuh; 2). Faktor pendukung lainnya yaitu peran orangtua atau wali siswa, pada SMK Negeri 1 Pabelan orangtua mendukung program FDS. Hal

99

tersebut ditunjukkan oleh tidak jarang orangtua konsultasi mengenai perkembangan anak nya disekolah, serta orangtua dengan sigap menyiapkan bekal ataupun memberikan uang jajan tambahan menanggapi penambahan jam belajar anak disekolah;

3). Faktor pendukung lainnya yakni manajemen organisasi dimana dari rencana, pelaksanaan, evaluasi berjalan dengan baik.

Tanpa manajemen yang baik tentu program tidak akan berjalan sebagaimana yang telah direncanakan. Dengan adanya manajemen baik, sangat menunjang terwujudnya program secara optimal. Selain itu, semua stakeholder saling bekerja sama dengan baik agar terwujudnya tujuan program FDS di SMK Negeri 1 Pabelan.

Selain faktor pendukung, tentu program FDS memiliki hambatan-hambatan dalam pelaksanaannya. Faktor yang menghambat di SMK Negeri 1 Pabelan tertuang dalam wawacara terhadap stakeholder.

“Kalau hambatan ada tapi bisa diatasi. Hambatannya sarana dan prasarana”.(Wawancara terhadap kepala sekolah, Kamis 26 September 2019).

Pernyataan kepala sekolah ditambahkan pula oleh WakaKurikulum mengenai sarana dan prasarana. Pernyataan WakaKurikulum sebagai berikut.

“Hambatan yang dialami sarana dan prasarana masih agak kurang. Pola pikir masyarakat. Terus anak kalau terlalu sore mudah lelah dan jenuh”.(Wawancara terhadap WakaKurikulum, Kamis 26 September 2019).

100

Guru BK menambahkan bahwa hambatan tidak hanya dari segi fasilitas namun juga transportasi. Pernyataan WakaKurikulum sebagai berikut.

“Disini itu hambatannya tidak adanya transportasi umum.

Tidak adanya angkutan”.(Wawancara terhadap Guru BK, Kamis 26 September 2019).

Berdasarkan wawancara terhadap stakeholder, ada beberapa faktor penghambat yang dialami oleh sekolah terkait dengan program FDS antara lain sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana merupakan salah satu bagian dari penunjang terwujudnya tujuan pendidikan. Sehingga keterbatasan sarana dan prasarana dapat menjadi sebuah hambatan dalam menjalankan program. Hambatan lain adalah letak sekolah yang berada didesa mengakibatkan tidak tersentuh oleh transportasi umum sehingga kondisi ini mengharuskan siswa yang rumahnya terletak cukup jauh dari pemukiman dituntut untuk memiliki alat transportasi pribadi ataupun dapat berbarengan bersama teman. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2017 pasal 9 tentang hari sekolah tertuang bahwa dalam hal kesiapan sumber daya pada Sekolah dan akses transportasi belum memadai, pelaksanaan ketentuan Hari Sekolah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dapat dilakukan secara bertahap.

101

d. Kendala dan solusi implementasi FDS

Dalam pelaksanaan suatu program tentu tidak terlepas dari kendala dan problematika yang ada. Untuk itu, pada program FDS yang dilaksanakan di SMK Negeri 1 Pabelan memiliki problematika dan kendala tersendiri dalam pelaksanaannya. Para stakeholder yang ada, tentunya memiliki pandangan yang berbeda satu dengan lainnya terhadap kendala-kendala yang dialami. Namun kendala-kendala yang ada, tentunya dapat diatasi dengan kerjasama dan dukungan warga sekolah.

Berdasarkan wawancara kepala sekolah mengatakan bahwa kendala yang dialami yakni sarana dan prasarana belum terlalu memadai. Pernyataan kepala sekolah sebagai berikut.

“Kendala yang dialami disini dari segi sarana dan prasarana belum punya pagar sekolah karena tidak bisa menggunakan dana BOS dan BOP, kendala lain ada beberapa peralatan bengkel yang itemnya hanya satu. (Wawancara terhadap kepala sekolah, Kamis 26 September 2019).

Sejalan dengan pernyataan kepala sekolah, WakaKurikulum mengatakan bahwa kendala yang dialami yakni sarana dan prasarana dan ada beberapa masyarakat kontra yang terhadap FDS. Pernyataan WakaKurikulum sebagai berikut.

“Sarana dan prasarana cukup. Kalau untuk berbarengan menggunakannya sarana dan prasarana ada. Walaupun ada satu alat yang digunakan secara beramai-ramai. Yang kedua itu pola pikir masyarakat, ada beberapa yang tidak pro terhadap program ini. Yang ketiga itu adanya siswa yang jenuh dan lelah

102

karena pembelajaran terlalu lama”. (Wawancara terhadap WakaKurikulum, Kamis 26 September 2019).

Guru BK pun menambahkan kendala lain yang dialami yakni tidak adanya transportasi umum. Berikut hasil wawancara terhadap guru BK.

“Siswa terkadang merasa jenuh, kadang kurang efektif karena terlalu padat kegiatannya”.(Wawancara terhadap Guru BK, Kamis 26 September 2019).

Pernyataan stakeholder juga didukung oleh hasil wawancara siswa. Yakni menunjukkan bahwa adanya kendala terkait sarana dan prasarana maupun kondisi siswa. Berikut wawancara perwakilan siswa kelas X, XI, XII.

“Kadang jenuh, karena sekolahnya sampai sore”.(Wawancara terhadap siswa kelas X, Kamis 30 januari 2020).

“Hambatannya tidak ada, kelemahannya cuma kalau jam-jam siang kadang ngantuk”.(Wawancara terhadap siswi kelas XI, Kamis 30 januari 2020).

“Tidak ada hambatannya bu, hanya kadang ngantuk saja”.Wawancara terhadap siswi kelas XI, Kamis 30 januari 2020).

Berdasarkan wawancara terhadap stakeholder dan siswa, kendala yang dihadapi dalam proses pelaksanaan program FDS di SMK Negeri 1 Pabelan antara lain; (1). Sarana dan prasarana pembelajaran sudah cukup lengkap dan baik, namun ada beberapa peralatan praktek yakni peralatan bengkel yang kurang yakni dari segi jumlah terutama peralatan tertentu, serta pagar sekolah belum ada secara keseluruhan; (2). Tidak semua pihak pro terhadap program ini, ada pula yang tidak setuju; (3). Kondisi

103

siswa, tidak jarang siswa merasa jenuh , lelah dan mengantuk dengan jam pembelajaran yang lama.

Berdasarkan hasil dokumentasi untuk perlengkapan pembelajaran menggunakan media pembelajaran (Laptop, LCD Proyektor, Internet) sudah 75%. Untuk perlengkapan bengkel/praktikum kejuruan, sarana dan prasarana sudah cukup lengkap namun dari jumlahnya masih ada yang kurang, hal ini ditunjukkan dalam dokumen program kerja sekolah ( PKS ) SMK Negeri 1 Pabelan tahun diklat 2018/2019 yang menyatakan bahwa jumlah alat praktek siswa kurang dari segi jumlah, pagar keliling sekolah yang masih 70 %. Menindak lanjuti hal tersebut, pengadaan sarana dan prasarana ini akan dilakukan secara bertahap setiap tahunnya.

Namun kendala-kendala tersebut tentunya tidak dibiarkan begitu saja oleh stakeholder, kendala-kendala tersebut menjadi bahan evaluasi pada saat rapat internal dan evaluasi diakhir semester. Stakeholder berkerjasama dalam mencari solusi untuk mengatasi kendala-kendala tersebut. Berikut hasil diskusi dari stakeholder yang tertuang dalam wawancara.

“Perlu adanya pengadaan sarana dan prasarana setiap tahun sesuai dengan kebutuhan. Untuk peralatan yang special atau hanya satu, penggunaannya dapat dilakukan secara bergilir”.

(Wawancara terhadap kepala sekolah, Kamis 26 September 2019)

104

Sejalan dengan pernyataan kepala sekolah, WakaKurikulum mengatakan solusi dari sarana dan prasarana yakni strategi pada saat praktek dilakukan. Hal tersebut tertuang dalam peryataan WakaKurikulum sebagai berikut.

“Solusinya pada saat praktek dilakukan, siswa bisa menggunakan peralatan secara beramai-ramai. Sosialisasi diperlukan untuk pihak yang kontra sehingga lama-lama akan merasakan dampak positif dari FDS dapat menerima program FDS ini dengan baik. Masalah jenuh dan ngantuk solusinya pada pengaturan jadwal pembelajaran” (Wawancara terhadap WakaKurikulum, Kamis 26 September 2019).

“Solusinya biar tidak ngantuk kadang pembelajaran dilakukan diluar kelas”.(Wawancara terhadap Guru BK, Kamis 26 September 2019).

Solusi yang diberikan oleh stakeholder juga didukung oleh pernyataan siswa terkait dengan upaya stakeholder dalam menghadapi permasalahan pada program FDS. Berikut hasil wawancara siswa.

Hasil wawancara siswa kelas X, mengatakan solusi untuk mengatasi dan meminimalisir rasa bosan siswa yaitu dengan menggunakan media pembelajaran.

“Guru ngajarnya pakai LCD, biasanya diputarkan video-video edukasi”.(Wawancara terhadap siswa kelas X, Kamis 30 januari 2020).

Menambahkan pernyataan siswa kelas X, siswa kelas XI mengatakan bahwa solusi lainya yaitu guru harus menciptakan suasana yang nyaman dan santai.

105

“Guru memberikan motivasi.. terus kadang kalau ngantuk guru ngajar nya lebih santai dan kadang guyon bu tapi tetap pada konteks belajar”.(Wawancara terhadap siswi kelas XI, Kamis 30 januari 2020).

Siswa kelas XII juga menambahkan bahwa pentingnya jeda saat suasana belajar mulai jenuh.

“Guru kasih jeda 5 menit agar kita rilex dan biasanya pembelajaran dialihkan keluar ruangan”.Wawancara terhadap siswi kelas XI, Kamis 30 januari 2020).

Berdasarkan wawancara terhadap stakeholder dan siswa, solusi atas kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan FDS antaralain; (1). Sarana dan prasarana dapat diagendakan ditahun berikutnya, baik menggunakan dana BOS, BOP dan PSM.

Pengunaan peralatan yang special atau hanya ada satu, dalam penggunaannya siswa dapat di desain secara bergilir ataupun membentuk kelompok; (2). Tidak semua pihak awalnya pro terhadap program FDS ini, namun stakeholder melalui sosialisasi memberikan arahan dan masukan serta meminta semua pihak untuk dapat bekerjasama untuk mewujudkan tujuan pembelajaran, sehingga melalui sosialisasi pihak-pihak yang kontra dapat menerima program ini dengan baik; (3). Dalam mengatasi kejenuhan dan rasa mengantuk siswa, guru harus memiliki strategi dalam pemilihan baik metode serta media seperti LCD, video pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran sehingga pembelajaran lebih menarik.

106

Di SMK Negeri 1 Pabelan, jam pembelajaran produktif dan praktek dilakukan siang sehingga pada jam-jam tersebut siswa tidak mengantuk dan beraktivitas dibengkel atau lab kejuruan.

Berdasarkan hasil observasi dilapangan, solusi-solusi yang diberikan oleh kepala sekolah, WakaKurikulum dan guru BK sudah sesuai dengan apa yang terjadi dimana untuk penggunaan sarana dan prasarana tertentu siswa melakukan praktek tertentu secara bergiliran maupun berkelompok.

Sedangkan untuk sosialisasi dilakukan secara intensif agar semua pihak memahami dan dapat menerima program. Untuk pembelajaran yang efektif, guru harus memperhatikan dan memilih metode dan media yang sesuai kebutuhan dan kondisi siswa.

Dokumen terkait